Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus delapanpuluh empat


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU


MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Ouh iya ngomong-ngomong main, kabar Cafe gimana?." Tanya Tika yang ingat tempat itu.


"Alhamdulillah berkembang pesat Tik, kalian cepet pulang deh, semua nya baik yang di Surabaya juga, ouh iya ada yang belum kami sampe in, mulai dari tadi siang kami sepakat bakal nempatin rumah para tetuah, rumah kita yang lama biar di urus aja sama ART." Kata Zarine menjelas kan panjang lebar.


"Ya kami setuju saja." Cetus Bang Rafa yang di angguki Bang Idan Tika juga Kak Rain.


"Ini ngomomg-ngomong kalian ada di rumah siapa?." Tanya Tika kepo.


"Di rumah keluarga Fathan." Jawab Akifa cepat.


"Ouh, ya udah sana pada pergi takbir, dan maaf yah kami ngga bisa kembali ke tanah air buat rayain lebaran bareng, maafin kita sekali lagi." Ucap Tika tulus dari hati nya.


"Maafin kita juga yang ngga bisa pulang yah, maaf banget." Ucap Kak Rain tulus.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"It's ok Kak Rain, Tika, kita paham masalah kalian di sana, kalo gitu panggilan kita akhiri, mau ikut takbir, assallammu'allaikum." Salam 6 serangkai.


"Wa'allaikum sallam, kalo takbir niat takbir aja jangan cari takjil di masjid, hahaha... ." Kata Bang Rafa memperingat kan.


"Ck! Tau aja sih, ya udah babay." Zarine, Akifa, Alfi memati kan panggilan via video itu.


"Ayo berangkat ke masjid." Ajak 3 wanita hamil ini antusias. Binaran mata bahagia terpancar dengan jelas di sana.


"Yang? Kita di rumah aja yah, enak tidur sambil peluk kamu deh kaya nya dari pada pergi takbir." Kata Abdiel yang di benar kan oleh Rafka dan Abhi.


"Bener tuh." Kata Rafka Abhi kompak sambil mengangguk kan kepala membenar kan ucapan Abdiel sang sahabat.


"Ya udah ngga usah pergi." Balas Alfi.


"Iya kalian diem aja di rumah, biar kita ber tiga yang pergi sendiri, asaallammu'allaikum." Tanpa menunggu jawaban dari para suami 3 bumil itu pergi nyelonong keluar rumah.


"Dasar para bumil, kalo udah mau nya susah banget buat bujuk, ikutin aja lah ayo." Ajak Rafka dengan menggerutu tak jelas.


"Tapi emang sih yah, takbir kaya gini kan ada nya cuma setahun dua kali, sekarang sama Idul Adha nanti, tapi takbir Idul Fitri nih lebih seru menurut ku sih, jadi maklum aja kalo mereka ngotot pengen ikut." Panjang Abhi berucap.


"Hmm... bener juga apa yang Lo bilang Bhi." Cetus Abdiel sependapat.


"Ngapain ngikutin?!." Seru Akifa menghadap pada para pria.


"Takut nyasar, entar ngga pulang lagi." Jawab Abdiel.


"Dih! Emang kita anak kecil yang ngga tau jalan pulang!." Sewot Akifa membalas.


"Pergi aja sana." Usir Zarine.


"Ya udah ok kita pergi, awas nyari in." Tantang Rafka pada para wanita.


"Iya awas aja kalo nyari in." Imbuh Abdiel pada ucapan Rafka. 3 pria itu kemudian berbalik badan dan melangkah menjauh dari pada wanita, terdapat sunggingan senyum di bibir tipis para pria itu.


"Mari kita hitung boy's." Kata Rafka dengan senyum evil nya.


"Satu... dua... tiga... panggil." Ucap mereka bersamaan dan yang terjadi... .


"Kalian?! Balik sini!." Panggil para wanita lantang.


"Hahaha... ." Tawa para pria terdengar pelan dan lalu mereka berbalik dengan menunjuk kan ekspresi datar nya.


"Ada apa?." Akting Rafka bertanya. Jarak antara para wanita dan pria hanya berkisar 7 meter saja.


"Ayo ikut kami ke masjid." Ucap mereka meminta dengan wajah di tekuk cemberut.


"Engga deh, kata nya tadi suruh pergi, kita mau ke Cafe aja takbir di masjid sana." Balas Rafka masih ingin menggoda 3 wanita di depan nya ini.


Mereka udah akan berbalik lagi dan melanjut kan langkah nya menjauh tapi... .


"Kalian jahat banget mau ninggalin kita." Ucap Akifa sedih dengan memandang nanar para pria terutama Abdial sang suami.


"Akhiri drama nya boy's kagak tega Gua." Kata Abdiel berbisik.


"Duh liat deh muka nya, lucu banget, pengen Gua karungin terus buang di laut deh." Cetus Abhi sambil terkekeh.


"Ah Elu bilang nya mau buang, nanti kalo tenggelam beneran nyahok Lu." Cibir Rafka pada sahabat nya ini.


"Bukan Lu doang yang susah, kita semua juga bakal repot kalo Lo dalam kondisi ambyar." Timpal Abdiel menambahi omongan Rafka tadi.


"Ok kita bakal ikut kalian pergi ke masjid tapi ada syarat nya." Pinta Rafka pada para wanita.


"Apa?." Kompak mereka bertanya.


"Mau ke masjid aja drama nya udah ngalah-ngalahin sinetron." Ketus Alfi berucap sambil ke dua tangan nya mengusap air mata nya bergantian.


"Iya nih, ribet." Tambah Akifa yang di angguki Zarine.


"Mau ngga?." Tanya Abhi.


"Ya udah iya mau, apa an emang syarat nya?." Tanya Alfi.


"Ikhlas ngga?." Tanya Rafka menggoda para bumil.


"Iya ikhlas, cepet ngomong apa syarat nya?." Ucap Zarine dengan rasa tak sabaran nya.


"Peluk kami dulu, terus cium pipi kanan kiri." Pinta mereka dengan posisi tengah merentang kan tangan bersiap menerima peluk kan.


"Kalian ngga malu minta itu di tengah jalan kaya gini?!." Sungut Akifa jengkel.


"Di mana urat malu kalian?." Tanya Zarine tak kalah jengkel.


"Ngga bisa kah kalo minta di rumah?." Imbuh Alfi dengan nada suara yang sewot.


"Ngapain malu? Di sini ngga ada siapa-siapa, ini kan jalan sepi, cuma para malaikat dan Allah aja yang tau kalo kita peluk kan." Seringan mereka bernafas mengatakan seperti itu. Bak orang tanpa dosa 3 pria itu meminta peluk juga cium di jalan seperti ini.


"Ayo! Kami nunggu in loh." Ucap Rafka dengan mata terpejam menunggu Zarine mendarat dalam peluk kan nya yang hangat dan nyaman itu.


Dengan berjalan cepat 3 wanita itu mendarat dalam peluk kan suami masing-masing.

__ADS_1


"Ouh nyaman nya." Ucap para pria bersamaan, mereka membalas peluk kan istri mereka dengan hangat pula.


3 menit berpeluk kan kini para pria menagih minta di cium.


"Ck! Ada aja akal kalian kalo ngerjain kita." Decakan malas terdengar dari bibir manis Akifa.


"Sebagai pengusaha, kita harus mencipta kan kesempatan dan mencari kesempatan Yang." Kata Abdiel.


"Hah bener tuh kata Abdiel." Sahut Abhi dan Rafka bersamaan.


"Ya udah ayo ke masjid." Ajak Alfi sambil menyeret Abhi sang suami agar mengikuti nya.


Tak butuh waktu lamaa untuk pergi ke masjid, kini 6 serangkai telah ada di depan bangunan rumah Allah ini.


"Kalo ada kembang api nya pasti seru." Kode Zarine pada sang suami.


"Ngga ada." Sahut Rafka yang paham maksud Zarine.


"Ayo lah Yang." Bujuk Zarine manja.


"Bener tuh kalo ada kembang api nya pasti seru, satu aja deh." Kata Akufa ikut membujuk Abdiel.


"Gih kalian beli sana, kita nanti nyalahin nya agak jauh dari masjid biar ngga ganggu." Alfi memberi saran.


'Huuffffhh.' Helaan nafas pasrah terdengar.


"Yeayyy!!!." Seru para bumil itu senang melihat ke pasrahan para suami mereka.


"Ok tunggu di dalam masjid sana, ikut baca takbir sama Uztadz Ariz, wudhu dulu sebelum masuk ke masjid." Pesan Rafka yang di angguki oleh para wanita itu kompak.


"Kita mau pergi bali kembang api dulu, ngga ada pesenan apa-apa lagi nih?." Tanya Abhi sebelum benar-benar berangkat.


"Emmm... marbak manis enak deh kaya nya." Kode Alfi dengan wajah tanpa dosa nya.


"Sesuai permintaan Ibu negara, kita berangkat dulu, assallamm'allaikum." Salam para pria.


"Wa'allaikum sallam." Jawab para bumil dengan mencium punggung tangan suami masing-masing.


"Eh? Kalian mau naik apa?." Tanya Zarine.


"Pinjem motor anak-anak tuh." Tunjuk Rafka pada Motor yang berjajar rapi di parkiran masjid yang di duga milik anak-anak komplek sini.


"Hati-hati di jalan, jangan ngebut." Pesan Zarine yang hanya di balas dengan acungan jempol Rafka, Abhi, juga Abdiel.


Setelah melihat para pria tercinta mereka pergi, 3 bumil itu masuk ke masjid dan ikut mengumandang kan takbir bersama Uztadz Ariz.


Di negara yang berbeda dan waktu yang berbeda pula.


Terlihat seorang perempuan duduk sendiri di balkon kamar sambil mengusap-usap perut nya yang belum terlalu terlihat buncit.


'Huufffhh... .' Wanita itu menghela nafas panjang.


'Grep!.' Peluk kan tiba-tiba dia dapat kan dari seorang pria yang sangat ia cintai.


"Udah kerja nya?." Tanya wanita itu.


"Belum, aku capek jadi berenti dulu aja deh." Kata pria itu manja.


Kepala pria itu menelusup di ceruk leher sang wanita sehingga sang wanita kegelian.


"Kak Zaidan? Udah berenti, geli tau, kepas ah." Pinta wanita itu yang ternyata dia adalah Tika istri Bang Idan.


"Kamu kangen sama anak-anak yah?." Tanya Bang Idan lembut.


"Sebener nya sih iya, tapi it's ok ngga papa aku baik-baik aja kok." Balas Tika jujur.


"Gimana kalo kamu aku pesenin tiket pulang ke Indo? Nanti biar pas sampe di bandara anak-anak jemput kamu." Bang Idan memberi saran pada Tika istri yang amat Bamg Idan cintai ini.


"Aku pulang dan kamu ada di sini gitu?." Tanya Tika meminta penjelasan.


"Ya mending aku ngga pulang kalo gitu cara nya, malah kalo aku pulang sendiri hati aku rasa nya ngga tenang ninggalin kamu di sini sendirian." Kata Tika menerang kan.


"Ya kan aku udah biasa di sini sendirian Yang, kamu ngga usah khawatir." Hibur Bang Idan.


"Jawaban aku tetep engga!." Tegas Tika berucap tak dapat di ganggu gugat.


"Tapi kamu sedih gitu, aku jadi ngga tega." Suara Bang Idan sudah serak.


"Wajar lah aku sedih, ini pertama bagiku ngga lebaran di Indo dan apa lagi Mama Papa baru ngga ada, jadi wajar aku sedih nginget mereka." Papar Tika panjang.


"Kamu beneran ngga papa nih?." Tanya Tika sekali lagi pada sang istri tercinta ini.


"Iya sayang ku... aku ngga papa, jangan tanya terus ah, males denger nya bosen." Celutuk Tika yang ingin mengalih kan pembicaraan.


"Ok ok aku ngga bakal bahas." Balas Bang Idan menyerah membujuk sang istri pulang.


"Kamu kan capek, mau aku pijitin?." Tawar Tika pada sang suami tercinta.


"Iya deh, pundak aku rasa nya ngga nyaman banget nih Yang." Kata Bang Idan menerima tawaran pijatan sang istri.


Kemudian 2 sejoli ini menata posisi duduk senyaman mungkin untuk memulai pijatan.


Kalau di London Bang Idan Tika tengah melakukan pijat memijat, lain hal nya dengan dua sejoli di Ibu kota Jawa Timur ini yang tak lain dan tak bukan adalah Bang Rafa Kak Rain.


Bang Rafa sibuk membantu sang istri membuat kue lebaran yang sebenar nya Kak Raina sudah mencegah sang suami membantu karena Kak Rain tau Bang Rafa juga banyak kerjaan.


Tapi karena calon Ayah itu ngotot ingin membantu, Kak Rain akhir nya meng iya kan saja. Tapi bukan nya menyelesai kan pekerjaan, Bang Rafa malah mengacau kan nya, Kak Rain hanya bisa terkekeh pelan menggeleng kan kepala nya melihat tingkah Bang Rafa di dapur.


"Aduh Yang, kaya dapur tuh emang ngga cocok deh sama kamu." Cetus Kak Rain pada sang suami.


"Ya emang ngga cocok, aku sadar itu." Balas Bang Rafa denga wajah tanpa dosa.


"Ya udah sana pergi ke ruang kerja kamu aja, entar kalo kue nya jadi aku bakal panggil kamu," Suruh Kak Raina dengan tutur kata yang lembut bak tepung terigu.


"Males Yang, bosen tau tiap hari ketemu nya sama kertas yang entah habis nya kapan, ngga tau deh, pusing loh Yang kalo ngurus berkas terus." Manja Bang Rafa megadu pada Kak Raina.


"Ya dari pada di sini? Liat tuh ulah kamu, dapur udah kek kapal pecah." Kata Kak Raina dengan di akhiri kekehan kecil nya.


Bang Rafa menelisik setiap sudut dapur.


"Astaghfirullah!." Kejut Bang Rafa.


"Cantik kam dapur nya?." Tanya Kak Raina menyindir Bang Rafa.


"Hahaha... tapi aku kalo masak nasi goreng, terus bikin apa gitu di dapur, ngga sampe kaya gini loh Yang paling berantakan di hal-hal yang wajah aja gitu, ngga sampe bikin dapur kek kapal pecah gini." Kata Bang Rafa ikut terkekeh melihat dapur yang amburadul.


"Liat cuma liat dapur, tapi juga liat tubuh kamu sendiri." Tunjuk Kak Raina pada tubuh sang suami yang penuh dengan terigu, bukan hanya di tubuh di wajah juga banyak sampai pada rambut nya juga.


"Waduh aku terlalu rajin sampai satu badan terigu semua." Puji Bang Rafa pada diri nya sendiri.


"Rajin apa an? Kamu tuh pengacau tau, hahaha... ." Tawa Kak Raina pecah, Bang Rafa menyahuti hanya dengan cengiran polos nya.


Kak Rain kemudian menghampiri Sang suami, melepas celemek yang di pakai nya dan mendorong Bang Rafa untuk pergi dari dapur untuk mandi membersih kan badan nya yang amat sangat kotor.


"Kamu ngga mandi juga? Mandi bareng yuk?." Ajak Bang Rafa pada Kak Raina dengan sebelah mata nya mengedip genit.


"Dasat genit! Dah sana pergi mandi, aku mau ngurus kue ini dulu, kamu duluan aja mandi nya." Suruh Kak Raina.


Bang Rafa pun meng iya kan dan berlalu dari dapur.


Di dapur, dengan di bantu para 2 ART Kak Rain membersih kan dapur itu.


Waktu berputar begitu cepat.

__ADS_1


Takbir hari kemenangan Idul Fitri berkumandang di sepanjang malam, sampai pagi hari pun masih berkumamdang dengan merdu nya.


Minggu, 12 Juni waktu 06.00 di kediaman keluarga Fathan yang kini di huni hanya oleh Rafka Zarine dan para ART tentu nya.


Zarine sibuk membantu pada ART untuk menyiap kan hidangan untuk tamu jika nanti datang.


Sedang kan Rafka sibuk dengan diri nya sendiri di dalam kamar.


Sholat akan di laksana kan pada pukul 7 tepat nanti.


Di dalam kamar.


Rafka keluar dari kamar mandi hanya dengan mengguna kan handuk yang milit dari pinggang ke bawah.


Bukan nya ganti baju, calon Daddy dari Baby twins ini malah rebahan di ranjang sambil asik bermain handphone, padahal baju sudah di siap kan oleh Zarine di bilik ganti.


Ini kalo Zarine melibat Rafka belum siap, pasti dia bakal ngomel panjang kali tinggi kali lebar, wkwkwkwk kaya rumus balok yak.


Zarine melihat jam di dinding dapur.


'Jam 06.20 Rafka udah siap belum yah?.' Begitu lah batin Zarine bertanya-tanya.


"Bi? Saya tinggal liat suami saya dulu di kamar yah, ini tolong di selesai kan semua nya sebelum ke masjid." Pinta Zarine lembut.


"Iya Nona secepat nya akan kami selesai kan." Balas para ART sambil tersenyum manis.


Zarine pun berjalan ke arah kamar nya dan Rafka.


Sampai di ambang pintu.


"Rafka?!." Panggil Zarine sedikit berteriak yang kontan saja membuat Rafka yang tengah asik dengan ponsel nya terkejut bukan main.


"Huuuuu... bikin kaget aja sih Yang." Kata Rafka sambil mengelus dada nya.


"Ya Allah suami kuu... ini udah siang! Kamu malah enak-enak kan nyantai belum siap! Pake baju sana, chat sama siapa tadi? Kok sampe mesam mesem gitu?." Sinis Zarine bertanya.


"Aku ngga mau siap kalo bukan kamu yang pake in aku baju, soal chat, aku lagi chating sama anak-anak nih di grup, hehe... ." Rafka menjelas kan dengan di akhiri kekehan seperti orang yang tanpa dosa.


"Ayo pake baju! Nanti kamu bisa masuk angin kalo telanjang gini." Nasihat Zarine pada sang suami yang hanya di balas anggukkan.


"Ck! Jangan ngangguk doang Yang, jawab iya gitu loh." Jengkel Zarine paad Rafka.


Rafka yang melihat ekspresi yang istri yang tengah marah merasa lucu, dia pun terkekeh pelan.


"Iya sayang ku iya maaf aku ngga ganti baju malah asik chat grup sama anak-anak, sekarang berhenti ngambek nya bantu in suami tampan dan calon hot Daddy ini bersiap yah." Pinta Rafka pada sang istri.


"Hmmm... ." Gumam Zarine sambil kaki nya berlalu melangkah ke ruang ganti hendak mengambil pakaian ganti sang suami tercinta.


Dengan sabar Zarine memasang kan pakaian di tubuh Rafka satu per satu.


Rafka jadi seperti anak balita yang tengah di siap kan Ibu nya berangkat sekolah, dia tak mau diam, dan terus saja menjahili Zarine.


"Diem dulu Yang ini satu kancing nya belum terpasang sempurna, kamu kebanyak kan gerak ah." Gerutu Zarine. Rafka hanya terkekeh pelan mendengar gerutu an panjang itu.


Pukul 06.40 pagi semua orang berjalan berbondong-bondong ke masjid untuk menunai kan sholad Ied berjamaah.


Seperti 6 serangkai saat ini.


Mereka tengah berjalan bersama dengan membicara kan hal-hal yang seru dan menyenang kan untuk di bahas.


Sampai di masjid, mereka berpisah, 3 wanita pergi ke bagian bilik wanita berkumpul dengan lain nya, sudah banyak para Ibu-ibu dan anak-anak juga remaja yang duduk di bilik wanita ini.


Ibu-ibu yang melihat 3 wanita hamil ini melambai kan tangan mengisyarat kan untuk duduk di sebelah mereka.


Zarine, Akifa, Alfi tersenyum dan melangkah kan kaki nya ke arab Ibu-ibu itu.


"Wah wah Bumil tiga ini makin hari makin sexy aja yah, body nya makin nampak indah kalo lagi isi gini, aura cantik nya juga beda banget." Puji para Ibu-ibu di sana.


"Hehehe... makasih Ibu-ibu semua." Balas Akifa mewakili Zarine dan Alfi.


"Ouh iya beberapa hari lalu kalian kemana aja? Kok Ibu ngga liat kalian keluar rumah?." Tanya Bu RT.


"Kami liburan ke Puncak Bu RT, terus pulang nya nempatin rumah Mama Papa yang lama." Jelas Zarine panjang.


"Ouh pantes aja kita ngga liat, kita khawatir tau, terus kita tanya sama ART kalian, eh mereka malah bilang nya ngga tau." Kata Bu RW ikut nimbrung dalam perbincangan.


Tak lama obrolan terhenti karena sholat Ied akan terlaksana.


Pukul 07.30 sholat selesai, semua orang pulang ke rumah masing-masing.


Tradisi setiap lebaran pun terjadi, di mana dalam setiap rumah saling maaf memaaf kan sebelum melakukan nya dengan tetangga dan sanak saudara.


6 serangkai juga melakukan itu, tak lupa pula mereka menghubungi Bang Rafa Kak Rain, mereka tak menghubungi Bang Idan Tika karena di London ini masih dini hari, pasti mereka masih tidur.


Lebaran kali ini Zarine, Akifa, Alfi di liputi tangis lagi, mereka mengingat para tetuah. Tadi setelah mengucap maaf maafan Rafka, Abdiel, Abhi pergi ke makam para tetuah tanpa mengajak para wanita.


Di rumah kediaman Fathan, 3 bumil sedang asik sarapan, walau pun sedang sedih tapi tetap masalah perut nomer satu, mereka tak mau Baby ikutan lapar dan berakibat berbahaya nanti bagi Baby.


NB: Puasa kurang lebih tinggal 9 hari lagi nih guys.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


B E R S A M B U N G . . .


Lanjut besok ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2