Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Eighty-four


__ADS_3

Pagi yang indah menyapa penduduk bumi dengan perasaan sangat antusias.


Kediaman Bang Rafa dan Raina sangat sunyi tak ada obrolan.


"Yang?, nanti tolong ke kantor bawa in aku makan siang ya?." Pinta Bang Rafa pada sang istri yang duduk disebelahnya.


"Iya nanti aku bawa in." Singkat Raina menyanggupi permintaan suami.


Setelah perbincangan itu 2 pasang suami istri itu makan dengan tenang tanpa ada suara.


"Aku pengen cepet-cepet punya momongan deh biar rumah ngga sunyi gini kalo pagi." Celutuk Raina memperhati kan rumah mereka.


"Yaaaa, aku juga pengen nya gitu, sabar aja deh, allah belum ngasih." Kata Bang Rafa menghibur.


Raina mengangguk meng iya kan.


Pukul 06.25 Bang Rafa pergi ke kantor dan Raina ada di rumah menemani Bunda sang Ibu mertuanya


Setelah menikah, Raina berhenti bekerja atas perintah Bang Rafa.


Bang Rafa keluar dari rumah di ikuti Raina di belakangnya.


Di halaman rumah Rafka Zarine Bang Rafa melihat keramaian karena 3 keluarga.


"Pagi Bunda dan para bocah?!." Sapa Bang Rafa dari teras rumahnya.


"Pagi juga Bang Rafa yang dah tua!!." Balas 7 serangkai serempak.


"Pagi juga Bang Rafa, Raina." Sapa balik Bunda.


"Rasa in Lo, kalah telak kan, hahaha." Tawa Bang Idan pecah.


Bang Rafa memasang wajah kecut saat mendengar 7 serangkai dan Bang Idan meledek nya.


"Jangan panggil kita bocah Bang." Kata Abdiel.


"Kata-kata Lo kaya slogan nya film kartun aja." Celutuk Abhi.


"Iya cuma beda penyebutan nya aja." Tambah Alfi.


Bunda melihat anak-anak nya dengan tertawa kecil.


'Terima kasih kalian udah hibur Bunda yang hati nya merasa kesepian ini.' Batin Bunda berucap.


Bang Rafa dan Raina yang baru sampai di halaman rumah Rafka Zarine menatap Bunda.


Kemudian Bang Rafa mengkode 4 pasangan suami istri yang ada di depan nya untuk ikut menatap Bunda yang tertunduk berwajah sendu.


5 keluarga itu kemudian mengangguk kan kepala seperti menyetujui sesuatu.


Lalu tiba-tiba... .


'Grep.'


"Allahu akbar!." Kaget Bunda.


"Bunda jangan ngerasa sendiri, kita selalu ada kok buat Bunda." Kata Zarine.

__ADS_1


Mereka memeluk Bunda secara bersamaan dengan mencium pipi Bunda.


"Bunda ngga merasa sendiri kalo ada kalian di sini." Jawab Bunda.


"Bunda harus semangat, kita akan selalu ada buat Bunda." Sambung Raina juga.


"Makasih ya kalian semua udah mau nemenin Bunda yang sebenernya sulit mengikhlaskan Ayah." Ucap Bunda dengan sesenggukan.


"Bunda???, udah dong jangan nangis, kita semua sayang banget sama Bunda, kalo Bunda sedih Ayah juga ikut sedih di sana, udah yaaa jangan nangis." Zarine menenangkan Sang Bunda.


"Bener itu Te, kita semua sayang sama Tante, jangan sedih lagi." Kata Akifa.


5 menit mereka berpelukan seperti itu sampai... .


"Udah ah lepas, kalo pelukan kaya gini terus bisa-bisa kalian telat dateng ke sekolah dan ke kantor nya." Bunda berbicara meminta melepas pelukan.


"Hehehehe." Semua nya terkekeh saat Bunda berbicara seperti itu.


"Ya udah kita semua berangkat Bun, assallammu'allaikum." Salam mereka semua kompak sambil mencium punggung tangan Bunda bergantian.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Bunda dan Raina.


"Jangan kemana-mana jaga in Bunda di sini." Pesan Bang Rafa pada Raina sang istri yang sedang mencium punggung tangan nya.


"Iya, aku bakal di sini temenin Bunda." Jawab Raina.


3 mobil berangkat meluncur meninggalkan halaman rumah Rafka Zarine.


Pukul 06.40, 7 serangkai sampai di sekolah.


Keluar dari mobil 7 serangkai khususnya Zarine di kerumuni oleh siswi-siswi yang membawa setangaki bunga mawar hitam.


Sebelum menerima bunga itu, Zarine menatap Rafka terlebih dahulu.


Rafka tersenyum lalu mangangguk.


Walau dia sebenarnya kesal dengan si pengirim Bunga.


"Ini juga buat Kakak." Begitu seterusnya sampai tangan kanan dan kiri Zarine penuh dengan mawar hitam.


Saat menerima bunga terakhir, Zarine menanyakan asal bunga yang di terima nya ini.


"Tunggu?!, ini bunga dari siapa?." Tanya Zarine.


"Nanti Kakak bakal tau sendiri." Jawab an gadis yang di tanya i oleh Zarine ini penuh dengan teka teki.


"Teka teki lagi." Celutuk Akifa.


Semuanya diam tak ada yang berbicara lagi.


Zarine menoleh ke arah sang suami.


Dahi Rafka menukik tajam dan wajah nya terlihat sangat kesal, serta pandangan nya tajam ke arah depan.


"Yang?." Panggil lembut Zarine.


Rafka menoleh lalu melunak kan wajah nya yang kaku.

__ADS_1


Dia tersenyum lembut ke arah sang istri.


"Ada apa?." Tanya Rafka.


"Apa kamu marah?." Zarine bertanya dengan menunduk takut.


"Engga." Jawab Rafka sambil mencium kening Zarine.


Kemudian 7 serangkai berjalan ke arah kelas, setelah Zarine meletak kan bunga-bunga mawar itu di dalam mobil.


Di perjalanan menuju kelas, Rafka bertanya-tanya.


'Siapa yang kurang kerjaan ganggu in istri orang?, kalo bukan karena Za suka sama bunga itu, ngga bakal aku ijinin dia nerima bunga itu.' Begitulah batin Rafka bertanya.


Bunga mawar hitam adalah bunga kesukaan Zarine, dan Rafka membiarkan Zarine menerima bunga itu untuk senyum Zarine.


Sampai di kelas, bel berbunyi dan kelas pun di mulai.


Di dalam kelas 12 IPS 1.


"Gua denger sekolah kita kedatengan guru pindahan dari Surabaya loh." Beri tahu Banu.


"Beneran Lo dari Surabaya?." Tanya Tasya teman sebangku Banu.


"Emang Lo ngga tau info nya?." Tanya Banu.


"Tau, tapi asal guru nya Gua kagak tau." Jawab Tasya.


"Kalian tau dari mana?." Tanya Akifa ikut nimbrung pembicaraan.


Tempat duduk Banu dan Tasya tepat ada di samping 6 serangkai yaitu bangku tengah.


"Kalian ngga tau?, info itu udah nyebar di seluruh sekolah." Jelas Banu pada 6 serangkai.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf ngga dapet feel nya


Maaf kalo garing😢🙏


Jaga kesehatan selalu readers


Maaf typo di mana-mana🙏😢

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2