Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seventy-five


__ADS_3

Pukul 03.05 pagi di kediaman Bang Idan Tika.


"Uhhh... dasar monster, sakit banget." Keluh Tika sambil memamdang muka lelap sang suami.


Tika menggulung selimut sampai menutupi tubuh polosnya.


Melihat tubuh polosnya dia jadi malu sendiri.


Dia sedang berusaha berdiri dari duduknya menuju kamar mandi.


"Padahal kemarin malam pelan kok, tapi sakit." Gerutunya.


Wajah Tika menghangat dan muncul rona merah di sana.


Dia malu mengingat hal semalam, dia mengeluarkan suara-suara aneh dari bibirnya.


"Malu banget, kok bisa sih Gua keluarin suara kaya gitu." Gumam nya yang tak ingin di dengar sang suami.


Tika sudah berdiri dari duduknya hanya saja kakinya gemeteran.


Bang Idan yang merasakan ada pergerakan di ranjang sebelah nya, dia membuka mata dan melihat sang istri kesulitan berjalan.


Tika berjalan dengan tertatih-tatih.


Bang Idan bangun dari tidurnya dan menggendong Tika secara tiba-tiba.


"Kyaaa!!." Pekik Tika terkejut.


"Ngagetin aja sih!." Sungut Tika dengan memukul dada bidang Bang Idan.


Sang suami hanya terkekeh pelan menanggapi sungutan istrinya.


"Kenapa ngga bangunin aku hmm?." Tanya Bang Idan sambil mengecup bibir Tika lembut sambil berjalan ke arah kamar mandi.


"Aku ngga mau nyusahin kamu." Balas Tika dengan muka nya merah.


"Sakit banget kah?." Tanya Bang Idan lembut.


"Sakit lah, kamu udah kaya monster semalem." Keluh Tika.


"Padahal kan udah pelan." Celutuk Bang Idan.


Mereka berdua sudah sampai di kamar mandi, Bang Idan menduduk kan Tika di kloset.


Dia mengisi air hangat di bathup untuk Tika berendam.


"Udah ah ngga usah bahas kemarin malam." Tika memutus obrolan memalukan itu.


"Hahaha iya deh ngga bahas lagi." Kata Bang Idan.


Setelah bathup penuh, Bang Idan ingin membantu Tika tapi di cegah dan malah di usir untuk mandi di kamar mandi lain.


"Kamu mending mandi kamar mandi lainnya sana." Usir Tika.


"Yahhhh, emang kenapa kalo bagi kamar mandi?." Tanya Bang Idan.


"Engga!." Keras Tika berucap dengan pipi bersemu merah.


"Hahahaha, iya deh iya aku pergi, teriak aja kalo udah selesai." Pesan Bang Idan dan segera di angguki Tika.


Lalu Bang Idan pergi tak lagi menggoda sang istri.


Tika masuk ke bathup dan berendam di sana.


Bang Idan ada di dalam kamar membersihkan sprei.


"Aku yang pertama, terima kasih telah menjaga nya Sayang." Gumam Bang Idan melihat darah di sprei.


Bang Idan telah mengganti sprei.


Lalu dia pergi ke kamar sebelah untuk mandi.


Pukul 03.35 sepasang suami istri itu baru selesai mandi.


"Masih sakit kah?, maaf aku ngga bantu kamu jalan dari kamar mandi." Kata Bang Idan sambil memapah Tika dan menduduk kan nya di atas ranjang.


"Udah ngga terlalu sakit, aku juga masih bisa jalan sendiri Yang, aku belum jadi orang orang tua yang butuh bantuan buat keluar masuk kamar mandi." Panjang lebar Tika.


"Hehehe iya." Kekeh Bang Idan.


Adzan subuh berkumadang, mereka segera melakukan kewajiban, setelah selesai mereka tertidur kembali karena merasa masih mengantuk.


Pagi hari ini Bang Idan pergi ke kantor dengan perasaan bahagia.


Dia berpikir pekerjaan kantor akan terlaksana dengan lancar hari ini.


"Se... se... selamat pagi Pak." Sekeritaris Bang Idan menyapa dengan suara tergagap.


"Ada apa?, apa ada hal yang tidak beres?." Tanya nya.


Kenyataan tak se indah ekspektasi.


Pagi ini tiba-tiba mood Bang Idan buruk setelah memasuki ruangan nya.


Sekretaris yang melihat perubahan wajah atasannya itu sedikit takut.


"Hai Idan?." Sapa seorang wanita dengan centilnya.


"Ngapain ke sini?, ada perlu apa?." Tanya Bang Idan datar.


Bamg Idan masuk dengan di temani sekretarisnya.


"Emmm, aku mau ajakin kamu jalan malam ini, mau ngga?, mau yaaa?." Wanita itu memaksa.


"Denger Gisell, pergi jauh-jauh dari hidup Gua, jan kek lintah nempel-nempel risih Gua nya." Sembur Bang Idan keras.


"Lo tega banget sama Gua, ngga inget dulu Lo pernah suka sama Gua?." Kata Gisell nama yang di sebut Bang Idan tadi.


"Denger!, Gua ngga pernah suka sama Lo, bahkan jika cewek di dunia ini hanya tinggal Lo doang, Gua ngga bakal kepincut ama Lo." Tegas Bang Idan kasar.


"Masa sih?." Gisell menggoda Bang Idan, dia mendekat pada Bang Idan dan menyentuh dada bidangnya.


"Pergi dari sini!." Geram Bang Idan sambil menghempaskan tangan Gisell.


"Berhenti usik Gua, karena Gua udah nikah!!." Tegas Bang Idan.


Gisell tak berbicara apa pun dan langsung pergi meninggalkan kantor Bang Idan.


'Nikah?, jangan kira Gua percaya ama kibulan Lo Idan.' Batin Gisell.


Di ruangan Bang Idan.


Bang Idan memandang sekretarisnya dari atas sampai bawah, karena pasti Gisell melakukan sesuatu sampai-sampai bawahannya ini mengijinkan dia masuk.


"Maaf Pak karena mengijinkan dia masuk." Ucap Lili sekretaris Bang Idan.


Sang Boss hanya mengehela nafas lelah.


Dia lalu melihat muka Lili, di pipi nya ada bekas memerah seperti tamparan.


"Bilang kepada security untuk tak mengijinkan wanita itu masuk ke gedung ini." Perintah Bang Idan.


"Baik Pak." Jawab Lili.


"Kamu boleh pergi, dan satu lagi, kompres pipi mu, maaf atas kekerasan yang terjadi ini." Ucap Bang Idan.


"Iya Pak, saya permisi." Lili pergi.


'Huufffffh.' Helaan nafas lelah terdengar.


"Kenapa harus ada dia?, semoga aja Tika ngga tau." Doa Bang Idan.


Flashback 4 tahun lalu.


Di taman sekolah, seorang perempuan duduk di atas bangku dengan merintih kesakitan.


"Lepas dulu sepatunya, biar aku lihat kaki mu." Pinta seorang pria.


"Ngga usah deh Kak, aku mau ke UKS aja." Tolak Sang perempuan.


"Keburu bengkak." Kata Pria itu.


Lalu dia melepas sepatu perempuan itu.


"Kak Idan ngapain?, ngga usah Kak." Tolak nya.


Ya, laki-laki itu adalah Bang Idan.


Dia sedang menolong Gisell yang terkilir di taman.


'Krek.'


"Aduhhh!." Ringis Gisell ketika Bang Idan memijit kakinya hingga berbunyi.


"Gerakin." Suruh Bang Idan.


Gisell meenurut.


"Wah sembuh, makasih Kak." Ucap Gisell senang.


"Tetap periksakan ke dokter." Nasihat Bang Idan.


Bang Idan kemudian pergi tanpa memjawab ucapan terima kasih Gisell.


Sejak saat itu, Gisell jatuh cinta pandangan pertama dengan Bang Idan.


Bang Idan yang notebenya kakak kelas Gisell yang berada di kelas 11 dan Gisell masih kelas 10.


Gisell bertekad mendapatkan Bang Idan dengan segala upaya baik maupun sampai yang kotor sekalipun.


Bahkan perempuan yang mendekat atau berusaha mendekati Bang Idan di bully dan diteror bahis-habisan, sedang orang yang sedang dia perjuangkan bukan menyukai malah jijik dengan Gisell yang meng halal kan segala cara.


Dia, Zaidan Hasan Fathan yang terkenal sebagai balokan es berjalan yang di kagumi kaum hawa se antero sekolah makin mendinginkan sifat dan sikapnya pada siapa pun.


Sampai Bang Idan berada di kelas 12 SMA, Gisell tak juga mendapat kan Bang Idan.


Lalu Gisell kehilangan jejak Bang Idan saat Bang Idan melanjutkan pendidikannya dia LA.


Flashback off.


Dan baru-baru ini kalo tidak salah akhir tahun kemarin Gisell bertemu secara tidak sengaja di sebuah Cafe.


Dia kembali menganggu Bang Idan.


Ini sudah ke 3 kali nya Gisell bertamu ke kantor Bang Idan.


Bang Idan berdoa semoga Tika tak tau apa pun tentang Gisell.

__ADS_1


Tapi yang namanya kebohongan ngga bisa di sembunyi kan terlalu lama kan?, suatu saat pasti terbongkar.


Bang Idan mengacak rambutnya frustasi, dia memilih fokus pada setumpuk dokumen di atas meja nya ini dari pada memikirkan akibat-akibat jika Tika tau Gisell.


-


-


Malam ini 5 keluarga berkumpul di rumah Bang Idan Tika sesuai janji kemarin malam.


Suasana di malam yang dingin ini tak ada yang berbicara sepatah kata pun.


Tiba-tiba... .


'Ctar... .'


'Allahu Akbar!!." Pekik mereka yang berkumpul di ruang santai.


Bunyi petir terdengar di luar.


Dan hujan tiba-tiba datang dengar derasnya.


"Yahhh kok hujan sih." Keluh Akifa.


"Jan ngeluh, hujan itu rejeki." Lembut Abdiel menasihati.


"Dari tadi emang gelap banget di luar, cahaya bulan ngga ada." Beri tahu Raina.


"Hujan ya deres banget, kalo ngga malam boleh nih kita main." Celutuk Alfi sambil melihat ke arah luar jendela.


Semua orang sibuk membicarakan tentang hujan.


Dan di sisi lain, seseorang tengah melamun seperti gelisah.


Jantung Zarine berdetak lebih cepat dari biasanya.


Ini bukan karena ada di dekapan Rafka, tapi ini perasaan lain.


Perasaan yang lebih ke khawatir, cemas, dan takut.


Lalu pikiran Zarine mengarah kepada sang Ayah tercinta.


"Yang kamu kenapa?." Tanya Rafka lembut.


Rafka sedari tadi sudah menyadari perubahan raut muka snag istri.


"Perasaan aku ngga enak, kaya ada yang hilang tapi ngga tau apa." Curhatnya.


Ini sudah ke sekian kalinga Zarine mengatakan hal itu.


Sudah sejak di sekolah tadi Zarine mengungkap kan perasaan yang mengganjal di hati nya.


'Ctar... .' Petir masih menggema di luar dan untungnya tidak mati lampu di rumah.


"Hilang?." Beo Bang Rafa.


Zarine mengangguk.


"Abang juga sedari tadi kaya ngerasa ada yang hilang, tapi apa Abang ngga tau." Jujur Bang Rafa.


Dia juga merasakan hal yang sama.


Bahkan Raina saja sampai di buat bingung tadi pagi.


'Ring... ring... ring... .' Ponsel Bang Rafa berbunyi.


"Bunda?, tumben." Kata Bang Rafa.


"Bang tolong speaker." Pinta Zarine.


Bang Rafa mengangkat telepon dan menspeaker nya.


"***... ***... assallammu'allaikum, Bang?." Panggil Bunda dengan suara serak habis menangis.


"Wa'allaikum sallam, ada apa Bun?, Bunda kenapa?, kok nangis?." Pertanyaan beruntun dari Bang Rafa, dan Zarine.


"Kalian lagi bareng yah?." Tanga Bunda.


"Iya, ada apa Bun?." Tanya Bang Rafa.


"... ." Bunda tak menjawab dan malah sesenggukan di sana.


Terdengar juga suara Mama Papa Rafka dan lainnya di sebarang.


"Tolong ke Rumah Sakit Bramantion ya Nak, Ayah kecelakaan dan kritis." Beri tahu cepat Bunda.


'Deg!!.'


Bak di hantam ombak besar, Zarine seketika lemas dan pingsan, Bang Rafa dan lainnya juga demikian, terkejut tak percaya.


"Bunda tunggu Nak, hati-hati kalian nyetirnya." Pesan Bunda.


"Abang sama lainnya OTW, Bunda yang tenang di sana." Kata Bang Rafa.


"Bunda tutup, asallammu'allaikum." Salam Bunda.


"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang.


Telepon berakhir.


"Kalian semua pergi dulu aja, aku sama Alfi nunggu Zatine sadar dulu." Suruh Abhi.


Bang Rafa mengangguk sebelum pergi, dia mengecup dahi Zarine lembut, lalu bergegas ke garasi dan berangket ke RS bersama yang lain.


Tinggal Abhi Alfi dan Rafka Zarine sekarang di rumah Bang Idan.


"Yang?, bangun Yang." Panggil Rafka sambil meletak kan aroma terapi di bawah hidung Zarine.


"Ayah?!!." Seru Zarine.


"Alhamdulillah, tenang dulu Yang, nih minum dulu." Rafka memberi air mineral pada Zarine.


Zarine meminumnya.


"Ayo kita ke RS." Ajak Zarine cepat.


"Kita pakek mobilnya Bang Idan yang satu nya aja, ayo." kata Abhi.


Mereka bertanya pada ART kunci mobil nya dan kemudian mereka melaju ke RS dengan sangat hati-hati.


Sesampainya di sana Rafka Zarine dan lainnya berlari menuju IGD.


Di depan pintu IGD semua orang gelisah menunggu dokter keluar.


"Bunda?!." Teriak Zarine dari jauh.


Dia berlari dan langsung memeluk samg Bunda aret sambil menangis.


"Hiks... Zarine... Ayah mu Nak... " Bunda tak sanggup berkata-kata lagi.


"Bunda dan Zarine harus sabar, Ayah pasti sembuh." Hibur Bang Rafa.


Dia memeluk Ibu dan Adiknya ini.


Lalu 2 orang perempuan itu duduk masih saling berpelukan dan menangis terseduh-seduh.


Pukul 20.00 malam dokter baru keluar dari IGD.


"Dok bagaimana?." Tanya semua orang pada sang dokter.


"Mohon bersabar saja semuanya, pasien masih kritis, kita para dokter akan melakukan semaksimal mungkin untuk kesembuhan pasien, untuk sekarang sebaiknya di bantu dengan doa dahulu, saya pamit dulu, pemisi." Dokter pergi.


Bunda dan Zarine terduduk di kursi dengan kondisi lemas.


"Sebaiknya kita semua sholat isya' dulu dan makan malam." Usul Bang Rafa.


"Kita sebagian ada yang jaga." Kata Papa Rafka.


"Aku aja sama Ajeng yang jaga." Papa Tika berucqp, di sana Mama Papa Tika juga ikut ke RS, beliau baru tadi sore pindah ke rumah baru nya.


"Ya udah nanti kita balik lagi." Mama Papa Tika mengangguk.


Rafka Zarine dan lainnya pergi ke mushollah RS.


Selesai sholat Rafka dan Bang Rafa membeli makanan untuk di makan bersama di ruang tunggu IGD.


15 menit kemudian Bang Rafa dan Rafka datang dengan membawa kantung kresek besar.


Mereka bersamaan datang dengan Mama Papa Tika dari mushollah.


Semua orang makan walau tak berselera.


"Kalian para orang tua sebaiknya pulang ke rumah masing-masing, ini udah malem, hujan juga udah ngga terlalu deres banget." Kata Bang Rafa pada Mama Papa Rafka dan para orang tua lainnya.


"Tapi-." Perkataan Mama Rafka terpotong.


"Bener kata Bang Rafa, sebaiknya kalian pulang." Kata Bunda.


"Ya udah kita semua pulang, kalo ada apa-apa kalian hubungin kita ok?, jangan sampe ngga!." Tegas Papa Rafka.


"Siiap Om." jawab Bang Rafa.


Para orang tua pulang.


Tersisa Abhi Alfi, Akifa Abdiel, Bang Idan Tika di sana yang belum pulang, Raina Bang Rafa dan Rafka Zarine menginap.


"Kalian semua sebaiknya juga pulang." Perintah Bunda.


"Kita mau nemenin Bunda di sini." Kata Bang Rafa yang di angguki Raina, Zarine dan Rafka juga lainnya.


"Lo sama yang lain mending pulang Bang." Suruh Rafka.


"Besok kalian semua yang sekolag harus tetap sekolah." Kata Zarine.


'Huuffffh.' Akifa menghela nafas pasrah.


"Ya udah kalo gitu, kita semua pulang, assallammu'allaikum." Salam Bang Idan.


"Wa'alkaikum sallam." Jawab Bunda, Rafka Zarine, dan Raina Bang Rafa.


Suasana ruang tunggu sepi sunyi.


hanya ada detak kan jam yang terdengar nyaring di sana.


"Hiks... hiks... ." Bunda menumpahkan air mata nya lagi.


"Bunda jangan nangis." Kata Zarine sambil memeluk Bunda di ikuti Raina.

__ADS_1


"Bunda harus kuat, demi Ayah." Kata Raina.


"Bunda takut Za, Rain." Ungkap Bunda jujur.


"Takut apa?." Tanya zarine.


"Bunda takut kalo Ayah... ." Ucapan Bunda tak di teruskan karena tak sanggup mengatakan nya.


"Ayah pasti sembuh, Bunda berdoa aja sama Allah." Kata Bang Rafa.


Bunda mengangguk.


Malam semakin larut.


Bunda, Zarine, dan Raina tertidur si kursi tunggu.


Bang Rafa dan Rafka tidak tidur, kedua lelaki irtu mengusap rambut istri masing-masing, Bang Rafa juga mengusap kepala samg Bunda.


Paha Bang Rafa dan Rafka di jadikan bantal oleh wanita yang meraka sayangi.


"Gua ngga tau masa yang akan datang Raf, tapi Gua minta tolong, jangan pernah tinggalin adek Gua, kalo Lo udah ngga sayang dan ngga cinta lagi sama dia, tolong kembali in dia ke Gua." Ucap Bang Rafa.


"Lo ngomong apa an sih?!, denger yak!, sampe Gua mati dan membangkai sekali pun, Gua ngga akan pernah lepasin Zarine." Seru Rafka pelan.


"Gua ngerasa akan terjadi sesuatu, tapi Gua ngga tau itu apa." Kata Bang Rafa.


"Ber doa aja semoga ngga ada apa-apa." Kata Rafka.


Subuh berkumandang.


5 orang di kursi ruang tunggu bangun dan menuju ke mushollah untuk sholat subuh.


"Kalian berdua mending pulang bersiap buat sekolah." Perintah Bunda.


"Engga Bun, kita berdua bisa ijin buat libur sehari." Kata rafka.


"Ya sudah terserah kalian aja." Pasrah Bunda.


Setelah kembali dari mushollah terlihat suster berlari dengan kencang ke arah IGD.


Bunda dan lainnya khawatir dan ikut berlari.


Melihat dari jendela air mata Bunda kembali mengalir deras.


Zarine sudah menangis di pelukan Rafka.


30 menit kemudian Dokter keluar kamar.


"Dokter bagaimana keadaan suami saya?." Tanya Bunda.


"Pasien sudah sadar, beliau menanyakan istri, anak, dan menantunya." Kata Dokter.


"Kami semua Dok, ada apa dok?." Tanya Bang Rafa.


"Silahkan masuk, pasien ingin membicarakan sesuatu katanya." Ucap Dokter.


5 orang itu pun masuk.


Bunda duduk di bangku sebelah Ayah, Rafka Zarine di sebelah Bunda, kemudian Raina Bang Rafa ada di sebelah kiri brangkar Ayah.


"Jangan menangis." Kata Ayah dengan suara hampir tak terdengar.


Bunda, Zarine dan Raina menusap air mata di pipi masing-masing.


"Dengar kan Ayah, ini untuk Bang Rafa dan Zarine... jangan sampai ada bertengkar di antara kalian, jika ada masalah selesaikan dengan baik-baik... ." Ayah menjeda kata-kata nya.


"Untuk rumah tangga kalian... jangan sampai kepercayaan luntur di dalam nya, juga jangan pernah ada kebohongan dalam perja... lan... an pernikahan kalian." Pesan Ayah pada Bang Rafa Raina dan Zarine Rafka.


"Iya Ayah." Jawab Rafka dan Bang Rafa.


"Bunda?." Panggil Ayah.


"Bunda di sini Ayah." Sahut Bunda dengan pipi penuh air mata.


"Jaga kesehatan Bunda, jangan melakukan hal... yang bisa membuat Bunda drop." Kata Ayah.


"Ayah jangan ngomong gitu, Ayah pasti sembuh." Suara Bunda hampir habis karena kebanyakan menangis.


"Jangan pernah tinggalin sholat kalian semua." Pesan Ayah.


Semua orang mengangguk meng iya kan.


"Zarine?, Bang Rafa?, titip Bunda ya, jangan sia-sia kan Bunda." Ucap Ayah.


"Ayah ngomong apa sih, Ayah pasti sembuh, Ayah pasti bisa... ." Ucapan Zarine terhenti


'Titt........... .'


Pendeteksi detak jantung Ayah berbunyi panjang menggema di ruangan.


"Ayah?!!!!!!." Seru Zarine histeris.


Bunda melemas di tempat memandang tak percaya ke arah sang suami.


Zarine memeluk tubuh sang Ayah erat.


Dokter datang dan memeriksa Ayah.


"Pasien Muhammad Adib Ansharri di nyatakan meninggal pukul 05.15 pagi, tolong catat Sus." Pinta Dokter.


Ruangan serba putih ini penuh suara tangisan Zarine.


Bang Rafa dan Bunda hanya diam mematung dengan air mata banjir di pipi.


Raina memelu sang suami juga di derai air mata.


Rafka menghubungi Mama Papa nya.


"Hallo Raf?, ada apa?, ada kabar apa?." Tanya beruntun Papa.


"Assallammu'allaikum." Salam Rafka.


"Wa'allaikum sallam, gimana Nak?, ada kabar apa?." Tanya Mama.


"Ayah Adib... Ayah Adib meninggal Pa." Ucap Rafka cepat.


"... ." Tak ada suara di seberang.


"Jangan bercanda Rafka!." Bentak sang Papa.


"Buat apa Rafka boong Pa?, Ayah Adib udah ngga ada Pa." Kata Rafka dengan suara bergetar.


"Kita semua bakal OTW ke sana." Kata Papa.


"Ngga usah Pa, jenazah bentar lagi di bawah pulang, Papa siapin segalanya aja di sana." Cegah Rafka.


"Iya baik." Jawab Papa.


Telepon berakhir.


Setelah itu, Bang Rafa dan Rafka mengurus segala hal di rumah sakit.


Pukul 05.40 jenazah sampai di rumah Ayah.


Semua orang berbondong-bondong menghampirinya.


Para laku-laki mengurus jenazah.


Pukul 06.25 jenazah sudah di kuburkan, dan sekarang rumah Bunda hanya ada keluarga dan para sahabat.


Bunda masih diam membeku tak percaya dengan semua kenyataan.


"Menangislah sepuas yang kamu mau Zah." Ucap Mama Rafka.


"Mas Adib." Gumam Bunda pelan tapi masih bisa di dengar oleh orang di sana.


"Sabar Zah, ikhlas yaaaa, Allah lebih sayang Adib." Kata Mama Akifa.


"Bunda mulai sekarang ikut ke rumah Rafka Zarine aja." Kata Rafka.


"Iya, Bunda ikut kita aja." Timpal Zarine.


"Atau Bunda mau ikut Bang Rafa?." Tawar Bang Rafa.


"Bunda di rumah aku aja Bang." Kata Rafka.


"Kita bahas itu nanti, sekarang yang pengen aku tau, Adib kecelakaan karena apa?." Papa Rafka bertanya-tanya.


"Ada yang menyabotase mobil Pak Adib." Sahut seseorang dari arah pintu masuk.


Semua orang menatap ke arah pintu.


Di sana seorang pria paruh baya yang seumuran dengan Ayah Adib sedang berdiri sambil membawa sesuatu di tangan kanan nya.


"Pak Selamet?." Panggil Papi Abhi.


"Assallammu'allaikum, maaf menganggu." Salam beliau.


"Wa'allaikum sallam, silahkan masuk Pak." Jawab Bang Rafa dan lainnya, lalu mempersilahkan Pak Selamet masuk.


Beliau sudah masuk dan ikut duduk di karpet.


"Saya turut berbela sungkawa atas meinggalnya Pak Adib Bu." Ucap nya.


"Iya, terima kasih." Singkat Bunda.


"Bagaimana Pak Selamet tau kalo mobil beliau di sabotase?." Tanya Mama Rafka.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf ngga dapet feel nya


Maaf kalo garing😢🙏

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2