Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Five


__ADS_3

Pukul 13.00 diruang keluarga apart Rafka dan Zarine.


Setelah makan siang, Abdiel, Abhi, Alfi, dan Akifa belum pulang dan asyik mengobrol dengan ngemil diruang kerluarga Rafka.


"Bisa ngga sih Lo ngalah gitu Bhi?." Seru Abdiel jengkel. Ini sudah ke 5 kalinya Abdiel melawan Abhi dalam game dan Abdiel selalu kalah dari Abhi.


"Lo nya aja yang ngga bisa!." Ejek Akifa menyela.


"Enak aja, Gua jago tau, tapi kalo lawannya si Abhi ya ngga mampu Gua." Bela Abdiel yang ditanggapi putaran bola mata malas dari Akifa.


"Eh Guys, bentar lagi kita liburan akhir tahun, mau kemana nih?, saran Gua mending kita kepantai aja." Kata Abdiel.


"Kurang jauh perjalanannya, mending luar kota." Usul Akifa.


"Gimana kalo ke Ancol aja?." Timpal Alfi dengan nada malas.


"Kok Lo ngga bersemangat gitu sih?." Tanya Akifa.


"Males kemana-mana Gua. Mending dirumah aja tidur." Lanjut Alfi.


"Bosen tau Al, emang Lo ngga bosen?." Tanya Abdiel yang diangguki lainnya.


"Ngga bosen dan ngga akan pernah bosen, karena motto Gua-."


"Kasurku adalah istanaku." Sela Abdiel dan Akifa kompak.


"Hehehe, kamu ngga mau keluar liburan emangnya?." Tanya Zarine.


"Males Gua Za, lagipula Gua ngga bisa jamin Mami bolehin." Kata Alfi.


"Biar Gua nanti yang bilang ke Tante." Tegas Abhi.


"Emang rencananya mau kemana dan kapan liburannya?." Tanya Abhi memecah keterkejutan teman-temannya.


"Kita ujian tanggal 7 Desember, terus terima raport kemungkinan hari Jum'at depan tanggal 18 nya, terus in syaa allah libur deh, ngembali in raportnya pasti bulan Januarinya." Terang Abdiel girang.


"Lo tau info sebanyak ini dari siapa sih Diel? Detail amat?." Tanya Akifa heran.


Pasalnya, apapun yang terjadi disekolah pasti Abdiel tau, dan herannya dia itu diberi taukan oleh siapa? Pertanyaan itu yang terus terlintas dipikiran teman lainnya.


"Gua tau semua itu dari wali kelas kita." Jawab Abdiel jujur.


"Beliau sering chat ama Lo?." Seru Akifa dengan nada yang kesal jika orang yang peka bisa merasakan.


"Gua liat distory whatsappnya." Jawab Abdiel dan itu membuat Akifa tenang.


"Emang kalian pada ngga ngesave nomer dewan guru ya?." Tanya Abdiel selidik dan dijawab gelengan kepala tanpa dosa dari teman-temannya.


"Allahu Rabbi, pantes aja setiap info ngga ada yang tau." Frustasi Abdiel.


"Emmm Raf?." Panggil Abdiel.


"Hmmm?." Jawab Rafka tanpa menoleh. Dia sibuk menatap ponselnya.


Mereka memang sudah sedari tadi berhenti bermain PS jadi sekarang mereka hanya sedang duduk santai ada pula yang rebahan dikarpet.

__ADS_1


"Dia udah ngga pernah ganggu Lo?." Tanya Abdiel yang membuat semuanya menghentikan kegiatannya.


"Dia siapa?." Tanya Zarine penasaran.


"Sari?." Tanya Zarine lagi.


'Hufhh.' Hembusan nafas Rafka.


"Ada yang harus kalian tau." Kata Rafka serius.


Semuanya menegakkan badan dan menatap Rafka penasaran.


"Ingat waktu Zarine hampir ketabtak mobil?." Tanya Rafka yang mendapat anggukan dari mereka semua.


"Jangan bilang yang tabrak-."


"Iya." Kata Rafka memotong kalimat Akifa.


"Dan saat kamu liat aku sama dia pelukan kemarin, ingatkan?."


Zaline menundukkan kepala sedih mengingat kejadian itu.


"Dia sengaja bikin jatuhin badannya sendiri, dan aku nagkapnya refleks." Terang Rafka dengan mnyentuh tangan Zarine dan mengenggamnya dengan erat.


Zarine mendongak. Dia berpikir 'sebenci itukah Sari padaku?.'


"Dan Gua ngga akan tinggal diam lagi kalo dia masih nekat!." Seru Rafka dengan wajah datar dan nada dinginnya.


"Ngga ada gunanya sebenernya ngladenin Cewek gila itu." Lanjut Rafka.


"Dan kamu harus percaya sama aku aja Yank, belum tentu apa yang kamu liat itu kenyataanya, oke? Aku minta kamu cuma percaya sama aku aja." Pinta Rafka dengan menatap hangat.


Zarine juga ikut menatap Rafka, dan yang terpancar dimatanya adalah cinta serta ketulusan. Zarine mengangguk cepat mengiyakan perkataan Rafka.


Rafka pun tersenyum lebar dengan memeluk Zaline sebentar dnegan erat kemudian melepaskan lagi.


"Sekarang dia masih ganggu Lo ngga? Chat Lo mungkin? Telepon Lo?." Tanya Alfi.


"Gua ngga pernah ngrespon, entah dapet dari mana dia nomer Gua." Kata Rafka.


Sari memang sering menghubungi Rafka, tapi Rafka itu tipikal Cowok yang ngga terlalu suka pegang HP. Jika dia sudah berkumpul dengan keluarga atau sahabat, dia mensilent ponselnya. Apalagi jika dengan Zarine akan makin sulit menghubunginya.


"Eh sekarang jam berapa?." Tanya Akifa.


"Jam 2 lebih 10 menit, kenapa? Mau kemana Lo?." Tanya Abdiel dengan menganggkat sebelah alisnya.


"Mau apel, pacar Gua udah nunggu dirumah." Jawab Akifa bercanda.


Dan sepertinya dianggap betulan oleh Abdiel.


Abdiel tiba-tiba ikut berdiri dari duduknya disusul Abhi dan Alfi.


"Kita juga mau pulang Raf Za, udah lumayan lama juga disini." Kata Alfi.


"Ngomong-ngomong pacar Lo siapa Fa?." Tanya Abhi.

__ADS_1


"Gua kasih tau ya, dia itu imut banget, halus, lucu, ahhh pokoknya best deh." Kata Akifa menerangkan 'pacarnya.'


"Siapa namanya?." Tanya Abdiel dengan nada tidak suka.


"Riko." Jawab Akifa yang sukses membuat Alfi dan Zarine tertawa.


"Kenapa kalian ketawa?." Tanya Abdiel jengkel.


Rafka, Abhi, Akfi, & Zarine tau kalau Abdiel sedang cemburu, tapi Rafka dan Abhi tidak tau apa yang ditertawakan oleh mereka berdua.


"Hehehe, kalo Riko mah aku juga mau satu, tapi kalo ngga alergi." Kata Zarine dengan terkekeh.


Dalam perkataan Zarine tadi Rafka dan Abhi langsung peka.


"Gua ikut kerumah Lo." Kata Abdiel.


"Buat apa?." Tanya Akifa polos.


"Buat liat 'pacar' Lo itu." Jawab Abdiel dengan menekan kata 'pacar.'


"Ya udah ayo, biar sekalian Lo gendong dia." Kata Akifa girang bak anak kecil.


"Ngapain digendong segala? Kurang kerjaan banget." Kata Abdiel.


"Kenapa ngga mau? Riko itu kucing bersih tau." Kata Akifa dan membuat mata Abdiel melotot.


"Tunggu, kucing?." Tanya Abdiel memastikan.


"Iya kucing, emang Lo pikir apa?." Tanya Akifa.


'Buahahahaha.' Tawa Rafka dan Abhi pecah, Alfi dan Zarine hanya terkekeh pelan, kesalah paham itu membuat Abdiel malu sendiri.


"Ya udah deh ngga jadi ikut kalo gitu Gua." Kata Abdiel dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya udah." Balas Akifa.


Akifa walau keliatan bar-bar, tapi dia itu orangnya polos, ngga peka an, dan bisa dibilang LoLa, tapi kalo soal pelajaran dia cepet tangkap. Aneh memang, tapi Abdiel mencintai kepolosannya itu.


Setelah perdebatan yang menggelikan itu, teman-teman Rafka dan Zarine pulang.


Zarine membersihkan ruang TV dibantu Rafka.


Pukul 15.00 mereka berdua mandi tak lupa berwudhu, lalu berpakaian, kemudian memunaikan sholat Ashar.


----Pukul 20.00.----


Rafka dan Zarine sedang berbaring dikasur dengan berpelukan.


"Yank?." Panggil Rafka.


"Iya?." Tanya Zarine dengan mendongakan kepala menatap mata Rafka.


"Terus percaya sama aku ya? Jangan mudah percaya sama orang lain, jangan percaya omongan orang tentang aku yang buruk, memang iya aku ini jauh dari kata baik, tapi tolong kamu jangan percaya omongan mereka." Pinta Rafka.


"In syaa allah aku akan percaya sama kamu." Kata Zarine dengan menelusupkan kepalanya didada bidang Rafka dan Rafka makin mengeratkan pelukannya, kemudian mereka sama-sama tertidur lelap menuju alam mimpi.

__ADS_1



__ADS_2