
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
Tas ada di pundak mereka masing-masing.
"Ck! Tunda aja dah nugas nya." Albhi kembali menawar.
Wulan merespon dengan delik kan mata tajam pada Bang Bhibhi nya ini.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Abang! Dengerin yah! Kalo males ngerjain tugas nanti ngga naik kelas, terus Bang Bhibhi juga bakal kena hukum, hormat di bawa bendera sampai jam pelajaran pertama selesai! Mau?!." Seru Wulan menakut-nakuti Albhi.
Raut muka Albhi tak menunjuk kan rasa takut sama sekali, dia santai bak di pantai.
"Atau gini aja! Kita buat kesepakatan!." Tawar Wulan memberi ide.
"Kesepakatan apa?." Tanya Albhi.
Perdebatan mereka di saksi kan oleh para muda-muda dan para tua-tua.
"Haduh main drama apa lagi nih Lanlan ama Bhibhi?." Tanya Mama Akifa berbisik di telinga Mommy Za dan Mami Alfi.
"Kita lihat saja." Balas Mami Alfi singkat.
Kembali ke Albhi dan Wulan.
"Kesepakatan apa yah? Entar di pikirin dulu." Wulan berpikir keras, dalam benak nya 'Ini saat nya ngerjain Bang Bhibhi.' Tapi itu terucap hanya di hati dan pikiran nya.
Setelah lama memikir kan rencana apa yang cocok untuk mengerjai Albhi, Wulan tersenyum senang.
"Gini deh, Wulan nulisin kerjaan Bang Bhibhi, asalll... Bang Bhibhi harus beli in Wulan 1 kulkas es krim lengkap dengan kulkas-kulkas nya!." Syarat yang di beri kan oleh Wulan membuat semua orang terbengong di tempat.
"Ng... ngga ada lain nya? Minta PS gitu, atau apa lah yang lain nya." Tawar Albhi dengan pandangan memohon.
"Ngga ada tawar menawar, kalo mau itu, kalo ngga mau ya udah kerjain tugas nya." Kata Wulan acuh.
Dia pun duduk di depan meja panjanh tanpa menghirau kan semua orang yang tengah menatap nya saat ini.
"Simbiosis mutualisme ya Wak." Bisik Mama Akifa pada Mommy Za dan Mami Alfi.
"Ya bisa di bilang kaya gitu." Sahut Mami Alfi sambil terkekeh.
Lama bengong, semua orang memutus kan duduk di ruang santai itu.
Wulan menatap Albhi di samping nya, meminta, ouh maksud nya menunggu kepastian dan jawaban dari bibir Wulan.
Albhi masih belum jawab.
'Aku ngga masalah sebener nya kalo mau beli in dia banyak-banyak es krim, tapi kan kesehatan nya ngga baik nanti kalo kebanyak kan makan itu.' Batin Albhi menimang-nimang keputusan.
"Gimana? Mau ngga?." Tanya Wulan masih setia menunggu.
__ADS_1
"Engga deh, aku nulis sendiri aja." Jawaban akhir dari Albhi mutlak.
Wulan tersenyum senang atas pilihan yang di pilih oleh Albhi, ternyata ampuh juga rencana Wulan untuk si pemalas satu ini.
"Ck! Pelit banget, padahal es krim." Sagut Pamungkas bersuungut-subgu. Pamungkas berusaha sok jadi pahlawan kesiangan untuk sang sepupu.
"Bukan pelit! Tapi karena Lanlan ngga bisa makan es krim terlalu banyak, ngga baik lagian tiap hari makan es mulu! Nanti bisa jadi penyakit!." Tegas Albhi tak mau di bilang pelit.
"Benar juga kata Wulan, lagian Wulan ngga beneran minta es krim, itu cuma rencana aja biar Bang Bhibhi ngga males dan mau ngerjain tugas nya." Cetus Wulan sambil menebar senyum manis nya pada Pamungkas.
Pamungkas yang tak mendapat pembelaan hanya bisa menghembus kan nafas kasar.
"Niat nya belain malah di pojok in, apesss... apes... ." Kesal Pamungkas sambil menepuk jidat nya pelan.
"Hahahah... maka nya jangan jadi pahlawan ke siangan, mamam tuh pahlawan!." Ejek Damar dengan tawa keras nya.
"Diem!." Seru Pamungkas sambil menahan malu dan mendelik kan mata nya lebar-lebar pada Damar.
"Dah kerjain semua tugas kalian, sebelum maghrib Mami minta udah selesai!." Titah sang Ibu Ratu tegas terdengar.
"Siiap laksanakan Capten!." Seru para muda-muda itu kompak.
7 serangkai mulai membuat tugas, membuka buku masing-masing.
Alat-alat tulis berserak kan.
25 menit lama nya mereka berperang dan itu belum selesai.
"Penggaris woy penggaris!!." Seru Pamungkas berteriak.
"Depan kamu itu penggaris Paijo! Cari dulu! Jangan teriak-teriak! Ini rumah bukan hutan!." Damar menasihati panjang pada Pamungkas.
Anak dari Bunda Raina itu hanya cengangas-cengenges mendengar perkataan panjang Damar.
Para tetuah yang masih ada di ruang santai agak jauh dari para muda-muda hanya menggeleng-geleng kan kepala nya tak paham dengan tingkah 2 pemuda itu.
Jika di satu sisi Pamungkas dan Damar yang bertengkar, di satu sisi lain, Albhi juga Angkasa sibuk mengerjai gadis mereka masing-masing.
Kita ke Angkasa Agnez dulu.
Saking fokus nya sampai saat Angkasa bertanya, dia tak menghirau kan.
Karena jengkel, Angkasa mempunyai ide jahil tuk mengerjai gadis itu.
Sedang asik menulis, Angkasa menyenggol lengan kanan Agnez dan bisa kalian tebak kan apa yang terjadi? Tentu saja tulisan nya tercoret.
Apa lagi Agnez menulis nya mengguna kan pulpen, rusak sudah tulisan nya.
Agnez menatap Angkasa tajam dan datar. Tapi bukan nya merasa bersalah, cowok itu malah tersenyum lebar bak orang tanpa dosa.
2 menit menatap, Agnez kembali menghadap buku nya hendak menulis lagi.
Sebelum menulis dia menghapus coretan di buku nya, baru beberapa menit menulis, Angkasa kembali sengaja menyenggol lengan kanan Agnez.
Agnez diam tak menghirau kan padahal hati nya sudah sangat dongkol😂.
Karena tak mendapat respon, di menit berikut nya Angkasa lagi, lagi, dan lagi menyenggol dengan sengaja lengan Agnez.
Karena gondok, Agnez menggebrak meja dengan menatap tajam Angkasa.
Semua orang penghuni ruang santai itu terkejut karena gebrak kan tangan Agnez yang keras itu.
"Ada apa Nez?." Tanya Wulan terkejut.
"Mas Angkasa ini loh kurang kerjaan! Aku nulis di ganggu in, liat nih! Buku ku udah kaya donat yang penuh gula! Belepotan ndak karuan!." Seru Agnez marah pada Angkasa.
Sang pembuat ulah bukan nya sadar malah tertawa kecil.
Menurut nya kesal nya seorang Agnez adalah hal yang sangat menggemas kan tak boleh terlewat begitu saja.
Bukan nya minta maaf, Angkasa malah mengelak bahwa dia pelaku nya.
"Aku kan ngga sengaja little girl! Beneran deh." Kata Angkasa bak orang tanpa dosa.
"Terserah!." Kesal Agnez berucap.
__ADS_1
Dia pun memutus kan pergi dari samping Angkasa dan duduk di sebelah Kristal.
"Mbak? Aku duduk sini yah." Pinta Kristal.
"Ya duduk aja, monggo." Balas Kristal sok-sok an berbicara bahasa Jawa.
Agnez tersenyum antusias mendengar perkataan Kristal, dia mengacung kan ke dua jari jempol nya memuji Kristal.
"Makasih... eh tapi... ngomong-ngomong... aku bener ngga sih bilang kaya tadi?." Tanya Kristal, ketakutan salah pengucapan kalimat terlihat jelas di raut muka nya.
"Bener kok Mbak! Bener banget malah." Jawab Agnez dengan tersenyum manis.
Yang tadi saat duduk di sebelah Angkasa mood Agnez anjlok ngga karuan, sekarang duduk di sebelah Kristal dia tersenyum bahagia, melupakan kekesalan nya pada Angkasa.
Angkasa yang melihat itu mencebik kan bibir nya tak suka.
Sedang kan orang-orang yang melihat nya malah terkikik geli sendiri.
"Mamam tuh jahil!." Ejek Pamungkas.
"Diem!." Tukas Angkasa berseru jengkel.
.
.
.
Wah ngga keras udah mau lebaran yah😂, puasa nya tinggal besok nih😊, yang semangat yah buat hari terakhir puasa☺, janga ampe ngga puasa, kecuali buat para perempuan yang lagi kedatangan tamu, ngga puasa ngga papa, tapi tetep di bulan Rajab harus di bayar yak😂.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1