
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"In syaa Allah! Mama kaya orang ngidam aja!." Balas Angkasa di iringi dengan gerutuan yang hanya di balas kekehan oleh Mamanya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Sepeninggal Angkasa.
"Ma? Mama beneran hamil?." Tanya Papa Idan antusias.
"Ya engga lah, mana ada! Lagian kita udah tua! Udah ngga pantes punya anak lagi, masa nanti jarak umur anak-anak 17 tahun? Ada-ada aja sih Papa." Kata Mama Tika sambil terkekeh geli sendiri dengan ucapannya.
"Padahal aku berharap kamu hamil lagi loh Yang." Gumam Papa Idan dengan lirih yang sayang nya masih bisa di dengar oleh Mama Tika.
"Udah jangan sedih, Angkasa aja udah cukup buat kita berdua." Ujar Mama Tika menghibur sang suami tersayang nya.
"Ouh iya ngomong-ngomong tadi sebener nya aku ngode kamu, eh tapi kamu malah nyuruh nya si Angkasa, dia kaya nya ngga ikhlas loh tadi pas mau berangkat." Cetus Mama Tika mengingat mimik wajah terpaksa milik anak nya itu.
"Ya udah biarin, sekali-kali biar dia ngga suntuk di rumah mulu, siapa tau pas di jalan atau di tempat martabak nanti dia ketemu ama someone." Celutuk Papa Idan yang ngelantur tak jelas.
Mama Tika hanya mengangguk angguk kan kepala nya tanda mengerti ucapan panjang lebar sang suami.
Kita beralih ke Angkasa.
Di dalam garasi, Angkasa masih belum berangkat, dia masih sibuk mengeluar kan motor dari garasi dengan hati-hati agar tak menabrak mobil dan kendaraan lain nya.
Sembari sibuk mengeluar kan motor, bibir tebal dengan warna pink alami milik Angkasa berkomat kamit menggerutu tak jelas, inti dari gerutuan nya ialah protes pada sang Papa.
"Yang seharus nya berangkat kan Papa, kenapa malah aku? Suami nya Mama tuh aku atau Papa sih? Ya Allah! Dasar Papa, mau nya dua-dua an terus! Ngga sadar umur!." Dengus Angkasa pelan.
Selesai menggerutu tidak jelas, dia mengendarai motor nya menjauh dari pekarangan rumah nya.
25 menit perjalanan, akhir nya Angkasa sampai di penjual martabak manis di taman kota.
"Buset dah! Antrie banget! Males banget Gua, ok tarik nafas... buang... huh! Demi Mama! Semangat Angkasa!." Lebay Angkasa berbicara pada diri sendiri sambil mengangkat tangan kanan nya memberi semangat pada diri nya sendiri.
Tiba-tiba... .
"Mas?! Ngapain?!." Kejut seorang gadis bertubuh mungil seperti tubuh Wulan Kristal dan dia berdiri menatap heran Angkasa dengan mengedip-ngedip kan mata nya polos.
Angkasa menatap gadis mungil itu dengan tatapan dingin dan tajam nya.
"Minggir!." Usir Angkasa dingin.
Dengan tatapan aneh gadis mungil itu menjauh.
Setelah Angkasa menjauh, gadis mungil itu menggerutu tak jelas.
"Dasar cowok sombong! Di tanya in malah jawab nya ngga ngenakin!." Seru sang gadis kesal.
"Dasar cewek aneh!." Dengus Angkasa yang hanya bisa di dengar oleh telinga nya.
Seru an gadis di belakang nya masih terdengar jelas di gendang telinga Angkasa, dan itu membuat Angkasa jengah dan berakhir menarik nafas kasar.
"Agnez?!." Panggil seorang wanita paruh baya pada gadis yang mengomel tak jelas, nama gadis itu adalah Agnez Oktavian.
Gadis yang di panggil Agnez itu berbalik dan menatap wanita paruh baya yang memanggil nya.
"Ibu? Kenapa?." Tanya Agnez heran.
"Ibu kok sampai ada di sini sih? Sama siapa?." Tanya Agnez lagi.
Tanpa di duga, Ibu itu menjewer telinga Agnez keras.
"Adoy!! Ibu!! Apa? Kenapa jewer Agnez?!." Pekik gadis itu histeris.
"Di suruh beli gorengan malah kelayaban ngga jelas! Pulang!." Seru suara lelaki paruh baya yang tiba-tiba datang dari arah belakang wanita paruh baya, Ibu Agnez.
"Ayo pulang!." Perintah Ibu sambil masih menjewer telinga Agnez.
"Udah di bilangin kalo udah dapet gorengan nya jangan lupa pulang! Eh kamu malah kelayaban, ngga liat hah ini udah jam berapa?! Kamu besok sekolah di tempat yang baru! Mbok ya yang nurut gitu loh Nduk sama orang tua!." Ceramah panjang lebar di dapat oleh Agnez sambil meringis menahan sakit di telinga nya.
Angkasa yang melihat adegan jewer menjewer itu tanpa sadar terkekeh pelan melihat mimik wajah gadis yang menegur nya itu meringis kesakitan
"Lucu." Tanpa sadar bibir Angkasa mengucap kan kata itu.
Dan... .
"Allahu Akbar! Ngomong apa sih Gua! Ngaco banget!." Kata Angkasa sambil mengusap wajah nya kasar.
Pukul 20.00 Angkasa pulang ke rumah dengan tangan kanan nya menenteng kantung plastik berisi sekotak martabak manis.
"Assallammu'allaikum Angkasa pulang nih martabak nya!!." Teriak Angkasa menggemah di seluruh rumah.
"Wa'allaikum sallam, jangan teriak-teriak Sayang, ini rumah bukan hutan! Lagian kamu kaya Tarzan aja teriak kenceng gitu." Kata Mama Tika menegur anak bujang semata wajang nya ini.
"Iya Ma, ini Ma martabak nya, Angkasaa mau pamit ke kamar dulu, mau istirahat, besok sekolah, malem Ma Pa, assallammu'allaikum." Salam Angkasa dan tanpa mendnegar jawaban salam dari Mama Papa nya dia naik kelantai dua letak kamar nya berada.
Setelah Angkasa naik ke lantai dua.
"Kenapa anak kita Ma?." Tanya Papa Idan sambil mangunyah martabak manis hangat.
"Entah lah, padahal nih makanan dia paling suka, tumben-tumbenan malah ngga ikut makan?." Heran Mama Tika.
"Dia udah makan di tempat jual nya kali Yang, udah ah kita makan nih martabak, besok aja kita ngurusin Angkasa." Ujar Papa Idan.
Di kamar Angkasa.
__ADS_1
Bujang muda itu telentang di ranjang king size nya dengan gelisah, miring kanan tak nyaman, miring kiri pun juga tak nyaman.
Dan... .
"Gila nik otak! Ngapain coba mikirin cewek di dekat tukang martabak tadi!." Seru Angkasa jengkel pada diri nya sendiri, mata Angkasa terbuka lebar.
Kemudian Angkasa menghela nafas lelah.
'Agnez.' Tiba-tiba nama itu terlintas di otak nya, bagaimana Angkasa bisa tau nama nya? Tentu saja karena panggilan wanita paruh baya yang menjewer telinga Agnez tadi yang ternyata adalah Ibu nya.
Beliau sampai sedikit teriak tadi saat memanggil nama putri nya yang keluyuran saat di suruh beli gorengan.
Mengingat hal konyol yang singkat tadi, Angkasa kembali menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum miring.
"Lo berhasil bikin otak Gua terus terarah ke Elo gadis kecil! Lo harus tanggung jawab!." Monolog Angkasa yang di tuju kan kepada Agnez di sertai senyum evil ala Angkasa.
Tiba-tiba jantung Angkasa berdetak sangat kencang mengingat paras polos Agnez saat menyapa nya tadi.
"Jantung sialan! Berenti bikin Gua gelisah anjir!." Maki Angkasa pada dada bagian kiri nya.
Tadi juga saat Agnez menegur Angkasa, jantung nya juga tiba-tiba berdebar tak menentu. Angkasa tak terlalu menghirau kan debaran nya tadi saat di taman kota, jadi Angkasa seperti biasa saja tadi.
Perkenalan tokoh baru nih, Agnez Oktavian anak dari pasangan Desi Purnama dan Cakra Alvian, orang asli dari Yogyakarta, baru pindah tadi siang ke Jakarta, rumah nya dekat taman kota, orang tua Agnez memiliki usaha rumah makan terbesar di kota Yogyakarta sana dan sudah membuka cabang di berbagai daerah di Indonesia.
Agnez anak tunggal tak memiliki suadara lain lagi, dia dan sekeluarga pindah ke Jakarta karena alasan ingin menikmati suasana baru, tak melulu ada di Yogyakarta, inti nya tak ada alasan khusus untuk kepindahan mereka ini. Esok hari adalah hari pertama nya sekolah, usia Agnez 16 tahun, dia masih kelas 10 SMA.
Kalo tanya postur atau bentuk tubuh Agnez, dia tergolong gadis mungil, tinggi nya hanya 160 cm, dia tak kurus tak juga gemuk, postur tubuh nya sangat ideal sedikit berisi di bagian tertentu, tapi tak terlalu menonjol, berambut panjang se punggung berwarna hitam legam nan lebat, berkulit kuning langsat dengan pipi cubby, mata berbinar cerah dan terang, tak lupa senyum manis juga polos nya yang memikat seorang Angkasa dalam hanya sekali pertemuan yang singkat, sangat singkat.
Kembali ke dunia Angkasa.
Bujang itu memilih meutup mata dan berusaha untuk tidur lagi agar besok tak mengantuk dan tertidur di dalam kelas.
Ke esok kan hari nya. Ba'da subuh di kediaman Ayah Cakra dan Ibu Desi, rumah Agnez.
'Tok... tok... tok... .' Ibu Desi mengetuk pintu kamar anak nya bermaksud membangun Agnez.
"Nduk? Agnez? Kamu sudah bangun apa belum? Kalo sudah tolong bantu Ibu dong Nduk!." Pinta sang Ibu lembut penuh kasih sayang.
Tanpa membalas panggilan sang Ibu, Agnez membuka pintu dan menyembul kan kepala nya keluar.
"Ada apa Bu?." Tanya Agnez lagi.
"Ayo bantu Ibu di dapur dari pada kamu ndak punya kerjaan." Ajak Ibu Desi yang di angguki Agnez.
"Kamu... sudah sholat subuh kan Nduk?." Tanya Ibu tercinta Agnez.
"Sudah to Bu, Agnez sholat di kamar tadi." Jawab Agnez sambil tersenyum manis.
Ibu dan anak itu berbicara dengan bahasa Indonesia yang masih kental dengan logat jawa nya.
Di dapur.
"Bu? Ayah mana?." Tanya Agnez sambil kepala nya celingak celinguk mencari pria paruh baya yang sangat ia sayangi itu.
"Masih di masjid kaya nya, kenapa to emange?." Tanya Ibu yang sudah sibuk memotong wortel.
"Nggak papa, cuma tanya aja, Ibu mau masak apa?." Tanya Agnez mengalih kan pembicaraan.
"Bikin capcay sama ikan goreng, kamu bikin capcay aja wes, biar Ibu yang goreng ikan nya, nanti kalo kamu yang goreng ikan ngga jadi masuk sekolah." Ledek Ibu Desi pada Agnez di akhiri kekehan kecil nya.
"Ibu ini loh, jangan gitu dong, Agnez sekarang bisa tau goreng ikan." Ujar Agnez sambil memasang wajah cemberut karena ledekan sang Ibunda.
"Masa?." Ibu Desi makin gencar menggoda anak gadis semata wayang nya ini.
"Hahahaha iya deh iya, dah sana kamu olah capcay nya aja." Titah Ibunda tersayang nya.
pukul 05.30 pagi Ayah Agnez, Pak Cakra pulang dari masjid.
"Assallammu'allaikum." Salam Pak Cakra sembari langkah kaki nya mendekat ke arah dapur.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Agnez dan Ibu nya kompak.
"Waduh pagi-pagi udah rajin aja nih anak Ayah, tinggal aja gih sana ini udah jam setengah 6 pagi loh siap-siap berangkat sekolah." Suruh sang Ayah pada Agnez.
"Cepet banget jam berputar, tadi perasaan masih jam 4.45 loh." Gumam Agnez sambil menatap jam dinding di dapur.
"Bukan cepet banget, tapi emang udah waktu nya sayang, udah sana siap-siap sekolah!." Perintah sang Ibunda tak dapat terbantah kan lagi.
Pukul 06.00 pagi anggota keluarga di rumah Agnez berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.
Di sela-sela makan, Ayah dan Ibu Agnez memberi banyak petuah pada Agnez untuk memasuki sekolah baru.
"Di sana hati-hati, pulang sekolah nanti langsung pulang, kalo mau di ajak kemana-mana sama temen baru kamu, ijin dulu sama Ibu dan Ayah, atau kalo kamu mau bepergian sendiri, ijin sama kami, ini kota masih asing buat kamu Nduk, jadi harus hati-hati." Panjang lebar Ibu Agnez menceramahi sang anak.
"Enggeh Bu, bakal tak inget pesane Ibu yang panjang itu, lagian kan Agnez di antar jemput sama Mas Bambang jadi Ibu ndak usah khawatir, in syaa Allah Agnez bisa jaga diri." Kata Agnez sambil tersenyum manis.
"Ayah udah hubungi kepala sekolah tempat sekolah baru kamu, penempatan kelas nya juga udah di kasih tau juga sama beliau, kamu di tempatin di kelas 10 IPS 1." Beri tahu Ayah Cakra pada anak semata wayang nya ini.
Agnez hanya membalas manggut-manggut paham, tak lupa dia mengucap kan terima kasih atas kerja Ayah nya yang menanya kan kelas nya.
Kemudian dia berdiri dan pamit ke pada Ayah dan Ibu.
"Ayah? Ibu? Agnez berangkat dulu, assallammu'allaikum." Salam Agnez sambil mencium punggung tangan ke dua orang tau nya dan tak lupa juga mencium ke dua pipi mereka secara bergantian.
"Wa'allaikum sallam, semangat sekolah nya Nak!." Seru Ibu yang hanya di acungi jempol oleh Agnez.
Di teras rumah.
Terlihat seorang pria dewasa usia 30 tahunan tengah menunggu Agnez sambil menyeruput kopi nya di depan teras, dia adalah Mas Bambang supir pribadi Agnez saat di Jawa Tengah sana, sengaja di bawa oleh sang Ayah karena Agnez tak mau ganti supir.
"Mas Bambang? Ayo berangkat." Ajak Agnez sambil menepuk pundak Mas Bambang pelan.
"Udah siap to Mbak? Ayo Mbak monggo." Kata Mas Bambang sambil membuka kan pintu di bagian penumpang untuk Agnez.
"Mas Bambang udah ngopi nya?." Tanya Agnez tak enak hati, dia merasa bersalah telah menganggu waktu ngopi pagi supir nya.
"Sudah Mbak, lagian kan bisa di lanjut nanti ngopi nya, sekarang yang paling utama ngater Mbak cantik dulu ke sekolah." Jawab ramah Mas Bambang dengan senyum manis yang terpatri di bibir tebal nya itu.
"Maaf loh Mas kalo aku ganggu." Ucap tak enak hati Agnez.
"Lah? Kenapa minta maaf Mbak? Nganter Mbak Agnez sekolah kan memang sudah tugas saya, malahan saya ngerasa ndak enak kalo mengabai kan tugas itu demi ngopi." Ucap Mas Bambang panjang menjelas kan semua nya.
Saat Agnez akan membuka suara lagi, Mas Bambang menyela.
"Udah Mbak, jangan berdebat, ndak selesai-selesai nanti, Mbak Agnez mau terlambat emang di hati pertama sekolah?." Tanya Mas Bambang bermaksud mempersilah kan Agnez masuk ke dslam mobil yang pintu nya sudah sedari tadi ia buka.
Agnez mengangguk kan kepala kemudian masuk ke dalam mobil.
Ini lah kegiatan Agnez dan Mas Bambang di pagi hari, memperdebat kan hal yang 'Kurang jelas dan unfaedah' menurut Mas Bambang sendiri.
Tapi menurut Agnez, dia hanya merasa tak enak telah mengganggu ngopi pagi supir pribadi nya itu, tapi ya sudah lah, kalau di lanjut perdebatan itu tak akan selesai, sampai 10 purnama sekali pun akan berlanjut.
__ADS_1
Di perjalanan.
Mata bening yang selalu memancar kan binaran polos itu menatap jalan dari jendela mobil nya dengan bahagia.
Suasana dalam mobil hening, hanya terdengar suara deru mesin mobil yang terdengar jelas.
Tapi itu tak berlangsung lama karena Mas Bambang memecah keheningan yang terjadi.
"Menurut Mbak Agnez, Jakarta gimana?." Tanya Mas Bambang.
"Ngga jauh beda dari Jawa Tengah, padat." Jawab singkat Agnez tanpa menatap Mas Bambang.
"Enak di sini apa di Jawa Tengah kalo menurut Mbak Agnez?." Tanya Mas Bambang lagi.
"Kalo di jawab jujur, Agnez jawab lebih enak di sana, tapi di sini juga ndak buruk." Jelas Agnez yang kini menatap Mas Bambang sebentar.
Mas Bambang manggut-manggut paham akan penjelasan majikan kecil nya ini.
"Ouh iya, temen-temen Mbak Agnez ndak ada yang tanya rumah baru Mbak Agnez kah?." Tanga Mas Bambang hati-hati.
"Ndak ada Mas, lagian buat apa tanya-tanya? Mereka semua ndak ada yang nganggep saya temen, kalo ada butuh nya aja nganggep temen, kalo ndak butuh ya bukan temen." Datar Agnez berucap.
Mas Bambang merasa bersalah telah menanya kan hal itu. Ke adaan mobil kembali hening setelah pertanyaan dari Mas Bambang itu.
Agnez ini adalah gadis yang kesepian, dia tak punya teman karena menurut teman SMA lama Agnez, dia adalah anak yang sombang, padahal tidak, mereka itu iri dengan Agnez yang sempurna di mata semua orang, cantik, pinter dalam akademik dan nonakademik, berbakat, dan tentu saja anak seorang pengusaha kuliner tersukses se Indonesia, siapa coba yang tak iri?.
Beberapa menit perjalanan mobil yang membawa Agnez telah sampai di dekat gerbang sekolah nya.
"Mbak? Kita sudah sampai, apa mau Mas Bambang anter sekalian ke kelas?." Tawar Mas Bambang khawatir pada majikan kecil nya ini.
Agnez menggeleng kan kepala nya pelan sebagai jawaban, tak lupa di iringi senyum manis nya.
Sebelum turun dari mobil, dia berdoa dalam hati, 'Ya Allah! Hamba mohon jangan sama kan ke adaan sekolah baru ini dengan sekolah lama hamba, Aamiin' doa Agnez memohon pada sang Kuasa alam.
'Huufffhh... .' Agnez menarik nafas dan menghembus kan nya dengan perlahan dari hidung nya.
Mas Bambang keluar membuka kan pintu mobil untuk Agnez.
Agnez keluar dengan menghiasi wajah nya penuh senyuman bahagia.
'Sekolah baru, aku harap hari-hari ku ngga lagi kesepian kaya dulu.' Batin Agnez berharap.
Setelah pamit pada Mas Bambang untuk masuk, Agnez berlalu pergi ke dalam gedung sekolah meninggal kan Mas Bambang.
Sesudah memasti kan sang majikan kecil masuk gedung, Mas Bambang masuk mobil dan berlalu pergi dari bangunan sekolah baru Agnez.
Di dalam gedung sekolah, Agnez menatap bangunan 4 lantai itu dengan pandangan takjub, binaran mata nya yang penuh bahagia semakin terpampang jelas.
'Ini ngomong-ngomong... aku ndak tau kelas nya jeh, tanya siapa yah? Kata Ayah tadi aku masuk 10 IPS 1.' Batin Agnez bingung.
Tiba-tiba saja saat akan melangkah mencari letak kelas nya, Agnez bertabrak kan dengan seorang gadis berhijab dengan kaca mata bulat bertengger di batang hidung nya.
"Aduh! Maaf Mbak ndak sengaja, maaf ya Mbak, ada yang sakit ndak Mbak?." Tanya Agnez beruntun wajah nya sudah pucat pasi takut di maki-maki seperti di sekolah lama nya dulu.
"Iya ngga papa, aku juga jalan ngga liat-liat, kamu ngga ada yang luka atau lecet kan?." Tanya gadis berkaca mara bulat itu, yang tak lain dan tak bukan dia adalah Wulan.
"Iya Mbak saya ok ndak ada yang lecet kok." Ucap Agnez senang karena bertemu Wulan.
Wulan mengangguk meng iya kan, lalu dia menatap Agnez dari bawah sampai atas.
"Kamu... murid baru kah?." Tanya Wulan sangat ramah pada Agnez.
"Hehe iya Mbak, kenalin nama ku Agnez Oktavian, pindahan dari SMAN di Jawa Tengah, masih kelas 10." Kata Agnez memperkenal kan diri nya pada Wulan sambil mengulur kan tangan kanan nya bermaksud mengajak bersalaman.
"Ouh, salam kenal kalo gitu, aku Wulan, kelas 11." Jawab Wulan menyambut uluran tangan Agnez.
Yah, Agnez masuk ke SMA Merdeka tempat 6 serangkai sekolah, memang yah kalo jodoh ngga akan kemana, Rencana Author dan kehendak Author memang indah😂.
Setelah ngobrol basa basi, Agnez meminta bantu an Wulan untuk memberi tahu kan di mana letak kelas 10 IPS 1. Dan dengan senang hati, Wulan mengantar kan junior nya ini ke kelas nya sekalian dengan menunjuk kan tata letak fasilitas sekolah yang di miliki SMA Merdeka.
Yang tadi nya Wulan hanya berniat kekantin membeli jajanan, kini dia harus menghabis kan waktu sedikit lebih lama lagi di luar.
"Mbak Wulan di kelas 11 apa?." Tanya Agnez ingin tahu.
"Aku di kelas 11 IPS 3." Jawab singkat Wulan di iringi senyuman.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.