Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus tujuhpuluh tujuh


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU


MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Iya, biar Rafka Zarine yang nganterin kita, kita minta doa nya aja para tetuah untuk keselamatan di transportasi nanti." Ujar Bamg Idan menolak di antar.


Para tetuah menghela nafas pasrah lalu mengangguk kan kepala meng iya kan.


Tika dan Bang Idan berpamitan pada Mama Papa dan juga lain nya.


"Tika di sana jangan bikin Bang Idan repot yah, kurangin manja nya, harus bisa mandiri, kalian ke sana ngga lagi liburan saol nya." Nasihat Mama Tika berbisik di telinga anak semata wayang nya ini.


"Iya Ma, in syaa allah Tika akan melakukan apa yang Mama sampai kan." Balas Tika dengan menyeka setitik air mata yang keluar dari pelupuk mata indah nya itu.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Ayo berangkat." Ajak Bang Idan pada sang istri.


"Banyak-banyak baca doa Bang saat ada di pesawat Bang." Pesan Mama pada anak menantu nya itu.


"Hati-hati jalan ke bandara nya, ngga usah ngebut, kalo ketinggalan pesawat besok aja pergi nya." Kata Bunda malah membuat semua orang tertawa pelan.


"Bunda ada-ada aja." Cetus Zarine di tengah kesedihan nya.


"Kalo ngga ada Bunda ilang dong?." Imbuh Bunda dengan ikut tertawa pelan.


"Ya udah kami berangkat nganter mereka ke bandara dulu ya semua nya." Pamit Rafka pada para tetuah.


"Iya." Balas para tetuah singkat.


"Assallammu'allaikum." Salam Rafka Zarine dan lain nya kompak.


"Wa'allaikum sallam." Jawab para tetuah tak kalah kompak.


Rafka Zarine memilih mobil keluarga untuk di guna kan mengantar Bang Idan Tika ke bandara.


Di dalam mobil.


"Sampai sama jam berapa nih nanti?." Tanya Abdiel pada Bang Idan.


"Ngga tau, pasti malem, atau bisa juga tengah malem waktu sana." Ujar Bang Idan yang tak adapat memprediksi.


Percakapan berlangsung hingga sampai di perkiran bandara.


Sesampai nya di bandara, 4 keluarga kecil itu masuk ke bandara menemani Bang Idan Tika.


"Ini udah jam 7.45 menit, bentar lagi kalian berangkat." Kata Abhi dengan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya.


"Dah, kalian sampe sini aja nganter kita, nanti pulang nya hati-hati." Pesan Bang Idan pada 6 serangkai.


Zarine, Akifa, Alfi, Tika berpeluk kan erat tak mau berpisah satu sama lain.


3 menit kemudian peluk kan baru terlepas. Zarine, Akifa, Alfi berdiri di dekat suami masing-masing dan membiar kan Tika pergi.


"Bye girl's, kita berangkat dulu." Pamit Tika sambil melambaikan tangan nya.


6 serangkai ikut melambai kan tangan nya dengan tersenyum dan tentu saja air mata ikut berjatuhan.


Setelah Bang Idan dan Tika menghilang dari pandangan, isak kan dari Zarine, Akifa, Alfi terdengar sedikit kencang, para suami menarik istri-istri mereka dalam dekapan hangat dan nyaman nya untuk menyembunyi kan suara isak tangis mereka.


"Mereka ngga lama, pasti bakal pulang balik ke sini, sabat ok, kalo bukan untuk kerjaan mereka ngga akan berangkat." Rafka mencoba memberi pengertian pada istri nya Zarine.


5 menit kemudian tangis 3 wanita itu usai.


Mereka pun memutus kan pulang ke rumah.


Di perjalanan tak ada percapakan sama sekali di mobil, para wanita memandang ke luar dengan pikiran melayang entah kemana.


Rafka, Abhi, Abdiel saling pandang dan kemudian para suami itu menghembus kan nafas lelah nya.


"Belok ke Cafe aja." Bisik Abhi pada Rafka yang kini tengah mengendali kan kemudi.


Rafka mengangguk meng iya kan dan tak jadi pulang ke rumah.


Sebelum nya Rafka menghubungi para tetuah agar tak mencari mereka.


Akifa yang sadar bahwa ini bukan arah jalan pulang dia bertanya.


"Ini mau kemana?." Tanya Akifa membuka suara.


"Ke Cafe." Jawab lembut Abdiel pada sang istri tercinta.


"Aku telepon Sari yah." Pinta Akifa yang di angguki Abdiel.

__ADS_1


Akifa merogoh sling bag nya mencari benda pipih persegi panjang di sana.


Setelah menemu kan nya, Akifa segera menelepon Sari.


'Tut... tut... tut... .' Panggilan tersambung.


2 menit kemudian.


"Halo assallammu'allaikum, ada apa Fah?." Tanya Sari di seberang sana.


"Wa'allaikum sallam, ada di mana Sar?." Tanya Akifa. Dia menspeaker panggilan agar Zarine dan Alfi dengar.


"Ada di rumah, ada apa? Ouh iya Apa Tika udah berangkat?." Tanya Sari di seberang sana.


"Iya Tika udah berangkat, kita baru aja nganterin ke bandara." Cetus Zarin menjawab.


"Aku ngga bisa ke sana tadi, aku baru aja dateng dari Bandung sama Kak Roy, aku kemarin udah bilang maaf juga sama Tika karena ngga nganter ke bandara." Jelas Sari panjang di seberang sana.


"Hmmm... Tika juga udah bilang soal itu sama kita semua, ngga masalah deh ngga nganter ke bandara, doa in aja mereka selamat sampai tujuan." Ujar Alfi pada Sari.


"Pasti, ini... kenapa kalian telepon?." Tanya Sari penasaran.


"Kita ada di jalan mau ke Cafe, mau ikut ngga?." Ungkap Akifa.


"Loh? Bukan nya Cafe nya buka jam 5 sore, terus kita ngapain ke sana?." Tanya Sari.


"Main-main aja, ngobrol di sana." Tutur Zarine menjelas kan.


"Aku-." Belum selesai Sari menyahuti omongan Zarine, suara Kak Roy terdengar.


"Kita OTW, tunggu aja." Kata Kak Roy singkat.


"Tumben ngijinin?." Tanya Alfi heran.


"Aku lagi mahamin perasaan kalian yang di tinggal Tika sama Raina." Jawab Kak Roy gamblang.


"Wah, apa Indonesia bakal turun salju? Ada angin apa ini? Seorang Roy peduli pada perasaan kami?." Tanya Alfi mencibir.


"Diem Lu! Udah tutup! Gua ama Sari mau berankat, jangan PHP Lu pada yak, awas aja kalo pas kita nyampe kalian ngga ada." Ancam Roy dengan suara bas nya.


"Iya cerewet, ini kita udah dekat ama Cafe." Kata Alfi.


"Ya udah aku tutup dulu panggilan ini ya Fa, Za, Fi, kita mau OTW." Pamit Sari.


"Iya, hati-hati perjalanan ke sini nya, ngga usah ngebut pasti kita tunggu in kok, assallammu'allaikum." Salam Zarine dan 5 orang lain nya.


"Iya, wa'allaikum sallam." Jawab Sari dan Roy bersamaan.


6 serangkai masuk ke dalam Cafe.


"Sepi banget, kaya rumah hantu, assallammu'allaikum." Salam Zarine saat memasuki Cafe.


"Kita duduk sini aja deh." Ajak Abdiel yang mendarat kan bokong nya di sofa yang letak nya di ujung ruangan.


Akifa dan lain nya mengikuti Abdiel duduk di sana.


Beberapa menit menunggu ke datangan Roy Sari, yang di tunggu pun muncul dengan mengucap salam.


"Wa'allaikum sallam." Jawab 6 serangkai bersamaan.


"Hai girl's." Sapa Sari.


"Hai hai, sini." Ajak Zarine pada Sari agar duduk di sebelah nya.


Sari dan Roy duduk.


Karena ramadhan mereka berkumpul hanya bercakap-cakap saja di sofa Cafe itu.


Waktu terus berlalu. Perkumpulan di Cafe itu di akhiri pukul 1 siang ba'da dzuhur.


6 serangkai dengan Sari dan Roy pulang ke kediaman masing-masing.


Tiba di rumah Rafka Zarine.


6 serangkai duduk di sofa ruang santai dengan memejam kan mata nya.


"Ini kenapa rumah sepi banget?." Tanya Akifa sambil celinguk kan mencari keberadaan para tetuah.


"Ada di kamar nya masing-masing kali, atau kalo engga di taman belakang." Ujar Abdiel menjawan sang istri.


"Kita cari yuk, aku males mau balik kamar, ngga ngantuk." Cetus Zarine yang langsung di angguki Akifa Alfi.


"Ck! Mending kita bobo siang di kamar." Abhi memberi saran.


"Bener tuh, kita bobo siang sambil peluk-." Belum selesau Abdiel berbicara Akifa sudah memotong.


"Engga! Kalo kalian mau bobo, ya udah pergi aja sana sendiri!." Usir Akifa yang di angguki Zarine juga Alfi.


3 wanita itu kemudian melenggang pergi tak lagi menghirau kan para pria.


"Duh! Mata Gua minta tidur, ngga bisa di ajak kompromi nih ibu hamil." Gerutu Abdiel sambil mengacak rambut nya.


"Ngga ada cara lain." Gumam Abhi yang masih di dengar Abdiel dan Rafka.


"Lo mau apa?." Tanya Rafka.


"Gendong istri kalian masing-masing kurung dalam kamar." Ide yang keluar dari kepala Abhi.


Abdiel dan Rafka saling pandang.


"Mau tidur susah nya udah kaya nunggu ayam jantan bertekur yah." Ujar Abdiel lesu.


Dan... Hap!.


"Kalian apa an sih?!." Jerit para wanita kompak.


"Kerja sama ya sayang, kita beneran cape ayo tidur, nanti ba'da ashar ayo pergi ngabuburit." Janji Rafka.

__ADS_1


"Janji?." Tanya Zarine dengan jari kelingking nya mengarah oada Rafka.


"In syaa allah." Balas Rafka singkat.


Sampai di kamar masing-masing para pria itu menurun kan istri-istri mereka dengan sangat lembut dan hati-hati.


Di kamar Rafka Zarine.


Rafka berbaring di sebelah sang istri dengan memeluk pinggang ramping nya tak lupa menenggelam kan kepala istri nya itu ke dada bidang nya seperti biasa saat akan berangkat tidur.


Tapi... .


Ke adaan seperti nya terbalik di sini, yang biasa nya hanya dalam waktu 5 menit Zarine sudah tidur, kini hanya dalam kurun waktu 3 menit Rafka yang tertidur meninggal kan Zarine yang masih terjaga.


"Ck! Cepet banget molor nya, aku aja kalo tidur masih butuh waktu 5 menit, ini baru 3 menit langsung molor." Monolog Zarine lirih.


Zarine hendak keluar dari peluk kan Rafka, baru satu gerak kan, Rafka sudah mengetahui gerak kan nya.


"Jangan kemana-mana, udah tidur sini aja." Kata Rafka dengan suara berat karena kantuk.


Zarine menghela nafas panjang dan pasrah. Dia berusaha memejam kan mata nya ikut Rafka ke dunia mimpi.


Tapi hasil nya... .


Nihil! Zarine tak bisa tidur dan malah asik menatap raut muka polos Rafka yang tidur dengan lelap di deoan nya ini.


Di otak Zarine tiba-tiba muncul ide menjahili sang suami. Tapi melihat sang suami sangat lelah dalam tidur nya, Zarine mengurung kan nya dan hanya mengelus wajah tampan Rafka.


'Rahang tegas, hidung mancung, bibir tipis pink alami, kulit putih, uh, wanita mana coba yang ngga bakal tergila-gils sama kamu, apa lagi bentar lagi kamu bakal jadi Daddy, duh makin hot deh kamu hawa liat nya.' Batin Zarine menelusuri wajah tampan sang suami.


'Makin ngga ikhlas aku deh aku jadi nya kalo kamu pergi kuliah, aku harap hati kamu ngga penrah berpaling dari aku Raf, aku ngga bayangin kalo itu semua sampai terjadi, harus kah aku ngalah? Atau harus kah aku berjuang? Aku berdoa semoga Allah selalu menyatu kan kita, baik di dunia mau pun di akhirat.' Panjang Zarine mambatin.


Zarine memeluk Rafka dan suami Zarine itu membelas nya.


"Ngga usah over thinking." Bisik Rafka di sela tidur nya, pasal nya dia tadi dia terbangun saat Zarine membelai wajah nya dan dia juga merasa bahwa Zarine tengah menatap nya dalam yang dapat di pasti kan Rafka kalau istri nya ini tengah melamun kan suatu hal yang tak penting.


"Kamu bangun atau tidur sih Yang?." Tanya Zarine di sela-sela peluk kan nya.


"Tidur, terus kamu pegang-pegang wajah aku jadi bangun deh." Jawab Rafka dengan masih memejam kan mata nya.


"Maaf udah ganggu, tidur lagi gih." Ucap Zarine sambil menepuk-nepuk punggung suami tercinta seperti menidur kan anak Zarine melakukan nya dengan lembut.


"Yang?." Panggil Rafka.


"Hm?." Sahut Zarine dengan malas karena dia sekarang di landa kantuk.


"Tetep percaya sama aku, apa pun orang kata kan tentang aku jangan pernah mudah terpengaruh, dengerin penjelasan aku baru kamu boleh berasumsi." Tegas Rafka berucap walau dalam kondisi mata terpejam.


Zarine membalas perkataan Rafka dengan megerat kan peluk kan nya pada sang suami.


Waktu berputar dengan seharus nya.


Jam sudah menunjuk kan pukul 17.30 sore.


Para tetuah laki-laki dan 6 serangkai tengah duduk di meja makan menunggu hidangan di selingi percakapan.


"Sekarang formasi nya balik kaya dulu yah, kembali menjadi 6 serangkai." Ujar Papa Rafka sambil melihat Rafka Zarine, Akifa Abdiel, Abhi Alfi.


"Ck! Papa jangan gitu dong, kita sedih tau kehilangan personil." Kata Zarine dengan muka cemberut.


"Dan yah bentar lagi kita para tetuah pergi ke Jerman juga perjalanan bisnis." Imbuh Papa Abdiel.


"Kalo di wakilin ngga boleh emamg Pa? Kita aja deh yang pergi." Tawa Abdiel pada Papa Tercinta.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


B E R S A M B U N G . . .


Lanjut besok ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2