Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Sixty-six


__ADS_3

"Belum tamat ceritanya Fa, belum tamat, segala pake happy ending." Kata Alfi dengan terkikik geli.


"Maksud Gua tuh mereka akhirnya ketemu." Ralat Akifa.


"Iya in dah biar seneng." Jawab Alfi dengan menahan senyum.


Shita dan Rendra.


Rendra mengecup pucuk kepala Shita meluapkan rasa rindunya.


Semua orang yang melihat juga ikut bahagia.


"Mereka pelukan udah kaya dunia milik berdua lainnya pada ngontrak." Kata Raina.


"Yaaa, namanya juga melepas rindu." Kata Zarine.


"Udah woy udah pelukannya, hareudang Gua liatnya." Seru Raina mengakhiri pelukan Shita Rendra.


Shita melepas pelukan dengan manatap Raina kesal.


"Hehehe, ya udah ayo balik." Ajak Raina.


"Rendra ama 2 orang ini mau tinggal dimana?." Tanya Shita.


"Di apart Gua." Balas Rafka.


Shita menatap 3 orang itu.


Rendra, Panji, Andi mengangguk kan kepala meng iya kan.


"Kita udah janji an kemarin." Jelas Rendra.


"Ouh gitu." Singkat Shita menjawab.


"Emmm Raf?, menurut Gua mending kita pulang ke rumah Lo aja, soalnya di sana lebih rame, kalo di apart mereka cuma bertiga, dan pasti apart Lo kulkasnya kosong, kasian mereka masih repot beli makan." Pendapat Bang Idan.


"Kita ngga papa kok Kak, di pinjemin tempat tinggal aja kita udah seneng banget." Tolak Rendra halus.


"Abang Gua bener, kalian cuma bertiga di sana entar, terus masih repot beli makan, ikut pulang ke rumah aja dah." Putus Rafka.


"Udah kalian ikut aja." Kata Abdiel.


Rendra, Panji, dan Andi pun menurut ikut pulang ke rumah Rafka Zarine.


3 cowok itu juga ikut di mobil Rafka Zarine, dan Shita kembali ikut di mobil Bang Rafa Raina.


Sampai di rumah qiroah asyar berkumandang.


Mereka segera masuk ke dalam rumah dan masuk kamar masing-masing untuk bersiap sholat asyar berjamaah.


"Ayo Gua tunjukin kamar buat kalian." Ajak Rafka.


Rendra dan 2 cowok di sampingnya mengikuti langkah Rafka.


Sampai di depan 3 pintu kamar saling berhadapan, Rafka mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar satu per satu.


"Pilih yang mana kalian suka, dalemnya sama aja sih, ada kamar mandi masing-masing di sana." Jelas Rafka.


Rendra, Panji, Andi mengangguk anggukan kepala mendengar penjelasan Rafka si tuan rumah.


"Gua tinggal dulu deh, kalian juga siap-siap juga, kita bakal sholat asyar jamaah di mushollah rumah, Gua tunggu di bawah ama yang lain." Kata Rafka lalu meninggalkan 3 cowok itu.


"Iya, thanks Raf buat semuanya." Ucap Rendra sedikit berteriak, karena Rafka sudah agak jauh.


Rafka hanya mengacubgkan Ibu jarinya.


Rendra, Andi, Panji juga ikut berpamitan satu sama lain dan masuk ke kamar yang di sediakan Rafka.


Setelah 15 menit bersiap.


Semua orang berkumpul di ruang santai menunggu orang-orang yang belum siap.


5 menit menunggu.


Mereka pun melangkah menuju mushollah dan menunaikan sholat.


Selesai mengerjakan kewajiban muda-muda itu duduk di sofa ruang santai dan mengobrol.


"Kalian ber tiga berangkat jam berapa dari sana?." Tanya Shita.


"Jam setengah 5 pagi." Jawab Rendra.


"Kenapa ngga ada yang ngasih kabar ke Gua?." Tanya Shita jengkel.


"Gua udah telepon Lo, tapi yang nerima Raina, katanya Lo tidur." Jelas Rendra.


"Kapan teleponnya?." Tanya Shita lagi.


"Kalo ngga salah kemarin sore an." Jawab Rendra.


"Ouh, dan kenapa Lo ngga bilang ke Gua Kak Rain?." Tanya Shita menatap Raina dengan memicingkan matanya.


"Emang niat sih, biar surprise." Jawab Raina dengan cengengesan.


"Tapi Lo seneng kan Ta, kalo dia di sini?." Tanya Akifa menggoda.


Shita diam tak menjawab dan malah pura-pura tak mendengar.


Tapi di balik cueknya itu, pipi Shita bersemu merah, dia malu mendengar godaan Akifa.


"Hahaha, pura-pura cuek dianya." Tawa Akifa mrledak.

__ADS_1


"Lo kesini ada perlu apa Ren?." Tanya Abhi.


"Ada barang toko Gua yang jualnya di sini." Jawab Rendra.


"Kenapa ngga pesen online aja?." Tanya Abdiel.


"Gua ngga terlalu suka belanja online, Gua maunya ngecek sendiri barang itu." Alasan Rendra.


"Yang utama alasan Rendra sebenarnya bukan itu." Celutuk Andi.


"Udah ketebak sih." Kata Bang Rafa yang melihat Rendra tak melepaskan genggaman tangannya pada Shita.


Tapi Shita yang cuek dan tak merasa, dia malah makin fokus pada ponselnya.


"Ahahaha ngga peka ternyata yang di amongin." Tawa Akifa.


"Maklum aja, dia lagi berselancar di dunia halu itu." Kata Raina menimpali.


'Ring.'


Ponsel seseorang berbunyi tanda notifikasi masuk.


Sepertinya milik Bang Idan.


Karena hanya dia yang mengecek ponselnya.


Bang Idan membuka ponsel dan membaca pesan di grup keliarga dari Papanya yaitu Yusuf.


Papa : 'Kumpul di rumah Rafka Zarine ba'da Isya', dan sekalian kita juga nginep di sana bawa yang diperlukan biar besok ngga usah repot.'


Begitulah isi pesannya.


Bang Idan meletak kan ponselnya di atas meja dan men silent nya.


"Siapa Bang?." Tanya Akifa.


"Papa Yusuf kirim pesan, katanya nanti kita kumpul di sini sekalian nginep di sini." Jelas Bang Idan.


"Pasti mau ngomongin soal minggu besok." Tebak Akifa.


"Besok kalian ber 4 wajib ikut, terutama Lo Ta." Tunjuk Bang Idan ke Shita.


"Mau ikut kemana?." Tanya Rendra.


"Minggu besok Kita nikah." Ucap Bang Rafa menjawab.


"Wah selamat Rain." Senang Rendra, Andi, Panji.


Bang Rafa dan Raina tersenyum dan mengangguk kan kepala.


"Dan selamat juga buat kalian berdua." Kata Rendra pada Bany Idan Tika yang di balas senyuman oleh 2 calon pasangan itu.


"Jadi ini rencananya 2 pernikahan jadi satu?." Tanya Andi.


3 cowok itu hanya membulatkan mulutnya menjawab penjelasan Bang Idan.


"Hmm, apa keluarga kalian ngga risih kalo diskusinya ada kita di antara kalian?." Tanya Rendra.


"Ya engga lah Ren, kalian di sini udah kita anggep kaya saudara jauh berkunjung, kita ini kan temen, Lo, sama dua teman Lo ini kan sahabatnya calon Gua, jadi yaaa kita anggep Lo sahabat kita juga, ya kan guys?." Kata Bang Rafa.


"Bener banget." Jawab Rafka dan lainnya.


"Anggep aja datang sebagai pendamping Kak Raina." Celutuk Akifa.


"Nah bener tuh kata istri Gua." Kata Abdiel dengan mencium pelipis Akifa.


Rendra hanya tersenyum manis menatap semua orang yang ada di hadapannya ini.


Shita yang diam-diam mendengarkan, dia juga tersenyum senang.


'Aku bersyukur banget ya Allah karena Kak Raina menemukan jodoh yang keluarganya menyayangi dan menerima Kak Raina apa adanya.' Batin Shita senang.


Shita memang seperti ini sifatnya.


Keliatannya memang cuek dan bodo amat sama sekitar terutama sama orang yang dia sayang.


Tapi sebenarnya dia diam-diam memperhatikan, apa yang mereka pikir Shita ngga tau apa-apa, malah sebaliknya, Shita tau segalanya.


Semua orang yang menyadari Shita tersenyum manis.


"Ciaaa ada yang ikut tersenyum, emang paham lagi bahas apa?." Ledek Zarine.


Shita yang sadar jika di sindir dia gelagapan.


"Emang bahas apa?." Tanya nya pura-pura tidak tau.


"Akting Lo lumayan." Puji Alfi.


Shita pun tertawa kecil atas pujian Alfi.


"Ta?." Panggil Zarine.


Shita menatap Zarine dengan kedua alisnya terangkat ke atas.


"Ada apa?." Tanya Shita.


"Kamu kenapa kalo kita kumpul, kamu selalu nolak ajakan Kak Raina buat ikut?." Tanya Zarine.


Semua orang menatap Shita dengan raut penasaran.


"Apa Lo ngga nyaman sama kita Ta?." Tanya Akifa.

__ADS_1


Shita mematikan ponselnya dan menegak kan punggunya bersiap menjawab.


"Ehem, gini, Gua bukannya ngga nyaman atau apalah yang lagi kalian semua pikirin, Gua cuma... cuma apa ya... ." Shita menjeda ucapannya.


Dia tak bisa menjabarkan kata yang ingin dia ucapkan.


Shita gelagapan.


"Gini, Gua itu orangnya ngga suka keramaian, bukan berarti kalian semuanya berisik bukan itu maksudku, tapi lebih ke... Gua suka menyendiri, nah gitu deh intinya." Jelas Shita.


"Kenapa suka menyendiri?, ngga baik kalo kamu terlalu ngurung diri di kamar." Nasihat Zarine.


"Iya tau, tapi gimana lagi namanya juga udah kebiasaan, pengennya sih keluar, jalan sama temen, hangout biar otak fress, tapi itu semua cuma rencana di otak, terlaksana engga, malah Gua asik molor, hahaha." Shita menjelaskan dengan tertawa kecil.


"Susah dah." Celutuk Alfi.


"Kebiasaan itu juga yang bikin aku selalu menolak ajakan Kak Rain buat kumpul kaya gini, maaf semuanya kalo sikap ku membuat kalian semua ngga nyaman." Ucap Shita dengan menunduk tak enak hati.


"Ngga papa lagi Ta, tapi kalo bisa sifat kamu yang suka menyendiri itu kurangi lah sedikit." Pinta Zarine.


"In syaa allah, kalo kalian ngumpul kaya gini, Gua bakal aktif ikut deh." Kata Shita dengan tersenyum menatap semua orang di sekilingnya.


"Dulu waktu di desa, apa Shita juga gini Dra?." Tanya Akifa.


"Dia ngga akan tau kegiatan Gua Fa, dia sibuk sama sepak bolanya." Sindir Shita dengan melirik Rendra.


"Sok tau, Gua hafal semua kegiatan Lo kok, mulai dari bangun pagi sampe Lo mau tidur." Sombong Rendra.


Shita memutar bola mata malas mendengar kesombongan Rendra.


"Kalian dulu kalo sekolah bareng ngga?." Tanya Akifa.


"Boro-boro berangkat bareng, mereka ini kerjaannya perang mulu." Jawab Raina cepat.


"Hahahaha." Tawa mereka pecah di ruang santai rumah Rafka Zarine.


"Emamg dulu kenapa kalian musuhan?." Tanya kepo Zarine.


Rendra dan Shita saling pandang.


Rendra menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia seperti orang konyol jika membahas masa lalu.


"U... u... udahlah itu masa lalu malas bahas Gua." Rendra mengalihkan pembicaraan.


"Ok ok berenti bahas masa lalu, sekarang kita bahas masa yang akan datang aja." Kata Bang Rafa.


"Gimana kondisi ponginapan dan rumah Gua Dra?." Tanya Shita.


"Semuanya baik dan normal." Singkat Rendra.


"Kenapa ngga dijual aja sih Ta?." Tanya Alfi.


"Gua bakal balik kesana, dan juga rumah itu punya banyak sejarah." Ungkap Shita.


"Kamu yakin dek mau nikah sama dia?." Tanya Raina berniat menggoyakan kepercayaan Shita pada Rendra.


"Kenapa ngga yakin?." Tanya balik Shita dengan mengerutkan keningnya.


"Yaa mungkin aja dia punya-." Raina tak melanjutkan ucapannya karena sesuatu melayang dan mengenai tepat wajah nya.


'Buug.' Rendra melempar bantal sofa ke wajah Raina.


"Sorry Kak Rafa." Ucap Rendra datar.


Bang Rafa menggelengkan kepala pelan.


"Dasar gila." Umpat Raina dengan melempar balik bantal sofa ke arah Rendra.


"Kamu juga salah Yang, bercandanya kelewatan." Lembut Bang Rafa menasihati calon istrinya ini sambil mencubit hidung mungil Raina.


"Ya maap." Raina ngengir kuda mengatakan kalimat itu.


"Gua ngga bakal nglakuin hal bodoh dengan sia-sia in adek sepupu Lo ini Rain." Tegas Rendra dengan nada datar dan dinginnya.


Rendra mencium punggung tangan Shita untuk menunjuk kan bahwa Rendra tak kan melepaskan cewek di sampingnya ini.


"Ya Gua percaya sama Lo." Raina mengatakan itu dengan tersenyum.


Kemudian mereka berbincang hingga adzan maghrib berkumandang.


Lalu mereka beranjak ke mushollah lagi.


Ambil wudhu, mengatur shaf sholat, dan mulai melakukan takbir memulai sholat.


-


-


-


B E R S A M B U N G . . .


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏


Maaf ceritanya berbelit-belit🙏😢


Jaga kesehatan selalu readers

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2