Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
seratus empatpuluh


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.


******************************


-


-


"Hapus dulu tuh air mata." Suruh Rafka sambil memberi kan sapi tangan nya pada Kakak Ipar nya ini.


"Hiks! Masih sempet aja." Gerutu Tika sambil mengusap air mata nya mengguna kan sapu tangan Rafka.


Beberapa menit kemudian, Tika dan 6 seranglai kembali berjalan ke arah ruangan Pak Rio.


Sesampai nya di depan ruangan nya beliau.


"Ketok Tik." Instruksi Akifa.


'Tok... tok... tok.' Tangan mungil Tika mengetuk pintu kayu itu.


"Silah kan masuk!." Seru Pak Rio yang dengan sigap pintu di buka oleh Rafka.


"Permisi Pak." Sapa Rafka dengan menyembul kan kepala nya dari pintu.


"Ayo silah kan masuk Raf." Ujar Pak Rio mempersilah kan.


Rafka mengangguk kan kepala lalu melebar kan pintu dan 6 orang lain nya masuk.


"Ada apa kalian ke ruangan saya?." Tanya Pak Rio ramah.


"Pak? Tolong kembali kan gantungan kotak pensil saya yang Bapak pinjam di kelas tadi." Ujar Tika to the point.


"Gantungan?." Beo Pak Rio.


Tika mengangguk kan kepala cepat.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Pak Rio menyentuh dagu nya sendiri, pose berpikir.


5 menit kemudian beliau baru lah ingat.


"Allahu Akbar!." Pekik beliau yang ingat pada barang yang di bawa nya tadi di kelas Tika.


"Hahaha... maafin saya ya Tika, maklum usia tambah ingatan agak menurun, saya lupa kalo pinjem barang kamu dan berakhir hampir saya bawa pulang." Ucap Pak Rio dengan tawa garing nya.


Beliau mencari-cari benda yang di maksud Tika di laci meja nya. Kemudian beliau berikan pada Tika, dan dengan sigap Tika menerima nya, senyum nya mengembang sempurma mana kala menerima benda itu.


"Nah Tika, terus kenapa tadi kamu ngga tegur saya waktu di kelas?." Tanya Pak Rio pada anak didik nya ini.


"Saya kira Bapak akan mengembali kan nya sendiri, saya juga ngga terlalu fokus sana Bapak tadi di kelas." Jawab Tika dengan suara serak khas orang habis menangis.


"Kamu beli di mana barang ini? Di beli in siapa?." Kepo Pak Rio.


"Kok Bapak kepo sih?." Sindir Alfi.


"Hahaha... ok ok saya minta maaf karena lupa ya Tika, ini barang kamu, di jaga dengan baik, gantungan itu unik maka nya saya tertarik dan tanya beli di mana, di beli kan siapa." Kata Pak Rio.


"Ini di beli kan orang tercinta saya Pak, di London." Jujur Tika dengan binar mata yang memancar kan bahagia yang kental.


"Pasti pacar kamu." Tebak Pak Rio sambil tersenyum lebar.


"Yah bisa di bilang seperti itu." Tika menjawab sambil menampil kan senyum termanis nya.


'Pacar halal sih kebih tepat nya, hehehe." Tika terkekeh dalam hati.


"Ya sudah Pak, kami pamit, assallammu'allaikum." Pamit 7 serangkai kompak.


"Wa'allaikum sallam, hati-hati di jalan, langsung pulang!." Tegas Pak Rio menasihati enam murid nya ini.


"Iya Pak." Jawab mereka bersamaan lagi.


7 serangkai meninggal kan ruangan Pak Rio.


"Hahaha... ngga nyangka Pak Rio ternyata pelupa, aku pikir beliau sengaja." Cetus Tika dengan tertawa pelan.


"Tadi nangis-nangis, eh sekarang malah ketawa, udah sekarang kuy pulang, udah dzuhur ini." Ajak Abdiel.


"Kita dzuhuran di sini aja deh, kelamaan kalo pulang ke rumah." Titah Rafka.


Setelah berpikir yang di kata kan Rafka ada benar nya, jadi mereka semua memtus kan untuk sholat di masjid sekolah.


Saat sampai di masjid.


"Loh? Ini anak-anak kenapa masih banyak? Aku kira mereka semua udah pulang." Ujar Zarine dengan sedikit keterkejutan nya.


"Udah ayo segera wudhu, bentar lagi iqomah tuh kaya nya." Ajak Abhi.


Pukul 12.30 tujuh serangkai telah selesai sholat dan kini tengah duduk di teras masjid dengan kaki bergelantungan.


"Kita makan siang, habis itu langsung ke Mall aja." Usul Akifa yang di angguki kompak oleh Zarine, Tika, dan Alfi.


"Aku setuju." Seru 3 wanita itu.


"Hmmm sesuai permintaan kalian, kita bertiga ikut." Ujar Abhi setuju.


"Bentar aku hubungin Bunda dulu biar beliau ngga khawatir." Rafka merogoh saku celana nya dan mengetik lincah di ponsel nya itu.


5 menit menunggu Rafka pun selesai dengan urusan nya.


Segera 7 serangkai pergi ke parkiran mobil dan meluncur meninggal kan gedung sekolah SMA Merdeka.


Suasana hening di dalam mobil, hanya suara deru mesin yang terdengar. 7 serangkai sednag asik dnegan pikiran masing-masing.


"Kalian para cowok nya udah nentu in mau lanjut kemana?." Tanya Zarine memecah keheningan yang melanda mereka.


"Udah." Singkat 3 pria itu menjawab.


Zarine hanya mengangguk angguk kan kepala nya paham.


"Kalian para cewek yakin ngga mau lanjut kuliah?." Giliran Rafka yang bertanya pada wanita di dalam mobil ini.


"Kita udah yakin dari hati, udah niat." Jawab Akifa mewakili 3 qanita lain nya.


"Jujur nya, sebener nya aku udah capek dengan sesuatu yang bernama materi" Ungkap Alfi.


"Hahaha... iya sama aku juga gitu." Timpal Tika.


"Hehehe... ternyata bukan aku sendiri aja yang udah bosen ama sekolah, tapi kalian juga, tos dulu dong." Ajak Zarine dengan mengangkat tangan nya ke udara mengajak Akifa, Alfi, Tika untyk bertos.


"Kalo rencana yang dulu aku susun waktu belum nikah, rencana nya aku mau kursus gitu, terus habis kursus langsung kerja." Jelas Alfi.


"Terus perusahaan Papi? Siapa yang mau urus?." Tanya Abhi.


"Hahaha... aku ngga mikir sampe sana sih, tapi untung nya aku nikah muda, jadi yah biar suami aku aja yang ngurus." Tutur Alfi sambil memeluk lengan Abhi dan mengunyel-unyel kan wajah nya di sana.


"Huuuu dasar." Sorak Abhi sambil mencubit lembut hidung sang istri tercinta nya ini.


Lama berbincang, mereka pun sampai di parkiran Mall yang terkenal di tengah kota.


"Kalian para cowok ganti kaos gih." Suruh Tika.


"Iya." Singkat para pria menjawab.


"Kalian cewek nya tunggu sini aja." Ujar Rafka berpesan.


"He em, cepetan aku dah laper." Manja Zarine menjawab.

__ADS_1


Para pria keluar mobil dan melangkah kan kaki nya menuju kamar jmandi yang ada di dekat parkiran.


Selesai berganti pakaian, 7 serangkai masuk ke dalam Mall, pertama-tama mereka makan siang terlebih dahulu, baru setelah itu mereka membeli keperluan yang di butuh kan untuk ujian praktik besok.


Cukup lama mereka berkeliling, sampe pada pukul 14.00 siang, mereka memutus kan untuk pulang ke rumah.


Waktu terus berputar hingga tak terasa kini sudah malam.


semua orang bersiap tidur, tak terkecuali dengan Rafka Zarine.


2 sejoli itu sekarang duduk di atas ranjang sambil bersandar.


Rafka tengah memangku laptop di paha nya dan Zarine bersandar pada dada bidang nya dengan satu tangan mengelus perut Zarine, jadi Rafka bekerja dengan satu tangan.


Suami Zarine itu sedang sibuk dengan pekerjaan kantor nya.


Zarine sendiri, dia sibuk menjahili sang suami yang duduk di belakang nya, dari yang mencubit, mencium bibir, dan cara lain nya.


Alasan Zarine menjahili suami nya hanya satu, ingin mendapat perhatian.


Rafka mengerti maksud kejahilan sang istri, dia sesekali merespon tingkah nya itu.


"Yang?." Panggil Zarine pada Rafka.


"Apa Yang? Kamu pengen apa?." Tanya Rafka lembut tanpa melihat ke arah Zarine.


"Ini udah jam 9 malem lebih, kamu ngga tidur?." Tanya Zarine.


"Bentar lagi, kamu tidur dulu aja, ngga baik tau ibu hamil todur nya larut malem." Nasihat Rafka.


"Aku mau tidur kalo kamu tidur." Jelas Zarine berucap.


"Iya nih aku tutup laptop nya, dan sekarang ayo tidur." Ajak Rafka sambil meletak kan laptop nya di nakas samping tempat tidur nya, dia juga membantu Zarine merebah kan diri dengan nyaman dalam pelukan nya.


"Yang?." Panggil Zarine lagi.


"Hm?." Sahut Rafka hanya bergumam.


"Jangan terlalu sibuk, aku kangen." Ujar Zarine dengan menenggelam kan kepala nya di dada bidang Rafka.


"In syaa allah engga, kamu usaha kan bisa membagi waktu antara kamu, kuliah ku, dan kerjaan ku." Jawab Rafka pelan.


Tangan nya asik mengusap punggung Zarine.


Sebagai jawaban Zarine mengerat kan pelukan nya ke tubuh Rafka.


"Selamat malam Daddy." Ucap Zarine, dia mendongak kan kepala nya berniat mengecup bibir Rafka.


"Selamat malam juga Mommy and Baby twins." Balas Rafka.


Setelah membaca doa tidur, mereka tidur dengan pulas, dengkuran halus terdengar bersahutan dari ke dua nya.


Di kota lain. Tepat nya Lumajang.


Rendra Shita dalam perjalanan baru saja pulang dari rumah Pak RT menghadiri acara syukuran anak nya yang di terima berkuliah di luar negeri dan mendapat bea siswa.


"Anak nya Pak RT tuh cerdas dan hebat banget yah." Puji Rendra.


"Aku juga bisa kali kalo gitu aja." Sungut Shita sewot.


Rendra tersenyum geli mendengar perkataan istri nya ini.


Anak Pak RT adalah seorang gadis cantik yang memang paras nya lebih sedikit cantik dari pada Shita, Rendra sengaja memuji anak Pak RT untuk memancing kecemburuan Shita.


Ternyata benar, dia cemburu dan Rendra senang dengan tingkah Shita yang cemburu itu.


"Hmmm... bukan hanya kamu aja yang bisa, aku juga bisa kaya dia." Sahut Rendra.


"Ngomong-ngomong anak nya Pak RT, dia pernah suka sama kamu tuh, kamu tau?." Tanya Shita dengan nada bicara yang masih ketus.


"Tau." Jawab singkat Rendra.


"Kamu gimana?." Tanya Shita dengan menghenti kan langkah nya berjalan. Rendra ikut berhenti.


"Apa nya yang gimana?." Tanya Rendra pura-pura bingung padahal dia paham benar apa yang di maksud oleh Shita sang istri.


'Hehehe... aku jahilin dikit ngga papa kan?.' Batin Rendra terkekeh.


"Perasaan kamu gimana sama dia?." Tanya Shita dengan wajah yang nampak tak karuan, bahkan Rendra dapat melihat ada setitik air mata di pelupuk mata nya.


Tanpa menjawab pertanyaan Shita, Rendra menyeret Shita perlahan.


"Aku ngga pernah ada rasa sama cewek mana pun, aku tau kalo dia dulu pernah nyimpen rasa buat aku, tapi aku ngga peduli, yang ada di hati dan pikiran aku ya kamu, cuma kamu." Tegas Rendra menjelas kan pada Shita.


"Aku percaya kok sama kamu." Balas Shita dengan lirih.


"Buang pikiran jauh-jauh tentang aku yang sama cewek lain, mulai dari dulu, kemarin, hari ini, besok, lusa sampai maut misahin kita, di hati aku cuma ada kamu, garis keras yah, cuma Shita Ayuningsih doang!." Ulang Rendra menegas kan perasaan nya pada Shita.


"Dari dulu?." Beo Shita.


"Ingat waktu kamu nyatain perasaan pas kita kelas 4 SD?." Tanya Rendra.


"Yah aku inget betul, kala itu kamu bilang 'Maaf aku udah punya' padahal aku ngga ngajak pacaran tapi balas nya gitu, ngga nyambung." Sembur Shita ketus.


"Hahaha... maaf deh maaf, aku sebener nya waktu itu udah suka sama kamu tau, tapi yah... aku ngerasa minder aja mau bilang aku juga suka kamu." Jujur Rendra.


"Minder apa malu? Emang minder kenapa?." Tanya Shita.


"Hahaha... kalo malu... jelas aja malu bukan malu karena kamu yang nyatain perasaan, tapi malu aja, jujur kan butuh tenaga Yang, aku minder ke kamu soal nya kamu itu cantik, aku waktu SD kan jelek banget, paling pendek lagi di kelas." Jelas Rendra panjang lebar.


Shita mengangguk kan kepala paham.


"Kalau waktu kamu yang nembak Ana, kamu beneran emang jatuh cinta sama dia?." Tanya Shita lagi.


"Bukan jatuh cinta sih, cuma tertarik aja, kamu tau sendiri, dandanan dia paling hot di antara temen cewek lain nya, aku penasaran sama dia, maka nya aku ajakin pacaran." Rendra menjeda perkataan nya.


"Dia terima?." Tanya Shita gusar.


"Di aju in 10 syarat sama aku, salah satu nya ngga masuk akal, masa aku harus 'masukin' dia tiap satu minggu sekali, ya ngga mau aku lah, terus dia juga nuntut aku buat kasih uang 300 ribu per minggu nya, aduhhhh langsung aku tolak." Ungkap Rendra sejujur nya.


"Ma... masukin? Gitu an sama kamu maksud nya?." Tanya Shita ingin ke jelasan.


"He em, aku cerita sama Andi Panji sama lain nya, satu kelas khusus nya cowok heboh karena Ana yang ternyata cover nya doang yang cantik dalem nya astaghfirullah, jiwa perjaka ku di ternodai kala itu, kontan aja aku langsung jauhin dia." Lanjut Rendra.


"Kita kan masih SD kala itu Yang, masa si Ana minta kaya gitu sih?." Tak percaya Rendra.


"Kamu perlu bukti? Aku masih nyimpen surat nya sampai sekarang aku tunjukin nanti kalo sampe rumah." Ujar Rendra.


"Ngga usah ngga perlu!." Sewot Shita.


"Hahaha... sewot lagi dia nya, marah karena surat nya masih aku simpen yah?." Goda Rendra.


"Ngapain masih kamu simpen?." Tanya Shita.


"Yah buat jaga-jaga aja siapa tau suatu saat dia ganggu hidup aku." Cetus Rendra sambil mengangkat alis.


Mereka berbincang sampai di rumah.


Saat masuk, Rendra Shita melihat Ibu tengah memati kan TV.


"Assallammu'allaikum Bu." Salam Rendra Shita sambil mencium punggung tangan Ibu Rendra berganti an.


"Wa'allaikum sallam, gimana acara nya tadi?." Tanya Ibu.


"Biasa aja Bu, kaya acara syukuran lain nya." Jawab Rendra.


"Emmmm... ya udah Ibu pamit masuk kamar dulu, kalian berdua jangan tidur pagi, jangan begadang." Nasihat Ibu.


"Iya Bu siiap." Jawab Shita. Ibu tersenyum lalu masuk kamar nya dan tak lupa mengunci kamar nya.


"Kalo ngga begadang gimana mau bikin cucu buat Ibu." Cetus Rendra enteng.


"Heh?!." Seru Shita sambil melotot kan mata nya tajam.


"Apa? Aku bener tau, kita kan pengantin baru wajar lah kalo sering bagadang." Seringan dia bernafas Rendra mengatakan hal tersebut.


"Terserah." Pasrah Shita.


Dia melangkah kan kaki nya masuk ke dalam kamar kemudian di susul Rendra masuk lalu suami Shita ini mengunci pintu kamar dan meletak kan kunci nya di laci meja belajar.


Shita yang tau maksud Rendra dia duduk di tepi ranjang dengan memijit pangkal hidung nya.


"Aku udah tahan mulai dari pas kita sah jadi suami istri loh Yang, kamu ngga kasian sama aku?." Rendra memasang wajah memelas nya.


"Aku capek." Alasan Shita.

__ADS_1


"Alesan!." Tanpa aba-aba Rendra mencium bibir Shita lembut.


"Jawab jujur, kamu kenapa? Nyesel nikah sama aku?." Tanya Rendra.


Shita mengerut kan kening nya dan mendarat kan pukulan ringan di bibir berisi Rendra.


"Kalo ngomong tuh di filter dulu!." Sungut Shitavtak senang.


"Lalu kenapa nolak aku minta gitu an?." Frustasi Rendr berucap.


"... ." Shita diam tak menjawab.


"Belum siap kah?." Tanya Rendra lagi.


"Bukan ngga siap, tapi aku takut." Cicit Shita dengan menunduk kan kepala dalam.


"Takut?." Beo Rendra.


"Sakit ngga sih?." Tanya Shita pelan, dia mendongak kan kepala nya menatap Rendra yang berjongkok di depan nya dengan meringis.


"Ngga terlalu kok Yang, paling masuk nya aja agak perih terus keluar darah." Jawab jujur Rendra.


Shita menampak kan wajah cemas nya.


"Kalo kamu kesakitan entar bisa lampiasin ke aku deh." Kata Rendra menawar kan.


"Nanti kamu dong yang kesakitan." Polos Shita berucap.


"Ya kan biar sebanding, kamu sakit aku juga ngerasa in, biar ngga di kira aku doang yang enak." Ujar Rendra.


Shita berpikir keras sampai tak sadar kini dia sudah ada di atas ranjang dengan posisi telentang dan Rendra ada di atas nya.


"Udah jangan kebanyak kan mikir, aku udah ngga kuat😟." Ujar Rendra dengan wajah memelas nya dan suara berat nya.


Shita menatap Rendra dan begitu pula sebalik nya, tapi tatapan mereka bermakna berbeda, Shita dengan tatapan takut walau tak terlalu terlihat, sedang kan tatapan Rendra penuh dengan kabut gairah.


Mula-mula Rendra melakukan pemanasan terlebih dahulu.


Setelah 25 menit berlalu, baru mereka berdua hendak menuju ke inti dari malam yang indah ini.


"Siap?." Tanya Rendra lembut pada Shita.


Yang di tanya hanya mengangguk kan kepala pasrah.


"Lakukan dengan pelan." Minta Shita dengan suara tercekat nya.


"Pasti, kamu tinggal mende**h aja biar aku yang kerja." Ujar Rendra yang di angguki kembali oleh Shita.


Rendra bersiap untuk masuk.


masuk pertama.


"Engh." Erang Shita dengan memejam kan mata nya kuat, kuku jari tangan nya menancap di punggung Rendra.


Sang empu punggung sebener nya merasa kan perih juga, tapi perih itu tertutupi dengan rasa bahagia nya yang hendak berhasil membobol pertahanan Shita.


Dan... .


"A**h udah masuk Yang." Kata Rendra.


"U***h perih sakit nyeri, jangan gerak dulu, sakit Yang." Suara manja Shita terdengar mangalun dengan lembut di telinga Rendra, dan itu semakin membuat gairah Rendra naik dengan sempurna.


Seteleh mendiam kan nya selama beberapa menit, Rendra mulai menggerak kan pinggung nya.


"Shhhh... enghhh Rennn... ." Panggil Shita dengan mata terpejam kemudian terbuka.


"Hm? Apa? Sakit kah?." Tanya Rendra dengan suara serak nya.


"Enggah kok, tapi tetep jangan ge... rakin dengan tem... po cepet, pelan-pelan aja." Kalimat terakhir Shita ucap kan dengan bada yang sensual.


"Sesuai perintah Ibu ratu." Jawab Rendra tak kalah lembut.


Kamar Rendra yang tertutup rapat dengan lampu yang menyala tapi cahaya nya remang, membuat suasana samakin panas.


Suara desahan yang menggemah di seluruh ruangan melengkapi malam sempurna mereka.


Malam ini, mereka telah resmi menjadi suami istri yang sempurna baik lahir mau pun batin.


Sampai pada pukul 00.10 Rendra belum selesai dengan kegiatan nya.


"Dra? Gua capek." Keluh Shita.


"Dikit lagi Yang, tanggung nih." Manja Rendra meminta.


"Kita udah 5 kali yah kaya gini, kamu masa ngga puas sih?." Frustasi Shita tapi dia tetap pasrah dalam kungkungan Rendra.


"Aku kurang, 2 kali deh, abis itu selesai." Bujuk Rendra.


"What?! Ren jangan aneh deh, bisa remuk nih punggung Gua." Shita terus mengoceh meminta Rendra berhenti.


Tapi Rendra tak mau menyudahi dan malah terus melakukan seperti apa yang dia ingin kan.


"Dasar... keras kepala!." Umpat Shita dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Dikit lagi Yang, setelah ke 7 aku janji bakal berenti." Ujar Rendra.


"Tapi aku capek, a**hh... ." Mulut Shita dan tubuh Shita tak singkron, dia masih saja mendesah walau sebener nya tubuh nya sudah sangat lelah.


baru lah pukul 2 pagi Rendra menyudahi kegiatan nya.


Dia ambruk di sebelah tubuh Shita dengan nafas ngos-ngosan.


"Rendra gila!." Umpat Shita dan setelah mengucap kan 2 kata itu, Shita terlelap tidur karena ke lelahan.


"Hehehe... maaf Yang... habis kamu nya bikin candu sih." Rendra menyalah kan sang istri.


Rendra menarik selimut sampai btas dada mereka, lalu dia memeluk Shita kemudian Rendra ikut terlelap dalam mimpi nya.


"Selamat tidur My Wife." Ucap Rendra lirih di tengah mata nya yang sudah terpejam tidur.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung dulu ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2