Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus delapanpuluh satu


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU


MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


Tatapan para wanita hamil kosong ke depan dengan dengan air mata luruh banjir.


Para pria juga tak menyangka ini semua akan terjadi, mata mereka memerah menahan tangis, wajah mereka penuh kesedihan.


Segera para pria menarik para bumil itu dalam dekapan masing-masing. Dan sedetik kemudian tangis mereka pecah.


Di Surabaya dan di London mereka juga di landa kesedihan mendalam.


Kontan saja mereka langsung memeasan tiket pulang ke Indo dan yang dari Surabaya langsung meluncur ke Jakarta.


Di rumah Rafka Zarine para wanita masih menangis sampai pingsan.


Kontan saja para suami kalang kabut kelimpungan, mereka segera membawa para istri-istri mereka ke RS.


Musibah di tengah ramadhan seperti ini tak ada di agenda 6 serangkai.


Setelah sampai rumah sakit langsung saja mereka membawa para istri ke UGD untuk di periksa.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Di ruang UGD para suami mondar mandir menunggu dokter.


Abdiel sampai meninju tembok tak bersalah karena kekalutan pikiran dan hati nya.


Abdiel hendak teriak tapi dia tak mampu, dia ingin manangis tapi tak bisa, hanya mata nya yang memerah.


"Kita harus cek kebenaran nya sekarang juga." Ujar Abhi.


"Tunggu dulu Bhi, Lo ngga liat?! Istri-istri kita juga butuh kita, hubungi Asisten kita, suruh mereka yang bergerak!." Perintah Rafka pada Abhi sang sahabat.


Abhi menurut dan menuruti omongan Rafka.


Saat Abhi membuka ponsel. Tertera di sana ada chat grup dari Bang Rafa dan Bang Idan.


Tertulis di sana 'Gua meluncur pulang.' Kata mereka berdua.


"Bang Rafa sama Bang Idan pulang." Beri tahu Abhi pada Abdiel dan Rafka.


"Hmmm... ." Balas Rafka singkat. Abdiel tak menyahuti apa pun, dia syock menerima kabar bahwa para tetuah kecelakaan pesawat dan tragis nya tak ada yang selamat.


"Ujian apa ini ya Allah?." Gumam Abdiel lirih bertanya pada Tuhan sang pencipta alam.


"Hiks! Apa ngga ada ujian yang lebih ringan lagi ya Allah?! Kenapa harus semua?!!!." Teriak Abdiel sambil terisak pilu.


Rafka dan Abhi mendekat pada Abdiel, mereka ber tiga saling merangkul bahu untuk memberi kekuatan satu sama lain.


"Semua manusia bakal ninggalin kita sewaktu-waktu Diel, kita harus ikhlas." Ujar Rafka dengan suara serak tak bisa menangis.


"Se enggak nya sisa in lah satu, kenapa semua nya?!." Seru Abdiel kalut.


"Ini udah rencana Allah Diel, kita harus sabar dan ikhlas." Tambah Abhi menasihati Abiel.


(Sebener nya ini bukan cuma rencana Allah, tapi juga rencana ku, maaf ya 6 serangkai, maaf banget🙏). AuthorGesrek.


(Walau aku cuma menitih kan air mata ngga sampai nangis tersedu-sedu tapi percayalah, aku juga ikutan nyesek). AuthorGesrek.


"Hiks!." Abdiel tak menjawab lagi, dia hanya terisak sambil duduk di lantai meratapi para tetuah yang telah tiada.


"Gua udah nyuruh Asisten kit semua untuk memcari tau ke valid an berita itu juga menemu kan jenazah para tetuah." Kata Abhi memberi tahu.


"Diel? Kita harus kuat, demi istri dan anak kita, kalo kepala keluarga nya down, lain nya juga bakal ikut, Lo, Gua, Abhi harus kuat buat istri kita, ayo berdiri hapus air mata Lo, jangan tampakin wajah sedih kita di depan mereka." Ujar Rafka panjang lebar.


Abdiel memikir kan perkataan Rafka yang memang benar ada nya, dia pun bangun dari duduk di lantai dan menghapus air mata di pipi nya.


Bersamaan dengan itu, Dokter yang masuk ke UGD untuk memeriksa 3 bumil yang pingantadi keluar.


Para suami mendekat untuk menanyakan kabar pasien.


"Gimana ke adaan istri kita Pak?." Tanya Rafka.


"Pasien hanya syock terguncang suatu hal yang membuat mereka down, jangan biar kan melamun dan bangak menangis, untuk Baby nya alhamdulillah sehat baik-baik saja, sekarang pasien sudah sadar dan sudah bisa di temui." Jelas Dokter panjang.


"Apa sudah boleh pulang juga Dok?." Tanya Rafka.


"Sudah di perboleh kan pulang, sebaik nya pasien jangan ikut puasa dulu, mengingat kondisi mereka tak stabil." Saran Dokter lagi.


"Iya Dok, terima kasih." Ucap Abdiel tulus.


"Sama-sama, kalo begitu saya permisi dulu, mari." Pamit Dokter dan beliau pun berjalan menjauh dari Rafka, Abhi, dan Abdiel.


Setelah kepergian Dokter, 3 pria itu masih belum masuk ke dalam ruangan.


"Kita harus jauhin mereka dari TV dan handphone, kalo perlu bawa mereka jauh dari keramaian biar tenang, kita ke Villa yang ada di Puncak buat nenangin mereka." Papar Abhi serius.


"Gua setuju." Balas Abdiel.


"Tapi se enggak nya biarin mereka ketemu sama jenazah para tetuah." Imbuh Rafka pada ke dua sahabat nya ini.


"Hmmm, kita atur nanti itu semua, sekarang mari kita temui mereka dulu." Kata Abdiel dengan langkah kaki berjalan ke pintu masuk UGD di iringi Rafka dan Abhi.


Di dalam ruangan.


Zarine, Akifa, Alfi duduk di atas ranjang rumah sakit dengan menatap kosong ke depan.


'Huuffffhh.' Helaan nafas lelah terdengar dari hidung pria itu, lalu mereka salinh pandang satu sama lain.


Kaki mereka mendekat ke ranjang istri masing-masing dan langsung memeluk nya erat.


Para wanita menangis tapi tak bersuara dan ekspresi mereka pun datar, air mata sudah seperti air hujan yang deras turun dari langit, tak dapat di tahan atau pun di cegah.


"Please jangan kaya gini, jaga kesehatan kamu dan Baby kita." Ujar Rafka pada Zarine.


"Gimana aku bisa tenang sedang kan para tetuah sedang mengalami musibah, mereka semua udah ngga ada, Bunda udah ngga ada, aku sendirian." Kata Zarine lirih berbisik di telinga Rafka.


"Kamu ngga sendirian, ada aku, ada lain nya, kamu ngga kehilangan sendiri, kami juga kehilangan." Ujar Rafka sangat lembut.


"Dah, kalian jangan nangis lagi, Tika sama Kak Rain dalam perjalanan pulang, entah akan sampai pukul berapa, inti nya kalian harus tenang jangan nangis, kesehatan kalian dan Baby yang terpenting di sini, kami akan membawa kalian ke Puncak buat ngilangin duka kalian." Ujar Abhi memberi tahu.


"Tapi sebelum ke sana kita mau liat jenazah nya para tetuah." Ujar Alfi lirih.

__ADS_1


"Iya." Balas Abhi singkat.


"Dah kalian di sini duduk diam aja dulu, kami mau ke kantin buat sahur, ini udah jam 3 lebih, bentar lagi imsak." Abdiel pamit.


"Bawa kan kami juga makanan, kami juga akan sahur dan ikut puasa." Kata Zarine meminta.


"Engga, kalian ngga usah puasa dulu, lusa atau ngga besok aja puasa lagi." Tutur Rafka.


"Tapi-." Ucapan Zarine terhenti.


"Demi Baby, kalo ngga demi diri sendiri, se engga nya demi nyawa yang ada di perut kalian, turutin kami sekali ini aja." Pinta Zarine dengan mimik wajah memelas.


Para wanita pun mengangguk meng iya kan.


"Good girl's." Ucap para pria sambil mengelus pucuk kepala istri mereka.


"Kita pergi dulu ke kantin, jangan kemana-mana, duduk diam di sini, jangan nangis, jangan ngelamun, dan jangan kangen yah kita bakal balik kok, assallammu'allaikum." Salam para pria itu kompak.


Di tengah kacau nya mereka, Abdiel masih sempat-sempat nya menggoda para wanita.


Beberapa menit berlalu, para pria kembali ke dalam kamar sambil membawa kantung plastik yang di dalam nya ada bungkusan kertas minyak.


"Ayo kita makan dulu." Ujar Rafka pada Zarine.


"Kita kapan pulang?." Tanya Zarine.


"Bentar lagi kita pulang." Jawab Rafka singkat sambil menyuap kan satu sendok penuh ke mulut Zarine.


3 menit berlalu, suasana UGD hening hanya ada suara kecapan mulut 6 serangkai yang tengah makan.


"Aku udahan." Zarine mendorong piring di tangan Rafka saat sang suami hendak menyuapi nya tadi.


"Aku kenyang." Alfi dan Akifa pun demikian.


"Kamu baru makan 5 suap loh Yang, ayo makan." Lembut Rafka membujuk. Abdiel dan Abhi juga melakukan hal yang sama pada istri masing-masing.


"Engga! Kalian cowok nya puasa, yang butuh makan banyak itu kalian bukan kami." Ujar Akifa yang hanya bisa di tanggapi helaan nafas pasrah dari para pria.


Pukul 04.45 ba'da subuh 6 serangkai pulang ke rumah dan menunggu berita dari para asisten mereka tentang kecelakaan pesawat rute Jakarta-Berlin/Jerman.


Waktu terus bergulir, pukul 10.30 siang ada yang mengetuk pinti rumah Rafka Zarine.


ART rumah Rafka Zarine yang membuka nya dan langsung di persilah kan masuk oleh ART itu.


Di ruang santai rumah Rafka Zarine.


"Assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa dan Kak Raina.


"Wa'allaikum sallam." Jawab 6 serangkai.


Melihat sang Abang dan Kakak ipar nya ada di depan nya, Zarine berjalan cepat dan menghambur ke peluk kan dua orang itu.


"Hiks! Bunda Bang, Bunda ngga ada." Adu Zarine pada Bang Rafa, suara nya lirih karena teredam oleh dada bidang Bang Rafa yang tengah dia peluk.


"Kita harus ikhlas, Adek ngga sendiri, ada Abang di sini, ada yang lain nya juga di sini, Adek ngga kehilangan sendiri, kita semua juga kehilangan di sini, dah jangan banyak nangis ngga baik buat Baby nya, kalo Mommy nya stres Baby nya juga ikutan Dek, tolong kamu jaga kesehatan." Bang Rafa menasihati sang adik panjang lebar.


'Tring... ring... ring... .' Suara ponsel seseorang berbunyi.


Dang empu yang merasa langsung mengecek ponsel nya dan melihat siapa yang memanggil.


"Siapa?." Tanya Rafka.


"Para asisten kita." Jawab Abhi sng empu ponsel.


"Angkat buruan." Suruh Bang Rafa.


Abhi mengangguk kan kepala nya dan segera menggeser ikon hijau ke kanan, Abghi juga menspeakers suara agar semua nya mendengan informasi yang di bawa para asisten itu.


"Assallammu'allaikum." Salam orang kepercayaan 5 keluarga junior di seberang sana kompak.


"Wa'allaikum sallam, gimana? Apa kalian menemu kan para tetuah di sana?." Tanya Abhi beruntun.


"Urus segala nya dan bawa pulang ke rumah, kita akan melalukan pemakaman nya." Perintah Abhi tegas tak terbantah.


"Siap Tuan, kalo begitu saya tutup dulu panggilan nya, assallammu'allaikum." Pamit para asisten.


"Wa'allaikum sallam." Jawab 4 keluarga junior kompak.


Setelah panggilan itu berakhir, tangis 4 ibu hamil di sana pecah, mereka sampai lemas terduduk di lantai dan dengan sigap para suami menopang tubuh istri masing-masing yang oleng.


Para pria memeluk dan menenang kan mereka, para pria meminta para wanita ikhlas dan ridho atas kepergian para tetuah, tentu saja tangis para wanita bukan nya mereda malah makin menjad hingga pingsan.


Segera para suami menggendong para istri ke dalam kamar dan membaring kan nya di ranjang dengan hati-hati.


Kemudian Rafka memanggil dokter untuk memeriksa ke adaan para bumil itu.


10 menit berlalu dokter datang dengan 2 perawat atas permintaan Rafka juga lain nya.


Jam terus berputar, ba'da dzuhur para jenazah telah tiba di rumah Rafka Zarine di bawa mengguna kan ambulans rumah sakit yang merawat mereka.


Para wanita sudah sadar beberapa menit yang lalu, saat jenazah di letak kan di ruang tamu yang kini penuh dengan orang, Zarine, Akifa, Alfi, Kak Raina memeluk jenazah yang sudah terbungkus kain kafan itu dengan tangisan pilu nya.


Kemudian mereka membawa jenazah itu ke masjid terdekat untuk di sholat kan, dan setelah itu di makam kan di TPU terdekat.


Yang sedari pukul 2 dini hari pagi Rafka dan Abhi tak dapat menangis, kini saat mengangkat keranda membawa nya ke peristirahatan terakhir para tetuah, Rafka Abhi menangis pilu tak bersuara. Sedang kan Bang Rafa dan Abdiel sampai terisak.


di rumah, Zarine, Akifa, Alfi, dan Kak Raina di beri semangat oleh para tetangga yang bertakziyah.


Mereka sudah tak menangis se pilu tadi, hanya air mata nya yang berjatuhan tanpa bersuara dan pandangan mereka kosong ke depan.


"Yang sabar yah kalian, ikhlas kan kepergian orang tua kalian agar mereka tenang di sana." Tutur Bu RT di komplek tempat tinggal 5 keluarga junior ini.


"Iya jangan larut dalam kesedihan, kalian harus pikirin Baby yang ada di dalam perut kalian juga, ingat! Kesehatan ibu itu berpengaruh pada Baby nya." Nasihat Bu RW yang membuat 4 wanita hamil ini mengelus perut mereka yang sedikit membuncit.


"Semua makhluk hidup akan kembali ke sisi-Nya, ikhlasin yah, ngga kalian aja koknyang pernah kehilangan, kita semua juga merasa kan, kalo ngga sekarang, ya pasti akan mengalami atau bisa juga kita yang tiada, tak ada yang tau rencana Allah, tabah kan hati kalian lapang kan dada kalian, lepas kan mereka yang telah tiada." Kata-kata mutiara terucap dari ibu-ibu yang bertakziyah.


"Terima kasih Bu telah memberi kami semangat." Ucap Kak Raina tulus pada para tetangga nya ini.


"Ini lah gunanya tetangga, saling memberi semangat jika ada tetangga lain nya kesusahan." Ucap Bu RT.


Jam berputar tanpa menunggu siapa pun, di berputar sesuai waktu yang sudah Allah atur.


Waktu kini sudah sampai di pukul 16.00 sore ba'da ashar.


Para wanita sekarang tengah duduk di ruang tamu menemui tamu-tamu yang datang silih berganti untuk bertakziyah, tentu saja di sana juga ada para pria, mereka bersama-sama menyambut tamu.


'WhatsApp, Abhi? WhatsApp.' Suara ponsel milik Abhi di meja dekat tempat duduk Alfi sang istri.


"Yang?." Bisik Alfi di telinga Abhi yang tengah sibuk berbicara pada tamu.


"Apa?." Tanya Abhi.


"Ponsel kamu bunyi tuh, WhatsAppa bunyi nya." Beri tahu Alfi.


"Iya." Balas Abhi singkat.


Abhi pamit dari tempat duduk nya dan mengecek WhatsApp nya.


'Bang Idan : Jemput Gua ama Tika di bandara sekarang, Gua udah nyampe nih.'


^^^'Abhi : Iya tunggu, Abdiel nanti yang jemput.'^^^


'Bang Idan : GPL kalo bisa, bini Gua udah nangis nih, hampir pingsan.'


^^^'Abhi : Iya sabar, udahan dulu.'^^^


WhatsApp Off.

__ADS_1


Abhi kembali ke tempat duduk nya dan berbicara berbisik pada Abdiel yang duduk di samping nya.


"Lo jemput Bang Idan sama Tika, mereka udah nunggu di bandara." Kata Abgi lirih.


"Iya deh Gua jemput, Lo ikut?." Tanya Abdiel.


"Di sini banyak tamu, Lo aja sendiri, kagak usah ngajak Akifa, kagak usah pamit juga, buruan sana Akifa urusan Gua entar." Perintah Abhi tak terbantah kan.


"Iya deh." Pasrah Abdiel.


Dia pun pergi tanpa sepengatahuan Akifa, Akifa juga tak memperhati kan sang suami terus lantaran dia banyak melamun.


40 menit perjalanan sampai lah Abdiel di bandara.


Hati nya sesak jika melihat bangunan itu.


'Mama? Papa? Kenapa secepat ini kalian pergi?.' Batin Abdiel menangis.


Tangan nya mencengkram stir kemudi sambil kepala nya tertunduk dalam.


Tiba-tiba... .


'Tok tok tok.' Jari seseorang mengetuk kaca mobil Rafka yang di pake Abdiel menjemput Bang Idan Tika.


Abdiel memperbaiki wajah nya yang kacau akibat menangis, kemudian dia membuka kaca mobil dan tampak laha Bang Idan juga Tika di sana.


"Masuk!." Suruh Abdiel pada ke dua orang itu.


Tanpa menunggu perintah dua kali, Bang Idan Tika masuk ke mobil bagian penumpang, setelah itu Abdiel pun melaju kan mobil nya meninggal kan bendara itu.


"Kemana Akifa?." Tanya Tika.


"Ngga ikut." Singkat Tika.


"Rafka ngga kamu ajak?." Tanya Bang Idan.


"Di sana banyak tamu, ngga enak kalo banyak yang keluar." Jelas Abdiel yang di balas angguk kan kepala oleh Bang Idan.


Suasana hening di dalam mobil yang di tumpangi 3 orang itu.


"Tadi jam berapa makamin nya?." Tanya Bang Idan pelan.


"Ba'da dzuhur." Balas Abdiel singkat.


"Maaf kita dateng nya telat." Ucap Tika dengan suara bergetar karena menangis.


"Kalian jauh, jadi kita maklumi kalo ngga bisa dateng tepat waktu, apa lagi di sana sama di sini kan waktu nya beda, jadi ngga usah nyalahin diri sendiri, kita maklumin kalian." Abdiel memberi pengertian.


"Thanks udah ngertiin kita Diel." Ucap Tika tulus.


"Hmm... ." Balas Abdiel.


"Lo puasa sekarang?." Tanya Bang Idan.


"Iya, para ciwi-ciwi yang kagak puasa, mereka pingsan jam 2 dini hari tadi, dokter bilang ngga usah puasa dulu, bisa di lanjut kalo ke adaan mereka baik-baik aja." Jelas Abdiel panjang lebar.


Beberapa menit perjalanan mobil pun sampai di garasi rumah Rafka Zarine.


Abdiel langsung menggiring Bang Idan dan Tika masuk ke dalam rumah.


Tepat baru masuk ke dalam rumah masih di ambang pintu, Tika sudah di grebek Zarine, Akifa, Alfi, juga Kak Raina. Mereka berpeluk kan sambil bercucuran air mata.


"Ayo masuk ke dalam dulu, jangan di ambang pintu kaya gini, ngga enak di liat banyak orang." Nasihat Bang Idan pada para wanita.


Bang Idan pun menggiring para bumil ini untuk masuk ke dalam rumah. Menduduk kan mereka di sofa ruang santai rumah Rafka Zarine. Setelah duduk Bang Idan menuju dapur untuk mengambil kan para wanita minum.


4 menit kemudian Bang Idan kembali ke ruang santai.


"Please jangan nangis, kalian harus jaga kandungan kalian, kesehatan kalian berpengaruh sama Baby soal nya." Nasihat Bang Idan pada para wanita di depan nya ini.


"Kita udah berusaha buat ngha nangis Bang, dan sekarang bayangin aja, para tetuah kita udah ngga ada, udah ninggalin kita, mana bisa kita ngga nangis." Ucap Alfi panjang.


"Iya aku paham, tapi jangan sampe berlebihan, Baby kalian nanti yang nanggung resiko nya." Ujar Abdiel ikut menasihati para wanita.


"Dah, kalian duduk sini aja ngga usah ikut nemu in tamu, duduk diam ok, kalo perli apa-apa panggil ART aja." Pesan Bang Idan dan kemudian dia juga Abdiel meninggal kan para wanita di ruang santai itu.


Adzan maghrib berkumandang merdu di masjid komplek, tamu yang bertakziyah sudah pulang semua dan kini hanya ada 5 keluarga junior yang tengah duduk di meja makan sedang berbuka puasa.


Hanya ada suara dentingan sendok garpu dengan piring yang terdengar di ruang makan rumah Rafka Zarine ini.


"Kalian berapa hari ini di sini?." Tanya Rafka pada Bang Rafa Kak Raina dan Bang Idan Tika.


"Kita di sini sampai 7 hari di hitung dari hari ini, nanti setelah hari ke tujuh para tetuah, kita akan pulang, maaf ngga bisa lama, perusahaan ku masih amburadul di sana." Jelas Bang Rafa, nada bicara nya penuh dengan peenyesalan.


"Ngga papa lagi Bang, yang penting Bang Rafa sama Kak Rain pulang." Zarine berbicara sambil menampil kan senyum terbaik nya.


"Kalo Bang Idan? Pulang kapan?." Tanya Rafka.


"Sama kaya Bang Rafa, sory banget Gua ngga bisa lama-lama." Jawab Bang Idan sambil mengucap kan maaf.


"Ngga papa meski ngga lama, yang penting di hari duka kaya gini kita ngumpul, ngga mencar-mencar." Kata Akifa dengan memasang senyum manis nya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


B E R S A M B U N G . . .


Lanjut besok ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2