Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus duapuluh enam


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


AKU MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™.


******************************


-


-


"Ayo semua nya waktu ujian sebentar lagi akan selesai!." Seru semua pengawas di setiap ruangan memperingat kan.


Siswa siswi yang belum menyelesai kan beberapa soal kelimpungan mendengar peringatan sang pengawas.


"Ok! Ujian akan berakhir dalam hitungan 3... 2... 1... selesai dan kirim kan." Ucap Pengawas.


'Tring... ring... ring... .' Kalimat terakhir sang pengawas tepat bersamaan dengan bunyi bel tanda ujian selesai.


Satu kelas bersama an mengirim jawaban dari ujian nya.


'Semoga ngga mengecewakan ya Allah.' Doa para siswa siswi dalam hati.


"Kita berdoa dulu sebelum keluar ruangan, mari berdoa menurut kepercayaan masing-masing, berdoa... mulai." Intruksi sang pengawas.


Satu ruangan memejam kan mata sambil menunduk kan kepala.


3 menit kemudian.


"Selesai!." Seru Pengawas.


"Udah boleh keluar kah Pak?." Tanya salah satu siswa.


"Jangan dulu, saya mau cek apa sudah terkirim semua atau belum." Kata Pengawas.


10 menit mereka tinggal di dalam ruangan, pukul 10.50 baru mereka boleh keluar kelas.


7 serangkai bertemu di kantin dan duduk di bangku favorite.


"Huhuhu... ." Queen drama muncul, siapa kah dia?.


"Lo kenapa Fah?." Tanya Tika.


"Takut ngga memuas kan nilai nya." Ujar Akifa, yah Queen drama adalah Akifa๐Ÿ˜‚.


"Optimis Fah, jangan pesimis, ngga baik." Peringat Zarine.


"Kuy lah kita pulang terus belajar buat ujian besok." Ajak Alfi.


Mereka pun beranjak dari tempat duduk.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Pukul 11.00 7 serangkai telah tiba di rumah masing-masing.


"Assallammu'allaikum?." Salam Rafka Zarine.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Bunda yang keluar dari arah dapur.


Rafka Zarine mencium punggung tangan Bunda.


"Bunda kapan sampai nya? Kata nya habis dari Mall sama Kak Raina ya?." Tanya Zarine.


"Bunda nyampe baru 20 menit yang lalu kira-kira, iya tadi Bunda dari Mall sama Raina." Jawab Bunda.


"Ayo masuk dan mandi, ouh iya ujian nya tadi gimana? Lancar kan? Susah ngga?." Bunda bertanya beruntun sambil menggandeng lengan Zarine.


"Ujian nya alhamdulillah lancar Bun, jangan tanya susah ngga nya, sampe pusing kita hitung angka." Keluh Zarine.


"Mata pelajaran nya Matematika?." Tebak Bunda.


"Iya Bun, rasa mau pecah mikir rumus-rumus nya." Jelas Zarine.


"Tapi bisa ke jawab semua kan soal nya?." Tanya Bunda lagi.


"Alhamdulillah bisa Bun." Kompak Rafka Zarine berucap.


"Udah soal nilai pasrah kan aja sama Allah dan para dewan Guru, inti nya kalian udah berusaha dan berdoa, usaha ngga akan mengkhianati hasil." Petuah Bunda kepada anak menantu nya ini.


"Hmmm... Bunda bener, kalo gitu kita berdua pamit dulu yah Bun, mau mandi, bentar lagi dzuhur nih." Pamit Zarine yang dia angguki Bunda.


2 sejoli ini pun pergi ke kamar sementara mereka yang ada di lantai bawah.


Sebelum masuk kamar, Bunda berteriak pada mereka.


"Kalo mau belajar makan siang dulu Yah Za? Raf?." Perintah Bunda.


"Siiap Bun, habis sholat nanti kita makan." Balas Rafka.


Pukul 12.30 siang, Rafka dan Zarine mulai belajar untyk ujian besok di ruang tamu rumah nya.


"Assallammu'allaikum." Ucao salam dari Abhi Alfi, Akifa Abdiel, Tika, dan Raina.


"Wa'allaikum sallam, masuk aja." Seru Rafka menyahut.


Mereka masuk dan langsung duduk di ruang tamu tanpa di persilah kan oleh tuan rumah.


"Tiba-tiba duduk, emang Yang punya rumah udah nyuruh?." Celutuk Abdiel menegur Abhi.


"Lo juga tiba-tiba duduk, dasar Bambang ngga sadar diri!." Alfi menyerang Abdiel.


Abdiel hanya nyengir kuda sampai gigi putih rapi nya tampak, Alfi Abhi memutar bola mata malas karena melihat kekonyolan Abdiel.


"Kalian rajin banget kalo ada ujian belajar." Puji Kak Raina.


"Kita takut nilai anjlok Kak, kan ngga bagus tuh." Kata Zarine.


"Hahaha... itu bagus, seharus nya emang kaya kalian gini, belajar." Kak Raina berbicara sambil tertawa pelan.


"Emang jaman Kak Raina dulu gimana? Ngga belajar pas ujian?." Tanya Tika to the point dan tepat sasaran.


"Ya ngga mungkin lah Kak Raina ngga belajar." Akifa tak mempercayai.


"Kamu salah Fah, aku dulu dari ujian SD, SMP sampe SMA, ngga pernah yang nama nya belajar." Jawab Raina.


"Hah?! Ngga pernah belajar?! Terus nilai UN nya gimana dong?!." Tanya Zarine, Akifa, Tika bersamaan dalam mode suara pelan.


"Kalo belajar waktu jaman ku dulu tuh pake SKS." Raina berteka teki.


"SKS?." Beo Abdiel.


"He em SKS, Sistem Kebut Semalam, hahahaha... ." Tawa Raina pecah.


7 serangkai ikut tertawa pelan mendengar cerita Kak Raina.


"Terus nilai nya gimana Kak?." Tanya Zarine.


"Alhamdulillah nilai nya tertinggi, dulu tuh, Aku, Shita, Rendra, Andi sama Panji wakty jaman sekolah, jauh dari kata displin." Kata Kak Raina.


"Kakak sering bolos?." Tebak Tika.


"He em, dan besok nya pas sekolah, kita di jemur di bawah kibaran sang saka merah putih, eh! Kalian belajar aja sana jangan aku ngga mau cerita lagi, jadi ngerumpi kalo gini." Kak Raina menghenti kan cerita nya.


"Yah... ayo dong Kak cerita lagi, belajar nya tiru cara Kakak aja SKS." Zarine meminta Raina lanjut bercerita.


"Udah belajar sana, nanti kalo selesai baru kita cerita panjang lebar lagi." Kak Raina mengatakan itu sambil tersenyum.


7 serangkai mengangguk kan kepala dan mulai belajar berkutat dengan lembar soal.


"Bunda mana Za?." Tanya Kak Raina sambil pandangan mengarah pada pintu masuk ruang santai.


"Ada di kamar nya, beliau tadi pergi sama Kakak ya?." Ujar Zarine.


"Iya, aku suntuk di rumah, jadi ajak Bunda jalan-jalan." Jelas Raina.


Zarine mengangguk kan kepala paham.


Suasana hening di ruang tamu rumah Rafka Zarine ini.


"Hoam!." Akifa menguap lebar.


"Di tutupin Yang kalo nguap." Tegur Abdiel.


"Maaf, aduhhh suntuk banget... bosen belajar mulu." Dengus Akifa.


"Terus? Kita ujian besok, kalo ngga belajar, bisa-bisa runtuh nilai kita." Kata Alfi dengan nada bicara datar nya.


"Hiks!." Akifa mulai akting.


"Hehehe... gini deh, aku ambilin camilan dari lemari nya Zarine dulu, kalian duduk sini diam-diam." Kata Raina.


"Lah? Kok dari lemari nya Zarine? Aku pikir dari rumah Kakak." Ucap Alfi.

__ADS_1


"Kejauhan Al, hahaha... ." Tawa Kak Raina terdengar.


"Iya deh Kak silah kan ambil aja." Zarine mempersilah kan Kakak Ipar nya untuk masuk ke dalam dapur nya.


Raina berjalan meninggal kan ruang tamu.


"Guys? Kita pindah kuy." Ajak Tika pada 6 orang yang duduk di depan nya ini.


"Pindah? Kemana? Kenapa pindah?." Tanya Akifa.


"Bosen tau kalo belajar di ruangan terus, ayo kita pindah ke teras." Tunjuk Tika pada depan rumah Rafka Zarine.


Rafka Zarine saling menatap melempar pandang.


Suami Zarine itu kemudian mengangguk samar lalu dia tersenyum tipis, Zarine paham akan tatapan Rafka yang berarti menyetujui ajak kan Tika Kakak Ipar nya.


"Aku ambil karpet-." Perkataan Zarine terpotong.


"Ngga! Biar aku aja, kalian tunggu di depa aja." Rafka menyela ucapan Zarine.


Zarine pasrah dan meng iya kan permintaan Rafka.


Rafka berdiri dari duduk dan berjalan meninggal kan ruang tamu, Zarine serta lain nya berkemas dan menuju teras depan.


"Loh?! Hei? Kalian mau kemana? Belajar nya udah?." Tanya Kak Raina yang muncul sambil membawa nampan berisi minuman dan camilan.


"Kita mau pidah ke teras Kak, ayo ikut sekalian." Ajak Tika.


"Sini Kak Aku bantu in." Tawar Zarine, dia menitip kan alat belajar nya dan Rafka pada Akifa.


"Nitip yah Fah, hihi." Zarine berbicara sambil nyengir kuda, yang di balas dengan muka konyol ala Akifa.


"Kamu bawa toples camila nya aja." Kata Raina menyerah kan benda nya.


"Ayo kita ke teras, kenapa pada ngumpul di sini?." Celutuk Rafka, Zarine dan lain nya mengekori Rafka menuju teras.


Karpet di gelar oleh Rafka di bantu Abdiel dan Abhi.


Setelah selesai, para wanita yang pertama menduduk kan bokong nya di sana๐Ÿ˜‚.


"Aduyyy Ya Allah, enak banget." Abdiel membaring kan tubuh nya sambil meregang kan otot-otot nya yang kaku karena kelamaan duduk di ruang tamu tadi.


"Tunggu! Kalian cewek nya, jangan ngerjain soal dulu, kita ambil kan meja dulu biar kalian ngga nunduk belajar nya." Kata Rafka.


"Ok kita tunggu." Ujar Akifa.


"Bhi? Diel? Bantu Gua kuy." Pinta Rafka.


"OTW." Seru Abdiel, kalo Abhi tanpa berbicara dia berdiri dan mengekor pada Rafka untuk mengambil meja ruang tamu.


3 menit kemudian meja pun datang, belajar kembali di laksana kan.


Karena tak ada teman mengobrol, Kak Raina memutus kan berbaring sambil main handphone.


"Bosen yah Kak?." Tanya Akifa tanpa menolah pada Kak Raina.


"Buanget bosen nya." Jawab Kak Raina.


"Ya udah lah tunggu in aja sampai kita selesai." Imbuh Alfi.


"Kita jalan yuk habis belajar." Ajak Tika.


"Kemana?." Tanya Zarine dan Akifa kompak.


"Ngga usah kemana-mana, tiduran aja di sini, ngga liat noh cuaca nya lagi terik." Tegas Rafka menjawab.


"Huuuuu... ." Alfi, Akifa, Tika menyoraki Rafka, tapi yang di soraki diam acuh tak peduli.


Raina dan Zarine terkekeh pelan dengan tingkah 3 wanita ini.


"Suntuk tau Raf ada di rumah mulu." Abdiel membantu para wanita berbicara.


"Orang hamil muda ngga boleh banyak gerak, kalo kecapek an bisa membahaya kan Baby nya." Info Rafka.


"Hmmm... Rafka bener." Setuju Raina.


"Ish ini juga, plin plan! Tadi ngajak jalan, eh sekarang malah benerin omongan si Rafka." Akifa jengkel.


"Hahaha... maaf-maaf, gini deh, kita ngga ke kantor nya Bang Rafa kuy." Antuasias Raina.


"Ngapain? Ngacau kantor nya?." Ucap Alfi asal.


Raina tersenyum penuh arti menatap 7 serangkai bergantian.


"Ayo kita ke sana." Setuju Rafka.


"Huhuyyy Gua ikut!!." Seru Akifa bahagia.


"Dah cepet selesai kan belajar nya." Perintah Raina.


7 serangkai pun mengerjakan soal dengan semangat 45.


"Alhamdulillah ya Allah!." Ujar Akifa lega.


"Ayo berangkat sekarang." Ajak Tika.


"Semangat banget?." Tanya Raina.


"Siapa tau di sana nanti ada Kak Zaidan, jadi kita bisa ngacau dia juga, hehehe... ." Cengir jahil Tika terbit dengan indah nya.


"Kita bersihin teras dulu, habis itu berangka." Intruksi Rafka.


Tak membutuh kan waktu lama untuk membersih kan teras, karena di kerja kan oleh 8 orang.


Pukul 14.10 menit mereka meluncur ke kantor Bang Rafa.


Di tengah perjalanan para wanita rempong meminta jajanan di pinggir jalan.


Baru lah pukul 14.35 mereka sampai di kantor suami Kak Raina itu.


"Jadi inget si pelakor Gua kalo berkunjung ke gedung ini kaya gini." Cetus Akifa.


"Ouh si 'G'?." Tanya Tika menyebut kan inisial.


"Ha a, gimana ya kabar nya sekarang?." Penasaran Alfi.


"Kak Zaidan aku tanya dia malah ngga jawab, dan bilang 'Ngga usah ngurusin dia, ngga penting!' gitu kata nya." Jelas Tika dengan meniru kan suara dingin Bamg Idan saat itu.


"Kalo menurut Lo sendiri gimana? Dia hidup damai ngga?." Tanya Abdiel.


8 orang ini berbicang sambil berjalan ke dalam gedung.


"Kalo menurut aku... dia ngga bahagia." Jawab yakin Tika.


"Alsana nya?." Tanya Zarine.


"Kata Kak Zaidan, dia terbiasa hidup bergelimang harta, sekarang kan karir dia ancur, orang tau nya juga bangkrut, kemungkinan dia hidup susah." Panjang Tika menjelas kan.


"Pending dulu cakap-cakap nya, kita ke resepsionis dulu tanya pimpinan mereka ada ngga." Rafka menghenti kan obrolan para perempuan.


"Permisi Mbak." Sapa Rafka dengan nada datar tapi sopan.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?." Tanya sang resepsiaonis tak kalah sopan.


"Pak Rafa nya ada ngga Mbak?." Tanya Kak Raina.


Sang resepsionis tak langsung menjawab, dia meneliti Kak Raina yang berdiri di depan nya.


"Anda... Nona Rainala istri nya Pak Rafa kan?." Tebak nya.


"Hehehe... iya, Mbak nya masih inget aja sama saya." Senyum lebar Kak Raina muncul.


'Istri Boss sendiri masa ngga kenal sih.' Begitu lah batin sang resepsionis.


Tanpa mendapat pertanyaan aneh-aneh lain nya, Kak Raina dan rombongan nya di perboleh kan menuju ke ruangan Bang Idan.


Mereka menaiki lift khusu presdir.


"Gimana ya reaksi Bang Rafa liat kita grebek kantor nya." Akifa membayang kan eskpresi pening Bang Rafa.


"Pasti lucu banget, hahaha... ." Tawa Tika pelan.


Tak membutuh kan waktu lama, mereka pun sampai di pintu ruangan Bang Idan.


"Kita kagetin dia." Bisik Kaka Raina pelan.


"Hmm... ayo." Setuju Akifa.


"Satu... dua... tiga... assallammu'allaikum Bang Rafa?!." Seru 8 orang itu menggema ke seluruh ruangan Bang Idan.


"Astagfirullah hal adzim... ." Bang Idan beristighfar panjang.


"Adoyy... kalian tuh ngagetin aja! Untung ngga jantungan aing." Sungut Bang Rafa.


"Hahaha... emang Bang Rafa punya riwayat penyakit jantung kah?." Tanya Tika dengan tawa nya.


"Datang-datang bukan nya cium tangan malah ngata-ngata in, sini cium tangan!." Seru Bang Rafa.


8 orang itu pun menghampiri Bang Rafa dan Bang Idan lalu mecium punggung tangan mereka.


"Ada angin apa nih?." Tanya Bang Rafa.


"Kita mau memporak poranda kan kantor Lu." Jawab Rafka asal.


'Pluk!.' Bantal sofa yang ada di punggung Bang Rafa melayang ke arah Rafka, siapa lagi pelaku nya kalau bukan Bang Rafa.


"Becanda Gua Bang... elah sensi amat." Kata Rafka sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


"Kalian ada apa kemari?." Tanya sekali lagi, kini Bang Idan yang bertanya.


"Kita pengen main, di rumah gabut, habis belajar suntuk." Jawab Tika jujur.


"Terus itu bawa apa?." Tanya Bang Rafa, pandangan nya tepat mengarah ke kantong plastik yang di letak kan di meja depan sofa.


"Nih, para cewek-cewek yang minta." Tunjuk Abdiel pada para wanita.


"Siapa yang bakal habisin macam makanan itu kalo kalian ngga habis?." Tanya Bang Rafa.


"Kalian kan ada." Enteng Akifa berucap.


Para pria menepuk dahi nya pelan sambil menggelang kan kepala pelan.


Jam terus berputar, hari sudah berganti sore, 5 keluarga junior pulang bersama.


Sampai di kediaman Rafka Zarine.


"Kita makan malem bareng kuy di rumah Gua." Ajak Bang Idan.


"Iya deh nanti ba'da maghrib kita ke ngumpul." Setuju Rafka.


Dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


Malam pun tiba, sesuai janji tadi sore, makan malam di adakan di rumah Bang Idan.


Tak ada yang istimewa, makan malam di lakukan seperti biasa nya, mereka berkumpul sampai pada jam 20.00 malam, setelah itu semua orang pulang dan mengistirahat kan tubuh untuk menyambut esok hari yang kembali melanjut kan aktivitas.


*************


Qiroah subuh terdengar indah melantun di masjid.


"Engh." Tika melenguh sambil meregang kan otot-otot nya.


"Yang? Bangun, kamu coba in gih test pack nya." Antusias Bang Idan.


"Liat kondisi dong Yang... aku belum sadar sepenuh nya tau, nyawa ku masih setengah ini." Keluh Tika dengan saura serak khas orang bangun tidur.


"Ngga ada waktu Yang." Seru Bang Idan.


Tika pun bangun, tangan nya sudah di genggam kan alat uji kehamilan oleh suami nya yang tak sabaran itu.


Dengan mata berat, Tika berjalan ke kamar mandi, untuk mencuci muka dan menggunakan test pack nya.


Di kediaman Bang Rafa.


Raina menampung air seni nya dalam wadah bening dan mencelup kan test pack ke dalam nya.


Dia menunggu nya dan tiba-tiba dia merasa pinggang nya di peluk oleh seseorang, dan siapa lagi kalo bukan Bang Rafa sang suami.


"Jangan di tunggu in, nanti aja pas udah sholat subuh kita liat bareng, dan inget Yang, apa pun hasil nya nanti kita harus terima, Allah pasti ngasih kita keturunan kok, kalo ngga sekarang, mungkin aja bulan depan, atau bulan-bulan berikut nya, kita harus positif thinking dan terus semangat." Bang Rafa mengeluar kan kata-kata bijak nya pada sang istri.


"Hmmm... kamu bener." Raina mengangguk kan kepala setuju akan perkataan suami nya ini.


Adzan subuh berkumandang, seluruh umat islam menunai kan ibadah sholat subuh, ada yang di masjid, ada juga yang di rumah.


Pukul 05.00 pagi.


"Gih Yang, pergi ambil test pack nya." Suruh Bang Rafa antusias.


"Ok ok bentar." Kata Kak Raina.


3 menit kemudian Kak Raina.


"Gimana hasil nya?." Sergap Bang Rafa.


Raina memasang wajah lesu, dia duduk di sebelah Bang Rafa sambil menunduk kan kepala dalam.


"Yang?." Panggil Bang Rafa.


'Hiks... hiks... .' Raina menangis dan langsung memeluk Bang Rafa erat.


Bang Rafa melihat test pack di tangan sang istri.


"Alhandulillah ya allah!." Seru Bang Rafa bahagia.


"Aku hamil Yang!." Pekik Raina senang.


Air mata bahagia terus berlinang di mata Raina, sang suami hanya menitih kan air mata.


Merek berpelukan dengan sangat erat.


"Ayo kita ke dokter Lexa nanti." Ajak Bang Rafa yang di angguki Raina.


Kita ke kediaman Bang Idan Tika.


Tika keluar kamar mandi dengan wajah datar bak triplek.


"Hasil nya apa Yang?." Tanya Bang Idan.


"Coba deh tebak." Misterius Tika.


"Yang? Please jangan bikin aku penasaran ih." Kesal Bang Idan.


Tika terkekeh, lalu dia menghambur kan tubuh nya ke peluk kan Bang Idan.


"Dua garis merah." Jawab Tika dengan berbisik tepat di telinga suami tercinta nya.


"Ka... kamu... kamu... ngga bohong kan?." Gagap Bang Idan meminta jawaban.


"Aku ngga bohong, aku beneran, liat deh ini." Tunjuk Tika pada test pack nya.


"Dua garis merah." Gumam nya bahagia, Bang Idan memeluk Tika kembali dan menghujani wajah nya dengan kecupan bertubi-tubi.


"Ngga usah ujian deh Yang, kita ke dokter Lexa hari ini." Kata Bang Idan.


"Ngga bisa gitu dong Yang... ini ujian terakhir ku, saat-saat terakhir aku ke sekolah, please yah kita ke dokter nya pas ujian aku selesai aja." Pinta Tika sambil memasang wajah memelas.


"Huhhhh... kenapa bisa pas gini sih waktu nya!." Frustasi Bang Idan.


"Udah, ngga papa, in syaa allah aku jum'at udah selesai, nanti hari itu aku ijin dan akan pergi ke dokter sama kamu." Ucap Tika.


"Iya deh aku ikut keputusan kamu." Putus Bang Idan.


"Kamu tenang aja aku bakal baik-baik aja, Rafka, Abdiel, Abhi pasti jagain aku." Kata Tika menenang kan suami nya.


"Pengen deh rasa nya balik ke masa SMA." Cetus Bang Idan tiba-tiba.


"Pengen balik pas pertama kenal Gisell yah?." Tebak Tika sambil terkekeh pelan.


'Ck! Apa an sih Yang, ngga ada hubungan nya tau!." Jengkel Bamg Idan.


"Yang? Jawab jujur, gimana kabar nye sekarang?." Tanya Tika serius.


"Dia kerja di clup malam jadi sugar baby nya pemilik tuh clup." Jawab jujur Bang Idan yang sebenar nya dia sangat mualas mencerita kan si biang masalah itu.


"Kasian banget." Iba Tika.


"Ngapain kasian? Dia tuh perusak rumah tangga orang." Sungut Bang Idan.


"Itu kan masa lalu, kalo aku minta kamu balikin karier nya kamu-." Tika tak dapat melanjut kan ucapan nya karena bibir nya telat di bungkam dengan bibir Bang Idan.


"Jangan meminta hal aneh! Dia itu jadi model karena sifat licik nya dan murahan nya, bukan karena kecerdasan nya sendiri, dia sukses karena menjual tubuh." Dingin Bang Idan berucap.


Tika yang mendengar nya hanya bisa menghela nafas panjang.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung dulu ya guys๐Ÿ˜.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung๐Ÿ˜ข๐Ÿ™.


Maaf kalo garing๐Ÿ˜ข๐Ÿ™.


Maaf typo di mana-mana๐Ÿ™๐Ÿ˜ข.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan๐Ÿ˜ข.


Maaf gantung cerita nya๐Ÿ˜‚.


Di lanjut besok ya readers๐Ÿ˜‚.


Jangan marah karena di gantung yak guys๐Ÿ˜‚.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya๐Ÿ˜Š.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa๐Ÿ˜.


__ADS_2