
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU
MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Bener tuh Bang Rafa, Gua juga ikut liat, Lu juga ikut liat lah." Tambah Bang Idan mengajak.
"... ." Tak ada balasan apa pun dari Bang Rafa.
Kak Raina memanyun kan bibir nya dengan berkata "Percuma tau kalian bujuk Bang Rafa, dia ngga bakal mau pergi, aku aja udah minta dari tadi, dia spontan langsung nolak."
"Ayo lah Bang, Kak Raina juga butuh hiburan, toh pergi nya sama Abang juga." Bujuk Zarine memohon.
"Kasian tau kalo Ibu hamil sampai ngga di bolehin keluar rumah, nanti kalo Ibu nya stres baby nya juga ikutan loh Bang." Akifa memprovokasi Bang Rafa agar mau memenuhi ajakan mereka.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Bang Rafa menghenti kan kegiatan makan nya dan menatap Kak Raina sang istri dengan tatapan tak percaya.
"Masa sih Yang bisa kaya gitu?." Tanya Bang Rafa tak percaya.
"Iya lah." Jawab Kak Raina dengan memasang wajah sedih nya.
Bang Rafa berfikir sampai menguyah makanan dalam mulut nya melamban.
Kak Raina mengulum senyum 'Maaf Yang aku ikut sandiwara mereka, kalo ngga gitu nanti kamu ngga mau pergi, aku kan juga mau liat 7 serangkai mentas.' Begitu lah batin Raina berucap.
"Ya udah deh iya, kita bakal ikut liat 7 serangkai manggung." Putus Bang Rafa pasrah.
"Yeyyyy!." Seru semua orang di meja makan dengan sangat bahagia.
Bang Rafa diam melanjut kan makan nya yang tertunda.
"Gitu dong Bang, ngga baik kan kalo diem di rumah mulu, bisa stres nanti." Ujar Akifa.
"Hm." Sahut Bang Rafa datar.
"Hahaha... jangan ngambek lah Bang, lagi pula Kak Raina itu pergi sama kamu, dia ngg sendiri, jangan terlalu possesive Abang ku sayang." Kata Zarine sambil mengelus pundak nya lembut.
'Huuuffffhh.' Helaan nafas pasrah terdengar dari hidung Bang Rafa.
__ADS_1
"Iya kamu bener." Jawab Bang Rafa.
"Nah, sekarang senyum dong." Intruksi Zarine sambil memperaktik kan nya pada Abang nya ini.
Sesaat kemudian Bang Rafa ikut tersenyum dengan mencubit ke dua pipi cabby Zarine.
'Plak!.'
"Adoy! Apa an sih Raf?!." Tanya Bang Rafa sewot karena tangan nya di pukul oleh Rafka suami Zarine.
"Tangan nya kondisi in." Ketus Rafka membalas.
"Astaghfirullah... possesive nyaaaaa." Kata Bang Rafa dengan menggeleng kan kepala.
Tanpa menjawab lagi, Rafka melanjut kan makan nya sambil sesekali menyuapi Zarine.
"Eh guys?." Panggil Akifa pada seluruh penghuni meja makan rumah Bang Rafa dan Kak Raina ini.
"Apa an?." Sahut Bang Rafa.
"Kita ajak Sari sama Roy yuk sekalian." Antisias Akifa berucap.
"Wah! Boleh tuh." Setuju Zarine tak kalah antusias.
"Boleh lah, aku juga udah lama ngga liat mereka, pengen tau kabar mereka, pengen tau apa si Sari udah isi apa belum." Jelas Alfi yang juga setuju dengan usulan Akifa sang sahabat.
"Kita video call mereka aja apa langsung samperin ke rumah nya nih?." Tanya Tika.
"Kita main ke rumah nya aja, hehehe... kita ganggu in nya jangan setengah-setengah, kontan aja biar puas, hahaha... ." Tawa Akifa pecah.
"Ayo segera habis kan makanan kalian kalo gitu." Perintah Bang Rafa yang di angguki lain nya.
Pukul 13.30 siang 5 keluarga junior meluncur ke kediaman Sari dan Roy.
"Kalian para cowok duduk diam di sini aja, biar kita para cewek yang milih di dalam." Pinta Kak Raina yang reflek di angguki para pria.
"Assallammu'allaikum... ." Salam Para wanita serempak.
"Wa'allaikum sallam." Jawab suami mereka masing-masing.
Para wanita keluar dari mobil dan berjalan ke supermarket itu.
"Mereka pasti bakal kalap nih belanja nya." Ujar Rafka yang duduk di sebelah Bang Rafa itu.
"Ya udah sih biar aja, kita cari uang buat mereka." Cuek Bang Idan berucap.
"Raf, Diel, Bhi? kalian jadi kuliah di universitas xxx?." Tanya Bang Rafa.
"Jadi lah, udah keterima juga di sana." Jawab Abhi mewakili 2 sahabat nya.
Di dalam mobil diam tak ada suara setelah pembicaraan itu.
Terlihat di dalam mobil ini Bang Idan sedang melamun entah melamun kan apa.
"Bang Idan? Lu kenapa?." Panggil Abdiel yang sedari tadi memperhati kan suami Tika ini.
"Gua banyak pikiran nih." Curhat Bang Idan.
"Ya bagi lah ama Tika atau sama kita-kita ini, Lu akhir-akhir ini jadi tertutup gitu orang nya, kenapa sih?." Tanya Abdiel.
"Gua udah cerita sih ama Tika, dan dia setuju-setuju aja dengan semua keputusan Gua." Ujar Bang Idan dengan membenar kan duduk nya.
"Apa emang?." Tanya Abhi.
__ADS_1
"Kantor Gua di London ampir ancur." Ungkap Bang Idan.
"Hah?! Kok bisa di Bang Idan?!." Tanya Bang Rafa, Rafka, dan Abdiel bersamaan.
"Kenap Lu diem aja sedari kemarin-kemarin? Lu anggep kita apa sih Bang?! Ya Allah!." Geram Rafka pada Abang kandung nya ini.
"Ya sory, Gua ngga mau kalian ikut ribut ama masalah Gua." Lesu Bang Idan berucap.
"Terus Lu mau nya gimana?." Tanya Abhi datar.
"Rencana nya setelah Tika terima ijazah kita bakal ke London untuk beberapa tahun ke depan." Jujur Bang Idan.
"Tika setuju?." Tanya Bang Rafa.
"Dia setuju, yaaa meski Gua tau hati dia ngga terima." Jawab Bang Idan dengan menyungingkan senyum nya.
"Kalo itu rencanaa yang terbaik kita dukung Lo kok Bang, asal di sana Lo jangan lama-lama, jauh dari keluar tuh ngga enak tau." Pesan Rafka pada Abang kandung nya ini.
"Pasti Gua usahain di sana ngga lama, kalo aja Hans bisa atur semua nya di sana pasti Gua ngga mungkin turun tangan sendiri." Kata Bang Idan dengan menghela nafas.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.