
Hari bergerak begitu cepat.
Sekarang sudah menginjak hari rabu.
Hari ini Bang Rafa dan Bang Idan mengecek rumah nya masing-masing.
Calon istri mereka tidak ikut di karenakan sibuk dengan kegiatannya.
Mereka berdua hanya di temani oleh 6 keluarga senior, dan Mama Papa Tika.
Rumah Bang Rafa tepat di sebelah rumah Rafka Zarine, sedangkan rumah Bang Idan ada di sebelah rumah Abhi Alfi.
"Tasyakurannya kapan nih?." Tanya Mama Rafka.
"Hari besok aja gimana?." Usul Mama Abdiel.
"Boleh tuh." Sahut Mama Tika.
"Ya udah kalian para perempuan yang nyiapin segalanya dah, kita para pria setuju aja." Putus Papa Rafka.
"Gimana calon pengantin?, udah puas sama rumahnya?." Tanya Ayah Zarine yang melihat Bang Idan sibuk mengelilingi rumah.
Mereka sedang menjelajahi rumah Bang Idan sekerang, karena untuk rumh Bang Rafa sudah terlebih dahulu di jelajahi.
"Yaaa Bang Idan puas, semuanya sama kaya yang Abang dan Tika impikan." Jawab Bang Idan.
"Alhamdulillah kalo gitu." Ucap syukur semua orang atas kepuasan Bang Idan.
Orang-orang itu sibuk berbincang di ruang keluarga membahas tentang persiapan hari minggu besok.
Kemudian dari arah pintu masuk rumah Bang Idan terdengar suara gerombolan orang mengucapkan salam.
"Assallammu'allaikum!!." Salam sekumpulan gerombolan itu kompak.
Suara mereka familiar di telinga 7 keluarga senior dan juga Bang Rafa, Bang Idan.
"Bisa ketebak sih ini suara siapa aja." Kata Bang Idan.
"Selamat siang semuanya." Sapa Abdiel heboh.
6 serangkai dan seseorang yang bersembunyi di belakang Rafka mencium punggung orang tua.
Seseorang di belakang punggung Rafka itu mengisyratkan untuk tak bersuara agar keberadaan nya tidak di ketahui.
'Ingin buat kejutan rupanya.' Begitulah pemikiran para orang tua yang melihatnya.
Beliau semua setuju dan malah membantunya bersembunyi.
"Kan bener." Celutuk Bang Idan.
"Bener apa?." Tanya Abhi.
"Bener yang datang para perusuh." Jawab Bang Rafa yang diangguki Bang Idan.
"Siapa tuh yang maksudnya perusuh?." Tanya seseorang di belakang tubuh Rafka.
"Eh... itu... bukan kamu kok." Gugup Bang Rafa menjelaskan.
Lalu dia menghampiri seseorang itu yang ternyata adalah Raina.
"Maaf aku cuma bercanda kok." Ucap Bang Rafa memelas.
Semua orang yang melihat tingkah Bang Rafa yang sedang membujuk Raina hanya terkekeh geli.
Sedangkan Raina dia cuek bebek, sebenarnya dia ngga marah, hanya saja dia ingin menjahili Bang Rafa.
"Hahaha, ok ok udah jangan pasang wajah itu, geli aku liatnya." Kata Raina dengan tertawa pelan.
"Ouh iya, Tika ngga ikut kalian kah?." Tanya Bang Idan pada 6 serangkai.
"Aku disini!, assallammu'allaikum!." Salam Tika baru datang.
Tika mencium punggung tangan para orang tua
"Wa'allaikum sallam, kamu ngga ikut naik mobil salah satu dari mereka ya?." Tebak Bang Idan pada calon istri nya itu.
"Hehehe, emang engga, aku tadi naik taksi online." Jawab Tika.
"Kenapa ngga ikut mobil salah satu dari mereka?." Tanya Bang Idan.
"Aku ngga mau jadi obat nyamuk, di mobil mereka kan hanya berdua, udah kaya petunggu aja aku kalo ikut mereka." Jelas Tika.
Semua orang yang mendengar penjelasan Tika tertawa geli.
6 serangkai nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tadi kalo kamu ikut aku bakal duduk di belakang nemenin kamu." Kata Zarine.
"Gua sama Alfi juga gitu kalo Lo ikut tadi." Akifa ikut bersuara.
"Tunggu dulu deh, ini personil kita kurang deh kayanya." Kata Mama Rafka.
Akifa menghitung.
"Siapa yang Mama maksud?." Tanya Rafka.
Hening.
Semua orang masih berusaha mengingat anggota yang tak hadir.
"Ouh iya, Shita mana Rain?, ngga ikut dia?, kenapa?." Tanya beruntun Bunda.
"Shita di rumah Bun, dia ngga mau ikut, sibuk alasannya." Jawab Raina.
"Sibuk sama dunia halu ya?." Tanya Akifa.
"Bukan, entahlah apa yang dia kerjakan di laptopnya, kalo dunia halu masih berlanjut tapi udah jarang." Terang Raina.
"Ada niatan berhenti dari dunia itu kah Shita?." Tanya Mama Abhi.
"Ngga deh kayanya Te, soalnya dia bisa hidup karena dari kegiatan itu dulu." Jawab Raina.
"Ouh... ." Semua orang membelas singkat atas penjelasan Raina.
Diam.
Suasana hening sesaat.
Hanya suara jam besar di sebelah bufet yang terdengar.
Semua orang sedang sibuk dengan kegiatannya.
Ada yang mengecek kerjaan dari ponsel masing-masing.
Ada yang nge game, dan ada juga memejamkan matanya lelah.
"Kalian kenapa pulang siang?." Tanya Bunda Zarine memecah keheningan suasana yang tercipta tadi.
"Hari ini simulasi terakhir, dan mata pelajarannya cuma satu juga, jadi di pulangkan awal." Jawab Rafka.
"Besok masih simulasi kah?." Tanya Mama Abhi.
"Udah engga Ma, besok kita pelajaran seperti biasa, besok giliran kelas lain yang pake ruangan komputernya." Jawab Alfi.
"Ya udah kita pulang yuk, bentar lagi dzuhur." Ajak Ayah Zarine.
"Pulang ke rumah Rafka Zarine aja untuk mempersingkat waktu, boleh kan?." Kata Mama Rafka meminta persetujuan dari anak menantunya itu.
"Boleh lah Ma, ayo pergi." Kata Rafka.
Mereka semua pulang ke rumah Rafka Zarine.
Setelah sampai 6 serangkai langsung naik ke kamar untuk bersiap sholat dzuhur.
Sedangkan para perempuan berkutat dengan dapur memasak makan siang.
Untuk orang laki-laki, mereka duduk menonton TV di ruang santai.
Adzan dzuhur berkumandang.
Semua orang bergegas ke mushollah yang ada di rumah Rafka Zarine.
Selesai sholat, mereka makan siang.
Pukul 12.30 semua orang memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Rafka Zarine memilih bersantai dengan buku ditangan mereka.
Keduanya sedang tengkurap di atas ranjang dengan fokus menatap ke buku.
Suasana hening.
Mata mereka hanya tertuju pada buku yang di baca.
Zarine lelah dengan bukunya.
Dia menoleh pada Rafka sang suami di sebelahnya.
Dia tersenyum jahil.
Sepertinya dia punya rencana yang bisa menguair rasa bosannya.
Dia mengubah badan tengkurapnya menjadi duduk tegak.
Rafka terlalu fokus dengan kegiatan membacanya.
Dia sampai tidak merasakan ada pergerakan di sebelahnya.
'Wah wah, suami ku fokus banget kalo lagi serius, hahaha, aku kerjain ah.' Batin Zarine berencana.
'Bruk.'
"Allahu Akbar." Rafka terlejut dengan keluakuan sang istri.
Badan Zarine terlentang di punggung Rafka.
"Yang?." Panggil Rafka.
"Nyaman banget sih, bentar lagi turun sabar ya, hehehe." Zarine berucap dengan terkekeh dia memposisikan dirinya senyaman mungkin di punggung Rafka.
"Tumben nih kamu jail?." Rafka terheran.
"Ya sekali kali kan ngga papa." Jawab Zarine.
20 menit sudah Zarine berbaring di punggung Rafka.
"Yang?." Panggil Rafka.
Hening.
Zarine tak menjawab.
"Tidur nih kayanya si Za." Gumam Rafka.
Dia memindahkan tubuh Zarine dari punggungnya dengan perlahan.
Dan benar saja, Zarine terlelap dengan nyenyaknya.
"Hehehe, capek ya?, ok ok tidur deh." Rafka memperbaiki letak posisi tidur Zarine.
Setelah itu dia membereskan buku-buku mereka tadi.
Kemudian dia ikut tertidur di samping Zarine dengan memeluk sang istri.
-
-
-
Sore yang terang ini Rafka Zarine duduk di balkon kamar mereka.
Dari arah kiri rumah mereka seseorang berteriak.
"Jan belajar teros Raf, Za!!." Seru Abdiel dari balkon kamarnya.
"Bentar lagi ujian Diel!!." Rafka menjawab dengan agar berteriak pula.
"Kalian ngga usah belajat juga bakal lulus, bukan kalian aja sih, kita semua." Sahut Akifa dari arah samping Abdiel.
"Tetep aja harus belajar biar hasilnya makin memuaskan." Jawab Zarine.
__ADS_1
"Emang kalian ngga takut nilai anjlok?." Tanya Zarine.
"Dibilang takut sih engga, cuma khawatir aja." Ralat Akifa.
"Oy kalian semua!, turun!." Seru seseorang dari halaman rumah Rafka.
4 orang yang bersantai di balkon kamar masing-masing itu menoleh ke sumber suara.
"Lah?, ngapain calon pengantin bawa koper sama lainnya itu?." Tanya Akifa.
"Kita pindahannya sekarang." Jawab Bang Idan.
"Belum mahram woy, jangan tinggal serumah dulu." Sahut Alfi dari balkon kamarnya.
"Barangnya doang yang pindah." Jelas Bang Rafa.
"Ouh kira in." Balas Abdiel.
"Ayo bantuin angkat barang." Pinta Bang Idan.
"Ada upahnya ngga?." Tanya Abdiel iseng.
"Ckk, belum apa-apa minta upah, Gua beli in nasi goreng entar makan malem." Jawab Bang Rafa.
"Siiap." Jawab 6 serangkai kompak.
"Giliran makanan aja pada kompak." Gumam Bang Rafa.
"Sabar Yang." Kata Raina.
"Huuuuhhh sabar." Jawab Bang Rafa.
"Hahahaha." Tawa Raina dan Tika bersamaan.
6 serangkai tiba di halaman depan rumah Rafka.
Mereka ber 6 melihat barang bawaan 4 orang itu.
"Wuh, ini barang segini banyaknya serius?." Kata Abdiel.
"Ya serius Diel, masa bohong." Gemas Bang Rafa.
"Gini aja, Rafka, Abdiel, Akifa, Zarine tolongin Bang Rafa, biar Gua sama Alfi yang bantuin Bang Idan." Putus Abhi.
"Ok." Jawab Abdiel, Rafka, Zarine, Akifa.
Abdiel menggelengkan kepala menatap barang pindahan Bang Rafa.
"Barang kalian udah kaya orang ngungsi tau ngga." Sungut Abdiel pada calon pasangan ini.
"Sekalian gitu maksudnya Diel, udah deh jan ngeluh, gak Gua kasih upah baru tau rasa Lo." Ancam Bang Rafa.
"Baik Tuan, kami akan memindahkan barang anda ke dalam rumah." Abdil berbicara layaknya ART pada majikannya.
Akifa, Zarine, Raina terkekeh geli melihat tingkah Bang Rafa dan Abdiel.
Kalau Rafka, dia hanya menggelangkan kepala pelan.
Mereka membantu 2 pasangan, ah lebih tepatnya calon pasangan itu.
Adzan maghrib berkumandang.
Mereka berjamaah di rumah Bang Rafa.
Setelah sholat.
"Bang mana nasi gorengnya?." Tagih Abdiel.
"Haduhhh, iya-iya OTW nih." Kata Bang Rafa gemas.
"Para cewek-cewek pesen apa nih?." Tanya Bang Rafa.
"Sama in aja lah Bang." Jawab Zarine.
"Minumnya apa nih?." Tanya Bang Rafa lagi.
"Es campur enak deh keknya." Jawab Bang Idan.
"Bagi tugas Dan." Suruh Bang Rafa.
"Lah?, ogah! Berangkat sendiri sana." Tolak Bang Rafa.
"Ya udah ngga ada es campur." Putus Bang Rafa.
"Ck!, iya-iya nih berangkat." Pasrah Bang Idan.
"Kalian 3 cowok jagain para cewek." Perintah Bang Idan.
"Pasti, dah sana berangkat." Usir Abdiel.
'Huhm.' Dengus Bang Idan.
Tika terkekeh geli melihat tingkah Bang Idan.
Sebelum pergi dari rumah, Bang Rafa dan Bang Idan berpamitan pada Tika dan Raina.
2 cowok dewasa itu berpamitan dengan cara mencium kening calon istri mereka masing-masing.
"Hareudang!." Seru Abdiel dengan ikut mencium pipi Akifa sambil terkekeh.
"Belum sah euy." Peringat Abhi juga ikut terkekeh.
"Udah sana ah." Usir Tika pada Bang Idan.
Pipi Tika dan Raina memerah malu mendapat godaan dari Abdiel dan Abhi.
"Iya-iya kita berangkat." Jawab Bang Idan.
Dia dan Bang Rafa tertawa geli melihat pipi merah 2 gadisnya.
"Assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa dan Bang Idan kompak, lalu dia berlalu pergi.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang kompak.
Di rumah Bang Idan hanya tinggal 3 laki-laki dan 5 perempuan.
"Kak Raina, Shita kenapa ngga ikut?." Tanya Zarine.
"Shita itu introvert ya Kak?." Tanya Akifa.
"Yaaa, semacam itulah, dia lebih suka kesunyian, sendirian, dan ngga punya temen, waktu masa SD sampe SMA aku ngga pernag liat dia keluar sama temen cewek maupun cowoknya, dia hanya deket sama 4 orang, aku, Rendra, Panji, dan Andi." Panjang lebar Kak Raina.
"Termasuk orang tertutup ternyata Shita ya." Sahut Alfi.
"Hmmm, kamu bener." Jawab Kak Raina.
Suasana menjadi hening setelah pembahasan tentang Shita tadi.
"Kalo boleh tau, kalian ini ada yang di jodohin ngga waktu nikah?." Tanya Kak Raina ingin tau tentang 6 serangkai.
"Ada." Jawab Akifa.
"Siapa?." Tanya Kak Raina lagi.
"Tuh duduk punggung-punggung an." Tunjuk Alfi pada Rafka Zarine.
Posisi mereka memang saling memunggungi.
Kak Raina menatap Rafka Zarine.
Tingkah mereka seperti anak kecil.
Mereka saling dorong dengan punggungnya masing-masing dan tak menghiraukan pembicaraan Kak Raina juga lainnya.
Zarine cekikikan bak anak kecil yang bermain.
Walau pun Abdiel, Akifa, Alfi, Abhi, Raina, dan Tika menatap mereka.
Tapi tetap saja tidak merasa, malah makin asyik bermain.
"Hehehe, mereka kaya anak kecil aja." Kekeh Tika.
"Gitu deh mereka, mereka itu kalo lagi bareng emang kaya anak kecil." Terang Alfi.
Tika tersenyum melihat kelucuan mereka.
"Untung aja Sabita nurut sama Gua." Celutuk Tika tiba-tiba.
"Sabita?." Tanya Alfi heran.
"Dia itu adik kelas kita kelas 10 IPA 3 kan?." Tebak Akifa.
"Hmm, kalian bener." Jawab Tika.
Akifa dan Alfi saling melempar pandang.
Lalu sesaat kemudian menatap Tika serius meminta menjelaskan lebih detail.
Tika yang di tatap seperti itu menelan salivanya susah.
'Nyeremin banget mereka kalo lagi serius.' Batin Tika.
Raina menatap 3 cewek di depannya dengan terkekeh geli.
'Lucu banget Akifa sama Alfi kalo lagi penasaran.' Batin Raina.
"Maksud Lo si adik kelas kita itu suka gitu sama si Rafka?." Tebak Abhi tepat sasaran.
"Ya... ya kaya gitu deh." Jawab gugup Tika.
"Kenapa Lo ngga ingetin si Varah sama si Ririn juga?." Tanya Akifa.
"Buat apa?." Bingung Tika.
"Varah chat Abdiel beberapa hari lalu dan Gua yang baca." Kata Akifa.
"Masa sih?." Kaget Tika.
"Dan beberapa hari yang lalu juga si Ririn hampir ngasih kue ke Abhi." Ungkap Alfi.
Abdiel dan Abhi sibuk bermain ponsel, mereka malas ikut membicarakan hal yang telah lalu.
"Kok Gua sampe kecolongan yak?." Rutuk Tika.
"Bukan salah Lo juga kok Tik, mungkin 2 cewek itu pinter nyembunyi in perasaannya, makanya Lo ngga tau kalo mereka suka sama suami kita." Jelas Alfi.
"Hmmm bisa juga kaya gitu, terus akhirnya gimana sama Varah ama Ririn?." Tanya Tika.
"Mereka kemarin hari kamis minta maaf sama kita berdua, dan kita semua damai." Jelas Akifa.
"Alhamdulillah deh." Ucap syukur Tika.
Lama berbincang.
Yang di tunggu pun tiba.
"Assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa dan Bang Idan bersamaan.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang di dalam rumah.
"Nih yang di tunggu-tunggu udah dateng." Kata Bang Rafa menunjuk kan bungkusan nasi goreng.
"Gih ambil piring, sendok sama mangkuk, buat nasi sama es nya." Pinta Bang Idan.
Zarine dan Raina beranjak menuju dapur.
Setelah mengambil barang yang di minta Bang Idan semua orang memakan nasi goreng itu bersama-sama.
"Ini beli di Pak Yudha ya nasi gorengnya?." Tanya Raina.
"Iya." Jawab singkat Bang Rafa.
"Langganan Kakak ya?." Tanya Zarine.
"Emmm iya." Jawab Raina dengan anggukan cepat.
Setelah nasi goreng habis.
Sekarang mereka beralih ke es campur.
"Ini kita malam-malam minum ginian ngga papa?." Khawatir Akifa.
__ADS_1
"Kenapa?, takut ngompol ya Lo?, hahaha." Ejek Bang Rafa.
"Diem Lo." Sungut Akifa.
"Yang?." Tegur Raina dengan menggelengkan kepala.
Yang artine jangan menggoda lagi.
"Hehehe iya engga deh." Cengir Bang Rafa menurut.
"Calon suami takut istri." Bisik Abdiel pada Akifa di sampingnya.
"Abdielll... Gua denger ogeb." Kata Bang Rafa.
"Hahaha, iya iya diem nih Gua." Tawa Abdiel pelan.
"Ayo kita sholat isya', ini udah jam 7 lewat." Ajak Bang Rafa.
"Ayo deh cepet, terus habis sholat kita pulang." Kata Abdiel.
"Kebiasaan banget SMP." Gerutu Bang Idan.
"SMP apa an?." Tanya Raina.
"Sudah Makan Pulang." Jawab Tika.
"Hahaha, ada ada aja singkatan kaya gitu." Tawa Raina.
Pukul 8 tepat semua orang pulang ke rumah masing-masing.
Setelah sampai rumah mereka langsung naik ke ranjang dan tidur untuk menjalani kegiatan esok hari.
-
-
-
Pagi buta pukul 5 subuh bel pintu rumah Rafka berbunyi beruntun.
'Ting... tong... ting... tong... ting... tong... .'
"Duh siapa sih pagi buta begini juga." Dengus Rafka.
Zarine akan beranjak membuka pintu, namun di cegah oleh Rafka.
"Udah aku aja, kamu terusin aja nontonnya." Kata Rafka.
Zarine tersenyum dengan mengangguk kan kepalanya.
Posisi mereka memang sekarang lagi ada di ruang santai dengan menghadap TV.
Rafka membuka pintu.
"Kenapa sih?!, ngga tau kalo ini masih pagi buta ya?!." Rafka memarahi sang tamu.
"Hahaha, selow aja dong dek." Tamu yang di marahi malah tertawa pecah.
Tamu yang datang di pagi buta itu adalah Bang Rafa, Bang Idan, Tika, dan Raina.
4 orang itu hanya menyengir kuda mendapat semprotan dari Rafka.
"Jangan marah wahai adik ipar, kami datang kemari-." Ucapan Bang Rafa belum selesai.
"Ngga usah drama, mau ngapain?." Potong cepat Rafka pada omongan Bang Rafa.
"Hehehe, 7 keluarga senior perjalanan kesini, nanti sore ba'da asyar tasyakuran buat rumah kita." Jelas Bang Idan.
"Terus?." Tanya Rafka.
"Mama sama yang lain mau masak di rumah kamu." Jawab Bang Idan.
"Ouh, ya udah." Singkat Rafka.
Dia mau menutup pintu.
Tapi... .
"Eh, kita juga mau disini Raf." Rengek Bang Idan.
"Jangan ngrengek, ngga cocok sama penampilan ber jas Lo." Ledek Rafka pada Bang Idan.
Bang Idan hanya menyengir kuda mendengar adiknya mengejek.
Lalu dia membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
"Masuk." Rafka mempersilahkan masuk.
"Assallammu'allaikum Za." Salam Bang Rafa setelah sampai di ruang santai.
"Wa'allaikum sallam, wah ada apa nih kok pagi buta udah ada di sini?, ayo duduk semua." Kata Zarine dengan menyuruh tamunya ini duduk.
"Sore nanti acara tasyakuran rumah baru, jadi Bunda sama lainnya mau masak di rumah kamu." Jawab Bang Rafa.
"Ouh, terus sekarang dimana Bunda sama yang lain?." Tanya Zarine dengan celingukan.
"Masih ke pasar beli bahan, bentar lagi juga sampe." Kata Bang Rafa.
Pukul 05.30 para orang tua dateng.
Sebelum beliau semua dateng.
Abhi, Alfi, Akifa, dan Abdiel dateng terlebih dahulu.
Semua orang berkumpul di rumah Rafka.
"Rain?, kamu telepon gih Shita nya." Pinta Bunda pada calon menatunya itu.
"Iya Bun." Jawab Raina.
Dia mulai menelpon sepupunya itu.
'Tut... tut... tut... .'
"Assallammu'allaikum, ada apa Kak?." Shita menerima panggilan itu dan langsung to the point.
"Speaker." Pinta Bunda dengan berbisik.
"Wa'allaikum sallam, kamu lagi ngapain Ta?." Tanya Raina.
"Lagi masak, kenapa sih?." Tanya balik Shita.
"Kamu kesini deh, dicari Bunda nih." Pinta Raina.
"Waduh... engga deh, aku-."
"Ta?." Panggil Bunda.
"Eh... assallammu'allaikum, pagi Bun." Sapa Shita.
"Wa'allaikum sallam, kamu dateng yaa, masa di sini rame kamu ngga ikut?, ngga lengkap rasanya." Pinta Bunda lembut.
Hening.
Shita tak bersuara.
Di tempat Shita tepatnya di meja makan.
Shita bingung dengan pikirannya.
'Gimana nih?.' Bimbang Shita dengan melamun.
"Shita?." Panggil Bunda.
"Ta?." Panggil Raina.
"Shita?!." Seru Raina di seberang telepon.
"Oh iya nanti dateng deh." Terkejut Shita.
"Bunda tunggu loh Ta." Seneng Bunda.
"I... iya Bun, ya udah Shita tutup dulu teleponnya, assallammu'allaikum." Pamit Shita.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang yang mendengar salam Shita.
Telepon selesai.
"Emang Shita kenapa ngga pernah mau ikut kalo kita berkumpul kaya gini?." Tanya Mami Alfi.
"Dia emang gitu Te, ngga suka keramaian, hobinya di rumah aja." Jelas Raina.
"Ouh... ." Para orang tua menjawab singkat.
"Hmmm, emang introvert akut Shita itu." Gerutu Raina.
"Hahaha ya udahlah yang terpenting Shita dateng nanti." Kata Bunda.
"Hei, kalian para pelajar yang fokus sama TV, siap-siap gih berangkat sekolah." Suruh Mama Rafka.
"Bisa libur ngga sih?." Gumam Akifa.
"Engga." Tegas Papa Akifa.
"Sana siap-siap kalian semua." Perintah tegas Ayah Zarine.
6 serangkai dan Tika pergi ke kamar dan bersiap ke sekolah.
Para orang tua perempuan menyiapkan sarapan.
Pukul 06.25 sarapan siap.
Semua orang makan bersama di meja makan.
Di tengah menyantap sarapan.
ART datang dengan Shita yang mengikuti dari belakang.
"Makasih ya Bi." Ucap Shita.
"Sama-sama Mbak." Jawab ART.
"Assallammu'allaikum." Salam Shita.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang di meja makan.
Shita mencium punggung tangan para orang tua di sana.
"Ayo sekalian ikut sarapan." Ajak Mama Rafka.
"Hehehe, aku tadi udah sarapan Te di rumah." Tolak Shita.
"Ya udah ikut duduk makan buah sini deket Bunda." Pinta Bunda dengan menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Iya Bun." Patuh Shita.
"Naik apa tadi kesini?." Tanya Bunda.
"Ojol Bun." Singkat Shita.
Lalu pukul 06.30 pagi, 6 serangkai dan Tika pamit berangkat sekolah.
Dan para orang tua laki-laki, Bang Rafa juga Bang Idan pamit untuk pergi bekerja.
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.