
"Hei? Kamu percaya sama aku kan Yang?." Tanya Rafka sambil menegak kan tubuh Zarine dan menghadap kan wajah nya ke Rafka.
Mata mereka bertemu dan saling mengunci.
Jantung ke dua nya berdetak cepat, pipir Zarine sudah memerah malu, kemudian dia menunduk kan kepala nya memutus kan kontak mata dengan sang suami.
'Aduh jantung... please deh." Gerutu Zarine
'Jantung ku mau loncat, lihat Zarine sudah hampir dua tahun, jantung aku masih berdegug kencang jika kontak mata sama kamu, aku ngga bakal cari ganti kamu, bahkan sampai Allah pisahin kita.' Batin Rafka bersuara.
"Kamu percaya kan sama aku?." Tanga Rafka lagi sambil menaik kan dagu Zarine.
"Iya, aku percaya sama kamu." Jawab tegas Zarine.
Rafka merengkuk tubuh mungil Zarine ke dalam pelukan nya.
"Terus lah percaya sama aku dan cinta ku." Kata Rafka pada Zarine.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Mereka berpelukan cukup lama sampai kemudian Rafka yang ingin melepas pelukan di cegah oleh Zarine.
"Jangan dilepas." Pinta Zarine.
"Kenapa?." Tanya Rafka.
"Kamu wangi banget." Kata Zarine.
"Hah? Hahahaha... iya deh ngga di lepas." Balas Rafka.
Tapi 3 menit kemudian Zarine melepas pelukan.
"Loh? Kata nya ngga boleh lepas? Ayo sini peluk lagi." Rafka merentang kan tangan nya bermaksud menyambut tubuh mungil Zarine.
"Lepas kaos kamu." Suruh Zarine.
"Hah? Gimana Yang?." Tanya tak percaya Radka.
"Iya, ayo lepas baju kamu." Zarine sudah memegang kaos Rafka dan berniat mengangkat nya ke atas.
"Tu... tunggu dulu, kamu ngajakin aku main?." Tanya Rafka ragu.
"Main apa? Ngga ada!, aku ngga mau ngajakin kamu main 'itu' aku cuma mau hirup bau kamu langsung dari badan kamu, ayo buka." Perintah Zarine.
"Ya kira in main, kamu ngga ada niatan kasih sendiri gitu ke aku?." Tanya Rafka sambil membuka baju nya.
"Kan kata dokter Lexa kemarin jangan dulu." Kata Zarine.
Dia mulai mendekat kan tubuh nya lagi ke arah Rafka.
Memeluk nya erat sambil mengendus-endus tubuh Rafka.
Zarine duduk di pangkuan Rafka.
Suami Zarine ini memeluk pingang Zarine possesive, satu tangan nya dia guna kan untyk menopang tubuh nya dan Zarine.
Dia juga ikut menghirup aroma tubuh Zarine dalam-dalam.
'Ya Allah aku udah tegang.' Batin Rafka nelangsa.
"Yang? Kamu tegang ya? Mau main?." Tawar Zarine yang merasakan sesuatu yang tegang di bawah tempat dia duduk di pangkuan Rafka.
Zarine juga kasihan pada Rafka yang tersiksa menahan hasrat, pasti rasanya ngga karuan kan (Author sendiri ngga tau wkwkwk😂, karena Author masih BoCil #Jujur✌.)
"Udah aku ngga papa, aku bisa tahan nanti juga tenang sendiri." Tolak Rafka dengan suara serak khas nya yang sedang di landa gairah.
Zarine pun memilih turun dari pangkuan dan memabantu Rafka mengena kan pakaian nya.
Rafka menatap Zarine dengan senyuman tulus penuh cinta.
Mata Zarine berkaca-kaca lalu dia menunduk dan tangis sesengguk kan keluar dari bibir manis Zarine.
"Hei udah jangan nangis dong, aku ngga papa." Hibur Rafka pada istri tercinta nya.
Dia menenggelam kan kepala Zarine di dada bidang nya.
Rafka menolak tawaran Zarine tadi karena dia tak mau terjadi apa-apa pada baby twins, walau pun dokter lexa mengata kan kalo sakali-kali boleh, tapi dia tak mau mengambil resiko besar, dan dia pun memilih untuk tahan nafsu.
Kaos Rafka sudah basah karena air mata Zarine.
'Hiks... hiks... .' Masih terdengar sesenggu kan dari Zarine.
"Dah yah jangan nangis, kasian baby nya ikut sedih entar." Kata Rafka.
Zarine sudah mulai tenang.
"Yang?." Panggil Zarine.
"Hmmm?." Sahut Rafka.
"Jangan hmm hmm doang dong, liat aku." Kata Zarine sambil menoleh kan wajah Rafka ke arah nya.
"Iya ada apa Yang?." Sabar Rafka.
"Aku pengen makan telur ceplok bikinan kamu." Bisik Zarine di telinga Rafka.
"Sekarang atau nanti pas makan malam?." Tanya Rafka.
"Nanti aja pas makan malam." Jawab Zarine.
"Ngga sekalian di bikinin nasi goreng nya? Telur ceplok biasa nya enak kalo di makan sama nasi goreng." Tawar Rafka pada istri tercinta nya.
"Engga deh, telur ceplok aja mau nya." Tolak Zarine.
Mereka diam sejenak, hanya tangan yang bergerak mengelus perut Zarine.
"Yang? Kamu ngerasa aneh ngga sih?." Kata Rafka.
"Anah kenapa?." Tanya Zarine sambil mendongak menatap wajah Rafka.
"Kata nya kalo orang yang lagi hamil, selain ngidam mereka juga merasakan mual, morning sickness (maaf kalo salah tulisan nya😂), dan badan nya kaya lemes gitu, kamu kok engga sih?." Tanya Rafka.
"Belum kali, entah lah, kalo lemes atau rasa malas ada, kamu inget yang aku tidur pagi waktu hari apa itu, inget kan?." Tanya Zarine mengingat kan kejadian beberapa waktu lalu (Author sendiri lupa itu episode berapa, males nyari😂).
"Ouh iya aku ingat, waktu itu kamu lagi males berarti?." Tebak Rafka.
"Hahaha iya, entah mengapa ranjang nya kaya manggil-manggil gitu rasa nya, dan karena ngga kuat aku tidur deh akhir nya, hehehe." Zarine menjelas kan alasan.
"Mana ada ranjang nya yang manggil-manggil? Ada-ada aja sih kamu Yang, hahaha." Rafka mencubit hidung Zarine perlahan.
Sang empu hidung hanya nyengir lebar ala kuda.
"Ayo kita pindahin barang-barang nya ke kamar lantai bawah, jangan nunggu besok kelamaan." Kata Zarine, dia sudah turun dari ranjang dan ingin menyiap kan segala nya.
"Tunggu sini dulu, aku mau cari in kardus buat ngangkat barang-barang kita." Ujar Rafka menghenti kan aktivitas Zarine.
"Ok, aku tunggu in cepet gih!." Usir Zarine.
"Siiap laksanakan Ibu Negara ku." Jawab Rafka sambil menunduk lalu mengangkat tangan dan meletak kan nya dia ujung alis seperti hormat pada sang saka merah putih.
Zarine terkekeh dan Rafka pun pergi turun ke bawah.
Sampai di bawah, Rafka bertemu dengan para orang tua.
"Hai Raf, ngapain turun? Za mana?." Sapa an dan pertanyaan Mama Rafka lontar kan melihat anak nya yang turun dari tangga.
__ADS_1
"Ada Ma di kamar, Rafka turun mau cari kardus, ada ngga ya Bun?." Tanya Rafka pada ibu mertua nya.
"Buat apa kardus Raf? Kamu mau ke mana? Mau buat bungkusin apa?." Tanya Bunda detail.
"Rafka ajak Za pindah kamar di lantai dasar Bun niat nya biar Za ngga capek naik turun tangga, jadi Rafka mau masukin barang-barang ke dalam kardus biar enak ngangkat nya." Jelas Rafka.
"Oh... gitu, butuh berapa?." Tanya Bunda.
"Yaaa 3 atau 4 kardus, itu pun kalo ada, kalo ngga ada se ada nya aja deh." Kata Rafka.
"Ada deh kaya nya, coba kamu tanya sama para ART di dapur." Suruh Bunda.
Rafka menurut dan dia pergi ke dapur.
Di dapur dia bertemu Bi Ijah.
"Sore Bi." Sapa Rafka ramah.
"Eh? Den Rafka, sore juga Den, ada apa Aden ke ke sini? Di minta masak lagi kah sama Non Zarine?." Tanya Bi Ijah.
"Hehehe... kalo itu iya Bi, tapi nanti, sekarang saya mau cati kardus dulu, kita ada ngga Bi?." Tanya Rafka sambil kepala nya celingak celinguk mencari benda itu.
"Kardus? Buat apa Den? Tunggu biar Bibi cari in dulu." Balas Bi Ijah.
"Saya sama Zarine mau pindah kamar di lantai bawah Bi, biar Bumil satu itu ngga kecapek an naik turun tangga nya, selain itu biar aman juga, saya khawatir terjadi sesuatu sama Za kalo naik turun tangga." Jujur Rafka menjawab sambil membantu Bi Ijah mencari benda yang di ingin kan nya.
"Oh... begitu rupa nya, bagus itu Den." Tanggap Bibi.
Beliau mencari kardus di sekitaran dapur.
"Nah... ini Den ketemu, Aden pengen berapa kardus nya?." Tanya Bibi sambil mengeluar kan kardus-kardus bongkaran, bukan yang sudah berbentuk kotak.
"Kalo ada, saya mau 4 kardus Bi." Pinta Rafka.
"Ini Den, tapi di bentuk sendiri ya Den, apa mau Bibi yang bentukin?." Tawar Bibi.
"Bibi lanjut masak aja deh, biar saya sama Za nanti yang bentuk, ouh iya Bi kamar tamu yang paling ujung sana itu kondisi nya gimana Bi?." Tanya Rafka.
"Kamar tamu yang di ujung sana? Ouh iya kanar itu bersih Den, tiap hari Bibi bersihin, Aden mau pindah ke sana kah?." Tebak Bibi.
"Iya Bi." Singkat Rafka.
"Aden tinggal nempatin aja, saya sudah beres kan semua nya tadi pagi." Kata Bibi.
"Ok kalo gitu, saya ke atas dulu mau ngumpulin barang-barang dulu, makasih kardus nya Bi." Ucap Rafka tulus, dia pun pergi dari dapur kembali ke kamar.
Di ruang tengah suami Zarine itu di sapa oleh Para orang tua yang masih duduk di sana.
"Raf? Kamu mau pindah ke kamar mana?." Tanya Papa.
"Di kamar tamu ujung sana itu loh Pa." Tunjuk Rafka pada salah satu kamar yang letak nya agak di ujung.
"Udah di bersihin belum itu kamar nya?." Tanya Mama Rafka.
"Udah Ma, Bi Ijah sendiri kata nya tadi yang bersihin." Jawab Rafka.
"Emmm... ya udah kalo gitu naik sana kasian Za nunggu in." Suruh Mama Rafka.
"Iya." Singkat Rafka menjawab.
Dia berjalan menaiki tangga dan hilang di belokan.
"Ngga kerasa ya, kita bakal jadi Kakek dan Nenek." Kata Papa Rafka bahagia, terlihat senyum bahagia terbit di bibir beliau.
"Papa aja kali yang Kakek, Mama ngga mau di panggil nenek!." Seru Mama.
"Terus mau di panggil apa? Masa Kakak?." Tanya Papa Rafka bercanda.
"Inget uban di rambut Diyar." Tegur Mama Abdiel sambil menyentuh rambut teman nya itu.
"Rambut doang yang boleh tua, tapi jiwa harus tetep muda dong." Kata Mama Rafka.
"Terus situ mau nya di panggil apa? Di panggil opah mau ngga?." Kata Papa Abdiel.
"Hahahaha." Tawa orang di ruang santai pecah.
"Ya jangan Opah dong, Gradma aku mau di panggil cucu ku dengan panggilan itu." Kata Mama Rafka.
"Sama aja itu nama nya Diyar, sama-sama arti nya Nenek." Timpal Mami Alfi.
"Halah sama aja, beda nya Grandma itu bahasa Inggris dan Nenek itu bahasa indonesia, Grandma kalo di bahasa Indonesia in juga arti nya Nenek, hahaha." Tawa Papi Alfi pecah karena meledek istri teman nya ini.
Mama Rafka memasang wajah kecut dengan bibir maju 5 centi😂.
"Udah Ma jangan di maju-maju in gitu bibir nya, kaya bebek aja kamu, hahaha." Papa Rafka makin gencar menggoda sang istri.
Di tengah mereka mengobrol suara notifikasi dari ponsel Papa berbunyi.
'Ting!.'
Beliau mengecek nya dan membaca pesan tersebut.
"Siapa Pa?." Tanya sang istri.
"Kaya kita ngga bisa nginep di sini deh Ma hari ini." Kata Papa.
"Kenapa?." Tanya Papi Alfi.
"Si Feri nanti ba'da isya' mau ke rumah kata nya." Jawab Papa.
"Masih aja kantor di bawa ke rumah, ngga kelar-kelar perasaan urusan kantor." Sungut Istri Papa Rafka.
"Bentar lagi juga ngga bakal ngurusin lagi, nanti setelah Rafka lulus kuliah." Papa Rafka menjelas kan.
"Yaaa kalo kamu ngga bisa nginep kita juga ngga bakal nginep Suf, di rumah anak-anak udah ada ART yang siap 24 jam buat bantu." Kata Papa Akifa.
"Lain kali kita bisa nginep." Kata Papi Abhi.
"Ya bener tuh." Celutuk Papa Tika ikut berbicara.
Para istri yang duduk di samping suami nya itu memanyun kan bibir nya.
"Kalian bisa ke sini lagi nanti." Hibur Bunda.
"Tuh denger kan." Timpal Papa Rafka.
"Besok kita ketemu lagi." Kata Bunda lagi.
"Oh iya besok kita ke makam Adib kan?." Tanya Papi Alfi.
"Iya, besok setelah 7 serangkai pulang dari sekolah." Jelas Mama Rafka.
"Kamu kenapa tanya lagi? Padahal kita udah bahas ini tadi." Kata Mami.
"Maklum Mi udah tua bawa an nya lupa mulu." Cuek Papi menjawab.
"Baru beberapa jam udah lupa." Gumam Mami yang masih bisa di dengar oleh semua nya.
"Hahahaha." Mereka menertawa kan dua pasangan tua ini.
"Nanti setelah sholat maghrib kita pulang, kalo ada yang mau tinggal juga ngga papa." Kata Papa Rafka.
"Ok ok." Singkat semua nya menjawab sambil menunjuk kan ibu jari nya.
Di kamar Rafka Zarine.
"Apa lagi Yang yang harus di masukin ke kardus?." Tanya Rafka sambil sedikit berteriak.
Dia sedang ada di ruang ganti saat ini.
"Biar aku yang ke sana." Kata Zarine, dia sudah akan turun dari ranjang dan menyusul Rafka.
"Ngga usah! Kamu duduk aja di sana!." Seru Rafka cepat.
"Huuuhh." Dengus Zarine pelan, tapi dia menurut, dia tidak jadi turun ranjang.
"Kalo aku ngga ke sana gimana bisa tau apa aja yang mau di masukin dalam kardus." Kata Zarine frustasi.
"Kamu ngomong aja apa yang di perlu kan!." Seru Rafka.
"Bawa aja keperluan kamu sama aku yang penting-penting aja, sisa nya bisa di ambil nanti." Sebut Zarine.
__ADS_1
"Ok ok, kamu tunggu aja di atas ranjang, jangan turun awas aja kalo turun." Ancam Rafka.
"Iya iya bawel." Kata Zarine jengkel.
"Bawel juga demi kamu biar ngga kecapek an." Bela Rafka tenang.
Zarine hanya diam tak membalas sambil mencebik kan bibir nya.
Ya begini lah kehebohan mereka yang sedang menata barang ingin pindah kamar di lantai bawah.
Zarine yang ingin membantu tapi Rafka yang tak memeperboleh kan dia turun ranjang.
Alasan nya karena takut sang istri tercinta kelelahan.
Masuk akal juga, tapi Zarine juga lelah jika terus menerus ada di atas ranjang.
Rafka kembali membawa barang-barang penting milik nya dan milik Istri nya.
Dia menata di dalam kardus dengan di bantu Zarine.
"Selesai!, ayo turun dan taruh ini di kamar tamu bawah." Ajak Rafka.
"Kamar di sana gimana? Udah di rapi in?." Tanya Zarine.
"Udah, kita tinggal nempatin aja." Jawab Rafka.
"Ok kalo gitu ayo turun, aku bawa yang mana?." Kata Zarine.
"Ngga usah bawa yang mana-mana, kamu jalan dengan hati-hati dan selamat sampai bawah aja aku dah seneng banget." Sahut Rafka cepat.
"Dih? Ini berat loh Yang, emang kamu mampu?." Tanya Zarine.
"Mampu lah, kamu pikir aku lemah? Ya engga lah." Sombong Rafka.
"Ya udah, aku ngga bantu, bawa sendiri aja." Celutuk Zarine.
Kemudian dia pergi meninggal kan Rafka yang membawa satu kardus di tangan nya.
4 kardus yang di minta oleh nya dari Bi Ijah tadi penuh terisi oleh barang.
Zarine sampai lebih dulu di lantai bawah.
"Loh? Rafka mana Sayang?." Tanya Mama pada menantu nya ini.
Zarine duduk di sebelah Mama dan Bunda, di ruang santai juga ada 4 keluaga junior lain nya.
"Ada di atas Ma, lagi kerepotan bawa barang buat pindah kamar." Jawab Zarine tenang.
"Kok Za ngga bantu in?." Tanya Bunda lembut, dia mengusap pucuk kepala Zarine yang tertutup kerudung.
"Gimana mau bantu in, pas masukin barang ke dalam kardus nya aja Zarine ngga di bolehin ikut bantuin, jangan kan bantu in turun ranjang aja ngga boleh, ya udah aku tinggalib aja sekalian." Curhat Zarine kesal.
"Hahahaha... udah jangan nagmbek gitu ah maksud suami kamu baik tau, dia takut kamu kecapek an." Kata Bunda.
"Zarine kan bukan orang sakit, kalo pekerjaan kaya gitu aja Za masih mampu, bahkan mampu banget." Masih menggerutu tak terima.
"Yang? Tolong buka in pintu kamar nya dong." Pinta Rafka dari tangga yang jalan dengan perlahan agar kardus nya tidak jatuh.
Dasar Rafka rakus, dia tidak mambawa kardus secara satu per satu, tapi langsung dua kardus.
"Iya OTW." Jawab singkat Zarine.
Dia berjalan ke arah depan pintu kamar tamu lalu membuka pintu nya, kunci sudah ada di pintu, jadi Zarine tudak usah susah-susah mencari lagi.
Kamar pun terbuka dan Rafka langsung masuk dan meletak kan semua barang di atas ranjang.
"Aduyyyy pinggang ku." Keluh nya.
Zarine terkekeh menahan tawa.
"Kok di ketawa in si Yang." Sungut Rafka.
"Salah siapa aku bantu ngga di bolehin, aku bukan orang sakit yang semua nya ngga mampu, kalo yang ringan-ringan aku bisa bantu bawa in Yang, jangan bersikao seolah-olah aku orang sakit keras." Tegur Zarine lembut sambil memijat pinggang sang suami.
"Huuuh, aku kan ngga mau kamu capek, kelelahan, atau sejenis nya, selagi aku mampu ya aku bisa ngerjain sendiri." Jelas Rafka, mata nya terpejam merasa kan pijatan sang istri yang sangat nyaman dan mambuat pinggang nya membaik.
"Tapi meski pun kamu mampu, kalo di kerja kan berdua kan labih ringan, contoh nya tangan kanan sama tangan kiri, sekira nya tangan kanan ngga kuat nahan beban, tangan kiri bantu, aku juga mau kaya gitu." Panjang lebar Zarine berucap.
Rafka tiba-tiba bangun dari tidur tengkurap nya lalu memeluk Zarine dan mengecup bibir manis nya pelan.
"Iya deh iya Ibu negara, tapi buat yang satu ini biarin aku yang kerja in kamu tinggal duduk terima beres, aku ngga nerima penolakan!." Tegas Rafka.
'Huuuffffh.' Hela an nafas pasrah terdengar berhembus pelan dari hidung Zarine.
Kemudian dia mengangguk kan kepala meng iya kan.
"Ya udah aku ambil sisa nga dulu di kamar atas, kamu lanjut ngobrol sama lain nya aja sana." Suruh Rafka pada Zarine.
"Iya." Singkat Zarine menjawab.
Rafka keluar kamar, Zarine di dalam kamar merenung menatap punggung sang suami yang menjauh.
"Aku ngga bayangin kalo kamu ngga ada Raf, aku udah terlanjur ketergantungan sama kamu, ketakutan ku makin hari makin besar rasa nya, padahal semua itu tak akan terjadi, aku percaya sama kamu." Zarine bermonolog dengan diri nya sendiri.
Sungguh ketakutan akan hati Rafka yang akan mendua selalu ada di hati Zarine.
Ketakutan yang menurut teman-teman atau orang tua mereka tak ada alasan, sebagaimana mereka tau bagaimana cara Rafka mencintai Zarine, kalo rasa bosan dalam hubungan pasti ada, tapi jika punya cara mengatasi itu, pasti tak akan terjadi perpisahan.
Tapi Zarine tak pernah bercerita pada ke 6 sahabat nya dan para orang tua, dia menyimpan semua nya sendiri di dalam hati nya.
"Apa sih Zarine?! Jan mikir aneh-aneh ah! Ngga baik tau!." Seru Zarine gemas pada diri nya sendiri, dia sampai memukul-mukul dahi nya pelan.
Dia keluar kamar dan duduk di tempat nya tadi.
Adzan maghrib berkumandang, keluarga besar yang sedang berkumpul di ruang santai rumah Rafka Zarine itu masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap sholat maghrib berjamaah di mushollah rumah.
Selesai sholat mereka makan malam bersama.
Sesuai janji tadi sore, Zarine meminta Rafka membuat kan nya telur ceplok.
"Di meja makan ada banyak makanan loh Za." Kata Bunda.
Zarine cemberut dan menatap berbagai hidangan makanan di meja makan.
"Tapi Za ngga tertarik, ngga ada yang bikin nafsu makan Za naik, Za mau makan telur buatan Rafka." Kata Zarine telak.
Bunda dan lain nya menggelang-geleng kan kepala nya pusing.
"Persis banget kaya waktu kamu hamil Zah." Bisik Mama Radka pada Bunda Zarine yang duduk di sebelah nya.
"Haduhhh, aku sendiri heran, kok bisa sama yah, eh jangan cuma aku dong, kamu dulu waktu hamil Rafka juga manja nya bikin istighfar." Sungut Bunda.
"Hahahaha iya kamu bener." Kata Mama Rafka dengan tertawa pecah.
-
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalo garing😢🙏
Maaf typo di mana-mana🙏😢
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran😢.
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.