
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.
******************************
-
-
"Sempet baper ama gombalan nya yang menggetar kan hati itu, tapi itu kan dulu, baper ku cuma sementara, habis itu aku ngga ada perasaan sama sekali ke dia." Lanjut Akifa menjelas kan.
"Terus siapa sekarang yang ada di hati kamu?." Tanya Zarine memancing.
"Pasti suami nya lah Za." Sahut Abdiel percaya diri.
"Dih?! Percaya diri banget sih suami aku." Ejek Akifa dengan tertawa pelan.
"Terserah." Acuh Abdiel merajuk.
"Cieee ngambek." Goda Akifa.
Alfi Abhi, Tika, Rafka Zarine melihat live drama di depan mata nya.
"Aduhhh drama." Keluh Alfi dengan menepuk kening nya pelan.
'Di mohon untuk semua siswa siswi berkumpul di lapangan, yang masih duduk-duduk manis diam depan UKS itu, ayo ke lapangan.' Panggil Pak Guru BK yang Author lupa nama nya😅.
"Iya Pak OTW!!." Seru Rafka, Abdiel, dan Abhi kompak.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Kita para cowok mau ke lapangan dulu, kalian duduk diam di sini, jangan ke mana-mana!." Tegas Rafka meminta.
"Iya iya... ngga usah khawatir, kita stay di sini sambil liatin kalian panas-panasan." Balas Zarine.
3 pria itu kemudian pergi menuju lapangan.
Tapi tiba-tiba Akifa memanggil Abdiel.
"Abdiel?!." Akifa sedikit berteriak kapada Abdiel.
"Apa an?." Sewot pria itu.
"Laki-laki yang ada di hati Gua sekarang itu nama nya Abdiel Justin Gilbert, dia tuh orang jelek banget, konyol lagi orang nya." Jelas Akifa menjabar kan sifat Abdiel sang suami.
Mendengar perkataan Akifa, Abdiel menyungging kan senyum nya.
"Tunggu aku selesai upacara." Singkat Abdiel berucap.
Akifa merinding mendengar kan perkataan Abdiel yang penuh makna tapi tak di mengerti oleh Akifa.
Abdiel pergi ke lapangan dan berbaris di barisan kelas nya.
"Merinding euy ama kata-kata nya, itu ancaman atau apa yah." Kata Akifa dengan meringis takut.
"Hahaha... ikhlas aja deh mau di apa-apa in suami." Sahut Tika.
"Diem kalian bertiga, ini semua gara-gara Pras." Sungut Akifa.
"Lah? Kok dia?." Bingung Alfi.
"Kalo aja dia ngga tebar gombalan dulu, Gua pasti ngga akan kepincut dia barang se detik pun." Ujar Akifa merungut.
"Ya enak dong kalo kita bisa pilih sama siapa jatuh cinta, ngga akan ada orang yang sakit hati di dunia." Cetus Alfi pada Akifa.
"Hehehe... udah sabar aja Fah, tadi aku liat dia udah ngga marah kok, cuma senyum nya kaya aneh gitu." Kata Zarine menghibur.
"Huaaaa... ." Tangis palsu Akifa.
"Meresah kan." Lanjut Akifa lagi.
Upacara telah di mulai, semua murid melaksana kan nya dengan hitmat, walau panas harus mereka rasa kan dan haus menyerang tenggorokan.
Di depan pintu UKS, 4 wanita sedang memegang minuman di tangan masing-masing.
Saat Rafka, Abhi, dan Abdiel menatap mereka, para wanita itu gencar menggoda, mereka meminum air mineral dengan perlahan, lalu setelah minum, mereka menyentuh tenggorokan masing-masing dengan memejam kan mata nya menikmati air nya.
Terlihat 3 pria di sana yang sedang kepanasan tengah menelan ludah kasar.
"Enak bener tuh air, Gua mauuu." Jerit Abdiel pelan.
"Mesti di kasih hukuman nih mereka karena udah goda in kita." Bisik Abhi.
"Setuju, bentar lagi upacara selesai, kita balas mereka." Seru Rafka ikut menimpali.
Beberapa menit kemudian upcara pun selesai.
Para pria menghampiri wanita yabg duduk di depan UKs itu.
"Bagus yah kalian tadi goda in kita." Seru Abdiel.
"Hehehe... becanda doang Yang, ya Allah, gitu aja dendam." Balas Akifa tanpa merasa berdosa.
"Ayo ikut kita, kalian bakal kena hukum." Ajak Rafka yang menarik tangan Zarine lembut agar berdiri dari duduk nyaman nya.
Tapi saat hendak berdiri, 2 sejoli yang tadi pagi bertengkar di tengah lapangan basket menghampiri mereka.
"Kak? Maaf ganggu." Ucap Sandra.
"Ouh ngga papa San, ada apa?." Tanya Tika.
"To the point." Pinta Alfi dengan nada datar bin dingin nya.
"Makasih buat tadi pagi." Ucap Pras tulus.
"Hm... sama-sama." Jawab Alfi mewakili semua orang.
"Lo... ngga mukul si Sandra kan Pras?." Tanya Akifa khawatir.
__ADS_1
"Ya engga lah Kak, gila aja Gua nglakuin itu ke cewek yang Gua suka." Ketus Pras.
"Ngga usah ketus kalo ngomong Paijo!." Sungut Abdiel dengan mengusap wajah Pras kasar.
"Hehehe... sory Bang, abis nya cewek Lo tanya nya ngaco, kalo kita berantem ampe pukul Sandra, kagak bakal kita berdua muncul sambil ngucapin terima kasih ama kalian semua." Panjang lebar Pras menjelas kan.
"Iya juga yah." Zarine membenar kan.
"Kalian kagak jadi putus?." Tanya Tika.
"Alhamdulillah ngga jadi Kak, hehehe... ternyata marah nya si Pras cuma salah paham aja." Jawab Sandra dengan terkekeh geli.
"Ya alhamdulillah kalo kalian ngga jadi putus, tapi... emmm... sebelum aku bicara boleh ngga aku saran?." Tanya Zarine.
"Iya Kak silah kan." Kata Sandra dengan tersenyum tulus.
"Kalo hubungan kalian di bawa ke yang lebih halal pasti lebih indah." Perkataan singkat yang di ucap kan Zarine di masuk kan ke dalam pikiran, di cerna, kemudian di angguki setuju oleh Sandra dan Pras.
"Kakak bener." Ujar Pras.
"Nah! Terus kapan?." Tanya Akifa yang setengah-setengah membuat orang di sekitar nya bingung.
"Kapan halal nya?." Tebak Pras yang di angguki Akifa.
"Kita belum genap 17 Kak, orang tua kita juga ngga tau, dan yang lebih parah lagi, kita sebener nya baru jadian, ada sekitar 9 bulanan." Tutur Pras panjang.
"Ouh? Baru jadian? Tapi kok? Kaya udah lama yah, Gua kita kalian udah 1 tahunan gitu, hahaha... kena tipu aing." Tawa Akifa pecah.
"Kena tipu gimana maksud nya?." Heran Pras.
"Gua kira kalian tuh pacaran dah lama, soal nya pas liat sikap Sandar yang bully junior waktu itu asli ngeri." Ucap Akifa bergidik.
"Hehehe... itu kan kan udah berlalu Kak, sekarang aku sama Rida udah baik kan dan ngga akan laya gitu lagi." Jawab tegas Sandra.
"Ooyy?! Kalian bertujuh yang lagi duduk di depan UKS, ujian praktik kelas kalian mau di mulai noh!." Beri tau salah satu siswa yang di tebak adalah se angkatan mereka.
"Yoi, thanks pemberitahuan nya Bro!." Balas Abdiel mewakili temen-temen nya.
"Pras? San? Kita pamit dulu, kalian langgeng terus yah, semoga berjodoh sampe pelaminan dan selama nya, jangan berantem mulu, apa lagi di tempat umum malu." Zarine berpamitan sekaligus menasihati.
"Iya Kak." Jawab 2 sejoli ini.
"Kita pergi ke kelas dulu yah, assallammu'allaikum." Salam Tika.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Pras dan Sandra kompak.
7 serangkai pergi dari depan UKS. Hanya tersisa Pras dan Sandra di sana.
"Ayo aku anter buat masuk kelas juga." Ajak Pras yang di angguki oleh Sandra.
Ujian praktik kali ini semua kelas 12 mengikuti dengan di selingi canda tawa.
Di dalam kelas 12 IPS 1.
"Aduhhhh!! Ampun deh!!!." Jerit guru yang mengawasi kinerja mereka.
"Lah ada apa Bu? Ini kan udah sesuai instruksi Bu." Kata Abdiel.
"Punya kalian kenapa bentuk nya aneh gini coba?!." Sungut Guru pengawas itu.
"Terus gimana yang bener Bu?." Cuek Abhi bertanya.
"Bu? Yang nama nya karya semakin aneh menurut saya semakin unik." Cetus Rafka percaya diri.
"Aduh tau lah, nyerah Ibu sama kalian bertiga." Pasrah sang guru pengawas itu.
"Pacar kalian bertiga nih bandel banget sih kalo di bilangin!." Dengan bersungut-sungut sang guru berseru.
"Hehehe... kalo itu di luar batas kemampuan kita Bu." Ucap Zarine dengan cengengesan.
Para guru di sekolah ini memang tau kalo 6 serangkai ini berpacaran, tentu saja itu pengakuan dari Rafka, Abhi, dan Abdiel.
Mereka tak mengungkap kan hubungan mereka di karena kan Rafka berucap 'Belum saat nya' jadi Abhi dan Abdiel menahan diri untuk tak mengatakan sejujur nya.
"Terserah deh, saya nyerah, mau pecah rasa nya ngurus kalian ber enam." Kata pengawas itu dengan memijit kepala nya pening.
Sedang kan Rafka, Abhi, Abdiel merek menyeringai merasa berhasil membuat guru jengkel, para wanita? Jabgan tanya kan apa pun tentang mereka, mereka menggeleng kan kepala perlahan sambil memukul kening nya pelan, tapi kemudian mereka tertawa kecil.
Jam berputar ke arah kiri dengan sangat cepat menurut 7 serangkai.
Tak terasa sudah pukul 11.00 siang, seluruh sekolah bersiap untuk pulang ke rumah.
Di kelas 6 serangkai.
"Ok anak-anak besok harap membawa seluruh peralatan yang sudah Saya tulis di papan ini, kalau ada salah satu dari kalian yang tak membawa alat-alat ini, bersiap lah untuk hormat di depan sang saka merah putih sampai bel jam istirahat berbunyi." Ancam Bu guru pada anak murid nya.
"Waduh ancaman nya kagak main-main euy." Gumama Abdiel yang sayang nya dapat di dengar guru di depan.
"Tentu saja, kalian itu hanya tinggal hitungan hari di sini, kalo bisa membuat para dewan guru bangga, jangan malah kecewa." Nasihat guru tegas.
"Lah? Kalo nakal kan bisa jadi kenangan kan Bu." Bela Abdiel.
"Mana ada kaya gitu." Elak bu guru.
"Ada Buuuuu... ." Ucap satu kelas kompak.
Merasa tak ada dukungan Bu Guru menghela nafas pasrah sambil berucap "Iya deh saya kalah, 1 lawan 30 pasti aja kalah." Kata beliau dengan ketus.
"Hehehe... jangan Bu cepet tua loh." Goda Abdiel dan langsung mendapat hadiah pelototan mata tajam dari Ibu Guru nya.
"Kalian boleh pulang, langsung pulang! Jangan kelayapan, kalo mau main, pulang, ganti baju, makan, sholat, baru main." Wejangan yang hampir tiap hari para guru beri kan pada anak didik nya.
"Iya Buuu." Sahut seluruh kelas dengan serempak.
"Ok sebelum pulang mari kita berdoa dengan keyakinan masing-masing, berdoa mulai!." Intruksi Bu Guru yang di ikuti seluruh kelas.
3 menit kemudian.
"Selesai! Saya akhiri kelas ini, selamat siang." Pamit Ibu Guru, beliau keluar kelas dan pergi.
"Yuhuuuu pulang!!." Seru Abdiel berteriak.
"Huts!." Seru Akifa dengan menempel kan jari telunjuk nya di bibir tipis nya.
Yang di tegur hanya cengengesan tak jelas.
"Kuy kita ke Mall langsung aja." Ajak Alfi semangat.
"Kita ganti baju dulu, makan, sholat, habis itu baru ke Mall." Tegas Abhi berucap.
Yang kontan saja membuat semangat yang membara di diri Alfi surut.
3 wanita di tempat memanyun kan bibir nya ke depan bak Bebek yang lagi berenang di sungai.
"Jangan di maju in kek gitu, kode minta di cium kah?." Bisik Abhi, Abdiel, dan Rafka tepat di telinga istri mereka masing-masing.
__ADS_1
Reflek saja 3 wanita itu menutup bibir nya dan berjalan sedikit berlari menjauh dari suami mesum mereka.
Setelah agak jauh mereka malah mendengar 3 pria itu tertawa keras sekeras keras nya.
"Dasar mesum." Gerutu 3 wanit itu bersamaan.
"Ayo kita ke kelas Tika." Ajak Alfi yang di iya kan oleh Akifa juga Zarine.
Hanya membutuh kan waktu 2 menit untuk ke kelas Tika.
Di depan pintu kelas Tika, tiba-tiba Tika keluar dengan muka cemberut nya.
"Tika? Lo kenapa?." Tanya Alfi yang heran dengan muka cemberut Tika.
"Pak Rio ngga punya hati!." Umpat Tika dengan mata berkaca-kaca.
"Loh?! Lo kenapa? Kok nangis sih?." Tanya Akifa sambil meraih Tika ke dalam peluk kan nya.
"Hiks! Pak Rio ambil gantungan ku yang di beli in sama Kak Zaidan." Adu Tika dengan sesengguk kan.
'Ya allah... gitu aja nangis, si Tika lebay atau emang itu asli mood Ibu hamil yang ngga karuan?.' Batin Akifa, Zarine, dan Alfi.
3 wanita itu saling pandang kemudian sama-sama mengedik kan bahu tak paham.
"Eh? Tik? Lo kenapa?." Tanya Rafka khawatir.
"Ayo kita ambil gantungan kamu di Pak Rio sekarang." Ajak Zarine yang tak menghirau kan pertanyaan sang suami.
"Eh tunggu dulu jawab pertanyaan ku dulu." Desak Rafka.
"Gantungan Tika dari Kak Zaidan di ambil sama Pak Rio Yang." Jelas Zarine.
"Kok bisa?." Tanya Abhi.
"Gantungan itu di pinjem Pak Rio tapi ngga di kembali in." Kata Tika menerang kan kronologi nya.
"Lupa kali Pak Rio." Ucap Rafka sedikit membela Pak Rio.
"Mungkin aja, ayo kita ambil gantungan itu." Balas Tika sambil menarik tangan Akifa.
"Tunggu Tika! Jangan lari!." Peringat Rafka pada Kakak Ipar nya itu.
Yang reflek saja Tika memelan kan langkah kaki nya.
"Bagus, jalan aja ngga usah lari!." Tegas Rafka.
"Emang dari mana sih tuh gantungan? Kaya nya berharga banget buat Lo." Tanya Alfi.
"Itu gantungan di beli sama Kak Zaidan di London, dan emang Gua pengenin dari dulu." Jawab Tika dengan sisa-sisa tangisan nya tadi.
"Berhenti!." Seru Rafka.
"Ada apa Raf? Ayo kita ke ruangan Pan Rio keburu pulang orang nya." Ujar Tika dengan suara frustasi nya.
"Hapus dulu tuh air mata." Suruh Rafka sambil memberi kan sapi tangan nya pada Kakak Ipar nya ini.
"Hiks! Masih sempet aja." Gerutu Tika sambil mengusap air mata nya mengguna kan sapu tangan Rafka.
Beberapa menit kemudian, Tika dan 6 seranglai kembali berjalan ke arah ruangan Pak Rio.
Sesampai nya di depan ruangan nya beliau.
"Ketok Tik." Instruksi Akifa.
'Tok... tok... tok.' Tangan mungil Tika mengetuk pintu kayu itu.
"Silah kan masuk!." Seru Pak Rio yang dengan sigap pintu di buka oleh Rafka.
"Permisi Pak." Sapa Rafka dengan menyembul kan kepala nya dari pintu.
"Ayo silah kan masuk Raf." Ujar Pak Rio mempersilah kan.
Rafka mengangguk kan kepala lalu melebar kan pintu dan 6 orang lain nya masuk.
"Ada apa kalian ke ruangan saya?." Tanya Pak Rio ramah.
"Pak? Tolong kembali kan gantungan kotak pensil saya yang Bapak pinjam di kelas tadi." Ujar Tika to the point.
"Gantungan?." Beo Pak Rio.
Tika mengangguk kan kepala cepat.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.