Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Thirty-seven


__ADS_3

Di SMA Merdeka.


Seluruh siswa siswi sibuk belajar dikelas.


Mendengarkan penjelasan dari Bapak Ibu Guru, serta mengerjakan tugas yang beliau berikan.


Di kelas 12 IPS 1.


Di sana sedang gaduh karena Pak Andi memberikan lembar kertas pelajaran Matematika untuk latihan try out.


"Ayo, satu siswa, satu soal, kerjakan di papan tulis kalo ngga ada yang mau maju, saya akan tunjuk sesuai nomer absen." Ujar Pak Andi.


"Haduhhhhhhh." Keluh semua siswa.


"Pak ini soalnya ngga ada yang lebih gampangan lagi emang?." Tanya Abdiel ngaco.


"Mau yang gampang?." Tanya Pak Andi dengan lembut juga dibarengi dengan senyum manisnya.


"Iya Pak kalo ada." Jawab 1 kelas kompak.


"Ada... sana di sekolah dasar kelas 1, kalian turun kelas aja semua, balik ke SD!." Seru Pak Andi dengan ketus dan melototkan matanya.


"Kalian ini calonnya mahasiswa dan mahasiswi, masa pelajaran matematika minta yang mudah?!, soal yang kalian pegang itu menurut Bapak sudah sangat mudah, kalian jangan ada yang protes, segera kerjakan, saya harap selesai hari ini." Panjang lebar Pak Andi.


"Pak, dikerjakan di kertas saja ya, ngga usah di papan tulis, bolah ya?." Pinta Akifa.


"Ya sudah, tapi hari ini harus selesai, 45 soal hari ini harus selesai." Tegas Pak Andi.


"Siap laksanakan Pak." Jawab 1 kelas.


"Kalau sudah kumpulkan ke ketua kelas, lalu storkan ke saya di ruangan." Sambung Pak Andi.


"Ouh iya hari ini Bu Sarita tidak masuk karena anaknya sakit, kalian bisa pergunakan waktu pelajaran Bu Sarita untuk mengerjakan try out itu." Beri tahu Pak Andi.


"Baik Pak." Jawab seluruh murid.


Kemudian Pak Andi pergi keluar kelas karena jam mengajarnya telah usai.


"Pantesan aja harus selesai hari ini, Bu Sarita ngga masuk." Gerutu Alfi.


"Dah jangan bawel, kuy kerjain biara cepet selesai." Kata Akifa.


Seluruh murid kelas 12 IPS 1 sibuk dengan lembar soalnya masing-masing.


Tiba-tiba dari arah samping Rafka, seseorang memanggil.


"Hei, kalian bisa bantu soal nomer ini ngga?." Tanya Kania.


"Soal nomer berapa?." Tanya Akifa.


"Liat soal 15." Ucap Kania.


"Ouh ini, bentar ya." Kata Zarine.


"Yang? Tuker tempatnya dong." Pinta Zarine.


Rafka mengangguk lalu tukar tempat duduk dengan Zarine.


Zarine mulai mengajari rumus nomer 15 yang ditanyakan Kania padanya dan lainnya tadi.


Kania, si murid baru yang di curigai oleh Akifa dab Alfi akan menggantikan posisi Sari yang terobsesi oleh Rafka ternyata itu hanya kekhawatiran tak beralasan saja.


Kania sudah punya pacar yang tak lain adalah Ketua Osis di SMA Merdeka, dia bernama Bintang Mahesa anak 12 IPA 1.


6 serangkai khususnya Akifa, Alfi, dan Zarine berteman baik dengan Kania.


Walaupun tidak terlalu Akrab, tapi mereka saling membantu satu sama lain.


Seperti saat ini, Kania membutuhkan Zarine.


Dan Zarine membantu Kania dengan tulus ikhlas.


"Gimana? Paham kan?." Tanya Zarine yang telah selesai menjelaskan rumus pada Kania.


"Hmmmm, udah paham, makasih ya Za, maaf merepotkan." Ucap Kania.


"Sama-sama, ngga ngerepotin kok Kania." Jawab Zarine.


"Aku balik dulu deh, makasih sekali lagi Za." Pamit Kania.


"Iya, sama-sama." Jawab Zarine.


Kania kembali ke bangkunya sendiri dan Zarine kembali fokus dengan soalnya.


Hingga... .


'Ring... ring... ring... .' Bel istirahat berbunyi.


"Alhamdulillah." Ucap syukur 6 serangkai bersamaan.


"Kita kumpulin soal dulu aja deh, Diel tolong." Kata Rafka.


"Guys?!, udah belum soal kalian?." Tanya Abdiel yang suaranya menggema diseluruh kelas.


"Yang udah selesai kumpulin ke Rafka semua." Pinta Akifa.


Mereka semua satu kelas mengumpulkan soalnya pada Rafka.


Sebelum di berikan ke Pak Andi di ruanganya.


Rafka menghitung satu persatu soalnya agar tidak ada yang terlewat.


"Udah lengkap?." Tanya Zarine.


"Udah, ayo lekas ngumpulin." Ajak Rafka.


6 serangkai pun pergi ke ruangan Pak Andi untuk mengumpulkan tugas.


Setelah setelah selesai bari mereka beranjak ke kantin.


Di kantin.


Seperti biasa 6 serangkai duduk di bangku pojok kantin.


Makan sambil bercanda dan tertawa bersama karena tingkah absurd Abdiel Akifa, pasangan terkonyol.


Berdebat hanya karena makanan dan berakhir dengan makan saling suap-suapan.


Seperti itulah hubungan mereka semua.


Romantis dengan caranya masing-masing.


Apalagi sekarang ujian kehidupan mereka sudah normal.


Tak ada lagi teror meneror atau sebagainya.


Pelaku sudah tertangkap dengan polisi sedang yang satunya mendekam di ruangan serba hijau dan selalu melamun.


6 serangkai tidak pernah merasa dendam pada 2 orang yang berkerja sama untuk menghancurkan Zarine.


Mereka memaafkan perbuatan mereka dan berdoa agar mereka sadar bahwa cinta yang benar cinta adalah yang ikhlas untuk melepaskan dan membiarkannya hidup bahagia dengan pilihannya.


-


-


Pukul 15.30 SMA Merdeka semua muridnya sudah meninggalkan sekolah untuk pulang kerumah masing-masing.


Seperti 6 serangkai sekarang.


Mereka sedang ada di parkiran.


"Guys? Kita kepantai kuy." Ajak Akifa.


"Ngapain?." Tanya Abdiel.


"Jualan martabak manis disana." Jawab asal Akifa.

__ADS_1


"Liat sunset Diel, Lo kayak kagak tau aja kebiasaan 3 perempuan ini kalau kepamtai." Jelas Abhi dengan menunjuk kearah Alfi, Akifa, dan Zarine.


"Hehehe, kuylah." Cengir Abdiel dengan menarik lembut tangan Akifa untuk masuk ke dalam mobil dan meluncur ke pantai.


Rafka dan Abhi juga melakukan hal yang sama.


Setelah memgendarai mobil cukup lama.


Mereka semua sampai di pantai.


Akifa, Alfi, dan Zarine sudah seperti anak balita, berbinar senang melihat pantai.


"Gua ragu kalo dia umur 18 tahun." Celutuk Abdiel.


"Hahahaha, udah deh biarin aja mereka seneng-seneng." Kata Abhi.


Rafka, Abhi, dan Abdiel duduk di atas pasir.


Kadaan mereka ber 6 masih berseragam, mereka tau bahwa itu tidak baik, tapi ya sudahlah, toh nanti juga di cuci.


"Raf? Di rumah Lo ada ART berapa?." Tanya Abdiel tiba-tiba.


"Ada... berapa ya? Entah Gua ngga ngitung, sekitaran 2 kali kalo ngga 3." Jawab Rafka.


"Kenapa Lo tanya ART?." Tanya Abhi.


"Ngga papa cuma tanya aja, Gua mau cerita nih ama kalian berdua." Pinta Abdiel.


"Pa an?." Tanya Rafka tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Zarine.


"Di rumah Gua, Mama Gua kasih Gua 3 ART, salah satu di antara mereka umurnya sama kaya Bang Rafa, cantik sih, tapi jujur Gua ngga nyaman, dia kaya gimana gitu kalo liatin Gua." Panjang lebar Abdiel bercerita.


"Gua kaya ngerasa dia... Gua ngga ke-PD an yak, tapi Gua ngerasa dia itu... ." Perkataan Abdiel menggantung, ragu untuk mengatakan.


"Suka atau tertarik gitu sama Lo?." Tebak Abhi.


"Iya, tatapan dia ke Akifa kalo bareng ama Gua juga aneh, kaya benci gitu, pernah Gua denger dia bohong ama Akifa, dan lebih parahnya dia gosipin Gua ke 2 ART lainnya." Jelas Abdiel.


"Lo obrolin aja sama si Akifa Diel, atau Lo langsung pulangin dia ke rumah Mama Lo terus minta penggantinya." Saran Rafka.


"Gua langsung pulangin aja deh, kalo soal cerita ini semua Gua ngga janji, Gua takut bikin Akifa marah dan sedih." Kata Abdiel.


"Kalo Lo diem aja, Akifa bakal berpikiran Lo bohong." Sahut Rafka.


"Iya juga sih." Jawab Abdiel.


Setelah pembicaraan selesai mereka diam memandang pantai.


Waktu sudah menunjukkan sudah petang.


Suasana di pantai sangat damai.


Ombak-ombak kecil.


Burung-burung berkicau.


Serta matahari jingga yang hampir tenggelam.


Rafka, Abhi, dan Abdiel berdiri dari duduknya lalu menghampiri istri masing-masing.


'Grep.'


Mereka bertiga memeluk istri mereka dari belakang.


Zarine, Alfi, dan Akifa yang sedang fokus dengan sunsetnya terkejut dengan kelakuan suami mereka.


Tapi setelah itu mereka menikmati sunset dengan tenang.


Setelah melihat sunset, mereka ke toko baju terdekat.


Membersihkan diri ke kamar mandi lalu sholat maghrib di masjid.


Setelah sholat mereka pergi makan di dekat pantai.


Selesai makan barulah mereka meluncur pulang ke rumah.


Adzan isya' berkumandang.


Di rumah Abdiel.


"Yang? Kamu duluan aja ke kamarnya, aku ada urusan sama Mbak Ranti sebentar." Kata Abdiel.


"Ok, segera nyusul nanti." Pinta Akifa.


"Iya." Jawab singkat Abdiel.


Akifa naik ke lantai 2 letak kamarnya dan Abdiel.


Setelah memastikan Akifa sudah naik, Abdiel pergi ke dapur mencari keberadaan Ranti, ART yang membuat Abdiel tidak nyaman di rumahnya sendiri.


"Mbak Ranti? Bisa kita bicara?." Pinta Abdiel yang melihat Ranti sedang membuat mie instan di dapur.


"Ouh Mas Abdiel? Iya silahkan, Mas Abdiel mau ngomong apa?." Tanya Ranti dengan suara dibuat manja, tapi sayangnya bukan manis ditelinga Abdiel malah menjadi geli mendengarnya.


"Mbak Ranti bisa ikut saya sebentar?." Pinta Abdiel.


"Kemana Mas?." Tanya Ranti.


"Nanti Mbak Tau, Mbak tunggu didepan aja, saya ke Bi Leha sebentar." Kata Abdiel.


Ranti berbinar senang mendengar dia akan pergi dengan Abdiel walau entah kemana tujuannya.


Abdiel mencari Bi Leha.


"Bi Leha? Tolongin saya, tolong beresin semua baju-baju Mbak Ranti dikamarnya." Pinta Abdiel.


"Lah emangnya Mbak Ranti mau kemana Mas?." Tanya Bi Leha.


"Udah, tolongin aja ya Bi." Mohon Abdiel.


Bi Leha menurut.


15 menit menunggu Bi Leha kembali dengan tas besar berisi pakaian Mbak Ranti.


"Bibi tolong bawa in kedepan lewat belakang ya, jangan sampe ketahuan sama Mbak Rantinya, nanti saya bukakan bagasi dan Bi Leha letak kan di situ tasnya, paham?." Tanya Abdiel.


"Iya Mas." Jawab Bi Leha.


Abdiel dan Bi Leha menjalankan rencana yang dibuat Abdiel tadi.


"Kita mau kemana Mas?." Tanya Mbak Ranti.


"Mbak Ranti duduk yang manis aja, saya ngga akan bawa Mbak Ranti ketempat yang salah." Kata Abdiel.


"Salahpun juga saya ikhlas Mas." Jawab Mbak Ranti ambigu.


'Dih, agresif banget nih Mbak-mbak.' Batin Abdiel.


Kemudian Abdiel hanya tersenyum canggung sambil menyalakan mobilnya dan meluncur pergi dari rumah.


5 menit kepergian Abdiel, Akifa mencarinya.


Dia berpapasan dengan Bi Leha.


"Bi Leha? Liat Abdiel ngga?." Tanya Akifa.


"Baru aja Mas Abdiel pergi sama Ranti Mbak." Jawab Bi Leha.


"Mau kemana mereka malam-malan begini?." Tanya Akifa pelan.


"Bibi permisi dulu Mbak." Pamita Bi Leha.


"Iya Bi." Jawab Akifa.


"Tunggu dia sampe pulang deh, nanti Gua tanya dia." Kata Akifa yang kembali menaiki tangga dan masuk kamar.


Suasana di mobil Abdiel sunyi, sepi, dan canggung.

__ADS_1


Abdiel yang fokus kejalan, sedangkan Ranti, dia mencuri pandang pada Abdiel.


Lalu mobil berhenti.


"Ayo Mbak turun, kita sudah sampe." Ajak Abdiel.


Saat Ranti turun, dia terkejut.


'Inikan rumahnya Bu Farah Mamanya Mas Abdiel, ouh mungkin Mas Abdiel pengen bilang ke orang taunya kalo dia suka sama aku, terus mau nikah sama aku.' Batin Ranti GR.


Dia membatin seperti itu karena menyalah artikan kebaikan Abdiel, dia mengira Andiel menyukainya karena sering membawakan martabak atau makanan lainnya, padahal Abdiel membawa makanan itu bukan hanya 1 tapi 3 untuk masing-masing ART lainnya juga.


'Ting... tong... .' Abdiel memencet bel dirumah Mama Papanya.


'Ceklek.' Pintu terbuka.


"Mas Abdiel? Silahkan masuk Mas." Sapa Bi Laras ART Mamanya.


Abdiel tersenyum lalu masuk di ikuti Ranti dari belakang.


"Assallammu'allaikuk Ma Pa." Salam Abdiel.


"Wa'allaikum sallam, Abdiel? Kamu ngapain kesini malam-malam? Mana Akifa?." Tanya Mama beruntun.


Abdiel menyalami Mama Papanya dan kemudian duduk disebelah Mamanya tak menjawab pertanyaan Mamanya.


Abdiel mendekat kearah Mamanya dan berbisik di telinga beliau.


Dia menjelaskan tentang kepentingannya datang kerumah Mamanya malam-malam begini.


"Terus kamu maunya siapa?." Tanya Mama setelah Abdiel berhenti berbisik.


Mendengar pertanyaan ambigu dari Ibu majikannya, Ranti tersengum malu.


Dia berpikir bahwa, Abdiel sedang mengatakan bahwa dia menyukai Ranti, dan Mamanya bertanya Abdiel mau yang mana untuk dijadikan istri selamanya.


"Bi Laras?!." Panggil Mama Abdiel.


"Iya Bu?." Tanya Bi Laras setelah datang dengan berlari tergopoh-gopoh.


"Bi Laras, beresin semua baju-bajunya Bibi." Pinta Mama Abdiel.


Bi Laras diam mematung.


"Apa saya dipecat Bu?." Tanya Bi Laras sedih.


"Engga, udah sekarang Bi Laras turutin kata saya." Suruh Mama Abdiel.


"Desi?!." Panggil Mama Abdiel pada ART satu lagi.


"Iya Bu?." Jawab Desi yang sudah menghadap di hadapan Mama Abdiel sang majikan.


"Mbak Desi, ambilin barang yang ada dibagasi saya ya, ini kunci mobilnya." Pinta Abdiel dengan menyerahkan kunci mobil pada Desi.


Desi mengangguk patuh lalu segera mengerjakan tugas.


Dari arah dapur, Bi Laras datang dengan tas besar ditangannya.


"Bi Laras ngga usah takut saya pecat, saya ngga akan melakukan itu, sekarang Bi Laras ikut Abdiel pulang, Abdiel minta Bi Laras untuk bekerja di rumahnya." Jelas Mama Abdiel.


"Alhamdulillah, saya kira Ibu pecat saya." Lega Bi Laras.


"Ya ngga lah Bi Laras, ngapain di pecat, Bi Laras kerjanya bagus kok di pecat sih." Kata Mama Abdiel.


"Dan Kamu Ranti, kamu pindah kesini menggantikan posisi Bi Laras." Tegas Mama Abdiel.


Ranti diam terkejut.


Semua yang dia bayangkan ternyata tak sesuai dengan kenyataannya.


Desi yang baru masuk berdiri disamping Abdiel.


"Berikan tasnya ke Mbak Ranti." Pinta Abdiel.


"Ya udah, Abdiel pulang Ma Pa, makasih waktunya, maaf malam-malam ganggu." Ucap Abdiel.


"Iya, udah sana, istri kamu kasian nunggu in." Kata Mama Abdiel dengan menenkan kata 'istri' untuk menyindir Ranti.


Yang di sindir hanya diam mematung dengan wajah tertunduk.


"Ayo Bi Laras." Ajak Abdiel.


Sebelum pergi, Abdiel memberikan uang pada Ranti.


"Mbak Ranti, makasih udah mau kerja sama saya, maafkan semua keluakuan saya yang kurang berkenan di hati Mbak, ini uang gaji bulan ini milik Mbak, saya juga sudah kasih bonusnya, saya pergi dulu." Pamit Abdiel.


"Assallammu'allaikum." Salam Abdiel dan Bi Laras bersamaan.


"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang.


Abdiel pulang kerumahnya dengan Bi Laras.


Di rumah Mama Abdiel.


"Desi, kamu ajak Ranti masuk dan tunjukkan kamarnya." Pinta Mama Abdiel.


"Baik Bu." Jawab Desi.


Ranti menurut dan ikut masuk kedalam setelah itu istirahat.


Di ruang santai, Mama menceritakan semua yang Abdiel ceritakan padanya.


Di rumah Abdiel Akifa.


Disana, Abdiel mempersilahkan Bi Laras untuk masuk dan memberitahu letak kamarnya untuk beliau istirahat.


Setelah itu Abdiel naik ke kamarnya.


"Kamu dari mana?." Tanya Akifa yang belum tidur dan sedang nonton TV di sofa kamar.


"Habis nuker ART dari rumah Mama." Jawab Abdiel.


"Nuker ART?." Tanya heran Akifa.


"Entar aja ya aku ceritanya, aku mandi dulu dan sholay isya' setelah itu baru cerita." Kata Abdiel yang diangguki Akifa.


30 menit kemudian Abdiel sudah selesai dengan kegiatannya.


"Jadi?." Tanya Akifa setelah Abdiel duduk di sebelahnya.


Abdiel menceritakan segelanya tanpa ada ditutup-tutup i.


"Kamu ngga marah kan?." Tanya Abdiel.


"Engga, aku sebenernya udah ngerasin hal yang sama sejak dia dateng, pandangan matanya ke kamu itu beda banget." Jelas Akifa.


"Udah yaaa, dengerin aku Yang, aku itu punya kamu dan selamanya jadi milik kamu, paham?." Kata Abdiel.


"Iya, aku paham." Jawab Akifa, lalu dia menelusupkan wajahnya di dada bidang Abdiel dan unyel-unyel gemas.


Pukul 9 malam Akifa dan Abdiel naik ke ranjang dan tidur.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2