
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Iya Kak kita ber 3 mau lomba basket antar sekolah, kapan waktu nya itu terlaksana kan beberapa hari lagi, kita akan latihan rutin di sekolah setiap istirahat dan sepulang sekolah." Jelas Albhi dengan informasi yang amat sangat detail terinci.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Hmmm gitu, lomba nya di mana?." Tanya Kak Rain ingin tahu.
"Di SMA Citra Bangsa Kak, kenapa? Kak Rain mau lihat kah?." Tanya Kristal sambil tersenyum manis.
"Boleh emang?." Tanya balik Kak Rain.
"Boleh lah Kak, kenapa engga? Kalo Kakak mau lihat pasti boleh, entar Kak Rain duduk di dekat kita biar ngga di tanya-tanyain sama orang." Kata Wulan menjawab.
"Hahhaa... sayang nya Kakak banyak kerjaan, kalo di tinggal terus gaji Kak Rain di potong lantaran sering bolos gimana?." Cetus Kak Rain dengan tertawa renyah nya.
"Yahhhh... ." Lesu Wulan dan Kristal kecewa.
"Agnez kan ada... dia lebih seru dari pada ngajak Kakak." Kak Rain menunjuk gadis manis yang tengah tertidur nyenyak di peluk kan hangat milik Angkasa.
"Iya sih seru, tapi kan kalo lengkap lebih lebih lebih seru lagi." Ujar Kristal membuka suara yang di angguki setuju oleh Wulan juga para pria muda dalam mobil yang melaju membelah jalan malam hari ini.
"Maaf adek-adek, Kak Rain harus kerja." Ucap Kak Rain sekali lagi.
Kristal dan Wulan memasang wajah sedih.
"Emmm... ngomong-ngomong kenapa Pamungkas ngga ikut lomba?." Tanya Kak Rain ingin tau.
"... ." Semua orang diam tak menjawab pertanyaan Kak Rain.
Bukan tak mau, tapi bingung mau jawab apa, Pamungkas sudah meng kode agar mulut para gadis dan para pria tak bicara.
__ADS_1
Mereka yang paham kode itu pun hanya mengangguk pelan, sangat pelan bahkan seperti tak terlihat.
"Hei? Kalian kenapa pada diem? Jawab dong." Desak Kak Rain pada semua orang di dalam mobil ini.
Semua nya masih diam tak mau bicara.
"Wulan? Kristal? Angkasa? Albhi? Damar? Kenapa diam? Kalian ada masalah kah?." Tanya Kak Rain serius.
"Percuma di sembunyi in, pasti bakal tau cepat atau lambat." Cetus Damar membuka suara.
"Sembunyi in apa nih?." Tanya Kak Rain menyipit kan mata nya menatap semua orang dalam mobil satu per satu.
"Pamungkas ngga ikut lomba karena tadi habis kena lemparan bola basket kenceng banget Kak, sampe yah sedikit memar gitu." Jawab jujur Albhi akhir nya.
"Hah?! Kok bisa sih?! Emang pas datang nya bola kamu ngga minggir Kas?!." Tanya Kak Rain dengan suara sedikit berteriak.
Untung Kak Rain masih sadar kalau Agnez tertidur di dalam mobil, jika dia tak ingat sudah di pasti kan suara Kak Rain akan lebih nyaring dari ini.
Pamungkas hanya mampu menghela nafas lelah mendengar pertanyaan Kak Rain.
"Tadi kita semua reflek Kak, ngga sempet menghindar, ya jadi gitu deh, kena deh lengan Pamungkas." Cetus Damar panjang lebar kali tinggi.
"Terus sekarang? Lengan kamu ngga papa kan Kas?." Tanya Kak Rain khawatir.
"Tenang aja Kak, berondong Kakak yang satu ini kuat kok orang nya, tahan banting!." Seru Wulan sambil menepuk pundak Pamungkas cukup keras.
"... ." Kak Rain yang mendengar Wulan menyebut Pamungkas sebagai berondong nya tersenyum malu.
Pipi nya memerah sampai ke telinga nya yang putih.
"Udah di obatin? Bunda sama lain nya tau ngga?." Tanya Kak Rain masih di landa ke cemasan.
"Dia ngga ngobatin Kak Rain, ngga bilang juga sama Bunda juga lain nya." Sahut Kristal sambil mengacak rambut Pamungkas kasar.
'Haduh! Pada gacor semua!.' Dengus Pamungkas dalam hati.
"Sampai rumah nanti Kak Rain obatin!." Tegas Kak Rain berucap tanpa menatap ke arah Pamungkas yang duduk di sebelah nya.
Suasana dalam mobil setelah pembicaraan itu hening tak ada suara.
Di kursi penumpang ternyata Wulan dan Kristal tertidur.
Beberapa menit berlalu mobil sampai di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka, mereka memasuk kan mobil ke dalam garasi dan menggendong gadis masing-masing masuk ke dalam rumah.
Hanya Angkasa, Albhi, dan Damar yang menggendong gadis nya, karena memang 3 gadis itu tertidur pulas di dalam mobil tadi.
Melihat keromantisan para pria menggendong gadis masing-masing, pandangan Pamungkas teralih kan pada Kak Rain dan berkata... .
"Kak Rain tidur aja gih nanti aku gendong kaya mereka." Suruh Pamungkas sedikit memaksa.
"Lah? Aku kan ngga ngantuk Kas? Ya ngga bisa lah kalo di suruh tidur, lagian kan aku musti obatin lengan kamu dulu baru nanti tidur." Kata Kak Rain.
Di dalam rumah lebih tepat nya di ruang santai, Mommy Za dan Daddy Rafka masih belum tidur, 2 orang paruh baya itu menatap kedatangan anak-anak nya dengan senang dan juga gelengan kepala tak habis pikir.
"Langsung bawa ke kamar masing-masing yah boy's." Pinta Mommy Za yang di ikuti oleh beliau untuk membuka kan pintu kamar para gadis agar para cowok ini ngga ke susahan membuka pintu kamar.
__ADS_1
Jika para pria menggendong para gadis ke dalam kamar untuk menidur kan mereka di ranjang masing-masing, beda dengan Kak Rain dan Pamungkas.
Kak Rain menyeret Pamungkas ke arah dapur, bermaksud mengompres lengan kanan Pamungkas yang kata nya memar tadi.
Saat melewati Daddy Rafka, Pamungkas dan Kak Rain menunduk kan kepala nya secara bersaman bermaksud berpamitan.
"Mau ke mana kalian berdua?." Tanya Daddy Rafka sambil menaik kan ke dua alis nya ke atas.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1