
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Aamiin." Balas Wulan dengan tulus.
Wulan dan Albhi terus berbicara. Wulan tidak bisa tidur karena dia masih tidak terbiasa tidur di tempat asing. Ya dia butuh adaptasi dulu.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Hari-hari berlalu dengan cepat tak terasa hari kepergian para tetuah pria ke Jepang telah tiba.
Semua orang mengantar kepergian para tetuah pria ke bandara.
"Damar? Albhi? Ikuti rapat itu dengan membawa kemenangan, kalian juga harus hati-hati di sana karena ada Haris, dia bisa saja berlaku curang atau biasa saja mencelaka kan kalian berdua, ingat! Kalian harus hati-hati, jaga semua para wanita." Pesan Papi Abhi dan Daddy Rafka.
"Siiap laksanakan! Kita akan menjaga semua orang di sini, sebenar nya tanpa di suruh sekali pun kita pasti akan jaga in." Kata Damar menjawab perkataan Daddy nya dan sahabat Daddy nya ini.
"Hahahaha... iya-iya deh." Ucap Papa Abdiel sambil mengusap kepala Damar dan Albhi.
"Yakin udah kita harus pergi nih, jaga diri baik-baik semua, dahh, assalammu'allaikum." Pamit Papa Abdiel, Daddy Rafka, dan Papi Abhi sambil melambai kan tangan nya.
"Wa'allaikum sallam." Balas lain nya juga ikut melambai kan tangan.
3 pria paruh baya itu pun hilang di telan belok kan.
"Yuk kita pulang." Ajak Bunda Raina.
"Ayo." Jawab lain nya menjawab ajak kan Bunda Raina.
"Ini yang muda-muda ngga mau main nih?." Tanya Papa Zaidan sambil melirik 8 serangkai.
Hari itu adalah akhir pekan, 8 serangkai berkumpul di rumah.
Di dalam beberapa hari ini banyak perubahan, salah satu nya adalah Kak Rain berhenti dari salah satu pekerjaan nya, yaitu sebagai penyanyi Cafe.
Ada sebab kenapa Kak Rain berhenti. Pasal nya beberapa hari yang lalu saat pulang kerja sendirian Kak Rain ada yang mengikuti, orang itu sangat mencuriga kan seperti seorang penculik dan itu membuat Kak Rain takut.
Untung Kak Rain buru-buru mendapat kan taxi kalau masih terus jalan pasti ia akan terus di buntuti atau mungkin sudah di bawa alias di culik.
Kak Rain bercerita pada para pria soal dia yang di ikuti oleh orang tak di kenal, mereka kompak langsung mencari orang itu dan benar saja dia seorang penculik yang di utus oleh seseorang.
Saat di tanya siapa yang menyuruh nya bekerja, penculik itu tak mau mengaku dan lebih memilih mati atau membusuk di penjara dari pada harus bicara siapa yang menyuruh nya.
Sungguh bawahan yang sangat setia.
Para muda-muda pria berpendapat bahwa Haris atau Ayah nya yang menyuruh penculik itu, tapi saat para pria muda-muda bertanya, pemuda itu menjawab sangat serius bahwa bukan dia pelaku nya, dia sampai-sampai bersumpah di depan Damar, Albhi, Pamungkas, dan Angkasa.
4 pria muda itu tentu saja percaya, karena memang buat apa Haris menculik Kak Rain? Sasaran dia itu Wulan dan Agnez.
Tapi tetap saja sikap was-was dan tak percaya hinggap di otak dan hati 4 pria muda itu.
Para muda-muda, terutama Pamungkas menyaran kan Kak Rain untuk berhenti bekerja di tempat lain, mereka bilang untuk bekerja saja di Cafe ZAARA tapi Kak masih berpikiran belum membuat keputusan.
Kenapa Kak Rain masih berpikir-pikir dulu? Karena posisi dia bekerja bukan sebagai pramusaji atau penyanyi di Cafe itu, tapi di bekerja sebagai manager mengganti kan para tetuah wanita bekerja di sana.
Tentu saja Kak masih berpikir-pikir, pasal nya dia tak punya pengalaman kerja di bidang itu, tapi kata Mommy Za dan lain nya, Kak Rain akan di ajari dan di pandu terlebih dahulu.
Ok kembali ke masa sekarang.
Masih di parkiran bandara hendak masih mobil.
"Kak Rain? Ikut mobil sini yah ada yang mau di bahas soal nya." Pinta Bunda Raina lembut pada calon anak menantu nya ini.
'Waduh! Pasti mau bahas soal Cafe nih, kaya nya aku harus kasih keputusan nih biar ngga di hantui dengan kata 'gimana?' Asli ngga bisa jawab aku, ngelag rasa nya nih otak.' Batin Kak Rain bersuara.
"Kak? Semangat!." Bisik Pamungkas menyemangati gadis nya.
"Iya, makasih yah." Ucap Kak Rain pada berondong tampan di depan nya ini.
"Kakak kasih keputusan iya aja deh, kalo Kakak nolak, yang ada nanti Kakak terus di bujuk sampai luluh, perkara belajar ilmu manager tenang, aku juga bisa, nanti kita belajar bareng." Bisik Pamungkas lagi.
Saat Kak Rain ingin membuka suara lagi, tiba-tiba saja Bunda Raina menegur diri nya dan Pamungkas.
"Oy? Kalian berdua? Asik banget bisik-bisik nya kita lagi nungguin nih." Goda Bunda Raina pada 2 sejoli ini.
Kak Rain merasa malu di Goda seperti itu, pipi nya bersemu merah, dia pun berlari menuju mobil para tetuah meninggal kan Pamungkas yang di landa rasa kikuk, dia menggaruk tengkuk leher nya yang tak gatal.
Para tetuah melihat tingkah Kak Rain dan Pamungkas merasa lucu dan kemudian mereka semua tertawa kecil.
Sedang kan Damar dan lain nya menyoraki Pamungkas dan Kak Rain.
"Ciee kamu tadi bisik-bisik apa aja sama Kak Rain Kas?." Tanya Wulan menggoda Pamungkas saudara sepupu nya itu di sertai dengan menaik turun kan alis nya sambil mengulum senyum di bibir manis nya.
"Udah jangan godain aku terus, ayo segera masuk ke dalam mobil." Kata Pamungkas menghenti kan aksi Wulan yang menggoda nya barusan.
"Hahahaha... cieee berusaha mengalih kan topik pembicaraan cieee." Kristal ikut-ikutan menggoda Pamungkas sambil memasuk kan tubuh nya ke dalam mobil dan duduk manis di sana.
Di depan monitor perjalanan pulang Wulan, Kristal, dan Agnez masih saja menggoda Pamungkas sampai-sampai pemuda itu malu-malu dan menutupi wajah nya dengan jaket yang tadi di bawa nya.
Tentu saja 3 gadis itu tertawa senang karena berhasil membuat Pamungkas malu sampai pipi nya bersemu merah.
__ADS_1
Di mobil para tetuah.
"Kak Rain? Gimana? Mau kan?." Kata Bunda Raina yang di mata nya penuh dengan harapan.
"Kalo menurut Ayah sih mending kerja di Cafe ZAARA aja Kak, di sana nanti Kakak akan aman in syaa Allah, nanti Kakak juga akan di gaji kok tenang aja, yang penting sekarang Kakak mau aja dulu." Ucap Ayah Rafa membantu istri nya membujuk calon anak menantu nya ini.
Kejadian saat Kak Rain di ikuti olehorang tak di kenal itu di ketahui semua para tetuah, hanya Agnez, Wulan, dan Kristal yang tidak di beri tahu, alasan apa? Tak mau membuat mereka merasa tak nyaman, takut, dan khawatir.
Padahal alangkah lebih baik nya jika mereka tau, mereka juga bisa lebih waspada, dan membantu menjaga ke amanan nya masing-masing.
Kak Rain masih berpikir-pikir dulu. Dan 2 menit kemudian... .
"Huuffhhh... ok Bunda, Ayah, dan semua nya, Kak Rain mau." Putus Kak Rain yang membuat para tetuah menarik nafas panjang tanda lega menyeruak di dalam hati para tetuah semua.
"Alhamdulillah." Ucap syukur semua para tetuah.
"Nah gitu dong Kak, kita senang denger nya, ok mulai besok kita akan belajar bagaimana cara mengurus Cafe yang benar." Kata Mommy Za senang.
"Pamungkas sama lain nya kalo tau tentang ini pasti seneng banget." Heboh Mama Akifa sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
"Udah pasti kalo itu mah." Ucap Bunda Raina sambil terkekeh pelan.
"Ouh iya tadi kalian bisik-bisik apa sih kok kaya serius gitu?." Tanya Mama Tika menggoda Kak Rain.
Kak Rain yang mengingat kejap tadi merasa malu sendiri, dia tersenyum sambil menunduk kan kepala nya tanda malu.
Melihat tingkah Kak Rain yang malu itu membuat para tetuah wanita makin menggoda nya.
"Ciee Kak Rain sampai malu-malu gitu." Sorak Mommy Za menggoda Kak Rain.
"Tadi Pamungkas cuma nyemangatin Kak Rain aja kok ngga bisik-bisik apa-apa." Jujur Kak Rain pada akhir nya.
"Masa sih cuma ngomong itu? Tapi kok lama banget yah?." Tanya Mama Akifa makin gencar menggoda Kak Rain.
"Dia juga bilang agar Kak Rain memutus kan untuk menerima tawaran Bunda Raina sama lain nya, soal nya kalo di tolak, Bunda Raina sama lain nya punya seribu cara buat bujuk Kak Rain biar luluh, iya kah Bunda?." Tanya Kak Rain dengan wajah polos nya.
"Iya lah, kita memaksa Kak Rain agar mau menganggu manager di Cafe ZAARA juga ada beberapa faktor, yang pertama, tentu aja buat keselamatan Kakak sendiri, ke dua, karena Cafe ZAARA butuh pimpinan baru yang lebih muda, kalau pimpinan nya usia muda tuh biasa banyak ide-ide baru buat perkembangan Cafe, dan faktor yang terakhir, kami semua merasa kalau Kak Rain itu punya kemampuan untuk mengolah Cafe, yahh tinggal di poles aja kemampuan nya itu biar lebih terbaik." Kata Bunda Raina menjelas kan panjang lebar.
"Terima kasih Bunda, Ayah, Tante-tante, dan Om - Om semua." Ucap Kak Rain dengan perasaan tulus, sangat-sangat tulus.
"Iya sama-sama sayang." Jawab semua para tetuah kompak di iringi dengan senyuman manis nya.
Kak Rain tiba-tiba memeluk tubuh Bunda Raina sambil menangis bahagia lengkap dengan isak kan nya.
"Terima kasih banyak Bunda, semua hal yang Bunda dan lain nya beri kan pada Kak Rain sangat membantu dan sangat bermanfaat pada kehidupan Kak Rain." Ucap Kak Rain tulus.
Bunda Raina membalas pelukan Kak Rain, para tetuah yang melihat adegan di depan mata nya ini membuat mata mereka berair hendak menangis.
"Kak Rain? Kita di sini adalah saudara, Kak Rain ngga usah sungkan untuk meminta bantuan atau menerima apa pun yang kita beri." Kata Ayah Rafa yang menatap Kak Rain dari kaca spion tengah mobil, beliau sedang posisi menyetir saat ini, jadi tidak bisa menoleh secara langsung ke arah belakang.
"Udah jangan melow-melow kaya gini, senyum dong." Kata Papa Zaidan bersuara dengan menoleh kan kepala nya ke arah belakang, untuk menatap pada wanita yang sedang menangis.
Posisi Papah Zaidan duduknya di sebelah kemudi, lebih tepat nya duduk di samping Ayah Rafa.
Para wanita pun mengusap air mata nya dan menampil kan senyum manis nya masing-masing.
"Nah gitu dong, makin cantik aja kalo lebar senyum nya." Kata Ayah Rafa menimpali omongan Papa Zaidan.
"Kita ke mana sekarang?." Tanya Ayah Rafa lagi.
"Ok... kita meluncur pulang." Seru Ayah Rafa bahagia.
Jika para tetuah sedang menangis bahagia berbeda dengan suasana di dalam rumah Haris.
Cindi sedang merajuk pada Haris sudah beberapa hari lama nya.
Kehidupan 2 sejoli ini penuh dengan ke uwu an setiap hari nya. Cindi 1 hari lalu di jemput oleh asisten Papa nya mengajak nya untuk pulang, tapi Cindi menolak nya.
Haris pun mengatakan 'Jika ingin mendapat kan Cindi kembali, harus Papa Cindi yang menjemput nya sendiri di sini!.' Yah begitu lah kurang lebih perkataan Haris.
Dan hari ini Cindi merajuk pada Haris karena penculik kan Kak Rain tempo hari, Damar, Albhi, Pamungkas, dan Angkasa menuduh bahwa Haris lah yang menyuruh sang penculik itu.
Tapi Haris menyanggupi nya, dia tak merasa menyuruh seseorang untuk mencelakai Kak Rain, Haris bertanya-tanya pada diri nya sendiri dan pada 4 pria muda itu 'Untuk apa aku menculik Kak Rain? Sasaran ku hanya Wulan dan Agnez tak ada lagi! Aku berani bersumpah jika bukan anak pelaku nya, aku tidak akan menyakiti perempuan, itu bukan diri ku!' Dengan tegas Haris melontar kan kata-kata seperti itu di hadapan 4 pria muda itu dengan menatap langsung ke arah mata mereka.
Karena kejadian itu lah Cindi merajuk tak mau di pegang-pegang oleh Haris. Jangan kan di pegang Haris saja tak mendengar suara Cindi sudah berhari-hari lama nya.
Cindi melakukan itu karena dia merasa tak percaya jika Haris tak melakukan penculik kan kepada Kak Rain.
Puncak semua masalah nya adalah hari ini di jam ini tepat nya pukul 09.16 pagi.
"Baby?." Panggil Haris lembut sambil mengguncang lengan Cindi.
Gadis itu menepis tangan Haris kesal, dia tak melihat ke arah Haris.
Posisi Cindi saat ini tengah duduk di tepi ranjang sambil kaki nya bergelantungan, Haris tengah berbaring di atas ranjang juga deh kepala nya ada di tepian ranjang.
"Baby? Aku mohon percaya lah pada ku, bukan aku yang hendak menculik Kak Rain, dia bukan incaran ku, untuk apa akan menculik nya? Aku juga tak akan mau mencelakai mereka para gadis itu, percaya lah pada ku Baby, aku merindukan mu, aku rindu suara mu Baby ku mohon buka lah bibir mu dan bersuara lah barang satu kata saja." Pinta Haris sampai menunjuk kan ekspresi wajah yang membuat Cindi hampir melepas kan suara tawa nya.
Tapi Cindi menahan nya sekuat tenaga agar diri nya tak tertawa, sudah di pasti kan Haris akan merasa sangat senang nanti jika dia telah melihat senyum Cindi, nanti wajah nya yang imut itu ia guna kan dalam setiap membujuk Cindi ketika dia membuat salah pada Cindi.
No!!! Tidak ada!!!.
Cindi masih diam tak merespon omongan Haris.
Sampai... .
"Baby? Sumpah demi Allah itu bukan aku, bukan aku yang mengirim penculik itu, aku tidak sejahat itu Baby." Frustasi Haris dengan bangun dari tidur nya di sebelah Cindi.
Cindi lagi-lagi masih tak merespon omongan Haris yang panjang lebar.
'Khemmmmm... huuffhhh... .' Helaan nafas lelah terdengar menyedih kan dah telinga Cindi.
Gadis itu melirik sebentar mengguna kan ekor mata nya untuk melihat ekspresi menyedih kan milik Haris.
"Ya udah deh kalo masih mau ngambek, aku Pamit pergi dulu, ada yang mau di urus bentar, aku pergi dulu, assalammu'allaikum." Salam Haris dengan menghadap kan badan nya ke arah Cindi, dia mencium kening Cindi lembut kemudian Cindi mencium tangan kanan Haris. Mereka berdua melakukan itu setiap hari saat Haris atau Cindi hendak bepergian, siapa yang mengatur nya? Tentu saja si Haris.
Cindi tak menjawab salam Haris dengan bersuara, dia membalas salam Haris hanya dari dalam hati nya.
Haris sebelum pergi juga memeluk Cindi erat, menghirup aroma wangi khas Cindi dari lehernya Cindi yang tak tertutup rambut.
3 menit berpelukan, Haris melepas kan pelukan hangat di antara mereka.
"Ngga baik tau orang ngucapin salam tapi ngga di jawab, wajib loh jawab salam tuh." Ucap Haris yang sayang nya sama sekali tak di gubris oleh Cindi.
__ADS_1
Haris hanya tersenyum masam menanggapi sikap gadis mungil nya ini.
"Aku pergi dulu, assalammu'allaikum." Salam Haris sekali lagi, yang masih saja tak mendapat jawaban dari Cindi.
Haris berjalan ke arah pintu kamar, dan saat akan keluar Haris memberi sedikit pesan perhatian pada Cindi.
"Jangan lupa makan siang yah Baby, jangan rindu aku." Kata Haris kemudian dia menutup pintu kamar.
Sepeninggalan Haris.
"Kenapa dia bilang gitu? Apa dia tak akan pulang sampai nanti malam? Hah! Jangan mudah percaya Cindi, dia hanya menggertak mu saja, dia kan pintar dalam bertaktik." Ucap Cindi tak terlalu peduli dengan apa yang di ucap kan oleh Haris.
Haris berjalan ke arah teras rumah.
Di teras depan rumah Haris ada Dimas sang asisten yang selalu setia menanti kedatangan sang Tuan yang selalu di layani nya itu.
"Tuan Muda?." Sapa Dimas sambil menunduk kan badan nya pada Haris.
"Persiapan untuk ke luar kota sudah siap kan Dimas?." Tanya Haris dengan suara datar dan dingin.
"Sudah siap Tuan, tinggal berangkat saja." Jawab Dimas sopan.
"Dasar si Tua Bangka itu menyulit kan ku saja, dia yang berbuat aku yang menanggung semua konsekuensi nya, sampai-sampai Cindi memusuhi ku, ayo cepet selesai kan semua hal-hal unfaedah ini, aku sudah tidak sabar mendengar kan suara Baby girl ku." Celutuk Haris jengkel.
"Mari Tuan." Balas Dimas menjawab.
Dimas mempersila kan Tuan Muda nya ini memasuki mobil. Mereka berdua akan meluncur ke luar kota tempat tinggal Papa Andre yang berlokasi di Pasuruan - Jawa Timur.
Di jendela kamar, Cindi menatap kepergian Haris dan asisten nya itu.
"Mau ke mana ya mereka, duhhh... rugi banget ngambek kaya gini, jadi ngga tau dia mau pergi ke mana, tanya sama pelayan pasti nanti mereka lapor, huh! Menjengkel kan, sangat-sangat menjengkel kan!." Seru Cindi tak suka dengan situasi seperti ini.
"Tak apa lah pasti dia nanti sore akan kembali, dan saat di kembali nanti aku akan memeluk nya dengan erat sambil mengatakan aku sudah tidak marah lagi, aku juga akan mengatakan bahwa aku sangat merindu kan nya." Monolog Cindi menghayal kan kejadian nanti sore yang belum tentu bisa terjadi.
Di mobil perjalanan ke bandara.
"Damar? Apa hadiah yang cocok untuk gadis yang sedang merajuk?." Tanya Haris tanpa melihat pada pria yang tengah menyetir mobil di sebelah kanan nya ini.
'Tidak salah kah ini Tuan Muda bertanya seperti itu pada ku?.' Batin Dimas bertanya-tanya heran.
"Mungkin dengan memberi kan cokelat, bunga, barang-barang mewah, atau juga dengan memanja kan sang gadis Tuan?." Jawab Dimas sopan, yang sebenar nya dia pun tak tahu apa yang di ingin kan gadis yang sedang merajuk.
Haris yang mendapat jawaban seperti itu kontan saja langsung menoleh pada Dimas.
"Kau pasti dengan apa yang kau sebut kan tadi? Tau dari mana dan siapa yang memberi tahu mu?." Tanya Haris masih tak percaya dengan jawaban yang di beri kan Dimas pada nya.
"Hehehe... saya tau dari orang-orang yang pernah bermasalah dengan pasangan nya Tuan Muda, kalau saya sendiri, saya tidak pernah memiliki kekasih Tuan jadi tidak tau apa cara-cara itu ampuh atau tidak, tapi lebih baik jika di coba terlebih dahulu." Kata Dimas panjang lebar.
"Hmmm... benar juga saran dari mu itu, tapi... aku selalu memanja kan nya, barang mewah aku yakin dia juga sudah lelah memakai nya, aku juga sudah memberi kan banyak barang mewah di dalam lemari nya di dalam kamar kami, ouh dia suka bunga, tapi di taman sudah banyak bunga, bahkan kamar kami menghadap ke arah taman." Ujar Haris panjang lebar bercerita.
"Kalau cokelat Tuan?." Tanya asisten pribadi nya ini.
"Di lemari penyimpanan camilan di dapur sudah banyak macam cokelat, dia memilih sendiri jenis cokelat nya, sudah lah lupa kan dulu, nanti saja bahas hadiah untuk gadis kecil itu." Putus Haris dengan nada suara lesu karena tak menemu kan hadiah yang pas untuk gadis kecil nya.
"Sabar Tuan, pasti akan ada cara untuk berbai kan dengan Nona Muda Cindi." Ucap Dimas menyemangati Tuan Muda nya ini.
"Kau tau? Sudah lebih dari 6 hari aku tak mendengar suara Cindi, sejak kejadian penculik sialan itu!." Seru Haris kesal.
"Apa Tuan sudah meminta maaf?." Pertanyaan konyol yang keluar begitu saja dari mulut Dimas.
"Apa kau bodoh? Tentu saja aku sudah meminta maaf sebanyak tak terhitung jumlah nya, aku juga sudah menjelas kan bahwa bukan aku yang mengirim penculik sialan itu, tapi Cindi tutup telinga tak mau mendengar penjelasan dari ku, entah dia sengaja ingin menjahili ku, atau memang dia tak percaya pada ku, aku tak tau." Ucap Haris sambil menunjuk kan raut muka frustasi dan sangat-sangat lesu tak punya tenaga.
"Tapi tadi Tuan Muda sudah berpamitan kan dengan Nona Muda?." Tanya Dimas dengan melirik Haris di sebelah nya.
"Sudah, tapi aku tak mengatakan hendak ke mana, berharap agar dia bertanya, tapi itu hanya lah harapan, ya sudah aku buat penasaran saja sekalian." Kata Haris acuh tak acuh.
"Bagaimana jika Nona Muda Cindi menunggu anda pulang Tuan?." Tanya asisten pribadi Haris yang langsung membuat Haris menoleh ke arah nya dengan penampil kan raut muka cemas.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.