Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus tigapuluh tiga


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.


******************************


-


-


"Giman kalo kita jalan-jalan sendiri kalian kerja aja?." Tawar Akifa.


"Ngga ada tawar menawar Sayang kuuu... ." Lembut Abdiel menyahut.


"Au ah terserah." Para wanita merajuk, mereka tak menawar lagi, berjalan mendahului para pria sambil menghentak-hentak kan kaki nya jengkel.


"Uhuyyy... ngembek nih yee!." Goda Abdiel.


Dan dengan kompak nya para wnaita menoleh kan wajah nya sambil menatap tajam Abdiel juga lain nya.


"Hehehe... becanda girl's, peace." Abdiel menunjuk kan 2 jari nya membentuk huruf V.


"Lo sih, tau mereka ngambek Lo becanda in, jan nambahin marah nya mereka Diel." Bisik Rafka pelan.


"Ya sorry, Gua kan niat nya becanda Guys." Ucap Abdiel ikut berbisik.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Bercanda kagak tau waktu, dasar Dodol." Umpat Abhi.


"Eh nama Gua Abdiel yeh, bukan Dodol." Sahut Abdiel cepat dengan nada kesal.


"Sama aja." Kata Abho acuh.


"Udah... jan berantem, kagak guna tau ngga!." Putus Rafka yang di angguki Bang Rafa dan Bang Idan.


"Gimana kalo kita ijinin aja mereka nge Mall sendiri." Saran Abdiel.


"Gua nya kagak tenang, takut ada apa-apa, bukan nya kagak mau repot, tapi emang Gua nya ngga tenang." Cetus Bang Idan.


"Gua juga sepikiran sama Bang Idan." Timpal Rafka.


"Gua juga khawatir sebener nya, tapi ngambek nya mereka bikin Gua merinding tau." Kesal Abdiel.


"Udah nanti juga baik sendiri, mereka kan gitu sekarang, cepet marah dan cepet juga baik nya, liat aja, ngga sampe 1 jam mereka bakal nyapa kita balik." Ucap Bang Rafa.


"Yang?!." Seru para wanita memanggil suami masing-masing.


"Tuh denger kan? Ngga sampe 1 jam, hahahaha... ." Tawa Bang Rafa pecah.


"Ada apa Yang?." Sahut mereka para cowok.


"Minta bubur ayam dong... ." Seru mereka kompak.


"Bubur ayam semua? Ngga ada yang lain?." Tanya Rafka.


"Iya itu aja, kita tunggu di rumah yah, babay." Kata Zarine sambil melambai kan tangan nya.


Para wanita pergi pulang, dan hanya tertinggal para pria di sana.


"Gila! Kaya kagak pernah bikin dosa ama kita mereka tuh." Takjub Abdiel sambil menggeleng kan kepala tak percaya.


"Udah ayo beli in, mereka emang gitu kan? Ingat! Wanita ngga pernah salah Man, terima nasib aja dah." Ujar Abhi.


"Hiks! Takdirrrr!!." Teriak Abdiel dengan menangis palsu.


"Jangan ngeluh, ngga baik!." Peringat Rafka.


"Iya dah iya, kuy berangkat." Ajak Abdiel.


Atas permintaan para istri, mereka para suami membeli bubur ayam dengan berjalan kaki, untung jarak antara lapangan sepak bola dan tempat jualan bubur tak jauh, jadi mereka tak terlalu lelah berjalan.


Jam berputar ke arah kiri dengan semesti nya, di sana arah jarum pendek sudah menunjuk angka 8 pagi.


5 keluarga junior bersiap-siap untuk berkunjung ke kantor masing-masing.


Di kediaman Rafka Zarine.


Suasana tampak terbalik di sini, yang biasa nya Zarine bagian menyiap kan segala keperluan Rafka, kini terbalik, Rafka lah yang menyiap kan segela keperluan Zarine.


Dia juga sampai membantu Zarine memakai gamis nya dan memasang kaos kaki juga memakai kan sepatu.


Zarine diam dan tak bergerak, hanya memandangi wajah tampan Rafka yang merlayani nya sambil terkekeh lucu.


"Kenaoa ketawa?." Tanya Rafka.


"Posisi kita ketuker tau." Kata Zarine.


"Ketuker gimana?." Rafka tidak mengerti maksud sang istri.


"Iya ketuker, yang biasa nya aku yang melayani kamu, eh ini malah aku yang di layani kamu." Jelas Zarine.


"Hahahaha... iya aku baru sadar loh, sekali kali aku yang layani kamu, ngga melulu aku terus." Jawab Rafka.


"Maaf yah, ngerepotin." Ucap tulus Zarine.


"Apa sih Yang, kamu kaya sama siapa aja, kita kan suami istri ngga papa dong kalo saling melayani gini." Imbuh Rafka, dia mengelus pucuk kepala Zarine yang terbalut hijab itu.


Rafka yang selesai memakai kan sepatu di kaki Zarine, dia berdiri dari jongkok nya dan hendak mengambil tas Zarine, belum sempat dia berjalan, Zarine menarik nya dan memeluk pinggang Rafka erat.


"Eh? Ada apa nih?." Tanya heran Rafka sambil membalas pelukan sang istri tercinta nya.


"Terima kasih." Ucapan pertama yang keluar dari bibir mungil Zarine di dekapan Rafka.


"Buat apa?." Tanya Rafka lembut.


"Semua nya, terima kasih udah mau aku repotin, untuk semu nya deh." Ucap Zarine tulus.


"Hahaha... aku bosen tau denger kamu bilang terima kasih mulu, jujur yah, yang aku pengen dari kamu tuh cuma setia dan percaya sama aku, itu udah lebih dari cukup buat aku Yang." Kata Rafka dengan tawa khas nya.


"In syaa allah Raf, untuk 2 hal itu tanpa kamu minta aku akan lakukan." Ujar Zarine tegas.


"Udah, jangan melow-melow gini, ayo kita berangkat ke kantor." Ajak Rafka.


"Yang? Kalo ngga berangkat boleh ngga?." Tanya Zarine lirih.


"Aku hampir ngga pernah ke kantor Yang, ini kita mumpung lagi lenggang, maka nya aku ajakin kamu, nanti aku beli in pizza buat kamu makan di kantor deh." Rayu Rafka pada sang istri.


Dan benar saja, terlihat oleh mata Rafka, Zarine menatap nya dengan binar mata yang sangat kental dan di iringi angguk kan antuasias nya.


'Hihi... istri aku lucu banget sih, jadi pengen peluk terus.' Begitu lah batin Rafka dengan terkikik geli.


Mereka berangkat ke kantor Fathan Grup, kantor Papa Rafka yang sekarang sudah jatuh ke tangan Rafka.


"Yang?." Panggil Zarine.


"Hm?." Sahut Rafka hanya berdehem dengan mata fokus pada jalanan hanya sesekali saja Rafka menoleh ke Zarine dan itu pun hanya beberapa detik.


"Jujur nih yah, aku sebener nya masih agak trauma tau kalo jalan berdua sama kamu naik mobil." Ubgkap Zarine.


"Karena kejadian kecelekaan itu yah?." Tanya Rafka.


"He em, serem tau, aku kalo inget itu ngga bisa tidur, setiap pejamin mata selalu ada bayangan itu." Jelas Zarine dengan pundak bergidik.


"Itu kan masa lalu Yang, kamu harus berusaha lupain." Terang Rafka.


"Aku udah lupa kok tenang aja, semenjak Sari udah mau minta maaf dan baikan sama kita, aku udah lupain hal itu, walau ngga total." Kata Zarine.


"Aku waktu itu udah punya rencana mau hancurin dia tau Yang." Jujur Rafka dengan ekspresi muka flat bak triplek.


"Terus?." Tuntut Zarine dengan wajah kepo nya.


"Ngga jadi, Bunda sama Ayah bilang 'Ngga usah, ngga ada guna nya kita nyimpan dendam' gitu." Papar Rafka dengan meniru kan gelagat Ayah berbicara.

__ADS_1


"Untung aja ngga jadi, kalo beneran jadi, aku bakal amrah besar sama kamu." Ucap Zarine serius.


"Hm... untung aku nurutin kata Almarhum Ayah." Ujar Rafka.


Mengingat masa lalu... Zarine jadi ingat dengan Reza yang membantu Sari dalam melancar kan aksi jahat nya kepada nya dan sang suami.


"Hayo... lagi mikirin apa?." Kejut Rafka membuyar kan lamuna Zarine.


"Jangan kebiasaan ngelamun Yang, ngga baik tau." Peringat Rafka lembut.


Mobil berhenti karena lampu merah.


"Kamu mikirin apa?." Tanya Rafka lagi.


"Em... kabar... Kak Reza... gimana?." Tanya Zarine takut-takut.


Rafka belum menjawab dan memfokus kan pandangan pada jalanan.


Lalu... .


"Dia di temu kan tewas di sel karena di pukuli sesama tahanan." Jawaban Rafka sukses membuat Zarine terkejut dan menutup mulut nya yang menganga.


"Te... terus gimana?." Tanya Zarine mash penasaran.


"Yah ngga gimana-gimana, dia di kembali kan ke keluarga nya di Surabaya." Imbuh Rafka.


"Ydah berapa bulan kejadian itu?." Tanya Zarine lirih.


"Akhir tahun kemarin." Jawab cepat Rafka.


"Kamu sama lain nya tau?." Tanya Zarine.


"Para orang tua perempuan ngga tau, kamu, Alfi, Akifa, Tika, Kak Rain ngga tau." Jujur Rafka.


Zarine tertunduk sedih, tak sampai menangis, hanya sedih saja.


"Kita doa kan saja dia di sana tenang di sisi Allah, masalah kamu kenapa baru tau sekarang, itu karena aku ngga mau kamu merasa bersalah, dia di hukum karena kesalahan nya sendiri." Datar Rafka berbicara.


"Iya aku paham." Singkat Zarine menjawab.


Suasana mobil mendadak hening tanpa suara.


"Ayo turun." Ajak Rafka dengan suara kembali normal.


"Udah sampe?." Tanya Zarine dengan polos nya.


"Liat tuh." Tunjuk Rafka pada gedung yang tinggi di depan nya.


"Ok, kuy turun." Zarine juga kembali ceria seperti sebelum nya.


Rafka meminta tolonh untuk satpam memarkir kan mobil nya ke temap nya.


Saat memasuki lobby, semua karyawan terperangah melihat Rafka Zarine.


Buru-buru para karyawan berdiri di dekat meja nya masing-masing, menunduk kan kepala memberi hormat pada Rafka sambil mengucap kan "Selamat pagi dan selamat datang Tuan dan Nona" Rafka Zarine hanya menjawab dengan angguk kan.


"Lanjut kan pekerjaan kalian." Ucap Rafka dingin.


Para karyawan tau bahwa Rafka adalah pemimpin baru mereka, walau tak semua nya sih yang tau.


"Itu... bukan nya anak nya Pak Yusuf Presdir kita yang baru yah?." Tanya Para karyawan pelan tapi masih bisa di dengar Rafka Zarine.


"Iya itu beliau." Jawab teman di sebelah nya.


"Itu yang pake gamis ungu muda siapa? Pacar nya kah?." Tanya karyawan lain nya.


"Presdir kita yang baru ini nikah muda karena perjodohan, kalo ngga salah sama anak nya Almarhum Pak Adib, itu pasti istri nya." Detail teman nya menjelas kan.


"Mereka serasi banget yah." Puji salah satu dari mereka.


"Kembali bekerja jangan ghibah!." Tegas Rafka berucap membubgkam bibir para karyawan nya.


Kontan saja mereka kicep dan tak lagi bersuara.


Saat Rafka Zarine masuk lift mereka kembali membicarakan 2 sejoli itu.


"Ish! Galak nya minta ampun, melebihi Pak Yusuf, hiii." Para Karyawan bergidik ngeri.


"Itu bukan galak, tapi tegas, kalian emang ghibah nya ngga bisa di kontrol." Salah satu dari mereka yang tadi hanya diam saja menyahut ikut bicara.


"Huuuu... ." Sorak lain nya keras.


"Eh? Ngomong-ngomong, bukan nya Presdir kita ini masih sekolah yah? Dan... tumben banget beliau ke sini? Kemarin-kemarin ngga pernah tuh." Jiwa kepo meningkat.


"Beliau emang masih sekolah, tapi udah mau lulus SMA, mungkin dia kemari karena ada kerjaan penting, atau pengen tau kinerja kita gimana." Jawaban teman si karyawan kepo.


"Bisa jadi sih." Si kepo membenar kan.


"Kembali bekerja, berhenti bergosip!." Seru seseorang dari pintu lobby, itu suara asisten Papa Rafka yang berarti asisten Rafka juga.


Para karyawan membubar kan diri dengan langkah tergopoh.


Asisten Rafka hanya menggeleng kan kepala jengkel dengan sifat para perempuan yang hobi nge ghibah tapi tau tau waktu dan tempat.


Rafka memang sengaja tak mau ada penyambutan ke datangan nya, karena menurut Rafka itu lebay.


Kita ke ruangan tempat Rafka Zarine sekarang.


"Yang? Pizza yang mana?." Tagih Zarine.


"Bentar." Kata Rafka. Dia merogoh saku celana nya dan meraih ponsel nya.


"Kanapa kita ngga beli aja tadi sekalian?." Tanya Zarine.


"Jarak nya agak jauh dari arah kantor Yang, kita pesan lewat online aja." Jawab Rafka yang di angguki Zarine.


Tiba-tiba... .


'Tok... tok... tok... .' Pintu ruangan di ketuk oleh seseorang.


"Masuk." Jawab Rafka sedikit berteriak.


Pintu terbuka, menampak kan sesosok lelaki yang usia nya di 7 tahun dia atas Rafka, pria itu mendekat ke arah meja Rafka.


"Maaf Tuan tak menyambut dengan layak, dan maaf kan saya karena tak menyambut anda." Ucap Asisten Rafka dengan rasa bersalah.


"Tak apa, Asisten Rangga dari mana?." Tanya Rafka sopan.


"Saya baru selesai mengurus proyek yang sedang kita bangun Tuan." Jawab Asisten Rangga.


Rafka tak tau siapa nama panjang beliau, yang dia tau Papa nya selalu memanggil nya dengan sebutan 'Asisten Rangga'.


Beliau ini juga merangkap menjadi sekretaris, Papa Rafka tak mencari sekretaris karena bagi nya Asisten Rangga saja sudah cukup.


"Ouh iya bagaimana kabar nya dengan proyek itu?." Tanya Rafka.


"Alhamdulillah lancar tuan, walau masih ada saja tikus-tikus kecil yang mencoba menggagal kan proyek kita ini." Jawab Asisten Rangga.


"Asisten Rangga, bisa tolong ambil kan pesanan saya di lobby? Seperti nya kurir sudab ada di sana." Pinta Rafka dengan nada sesopan mungkin.


"Baik Tuan." Cepat Asisten Rangga berucap, dan dengan cekatan dia keluar ruangan dan melaksanakan perintah Rafka.


"Tuh Asisten kamu orang nya cuek gitu yah? Masa aku di sini dia ngga liat sih? Ngga nyapa pula, sombong amat." Kesal Zarine.


"Bukan sombong, emang aku nyuruh nya gitu, dia tuh masih muda, usia nya cuma beda 7 tahun sama kita, bisa aja kan kalo kamu kepincut sama dia." Pikiran ngawur Rafka lagi On.


"Idih?! Ada-ada aja sih kamu, kalo ngga di sapa aku kaya kambing conge tau dengerin kalian ngomong, berasa ngga di anggep." Kata Zarine.


"Hahahaha... udah terima aja, bagus kaya gitu aku seneng." Ujar Rafka sambil tertawa.


"Au ah terserah." Jengkel Zarine berucap.


Tak bersalang lama Asisten Rangga datang san membawa satu box sedang pizza.


Kali ini pintu Rafka sendiri yang membuka nya, Asisten Rangga tak ia ijin kan masuk dan menyuruh Aisten Rangga untuk membawa dokumen yang butuh di bubuhi tanda tangan nya.


"Nih pizza nya makan dah sepuas nya." Kata Rafka.


"Soda nya mana?." Tanya Zarine polos.


"Ngga ada soda-soda an, kamu lagi hamil, ngga baik minum gitu an." Sergah Rafka cepat.


Zarine mengerucut kan bibir nya pertanda kesal.


"Jangan manyun gitu Yang... kode buat cium kah?." Goda Rafka dan spontan Zarine menutup bibir nya dengan kedua tangan nya.


Rafka malah tertawa terbahak melihat tingkah iatri nya ini.


Setelah lelah bercanda, Rafka Zarine pun sibuk dengan kegiatan nya masing-masing.

__ADS_1


Zarine sibuk dengan kotak pizza nya dan selfi-selfi ria ke sana kemari.


Rafka sama sekali tak tergangu dengan tingkah sang istri yang berjalan-jalan di ruangan nya tak bisa diam, menurut Rafka tingkah Zarine sangat menggemas kan, hahahaha... cinta memang gitu, Zarine bernafas aja udah bikin Rafka gemes liat nya.


"Yang?." Panggil Zarine berbisik di telinga Rafka.


"Hm? Ada apa?." Sahut Rafka cepat walau mata nya tak menengok ke arah Zarine.


"Aku duduk di tempat kamu dong, pengen tau rasa nya muter-muter kaya di tv-tv itu." Dengan polos nya Zarine meminta.


Rafka tertawa pelan sambil mencubit hidung Zarine yang tak terlalu mancung itu.


"Terus aku duduk dimana kalo kamu di sini?." Tanya Rafka ingin tau.


"Di sofa bisa kan? Ouh atau di kursi depan kamu aja." Tunjuk Zarine dengan dagu nya.


"Hahaha... ok ok nih duduk di sini." Rafka mengalah, dia memilih duduk di sofa yang tadi di duduki Zarine.


Kotak pizza telah Zarine bersih kan, jadi sofa tampak tak ada noda sama sekali, bersih tak ada sisa-sisa pizza.


Terlihat oleh mata Rafka Zarine tampak bahagia bermain sendiri bak anak kecil di kursi kebesaran Rafka.


Membuat Rafka terkekeh pelan dengan gelengan kepala menyertai.


Waktu sudah menunjuk angka 10.30 siang, pekerjaan Rafka telah rampung, dan kini dia tengah meregangkan otot-otot nya yang kaku karena lama duduk.


"Uh... punggung kuuu... udah jam segini, pulang dah, makan siang di rumah aja." Monolog Rafka.


Saat menoleh pada kursi yang di duduki Zarine, Rafka membelalak kan mata nya dengan tertawa kecil.


"Capek main kaya nya, makanya sampe ketiduran gitu." Ujar Rafka pada diri sendiri.


Dia berdiri dan menghampiri Zarine berniat membangun kan nya.


"Jangan ambil!! Itu punya ku tau." Kata Zarine.


"Eh?! Kamu ngigau apa an sih Yang?." Heran Rafka di iringi kekehan nya.


"Perasaan aku dari tadi ketawa terus dah, aduh gimana ngga ketawa kalo kiat tingkah istri gemesin gini." Ucap Rafka sambil mencubit pipi cabby Zarine lembut.


Karena tak tega membangun kan sang istri yang sedang terlelap nyenyak, Rafka berinisiatif menggendong nya.


Mula-mula dia menghubungi Asisten Rangga untuk membawa mobil nya ke depan pintu masuk kantor, setelah itu dia menggendong Zarine dan membawa nya turun ke lantai dasar.


Para Karyawan yang melihat Rafka menggendong Zarine, mereka baper.


"So sweet banget!." Pekik mereka berbisik.


"Uh... aku juga pengen dong!." Timpal satu nya.


"Aku iri!!." Sahuta sebelah nya.


Di tengah pujian pasti ada yang nama nya iri, dengki, dan sebagai nya.


"Manja bat jadi cewek."


"Cepek main kali jadi teler gitu."


Dan masih banyak lain nya. Telinga Rafka yang panas segera menggertak para karyawan dengan pandangan tajam nya.


Mereka yang mecibir berhenti berbicara.


'Ngga ada kerjaan apa mereka nge hujat mulu! Apa kalian di sini di gaji buat nge ghibahin orang?! Awas aja kalian semua, bakal aku rekap ulang peraturan di dalam kantor.' Ancam Rafka dalam hati.


Setelah sampai mobil, Rafka menidur kan Zarine di kursi sebelah kemudi dengan memposisi kan sandaran kursi agak kebawah.


Asisten Rangga stay di sebelah mobil.


"Asisten Rangg? Semua dokumen sudah saya tamda tangani, untuk masalah kerja sama dengan perusahaan xxx kita bahas setelah saya ujian praktik saja, bisa kan?." Kata Rafka.


"Sesuai permintaan Tuan Rafka, semoga ujian anada dan Nona Zarine lancar." Doa nya.


"Aamiin, ya sudah saya permisi dulu, assallammu'allaikum terima kasih untuk hari ini Asisten Rangga." Ucap Rafka sopan.


"Tak perlu sungkan Tuan, sudah kewajiban saya mambantu anda, wa'allaikum sallam." Balas sang asisten dengan menunduk kan kepala memberi hormat.


Rafka masuk mobil dan melaju kan nya dnegan sangat hati-hati agar tak mengganggu tidur Zarine.


Sampai di depan rumah, Rafka melihat di kaca spion tengah dalam mobil ada mobil Abdiel, Abhi, dan Bang Idan.


Sedang kan mobil Bang Rafa terparkir cantik di halaman, dia masuk ke rumah nya dengan menggendong Raina di dekapan nya.


Abhi, Abdiel, dan Bang Idan pun sama, mereka membawa istri mereka ke dalam gendongan.


"Apa mereka udah buat janji buat tidur gini?." Tanya Rafka heran.


"Aduhh ngaco bat ah Gua." Seru nya, dan dia segera membawa Zarine menuju kamar untuk membuat Zarine lebih nyaman.


Kita beralih ke kota Lumajang, ada 2 sejoli sedang di rundung rasa bahagia hari ini.


Mereka sedang duduk di jembatan sungai di temani oleh 2 jomblo ngenes di sana sedang selfi-selfi ngga jelas.


"Ngga kerasa yah, kita bakal nikah, bukan ngga kerasa, maksud aku ngga nyangka." Ralat sang perempuan.


"Lo bener, Gua juga ngga nyangka bisa nikah sama Lo, Gua ngira nya bakal mustahil, tapi... Allah maha baik, Dia kabulin doa Gua yang tiap malem isi nya cuma Lu doang." Balas sang pria.


"Mungkin aja Allah kasian liat Lu mohon-mohon." Ledek perempuan.


"Hahaha... mungkin sih, atau Allah dah bosen sama curhatan Gua, entah lah apa aja terserah, inti nya Gua bahagai banget!." Seru pria nya dengan reflek memeluk wanita yang akan menjadi istri nya besok.


"Ouy?! Kalian berdua lepas dulu peluk kan nya belum mahram euy!!." Seru 2 jomblo ngenes yang melihat sepasang calon suami istri ini peluk kan.


"Iri? Bilang Bosss!!." Seru sang pria meledek.


"Anjim Lo Dra!." Umpat Andi jengkel.


"Ta?! Batalin aja dah acara nikahan nya!!." Teriak Panji memprovokasi.


"Ngga usah ikut-ikut Lo kutil Unta!." Rendra ikut bersuara.


Yah... yang sedang ada du sungai ini adalah Rendra, Shita, Andi, dan Panji.


Mereka sedang membicara kan tentang pernikahan Rendra Shita besok.


#Mungkin Episode Besok Banyak Mambahas Rendra Shita#.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung dulu ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2