Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Ninety-eight


__ADS_3

"Aku makin bahagia tau kamu hamil anak aku, makasih Yang, aku harap kamu ngga nyesel punya aku." Kata Rafka sembil menitih kan air mata.


"Aku ngga pernah nyesel punya kamu, aku juga bahagia banget tau kalo aku di dalam perut ku ini ada kehidupan, aku seharus nya yang makasih ke kamu." Ucap Zarine ikut menetes kan air mata.


Mereka berdua berpelukan sambil mata mengeluar kan air.


"Aku mencintai kalian bertiga" Ucap Rafka.


"Aku juga." Kata Zarine tepat di telinga Rafka.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Ok sekarang mari kita kumpul kan keluarga besar di rumah." Kata Rafka.


Rafka membuka ponsel nya dan mengirim pesan di grup keluarga yang berisi para muda-muda dan para orang tua.


^^^Rafka : 'Assallammu'allaikum siang semua.'^^^


Papa Rafka : 'Wa'allaikun sallam siang juga Raf, apa kabar?.'


^^^Rafka : 'Kabar baik Pa, Papa sama gimana? Sehat selalu kan?.'^^^


Papa Rafka : 'Iya alhamdulillah, ada apa nih Raf? Tumben?.'


^^^Rafka : 'Nanti malam Ba'da isya' kumpul di rumah Rafka ada yang mau Rafka Zarine sampe in.'^^^


Abhi : 'Abhi Alfi juga mau nyampe in sesuatu.'


Abdiel : 'Aku pun mau menyampai kan kabar.'


Mama Abhi : 'Kabar apa sih? Bikin penasaran aja.'


^^^Rafka : 'Nanti Ba'da isya' dateng aja ke rumah, kalo mau sekalian makan malam di rumah juga boleh.^^^


Mama Rafka : 'Nanti ba'da dzuhur kita ke sana deh.'


Mama Abdiel : 'Bener tuh sekalian kita nginep.'


^^^Rafka : 'Boleh deh, asal kita kumpul lengkap satu keluarga besar, karena ada hal besar juga yang akan Rafka dan Zarine sampe in.^^^


Bang Idan : 'Bikin orang yang tua-tua penasaran itu ngga baik Dek.


Bang Rafa : 'Bener tuh.'


^^^Rafka : 'Nanti juga bakal tau, ini surprise dari kami, kalo di ungkapin sekarang ngga jadi kejutan lagi dong.'^^^


Zarine : 'Semua nya harap tenang nanti juga tau😂.'


Mama Abhi : 'Ya udah bentar lagi kita OTW.'


Chat berakhir.


"Semua orang penasaran." Kata Rafka.


"Hehehe... bikin orang penasaran dosa ngga sih?." Tanya Zarine.


"Entahlah, tapi ini kan surprise, kalo di beri tahu tadi, bukan surprise lagi dong nama nya." Jelas Rafka.


Lalu tak terasa adzan dzuhur berkumandang.


Rafka Zarine segera bersiap untuk menunai kan kewajiban nya sebagai umat muslim.


Selesai sholat mereka berdua masih menatap di dalam kamar sambil duduk di atas ranjang.


"Yang? Gimana kalo kita pindah kamar." Usul Rafka.


"Buat apa?." Tanya Zarine.


"Kata Dokter Lexa kan kamu ngga boleh capek-capek, naik turun tangga juga nguras tenang loh, kan mending kita cari nempatin kamar tamu di bawah." Jelas Rafka panjang lebar.


"Iya juga sih, aku nurut apa kata kamu aja deh." Putus Zarine.


"Ok kalo gitu, dan untuk kamar Baby Twins nanti, gampang lah kita atur aja pelan-pelan, lahiran nya kan masih lama, nanti kalo usia mereka 7 bulan dalam kandungan baru kita pikirin." Kata Rafka lagi.


"Iya." Jawab singkat Zarine.


Tiba-tiba... .


'Tok... tok... tok... .' Suara pintu kamar mereka di ketuk oleh seseorang.


"Rafka? Zarine? Ayo turun saat nya makan siang, di bawah udah ada lain nya menunggu!." Seru Bunda memanggil dari luar.


"Iya bentar lagi kita keluar Bun." Jawab Rafka dari dalam tanpa membuka pintu.


"Ya udah kalo gitu Bunda turun dulu, Bunda tunggu di meja makan!." Seru beliau kembali.


"Iya Bun!." Kali ini Zarine yang menjawab.


Terdengar suara langkah kaki menjauh.


"Ayo turun." Ajak Rafka, dia mengulur kan tangan nya.


Zarine menyambut nya dan mereka berjalan beriringan keluar dari kamar.


Mereka menuruni tangga dengan hati-hati.


Sampai di meja makan.


"Assallammu'allaikum siang semua nya, apa kabar?." Salam sapa Zarine ceria.


"Wa'allaikum sallam siang juga Za, alhamdulillah kita semua sehat." Jawab semua orang yang ada di meja makan.


Rafka Zarine menyalami semua orang di sana.


Para Orang tua berkumpul lemgkap di meja makan rumah Rafka Zarine.


Tak ketinggalan juga Bang Rafa Kak Raina dan Bang Idan Tika juga hadir di meja makan ini.


"Ini kalian berdua kok ada di sini? Ngga ngantor?." Tanya Rafka yang di tujukan untuk Bang Rafa dan Bang Idan.


"Kita penasaran sama berita yang mau Lo kasih tau, kerja an udah di urus sama asisten dan sekretaris." Jelas Bang Rafa yang di angguki Bang Idan.


"Kasih tau setelah makan siang ini, kalo nunggu ba'da isya' bisa mati penasaran kita semua." Kata Mama Rafka.


"Yahhh... mending nanti aja ba'da isya'." Kata Abdiel.


"Udah liat nanti deh, sekarang ayo kita makan dulu." Putus Bunda menengahi.


Semua pun makan bersama.


Suasana meja makan hening, hanya bunyi sendok garpu yang beradu dengan piring yang terdengar.


Beberapa menit berlalu, makanan di piring masing-masing pun telah habis.


Saat nya makan hidangan penutup.


"Tinggal 2 bulan lagi kalian bakal lulus, ada yang mau kuliah di luar negeri?." Tanya Papa Rafka.


"Ngga!." Tegas dan kompak Rafka, Abdiel, dan Abhi menjawab.


"Woooho sans dong Gan, jangan seriua gitu, hahahah... ngga mau jauh dati istri ya?." Goda Bang Rafa.


"Kalian bisa bawa istri juga ke sana kalo memang itu ke inginan kalian." Kata Papa Abhi.


"Kita di sini aja Pa, Jakarta juga punya universitas terbaik kan?." Kata Abhi menolak.


"Ya udah kalo itu mau kalian kita para orang tua ikutin aja." Balas Mama menyahut.


Selesai makan semua orang beranjak dari meja makan dan memilih ber kumpul di taman belakang rumah Rafka Zarine.


7 keluarga senior (Mama Papa Tika) dan 5 keluarga junior kembali ber kumpul mencipta kan keramaian tersendiri di rumah Rafka Zarine.


Mereka semua bercanda, tertawa, juga saling melempar goda an.


Sampai lah meraka ketopik yang rencana nya akan di sampai kan malam nanti.


"Ayo dong Raf, Bhi, Diel kasih tau sekarang aja, apa surprise kalian?." Tanya Mama Rafka antusias.


"Tapi kita rencana nya mau nanti habis isya'." Tolak Rafka.


"Ke lama an sayang sekarang aja deh, ngga baik tau buat orang tua penasaran." Celutuk Mama Abhi.


6 serangkai saling pandang.


"Aduh kalian ke lama an mikir nya, udah cepet kasih tau sekarang aja!." Seru Papa Rafka gemas.


'Huuuhh.' 6 serangkai menghela nafas lelah.


"Ya udah aku mau ambil sesuatu dulu di kamar, tunggu aja di sini dengan sabar dan tenang." Kata Rafka.


"Kamu duduk aja di sini, jangan ikut naik." Pesan Rafka karena melihat Zarine ingin berdiri.


Istri Rafka ini pun menurut dan duduk kembali.


Rafka berdiri dari duduk nya lalu di ikuti oleh Abhi dan Abdiel.


"Kalian berdua juga mau kemana?." Tanya Mama Abdiel.


"Pulang bentar ambil barang." Kata Abdiel.


"Aku juga mau ambil benda di rumah." Jawab Abhi.

__ADS_1


"Ya udah cepet sana ambil." Usir Mama Abhi.


3 laki-laki itu pergi.


10 menit kemudian mereka kembali sambil membawa sesuatu di tangan kanan.


Mereka duduk dan kumpulan orang di depan mereka penasaran apa itu yang mereka bawa.


"Apa itu yang kalian bawa?." Tanya Mama Tika.


"Siapa dulu nih yang mau bilang?." Tanya Rafka.


"Udah jangan satu-satu bareng aja." Putus Papa Abdiel.


"Ok ok tunggu bentar." Kata Abhi.


Mereka mengeluar kan sesuatu dari dalam map coklat yang tadi di bawa.


"Sekarang kalian semua tutup mata dulu." Suruh Akifa.


"Ck! Ada-ada aja, ya udah deh iya tunggu." Bang Rafa sudah bersungut kesal, rupa nya sudah tidak sabar lagi yah, hahaha😂 (#AuthorGesrek).


Zarine, Akifa, dan Alfi memagang alat uji coba kehamilan.


3 cewek itu saling terkejut.


"Loh?!." Ke tiga nya kompak berseru.


"Kamu juga?!." Tanya mereka bersamaan lagi.


Para suami-suami mereka juga tak kalah terkejut nya.


"Bisa barengan yak." Ucap Abdiel.


"Oy! Udah belum nih?!." Tanya Bang Idan.


"Oh iya lupa, sekarang boleh buka." Instruksi Rafka.


9 keluarga yang ada di depan 6 serangkai ini terkejut melihat apa yang mereka lihat.


"I... ini... beneran?." Tanya Bunda masih belum percaya.


Beliau meminta test pack itu dan juga meminta foto USG di tangan Rafka.


Begitu pun dengan Mama Papa Andiel Akifa dan Mami Papi Alfi, juga Mama Papa Abhi.


"Alhamdulillah ya allah." Ucap syukur semua nya.


"Udah berapa minggu?." Tanya Mama Tika.


"Zarine 8 minggu Te." Jawab Rafka.


"Akifa baru 4 minggu." Jelas Abdiel.


"Kalo Alfi 5 minggu." Sahut Abhi.


"Alhamdulillah kalian sudah sisi." Ucap Mama Abdiel.


"Nah untuk Raina dan Tika, sabar, pasti juga bentar lagi isi, kalian kan baru nikah 1 bulan, jadi proses nya agak panjang." Bunda menghibur.


"Iya Bun/ iya Te." Jawab Raina dan Tika bersamaan.


"Kalian periksa ke dokter siapa?." Tanya Mama Rafka.


"Dokter Lexa Ma." Jawab Rafka.


"Kita juga ke sana, tapi kok ngga ketemu ya?." Heran Abdiel.


"Aku udah minta sama dokter Lexa buat rahasia in dari kalian semua." Jelas Rafka.


"Aku juga minta gitu ke beliau." Gumam Abhi.


"Pantes aja ngga ketemu, dokter Lexa yang ngatur ini semua pasti biar kita ngga ketemu di rumah sakit." Kata Abdiel menjawab.


"Pasti dokter Lexa kewalahan tuh, hahaha😂." Tawa pecah Bang Rafa.


"Kalian kalo nanti istri masing-masing hamil jangan bikin pusing dokter Lexa yah, kasian." Pesan Mama Rafka.


Lalu secara tidak sengaja pandangan Zarine tertuju ke arah Tika.


Dia tampak serius memandang hasil foto USG milik Zarine.


Mata nya meneliti ke arah gambar.


Dan Zarine pun menegur nya.


"Ada apa Tik?." Tanya Zarine bingung.


"Za... gambar yang ini bayi kamu kan?." Tanya Tika memasti kan.


"Iya, ada apa? Apa ada yang aneh?." Tanya Zarine ikut memperhati kan foto nya.


"Ini kok ada dua gambar nya?." Tanya Tika polos.


"Dua?!." Suara terkejut semua orang.


Mereka saling pandang satu sama lain lalu ikut melihat hasil USG Zarine.


"Ouh iya Zarine lupa, kata Dokter Lexa baby Zarine sama Rafka twins, maaf semua nya Zarine lupa kasih tau, hahaha." Kata Zarine sambil tertawa.


"Twins?!." Seru semua orang.


Rafka dan Zarine mengngguk kan kepala cepat dan kompak.


"Maa syaa allah, alhamdulillah, allahu akbar." Ucap syukur mereka bersamaan dengan mengangkat tangan lalu mengusap kan nya pada wajah masing-masing.


"Wah pasti lucu nih kalo twins, ngga sabar Mama nunggu mereka lahir." Ujar Mama senang.


"Kita doa kan aja agar persalinan nya mereka ber tiga lancar nanti." Kata Papa Rafka.


"Aamiin." Balas semua orang.


Lalu meraka semua membicara kan tentang seputar kehamilan.


Sampai... .


"Zarine pengen ke makam Ayah." Ungkap nya pelan.


Semua orang terdiam menatap Zarine.


Rafka memeluk nya dan menenang kan nya.


"Iya besok kita ke makam Ayah, tapi sore ya sehabis pulang dari sekolah." Kata Rafka lembut.


Zarine mengangguk kan kepala setuju.


Dia memang sedari saat para orang tua mengobrol, pikiran Zarine terbamg melayang entah kemana, dia melamun dan tiba-tiba ada perasaan rindu pada Ayah nya.


'Ayah? Za yakin kalo Ayah masih bisa denger dan liat dari sana, Za mengandung Yah, udah 8 minggu baby twins, Ayah bakal jadi Kakek, Za rindu Ayah.' Batin Zarine bersuara saat ada di pelukan Rafka.


"Rafka sebaik nya ajak ke kamar aja sana, biar istirahat." Suruh Mama Rafka.


"Iya Ma." Jawab Rafka singkat.


Rafka menuntun Zarine untuk berdiri dan berjalan ke kamar.


Di taman belakang suasana menjadi sunyi.


Bunda Zarine memandang bunga-bunga yang tertanam di taman itu dengan pandangan kosong.


Lalu tepukan kekuatan terasa di pundak nya, beliau menolah lalu tersenyum ke arah sang penepuk.


"Bunda ngga usah sedih, Ayah juga ikutan sedih nanti di sana, Bunda harus kuat demi kita." Jelas Bang Rafa.


"Bunda ngga sendiri, ada Rain, Rafa, dan kita semua selalu ada buat Bunda, jadi Bunda harus tegar dan kuat." Hibur Raina.


"Ya kalian berdua benar, Bunda ngga boleh lemah." Kata Bunda semangat.


"Besok pukul setengah 4 sore, setelah 6 serangkai pulang dari sekolah kita ke makam jenguk Ayah." Bang Rafa menyusun rencana.


"Ya kita semua setuju dan akan ikut." Balas Papa Rafka.


Di dalam kamar Rafka Zarine.


Mereka ber dua sedang berbaring di atas ranjang dengan saling berpelukan.


Zarine bersandar di dada bidang sang suami, dan sang suami tercinta nya ini mengelus kepala Zarine dengan penuh kasih sayang dan cinta.


"Yang?." Panggil Zarine.


"Hmmm?." Sahut Rafka cepat.


Diam.


Zarine tak ber niat melanjut kan pembicaraan.


"Ada yang kamu pengenin kah? Apa? Sebut aja biar aku buatin atau beli in." Tanya Rafka.


"Aku... aku pengen makan mie ayam yang pedes banget." Jawab Zarine.


"Mie ayam?." Beo Rafka.


Zarine mengangguk kan kepala cepat dengan pandangan mata berbinar.


"Ok, kamu tunggu dulu biar aku beli in." Kata Rafka.


Dia bangun dari berbaring dan pergi dari kamar.


Sebelum ke luar rumah, Rafka kembali ke taman belakang untuk bertanya apa kah mereka yang sedang berkumpul di sana juga mau mie ayam, agar Rafka sekalian membeli kan nya.


"Permisi semua nya... apa kalian mau mie ayam?." Tanya Rafka setelah tiba di pintu taman.


"Mie ayam?." Beo semua orang.


"Zarine yang minta?." Tanya Bunda.


"Iya Bun." Jawab Rafka.

__ADS_1


"Enak tuh kaya nya, boleh deh Raf." Mau Abdiel.


"Iya deh beli in semua nya deh." Suruh Papa Rafka.


"Ok kalo gitu, tunggu in yak sabar." Ujar Rafka.


"Raf Gua ikut beli!." Pinta Abdiel sambil berlari.


"Ayo cepet, Lo kalo mau ikut juga ayo Bhi!." Seru Rafka.


"Ok bentar." Balas Abhi.


Ke tiga cowok itu pun pergi.


Di perjalanan tepat nya dalam mobil.


"Gua juga pengen air kelapa muda nih, mampir yak nanti." Kata Abdiel yang sedang duduk di belakang Rafka.


"Ok, Lo mau beli in Alfi apa Bhi mumpung kita ada di luar nih." Tanya Rafka.


"Bentar Gua tanya dulu sama Ibu Ratu nya." Kelakar Abhi.


"Hahahah... Ibu Ratu, Lo kalo manggil Zarine apa an Raf?." Tanya Abdiel sambil tertawa.


"Gua? Ibu Negara lah." Jawab Rafka sambil tertawa cekikikan.


"Lo sendiri apa?." Tanya Abhi.


"Ngga ada Gua panggil dia Beb." Ringan Abdiel menjawab.


"Beb? Beb apa? Bebek? Hahaha." Tawa ke tiga pria itu pecah di mobil.


"Ya engga lah, bisa di ulek kek sambel Gua kalo panggil dia Bebek." Ujar Abdiel.


"Hahaha." Tawa mereka terdengar lagi.


Lalu Abhi menghubungi Alfi menanyakan apakah dia ingin sesuatu.


^^^Abhi : 'Bee?.'^^^


Alfi : 'Iya, apa Yang?.'


^^^Abhi : 'Kamu mau aku beli in apa selain mie ayam nya Rafka?."^^^


Alfi : 'Makan batagor enak deh kaya nya aku mau itu.'


^^^Abhi : 'Ok ok aku beli in.'^^^


Alfi : 'Makasih Sayang.'


^^^Abhi : 'Sama-sama sayang ku😍😚.'^^^


Chat Off.


"Nanti mampir beli Batagor." Pinta Abhi.


"Siiap." Balas Rafka.


Abhi memasang wajah khawatir yang di sadari Rafka di samping nya.


Suami Akfi itu memang duduk di kursi samping kemudi.


"Lo kenapa Bhi?." Tanya Rafka dengan sesekali melirik ke arah sahabat nya ini.


"Gua khawatir 2 makanan nanti itu yang bakal habisin... ." Abhi tak melanjut kan ucapan nya.


"Lo takut Alfi nyuruh Lo yang habisin?." Tebak Abdiel yang sedari tadi hanya menyimak.


"Hehehe iya." Kekeh Abhi.


"Berdoa aja biar selamat." Kata Rafka.


"Hahahaha bener tuh, untung aja Akifa ngga pernah kaya gitu sama Gua." Timpal Abdiel sambil tertawa.


Lalu sampai lah mereka di warung mie ayam, yang berjajar juga dengan kedai es kelapa muda, juga batagor serta makanan lain nya.


"Duh pengen makan semua nya Gua." Celutuk Abdiel.


Tenggorokan nya sudah meneguk saliva kasar.


"Udah jan makan banyak-banyak Lo mau perut Lo itu meledak?." Rafka menakut-nakuti.


"Emang bisa meledak gitu?." Polos Abdiel bertanya.


"Alah udah lah males ngomong ama Lo, kuy beli dan segera pulang, pasti pada nunggu in mereka di rumah." Kata Abhi menengahi.


3 laki-laki calon Ayah itu memesan mie ayam, batagor, dan es kelapa muda.


30 menit kemudian pesanan mie ayam mereka jadi.


Yang biasanya bikin mie ayam ngga membutuhkan waktu lama karena pesan nya cuma 1 atau 2 mangkuk, tapi Rafka membeli 23 bungkus maka dari itu pembuatan nya lama.


Segera mereka meluncur pulang ke rumah.


Sampai di rumah.


"Assallammu'allaikum!! Kita pulang bawa mie ayam nih!." Seru Abdiel heboh setelah sampai di ruang santai rumah Rafka Zarine.


"Wa'allaikum sallam, jangan teriak-teriak!." Delik Akifa pada sang suami.


"Hehehe." Cengir Abdiel sambil menggaruk tengguk nya yang tak gatal.


"Wah udah pada sedia mangkuk nih, hahaha." Tawa Rafka terdengar.


"Iya semua nya udah siap, mie ayam nya lama banget dateng nya." Sindir Zarine.


"Sabar dong Ibu Negara, aku kan pesen nya ngga cuma satu bungkus Yang, tapi 23 bungkus." Sebut Rafka sambil melebar kan mata nya.


"Iya deh iya, mana? Aku udah ngga sabar mau makan." Minta Zarine sambil menengadah kan telapak tangan nya juga menggerak-gerak kan nya bak anak kecil yang meminta sesuatu.


Rafka meletak kan 3 kantung plastik berisi bungkusan mie ayam di atas meja, lalu dia duduk di sebelah Zarine dan menyiap kan mie ayam di mangkuk untuk istri tercinta.


Zarine pun melakukan hal yang sama, dia menyiap kan mie ayam di mangkuk untuk Rafka.


Semua orang makan dengan di selingi canda tawa, membicara kan urusan kantor, dan juga urusan sekolah.


"Ouh ya ngomong-ngomong soal sekolah, Papa denger dari Pak Tito, kemarin Sari sama Roy ke sekolah ya?." Tanya Papa Rafka.


"Pak Tito lapor ke Papa?." Tanya Zarine.


"Bukan Pak Tito yang lapor, asisten Papa yang menginformasi kan." Ralat Papa.


"Sama aja itu namanya lapor Pa, cuma beda orang aja." Kata Bang Idan.


"Hahaha iya deh terserah bahasa kalian semua, bener itu Raf mereka berdua ke sekolah?." Tanya Papa yang meminta penjelasn lebih detail kepada anak bungsu nya ini.


"Iya Pak itu bener." Jawab Rafka.


"Ngapain mereka ke sana? Mau cari masalah lagi? Atau mau cari sensasi? Ouh mungkin pengen di hina seluruh sekolah?." Tanya Mama Rafka dengan nada tak tajam nan menusuk.


"Ma... ngga boleh gitu ah, ngga baik tau." Nasihat Papa lembut.


"Orang tua mana yang ngga bakal marah kalo anak nya di celakai oleh orang hanya karena cinta palsu!." Sungut Mama Rafka.


Semua diam mendengar kan sungutan Mama Rafka.


"Itu lagi si Roy ngapain ikut-ikut an, kata nya udab baikan sama kalian semua? Kok malah bantu Sari?." Sambung Mama Rafka bersuara.


"Tapi niat Sari dan Roy baik kok Ma, mereka berdua dateng ke sekolah untuk minta maaf sama temen-temen satu sekolah." Jelas Zarine bercerita.


"Dan Roy Sari akan menikah, tapi entah kapan kita tidak di beri tau tanggal nya." Lanjut Akifa menimpali omongan Zarine.


"Bagus kalo dia sadar dan mau minta maaf, seenggak nya dosa nya berkurang sedikit ke kalian." Ketus Mama memuji.


"Jangan benci orang terlalu dalam Ma, ngga baik tau." Tutur Papa memberi tahu.


"Ya Mama tau itu, lagi an Mama ngga benci, cuma ngga suka aja sama cara-cara Sari dalam kompetisi mendapat kan cinta." Berbicara masih dengan nada ketus tak bersahabat.


"Tapi kalo mereka dateng ke hadapan Mama untuk mints maaf apa Mama akan memaaf kan nya kan?." Tanya Tika.


"Iya Mama maafin walau ada sedikit rasa tak terima." Jawab Mama.


"Maklum kalo itu, kalo mau berusaha buat hilang rasa itu in syaa allah akan hilang." Bunda Zarine menimbrung obrolan.


"Kalo lain nya? Bakal maafin kan?." Tanya Zarine melihat wajah orang yang ada di ruang santai rumah nya ini.


"Bunda dan pasti juga Ayah udah maafin." Jelas Bunda.


"Kita maafin." Jawab Mama Papa Akifa, Abdiel, Abhi, Papa Rafka, Bang Rafa, Bang Idan.


"Yaaa kami juga maafin." Timpal Mami Papi Alfi.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalo garing😢🙏


Maaf typo di mana-mana🙏😢


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran😢.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


Readers, kalo cerita ini Author ngga lanjutin setuju ngga?😂.


__ADS_2