
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.
******************************
-
-
"Aku kurang, 2 kali deh, abis itu selesai." Bujuk Rendra.
"What?! Ren jangan aneh deh, bisa remuk nih punggung Gua." Shita terus mengoceh meminta Rendra berhenti.
Tapi Rendra tak mau menyudahi dan malah terus melakukan seperti apa yang dia ingin kan.
"Dasar... keras kepala!." Umpat Shita dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Dikit lagi Yang, setelah ke 7 aku janji bakal berenti." Ujar Rendra.
"Tapi aku capek, a**hh... ." Mulut Shita dan tubuh Shita tak singkron, dia masih saja mendesah walau sebener nya tubuh nya sudah sangat lelah.
baru lah pukul 2 pagi Rendra menyudahi kegiatan nya.
Dia ambruk di sebelah tubuh Shita dengan nafas ngos-ngosan.
"Rendra gila!." Umpat Shita dan setelah mengucap kan 2 kata itu, Shita terlelap tidur karena ke lelahan.
"Hehehe... maaf Yang... habis kamu nya bikin candu sih." Rendra menyalah kan sang istri.
Rendra menarik selimut sampai btas dada mereka, lalu dia memeluk Shita kemudian Rendra ikut terlelap dalam mimpi nya.
"Selamat tidur My Wife." Ucap Rendra lirih di tengah mata nya yang sudah terpejam tidur.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Qiroah subuh berkumandang indah di telinga semua orang.
2 sejoli yang baru 2 jam tidur terpaksa harus bangun untuk melaksana kan kewajiban nya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tapi kelihatan nya yang pertama bangun di sini adalah Rendra, dia sudah membuka mata nya dan langsung menatap wajah polos Shita yang terlelap tidur.
"Good morning cantik." Sapa Rendra tak lupa mendarat kan bibir nya ke bibir Shita.
"Engh!." Shita merasa terganggu dengan ciuman Rendra.
"Hehehe... ganggu yah? Morning kiss dong Yang, masa gitu aja aku ngga di kasih." Rendra berbicara sendiri.
Rendra tiba-tiba tersenyum penuh arti, dia membali melayang kan kecupan di bibir sang istri terus menerus.
'Cup.'
'Cup.'
'Cup.'
Tak hanya bibir, mata, kedua pipi, hidung, kening, inti nya seluruh wajah Shita rata menadapat ciuman dari Rendra.
"Rendraaaa... udah jangan jahil, Gua ngantuk tauu." Kata Shita manja terhadap sang suami.
"Jangan tidur lagi, ini udah qiroah subuh loh, bentar lagi pasti adzan ayo bangun." Ajak Rendra dengan berbisik di telinga Shita.
Shita pun perlahan membuka mata nya, nampak wajah lesu menghiasi wajah nya dan itu sangat terlihat oleh Rendra.
"Capek banget kah Yang?." Tanya Rendra polos.
"Menurut kamu gimana?." Tanya balik Shita.
"Hehehe... maaf-maaf, kamu tuh bikin candu tau ngga, mau lagi boleh ngga?." Tanya Rendra dengan antusias.
Kontan saja Shita menatap Rendra tajam.
"Wuh! Tenang Yang, aku kan cuma becanda, ok ayo kita mandi habis itu sholat." Ujar Rendra, dia sudah bangun dari tidur nya dan berdiri di sisi ranjang.
Shita ikut bangun dengan menggulung selimut di tubuh nya, sadar bahwa dia tak mengguna kan sehelai pakaian.
Saat kaki nya ingin ke menginjak lantai, Shita merasa kan perih di bagian daerah kewanitaan nya.
"Aushhhh... allahu akbar!." Kata Shita mengaduh kesakitan.
"Yang? Aduh maaf seharus nya aku ngga ngelakuin banyak ronde sama kamu semalem, maaf yah." Ucap Rendra merasa bersalah.
"Udah jangan gitu, toh aku juga ikut nikmatin, udah jangan merasa bersalah kaya gitu." Ujar Shita lembut sambil tersenyum.
"Ayo aku gendong." Kata Rendra yang langsung menggendong istri tercinta nya ini.
"Wuh! Berat banget kamu Yang?." Keluh Rendra pura-pura.
"Tanggung jawab! Kamu yang bikin aku lumpuh ngga bisa jalan, berat ngga berat harus tetep gendong!." Ketus Shita berucap.
"Hehehe... becanda kali Yang." Kekeh Rendra yang berhasil menggoda Shita.
Sampai di dalam kamar mandi, Rendra melepas selimut yang di bawa Shita untuk di letak kan di keranjang cucian.
Wajah Shita tampak merah malu karena telanjang di depan Rendra.
"Ngga usah malu, aku udah liat semua itu kemarin malam." Kata Rendra dengan berbisik pelan di telinga Shita.
Shita mengangguk, pagi ini 2 sejoli ini mandi bersama dengan Rendra yang memandi kan Shita.
Selesai mandi Rendra juga membantu Shita berpakaian.
"Kamu duduk di sofa sini dulu sambil nunggu adzan, aku mau ganti sprei nya dulu." Intruksi Rendra pada Shita.
"Ayo aku bantu in." Balas Shita, dia sudah akan berdiri dari duduk manis nya di sofa.
__ADS_1
"Engga! Kamu lagi sakit, duduk diam sini, biar aku yang ganti, kamu tinggal bantu cara nya lewat sini." Cegah Rendra cepat.
"Haishh, iya deh iya aku nurut aja." Pasrah Shita, dia kembali duduk dengan nyaman.
Sebelum Rendra mengganti sprei nya, ada noda darah di sana.
'Aku yang pertama, makasih udah jaga dengan baik hanya untuk ku Ta?.' Batin Rendra dengan menyungging kan senyuman di bibur berisi nya.
Dengan telaten dan atas instruksi Shita, Rendra mengganti sprei dengan baik dan benar.
Adzan subuh berkumadang.
Pasangan suami istri ini sholat berjamaah di dalam kamar.
Tak butuh waktu lama mereka pun telah selesai, Shita berniat membantu Ibu Rendra di dapur, tapi Rendra buru-buru mencegah dengan menarik tangan Shita dan menduduk kan nya di paha Rendra.
"Lepas ih, aku mau bantu Ibu di dapur tau." Ujar Shita dengan berusaha memberontak peluk kan Rendra.
"Ibu pasti paham lah sama pengantin baru kaya kita." Kata Rendra tanpa dosa.
"Kamu juga bentar lagi kerja, udah lepas ih!." Pinta Shita.
"Aku ngga kerja, lusa baru kerja, aku udah suruh si Andi ama Panji untuk ngurus bengkel, toko kamu, sama kerjaan kita lain nya." Ringan Rendra menjawab.
"Kasian Ibu Yang ngga ada yang bantu in." Alasan Shita.
"Jangan banyak alasan! Atau kamu mau lagi hah?." Ancam Rendra dengan nada selembut mungkin.
"Dasar tukang ngancam!." Ketus Shita sambil menyikut perut rata Redra.
Di belakang Shita, bibir Rendra tak bisa diam membuat Shita bergerak kegelian.
Shita menggeliat-geliat bak ulat bulu karena geli.
"Yang? Jangan jilat-jilat ih, geli tau." Ketus Shita.
"Kamu pake apa sih? Bau kamu bikin aku candu, bukan cuma candu aja, tapi bikin aku mabuk." Serius Rendra berucap.
"Pake apa? Ya ngga pake apa-apa, cuma mandi pake sabun biasa nya, minyak wangi biasa nya aja, aku ngga pake hal-hal yang aneh." Jelas Shita.
"Hmmm... wangi nya bikin aku pengen peluk kamu terus." Ujar Rendra.
"Gombal aja terus sampe besok." Sewot Shita berucap, tapi pipi Shita sudah memerah malu.
Tiba-tiba... .
'Tok... tok... tok... .'
"Rendra? Ada yang nyari in tuh di depan." Panggil Ibu Rendra nyaring.
"Iya Bu!." Sahut Shita dari dalam.
"Ck! Siapa sih? Ganggu aja pagi-pagi." Gerutu Rendra.
Peluk kan Rendra merenggang, dan kesempatan itu di buat Shita untuk berdiri.
"Ayo keluar pasti kamu di cari sama Andi Panji." Ajak Shita.
"Yang? Nanti malam aku minta lagi yah." Rayu Rendra dengan memasang wajah imut nya.
"Tergantung." Acuh Shita berucap sambil keluar kamar dan melangkah menuju dapur.
"Udah sana temu in tamu nya." Usir Shita yak menggubris ucapan Rendra.
Di dapur.
"Pagi Bu." Sapa Shita.
"Eh? Pagi juga Ta." Sapa balik Ibu.
"Maaf Bu Shita ngga bantu Ibu dari pagi." Ucap Shita merasa bersalah pada Ibu mertua nya.
"Hahaha... Ibu ngga papa kok Ta, Ibu juga pernah jadi pengantin baru, ya kaya kalian gini, ngga mau keluar kamar." Celutuk Ibu memaklumi.
"Rendra tuh yang ngga bolehin Shita keluar kamar Bu." Cemberut Shita menyalah kan sang suami.
Ibu hanya menanggapi nya dengan kekehan pelan.
"Ibu? Shita bisa bantu apa?." Tanya Shita.
"Kamu goreng ayam nya aja nih." Ucap Ibu Rendra yang di angguki Shita semangat.
Suasana dapur tak ada obrolan sama sekali, Shita dan Ibu Rendra sibuk memasak.
"Waduh garam nya habis, Shita kamu Ibu ke warung dulu yah." Pamit Ibu.
"Bu? Shita aja yang ke warung." Tawar istri Rendra ini.
"Udah Ibu aja, sekalian Ibu ada mau beli beberapa barang lagi." Tolak Ibu halus.
Shita pasrah dan hanya mengangguk kan kepala.
Setelah Ibu pergi, Shita sendiri di dapur.
'Grep!.'
"Astaghfirullah! Bisa ngga sih Ren datang nya tuh ada suara? Jangan ngagetin!." Seru Shita jengkel.
"Kamu nya aja yang terlalu fokus sama masak kan nya." Alasan Rendra.
"Siapa tadi yang dateng?." Tanya Shita mengalih kan pembicaraan.
"Andi sama Panji." Jawab Rendra lirih.
"Mau apa?." Tanya Shita lagi.
"Udah ah jangan bahas kerjaan aku, males, mereka tuh sebener nya bisa kendali in, emang dasar nya aja pengen ganggu in kita." Sungut Rendra berucap.
"Ya udah sana kamu ke bengkel atau ke tempat anak-anak di utara." Suruh Shita.
"Yang di utara tuh sebener nya udah tinggal kirim, anak-anak bilang nya ngga mau pergi kalo aku ngga ikut." Rendra cemberut dengan menempel kan dagu nya di pundak Shita.
"Kirim ke mana emang?." Tanya Shita.
"Senduro." Singkat Rendra menjawab.
"Ha... deket tuh Yang, ya udah sih kamu pergi aja, sekalian jalan-jalan ke sana." Ujar Shita sambil mencium pipi Rendra di sampingnya.
"Hmmm... emang sih deket, kamu ikut yah, kalo kamu mau ikut, aku baru mau nganter." Ujar Rendra merayu.
"Hi ilih! Rayu an kamu ngga akan mempan." Ujar Shita sambil melepas peluk kan Rendra di perut nya.
__ADS_1
"Ayo dong Yang ikut... mau yah... ." Bujuk Rendra.
Dia sampai mengikuti langkah Shita yang ke sana kemari.
"Jam berapa emang berangkat nya?." Tanya Shita.
"Jam 9 nanti, ikut yah." Bujuk Rendra.
"Berangkat aja sama-." Ucapan Shita terhenti.
"Udah ikut aja Ta, dari tadi Ibu liat Bayi besar kamu itu ngerengek ngga berenti-berenti." Suruh Ibu.
"Tuh denger kata Ibu, ikut aja." Senang Rendra karena mendapat dukungan dari Ibu nya.
"Dia aja yang manja Bu, males Shita mau ikut mau tidur aja, tadi malem Shita cuma tidur 2 jam." Jelas Shita.
"Waduh? Hahaha... ya mending ngga usah ikut deh." Saran Ibu tidak membela Rendra lagi.
"Pokok nya kamu harus ikut titik!." Keukeuh Rendra dnegan menduduk kan bokong nya di kursi meja makan.
"Yang? Kopi dong?." Pinta Rendra dengan wajah tak berdosa nya.
"Tunggu bentar." Jawab Shita lembut.
"Huuu... jangan di bikinin Ta." Provokasi Ibu.
"Ibuuuu... ." Manja Rendra pada Ibu nya.
"Hahaha... bikinin Ta, bayi besar nya ngambek tuh." Goda Ibu kepada anak menantu nya ini.
Jam 07.00 di bengkel tempat Rendra.
2 orang pria sudah di sibuk kan dengan pekerja an nya.
Di bengkel Rendra pagi-pagi sudah ada 3 orang yang hendak mengisi angin untuk motor nya.
"Mas Andi? Ini Mas Rendra nya kemana?." Tanga salah dari pelanggan Andi.
"Biasa Pak pengantin baru, masih anget-anget ta* ayam." Ujar Andi cuek.
"Hahahaha... Mas Andi bisa aja, eh ya ngomong-ngomong Mas Andi sama Mas Panji kapan nyusulin Mas Rendra sama Mbak Shita?." Tanya teman Bapak satu nya.
"Si Andi lagi nunggu seseorang yang spesial kata nya Pak." Cetus Panji menyahut bak kabel listrik.
"Wah! Siapa tuh Mas Andi?." Tanya Bapak satu nya lagi.
"Jangan dengerin si Panji Pak, ngaco dia ngomong nya." Ujar Andi acuh.
"Hahaha... iya deh iya, ya udah Mas Andi, Mas Panji, kami permisi dulu mau berangkat kerja soal nya, assallammu'allaikum." Paniy 3 Bapak-bapak itu.
"Iya Pak wa'allaikum sallam." Jawab 2 pemuda itu.
Andi kembali membantu Panji mengurus motor.
"Lo beneran Ndi ngga jatuh cinta sama si Dini?." Tanya Panji serius.
"Haduh bosen tau Ji Lo tanya nya itu mulu, ok deh kali ini Gua jawab jujur, iya Gua jatuh cinta sama dia pas ketemu dia di sawah waktu itu." Jelas Andi ikut serius.
"Hah?! Masa?." Tak percaya Panji.
Andi memutar bola mata nya malas.
"Lo ngga suka karena muka nya mirip Tari kan?." Tanya Panji lagi.
"Engga! Dia beda banget sama Tari." Jawab cepat Andi.
"Masa? Awas Lo kalo boong." Tunjuk Panji mengguna kan kunci untuk melepas baut motor.
"Ngga ada guna nya Gua boongin Lu Panji." Jawab Andi tegas.
"Kalo dia tiva-tiba ada di sini Lo mau apa?." Tanya Rendra tiba-tiba.
"Oy? Sejak kapan Lu di sini?." Tanya Andi pada Rendra.
"Sejak kalian bahas Dini." Jawab Rendra lempeng yang hanya di balas anggukkan.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1