
Mentari muncul malu-malu di ufuk timur.
6 serangkai dan lainnya duduk di meja makan di penginapan mereka.
Shita dan Raina juga ada di sana.
Mereka semua makan bersama dengan di selengi canda tawa yang memenuhi ruangan.
"Eh, sekarang tanggal berapa?." Tanya Bang Rafa.
"Tanggal 22." Jawab Abdiel.
"Nanti malam orang tua kita sampe di sini." Peringat Akifa.
"Gimana nih?, kita ke air terjun atau tunda dulu?." Tanya Abhi.
"Tunda dulu aja deh, besok kita kesana bareng-bareng." Kata Rafka.
"Terus kita ngapain bentar lagi?." Tanya Zarine.
"Ke sungai yang kemarin aja gimana?." Usul Afi.
"Boleh aja sih, tapi ngapain di sana?." Tanya Raina.
"Main air lah." Jawab Bang Rafa.
"Ayo kalo gitu." Kata Shita.
Mereka semua pergi kesungai untuk bermain air.
Tidak jadi ke air terjun tidak masalah.
Di sini masih ada sungai yang jernih bersih, jadi masih bisa bermain air disana.
20 menit berjalan mereka semua sampai.
Di sana mereka bertemu Rendra, Andi, dan Panji.
Mereka ber 3 sedang duduk bermain air.
"Udah dari tadi kalian di sini?." Tanya Shita mengalihkan pandangan 3 orang itu.
Rendra dan lainnya asyik berbincang tadi, hingga kedatangan Shita juga lainnya Rendra tak menyadari.
"Udah mau ke air terjun kah?." Tanya Rendra bertanya balik.
"Ngga jadi, ka air terjunnya di tunda besok aja, sekalian sama para orang tua." Jawab Rafka.
"Orang tua kalian mau kesini juga?." Tanya Panji.
"Iya." Singkat Abhi.
"Terus?, pada ngapain kesini?." Tanya Andi.
"Hehehe, kita emang ngga jadi ke air terjunnya, tapi kan sungai ada, sama-sama air juga kan?." Kekeh Akifa.
"Hahahaha, main kalo mau main, tapi hati-hati." Pesan Rendra.
"Ok." Singkat para lelaki menjawab.
Selang 2 menit berbicara.
Dari ketinggian seseorang melompat.
'Byurrr.'
"Wuhhhh!!!, asli seger banget ini." Kata Alfi yang tadi melompat.
"Ayo pada turun!, seger bat airnya sumpah Gua ngga bohong." Ajak Alfi.
Lalu Abdiel, Abhi, Akifa mencoba lompat satu per satu.
"Ini bu... bu... bukan seger namanya Alfi!." Gagap Abdiel yang merasakan kedinginan di air yang kata Alfi segar.
"Lah?, bener kok kata Alfi, ini tuh airnya seger Yang." Sahut Akifa.
"Ini airnya dingin, bukan seger." Jelas Abdiel.
"Kamu nya aja yang ngga bisa ngerasain mana dingin mana seger." Celutuk Akifa.
"Huuu... udah ah, aku naik aja ayo!, kamu juga naik, kita main di tepi an aja." Ajak Abdiel menyeret lembut tangan Akifa.
Akifa cemberut.
Pasalnya dia ingin bermain air dengan Alfi.
"Jan cemberut gitu, kamu boleh main air, tapi di deket ku aja, ngga usah di tengah." Kata Abdiel dengan suara bergetar karena kedinginan.
"Iya deh." Pasrah Akifa.
Di tempat Rafka Zarine.
Mereka duduk di batu jarak satu meter dari Abdiel.
"Kamu ngga mau ikutan main air?." Tanya Zarine.
"Boleh emang?." Tanya balik Rafka.
"Kenapa aku ngga ngebolehin?." Tanya Zarine.
"Ini kok ceritanya malah pertanyaan di jawab pertanyaan sih, ahahaha, ok gini, kamu boleh main air, aku tunggu disini." Sambung Zarine.
"Kamu ikut aja main air." Ajak Rafka.
"Ini aku udah main air Raf." Jawab Zarine.
"Kan cuma kakinya aja, badannya masih kering tuh." Kata Rafka.
"Aku tunggu sini aja deh, atau aku main air di pinggir-pinggir aja." Ucap Zarine.
"Ya udah aku temenin kamu main air di tepi an sini." Balas Rafka.
Lalu Rafka turun ke dalam air dari tempat duduknya.
Rafka mengulurkan tangannya mengajak Zarine.
Zarine tersenyum kemudian dia menerima uluran tangan sang suami.
Mereka bermain air di tepian.
Di tempat berdirinya Raina, Shita, Rendra, Andi, dan Panji.
Mereka ber lima tak ikut turun hanya mencelupkan kakinya ke air sambil melihat wisatawan mereka bermain di air sungai.
Bang Rafa, Bang Idan, juga Tika ikut bermain dengan Alfi, Abhi.
"Kalian ngga pernah main ke sungai ya emangnya?." Tanya Shita sambil tertawa pelan yang melihat tingkah konyol orang kota itu.
"Pernah dulu waktu masih umur 5 tahun, tapi setelah itu udah ngga pernah lagi." Terang Akifa.
"Pantes aja, liat sungai udah kaya menang lotre 1 Miliyar, ahahaha." Celutuk Panji yang membuat semua orang yang bermain air menyengir kuda.
"Kalian kok ngga ikut main?." Tanya Akifa.
"Tuan rumahnya udah bosen Yang, tiap hari mereka pasti mainnya kesini." Jawab Abdiel.
"Ahahaha, ya, kamu bener Diel, kita emang udah bosen." Jawab Raina.
Mereka semua bermain air hingga pukul 10.30 siang.
"Kuylah pulang." Ajak Abdiel.
"Basah-basahan gini?." Tanya Akifa.
"Ya mau gimana lagi?, ayolah." Kata Alfi.
Mereka semua pulang ke penginapan.
Setelah sampai mereka langsung membersihkan diri.
Pukul 11.45 adzan dzuhur berkumandang.
Semuanya pergi berwudhu dan sholat berjamaah di mushollah kecil yang ada di tempat mereka menginap.
Selesai sholat mereka makan siang dan istirahat di kamar masing-masing.
~
~
~
~
~
Malam telah tiba.
Rembulan begitu cantik menyinarkan cahaya redupnya di temani bintang-bintang kecil di sekelilingnya.
"Kira-kira jam berapa nanti orang tua kalian sampai?." Tanya Shita.
"Entahlah Ta, beliau semua handphonenya ngga aktif sejak terakhir kita hubungi hari minggu kemarin." Jawab Akifa.
"Apa mungkin mereka datengnya malam nanti?." Terka Alfi.
"Kayanya." Sahut Abhi.
"Aduh... jangan ngomong 'kayanya' deh, ngomong yang pasti-pasti aja biar ngga bikin orang bingung." Sungut Abdiel.
"Ya kan namanya aja nebak Diel." Kata Alfi.
"Ya udah jangan nebak-nebak biar orang ngga bingung." Celutuk Abdiel.
Alfi diam tak menjawab perkataan Abdiel.
Adzan isya' mereka masuk ke dalam rumah.
Mereka sholat dan juga makan malam bersama.
Sampai ada seseorang yang mengetuk pintu rumah.
'Tok... tok... tok... , assallammu allaikum.' Salam orang yang mengetuk pintu.
"Rendra." Ucap Shita.
"Ayo." Ajaknya kemudian.
"Bisa hafal gitu ya sama suaranya." Bisik Akifa pada Abdiel.
"Kalo udah cinta ya gitu." Jawab Abdiel sambil terkekeh.
Semua orang di meja makan beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu rumah lalu Shita yang membuka pintu.
"Wa'allaikum sallam." Jawan Shita dan lainnya.
"Ada apa Ren?." Tanya Shita.
"Nih cuma mau nganterin-." Ucapan Rendra terpotong.
"Hai semua." Sapa Mama Rafka.
"Mama?!." Seru Rafka Zarine senang.
6 serangkai serta Bang Idan dan Bang Rafa berhambur ke pelukan orang tuanya masing-masing.
"Mama?, Papa?." Senyum Tika terbit begitu indah.
Dia langsung berlari menghambur di pelukan orang tuanya.
"Hai, kamu yang namanya Shita penulis novel Menjemput Bahagia kan?." Tebak Mama Akifa.
"Ah... iya Te." Shita mengangguk memberi hormat.
"Kyaaaa!!!, ternyata orangnya cantik banget." Heboh Mama Alfi.
"Makasih Te." Jawab Shita tersenyum garing.
'Seterkenal itukah Gua?.' Tanya batin Shita.
"Om?, Tante?, kami ucapkan selamat datang di kota Lumajang dan di desa Singo Joyo ini." Kata Shita, Rendra, Andi, Panji, dan Raina.
"Terima kasih." Jawab semua para orang tua.
"Mari masuk semuanya." Ajak Shita.
"Kalian bertiga ayo masuk, kita makan sama-sama." Ajak Rafka.
"Thanks, kita mau balik ke rumah ditunggu Ibu soalnya." Tolak Rendra yang diangguki semuanya.
"Makasih udah nganterin kesini ya kalian." Ucap Papa Rafka yang diangguki Rendra, Andi, dan Panji.
"Sama-sama Om, ya udah kalo gitu, kita pamit pulang, assallammu'allaikum." Salam Rendra.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang.
__ADS_1
"Ayo masuk." Ajak Raina.
Mereka semua masuk ke rumah.
"Penginapan ini tidak disewakan kapada orang lagi selain Om, Tante dan lainnya, jadi kamarnya bebas mau pakek yang mana pun." Jelas Raina.
"Mama, Papa sama lainnya nempatin yang di atas aja." Kata Akifa pada kedua orang tuanya dan orang tua lainnya.
"Iya Ma, kamar di bawah udah kita tempatin semua." Sambung Abdiel menjelaskan.
"Iya udah kalo gitu, mari saya tunjukkan kamar masing-masing." Ajak Shita.
Para orang naik ke lantai dua mengikuti Shita.
Sampai di atas.
Shita membuka kan pintu kamar satu per satu sebanyak 7 pintu.
"Ini kamarnya, jika ingin berniat tukar silahkan." Sopan Shita.
"Kita ini Pa." Tunjuk Mama Rafka.
"Emmm, ok." Singkat Papa Rafka menjawab.
"Ini kunci kamarnya." Shita menyerahkan kunci kamar.
Semuanya memilih kamar dan Shita memberikan kuncinya.
"Ayo turun, mau makan dulu atau langsung istirahat?." Tanya Shita.
"Kita langsung istirahat aja deh, tolong bilangin sama anak-anak dibawah ya." Pinta Mama Rafka.
"Ya sudah kalo begitu, selamat istirahat, semoga betah sama kamarnya." Kata Shita ramah dengan menunduk hormat.
"Saya pergi dulu Om, Tante." Pamit Shita.
Dia kemudian turun dan para orang tua masuk kekamar dan istirahat.
-
-
-
-
-
Pagi hari semua orang penghuni rumah telah bangun dan sekarang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan.
"Kita jadi ke air terjun atau gimana nih?." Tanya Akifa.
"Ini para orang tua baru sampe kemarin malam loh, kasian pasti capek." Kata Zarine.
"Kalian berencana ke sana hari ini?." Tanya Mama Akifa.
"Iya Ma, kemarin kita janjian, kalau Mama Papa, Om Tante ngga ikut juga ngga papa." Jelas Akifa.
"Mau ngapain terus kita di sini?." Tanya Papa Akifa.
"Tidur, hahahaha." Jawab Akifa dengan tertawa pelan.
"Kita ikut aja deh." Celutuk Papa Rafka.
"Ya udah kalo gitu ayo." Kata Rafka.
Semua orang telah bersiap.
Lalu 5 menit kemudian semua orang berkumpul di teras.
Di sana juga sudah ada Rendra, Andi, dan Panji.
Mereka ber tiga akan mengikuti mobil mereka dari belakang.
"Nanti mobil Mama Papa ikutin mobil kita, jangan sampe ketinggalan." Pesan Rafka.
"Kalo ketinggalan mereka bertiga yang akan nuntun." Sahut Shita.
"Hahaha lupa kalo ada mwreka ber tiga." Tawa pelan Abdiel.
"Ayo bernagkat!!." Seru Bang Rafa.
"Ayo!!." Jawab semua orang kompak.
Mereka semua masuk mobil dan mulai tancap gas menuju tujuan yaitu Air Terjun Antrukan Trap Sewu.
Cukup dekat jika di tempuh dari desa Singo Joyo.
Sekitar 35 menitan mereka sudah sampai di tujuan.
Tapi mereka masih harus jalan beberapa meter.
Mobil sudah diparkir dengan cantik di tempatnya.
Kini 7 keluarga senior bertambah dengan Mama papa Tika, 3 keluarga junior, 2 calon pasangan, serta 4 pemandu wisata sudah benar-benar sampai di air terjun itu.
"Maa syaa allah." Puji Bunda dan Zarine bersamaan.
"Indah banget ciptaan-Mu ya Allah." Celutuk Mama Akifa.
"Ini namanya Air Terjun Antrukan Trap Sewu, alhamdulillah pengunjungnya ngga terlalu banyak, jadi boleh kalo mau main air." Beri tahu Rendra.
"Pada bawa baju ganti kan?." Tanya Andi.
"Udah!." Seru semua orang.
"Ya udah ayo main." Ajak Panji.
Para yang muda-muda melompat dari ketinggian di bebatuan.
Sedangkan para tua-tua ada di tepian.
Ngga semua para muda-muda sih yang terjun dari ketinggian.
Rafka Zarine, Raina, Akifa Abdiel bermain di tepian.
"Ini kalian kenapa malah main di tepian juga?" Tanya Mama Rafka.
"Hehehe, di sini juga sama aja Ma." Jawab Zarine dengan menyengir kuda.
Mereka semua bermain air dengan tak lupa berselfi ria.
"Huuaa!!, rasanya ngga mau pulang!." Seru Akifa heboh.
"Kita bisa kesini lagi kapan-kapan." Kata Papa Akifa.
"Yang... kamu kan tau, perjalanan ke sini ngga deket loh." Lembut Abdiel.
"Nah!, dengerin apa kata suami Fa." Timpal Mama.
"Iya deh iya." Jawab Akifa.
"Udah siang nih, ayo bersihin badan, abis tu sholat, dan kita makan siang." Ajak Shita.
"Ayo!!." Seru semua orang menyambut kompak.
Setelah melakulan semua kegiatan yang tadi di rencanakan.
Kini saatnya mereka beranjal pulang kembali ke penginapan.
"Langsung pulang aja nih?." Tanya Alfi lesu.
"Emmmm, gimana kalo kita ke Hutan Bambu?." Usul Andi.
"Jan kesana deh mendingan." Kata Shita dengan wajah agak pucat.
"Hehehe, Lo masih takut ama Monkey ya?, hahaha." Ledek Rendra.
"Dasar gila!." Umpat Shita kesal.
"Om, Tante, sama lainnya kalo mau ke Hutan Bambu pergi ama mereka ber 3 ini aja ya." Tunjuk Shita pada Rendra, Andi, dan Panji.
"Ya Lo harus ikut juga Ta." Kata Panji.
"Ogah, mending Gua rebahan di rumah sambil ngetik novel." Sergah Shita cepat.
"Di Hutan Bambu emang ada apa sih?." Tanya Mama Rafka.
"Ada monyet Te, dan dia takut sama itu." Jawab Rendra meledek Shita.
Shita melotot kan matanya pada Rendra.
Semua orang di tempat yang menyaksikan kelakuan mereka berdua terkekeh lucu.
"Ya udah kita kesananya ngga sekarang deh." Ucap Ayah Zarine.
"Ya udah ayo pulang." Kata Bang Rafa.
Mereka semua pulang.
Di perjalanan di belakang mobil para orang muda.
Mobil para orang tua mengikuti dengan setia.
Saat Papa Akifa yang saat itu sedang menyetir, beliau menatap sepion dalam mobil untuk mengecek 3 pemuda di bekakang mobilnya.
Setiap 5 menit sekali Papa Akifa akan melihat sepion itu.
Di menit ke 20.
3 pemuda itu tak ada di belakang.
Papa Akifa menghentikan mobil mendadak.
"Aduh!!, pelan-pelan kenapa sih Pa?!." Sungut Mama Akifa.
"Ada apa?, kenapa ngerem mendadak?." Tanya Papi Alfi.
"Mereka bertiga hilang!." Seru Papa Akifa.
"Mereka bertiga siapa?." Tanya Mama Akifa ikut panik.
"Rendra, Andi, dan Panji." Jawab cepat Papa Akifa.
Semua orang menatap ke arah belakang.
"Kemana mereka?!." Kaget Mami Alfi.
"Cepat telepon anak-anak!." Suruh Papa Rafka.
Mama Rafka merogoh tasnya lalu meraih benda pipih di sana.
Mama Rafka mencari nomer Rafka.
Setelah menemukannya Mama Rafka langsung menelepon anaknya itu.
'Tut.. tut.. tut.. .'
"Halo Ma?, ada -."
"Kalian berhentilah!, Rendra dan lainnya ngga ada di belakang mobil kita!." Seru Mama memberintahu.
"Ok Ma." Jawab singkat Rafka.
telepon selesai.
"Bang Idan stop!!." Seru Rafka.
'Citt!.' Rem dan jalan berdecih dan semua penumpang terlempar ke depan saking terkejutnya.
"Ada apa sih Raf?!." Sungut Akifa.
"Rendra ama lainnya ngga ada dibelakang mobil Mama." Beri tahu Rafka.
Deg!!.
Shita membeku di tempat.
Jantunya berdegup kencang dan pikirannya di penuhi hal-hal negative.
"Kita ke tempat mobil Mama kamu sekarang." Pinta Shita.
Mata Shita sudah berkaca-kaca menahan tangis.
Bang Idan kembali mundur kebelakang.
Shita langsung bergegas turun dari mobil.
Dia berusaha menghubungi Rendra tapi tidak aktif.
Dia beralih ke Andi.
'Tut.. tut.. tut.. .'
"Angkat Andi." Panik Shita.
__ADS_1
2 menit menunggu.
"Halo Ta?." Sapa Andi.
"Di mana?." Tanya Shita to the point.
"Di.. kita.. di.. itu.. anu.. kita di-."
"Jawab Andi!!." Marah Shita.
"Persimpangan jalan xxx." Jawab Andi cepat.
"Tunggu Gua di sana, jaga in Rendra." Pesan Shita.
Telepon selesai.
"Kalian pulang aja ke penginapan." Suruh Shita.
Saat ingin melangkah kan kaki, Raina mencekal lengan Shita.
"Mau kemana kamu?." Tanyanya dengan wajah cemas.
"Rendra butuh aku." Singkat Shita.
"Kita ikut!." Tegas Bang Rafa.
"Jangan!, aku mohon kalian pulanglah, di sini ngga aman buat kalian." Suruh Shita.
"Iya kita akan pulang, pergilah." Kata Raina.
"Assallammu'allaikum." Salam Shita.
Tanpa mendengar jawaban dari semua orang, dia berlari kencang ke arah jalan air terjun tadi.
"Kenapa kamu biar kan dia pergi Raina?." Tanya Bang Rafa.
"Aku juga ngga bodoh!, ayo kita ikuti!." Seru Raina.
"Ayo!." Jawan lainnya.
Mereka menaiki mobil masing-masing.
Di jalan.
Shita berlari kencang.
Hingga sampai di persimpangan jalan xxx, Shita mencari keberadaan 3 pemuda itu.
Shita celingak celinguk di pinggir jalan.
Mobil yang mengikuti Shita berhenti agak jauh.
"Kita harus turun nih kayanya." Celutuk Raina.
"Kok?, kenapa?." Tanya Bang Idan.
"Di sekitar sini ada jalan sempit yang biasanya di pakai para penjahat untuk menyembunyikan korban, dan jalan itu hanya bisa di lewati kalo jalan kaki." Beri tahu Raina.
"Tau banyak dari mana Kak Raina kalo ada jalan kaya gitu?." Tanya Alfi.
"Shita pernah cerita, dia juga nemuin Rendra di sana beberapa tahun yang lalu." Terang Raina.
"Terus ini parkir dimana dong?." Bingung Bang Rafa.
"Di depan jalan ada minimarket, taruh di sana aja." Kata Raina.
Bang Rafa menurut.
Dia memarkirkan mobilnya disana.
Mobil di belakang Bang Rafa ikut berhenti.
Lalu mereka semua turun dari mobil.
"Kok turun di sini?." Tanya Mama Abhi.
"Ada jalan yang hanya bisa di tempuh jalan kaki Ma." Jawab Abhi.
"Terus?." Tanya Papa Abdiel.
"Kemungkinan besar Shita kesana." Jawab Raina.
"Ayo kalo gitu." Ajak Ayah Zarine.
Mereka berjalan mencari jalan sempit itu.
Hingga Raina melihat Shita memasuki sebuah gang yang bisa di lewati satu orang.
"Itu Shita!." Seru Alfi pelan.
"Ayo kita ikuti." Ajak Raina.
Raina dan lainnya mengikuti jalannya Shita yang berlari agak kencang.
Jalan yang mereka lewati begitu membingungkan karena jalannya kerkelok-kelok.
15 menit berjalan.
Sampai mereka di sebuah bangunan tua yang terbengkalai.
Shita mengendap-ngendap mengintip jendela.
Sedangkan para penguntit Shita, mereka semua masih ada di kejauhan.
"Ayo kita samperin Shita." Ajak Akifa.
"Jangan dulu." Cegah Raina.
"Kenapa?." Tanya Mami Alfi.
"Musuh akan kabur kalo seandainya dia liat kita, dia akan berprasangka bahwa teman Rendra mambawa teman lainnya untuk menyerang balik, dan lebih parahnya dia bisa saja mencelakai kalian semua, kita akan muncul di waktu yang tepat, tapi ngga sekarang." Jelas Raina.
"Tapi kalo dia kenapa-napa gimana?." Tanya Akifa.
Raina bungkam.
Raut muka Raina cemas.
"Dia akan baik-baik saja, kita akan bertindak jika musuh beraksi." Yakin Raina.
Di depan gedung tua itu.
Seorang pria berusia kurang lebih 27 tahun menyeret Rendra dari dalam gedung dengan ke adaan yang sudah terluka parah.
Semua orang terkejut melihatnya.
"Anton." Kata Raina dengan gemetaran.
"Siapa dia?." Tanya Papi Alfi.
"Abangnya Rendra." Jawab Raina.
Semuanya diam memandang ke arah Rendra dan Anton.
Di dekat tembok jarak 5 meter dari posisi Anton dan Rendra.
Shita, Andi, dan Panji cemas melihat ke adaan Rendra.
"Kalo dibiarain Rendra akan mati." Kata Shita.
"Gua akan tolongin dia, kalian nanti bawa Rendra ke RS." Sambung Shita.
Saat akan pergi, tangan Shita di cekal oleh Andi.
"Jangan gila Ta!, yang Lo hadapin itu Bang Anton!, kalo dia pukul Lo sekali aja, Lo bisa aja pingsan." Kata Andi.
"Ngga ada pilihan lagi, Gua tolongin Rendra, tugas kalian yang nahan Bang Anton, dan bawa Rendra ke RS." Keukeuh Shita.
Shita sudah akan berjalan ke arah Rendra.
Tapi cekalan Andi makin kuat.
"Lepasin Gua Andi!." Seru Shita dengan suara serak.
"Engga!." Tegas Andi.
Di posisi Rendra.
"Lo harus mati Ren, Gua heran kenapa Ayah ngewarisin semua hartanya ke Elo yang jelas-jelas Gua lebih berhak karena Gua anak pertama." Kata Bang Anton.
"Kalo Lo mau tuh warisan, ambil aja An**ng!!." Seru Rendra.
"Cih!, kalo bisa Gua udah ambil!!, tapi nyatanya ngga bisa!!." Seru Bang Anton.
Kayo tebal sudah melayang di udara.
Saat akan mengenai Rendra, Shita ada di atas tubuh Rendra.
'Brukkk!!!!.'
Alhasil pukulan itu mengenai Shita.
Shita menatap mata Rendra dengan tersenyum manis.
"Shita?!!!!." Panggil semua orang yang melihat kejadian itu.
Semua orang berlari ke arah Shita.
Raina menidurkan badan Shita di rerumputan.
Bang Anton terkejut melihat siapa yang menerima pukulan itu.
Dia jatuh lemas di rerumputan dan memandangi tangannya dengan gemataran.
"Anton!!!!!!." Marah Rendra.
Rendra berdiri dari tidurnya.
Dia berjalan ke arah Anton dan memukulinya secara membabi buta.
"An**ng Lo bang**t, Lo harus mati ditangan Gua baji**an!!!." Marah Rendra.
"Ren udah!, kalo dia mati, Lo bisa masuk penjara." Kata Andi melerai Rendra dan memmbawa Rendra menjauh.
Polisi datang.
Papa Rafka tadi menghubungi polisi setempat dan alhamdulillah sampai di waktu yang tepat.
Pelaku segera di amankan.
Rendra sudah agak tenang.
Dia berlari ke arah Shita.
"Kita bawa ke rumah sakit, ayo!." Kata Rendra.
"Bawa sama mobil kita aja di depan." Kata Rafka.
"Tapi lewat mana?, jalannya ribet." Celutuk Abdiel.
"Gua tau jalan cepat." Kata Rendra.
"Ayo!." Seru Papa Rafka.
Rendra menggendong Shita perlahan.
Shita menatap Rendra dengan sayu.
"Gua ngga papa, Lo jangan khawatir." Kata Shita.
"Diam!, Lo emang gila Ta, Lo orang gila yang pernah Gua temuin." Sahut Rendra memandang Shita dengan mata berkaca-kaca.
"Kita akan ke RS, Lo sabar ya, Lo akan baik-baik aja, percaya sama Gua." Sambung Rendra.
Setelah sampai di dekat mobil Papi Alfi mambukakan pintunya lalu mereka ikut masuk ke dalam mobil membawa Shita ke RS.
Ada juga yang ikut nebeng di motor Andi, Panji dan menumpang mobil Papa Rafka.
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.