
Perjalanan yang jauh akhirnya selesai.
Rafka dan lainnya sampai di Jakarta dengan selamat.
Mereka kembali dengan banyak pengalaman dan cerita bahagia juga sedih dari kota Lumajang.
Pukul 23.00 malam 2 mobil travel terparkir indah di garasi rumah Rafka.
Semua orang turun dari sana dan Mama Rafka langsung membuka kan pintu rumahnya.
"Alhamdulillah, akhirnya sampe juga." Ucap syukur Abdiel.
Abdiel membanting tubuhnya di sofa ruang santai rumah Rafka.
"Langsung ke kamar kalian masing-masing dan istirahat gih." Suruh Mama Rafka.
Semua para muda-muda menurut.
Hanya Shita yang kebingungan.
"Ayo Ta Tante tunjukin kamar kamu." Ajak Mama Rafka.
Shita mengangguk meng iya kan.
Setelah di tunjuk kan letaknya.
Shita masuk ke dalam dan beristirahat.
Di kamar-kamar lainnya pun sama.
Mereka langsung ambruk di kasur dan tidur dengan pulasnya tanpa mandi atau mengganti pakaian mereka.
-
-
-
Pagi hari yang indah menyapa.
Seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan.
"Ayo Shita makan yang banyak." Kata Mama Rafka yang mengambil kan Shita nasi lagi padahal di piringnya masih banyak.
"Iya Te makasih, ini udah cukup, malah kebanyakan." Kata Shita.
"Kira-kira Ma kalo ambilin nasi, liat tuh nasinya Shita udah kek gunung." Tunjuk Bang Idan.
"Hehehe, maaf Shita." Kekeh Mama Rafka.
"Ngga papa Te." Jawab Shita.
Hening sesaat.
"Ouh iya, nanti kalian balikin itu mobil travelnya." Suruh Papa Rafa.
"Iya tenang Pa." jawab Bang Idan.
Papa Rafka mengangguk kan kepala pertanda meng iya kan.
"Raina sama Shita mau pulang kah berntar lagi?." Tanya Bunda.
"Iya Bun." Jawab Raina singkat.
"Ya udah biar aku nanti yang anter kamu sekalian ngembali mobil travelnya." Sahut Bang Rafa.
Raina hanya mengangguk kan kepala meng iya kan.
Setelah selesai makan, mereka semua masih menetap di meja makan sambil makan puding.
"Ta?, kamu mau kerja atau usaha nantinya?." Tanya Mama Rafka tiba-tiba.
"Kerja Te." Jawab Shita singkat.
"Kamu yakin?." Ragu Raina.
"Kenapa engga?." Tanya Shita.
"Kamu baru sembuh dari-."
"Gua mampu Kak, tenang aja." Sela Shita cepat.
"Ya udah terserah aja, tapi kalo ngga kuat jan maksa in, Gua sebenarnya ngga mau Lo kerja Ta." Terang Raina.
"Gua ngga mau nyusahin Lo terus." Singkat Shita.
"Mau kerja apa kamu Ta?." Tanya Bunda.
"Yang pasti berbau dapur." Jawab Shita.
"Mending bikin usaha aja Ta, kita semua siap bantu kok." Usul Akifa.
"Waktunya belum pas, aku masih mau ngumpulin uang buat itu." Jelas Shita dengan senyum manis.
Selesai makan, para perempuan membersihkan meja makan dan para laki-laki menyiapkan mobil untuk pulang ke rumah masing-masing.
30 menit menunggu.
Yang di tunggu pun muncul.
"Ayo kita pulang." Ajak Rafka pada Zarine.
Zarine tersenyuk dan mengangguk kan kepala.
"Ma, Pa, Bun, Yah, Om, Tante semua Rafka sama Za pulang dulu, assallammu'allaoikum." Pamit Rafka sambil menyalami semua orang begitupun dengan Zarine.
Mereka berdua masuk mobil dan satu menit kemudian mobil berjalan pergi meninggalkan pekarangan rumah Mama Papa Rafka.
Hanya membutuhkan waktu 7 menit dari rumah Mama Papa Rafka untuk pulang ke rumah Rafka Zarine.
Rafka memarkirkan mobilnya di garasi.
Setelah itu mereka masuk dari pintu sana yang terhubung langsung ke dapur.
Di dapur ada ART sedang memasak.
Mereka berdua di sambut dengan gembira oleh ART.
"Wah, Mas Rafka sama Mbak Zarine kapan pulangnya dari liburan?." Tanya Bi Surti ART yang umurnya sedikit lebih tua dari dua lainnya.
"Kemarin malam Bi, jam sebelesan kalo ngga salah." Jawab Zarine.
Rafka masuk ke dalam rumah setelah memberikan sebuah bingkisan ke tangan Zarine.
"Nih, buat Bi Surti sama yang lain, pilih yang mana suka deh, isinya sama sebenarnya, tapi jenisnya berbeda." Kata Zarine memberikan 3 bingkisan berupa oleh-oleh ke pada ART nya itu.
"Wah, makasih Mbak Zarine." Ucap Bi Surti.
"Sama-sama Bi, ouh iya, ini tolong di cuci in ya, makasih Bi Surti, Za pamit ke dalam, assallammu'allaikum." Pamit Zarine.
"Wa'allaikum sallam, makasih loh Mbak oleh-oleh nya." Ucap Bi Surti sekali lagi.
"Sama-sama Bi." Jawab Zarine.
Kemarin perjalanan pulang ke Jakarta, rombongan Rafka Zarine serta Mama Papa Rafka turun di sebuah pusat perbelanjaan khusu oleh-oleh khas Lumajang.
Belanja mereka dadakan karena mereka terlalu asyik menikmati liburan yang indah di Lumajang.
Zarine masuk kamarnya di lantai dua.
__ADS_1
Dia tidak menemukan keberadaan Rafka suaminya di dalam ruangan.
"Kemana Rafka?." Tanya Zarine pada dirinya sendiri.
"Mungkin lagi di ruang bacanya." Terka Zarine.
Zarine duduk di sofa kamar dan membongkar isi koper.
Dia menata baju-baju ke dalam almari dengan rapi.
Saat fokus menata pakaian, Rafka dari arah belakang memeluk Zarine sangat erat.
Kepalanya ia sandarkan pada ceruk leher Zarine.
"Capek?, tidur aja gih." Saran Zarine.
"Ngga ngantuk." Jawab Rafka.
Rafka melepas hijab yang di gunakan Zarine dan kemudian meletak kannya di meja rias yang letaknys berada tepat di samping lemari.
"Cantik." Puji Rafka saat melihat pantulan wajah Zarine di kaca lemari.
Zarine menunduk malu serta tersenyum kecil.
Makin erat Rafka memeluk Zarine.
Dia mencium bau vanila yang membuatnya candu juga menenangkan di leher Zarine.
"Yang?." Panggil Zarine.
"Hem?." Sahut Rafka yang sibuk mengendus bak kucing yang mengendus makanan.
"Kamu ngga capek berdiri mulu?, ayo duduk." Ajak Zarine.
Tanpa menjawab Rafka langsung menarik Zarine untuk duduk di atas ranjang dengan bersandar di kepala ranjang.
Rafka masih betah peluk cium dengan Zarine.
Zarine tak risih sedikitpun.
Baginya manjanya Rafka padanya sangat menggemaskan.
Rafka menuntun Zarine untuk duduk di tepi ranjang.
"Yang?." Panggil Rafka.
"Iya, ada apa sih Raf kok serius gitu mukanya?." Tanya Zarine.
Rafka duduk di bawah ranjang mendongak menatap mata teduh Zarine.
"Aku mau tanya, ini serius." Kata Rafka.
"Iya, apa?." Jawab Zarine.
"Kamu siap beneran kah jika punya baby?." Tanya Rafka.
Zarine diam menatap Rafka dengan intens.
"Yang, dengerin aku, ini udah sekian kalianya kamu tanya, dan ini juga ke sekian kalianya aku jawab." Zarine menjeda ucapannya.
"Aku siap jadi Ibu dari anak kamu, bukan karena terpaksa atau di paksa, bukan juga karena hal lainnya, kalo Allah memang memerikan kepercayaan ke kita untuk punya baby di umur aku 19 tahun ini, aku ikhlas Raf, aku siap." Jawab panjang lebar Zarine.
"Kamu ngga akan nyesel?." Tanya Rafka.
"Buat apa nyesel?." Tanya balik Zarine.
"Ya mungkin aja karena masa muda kamu udah hilang." Jawab Rafka.
"Engga sama sekali, aku ngga nyesel, lagi pula masih ada Akifa dan Alfi, mereka juga udah nikah kaya kita, ngga lama lagi pasti juga punya baby." Jelas Zarine.
2 orang itu bungkam dan saling pandang.
"Emang kamu kenapa sih kok sering banget tanya pertanyaan yang sama?, aku aja bosen dengernya, hehehe." Kekeh Zarine.
Zarine tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu kenapa mau nangis?, jangan nangis, maaf." Ucap Rafka dengan mengusap air mata Zarine yang sudah luruh ke pipi.
Rafka naik ke atas ranjang duduk di sebelah Zarine.
Zarine memeluk Rafka erat dengan sesenggukan.
"Terima kasih." Ucap Zarine di balik punggung Rafka di tengah-tengah tangisannya.
"Untuk apa?." Tanya Rafka.
"Terima kasih untuk 1 tahun ini, hari-hari aku terasa lengkap dengan adanya kamu, kamu terbaik buat aku, aku mencintai kamu Raf." Ucap Zarine.
Rafka memeluk Zarine tak kelah eratnya.
Dia tersenyum bahagia di balik punggung Zarine.
"Aku yang lebih mencintai kamu." Jawab Rafka.
Zarine melepas pelukannya.
Rafka menghapus air mata Zarine.
"Udah, jan nangis, emang apa yang buat kamu nangis?." Tanya Rafka.
"Sikap kamu yang ngga pernah maksain aku berbuat seperti mau kamu." Jawab Zarine dengan tersenyum cerah.
"Yang, ngga mungkinlah aku maksain apa mauku ke kamu, inget yah!, tugasku bikin kamu bahagia, bukan bikin kamu tertekan, kamu bantu doa ke Allah agar rumah tangga kita bahagia selalu, ok?." Jelas Rafka.
"Ok." Jawab singkat Zarine.
Suasana hening sebentar sebelum Zarine melontarkan pertanyaan kepada Rafka.
"Sekarang giliran aku yang tanya." Kata Zarine.
"Apa?." Balas Rafka.
"Kamu nerima perjodohan ini karena apa?." Tanya Zarine.
Rafka tersenyum.
"Aku nikah sama kamu bukan hanya karena ke mauan Papa Mama, emang aku udah jatuh cinta sama kamu dari dulu banget, tanpa ke mauan Papa Mama aja aku nikahnya emang maunya sama kamu, rencana aku buat ngelamar kamu nanti saat aku lulus kuliah, tapi Allah mempercepat, yaaaa aku ngga mau nolak dong, hehehe." Kekeh Rafka menjelaskan.
Zarine ikut tertawa pelan mendengar jawaban Rafka.
"Aku dulu beranggapan mustahil kalo nikah sama kamu." Kata Zarine.
"Kok gitu?, kenapa?." Tanya Rafka.
"Aku berpikiran kamu pasti udah punya yang lain, aku aja sempet mikir kalo kamu bakal don't care sama aku kalo kita udah nikah." Ungkap Zarine jujur.
"Polos banget sih Yang pikiran kamu, aku ngga pernah punya niatan punya pacar saat kamu ada di Surabaya dulu, jangan niatan, mikirin aja ngga pernah." Panjang lebar Rafka.
Rafka merebahkan tubuhnya di ranjang lalu menarik tangan Zarine untuk ikut rebahan juga.
"Ngga kerasa ya, beberapa bulan lagi kita mau lulusan." Celutuk Zarine.
"Hemm, kamu bener." Jawab Rafka dengan memeluk Zarine sambil memjamkan matanya.
"Besok kita sekolah, ayo rapi in buku-buku buat besok." Ajak Zarine.
"Kita ngga beli aja Yang bukunya?." Tanya Rafka.
"Yang kemarin masih sisa banyak kan?, pake aja itu." Jawab Zarine.
__ADS_1
"Ok, ayo kita beres-beres." Ajak Rafka semangat.
"Tumben semangat?." Tanya heran Zarine.
"Kali ini harus semangat biar cepet selesai." Jawab Rafka dengan mengepalkan tangannya ke udara.
Zarine tertawa melihat tingkah absurd suaminya itu.
Rafka Zarine membereskan meja belajar mereka, menata buku-buku juga menyusun menurut nama mereka masing-masing.
"Kita buku paketnya belum ambil." Beri tahu Zarine.
"Besok kita minta ke ruang tata usaha." Jawab Rafka enteng.
-
-
-
Malam ini 3 keluarga junior berkumpul di rumah Rafka Zarine dan sedang melakukan makan malam bersama.
Saat sedang makan.
Bel pintu di bunyi kan seseorang.
'Ting.. tong.. ting.. tong.. .'
"Ganggu aja yak orang lagi makan juga." Sungut Abdiel.
"Udah kalian semua lanjut aja makan, biar aku yang bukain pintu." Kata Zarine.
Zarine berjalan ke arah pintu.
'Ceklek.'
"Assallammu'allaikum!." Heboh 4 orang yang bertamu ke rumah Rafka Zarine.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Zarine.
"Ayo masuk." Sambung Zarine mempersilahkan para tamunya masuk.
4 orang itu masuk ke dalam rumah.
"Kemana suami kamu dek?." Tanya Bang Rafa.
"Ada, lagi makan, ada Alfi Abhi sama Abdiel Akifa juga di meja makan." Beri tahu Rafka.
"Wah datang di waktu yang tepat ini kita." Celutuk Bang Idan.
"Hehehe, ayo ikut makan bersama." Ajak Zarine.
Mereka ber 4 masuk ke meja makan.
Abdiel yang melihat Bang Rafa Raina dan Bang Idan Tika masuk ke meja makan dia mengangkat alisnya.
"Ada angin apa nih?." Tanya Abdiel.
"Angin barat." Jawab Bang Rafa sekenanya.
"Yang!." Tegur Raina.
"Kita main-main aja ke sini, emang kagak boleh?." Tanya balik Bang Idan.
"Ya boleh sih, tapi kan situ jarang banget kalo kesini, seringnya ke sini sama para orang tua." Celutuk Alfi.
"Udah, ngga usah debat, ayo gabung." Ajak Rafka.
4 orang itu menurut dan duduk di bangku yang masih tersedia.
Mereka tidak ikut makan hanya memakan buah-buahan saja di meja makan.
Setelah makan, semaunya beralih duduk di ruang santai.
"Besok kalian sekolah atau libur lagi?." Tanya Bang Rafa.
"Ngapain libur lagi?." Tanya balik Abhi yang heran.
"Ya mungkin masih capek." Kata Bang Idan.
"Kita besok sekolah, mulai besok pasti kelas akan sibuk dengan persiapan try out." Jelas Alfi.
"Wah kaliam bakal lulusan sebentar lagi yaa." Kata Raina.
"Ya gitu deh." Jawab Akifa.
"Lo mau kuliah di mana bentar lagi Tik?." Tanya Alfi.
"Entahlah." Jawab Tika dengan mengangkat bahunya.
"Kita liat aja nanti, kalo orang sebelahnya Tika ngga gercep Tika masih bisa kuliah, hahaha." Tawa Abdiel pecah.
"Gercep apa?." Tanya Tika.
"Gercep nikah dan bikin dedek baby." Jawab enteng Abhi.
"Ish!, emang gila pikiran kalian semua." Seru Bang Idan.
"Ngga usah sok polos Lo Bang." Ledek Rafka.
"Sok polos apanya?." Tanya Bang Idan mengelak.
"Lo kan hobi tuh nonton film gituan." Kata Abdiel.
"Eh, sembarangan aja Lo." Elak Bang Idan.
"Hahahaha, udahlah Dan jan ngelak." Tawa pecah Bang Rafa ikut meledek.
"Emang Kak Idan suka nonton gitu an?." Tanya Tika.
"Eng.. engga kok Yang percaya deh." Gagap Bang Idan.
"Kalo iya pun aku ngga masalah, asal itu untuk terakhir kalinya." Tegas Tika.
"Hahahaha." Tawa semua orang pecah.
Bang Idan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Mereka semua berbincang dengan lelucon-lelucon absurd yang di ciptakan Abdiel dan Akifa.
Hingga pukul 9 malam mereka semua pulang ke kediamannya masing-masing.
Rafka Zarine langsung masuk ke kamar dan tidur untuk hari pertama sekolah besok.
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers
Salam sayang dari ViCa😍.