
"Ini juga buat kalian yang sudah menikah, bikin baby biar rumah ngga sepi." Kata Bunda pada muda-muda yang sudah menikah.
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
Abhi Alfi. Akifa Abdiel. Bang Rafa Raina, dan Bang Idan Tika hanya nyengir kuda ketika mendengar Bunda mangatakan itu.
"Dan siapa tau juga kalo udah dewasa ngikutin jejak kalian, yang nikah sama temen sendiri." Celutuk Mama Akifa.
"Hahaha, itu masih lama Te, kita aja SMA belum ujian, udah bahas masalah masa depan aja." Kata Alfi.
"Ya ngga papa dong sayang, di rencanain mulai dari sekarang ngga ada ruginya, nanti tinggal liat anak-anak kalian maunya gimana." Timpal Mami Alfi.
5 keluarga junior itu hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Ini yang mau pulang ke desa, jadi besok berangkatnya?." Tanya Mama Akifa mengganti topik pembicaraan.
"Iya Te." Singkat Rendra.
"Jam berapa kalian ke stasiunnya?." Tanya Bunda.
"Berangkat keretanya dari stasiun jam 5 pagi, jadi setengah 5 kita ber 4 ada disana." Jelas Shita.
"Udah pesen tiketnya?." Tanya Raina.
"Udah, via online." Jawab Shita.
"Ngga mau pulang agak siangan kalian?." Tawar Mama Rafka.
"Nanti sampenya kemaleman Te." Jelas Andi.
"Gimana kalo pulannya di tunda?." Tawar Mama Akifa.
"Kasian Ibu kami ngga ada yang jagain Te." Jawab Panji.
"Emang kenapa sih kok pada ngga mau mereka ber 4 pulang?." Tanya Ayah.
"Yaaa kan jadi berkurang nanti anggota ngumpul kita." Jawab Bunda.
"Ya udah karena 4 orang ini besok pulang pagi, jadi kita nginep lagi, boleh kan Raf?, Za?." Tanya Mama Rafka.
"Boleh lah Ma, kalian nginep aja." Kata Rafka.
"Tapi besok kita siangan harus pulang."Kata Mama Akifa.
"Iya pasti, kasian rumah kita sepi ngga ada penghuninya." Sahut Mama Rafka cepat.
"Yaaaa, kalo itu terserah dah." Pasrah Rafka.
"Emang para pelayan rumah kalian pada pulang kampung kah kok bilang rumah sepi?." Tanya Mama Tika.
"Pelayan, tempatnya di belakang, rumah utama kan otomatis sepi." Jawab Mami Alfi.
"Iya juga sih." Gumam Mama Tika membenarkan.
Kemudian mereka berbincang hingga adzan maghrib berkumandang.
Mereka semua bergegas bersiap untuk sholat.
Setelah sholat mereka makan malam bersama di meja makan sambil diselingi ngobrol santai.
"Kalian ber 4 tadi jalan-jalan kemana?." Tanya Abdiel memulai.
"Ke Monas juga ngga?." Tanya Akifa.
"Kita cuma keliling di Kota Tua, jajan-jajan disana sampai jam setengah 3 sore, habis itu kita pulang.
"Kenapa ngga ke Monas?." Tanga Papa Abdiel.
"Ngga papa, emang ngga pengen aja." Singkat Panji.
Setelah itu suasana meja makan hening.
Beberapa menit kemudian, mereka telah menyelesaikan acara makannya.
Dan sekerang tengah memakan makanan penutup.
"Ouh iya Raf, cewek yang ada di pintu belakang kalian pas tadi siang kita video call itu siapa?." Tanya Andi yang mengingat Bella.
"Adik kelas." Jawab singkat Rafka tak mau membahas ini sebenarnya.
Andi membalas jawaban Rafka hanya dengan anggukan kepala.
"Hmmm ngomong-ngomong sekolah, aman kan?, kalian ngga ada dapet gangguam atau apapun kam?." Tanya Mama Rafka khawatir.
"Aman kok Ma, kalo ada masalah pun kita bisa atasin." Jawab Rafka.
"Syukur alhamdulillah deh kalo gitu, tapi kalo ada masalah yang sulit dan butuh bantuan, kalian jangan pernah sungkan meminta bantuan." Panjang lebar Mama Rafka.
"Bener itu Raf, ini juga berlaku buat kalian semua yang ada masalah dan butuh bantuan para orang tua, jangan pernah sungkan untuk meminta tolong." Timpal Papa Rafka.
"Iya Pa."
"Siiap Om."
Jawab para muda-muda kompak.
Setelah memakan habis sajian penutup, mereka beralih mengobrol di ruang keluarga.
"Raf?, gimana sama urusan kantor?." Kini Papa Rafka menanyakan urusan kantor.
"Lancar Pa, Rafka selalu mantau dari bantuan Asisten dan Sekretaris Rafka di kantor." Jawab Rafka.
Papa Rafka sebenarnya sudah menyerahkan urusan perusahaan pada Rafka sejak usia Rafka 17 tahun, nama perusahaan pun telah atas nama Rafka, hanya saja Rafka masih sibuk dengan urusan sekolah jadi untuk kantor Asisten dan Sekretarisnya yang menghandle.
Rafka hanya berperan jika meminta tanda tangan, tapi tetap saja, terkadang klien meminta tanda tangan Papa nya karena menganggap Rafka masih belum tau banyak tentang perusahaan.
Rafka menyadari itu, dan dia tak masalah jika klien belum bisa percaya, kelak jika sudah saatnya, dia akan menunjuk kan ke ahliannya.
Sama seperti Rafka, Abhi dan Abdiel pun sudah di percayai memegang perusahaan keluarga sejak usianya 17 tahun, untuk Akifa, Alfi, dan Zarine tentu saja juga dapat, tapi suami meraka yang handle, untuk saat ini, masih di urus oleh Ayah mereka.
Karena bosen ada di ruang santai, para muda-muda beralih pindah duduk di teras depan rumah.
Laki-laki dan perempuan duduk terpisah.
Di tempat para laki-laki, mereka sedang menatap wajah tertawa istri mereka masing-masing, untuk Andi, dan Panji hanya menatap tingkah mereka yang kocak.
"Ngga ada yang sangka ya kita semua udah nikah, dalam usia muda banget lagi." Kata Bang Idan.
"Emang Kak Zaidan rencana nikah umur berapa?." Tanya Panji.
"Yaaaa, sekitaran 27 sampe 30 an, segituan lah." Jelas Bang Idan.
"Tua banget." Celutuk Andi.
"27 bukan tua Ndi, tapi matang." Ralat Bang Idan.
"Iya deh iya." Andi mengalah.
'Hahahaha.' Rafka dan lainnya tertawa terbahak mendengar Bang Idan tak mau di panggil tua.
"Untuk masalah masa dapan anak kita nanti, bener kata Bunda kita rencana in sekarang ngga ada salahnya." Kata Bang Rafa.
"Maksudnya?, kita mau jodohin anak-anak kita gitu?, tapi sebaiknya ngga usah deh, soalnya gini, mereka belum tentu kaya kita gini yang memang dasarnya udah mencintai sahabat sendiri." Jelas Rafka.
"Nanti kalo kita paksa, iya kalo nanti akhirnya bahagia, kalo akhirnya saling nyakitin?, kan kasian." Imbuh Abdiel.
"Iya juga sih, apa lagi wujud yang kita omongin belum muncul, iya kan?, hahaha." Tawa Bang Rafa pecah.
"Iya yak, kita jadi bicara in yang belum ada, hahaha." Abdiel dan lainnya ikut tertawa.
"Oy?!, lagi ketawa in apa tuh?!." Tegur Akifa dari jarak 3 meter dari para laki-laki duduk.
Para laki-laki langsung manatap Akifa dan lainnya dengan sisa-sisa tawa mereka.
"Lagi ngomongin hal yang belum ada." Jawab Abdiel pada sang istri.
Akifa mengernyitkan alisanya dan menoleh pada Zarine di depannya, mereka saling pandang.
"Yang belum ada?." Beo Akifa dan lainnya.
"Kamu ngga bakal ngerti Yang, udah ngga usah dipikir." Kata Abdiel.
"Awas bahas macam-macam." Ancam Akifa.
"Kita ngga macem-macem, cuma semacem aja." Kelakar Abdiel.
"Hahaha." Tawa laki-laki kembali pecah.
"Mereke kenapa sih?, sering banget ketawa, apa tadi salah makan yak?." Kata Akifa pada Zarine dan lainnya.
"Hehehe, biarin deh mereka ketawa sepuasnya." Ucap Zarine sambil terkekeh.
Para perempuan kembali nobar film kartun di ponsel tanpa mempedulikan kaum Adam lagi.
Lalu tiba-tiba Zarine berdiri dari duduk nya dan masuk ke dalam rumah.
"Mau kemana Yang?." Tegur Rafka.
"Ke dapur." Singkat Zarine.
"Sekalian dong Yang kita semua ambilin." Pinta Rafka.
"Ayo ikut, susah entar aku bawa nya." Ajak Zarine sedikit berteriak.
Rafka beediri dari duduk mengikuti Zarine ke dapur dengan sedikit berlari.
"Rafka sama Zarine tuh harmonis banget yak, apa ngga pernah ada pengganggu di antara mereka?." Tanya Andi yang di tujukan untuk orang terdekat Rafka.
"Cewek yang Lo liat pas kita video call tadi siang kalian inget ngga?." Tanya Abhi.
__ADS_1
"Inget." Jawab Andi.
"Itu pelakor." Ungkap Abdiel.
"Seriusan?!." Tak percaya Panji.
"Iya, tapi sekarang di jamin cewek itu ngga bakal ganggu Rafka lagi." Kata Abhi.
"Ya syukuran kalo gitu." Ucap Rendra.
"Yang soal teror-teror yang kami cerita in itu juga di lakukan sama pelakor." Cerita Bang Rafa.
"Dan setelah dia di tangkap dan di introgasi di kantor polisi, dia jawabnya nglantur, kita curiga dia punya gagguan kejiwaan, setelah melakukan pemeriksaan ternyata beneran dia sakit." Panjang Bang Idan mejelaskan sambil memandang jauh ke depan mengingat masa-masa itu.
"Kasian yak kalo gitu." Iba Andi.
"Kita doa in aja biar dia cepat sembuh." Kata Bang Rafa.
"Aamiin." Jawab Andi dan lainnya.
"Nih guys... biar ngga kering kerongkongan." Kata Rafka dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan.
Zarine juga membawa minuman dan camilan.
"Wah wah paham juga kalo kita lagi haus." Celutuk Bang Idan.
Lalu mereka kembali mengobrol dengan topik masing-masing.
Sampai pukul 21.45 mereka memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan tidur di kamar masing-masing.
-
-
-
Adzan subuh berkumandang, Rendra, Andi, Panji, dan Shita dan lainnya bersiap untuk sholat subuh.
Mereka sholat subuh di kamar masing-masing.
Pukul 04.15 Rendra Shita, Panji, dan Andi, keluar dari kaanar sambil membawa tas di punggung masing-masing.
Pakaian Shita dan keperluan Shita sudah diambilnya dirumah Raina yang lama kemarin saat pulang jalan-jalan.
Mereka ber 4 menuju ruang santai, meletak kan barang mereka di sofa dan mengeceknya lagi takut ada yang ketinggalan, terutama Shita, dia mnegeceknya sampai berkali kali.
7 keluarga senior, dan 5 keluarga junior menghampiri Rendra di ruang santai.
"Kalian bener mau pulang?." Tanya Raina sendu.
"Kalo kita ngga pulang, Ibu kita di rumah sendiri an." Jawab Rendra.
"Lo ngga usah ikut deh Dek." Bujuk Raina.
"Kalo Shita ngga ikut, Gua nikah ama siapa?, Lo tenang aja Rain, kalo tanggal bulan udah siap, kita bakal kabarin." Kata Rendra.
"Udah Yang, kita masih bisa vidoe call an sama mereka." Hibur Bang Rafa.
'Huuffffh.' Raina menghela nafas pasrah.
Kemudian dia mengangguk meng iya kan ucapan suaminya itu.
Andi mengecek jam di tangan nya.
"Udah jam 04.27 nih, ayo berangkat ke stasiun." Ajak Andi.
"Ayo aku anterin." Kata Rafka.
4 orang itu kemudian berpamitan pada keluarga di sana.
"Kami ucapin banyak makasih buat Om Tante dan semuanya karena udah mau kits repotin, maaf kalo banyak tingkah dan omongan kita yang kurang mengenak kan." Ucap Rendra mewakili Andi, Panji, dan Shita.
"Iya ngga papa Ren, kalian ngga ngerepotin kok, kita malah seneng kalian dateng, sering-sering kesini main." Kata Mama Rafka.
'Tin... tin... .' Suara klanson mobil Rafka.
"Kita pulang dulu semuanya, assallammu'allaikum." Salam Rendra.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang.
Rendra dan lainnya sudah ingin berjalan tapi... .
"Ta?." Panggil Raina pada Shita.
Shita berbalik dan... .
'Grep.' Raina berhambur memeluk Shita sambil menangis.
Keduanya saling memeluk aret.
"Gua bakal sering hubungin Lo kok, bahagia deh sini, jangan lupa bikin ponakan yang lucu buat Gua." Pesan Shita sambil sesenggukan.
"Kak Rafa, jagain sepupu Gua yak." Pinta Shita.
"Siiap." Jawab Bang Rafa.
"Dah, Gua harus ikut Rendra." Shita melepas pelukan dan mencium seluruh wajah Raina, setelah itu Shita berjalan dan masuk ke mobil Rafka.
Semua orang masuk ke dalam rumah.
Di dalam mobil Rafka, semua orang diam tak ada yang bersuara.
Hingga sampai di stasiun, mereka tetap tak ada yang bersuara.
Lalu Rafka membuka suara terlebih dahulu.
"Kita udah sampe." Kata Rafka.
5 orang itu pun keluar dari mobil.
Dan masuk ke stasiun.
"Raf, sebelum pulang, kita semua mau ngucapin banyak terima kasih sama Lo, maaf sering repotin, dan kalo ada tingkah kita yang bikin Lo ngga nyaman kita semua minta maaf." Ucap Remdra panjang.
"Ngga ngerasa di repotin Gua Dra, sering-sering kalian main ke sini, Gua sekeluarga malah seneng Lo ada di sini." Balas Rafka.
"Kota pamit Raf, makasih buat semuanya, assallammu'allaikum." Salam 4 orang itu.
"Iya sama-sama, wa'allaikum sallam." Jawab Rafka.
Rendra Shita, Andi, dan Panji pergi ke kereta tujuan mereka.
Rafka pun pulang ke kediamannya.
Pukul 05.10 Rafka sampai rumah.
Semua orang sedang berkumpul di ruang santai.
"Udah naik?." Tanya Mama Rafka.
"Jelas udah lah Ma, liat nih udah jam 5 lebih 10." Jawab Rafka.
"Kaya ada yang hilang ya, ngerasain ngga sih?." Kata Abdiel.
"Kalo nikahannya Shita Rendra kita ke Lumajnag lagi." Kata Papa Rafka.
"Janji loh Pa." Kata Mama Rafka pada suaminya.
"In syaa allah." Jawab Papa Rafka.
"Ya udah semuanya siap-siap sana buat kerja ama sekolah." Perintah Mama Abdiel.
"Kalian yang sekolah, cepat-cepat lulus, kita para orang tua pengen istirahat dan main sama cucu, ngga mau urusin perusahaan terus." Kata Ayah Zarine.
"Sabar Yah, OTW." Jawab Zarine.
Para orang tua laki-laki dan Rafka Zarine serta lainnya bangun dari duduknya lalu melangkah menuju kamar masing-masing.
Pukul 05.30 mereka sudah siap dan duduk di meja makan.
"Raina, rumah yang kamu tempati sebelum nya mau kamu jual atau gimana?." Tanya Ayah yang mengingat rumah menantunya itu.
Raina tak langsung menjawab, dia malah menatap Bang Rafa.
"Di jual aja Yah, nanti kalo Shita, Rendra, Andi, Panji mau berkunjung, biar tinggal di rumah kita aja." Jawab Bang Rafa.
"Ya sudah kalo itu keputusan kalian." Kata Ayah.
Pukul 06.25 semua orang yang ke kantor dan ke sekolah sudah pergi, dan untyk para Mama Rafka, Abdiel, Akifa, Tika, Abhi, Mami Alfi, Bunda Zarine, serta Raina pulang ke rumah masing-masing dengan jalan kaki, untuk Mama Tika beliau di jemput supir pribadi, kalo Raina langsung pulang ke rumah yang di sebelah Rafka Zarine.
Di sekolah.
7 serangkai sedang menuju kelasnya di lantai 4.
"Guys?, pulang sekolah kita ke RS." Info Rafka.
"Jadi jenguk dia?." Tanya Akifa.
"Kenapa ngga jadi?." Tanya balik Zarine.
"Males aja Za, dia pasti ujung-ujungnya nyerang kaya kemarin sama kamu." Kata Alfi.
"Kita nanti ajak si Roy biar Sari ada pawangnya." Timpal Rafka.
"Emang ular pakek pawang?." Celutuk Tika ikut berbicara.
"Hahaha." Tawa Akifa, Alfi, dan Zarine pelan.
"Ya deh kalo gitu ayo kita jenguk." Setuju Abhi yang diangguki semuanya.
Tika lalu memisahkan diri dari 6 serangkai menuju kelasnya.
6 serangkai pun juga masuk ke kelas.
Di tempat lain, tepatnya di kereta yang di tumpangi Rendra, Andi, Panji, dan Shita.
4 orang itu duduk saling berhadapan dan memandang ke arah jendela.
Bukan 4 orang tapi hanya 3 orang yang memandang ke arah luar, Shita sedang tidur lelap di pundak Rendra.
"Kalian ydah kabarin Fahmi ama yang lain kan kalo kita bakal nyampe sore ini?." Tanya Rendra.
__ADS_1
"Udah tadi." Jawab Panji.
Terlihat di pandangan Rendran dan Panji, Andi sedang melamun.
"Lo lagi mikirin apa sih?." Tanya Panji pada Andi.
"Ngga tau kenapa Gua selalu mikirin Dini, udah dari pas kita pulang dari Puncak sih." Curhat Andi.
"Lo suka sama bocah itu?." Tanya Rendra.
"Kaya nya sih." Jawab Andi ragu.
"Hahahah, yang katanya ngga bakal pernah suka ternyata suka beneran sekarang, cieee." Ledek Panji lengkap dengan tawa pelannya.
"Yang namanya cinta kagak bisa di tentuin ama siapa berlabuh, Gua juga baru sadar pas kita sampe di rumah si Rafka waktu malamnya." Jelas Andi.
"Tapi kek nya Lo harus hilangin rasa itu deh Ndi, Lo ama dia ka jauh, nomer telepon nya aja Lo ngga punya, info apapun soal dia aja Lo ngga punya." Kata Rendra.
"Tapi kata Zarine, yang namanya jodoh pasti ngga bakal kemana kan?, Gua percaya sama omongan dia." Yakin Andi.
"Lo berharap dia tiba-tiba ada di desa kita gitu?." Tanya Panji.
"Bisa di bilang seperti itu." Jawab Andi.
"Pfft... ." Tawa Panji hampir pecah jika tak di tahannya.
"Kalo penantian Gua ngga kesampaian, Lo berdua harus bantuin Gua buat ketemu dia." Kata Andi.
"Iya dah beres." Jawab Rendra.
Perjalanan mereka di isi oleh harapan-harapan Andi pada Dini yang hanya Author yang tau gimana jalan ceritanya nanti.
-
-
-
Pukul 15.30 ba'da asyar, murid-murid sekolah pada pulang.
7 serangkai sedang berjalan ke parkiran.
"Yang masih nyimpen nomer telepon si Roy, hubungin dia." Suruh Rafka.
Abhi tanpa bicara melakukan apa yang di minta Rafka.
Sampai di parkiran di depan mobil Rafka, hari ini 7 serangkai berangkat menggunakan mobil Rafka.
'Tut... tut... tut... .' Bunyi sambungan telepon.
"Halo?, assallammu'allaikum?, ada Bhi?." Tanya Roy di seberang sana.
"Wa'allaikum sallam, Lo sibuk ngga?." Tanya balik Abhi.
"Lagi engga nih, kenapa sih?." Tanya lagi Roy.
"Ikut kita ke RS jenguk Sari sekarang." Pinta Abhi.
"Ok, Gua langsung ke lokasi, Gua tunggu di parkiran sana yak." Kata Roy.
"Iya." Jawab singkat Abhi.
Kemudian Abhi menutup telepon.
"Ayo, dia udah OTW kesana sekarang." Info Abhi.
7 serangkai masuk mobil dan melaju meninggalkan gedung sekolah SMA Merdeka.
20 menit kemudian mereka telah sampai di lokasi.
Di tempat parkir, mereka melihat Roy.
"Tumben nih mampir kesini?." Tanya Roy.
"Istri Gua yang ngajakin." Jawab Rafka.
Roy hanya membulatkan mulutnya sambil manggut-manggut.
Mereka mulai masuk ke gedung RS dan mencari ruangan Sari.
"Lo tiap hari kesini?." Tanya Rafka.
"Hmmm, tiap 2 kali sehari Gua ke sini." Jawab Roy.
"Gau doain dia sembuh dan bisa nikah sama Lo." Doa Abdiel.
"Aamiin." Jawab Roy.
"Segitu cinta nya ya Lo sama si Medusa?." Tanya Alfi.
Roy hanya menyunggingkan bibirnya mendengar pertanyaan istri dari Abhi ini.
"Dia cewek pertama yang bisa bikin Gua jatuh cinta, jadi Gua bakal usaha semaksimal mungkin buat sembuhin dia." Tekad Roy.
"Pantes." Jawab singkat Alfi.
"Aku bersyukur ada orang sebaik Kak Roy yang bisa nerima Sari apa adanya." Ucap Tika tulus pada Roy.
Roy tersenyum, lalu dia juga mengucapkan selamat tas perniakahan Tika.
"Ouh iya, Gua ucapin selamat buat Lo Tik Samara yak sama Bang Idan, cepet di kasih momongan." Kata Roy sambil menjabat tangan Tika.
"Kakak tau dari mana?." Heran Tika.
"Hehehe, tau tadi Om Bram." Jawab Roy.
"Ohh, makasih kak." Kata Tika.
Mereka sampai di depan ruangan Sari.
Dia sedang bermain dengan boneka di sana.
"Lucu banget... jadi kaya waktu dia masih kecil dulu." Kata Tika dengan senyum gemasnya.
"Lo tau waktu dia kecil?." Tanya Akifa.
"Liat di foto nya, hahaha." Tawa garing Tika.
"Setelah kejadiaan dia cekik Zarine hari itu, dia udah ngga berulah lagi, karena dia di kelilingi orang yang baik dan sayang sama dia, orang tuanya bahkan hampir tiap hari ke sini." Jelas Roy.
Sari menatap ke arah jendela, dia tersenyum melihat Roy di luar.
"Roy?." Panggil nya.
Sari juga menatap Rafka Zarine dan lainnya.
Awalnya Zarine takut Sari berteriak dan marah, tapi hal tak di sangka terjadi, Sari tersenyum ke arah mereka semua dan melambaikan tangannya.
Zarine menitihkan air mata melihat itu.
"Boleh ngga kalo kita masuk?." Tanya Zarine pada Roy.
"Boleh kayanya." Ragu Roy.
Lalu dari arah timur, dokter Hamid pengurus Sari datang menghampiri Roy dan lainnya.
"Assallammu'allaikum, sore Dok." Salam Roy.
"Wa'allaikum sallam, sore juga Pak Roy." Jawab Dokter.
"Dok?, kita boleh masuk ke dalam ngga?." Tanya Roy.
"Ouh iya silahkan, tumben Pak Roy masih perlu ijin?." Tanya Dokter.
"Kali ini yang masuk bukan saya aja Dok, ini temen-temennya Sari juga mau masuk." Jelas Roy.
"Iya silahkan masuk." Kata Dokter.
Semua orang masuk.
Zarine meletak kan buah di meja nakas dekat ranjang pasien Sari.
Dia membelinya di perjalanan tadi.
Sari menatap lekat pada 7 serangkai.
"Zarine, Rafka, Abdiel, Akifa, Abhi, Alfi, Tika." Absen Sari menyebut nama 7 serangkai.
Zarine mengangguk lalu berhambur memeluk Sari sambil menangis.
Sari membalas memeluk Zarine.
"Sari apa kabar?." Tanya Zarine lembut sambil terisak.
"Aku baik, kamu kenapa nangis?, jangan nangis." Kata Sari melepas pelukan lalu mengusap pipi Zarine pelan.
Zarine berhenti menangis dan bermain dengan Sari layaknya anak kecil.
Dokter hamid ikut masuk.
"Pasien sudah menunjuk kan tanda-tanda sehat, tapi tidak bisa di katakan sehat total, karena masih membutuhkan beberapa terapi lagi." Jelas Dokter.
"Alhamdulillah Dok, kami semua ikut senang." Ucap Rafka, Abhi, Abdiel, Akifa, Alfi bersamaan dengan tulus dari hati mereka.
-
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.