
Mentari pagi begitu indah di ufuk timur.
Jum'at pagi yang indah ini, SMA Merdeka sedang mangadakan senam sehat yang wajib di ikuti seluruh penghuni sekolah.
Baik para dewan guru, pengurus sekolah lainnya, serta murid.
Semuanya kompak memakai seragam olahraga sekolah.
Sekarang ini seluruh sekolah sedang ada di lapangan sepak bola.
"Ayo semua berdiri dan berbaris yang rapi!, senam akan segera dimulai." Perintah Pak Billy guru olahraga.
Semuanya berbaris dengan rapi.
Musim instrumen juga sudah dinyalakan dan Pak Billy sang instruksi juga bergerak ikut bergerak memberi contoh.
"Selesai senam kita ngapain?." Tanya Akifa dengan menggerakkan tangan dan kakinya.
"Ya pelajaran Yang." Jawab Abdiel yang berbaris tepat dibelakangnya
"Masa?." Tanya Akifa tak percaya.
"Kamu tuh lucu bat ya, kamu sendiri yang tanya, tapi setelah tau jawabannya malah ngga percaya." Kata Abdiel gemas pada sang istri.
15 menit sudah senam terlaksana.
"Siswa siswi SMA Merdeka, semua kelas hari ini free!!." Seru Pak Billy memberi tahu.
"Uwuuuuw!." Seluruh siswa siswi berteriak senang.
"Kenapa ngga di pulangin aja Pak?." Abdiel mengangkat tangan bertanya.
"Ada pengumuman dari Bapak Kepala Sekolah yang akan diumumkan oleh wali kelas masing-masing nanti sebelum pulang, jadi kalian semua ngga diperbolehkan pulang." Jelas Pak Billy panjang lebar.
"Ya sudah, kalian semua boleh bubar, silahkan melanjutkan kegiatan lagi." Sambung Pak Billy.
Pak Billy pergi dari lapangan.
Kemudian seluruh siswa dilapangan juga ikut pergi melakukan kegiatannya masing-masing.
6 serangkai masih duduk ditempat belum beranjak.
"Kita mau ngapain nih?." Tanya Zarine.
"Ke kelas?." Kata Akifa.
"Jangan deh." Tolak Abdiel.
"Diatap gimana?." Tanya Zarine.
"Panas." Tolak Rafka.
"Perpus?." Usul Alfi.
Semuanya diam berpikir.
"Ngga ada tempat lain?." Tanya Abdiel.
"Lapangan basket indoor?." Ucap Akifa.
"Ayo." Setuju Abdiel dan yang lainnya pun juga menganggukkan kepala setuju.
Mereka ber 6 berjalan ke lapangan basket indoor.
Disana suasananya sejuk, sepi, damai, dan sunyi.
Sangat cocok untuk dijadikan tempat berdiam diri, tapi kalau dijadikan tempat pertandingan seperti kemarin, lumayan lah, panasnya ngga terlalu.
Rafka, Zarine, Akifa, Abdiel, Abhi, dan Alfi duduk ditribun basket.
"Cuma duduk aja nih?." Tanya Abdiel.
"Lagi males main basket Gua." Celutuk Abhi yang diangguki Rafka.
"Ya Gua juga males." Sambung Rafka.
Abdiel pun memilih untuk merebahkan diri menggunakan paha Akifa sebagai bantal.
Dia mengeluarkan rubik dari tasnya dan mulai bermain dengan benda itu.
Suasana hening.
Rafka, Abdiel, Abhi sibuk berbaring berbantalkan paha istri mereka masing-masing.
Zarine, Akifa, dan Alfi sibuk memainkan rambut suami mereka.
Sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk lapangan seseorang mengejutkan.
"Hai? Kalian sedang apa?." Sapa Tika.
'Astaughfirullah.' Ucap mereka ber 6 bersamaan.
"Hehehe, maaf ngagetin." Kekeh Tika.
"Sini Tik ikutan duduk." Ajak Zarine dengan menepuk bangku disampingnya.
"Thanks deh, Gua kesini cuma pengen tanya sama kalian." Kata Tika.
"Tanya apa an?." Sahut Alfi.
"Siapa dokter yang ngerawat Sari? Ada dirumah sakit mana dia? Dan ruangan mana? Nomer berapa?." Panjang Lebar Tika.
"Dokter yang ngerawat Medusa namanya Dokter Hamid." Jawab Akifa.
"Dia ada di RS kejiwaan yang elit, Gua lupa namanya." Timpal Abdiel.
"Kamu kalo mau kesana tanya ke resepsionisnya aja untuk keruangan Dokter Hamid, dan beliau sendiri nanti yang akan tunjukin kamar Sari." Terang Zarine jelas.
"Saran Gua kalo Lo kesana jangan sendirian, dia sering ngamuk soanya kata dokter, jadi ngga aman kalo kesana sendiri." Kata Abhi.
"Bawa temen cowok kalo bisa Tik." Tambah Alfi.
"Apa dia kalo marah, parah?." Tanya Tika.
"Kita kemarin yang kesana dia lagi ngamuk dan disuntik penenang sama dokter." Jelas Abdiel.
Tika menutup mulutnya terkejut.
Matanya berkaca-kaca mendengar kondisi Sari.
__ADS_1
"Dia kacau dan berantakan Tik." Beri tahu Akifa.
"Apa kata dokter dia bisa sembuh?." Tanya Tika.
"Bisa, tapi itu harus dari diri Sari sendiri." Jawab Rafka.
Tika mengusap pipinya yang basah.
"Jangan sedih Tik, dia pasti sembuh, aku yakin itu." Kata Zarine.
"Aamiin." Jawab Rafka, Abhi, Abdiel, Akifa, Alfi, dan Tika bersamaan.
"Ya udah, makasih untuk infonya, in syaa allah Gua akan kesana entah kapan dan sama siapa, Gua pergi dulu, bye semua." Pamit Tika sambil berlalu dari lapangan basket.
"Kasian juga ya kalo liat si Tika." Kata Akifa.
"Ya, dia pasti sedih banget ." Sahut Zarine dengan suara bergetar.
Sontak saja, 5 pasang mata menatap kearah Zarine.
Rafka yang rebahan di paha Zarine terbangun dan langsung merengkuh tubuh Zarine dalam pelukannya.
"Hiks.. hiks, semaunya salah aku." Kata Zarine yang suaranya tenggelam di dada bidang Rafka.
"Hutsss, bukan, ini bukan salah kamu, ini salah dia sendiri, kamu hanya korban." Kata Rafka lembut menenangkan.
Akifa, Abdiel, Abhi, dan Alfi yang melihat Zarine menangis dan menyalahkan dirinya sendiri lagi, mereka memandang Zarine sedih.
Mereka ber 4 sudah tau kalau ini yang kedua kalinya karena Rafka yang bercerita.
'Khemmmmm, huuffffh.' 5 orang disana menghela nafas lelah.
"Udah Yang jangan nangis, aku udah bilangkan, di masalah ini, kamu ngga salah, sama sekali ngga salah, ini semua salah dia sendiri, stop nyalahin diri sendiri okay, kamu ngga salah." Jelas Rafka.
'Hiks... hiks... .' Suara sesenggukan masih terdengar jelas.
30 menit kemudian Zarine pun berhenti menangis.
Bersamaan dengan itu.
Bel masuk kelas berbunyi.
'Ring... ring... ring... .'
"Kita masuk cuma pengumuman doang kan?." Tanya Rafka.
"Iya." Jawab Abhi.
"Gua minta tolong ama kalian para cewek, tolong tetap disini sama Zarine, biar kita ber tiga yang masuk dengerin pengumuman itu, kalo kalian ikut masuk, kasian Zarine, dia masih belum tenang, gimana? Mau kan?." Kata Rafka.
"Lo kaya sama siapa aja si Raf, udah santai, iya kita disini, kalian masuk gih sana." Usir Akifa.
"Thanks kalo gitu, ayo masuk biar cepet pulang kita." Kata Rafka.
"Tunggu disini dulu, aku ke kelas sebentar." Pamit Rafka, Abhi, dan Abdiel pada istri masing-masing dengan mengecup kening mereka lembut.
"Assallammu'allaikum." Salam Rafka, Abhi, dan Abdiel.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Zarine, Akifa, Alfi.
3 cowok itu telah pergi dari lapangan basket.
"Suka-suka mereka dah." Kekeh Alfi.
Zarine hanya mengangkat kedua sisi bibirnya ke atas tanpa bersuara.
Alfi dan Akifa memeluk Zarine.
"Lo ngga perlu ngerasa bersalah Za, ini salah si Sari sendiri, bukan salah Lo." Kata Alfi.
"Iya, dan lagi bener kata Rafka, Lo tuh cuma korban dari sakitnya Sari, jadi ngga usah nyalahin diri sendiri ok?." Ucap Akifa.
Zarine tersenyum kearah 2 sahabatnya itu.
"Ok." Jawab singkat Zarine.
30 menit sudah para laki-laki pergi ke kelas.
"Udah setengah jam loh ini, kok mereka belum balik sih!." Keluh Akifa.
"Ya sabar Fa, meraka jalan kaki, ngga terbang, ya jadi butuh waktu." Kata Alfi.
5 kemudian.
"Ayo pulang." Ajak Abdiel.
"Apa pengumumannya?." Tanya Akifa.
"Nanti dirumah aku jelasin." Kata Abdiel.
Mereka ber 6 beranjak meninggalkan lapangan basket dan menuju ke tempat parkir untuk ambil mobil lalu mengemudikannya pulang kerumah.
-
-
-
Diruangan serba hijau yang sunyi.
Seorang gadis duduk menatap dengan tatapan kosong kedepan dan memeluk lututnya.
Rambutnya berantakan dan wajah cantiknya kacau.
"Mbak Sari? Mbak makan ya? Nih saya bawa in bubur loh buat Mbak." Kata suster yang merawat Sari, si gadis kacau dan berantakan.
Orang tua Sari melihat dari jendela kamar.
Beliau tidak mau masuk kedalam takit jika Sari mengamuk.
Karena terakhir kali orang tua Sari menjenguk dan masuk keruangan, Sari marah dan melempari orang tuanya dengan barang yang ada disekitarnya.
Tapi walau begitu, setia hari orang tua Sari mengunjungi Sari sepulang kerja atau saat berangkat kerja.
Mamanya Sari menangis sesenggukan melihat keadaan anaknya yang kacau.
"Sabar Ma, kalau kita bawa pulang makin kasihan, bukan karena Papa malu, tapi Papa takut Sari di hina oleh tetangga dan lebih parahnya Sari akan mencelakai orang." Terang Papa Sari menenagkan.
Dari arah belakang, seorang gadis mengucap salam.
"Assallammu'allaikum Tante? Om?." Sapa seorang gadis pada orang tua Sari.
__ADS_1
"Wa'allaikum sallam, Tika?." Panggil orang tua Sari.
Tika menyalami orang tua Sari sahabatnya.
Tika sampai di ruangan Sari karena diantar oleh dokter Hamid.
Beliau ada di belakang Tika.
Orang tua Sari yang melihat dokter Hamid mulai menanyakan kondisi putri mereka.
"Dok? Gimana keadaan putri kami?." Tanya Papa.
"Bapak dan Ibu harus sabar, Sari masih butuh perawatan." Jawab Dokter Hamid.
"Jika semangat sembuh dari Sari tinggi, maka tidak membutuhkan waktu lama dia akan sembuh." Sambung Dokter Hamid.
"Dia juga harus bisa hilangin sifat obsesinya kan Dok?." Tanya Mama dan Papa Sari.
"Ya, itu harus dia hilangkan juga." Jawab Dokter.
'Huufffffh.' Mama Papa Sari dan Tika menghembuskan nafas lelah.
Sibuk melihat Sari didalam yang dibujuk untuk makan.
Tiba-tiba seseorang menyapa.
"Dokter Hamid? Gimana keadaan Sari?." Tanya seseorang dari belakang Mama Papa Sari.
"Kamu siapa?." Tanya Mama Papa Sari yang menoleh kearah seseorang itu yang ternyata adalah Roy.
"Om? Tante? Assallammu'allaikum." Salam Roy.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang.
"Jawab pertanyaan kami, siapa kamu?." Tanya Orang tua Sari.
"Saya Roy Om, Tante, saya temennya Sari." Jawab Roy.
Orang tua Sari meneliti Roy dari bawah keatas.
Roy sudah tau bahwa kedua orang paruh baya ini adalah orang tua Sari dari Sari sendiri dulu saat mereka masih dekat.
Tika sudah tau siapa Roy ini, jadi dia hanya melihatnya sekilas dan kembali fokus ke Sari didalam.
Sari melihat Roy dari dalam ruangan, dia memanggilnya pelan.
"Roy?." Kata Sari.
Suster yang mendengar, menolehkan kepalanya pada jendela.
"Mbak Sari mau sama Mas itu?." Tanya suster dengan menunjuk ke arah Roy.
Sari menganggukkan kepala satu kali.
"Tunggu sebentar ya." Kata suster.
Pintu ruangan terbuka.
Suster keluar ruangan.
"Sudah selesai suapinnya?." Tanya Mama Sari.
"Mbak Sarinya tidak mau makan Bu." Beri tahu suster.
"Dia mau apa?." Tanya dokter Hamid.
"Pak Roy." Jawab suster.
"Roy?." Tanya heran kedua orang tua Sari.
Dokter mengangguk kan kepala.
"Saya permisi masuk dulu Om, Tante." Pamit Roy.
Orang tua Sari masih terdiam.
"Dokter siapakah dia?." Tanya Mama Sari.
"Pak Roy mengaku berteman dengan Mbak Sari Bu, dan setiap Mbak Sari dan Pak Roy bersama, selalu membuat Mbak Sari tenang, mau makan, bahkan mandi." Jelas Dokter Hamid.
"Mohon dilihat disana." Tunjuk dokter Hamid pada Roy dan Sari.
Roy menyuapi Sari dengan sabar.
Roy juga mengajak Sari berbicara, bercanda, juga tertawa, walaupun Sari hanya diam.
Sari hanya diam menatap kosong kearah mata Roy.
"Roy?." Panggil Sari.
"Ada apa? Kamu mau apa?." Roy.
"Udah." Kata Sari sudah tidak mau makan lagi.
Roy tersenyum lalu meletakkan buburnya dimeja nakas samping Sari.
Roy mengambilkan Sati minum dan membantunya.
Setelah selesai Sari diam lagi menatap Roy.
Roy memasang senyum manisnya, dia menata anak rambut yang berantakan didepan wajah Sari.
Sari masih setia dengan eksprsinya, diam dan tak besuara.
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1