Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seventeen


__ADS_3

Pukul 01.30 Rafka Zarine bangun untuk sholat malam.


Dan tepat pukul 03.00 mereka sahur bersama dengan menonton TV.


Lalu pukul 04.00 adzan subuh berkumandang.


Rafka bersiap untuk berjamaah dimasjid dibantu sang istri tercinta Zarine.


Sinar mentari mulai menampakkan sinarnya malu-malu.


Rafka Zarine bersiap untuk segera kerumah Mama Papa Rafka.


Mereka berencana menginap disana sampai tanggal masuk sekolah.


Zarine mengepak banyak pakaiannya juga punya suaminya yang dibutuhkan selama disana dan pakaian yang dibawa sebesar ransel ukuran besar.


'Ring ring.' Suara notifikasi dari ponsel Rafka.


Rafka mengambil ponselnya yang tergeletak diranjang dan mengecek pesan dari siapa kah tadi itu.


"Yang? Bunda Ayah sama, sama orang tua Abdiel dan lainnya kumpul dirumah, dan sekarang lagi nunggu kita dirumah." Beri tau Rafka pada sang istri.


"Wah rame dong rumah?!." Tanya Zarine antusias.


"Ya udah yuk kita berangkat!." Seru Zarine dengan menarik tangan sang suami dan juga menggendong tas ransel dengan sebelah pundaknya.


Rafka tercengang melihat ransel besar yang bertengger manis dipundak istrinya itu.


"Yang? Kamu yakin bawa baju sebanyak itu?." Tanya Rafka dengan menatap istrinya.


"Kita disana kan kurang lebih sebulan, ya dibawa aja yang ada dilemari, tapi ngga semua kok Yang, suer." Kata Zarine dengan menbentuk jarinya berbentuk huruf V.


"Tapi disana juga kan, ada baju juga?." Kata Rafka mengingatkan.


"Ouh iya ya?, terus gimana? ini udah terlanjur aku masukin keransel." Kata Zarine dengan diakhiri cengiran tanpa dosanya.


Rafka hanya terkekeh pelan melihat tingkah gemas sang istri.


"Ya udah ayo berangkat, bawa aja udah ngga papa, sini in itu ranselnya, jangan bawa barang berat nanti kamu tambah pendek loh." Celutuk Rafka dengan kekehan khasnya yang dibalas muka cemberut lucu oleh Zarine.


"Tinggi 160 tuh ngga pendek Yang, kamunya aja yang ketinggian." Sanggah Zarine dengan terkekeh


"Hahahaha, iya deh iya, aku yang ketinggian, yok berangkat." Ajak Rafka dengan menggandeng tangan Zarine keluar kamar dan keluar apart lalu menuju basemant apartemen, kemudian mereka meluncur kerumah orang tua Rafka.


25 menit perjalanan.


Sepasang suami istri muda ini sampai ditempat tujuan.


"Assallammu'allaikum!." Seru Rafka langsung masuk tanpa memencet bel karena pintu terbuka lebar.


Tadi saat memasuki halaman rumah, Rafka melihat mobil orang tua sahabat-sahabatnya berjajar rapi.


'Sepertinya para orang tua Abdiel dan yang lain datang dari tadi pagi.' Batin Rafka tadi.


"Wa'allaikum sallam!." Jawab semua orang didalam rumah.


"Nah ini nih yang ditunggu!." Seru Mama Abdiel.


Rafka Zarine membalas dengan senyuman,


Lalu mereka mencium punggung tangan para orang tua dan berjabat tangan ala sahabat kepada para yang muda (Abdiel, Akifa, Alfi, dan Abhi.)


Zarine dan Rafka duduk terpisah.


Sebelumnya Zarien sudah meminta ijin pada Rafka untuk duduk disebelah Bunda dan Rafka memgijinkan.


Rafka sendiri duduk disamping Mamanya.


"Udah lengkap kan ini?." Tanya Papa Abdiel yang diangguki semuanya.


"Ada apa sih Tar? Kayanya penting banget." Tanya Papa Rafka penasaran.


"Gini, kemarin malam... Abdiel resmi ngelamar Akifa-." Perkataan Papa Akifa dipotong oleh para sahabatnya.


"Alhamdulillahhh, selamat untuk dua keluarga, semoga lancar sampe pelaminan." Kata orang tua Rafka, Zarine, Abhi, dan Alfi dan anak-anaknya.


Karena merasa sepertinya pembicaraan mengarah kehal serius, Rafka dan lainnya pamit pergi ketaman belakang untuk menikmati suasana disana, dan para orang tua mengijinkan.


Setelah kepergian para remaja itu, para orang tua pun melanjutkan pembicaraan serius mereka.

__ADS_1


"Aamiin makasih semuanya, aku dengan Nibras juga sudah berunding malam kemarin, bahwa kita memutuskan mereka nikahnya bulan Juni tanggal 14, aku juga mau meminta tolong pada kalian semuanya yang ada diruangan ini untuk ikut membantu." Jelas panjang lebar Papa Akifa.


"Nikahnya dilokasi saat Rafka Zarine nikah dulu, ngga mewah dan ngga ada resepsi juga, karena yang penting 'sah' aja dulu." Sambung Papa Abdiel.


"Emmm, menurut kalian, apakah rencana kita sudah benar?." Kata Papa Akifa meminta pendapat para sahabatnya.


"Ya itu sudah benar, resepsi itu bisa diadakan kapan saja, yang penting 'sah' aja dulu." Kata Ayah Zarine yang diangguki lainnya.


Ditaman belakang, Abdiel dan Akifa menjadi bahan godaan Rafka, Zarine, Alfi, dan Abhi.


"GerCep juga Lo Diel, perasaan masih hari jum'at kemarin Lo ngelamar Akifa peka berlutut dilapangan, ahahaha." Celutuk Rafka yang diakhiri tawanya pelan, dan disusul Abhi, Alfi, dan Zarine.


Akifa sedari tadi hanya diam, dengan menunduk menahan malu, bahkan sekarang saja pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Gini ceritanya... ." Kata Abdiel menceritakan awal mulanya.


Flashback Abdiel On.


Hari jum'at kemarin setelah lamaran yang membuat jantung Abdiel deg-deg an takut ditolak selesai.


Hari sabtu paginya Abdiel berbicara serius dengan orang tuanya.


Pagi ini orang tua Abdiel duduk ditaman belakang rumah, Mamanya sedang duduk membaca majalah, dan Papanya sedang duduk memaca koran dikursi sebelah Mamanya.


"Ehem, Ma Pa?." Panggil Abdiel dengan duduk dibawah disamping kursi Papanya.


"Iya? Ada apa Diel? Kenapa wajah kamu serius gitu? Ngga biasanya, bikin takut orang aja, ahahaha." Tanya Papa Abdiel dengan tertawa pelan dan meletakkan korannya dimeja sebelahnya.


Abdiel menarik nafas dalam lalu menghembuskan nafasnya pelan.


Papanya yang melihat itu heran.


'Ada apa dengan putra tunggalku ini? Tidak biasanya dia serius begini." Batin Papa Abdiel.


"Pa, Abdiel pengen Papa ngelamar anak tunggal Om Nibras buat Abdiel!." Pinta Abdiel tegas.


Mama Papa Abdiel mendengar pinta anak tunggalnya ini terkejut.


Anaknya yang biasanya bertingkah konyol dan tidak pernah serius, tiba-tiba saja minta dilamarkan seorang gadis?.


'Mimpi apa aku semalam melihat pemandangan ini?.' Batin Mama Papa Abdiel sama tanpa kerjasama dengan saling pandang.


"Abdiel serius Ma, Pa, 2 rius malah." Balas Abdiel dengan mengangkat 2 jarinya membentuk huruf V.


Mama Papanya masih menatap terkejut.


Tapi saat melihat pancaran keseriusan dan ketegasan pada mata Abdiel Papa Mama percaya.


"Diel denger... nikah itu ngga mudah, kamu yakin udah siap? Kalo soal nafkah, Papa ngga meragukan kamu, tapi apa mental kamu kuat? Apa kamu siap jika suatu hari kamu jadi ayah? Jadi Ayah itu ngga mudah loh Nah." Jelas Papa panjang lebar.


"In syaa allah Abdiel yakin dan mampu melewati ujian pernikahan itu Pa." Jawab Abdiel tegas dan penuh keyakinan.


Papa dan Mama saling pandang dan berpikir.


"Mama gimana? Merestui ngga kalo Abdiel sama Akifa?." Tanya Papa Nibras pada Istrinya.


"Merestui banget lah Pa, Akifa ngga ada kekurangan kalo menurut Mama mah, walau sifat sikapnya 11 12 ama Abdiel, ahahahaha." Kata Mama dengan tawa pelannya.


"Ok Diel, Papa juga merestui hubungan kalian, untuk lamaran, Hari minggu besok kita kerumah Akifa, persiapkan diri kamu biar gak down kalo ditolak, ahahaha." Tawa pecah Papa Abdeil menggoda anaknya.


"Ish, Pa! Doanya yang baik kek, jahat amat doain anak ditolak sama calon." Kesal Abdiel yang mengerucutkan bibirnya seperti Bebek.


"Udah tuh bibir jangan dimaju-majuin, udah kaya bebek aja, ahahaha." Ledek Mama dengan tawanya.


Lalu Abdiel tersenyum senang lalu berdiri dari duduknya dan berlari pelan memeluk Mamanya erat.


"Makasih Ma." Ucap Abdiel tulus dengan mengecup pipi kanan Mamanya.


"Mama aja nih, Papa engga?." Tanya Papa dengan nada cemburu.


"Iya deh iya, makasih ya Pa." Kata Abdiel tulus dengan mengeratkan pelukannya.


"Kembali kasih Nak." Balas Papanya.


Hari minggu malam, Abdiel sekeluarga datang kerumah Akifa setelah sabtu malamnya memberi kabar bahwa mereka akan main kesana.


2 keluarga makan bersama dan sholat berjamaah dimusholla rumah.


Pukul 19.15 mereka berkumpul diruang keluarga keluarga Shadeeq.

__ADS_1


Pembicaraan awalnya hanya basa basi hingga... .


"Ehem, Bras? Ada yang ingin aku sampaikan ke kamu." Kata Papa Abdiel serius.


"Ada apa nih Tar kok serius banget kayanya?." Tanya Papa Akifa panasaran.


"Diel?." Kata Papa Akhtar dengan memandang keanaknya mengisyaratkan untuk berbicara.


"Om? Kedatangan aku dan Mama Papa kesini bukan hanya untuk sekedar berkunjung... ." Kata Abdiel berhenti berbicara sejenak.


"Om Nibras Zubair Shadeeq dan Tante Chayra Rahma, aku Abdiel Justin Gilbert meminta ijin dan mohon restu untuk melamar anak tunggal Om dan Tante yang bernama Akifa Naila Shadeeq, menjadikannya istriku, ibu dari anak-anakku, dan menua bersama dalam senang maupun susah, serta bersama sampai maut yang memisahkan, apakah Om dan Tante merestuinya?." Tanya Abdiel panjang lebar dengan jantung deg-deg an takut ditolak.


Orang tua Akifa terkesiap dengan keberanian anak sahabatnya itu yang melamar secara langsung kepada mereka.


Sesaat kedua orang tua Akifa hanya saling pandang dan kemudian... .


Senyum terbit dibibir orang tua Akifa.


"Abdiel, kami merestui hubungan dan menerima lamaran kamu dengan senang hati, tapi tetap sajakan kamu harus tanya dulu sama yang bersangkutan?." Kata Papa Akifa.


Orang tua Abdiel dan Abdiel sendiri sedikit lega, tapi tidak bisa tenang.


Walau sudah melamar Akifa hari jum'at kemarin, tapi rasanya berbeda jika melamar langsung didepan kedua walinya


"Ehem, Om, Tante, sebenernya hari jum'at kemarin aku udah lamar Akifa dan dia nerima Om, cincin lamaran aku kemarin aja masih dipake itu dijari tengah kirinya, maaf sebelumnya Om, Tante." Kata Abdiel memberi tau.


"Lah? Kamu kok ngga ngomong sih sayang?." Tanya Mama Papa kepada Akifa.


"Hehehe, maaf Ma Pa." Jawab Akifa cengengesan tanpa dosa.


Mama Papa Akifa hanya geleng kepala lalu fokus pada Abdiel lagi.


"Tapi malam ini, Abdiel bakal tanya lagi sama Akifa, ehem... Akifa? Aku tanya sekali lagi sama kamu, maukah kamu jadi istri aku? Jadi bagian dari cerita hidup aku? Dan ibu dari anak-anak kita nanti?." Tanya Abdiel dengan menatap Akifa dalam tepat matanya.


Akifa menatap kedua orang tuanya untuk memantabkan hatinya, dan Mama Papa Akifa memgangguka kepala pelan.


Akifa menarik nafas dalam, lalu mulai berbicara.


"Diel, dari hari kamu tanya itu ke aku kemarin jum'at, sampai hari ini, jawabanku tetep sama, aku mau jadi istri kamu dan menerima lamaran kamu dari hati aku yang paling dalam." Kata Akifa dengan meneteskn air mata bahagia.


"Alhamdulillahhhh." Seru para orang tua.


"Hehehe, kita besanan nih Bras." Kata Papa Abdiel.


"Ya Allah! Pa?! Seserahannya masig dibagasi, emm... Chayra tolong panggil para ART mu gih ikut aku bawa sesrahannya, seserahannya masih ada dimobil, maaf ya, kita kelupaan, hehehe." Kekeh Mama Abdiel malu.


"Oh!! Astaghfirullah! Iya lupa, ahahaha, maklum aja Bras udah tua😂." Seru Papa Abdiel ikut tertawa malu.


Mama Abdiel dan para ART mengambil seserahan dimobil.


Lalu tak lama mereka kembali dan membiacarakan kelanjutan hubungan ini setelah lamaran.


Abdiel dan Akifa hanya diam ditempat, mereka canggung tapi tak terelakkan bahwa dalam hati masing-masing, mereka sangat bahagia.


Mereka juga hanya lebih banyak mendengar dari pada bicara, berbicara pun jika ditanya.


Flashback Abdiel Off.


"Bisa serius juga ternyata Lo Diel, Gua pikir sampe tua Lo konyol terus, hahaha." Tawa Alfi pelan.


"Ya kali, bujang lapuk dong Gua entar? Ahahahaha." Sahutnya dengen tertawa renyah, yang ditanggapi tawa pelan dari lainnya.


"Udah jan ketawa mulu, kram entar muka kalian." Peringat Akifa.


"Cieeee yang bentar lagi nikah." Ledek Alfi.


"Lo kapan Al?." Tanya Rafka.


"Skakmat!." Seru Akifa dan Abdiel bersamaan.


"Apaan sih kok Gua?." Tanya Alfi gelagapan tapi pipinya sudah memerah bak kepiting rebus.


"Ayo dong anak orang jan digantungin!!." Seru Abdeil mengode Abhi.


Yang dikode tak merespon, malah pura-pura sibuk dengan ponselnya.


'Ahahahaha.' Tawa pecah Abdiel sampai meneteskan air mata.


__ADS_1


__ADS_2