
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU
MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Siiap dah." Balas Rafka.
Mobil mereka pun ber iringan keluar dari perumahan.
"Ini Shita ngga ada telfon Kak?." Tanya Zarine pada Kak Raina, panggilan sengaja mereka hidup kan untuk berbincang.
"Ngga ada tuh, aku padahal udah nunggu dia telfon." Ujar Kak Raina.
"Jangan-jangan mereka belum sampe lagi." Seru Akifa heboh.
"Ya ngga papa lah kita nunggu in, sekali an jajan di sana, hahahaha... ." Tawa jahat Alfi di dengar oleh semua nya.
"Kalian bawa dompet kan?." Tanya Tika menatap para pria di dalam mobil.
Semua pria mengecek kantong nya dan... .
'Huuufffhhh... .' Helaan nafas lega terdengar.
"Alhamdulillah bawa, tenang aja, mau jajan apa aja di stasiun entar kita beli in, mau segerobak-gerobak nya sekali pun kita iya in." Sombong Abdiel yang di iya kan oleh pria-pria lain nya.
"Kalo kita mau Abang yang jualan boleh dong." Goda Akifa.
"Tentu a-, tunggu! Abang yang jualan?! Ngga ada!." Seru para pria menolak, membuat para wanita terbahak.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Hahahaha... bolehin dong Yang." Rayu Akifa di sebelah Abdiel.
"Ngga ada, bisa-bisa nya yah kalian minta nya aneh gitu, untung kita ngga iya in." Sewot Abdiel menyahut.
"Udah jangan ribut." Lerai Kak Raina di seberang sana.
"Eh umur nya Dini tuh berapa sih? Se ingat ku dia kaya masih 17 OTW 18 deh, bener ngga sih?." Tanya Alfi.
"Yah, dia umur nya segitu an, selisih 2 tahun gitu sama si Andi." Jelas Kak Rain panjang lebar.
__ADS_1
"Eh? Udah hampir sampe stasiun nih, aku mati in ya panggilan nya." Ijin Kak Raina pada Rafka Zarine dan juga lain nya ini.
"Iya Kak silah kan." Ujar Zarine manyahut.
"Assallammu'allaikum." Salam Kak Raina.
"Wa'allaikum sallam." Balas Rafka Zarine dan lain nya kompak.
Panggilan terputus.
Beberapa menit kemudian, 2 mobil sampai di tempat parkir stasiun.
Semua penumpang di dalam mobil keluar dan berkumpul di dekat mobil Bang Rafa.
"Coba Bang, Lu telepon itu si Rendra lagi ada di mana." Pinta Rafka yang di iya kan sang Abang Ipar nya itu.
Bang Rafa menjalan kan hal yang di minta Rafka.
'Tut... tut... tut... .' Suara panggil terhubung.
"Berdering." Beri tahu Bang Rafa pada Rafka dan lain nya.
1 menit.
2 menit.
3 menit.
4 menit.
"Ck! Mereka tidur kah?!." Rungut Kak Raina jengkel.
"Sabar Yang." Bang Rafa menenang kan sang istri.
Rafka, Abdiel, dan Abhi juga ikut panik mendapati istri-istri mereka menghilang.
"Ngga usah di cari, tuh liat di sana." Tunjuk Bang Rafa pada gerobak siomay yang jarak nya sedikit jauh dari mereka.
"Astaghfirullah hal adzimmmm." Rafka dan 3 pria lain nya ber istighfar panjang melihat para wanita itu.
"Wah enak tuh, aku ikut mereka yah?." Kak Raina meminta ijin pergi.
Bang Rafa baru saja mengangguk kan kepala sekali Kak Raian sudah pergi dengan wajah bahagia.
"Eh? Mereka ngga bawa uang tadi." Seru Abdiel.
"Gini deh, biar uang Gua aja yang di pake ama mereka, kalian tunggu sini." Ujar Rafka, dia berjalan ke tempat 5 wanita itu pergi, kemudian Rafka memberi kan dompet nya ke Zarine.
Terlihat dari tempat berdiri Bang Rafa dan lain nya suami istri itu terlibat pembicaraan sebentar.
Kemudian tak lama Rafka kembali kepada para pria.
5 pria itu menatap wanita mereka masing-masing dan tanoa mereka sadari bibir mereka tersungging karena senyum bahagia melihat para wanita bahagia.
"Salah ngga sih kita manjain mereka?." Tanya Abhi tiba-tiba.
"Kita kerja buat mereka, kalo bukan mereka yang habisin uang kita terus siapa lagi? Masa orang lain sih yang habisin? Ya kali." Balas Abdiel yang di angguki lain nya.
Tiba-tiba.
"Liatin apa sih?." Cetus seseorang yang membuat 5 pria tampan itu terkejut.
"Gila kalian! Bisa ngga sih ngga ngagetin?!." Sewot Abdiel dengan mengelus dada bidang nya terkejut.
__ADS_1
"Hahaha... maaf-maaf, habis nya kalian fokus banget, liatin apa sih?." Tanya Rendra yang kepo.
"Kalian baru nyampa atau gimana nih? Tadi kita telepon kok ngga ngangkat sih?." Tanya Bang Rafa beruntun.
Para pria lain nya mengangguk, 5 pria itu tak mengindah kan pertanyaan yang di layang kan Rendra tadi.
"Kita baru aja kok nyampe nya, sengaja ngga ngabarin, kita kira bakal naik taksi atau angkutan umum gitu, soal nya tadi lupa ngga minta kalian jemput." Kini suara Shita yang mewakili Rendra berbicara.
Bang Rafa dan lain nya membulat kan bibir nya membentuk huruf O tanda paham maksud dari penjelasan Shita.
"Ini? Yang jemput... cuma kalian ber 5 aja nih?." Tanya Panji sambil celinguk kan seperti mencari seseorang.
"Hahaha... engga, kalian cari Rain sama lain nya yah? Tuh liat di gerobak siomay warna orange itu." Tunjuk Bang Rafa kepada seseorang di sana.
"Buset? Mereka ngga makan siang tadi kah? Lahap banget makan nya." Cetus Shita sambil menggeleng kan kepala heran.
"Mereka emamg gitu, semenjak hamil ini mereka lapar mata, apa yang mereka lihat pengen mereka beli dan makan, apa lagi si Zarine, bueh! Kalo itu nafsu makan nya naik drastis hampir ngga terkontrol gitu, Gua aja bisa takut sendiri kalo dia makan banyak gitu." Jelas Rafka panjang sambil meringis menatap sang istri yang lahap makan siomay.
"Udah lah nama nya juga Ibu Hamil, pasti gitu, kalo Gua mending kaya mereka sih, ngga pilih-pilih makanan." Cetus Shita membela Zarine dan 4 wanita lain nya.
"Ya nakutin aja gitu Ta." Kata Bang Rafa yang menunjuk kan raut muka kekhawatirannya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.