Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seventy-nine


__ADS_3

"Ma?, Pa?, Sari mau ikut mobil nya Roy aja ya." Pinta Sari.


"Iya udah sana, Roy? Baliknya jangan sore-sore." Peringat Papa tegas.


"Siiap 86 Komandan." Ucap Roy sambil hormat dan berdiri tegak bak prajurit negara.


"Mama Papa pulang dulu, assallammu'allaikum." Salam Papa Mama bersamaan.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Roy dan Sari kompak.


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


...P A R T...


...I N I...


...B E R C E R I T A...


...T E N T A N G...


...S A R I & R O Y . . ....


-


-


Mobil Mama Papa Sari meninggalkan rumah sakit.


"Ayo kita main." Ajak Roy.


"Ayo!." Seru Sari antusias dan penuh semangat.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan meluncur meninggalkan rumah sakit juga.


'Good bye rumah sakit, aku tak akan pernah mau kembali ke sini dan tak kan pernah mengulangi kesalahan yang sama.' Batin Sari berucap sambil melihat ke arah bangunan megah nan mewah itu.


"Jadi kan ini pelajaran agar tak terulang di masa depan khusunya anak keturunan kita nanti." Kata Roy dengan pandangan lurus ke jalan dan sesekali melirik Sari.


Sari mengangguk meng iya kan ucapan Roy sambil tersenyum.


"Kita mau kemana?." Tanya Sari pada Roy.


"Gimana kalo kita ke taman?, kita jajan di sana, main di sana sampai puas, setuju?." Roy meminta pendapat Sari.


"Setuju!." Jawab Sari sambil mengangguk antuasias.


'Hehehe, calon istri Gua kaya anak kecil aja deh, gemes liat nya, boleh karungin terus bawa pulang ngga sih?.' Batin Roy sambil tertawa kecil memikirkan isi otak nya.


"Besok kita ketemuan dan minta maaf sama 6 serangkai." Kata Roy memberi tau.


"Iya aku juga pengen masalah ini cepet selesai." Jawab Sari.


"Ouh iya, beberapa minggu yang lalu, Tika nikah sama Abang nya Rafka." Info Roy pada Sari.


"Tik... Tika nikah?!." Seru Sari terkejut.


"Iya." Jawab Roy mengangguk kan kepala.


"Kok Mama Papa ngga ada cerita sama aku?, kamu juga kenapa baru cerita sekarang?." Tanya Sari bersungut-sungut.


"Tika nikah nya ngga secara megah dan mewah, kamu tau sendiri status Tika masih pelajar, dia nikah secara sederhana, resepsinya nyusul." Jelas Roy.


"Kenapa dia ngga ngasih tau aku?." Kata Sari sedih.


"Mungkin dia lupa, mereka kan juga lagi ujian jedi maklum kalo banyak pikiran." Kata Roy.


"Besok aku mau ketemu sama Tika juga, aku mau penjelasan." Kata Sari menggebu-gebu.


Roy mengangguk kan kepala meng iya kan ucapan Sari.


Mereka kemudian sampai di taman kota


Roy memarkir kan mobilnya di tempat parkir agak jauh dari taman.


Lalu mereka berjalan ke arah taman.


Tiba-tiba cuaca berubah mendung dan gerimis.


"Wah bentar lagi hujan." Seru Sari sumringah.


"Ayo kita pulang." Ajak Roy sambil menyeret tangan Sari lembut.


"Tapi aku ngga mau pulang." Sari menghentikan langkahnya dan Roy pun otomatis ikut terhenti.


"Ayo pulang, nanti ba'da isya' kita pergi ke pasar malem sesuai permintaan kamu tadi." Roy membujuk Sari.


"Aku juga mau main hujan." Tunjuk Sari pada rintik air yang turun dari langit.


Roy melihat rintik hujan dan memepertimbang kan permintaan Sari.


'Kalo Gua turutin bisa habis di telan Papa mentah-mentah nih Gua, tapi... .' Batin Roy bingung.


Dia menatap wajah Sari yang sedang menunjuk kan puppy eyes nya.


'Duh... ngga nahan lucu nya, kuat kan iman ku ya Allah.' Roy berkomat kamit dalam hati.


'Huuffffh.' Helaan nafas pasrah terdengar.


"Iya deh boleh." Roy mengijin kan Sari bermain hujan.


"Yeayyy!!." Seru Sari sangat senang.


Hujan juga sudah lumayan deras jadi Sari langsung bermain di sekitar area taman kota.


"Jangan ke jalan main nya yaa!." Nasihat Roy sedikit berteriak karena jarak nya dan Sari sedikit jauh.


Sari hanya mengangguk kan kepala.


"Biarin deh kalo mau di cekik sekali pun, kagak tega Gua liat di memelas kaya tadi." Gumam Roy sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


Roy juga hujan-hujanan tapi tidak se aktif Sari.


Dia hanya duduk di pinggir taman sambil mengawasi Sari.


Sesekali dia tertawa terbahak melihat tingkah konyol Sari.


'Berasa lagi momong balita Gua, hahaha.' Roy tersenyum dengan isi hati nya sendiri.


Setelah beberapa bulan ada di rumah sakit dan juga menyadari semua hal yang sudah dia lakukan pada Rafka Zarine itu salah, dia kembali pada sifat aslinya.


Manja dan kekanak kan, ini lah sifat Sari yang sesengguhnya dan hanya di tunjuk kan pada orang yang dia kenal dengan akrab, hanya Tika, Mama Papa nya, dan Roy yang tau.


Soal dia yang dulu pernah berpacaran dengan seorang cowok, itu benar dan Sari tak pernah bersikap manja pada cowok nya karena dia tak menyukai cewek manja.


Padahal manja nya Sari tergolong hal wajar, tidak berlebihan, pernah sekali Sari bersikap manja al hasil sang cowok menampar pipi Sari dan mendiami nya selama 1 minggu.


"Roy?!, ayo ikut main!!." Ajak Sari berteriak.


"Ini udah main Sar." Balas Roy.


'Gua udah basah kuyup juga, mau di ajak main yang kaya gimana lagi?.' Bingung Roy.


Sari belari ke arah Roy, setelah sampai di hadapan cowok tegap itu Sari menggenggam tangan Roy dan menyeretnya lembut.


Dia menggiring Roy untuk ke tengah taman itu.


Hujan yang deras, dan suasana yang hanya ada dia dan Roy membuat Sari senang serta merasa bebas.


"Huhhh!!!." Sorak Sari bahagia.


"Kamu kaya ngga pernah main hujan aja." Ledek Roy dengan mengusap rambut Sari yang basah.


"Aku emang jarang di bolehin main hujan, kata Mama 'jangan main hujan nanti sakit' ya makanya aku sekarang seneng banget bisa main." Jelas Sari sambil menirukan gaya bicara Mama nya.


"Bener kata Mama Sari, kalo main hujan bisa sakit." Roy se pendapat dengan kata Mama Sari.


"Huuu... ya tapi kan aku juga butuh main biar ngga jenuh dalam rumah pas hujan." Alasan Sari.


"Umur kamu berapa sih kok seneng banget main hujan?." Tanya Roy meledek.


"Emang main hujan harus anak kecil?, udah ah aku ngga mau debat yang ujung-ujung nya aku ngga bakal menang dari kamu." Putus Sari.


"Hehehe." Roy hanya terkekeh menanggapi Sari.


Mereka berlari, melompat, dan saling menyiram air hujan.


Sari dan Roy bak anak kecil yang tak pernah melihat hujan.


Di dalam mobil agak jauh dari taman, 2 orang paruh baya menatap 2 sejoli yang bermain di tengah taman itu sambil menggelangkan kepala nya pelan.

__ADS_1


Sudah sejak tadi mereka ada di sana menyaksikan adegan Sari dan Roy.


"Awas aja si Roy, biar Papa telen dia hidup-hidup." Ancam Papa Sari.


"Hahaha, Mama yakin itu yang ngajakin si Sari, Papa tau sendiri kan Sari gimana kalo liat hujan?, bawa annya pengen main." Kata Mama.


Mama Papa Sari sengaja mengikuti mobil Roy, sedari keluar dari RS tadi.


"Roy udah ngakuin perasaan nya ke Sari sama Papa tadi di parkiran Ma." Beri tahu Papa.


"Papa ngerestuin?." Tanya Mama dengan memandang Roy dan Sari.


"Iya, Papa yakin Roy ngga akan nyakitin Sari, in syaa allah." Ucap Papa.


"Mama juga ngerestuin kalo Sari sama Roy, mereka juga cocok pake banget." Kata Mama.


"Kita harus bersiap buat nikahan si Sari nih Ma." Celutuk Papa.


"Harus dan wajib mewah dan megah, Sari anak semata wayang kita soal nya." Jelas Mama.


"Kita bicara in kalo Roy ngelamar Sari aja, Roy masih belum tau perasaan Sari kan." Kata Papa.


"Iya ya Pa, gimana ya perasaan anak kita sama Roy?." Tanya Mama.


"Kalo di lihat dari cara pandang Sari ke Roy sih, kaya nya Sari juga mencintai Roy, tapi yaaa tau sendiri lah anak kita gimana sifat nya, pinter banget nyembunyi in perasaan nya." Kata Papa.


"Iya, sama kamu dulu." Celutuk Mama dengan senyum menyeringai.


"Ya kan itu masa lalu Ma, udah ah jangan bahas." Jawab Papa cepat kemudian mengalihkan pembicaraan.


"Hahaha." Tawa Mama pecah melihat suami nya salah tingkah.


"Kita pulang aja deh, mereka lagi asik di sini biarin aja sampai puas." Ajak Papa.


"Ayo." Balas Mama.


Mobil mereka pergi meninggalkan taman kota.


Di taman.


Roy berhenti melompat dan memilih duduk.


"Kita pulang aja yuk." Ajak Roy.


"Engga! Aku ngga mau." Tolak Sari keras.


"Nanti kamu bisa sakit kalo main hujan terus, udah ayo pulang." Tegas Roy sambil berdiri dan menyeret Sari lembut.


Sari tak bergeming dari posisi berdirinya.


'Huuhhh.' Helaan nafas terdengar dari mulut Roy.


Lalu... .


"Kyaaaa!!! Roy turunin! Aku ngga mau pulang." Seru Sari sambil berontak di gendongan Roy.


"Diam atau aku jatohin." Ancam Roy.


Sari yang takut langsung diam tak bergerak lagi.


Dia memeluk leher Roy erat-erat.


"Nah kalo nurut gini kan enak, cepet juga masalah nya." Celutuk Roy.


"Aku masih pengen main hujan." Rengek an Sari mulai terdengar.


"Ini udah hampir sore, kita udah lama banget main nya, kalo aku yang sakit sih ngga masalah, kalo kamu yang sakit?, kan aku juga yang sedih." Panjang Roy menjelaskan.


"Sama aja, kalo kamu sakit aku juga sedih." Sahut Sari cepat.


"Masa sih?." Kata Roy.


"Iya lah, entar kalo kamu sakit siapa yang ngajakin aku jalan-jalan lagi?." Jawab Sari sambil menaik turun kan alisnya.


"Huuu...aku kira kamu sedih beneran kalo aku sakit." Kata Roy.


"Hahaha." Tawa Sari pecah.


Mereka sampai di tempat parkir.


Roy meminta Sari membuka pintu mobil lalu menduduk kan Sari di kursi samping kemudi.


Sang empu mobil memutari mobil kemudian ikut masuk duduk du kursi kemudi.


"Kita langsung pulang?." Tanya Sari cemberut.


"Jangan pulang, aku masih mau jajan di sini." Bujuk Sari.


"Ini udah jam 2 siang, bentar lagi asyar, kalo kita pulang ke sore an bisa-bisa di telen Papa hidup-hidup kita." Kata Roy.


"Uhhhh, tapi aku mau jajan." Keukeuh Sari meminta.


'Khemmmmmm... huuufffhhhhh.' Roy menarik nafas dan mengehembuskan nya secara perlahan mengusir rasa lelah.


"Ya udah kamu tunggu sini, mau aku beli in apa?." Roy mengalah dan memilih mengalah.


"Aku mau batagor, siomay, cilok, sama... jus semangka." Sebut Sari dengan pandangan mata berbinar terang.


"Ok, tunggu sini, jangan keluar." Peringat Roy yang di balas anggukan kepala oleh Sari.


Roy pergi membeli pesanan Sari.


Sari menunggu di mobil sambil memperhatikan Roy.


"Beberapa bulan sama kamu, aku jatuh cinta bahkan sudah mencintai kamu Roy, aku mencintai kamu Roy." Gumam Sari pelan.


Kemudian dia tertawa sendiri mengingat semua kenangan diri nya bersama Roy di RS.


"Tapi kaya nya cuma aku yang mencintai, Roy ngga akan mungkin suka sama orang yang pernah masuk rumah sakit kejiawaan, kenapa dia harus suka sama orang gila?, sedangkan di luar sana banyak orang sempurna." Sambung Sari lagi.


Dia insecure, dia menunduk memikirkan perkataan nya barusan.


'Kaya nya emang ngga akan ada cowok yang bakal nikahin aku, aku harus sadar diri.' Pikir Sari sambil tersenyum getir.


10 menit kemudian, Roy kembali membawa pesanan Sari.


"Nih pesanan kamu, yakin mau habisin semua?." Tanya Roy.


"Yakin." Jawab singkat Sari tanpa memandang ke arah Roy.


Roy terheran melihat perubahan sikap Sari.


'Apa dia udah nunggu terlalu lama maka nya dia ngambek?, tapi bukan itu deh penyebabnya.' Batin Roy bertanya-tanya.


"Makasih Roy." Ucap Sari sambil tersenyum menatap Roy.


"Sama-sama." Jawab Roy dengan mengacak rambut Sari yang sedikit basah.


Roy masih belum menjalan kan mobil nya, dia memandang Sari secara intens tanpa berkedip.


Sari yang merasa di lihat, dia menolah dan bertanya.


"Kenapa?, kamu mau?, nih ambil." Sari memberikan bungkusan batagor di tangan nya.


Roy menerima nya dan memakan nya.


"Ayo pulang, kata nya keburu sore." Ajak Sari sambil fokus ke jus semangkanya.


"Kamu kenapa?, apa aku buat salah?." Tanya Roy hati-hati, dia tak menanggapi ajakan pulang Sari.


"... ." Sari diam tak menjawab.


2 menit menunggu dan suasana mobil mendadak hening.


"Sari?." Panggil Roy.


"Hmm?." Sari terkejut lalu berdehem menjawab pertanyaan Roy.


"Kamu kenapa sih?." Tanya Roy sekali lagi.


"Roy aku tanya sama kamu, akan kan suatu saat ada seseorang yang mau bersama ku?." Tanya Sari menatap Roy intens.


"Ya jelas ada lah Sari, emang kenapa sih kamu tanya nya gitu?." Roy balik bertanya sambil mengapit kedua pipi Sari gemas.


Dia menoel-noel pipi Sari dengan lembut dan pelan.


Kemudian dia melepas tangan nya dan tersenyum ke arah Sari.


"Jadi dari tadi kamu mikir itu? Kamu berpikir tidak akan ada orang yang mau nikah sama kamu karena pernah masuk rumah sakit kejiwaan, iya kan?." Tebak Roy tepat sasaran.


'Hiks... hiks... .' Suara tangisan mulai terdengar.


Roy memeluk Sari erat menenggelam kan kepala nya dalam pelukan hangat Roy.


AC di mobil dia matikan sedari mereka masuk saat basah kutup tadi agar tak masuk angin.


Sari menangis cukup lama di pelukan Roy.

__ADS_1


'Kalo tidak ada pria yang mau menikahi kamu masih ada aku di sini yang akan menikahi kamu, bukan karena harta atau apa pun itu aku menikahimu karena memang aku benar-benar mencintaimu dan tak kan pernah ku tinggal atau ku lepas kan kamu selamanya, hanya Allah yang dapat memisahkan kita.' Batin Roy berucap.


Dia ikut menitihkan air mata mendengar suara tangisan Sari yang benar-benar sedih dan putus asa.


Pukul 14.35 Sari baru selesai menangis dan melepas pelukan Roy.


"Aku mau pulang." Pinta nya pada Roy.


"Sebelum pulang, dengar kan aku dulu." Kata Roy.


Dia memegang kedua pundak Sari dan mengangkat dagu Sari yang tertunduk untuk menatap tepat ke arah matanya.


Sebelum bicara, Roy menghapus jejak air mata di kedua pipi Sari dengan ibu jarinya.


"Kamu harus percaya dengan takdir Allah, kita para manusia di ciptakan secara berpasang-pasangan, kalo tiba waktu nya nanti kamu juga bakal dapat jodoh kok, jadi jangan nangis, untuk masalah kamu yang pernah masuk rumah sakit, itu hanya untuk terapi agar kamu tidak mudah marah, kamu konsultasi ke dokter Hamid hanya untuk itu." Panjang Roy menjelaskan.


Sari mendengar kan dengan sungguh-sungguh lalu dia mengangguk membenar kan ucapan Roy.


"Kamu bener, aku ngga usah repot ngurusin jodoh karena Allah udah atur itu sebelum aku lahir." Ucap Sari.


Kemudian Sari tersenyum dan kembali memeluk Roy erat.


"Makasih Roy, kamu yang terbaik." Ucap Sari ceria.


"Sama-sama, ayo pulang." Ajak Roy dan di angguki Sari.


Di perjalanan menuju keidaman Sari, suasana mobil sangat penuh dengan ocehan Sari yang menceritakan segala lelucon yang berakhir dengan tawa Sari dan Roy.


Sampai di rumah.


'Ting... tong... ting... tong... .'


"Assallammu'allaiku?." Salam Roy dan Sari sambil memncet bel rumah.


"Lagi sholat kaya nya." Kata Sari.


"Iya mungkin, ini kan udah jam 3 sore lewat 5 menit." Timpal Roy sambil melihat jam di pergelangan tangan nya.


'Ceklek.' Suara pintu di buka.


"Wa'alaikum sallam... ya Allah... apa kalian habis main hujan?!." Tanya Mama penuh selidik sambil melotot kan mata nya.


Sari dan Roy mencium punggung tangan Mama secara bergantian, kemudian mereka cuma cangar cengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal menanggapi kemarahan Mama.


"Ada apa ini Ma?." Papa muncul dari belakang tubuh istri nya, Roy dan Sari kembali mencium punggung tangan Papa.


Papa menatap Sari dan Roy bergantian.


"Habis main india-india an ya?, seru ngga?." Tanya Papa dengan muka datar nya.


Beliau sebenernya ingin tertawa dengan muka takut nya Roy dan Sari, tapi jika Papa tak melakukan akting ini, bisa ketahuan kalo mereka ngikutin Roy.


Mama yang ada di sebelah Papa juga ingin terbahak sebenernya, tapi ia tahan agar tak menimbulkan curiga.


"Masuk!." Seru Papa tegas.


Roy dan Sari masuk ke ruang keluarga.


Mereka di introgasi secara bergantian dan 15 menit kemudian Mama menyuruh Sari masuk ke kamar buat sholat asyar.


Di ruang keluarga.


"Sari tadi mata nya sembab, kamu apa kan anak Mama?." Tanya Mama sambil memicingkan mata nya.


"Tadi Sari nangis gara-gara... ." Roy menceritakan segela nya yang terjadi sebelum pulang ke rumah.


Mama Papa mengangguk kan kepala mengerti dengan pikiran Sari.


"Terus kamu?, kapan mau lamar anak kita?." Tanya Mama spontan.


"Ehem." Roy berdehem pelan mendengar pertanyaan Mama Sari.


"Jangan lama-lama gantungin anak orang, kamu pikir Sari jemuran?, jemuran juga kalo ngga segera diambil bisa embat orang, kalo restu dari Mama, kamu ngga perlu minta, Mama udah lama ngerestuin kalian." Ungkap jujur Mama pada Roy.


"Secepat nya Ma Roy akan melamar Sari." Cepat Roy menyahut omongan Mama Sari dengan nada tegas.


"Bagus kalo gitu." Celutuk Papa.


"Oh iya Ma? Pa?, nanti ba'da isya' Roy mau ajakin Sari ke pasar malem, boleh kah?." Roy meminta ijin.


"... ." Kedua orang tua Sari saling tatap belum menjawab.


3 menit menunggu.


"Iya boleh, sebelum jam 10 malam harus sudah ada di rumah!." Tegas Papa Sari.


"Siiap Pa, kalo gitu, Roy pamit dulu Ma Pa, assallammu'allaikum." Roy berucap sambil mencium punggung tangan Mama Papa Sari.


"Wa'allaikum sallam, ayo kita antar." Kata Papa.


3 orang itu berjalan ke arah pintu dan mengantar Roy ke mobil nya.


"Hati-hati di jalan, nanti Mama sampe in ke Sari kamu pulang." Kata Mama.


"Iya Ma makasih, assallammu'allaikum." Salam Roy sekali lagi.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Mama Papa kompak.


Mereka pun masuk ke dalam rumah dan bertepatan dengan Sari yang baru turun dari tangga.


"Roy mana Pa? Ma?." Tanya nya.


"Udah pulang, nanti habis isya' dia jemput kamu katanya, mau ajak kamu ke pasar malem, dia yang mau atau kamu yang ajak Sar?." Tanya Mama.


"Sari yang minta Ma, hehehe." Sari menjawab sambil menyengir kuda.


"Udah bisa di tebak sih." Celutuk Papa menyahut.


"Emmm... Sar?, kamu... ada rasa ngga selama sama Roy beberapa bulan ini?." Tanya Mama pada Sari dengan hati-hati.


"Perasaan?, Ehem... ." Sari berdehem mengusir rasa gugup.


"Jujur aja sama Mama Papa." Kata Papa sambil memeluk Sari dari samping kanan dan Mama mengelus pucuk kepala Sari.


Sari diam menunduk sambil memain kan jari-jari nya.


Dia tersenyum kaku menatap Mama dan Papa nya.


"Roy nya ngga suka sama Sari Ma, lagi pula... Roy sempurna Sari mah apa atuh, hahaha." Sari menjawab dengan di akhiri tawa garing.


"Jadi?... kami mencintai nya?." Tanya Papa.


Sari tersenyum lalu mengangguk meng iya kan.


"Kamu jangan minder, pasti ada kok laki-laki yang mencintai kamu dengan tulus dan dapat nerima kamu apa adanya." Mama menenangkan Sari.


"Tunggu waktu nya tiba, jangan terburu-buru soal jodoh, Allah itu maha adil Sayang." Kata Papa, beliau memeluk Sari erat dan menghujani nya dengan kecupan.


Mama Papa Sari masih ingin merahasia kan tentang perasaan Roy agar Sari mengetahui nya sendiri dari mulut Roy


'Kami harap kamu yang terbaik untuk Sari, Roy.' Begitu lah doa Mama Papa bersamaan dalam hati.


Melihat suami dan anak nya berpelukan Mama Sari pura-pura merajuk.


"Iya pelukan aja terus... lupain Mama deh." Mama Sari cemburu dan memanyun kan bibir nya kesal.


"Hahaha, sini-sini Mama ikutan, gitu aja ngambek." Kata Papa.


Mama pun ikut berpelukan juga dan mereka bercanda sampai tertawa terbahak-bahak.


Sore yang sangat dingin ini meraka lalui dengan penuh kebahagiaan, dari yang Sari sudah sembuh, hingga Sari yang telah kembali ke rumah.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf ngga dapet feel nya


Maaf kalo garing😢🙏


Jaga kesehatan selalu readers


Maaf typo di mana-mana🙏😢


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2