
Tinggal 6 hari lagi, ramadhan akan usai.
Hari ini puasa sudah menginjak 24 hari.
Dihari menuju idul fitri ini rumah Abhi lumayan sibuk.
Apalagi malam nanti Abhi ada acara spesial.
Malam hari nanti Abhi akan melamar Alfi secara resmi.
"Santi? Itu semuanya udah selesai?." Tanya Mama Abhi kepada ART dirumahnya.
"Sudah Bu, semuanya sudah beres." Balas Santi dengan bahasa medoknya.
"Ouh, ok ok, makasih udah bantuin ya San." Ucap Mama Abhi.
"Iya Bu sama-sama, saya kebelakang dulu Bu." Pamit Santi.
Dari atas tangga Papa Abhi menyapa.
"Gimana Ma? Udah siap semua?." Tanyanya.
"Udah beres semua dong, liat nih." Tunjuk Mama kearah barang didepannya.
"Pa terus itu gimana kelanjutannya? Disatuin sama Abdiel Akifa kah akadnya?." Tanya mama.
"Papa coba rundingin deh nanti." Balas Papa.
Dari arah dapur Abhi muncul.
"Ini nih tokoh utamanya, gimana buat nanti malam? Udah siap?." Tanya Papa.
"In syaa allah siap Pa, mohon doanya ya Ma Pa." Pinta Abhi.
"Ngga kerasa ya Pa, seingat Mama, baru kemarin rasanya Mama nglahirin kamu, kasih ASI ke kamu, main sama kamu, eh sekarang tiba-tiba udah mau ngelamar anak orang, ahahahaha." Tawa Mama pelan.
"Jaga baik-baik Alfi, kalo kamu bikin dia sakit hati, bukan cuma Papanya aja yang turun tangan, tapi Papa juga bakal buat kamu susah!." Kata Papa tegas.
"Abhi ngga bakal kaya gitu Pa, in syaa allah hanya akan ada bahagia diantara Abhi dan Alfi setelah nikah entar." Yakin Abhi.
"Abhi? Kemarin kamu ngelamar Alfi kok kaya ngajak makan diwarteg sih? Ngga ada romantis-romantisnya." Celutuk Mama.
"Eh jangan salah Ma, meski ngelamarnya gitu, pasti Abhi deg-deg an iyakan Bhi?." Tanya Papa.
Abhi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari mengangguk.
"Hah! Bapak sama anak ngga ada bedanya." Gumam Mama.
"Emang Papa dulu pas ngelamar Mama gimana?." Tanya Abhi penasaran.
"Ya sama kaya yang kamu lakuin ke Alfi kemarin dirumah Rafka, padahap Mama berharap dilamar dengan cara romantis gitu, tapi Papa malah jawab, ehem... 'Cinta itu gak semuanya soal romatis' asli jawaban Papa kamu bikin Mama jengah." Jelas Mama dengan menirukan nada datar suaminya.
"Emang bener, iya kan Bhi? Papa bener kan?." Tanya Papa Abhi meminta persetujuan anaknya.
"Ya kalo menurut Abhi, Papa bener Ma, ngga semua cinta itu hal romantis." Balas Abhi menyetujui Papanya.
"Hadehhhh, udah ah, gerah Mama liat Papa sama Abhi ngomong, semoga aja Alfi betah sama kamu." Kata Mama menakut-nakut i Abhi.
"Mama jangan gitu dong." Balas Abhi dengan memasang muka memelasnya.
"Ahahahahaha, Mama cuma bercanda doang Bhi." Tawa Mama pelan dengan mengusap kepala Abhi pelan.
Setelah berbincang Mama Papa Abhi pamit kekamar.
Pukul 20.00 dirumah Alfi.
__ADS_1
Setelah pulang tarawih tadi, Abhi melyncur kerumah Alfi.
Dan sekarang diruang keluarga rumah Alfi, 2 keluarga duduk berhadap-hadapan.
"Bhi?." Panggil Papa mengisyaratkan untuk mengutarakan niatnya.
'Hufffff... huhhhh, bismillah' Abhi mengusir kegugupannya.
"Om dan Tante pasti sudah tau kedatangan kita kemari untuk apa, dan apakah Om Tante merima lamaran Abhi?." Tanya Abhi.
"Bhi, Om Tante menerima, sangat-sangat menerima, tapi tetap Abhi tanyakan langsung sama Alfinya aja." Balas Papinya Alfi.
Abhi sedikit bernafas lega, tapi rasa deg-deg an dalam jantungnya masih belum normal.
"Al, apa kamu menerima lamaran dari aku? Dan apakah kamu mau jadi istri aku?." Tanya Abhi to the point.
Alfi menatap kedua orang tuanya.
Papi Alfi mengangguk.
"Bismillah... ya aku menerima lamaran dari kamu Bhi, dan aku juga bersedia jadi istri kamu." Kata Alfi tegas.
"Alhamdulillah." Seru semuanya.
"Emmmm, Om ijin masangin ini ke jari Alfi boleh?." Pinta Abhi dengan menujukkan kotak beludru ditangannya.
"Iya boleh." Balas Papi Alfi.
Abhi berjalan kearah Alfi, membuka kotak beludru tadi, dan memasangkan isinya ke jari tengah tangan kiri.
"Jangan pernah dilepas!." Tegas Abhi yang diangguki Alfi.
"Makasih." Ucap Alfi dengan meneteskan air mata bahagia.
Lalu Abhi kembali ketempat semula dia duduk.
"Hmmmm, terus gimana sama nikahnya?." Tanya Papa Abhi.
"Kita obrolin sama Akhtar dan Nibras, kita omongin besok aja dirumah kamu War, gimana? Setuju ngga? Besok pukul 09.00 kita obrolin." Pendapat Papa Alfi.
"Iya kita setuju besok aja dibicara in lagi." Kata Papa Abhi yang diangguki lainnya.
Setelah perbincangan berat tadi, keluarga Abhi memutuskan pulang kerumah, karena memang sudah larut malam.
Ke esokan harinya pukul 09.00.
Sesuai kesepakatan kemarin malam, 2 keluarga berkumpul kembali dikediaman Asady (rumah Alfi).
Tapi yang membedakan diperkumpulan pagi ini keluarga Gilbert (Abdiel) dan keluarga Shadeeq (Akifa) hadir.
"Wah, gercep juga kamu Bhi langsung melamar secara resmi, ini nih gantel." Puji Papa Abdiel.
"Ok langsung aja, sebelumnya makasih kalian semua udah dateng kerumah." Sambut Papi Alfi.
"Acara kumpul kali ini aku pengen bicarain acara nikah anak-anak kita." Lanjut Papa Abhi.
"Aku pengen tanya, kalian setuju ngga kalo nikahnya Akifa Abdiel dan Alfi Abhi disatu in? Bukan maksud apa-apa sih, tapi biar sekalin gitu, soalnya bentar lagi anak-anak masuk sekolah, jadi kalo acaranya disatu in mempercepat waktu juga." Jelas panjang lebar Papa Abhi.
"Hmmmmm, aku paham maksud kamu, aku ngga masalah kalo disatu in, Mama sama Abdiel setuju kan?." Kata Papa Abdiel dengan meminta persetujuan istri dan anaknya.
"Ya, kita setuju." Balas Mama Abdiel yang diangguki oleh Abdiel.
Lalu semuanya menatap orang tua Akifa.
"Ya kita setuju." Balas Papa dan Mama Akifa kompak, dan kemudian diangguki Akifa.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Ucap semuanya kompak.
"Jadi deal ya, nikahnya tanggal 14 bulan Juni, terus lain-lainnya kita urus bareng." Perjelas Papa Akifa.
"Ya deal!." Seru semuanya bersamaan.
Pukul 11.00 keluarga Abdiel, Akifa, Alfi pulang kerumah masing-masing.
Dikediaman kelarga Fathan, pagi tadi Bang Rafa datang berniat melepas rindu dengan Adiknya.
Sekarang mereka sedang duduk ditaman belakang dengan menceburkan kaki ke kolam.
"Gila asli gila kalian ber 6!." Seru Bang Idan.
"Gila kenapa?." Tanya Rafka.
"Ya, masa 6 sahabat sekarang jadi cinta?." Tanya Bang Idan.
"Ya bisa dong, buktinya bisa, kalo menurut Gua mending gitu, kalo pacaran nambah dosa, ya mending nikah aja." Bang Rafa membela Rafka Zarine dan lainnya.
Perbincangan seru mereka ber 4 diberhentikan oleh suara Papa Rafka dari arah pintu masuk taman.
"Anak-anak?! Papa punya kabar nih!." Seru Papa Rafka.
"Kabar apa Pa?." Tanya Bang Idan.
"Abhi resmi ngelamar Alfi kemarin malam, dan pernikahan mereka disatu in sama nikahnya Abdiel Akifa!." Beritahu Papa Rafka.
"Alhamdulillah." Ucap Rafka, Zarine, Bang Idan, dan Bang Rafa.
Setelah mengabarkan hal itu, Papa Rafka masuk kedalam rumah.
"Bang Rafa, Bang Idan, kita ber 6 udah pada nikah, kalian berdua kapan?." Tanya Rafka mengejek.
"Tunggu in aja." Balas Bang Rafa.
"Sombong amat Lo." Kata Bang Idan dengan berdiri dari duduknya bermaksud pergi.
Bang Rafa dan Rafka tertawa dengan ucapan Bang Idan.
Saat ingin berjalan menjauh.
Diotak Banh Idan terlintas ide jahil.
Dan tiba-tiba... .
'Byurrrr.'
"Astahgfirullah." Seru Zarine terkejut.
"Ahahahaha, mandi-mandi dah Lo." Tawa Bang Idan sambil berlalu pergi.
Tapi sebelum menjauh... .
'Byurrr.'
"Dah impas." Kata Rafka dengan wajah menjengkelkannya.
"Mamam tuh! Enak kan rasanya? Senjata makan tuan sekarang." Timpal Bang Rafa.
Dan terjadilah serang menyerang air di kolam renang.
Zarine yang melihat dari tepian hanya terkekeh geli melihat adegan mereka semua.
__ADS_1