
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Raf? Diel? Jangan masuk kamar dulu, angkat Wulan sama Kristal ke kamar nya." Perintah Akifa yang langsung di angguki Rafka Abdiel.
Damar dan Albhi di bangun kan dengan ulah jahil Angkasa dan Pamungkas.
"Ck! Kalian yah, baru dateng udah ngacau aja, masuk kamar sana, bersih-bersih! Ngga usah ganggu in orang tidur!." Tika dan Kak Rain kompak memerintah.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Angkasa dan Pamungkas berdiri dari jongkok nya dan berlalu menuju kamar nya di ikuti oleh Bang Rafa Kak Rain dan Bang Idan Tika untuk menuju ke kamar mereka juga.
Damar dan Albhi di bangun dengan cara lembut oleh Ibu mereka.
Dengan nyawa yang belum berkumpul sepenuh nya, 2 remaja itu naik ke kamar nya dan bersiap untuk sholat ashar berjamaah.
Di dalam kamar Wulan dan Kristal. Mereka juga bersiap untuk sholat ashar di mushollah rumah.
Saat berjalan ke mushollah.
Ba'da ashar pukul 15.20 sore semua orang berkumpul di ruang santai mengobrol dan melepas rindu dengan satu sama lain.
"Jadi ini menetap di Jakarta terus atau mau balik ke rantauan?." Tanya Mama Ifah pada Bang Idan dan Bang Rafa.
"In syaa allah kami menetap di sini, di sana sudah ada asisten, suasana di sama bosenin, pengen di sini aja." Ucap Bang Rafa panjang.
"Hmmm... bagus deh kalo punya pikiran menetap di sini, biar ngga mencar-mencar, kita memang sebaik nya bareng-bareng terus, makin tua kalo bisa makin deket ama saudara." Kata Daddy Rafka panjang.
"Bang Pamungkas?! Balikin bolu ku?!." Sedang asik berbincang, tiba-tiba suara teriak kan menggelegar milik Wulan menggemah di seluruh ruang santai rumah Rafka Zarine ini.
Para tetuah yang melihat 2 orang remaja itu berebut bolu hanya menggeleng kan kepala pusing melihat tingkah absurd nya.
"Baby? Itu bolu nya masih banyak di piring, ambil lagi aja di piring, ngga usah berebut gitu." Nasihat Mommy Za lembut pada Wulan.
"Khem!.' Wulan mendengus sebal pada Pamungkas. Sedang kan Pamungkas sendiri malah mengejek Wulan dengan menjulur kan lidah nya.
Dan... .
"Adoy! Bunda lepas! Sakit!!." Seru Pamungkas kesakitan.
Kak Rain Ibunda Pamungkas sang pelaku bukan nya melepas jeweran di telinga anak nya, dia malah semakin mengeras kan tarik kan hingga Pamungkas meringis kesakitan.
"Hah! Jewer yang keras Bunda Pelangi!." Seru Wulan senang bukan main saat Pamungkas di jewer.
"Lepas Bun, udah ih iya ngga ganggu Wulan lagi, ampun Bun." Ucap Pamungkas dengan menunjuk kan wajah memelas nya.
"Bunda Pelangi? Lepasin deh." Pinta Wulan akhir nya.
Jeweran pun terlepas.
"Baru aja ganggu in dikit udah kena jewer aja." Gerutu Pamungkas jengkel.
"Maka nya ngga usah jahilin adek, duduk diam ngga usah buat ulah!." Tegas Bunda Rain yang di panggil Bunda Pelangi oleh Wulan.
Pamungkas yang mendapat teguran hanya mengangguk kan kapal sambil cemberut dan mengusap-usap telinga kanan nya yang sakit akibat jeweran sang Bunda yang sangat sakit menurut nya.
Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah ba'da isya'.
Di ruang santai ramai candaan dari para tetuah dan 6 serangkai.
"Bunda? Kapan kita berdua sekolah?." Tanya Pamungkas pada sang Ibunda.
"Hari rabu aja sekolah nya, kalo besok nanggung." Jawab Bang Rafa pada anak nya yang tampan duplikat nya ini.
"Daddy? Tadi siang Wulan minta martabak manis, mana martabak nya?." Tanya Wulan dari arah dapur.
Rafka, Abdiel, dan Abhi saling melempar pandang kemudian meringis menatap Wulan.
"Maaf Baby, kami lupa." Ucap Rafka merasa bersalah pada anak nya.
Wulan tersenyum lalu mengangguk meng iya kan.
"Ngga papa kok Dad, Pa, Pi." Jawab Wulan.
"Gini deh, kita aja yang beli in." Kata Angkasa memberi ide.
"Mau emang?." Tanya Kristal tak yakin.
"Mau lah, sekalian cari angin jalan-jalan gitu." Imbuh Pamungkas sambil tersenyum konyol.
"Ngga yakin deh kalo bakal balik habis dapet martabak nya, mending order aja deh." Putus Kristal yang di angguki oleh lain nya.
"Gini deh, dari pada jalan sendiri kalian ber enam jalan sana." Suruh Papa Zaidan.
"Beneran Pa?!." Pekik Wulan dan Kristal kompak.
__ADS_1
Bang Idan mengangguk kan kepala meng iya kan.
"Yah boleh, tapi sebelum jam 10 malam sudah harus ada di rumah, lebih dari itu, kalian ber enam akan dapat hukuman dari kami para tetuah di sini!." Tegas Papa Zaidan memperingati.
Angguk kan antusias di layang kan oleh 2 gadis ceria dan penuh enerjik ini.
Para tetuah di samping kanan kiri Papa Zaidan menatap nya dengan tatapan tak suka, terutama para Ibu-ibu.
Bang Zaidan menatap kanan kiri nya dan kemudian dia menyuruh 6 serangkai bersiap.
Setelah kepergian 6 serangkai dari ruang santai.
"Ngapain Abang ijini sih?! Ngga liat ini udah malem?!." Seru jengkel Akifa, sang Ibu possesive.
"Bisa masuk angin entar anak-anak." Zarine sang Ibu khawatiran.
"Kalo mereka kena tilang sama polisi gara-gara ngga ada sim gimana?." Alfi sang Ibu over thinking.
"Batalin persetujuan kamu tadi." Tika dan Kak Rain sang Ibu tegas bersuara sama.
"Haduh Ibu negara denger yah, mereka udah mau 17 tahun, udah harus tau keras nya kehidupan di luar sana, jangan ngekang anak mulu ah, ngga baik." Papa Zaidan Papa penuh kebebasan tapi juga terbatas.
"Bener tuh, udah bebasin mereka keluar." Rafka syang prinsip nya sama dengan Bang Idan, bebas tapi terbatas.
Para Ibu-ibu hanya bisa mengehela nafas pasrah dan kemudian mereka semua mengangguk.
Dari arah pintu kamar masing-masing 6 serangkai keluar dengan senyum manis nya.
"Kenapa ngga ada yang ganti baju? Kenapa pada pake piyama?." Tanya Mommy Zarine.
"Kita kan mau beli martabak Momm ngga mau ke pesta, jadi ya ngga usah rapi-rapi." Jawab Damar rapi.
"Ayo berangkat." Ajak Wulan pada 5 sahabat nya ini.
Saat Wulan dan Kristal akan jalan mendahului para pria, lengan cardigan 2 gadis itu di tarik oleh Damar dan Albhi.
"Bang Bhibhi lepas ih!." Jengkel Wulan pada Albhi.
"Lepas Damar, ngapain kamu tarik-tarik lengan cardigan aku sih?." Kristal juga kesal pada Damar.
"Coba hadap kita." Suruh Albhi pada dua gadis ini.
Dengan terpaksa, Wulan dan Kristal menghadap ke arah Damar dan Albhi.
Damar dan Albhi saling pandang saat melihat penampilan imut 2 gadis ini dengan piyama.
"Haduh." Keluh Pamungkas saat melihat sepupu nya dan Kristal ini sangat imut.
"Ampun Gusti!." Seru Angkasa sambil menggeleng geleng kan kepala nya melihat ke imutan Wulan dan Kristal.
"Menggoyah kan iman." Bisik Albhi pada Damar lirih.
"Kagak ikhlas kalo di liatin orang Gua." Timpal Damar ikutan berbisik.
"Fix, kalian 2 ciwi diem aja di rumah nunggu martabak nya." Putus Damar tegas tak terbantah.
"Ngga! Kita mau ikut!." Seru Wulan dan Kristal kompak.
"Emang kenapa kita ngga boleh ikut sih?!." Jengkel Kristal berucap.
4 pria itu saling melempar pandang bingung hendak menjawab apa.
Sedang kan para tetuah yang melihat pertengkaran manis itu hanya terkekeh geli sendiri.
"Kalo Wulan aja panggil Bang Bhibhi boleh, tapi kenapa yah pas kita yang panggil gitu dia ngga nyaut?." Heran Mama Ifah bertanya-tanya.
"Yang pasti jawaban nya adalah, karena Albhi mengistimewa kan Wulan, dan itu valid no debat." Kata Mama Tika di selingi tawa lirih nya.
"Dah berenti bisik-bisik, mari kita lihat bagaimana kelanjutan perdebatan menggeli kan ini." Putus Mami Alfi yang pandangan nya terus terarah pada remaja bujang dan gadis didepanya ini.
Perdebatan antara 4 bujang remaja melawan 2 gadis itu terus berlanjut hingga... .
"Stop berdebat anak-anak Mommy sekalian!." Suara Mommy Za menggemah di seluruh penjuru ruang santai itu.
Perdebatan antara 6 serangkai pun terhenti seketika.
Pandangan 6 serangkai jatuh pada Mommy Zarine.
"Dah stop debat yang ngga akan ada habis nya! Sekarang buar Mommy aja yang putusin siapa yang akan keluar berli martabak." Putus Mommy Za tegas.
"Kami ber 4 aka Momm yang beli." Usul Damar yang di angguki oleh Albhi, Angkasa, juga Pamungkas.
"Engga Momm jangan, nanti ngga balik lagi, kita ber dua aja Momm." Pinta Wulan dan Kristal kompak.
"Kita aja!." Seru Albhi.
"Ngga bisa! Udah kit aja!." Balas Wulan sengit.
Saat akan membuka suara lagi, tiba-tiba... .
'Ctar!!!.'
"Allahu akbar!." Pekik seluruh penghuni rumah Rafka Zarine terkejut.
Suara keras tadi adalah petir dan setelah suara itu listril rumah Rafka Zarine padam total, sesaat kemudian suara hujan deras terdengar dari luar.
"Mommy!!!." Pekik Wulan ketakutan.
Rafka segera mencari ponsel nya dan menyala kan senter dari ponsel nya.
Cahaya dari senter itu di arah kan ke atas dan penerangan pun terlihat temaram.
"Wulan!!." Pekik semua orang khawatir saat melihat Wulan sudah tergeletak tak sadar kan diri di dalam peluk kan Albhi, karena memang jarak Albhi dan Wulan sangat dekat.
"Astaghfirullah anak Mommy." Raut cemas tercetak begitu kental di wajah Zarine.
Rafka sang Daddy langsung meminta tolong Albhi membawa Wulan ke sofa yang panjang di ruang santai itu.
"Lanlan bangun." Pinta Albhi dengan berbisik di telinga Wulan.
__ADS_1
"Ketakutan Baby Girl kita masih sama?." Tanya Angkasa sendu.
"Ya seperti kamu liat Angkasa, dia masih sama, takut kegelapan dan petir yang datang secara bersamaan." Jelas Mommy Za sedih.
"Gimana nih terus?." Tanya Mama Akifa ikutan panik.
"Tenang dulu aja, yang penting kita semua ada si sini jaga in Wulan." Kata Abdiel.
Lampu pengganti listrik mati di nyala kan oleh Daddy Rafka.
Semua orang menanti Zarine bangun dari pingsan nya.
Hujan dan petir masih beradu di luar sana.
20 menit kemudian.
"Engh!." Wulan melenguh karena kepala nya sedikit pusing, dia sadar dan tengah mengerjap kan mata nya menetral kan pandangan nya yang sedikit buram.
"Lanlan? Gimana perasaan kamu?." Tanya Albhi cemas dan senang bersamaan mendapati gadis nya bangun dari pingsan nya.
Wulan tak menjawab, dia bersuaha untuk duduk, setelah berhasil sang Mommy memberi kan Wulan segelas air putih, Wulan meneguk nya hingga sisa setengah.
"Are okay Baby,?." Tanya Daddy Rafka dengan nada lembut nya.
"Apa sudah beli martabak nya?." Tanya Wulan yang membuat semua orang tercengang mendengar nya.
Semua orang kemudian kompak menepuk pelan kening mereka.
"Duh Baby! Berhenti bahas martabak oke, kamu masih lemes, kita di sini khawatir sama ke adaan kamu sayang, eh kamu malah bingung martabak, besok aja yah sekarang lagi ujan di luar, banyak petir juga." Panjang Mommy Za berbicara.
"Hehehe... iya Momm." Ucap Wulan sambil terkekeh pelan.
"Dah, jangan bahas martabak, sekarang gimana perasaan kamu? Udah baikan kan?." Tanya Albhi cemas.
"Aku ngga papa udah baik-baik aja." Balas Wulan lembut pada Bang Bhibhi pujaan hati nya ini.
"Ya udah syukuran deh." Ucap Albhi lega.
"Mommy?." Panggil Wulan.
"Why Baby?." Tanya Mommy Za lembut sambil mengelus pucuk kepala Wulan yang terbalut jilbab itu.
"Aku mau tidur sama Mommy di kamar Mommy." Pinta Wulan sambil menampak kan wajah memelas nya.
"Alamat tidur ngga meluk istri nih." Gumam lirih Daddy Rafka.
'Puk puk puk!.' Tepuk kan sedikit kuat mendarat di pundak Rafka yang berasal dari Abdiel.
"Ck ck ck! Sabar bro, terkadang memang ada saat nya kita ngalah ama anak, dulu Gua sering kok kaya gitu sabar yah." Abdirl prihatin sekaligus mengejek sang sahabat tercinta nya ini.
"Diem Lu! Bukan nya nenangin Gua malah bikin kuping Gua panas aja!." Ketus Rafka sambil menyikut perut Abdiel.
Abdiel sedikit meringis dan tertawa keras karena ulah Daddy Rafka ini.
"Ya udah ayo kita ke kamar sayang." Ajak Mommy Wulan.
Waktu semakin larut malam, semua orang masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat menyambut hari esok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai hai guys👋. Puasa udah tinggal 1 hari lagi nih.
Aku ucapin selamat menunaikan ibadah puasa buat kalian yang menjalan kan.
Ouh iya guys, waktu gempa kemarin? Daerah kalian kena juga ngga? Daerah ku juga kena, guncangan nya cukup keras, bahkan ada juga yang rumah nya runtuh.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Lanjut besok ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.