Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 232


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Jadi Kak Rain? Mau kan?." Tanya Ayah Rafa kembali.


"Kalau demi keselamatan Rain sendiri, Rain mau Yah, Rain ikut arahan Ayah Bunda juga lain nya aja." Setuju Kak Rain yang membuat semua orang tersenyum senang dan lega.


"Alhamdulillah ya Allah." Ucap syukur semua para tetuah.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Kak Rain di landa heran lagi, dalam benak nya bertanya-tanya, 'Se senang itu kah para tetuah aku mau di pindah kan?' Begitu lah pertanyaan yang muncul.


"Ya sudah karena Kak Rain setuju, sekarang silah kan kembali ke ruang santai untuk menikmati malam ahad." Kata Ayah Rafa.


"Bukan maksud kita ngusir sayang, tapi kami cuma mau kamu main aja sama anak-anak lain di bawah, tau sendiri dari Pamungkas khawatir nya gimana pas kamu naik ke lantai dua, kalau di tanya sama anak-anak, bilangin aja, RAHASIA, kalau ngotot pengen tau, suruh tanya sendiri ke Bunda, dah sana ke bawah deh." Ujar Bunda Raina memberi nasihat yang langsung di angguki dengan sopan di iringi senyum manis.


"Rain permisi dulu semua nya, permisi, assallammu'allaikum." Salam Kak Rain sambil menunduk kan kepala.


"Wa'allaikum sallam." Jawab para tetuah.


Kak Rain pun pergi.


"Huuuhh Alhamdulillah ya Allah, aku pikir bakal susah bujuk Kak Rain, ternyata gampang banget." Papar Ayah Rafa hampir tak percaya.


"Kak Rain menerima bujuk kan kita karena memang bujuk kan kita untuk diri nya sendiri, untuk keselamatan dia." Logika Bunda Raina yang memang masuk akal banget.


"Ya logika Bunda bener banget, Ayah setuju sama itu." Cetus Ayah Rafa.


"Berarti ini tinggal keluarga Agnez aja yang belum di kasih tau, kalo Pak Cakra sama Bu Dewi sih aku yakin beliau berdua akan setuju." Ujar Mama Tika dengan ke yakinan dan ke percayaan diri nya yang kuat.


"Ya jelas sih kalau beliau mau, secara hubungan Angkasa dan Agnez bakal makin menguat in syaa Allah kalau kita semua satu perum dan komplek." Kata Papa Zaidan menimpali.


Di ruang baca masih riuh membicara kan ke pindahan keluarga Agnez dan Kak Rain.


Sedang kan di lantai dasar.


7 serangkai tengah mengintrogasi Kak Rain.


"Kak Rain jawab dong, ngga baik tau main rahasia-rahasia an, kita kan saudara, masa main rahasia an sih." Wulan memaksa Kak Rain berucap jujur.


Sudah sejak saat Kak Rain menginjak kaki di ruang santai Kak Rain di tanya banyak pertanyaan oleh 7 serangkai.


Pertanyaan yang sering muncul adalah 'Apa yang para tetuah tanya kan sama Kak Rain? Penting banget kah? Kasih tau dong Kak.' Ya 7 serangkai tengah merengek bak anak kecil yang tak di turuti mau nya oleh Ibu nya.


Jawaban yang di beri kan Kak Rain membuat 7 serangkai kecewa dan sangat tidak puas.


"Kalau semua nya mau tau, tanya aja sama Bunda dan Ayah juga lain nya, gih sana." Suruh Kak Rain.


"Ck! Ayo dong Kak kasih tau." Pamungkas masih berusaha agar Kak Rain mau memberi tau apa yang di sampai kan oara tetuah pada nya.


Kak Rain terkikik geli saat melihat mimik wajah memelas dari 7 serangkai, kemudian... .


"Kalian semua juga bakal tau kok apa yang para tetuah sampai kan, sekarang rasa ingin tau nya di tahan dulu, kalo Kak Rain bilang nanti ngga surprise lagi dong nama nya, udah yah jangan nanya lagi, nanti kalo udah waktu nya pas, kalian semua akan tau segala nya, inti dari pembicaraan Kak Rain sama para tetuah nanti nya membuat kita bahagia dan seneng banget deh, percaya lah!." Kak Rain meyakin kan para muda-muda di depan nya ini agar berhenti bertanya banyak hal pada nya.


Pasal nya telinga Kak Rain jengah mendengar pertanyaan sama setiap 2 menit sekali.


"Kak Rain ngga bohong kan?." Tanya Pamungkas dengan tatapan mengintimidasi.


Kak Rain yang bersitatap dengan Pamungkas merasa agak takut, dia sampai menelan saliva nya susah payah.


'Nih berondong yah! Nakutin banget sih!.' Rutuk Kak Rain dalam hati.


"I... iya... Kak Rain ngga bohong, mungkin di waktu-waktu dekat ini kalian akan mengetahui segala nya." Ucap Kak Rain lagi penuh teka-teki.


"Halah ndak tau wes, jangan kepo lagi lah, nanti juga bakal tau, sekarang ini enak nya kita ngapain buat ngisi malam ahad? Mau duduk doang sambil nge teh atau mau lain nya?." Tanya Agnez mengalih kan semua mata dari terfokus pada Kak Rain kini mengarah pada nya.


"Kita duduk melingkar gelas berputar aja." Usul Pamungkas yang ambigu.


Dia menyahuti omongan Agnez karena untuk mengalih kan perhatian nya dari pertanyaan di kepala nya tentang Kak Rain yang berbincang dengan para tetuah di ruang baca.


Dia berusaha berpositif thinking mengenyah kan pikiran negatif.


"Duduk melingakar gelas berputar?." Beo Agnez tak paham.


Wulan, Kak Rain, Kristal, Damar, Albhi, dan Angkasa yang juga tak paham maksud omongan Pamungkas itu menatap pria itu tajam.


Karena memang bisa jadi maksud Pamungkas adalah mengajak bermain truth or dare atau bisa juga di arti kan bergiliran meminum minuman haram, seperi wine dan sejenis nya.


'Pletak!.' Tiba-tiba kepala Pamungkas di pukul Angkasa dengan sedikit keras.


"Duh! Apa an sih Angkasa?! Sakit tau kepala ku!." Pekik Pamungkas tak terima.


Tangan Pamungkas mengusap-usap kepala yang di pukul oleh Angkasa tadi.


"Kalo ngomong jangan ambigu deh! Tau sendiri kan ada anak polos bin lugu di antara kita?! Kamu nau cemarin otak polos dan lugu nya itu?!." Kesal Angkasa berucap sambil mendelik kan mata nya lebar.


Se akan sadar dengan perkataan ambigu nya Pamungkas cengengesan bak orang tanpa dosa.


Wulan, Kristal, dan Kak Rain menggeleng kan kepala nya tak paham lagi dengan tingkah dan ke mauan Pamungkas.


"Dih! Kaya orang tanpa dosa aja kamu!." Cibir Angkasa tajam.


"Maaf Angkasa, lupa kalo ada Agnez." Ucap Pamungkas tulus.


"Duduk melingkar gelas berputar iku opo to Mas Pamungkas? Game kah? Kalo game seru ndak? Ayo main lah kalo seru!." Antusias Agnez berucap.


Senyum manis nya terpatri indah di bibir Agnez.


Pamungkas yang mendapat pertanyaan itu dari Agnez menggaruk tengkuk nya yang tak gatal sambil cengengesan lagi.


"Tuh kamu denger dan liat sendiri kan reaksi nya? Jelasin sana apa maksud perkataan kamu itu." Perintah Angkasa yang tak terbantah kan.


"Iya sabar napa, ini OTW jelasin." Celutuk Pamungkas pelan.


"Maksud dari duduk melingkar gelas berputar itu adalah game truth or dare Nez, tau ngga? Yang kalo kita putar botol atau gelas, terus gelas nya berhenti di salah satu dari kita, maka harus pilih tantangan atau kejujuran, tau ngga permainan itu?." Pamungkas menjelas kan secara rinci yang langsung di pahami oleh Agnez.

__ADS_1


Gadis manis itu mengangguk kan kepala paham.


"Seru yah kaya nya, ayo main itu!." Ajak Agnez antusias.


"Ehem! Little girl, tapi permainan ngga cocok sama kamu, lain nya yah, mending kita diem di sini aja deh sambil ngemil, main ToD nya pas kamu udah cocok aja." Jelas Angkasa halus berniat menolak permintaan gadis nya itu.


"Ya udah lah jangan main itu, lain nya aja." Kata Agnez sambil tersenyum manis.


"Terus ngapain nih? Masa diem aja sih?." Tanya Wulan sambil cemberut.


"Kita main petak umpet aja yuk!." Ajak Kristal antusias.


"Ayo!." Seru Wulan dan Kak Rain.


"Ndak mau!." Agnez menolak keras.


Semua mata menatap Agnez heran karena menolak bermain petak umpet.


"Why?." Tanya Angkasa dengan suara lembut dan tangan nya mengusap kening Agnez dan alis nya yang menyatu bak angry bird.


"Agnez ndak mau main itu karena setiap main Agnez mulu yang jadi, ndak mau ah, main lain nya aja yah please?." Pinta Agenz dengan menunjuk kan wajah memelas nya.


"Ya udah ngga usah main yang melelah kan, kita main yang santai-santai aja, apa kah itu? Tentu aja rebahan." Cetus Pamungkas yang aneh sambil merebah kan kepala nya ke paha Kak Rain.


Kak Rain terkekeh geli dan mengusap kan tangan lembut nya ke kening sampai belakang kepala Pamungkas.


"Setuju mending kita rebahan aja." Timpal Angkasa yang juga ikut-ikut merebah kan kepala nya di karpet bulu berbantal kan paha Agnez.


Damar dan Albhi pun melakukan hal yang sama, mereka tidur di paha gadis nya masing-masing.


"Besok kita bakal main ke mana nih? Susun rencana kuy biar di hari esok ngga suntuk di rumah." Kata Damar yang di angguki oleh lain nya.


"Kita main sepeda aja." Usul Agnez.


"Little girl mau belajar sepeda lagi kah?." Tanya Angkasa lembut.


"Endak! Aku cuma mau di bonceng aja, soal goes Mas Angkasa yang urus." Cetus Agnez enteng.


"Huuhhh... mau nya... ." Cibir Angkasa dengan tangan nya mencubit hidung Agnez pelan lalu menggoyang-goyang kan nya sebentar.


Agnez terkekeh pelan sambil meringis ke sakitan.


"Goes ke mana?." Tanya Wulan menghenti kan kelakukan 2 sejoli yang tengah bermesraan.


"Keliling komplek aja deh jangan jauh-jauh." Kata Kristal memberi ide.


"Ndak ke taman kota aja? Kan deket tuh dari sini." Cetus Agnez berucap dengan penuh arti.


"Kamu mau ke taman kota nya atau mau pulang ke rumah?." Tanya Angkasa yang bisa membaca niat Agnez yang sesungguh nya mengajak bersepeda ke taman kota.


"Hehehe... Mad Angkasa ini tau aja to kalo aku mau pulang ke rumah." Celutuk Agnnez sambil cengengesan.


"Udah ke baca, udah kita keliling komplek aja kalo gitu." Balas Angkasa memutus kan.


"Tapi tunggu dulu, kita mau goes Kak Rain ngga kerja kan besok?." Tanya Wulan memasti kan.


"Kak Rain ambil shift malam di restaurant besok, jadi bisa lah kalo mau di sini sedikit lebih lama, it's okay." Papar Kak Rain sejujur nya.


"Alhamdulillah." Ucap syukur Pamungkas sambil mengusap kan telapak tangan nya ke wajah.


"Kenapa? Kaya seneng banget." Celutuk Kak Rain heran.


"Ya seneng lah jelas, Kak Rain tau?! Kemarin aku jadi obat nyamuk nye mereka ber enam, lain nya naik sepeda berpasangan, aku malah sendiri an." Curhat Pamungkas dengan menampil kan wajah memelas nya.


"Hahaha... ." Tawa Albhi, Damar, dan Angkasa pecah jika mengingat moment itu, Pamungkas goes sepeda sendiri dengan muka ngenes nya.


"Jangan di ejek gitu ah! Ndak baik tau Mas Angkasa!." Nasihat Agnez dengan suara sedikit keras pertanda ia tak suka.


"Bener tuh! Kalian ngga ngerasa in jadi Bang Pamungkas, jadi diem deh!." Celutuk Wulan menimpali.


"Kalau kalian kaya gitu terus di ketawain emang mau?!." Giliran Kristal yang menyeru kan suara nya.


"Hayo loh ngga di bela in!." Cibir Pamungkas merasa menang karena para gadis membela nya.


"His! Kamu juga! Diem ah!." Kata Kak Rain sambil menutupi mulut Pamungkas dengan telapak tangan nya meminta agar Pamungkas berhenti mengejek 3 pria itu.


"Ya udah maafin deh, ngga lagi-lagi deh, maaf Pamungkas, ngga di ulangi, tapi ngga janji." Cetus Damar setelah melepas bekap kan tangan Kristal di mulut nya, dia mengatakan maaf sambil berusaha menghenti kan tawa nya yang hampir pecah.


"Bener tuh kita minta maaf." Celutuk Angkasa ikut-ikutan.


"Iya di maafin." Balas Pamungkas singkat.


Waktu terus berputar, tak terasa kini jam di dinding ruang santai rumah Mommy Za dan Daddy Rafka ini sudah menyentuh jam 23.00 malam.


Di ruang santai para gadis sudah menyentuh alam mimpi mereka masing-masing.


Sedang kan para pria duduk manis menatap wajah damai mereka yang tengah terlelap nyenyak.


Kini posisi mereka berganti, dari yang para pria yang tidur berbantal kan paha para gadis.


Sekarang para gadis yang tiduran di paha para pria sedari pukul 22.30 tadi.


Tangan besar para pria mengusap kepala dan rambut para gadi dengan sangat lembut dan dengan ke hati-hati an agar tak mengusik tidur mereka.


"Kalau lagi tidur gini mereka kek bayi yah, hihihi... ." Ucap Angkasa pelan.


Tangan Angkasa sibuk melepas ikat rambut di kepala Agnez agar lebih nyaman gadis nya tidur.


"Hmm... Lu bener, tapi Gua lebih suka kalo mereka bangun terus ketawa." Kata Pamungkas tanpa mengalih kan pandangan nya dari wajah Kak Rain.


"Udah jangan banyak cakap! Ayo kita gendong mereka ke kamar nya masing-masing!." Seru Damar sambil bersiap hendak menggendong Kristal.


"Ck! Jangan dulu lah! Lu ngga liat Gua masih susah lepasin di ikat rambut?! Sabar dong Mar!." Cetus Angkasa jengkel dengan suara pelan.


Damar pun tak jadi menggendong Kristal dan menunggu Angkasa siap dengan ikat rambut dua gadis nya.


"Ngomong-ngomong soal ikatan rambut Agnez, manis banget loh tadi, imut, di dalam Cafe dia juga jadi sorotan kalau Lu sadar, hehehe... ." Pamungkas menggoda Angkasa.


Pamungkas tak membual, memang Agnez dengan kuncir dua nya tadi banyak yang menatap nya.


Rata-rata para pria seumuran dengan mereka, mata mereka menatap Agnez dengan pandangan suka.


"Huh! Jangan bahas perkara di Cafe lagi! Bikin Gua pengen marah aja! Asli tadi pas di Cafe Gua pengen banget congkel mata satu per satu pengunjung yang liatin Agnez, asli lahir batin kagak ikhlas Gua kalo mereka natap Agnez dengan mata keranjang gitu!." Pekik Angkasa dengan suara masih sangat pelan, seperti orang yang menggerutu.


"Kalo 'Dia' tertarik nya sama Agnez gimana Angkasa?." Pertanyaan serius datang dari Damar.


Angkasa berhenti dari kegiatan nya melepas ikatan rambut Agnez.


Angkasa yang awal nya duduk sedikit merunduk, kini duduk tegak dengan pandangan nyalang ke depan.


Pria nya Agnez itu paham maksud dari kata 'Dia'.


"Apa yang udah milik Gua, jangan harap Gua bakal kasih ke orang lain bagai mana pun ke adaan Gua nanti, mau Gua sekarat sekali pun, atau suatu hari nanti ada masalah yang berat banget dan harus ngorbanin Agnez, ngga akan Gua kasih!." Tegas, datar, dan dingin Angkasa berucap.


"Agnez itu punya Gua, dari kemarin, hari ini, besok, lusa, dan in syaa Allah selama nya, dia ngga terganti kan dan ngga bakal bisa di ganti kan!." Pandangan mata Angkasa mengarah pada Agnez dengan tatapan lembut, tapi nada bicara nya tegas.


"Cowok Bang Sat itu ngga bakal ngincer Kak Rain, Agnez, atau pun Kristal, yang 'Dia' jadi in sasaran itu Wulan." Kata Albhi dengan suara menusuk nya.


"Lu tau dari mana?." Tanya Angkasa heran.

__ADS_1


"Seseorang 2 hari yang lalu ngirim pesan singkat lewat WhatsApp ke Gua, isi nya 'Jaga in cewek Lo, karena udah balik dan bakal ganggu in Lo ama dia' ." Jelas Albhi sedikit panjang.


"Udah ketebak sih kalo itu 'Dia' ." Celutuk Pamungkas.


"Tapi Haris itu cowok yang suka ke imutan loh ngomong-ngomong, Lo juga harus hati-hati Angkasa! Bisa aja Agnez Lo kena." Peringat Damar yang memang tau segala nya tentang 'Dia' yang ternyata maksud nya adalah Haris.


"Kita harus bersatu buat kalahin dia, jangan sampai lengah jaga gadis kalian masing-masing dan jangan lengah sama pengawasan Ibunda kalian juga." Tiba-tiba suara Ayah Rafa menyahut dari arah anak tangga.


"Loh-loh?! Ini kenapa para Bapak-bapak kok belum tidur sih?." Tanya Pamungkas lirih.


"Haha... sengaja ngga tidur pengen liat kalian ngapain di sini." Jawab Papa Abdiel.


"Sana angkat ke kamar nya masing-masing, ingat pesan Ayah tadi! Kita harus bersatu, jangan sampai lengah mengawasi semua orang terdekat." Peringat Ayah Rafa kembali.


Damar, Albhi, Angkasa, dan Pamungkas mengangguk kan kepala sekali.


Kemudian ke 4 pria itu berdiri dari duduk nya dengan tangan menggendong para gadis.


"Ini mereka makan angin atau makan nasi sih?! Ringan banget sih! Allah!." Keluh Angkasa sambil menggeleng kan kepala pelan.


"Haha... nanti juga berat badan mereka naik." Sahut Papa Zaidan berbicara.


Para pria muda-muda membalas dengan kekehan dan angguk kan kepala.


Setelah menaiki anak tangga ke menuju lantai dua.


Di kamar Agnez.


"Good night my little girl, mimpi indah honey, love you." Ucap Angkasa lembut di telinga Agnez sambil di akhiri kecupan singkat di kening gadis nya itu.


Lalu Angkasa pergi dari kamar Agnez tak lupa menutup pintu dengan suara pelan, sangat pelan.


Hari telah berganti, pukul 05.00 pagi rumah Mommy Za dan Daddy Rafka telah ramai dengan suara dari 8 serangkai.


Terutama Damar Kristal, Albhi Wulan, dan Angkasa Agnez.


Mereka berdebat hal unfaedah menurut para tetuah.


Sedang kan Pamungkas dan Kak Rain? Mereka berdua adem ayem menonton berdebatan 6 orang itu dengan nge teh.


Sampai akhir nya... .


"Stop!!." Pekik Mommy Za yang sudah jengah mendengar kan perdebatan 6 orang di depan nya ini.


Kontan saja 6 orang itu kicep tak ada yang bersuara satu pun di sana.


"Ini masih pagi anak-anak, jangan gaduh dong, masalah kalian juga kecil, sangat amat kecil, Mommy kasih tau yah, sapu tangan di tangan Wulan itu adalah warna merah maroon." Jelas Mommy Za sambil menekan kata merah maroon.


"Tuh dengerin." Kata para gadis yang merasa benar.


"Iya deh iya." Pasrah para pria muda-muda berucap.


Jadi yang mereka debatin dari tadi adalah warna sapu tangan yang di bawa Wulan.


Agnez, Damar, Albhi berucap itu merah hati.


Kalau kata para gadis itu warna maroon.


"Tapi yah, warna merah maroon tuh sama dengan merah hati loh, coba deh browsing." Tambah Mommy Za yang acuh tak acuh.


"Hah denger tuh!." Seru para pria senang.


"Mommy... ." Rengek kan manja dari para gadis terdengar.


Mommy Za mengedik kan bahu nya lalu terkekeh geli.


"Dah sana berangkat! Kalian nih kata nya mau jalan-jalan? Kenapa masih di sini? Berangkat sana, keburu siang loh, sekalian lihat matahari terbit." Mama Tika berucap sudah seperti mengusir 8 serangkai.


"Mama niat ngusir kita yah?." Celutuk Angkasa menatap sang Ibu.


"Hahaha... ngga gitu Angkasa anak Mama satu-satu nya, udah sana." Kata Mama Tika menyuruh 8 serangkai itu pergi.


8 serangkai pun pergi setelah mereka mengucap kan salam dan mencium punggung tangan para tetuah.


Sepeninggalan 8 serangkai.


"Pa? Kenapa ngomong sama orang tua Agnez ngga nanti aja? Nanti kan beliau berdua ke mari tuh buat jemput Agnez, sekalian aja ngomongin itu di ruang baca." Kata Mama Tika memberi ide pada suami nya.


Papa Zaidan mengangguk-angguk kan kepala sambil mengelus dagu nya menimbang-nimbang omongan sang istri.


"Lebih cepat lebih baik sih, ok lah nanti kita bicara in bersama." Ucap setuju Papa Zaidan yang di balas dengan senyuman bahagia semua orang.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2