
"Aku lagi kerja, bentar lagi ya, dikit lagi." Kata Rafka.
Mungkin karena lelah menunggu tanpa sadar Zarine tertidur dengan memeluk pinggang Rafka erat.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Merasa tak ada pergerakan lagi dari sang istri, Rafka menolah ke arah nya.
"Lah? Malah tidur, tumben banget Za tidur jam segini, ini masih pagi, aneh banget, istri Gua kenapa yak?." Rafka terheran-heran dengan perubahan sikap yang di tunjuk kan oleh Zarine.
5 menit kemudian, pekerjaan Rafka selesai.
Jam di dinding sudah menunjuk angka 10.10.
Dia melirik ke arah Zarine dan melihat ekspresi wajah nya yang sedang tidur.
"Gemesin banget sih kamu Yang." Gumam Rafka sambil terkekeh pelan.
Dia menusuk-nusuk pipi Zarine yang agak berisi.
Zarine menggeliat kecil, lalu tidur nyenyak kembali.
Rafka terkekeh kembali melihat tingkah menggemaskan Zarine.
Karena tak mau mengganggu tidur Zarine lagi, Rafka memutuskan untuk keluar kamar untuk ke dapur di karena kan tenggorokan nya kering, Rafka ingin mengambil minum.
Dia memindah kan tangan Zarine dari pinggang nya dengan sangat perlahan.
Tapi Zarine merasakan pergerakan dari Rafka, dia pun membuka mata nya dan menatap Rafka.
"Eh kebangun ya? Maaf, aku cuma mau ke dapur ambil minum." Kata Rafka.
"Kamu udah selesai kerja nya?." Tanya Zarine, ia tak mengindah kan perkataan maaf sang suami.
"Udah, kamu kalo mau lanjut tidur, tidur aja biar nanti kalo mau sholat dzuhur aku bangunin kamu." Ujar Rafka sambil mengusap kepala Zarine yang tak terlindungi oleh kerudung.
"Engga, aku udah cukup tidur nya, aku juga mau ke dapur, tunggu in ya." Pinta Zarine.
"Iya, gih sana cuci muka." Suruh Rafka.
Zarine meregangkan otot-otot nya kemudian beranjak bangun dari ranjang menuju kamar mandi.
Selesai mencuci muka, Zarine sudah tampak lebih segar, dia menyambar kerudung di tempat tidur dan kemudian memakai nya.
"Ayo keluar." Ajak Zarine semangat.
Rafka mengangguk kan kepala.
Mereka turun ke dapur.
Di dapur, Zarine dan Rafka melihat Bunda sedang sibuk dengan alat-alat kue.
"Wah! Bunda bikin kue, kue apa Bun?." Tanya Zarine dengan binar senang yang sangat kentara di mata nya.
"Cookies sama bolu pandan sayang." Jawab Bunda.
Rafka melihat mata Zarine makin berbinar senang.
"Za bantu ya Bun, nanti upah nya bolu pandan itu." Kata Zarine.
"Hahahaha Bunda memang bikin buat kita, ya udah sini kalo mau bantu." Panggil Bunda.
Zarine yang ada di dekat kulkas segera mendekat ke arah sang Bunda tercinta dan mulai membantu.
Rafka yang tidak memiliki pekerjaan memilih mengganggu Ibu mertua nya dan istri nya.
"Rafka kamu ngga ada kerjaan ya?." Tanya Bunda pada sang menantu.
Sambil nyengir bak manusia tanpa dosa, Rafka menggangguk kan kepala lengkap dengan menggaruk tengkuk leher nya yang tak gatal.
"Pantesan aja kamu ganggu in kita mulu." Celutuk Zarine.
"Kerjaan aku kan udah selesai semua Yang, ya udah aku ganggu in kamu aja sama Bunda." Jawab Rafka.
"Udah dari pada jadi pengangguran mending Rafka ke supermarket sekarang." Suruh Bunda sambil memberi catatan kecil ke tangan Rafka.
"Ini uang-." Belum selesai berucap, Rafka memotong nya.
"Pakek uang Rafka aja Bun, uang Bunda simpen aja." Kata Rafka menolak menerima uang mertua nya.
Bunda tersenyum lalu mengangguk.
"Ya udah gih sana pergi." Kata Bunda.
"Assallammu'allaikum." Salam Rafka.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Bunda dan Zarine.
"Rafka tunggu!." Panggil Zarine pada Rafka.
Yang empu nama menoleh dan mengangkat kedua alis nya seperti mengatakan 'iya? Ada apa Yang?'.
"Tolong beli in ice cream 3 kotak ya?." Pinta Zarine.
"Iya, ya udah aku berangkat sekarang." Kata Rafka lalu dia pun pergi.
Zarine dan Bunda kembali fokus kepada adonan kue nya.
"Emmm... Za?." Panggil Bunda.
"Iya Bun, ada apa?." Tanya Za tanpa menoleh ke arah Bunda.
"Apa masih belum ada tanda-tanda sayang?." Tanya Bunda yang membuat Zarine tak paham.
"Tanda-tanda apa Bun?." Tanya balik Zarine tak paham.
Bunda menyentuh perut Zarine kemudian mengelus nya.
Zarine yang sadar pun menunduk sedih.
"Belum di kasih sama Allah Bun." Jawab nya sendu.
"Sabar mungkin memang belum rejeki nya." Bunda menghibur.
Suasana di dapur hening sesaat.
Sampai Zarine memecah kesunyian itu dengan pertanyaan nya yang membuat Bunda tersenyum penuh makna.
"Bunda?." Panggil Zarine.
"Iya ada apa?." Tanya beliau.
"Bunda pernah ngga sih, tiba-tiba nafsu makan meningkat drastis?." Tanya Zarine.
"Meningkat gimana?." Tanya Bunda lebih mendetail, di barengi dengan senyuman penuh arti nya.
"Ya makan yang biasanya 1 porsi malah nambah 2 porsi, terus rasa nya belum kenyang." Jelas Zarine.
"Kamu ngerasa in itu kah?." Tanya Bunda.
"Iya Bun, baru hari ini, ouh bukan, sebenernya beberapa hari ini Za ngerasa in itu, tapi Za tahan dan meledak nya sekarang, aneh ngga sih Bun?." Tanya Zarine.
"Kamu ada mual pagi hari terus lemas ngga?." Selidik Bunda.
"Emmmm... engga ada Bun, tapi akhir-akhir ini, semangat Zarine kaya menurun gitu, bawa an nya ngantuk mulu." Panjang Zarin menjelaskan.
Bunda diam memandang Zarine dan menatap tepat perut rata Zarine.
'Kalau dugaan ku benar, maka aku senang ya allah, penantian ku membuah kan hasil.' Batin Bunda bahagia.
"Yah? Bentar lagi kita bakal punya cucu, Ayah yang tenang ya di sana, Bunda juga bakal hidup lebih baik lagi.' Ucap batin Bunda.
'Aku harus beli test pack nanti sore biar di pake Za besok.' Batin Bunda berencana.
"Bunda ini nanti toping bolu pandan nya apa aja?." Tanya Zarine.
2 menit menunggu jawaban tapi tak kunjung dapat, Zarine menatap sang Bunda tercinta.
"Bunda?." Panggil Zarine.
"Bunda?!." Panggil Zarine sambil menepuk bahu Bunda sedikit keras.
"Oh! Iya ada apa Za?." Tanya Bunda terkejut.
"Bunda jangan ngelamun, ngelamunin apa sih?." Zarine menegur dan bertanya secara bersamaan.
"Bunda ngga ngelamunin apa-apa kok, cuma kepikiran sesuatu aja, kamu tadi tanya apa?." Tanya Bunda mengalih kan pembicaraan.
"Ini nanti bolu nya di kasih toping apa aja?." Tanya Zarine.
"Bunda tadi udah minta Rafka beli in, bentar lagi pasti pulang, kamu liat sendiri aja nanti belanjaan nya, ok?." Kata Bunda.
"Ok." Singkat Zarine menjawab.
Tak berselang lama, Rafka datang sambil menenteng kantung kresek berukuran sedang.
__ADS_1
"Assallammu'allaikum." Salam Rafka.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Bunda dan Zarine kompak.
"Nih Bun belanjaan nya." Rafka memberi kan kantung kresek nya pada Bunda.
"Kasih ke Zarine." Kata Bunda.
Zarine langsung menerima belanjaan Rafka dan membongkar isi nya.
Pertama membuka kresek, mata nya melihat 3 kotak ice cream di sana.
"Wah ice cream." Seru Zarine.
Segera dia meletak kan nya di freezer.
Zarine juga melihat belanjaan lain di kresek.
Setelah membuat kue yang penuh dengan gangguan akibat ulah Rafka.
Kue pun jadi dan bersamaan dengan suara adzan dzuhur.
Bunda, Zarine dan Rafka sholat terlebih dahulu dan meninggal kan kue nya di meja makan yang sudah tertutup oleh tudung saji.
Selesai sholat mereka bertiga makan siang bersama, saat akan menyantap makanan, seperti biasa 4 keluarga datang untuk menumpang makan siang๐ (sungguh ter... la... lu... ๐).
"Makin rame makin seru nih makan siang nya." Kata Zarine senang.
Sedangkan Rafka, dia memasang wajah kecut nya mendengar penuturan sang istri tercinta.
"Tuh Raf dengerin, Lo jangan pelit-pelit nanti kuburan Lo sempit loh." Kata Akifa.
"Lo nyumpahin Gua mati nih cerita nya?." Tanya Rafka sewot.
"Hahahaha." Tawa satu meja makan meledak.
"Udah ah jangan bercanda terus, ayo mari makan! Jangan lupa baca doa dulu." Peringat Zarine.
Semua nya makan tanpa suara, hanya dentingan sendok dan garpu yang baradu dengan piring yang terdengar.
Selesai makan, Bunda menyajikan cookies dan bolu pandan yang tadi beliau buat bersama Zarine.
"Wah wah masakan Bunda selalu the best." Puji Akifa dan Alfi, lain nya mengangguk kan kepala sambil menunjuk kan 2 jari jempol tangan nya.
"Udah kalian makan deh habisin, Bunda pamit masuk kamar dulu." Bunda sudah berdiri dan berjalan menjauh dari meja makan.
"Iya Bun." Jawab 5 keluarga yang sibuk dengan makanan nya.
"Ummm... asli demi apa pun, nih bolu enak banget, lembut bat." Puji Akifa tak henti-henti.
"Dah kalian lanjutin deh makan nya, kita para cowok ada yang mau di bahas." Kata Abhi.
"Bahas apa an?." Tanya Abdiel.
"Kerjaan lah, ayo buru! Jan makan terus." Seru Rafka.
Mereka para cowok menuju ke ruang kerja Rafka.
Membahas tentang pekerjaan yang tak ada habis nya.
Di ruang makan.
"Kita pindah ke ruang santai yuk sambil nonton." Ajak Akifa.
"Ayo." Setuju lain nya.
5 perempuan itu duduk di sofa ruang santai, menghidup kan TV, dan memegang kue di tangan masing-masing.
Mata mereka fokus ke arah TV yang menampilkan Drama Korea.
Di ruang kerja.
Semua nya sibuk membahas tentang urusan kantor dan perkembangan-perkembangan bisnis masing-masing tapi berbeda dengan Rafka.
Dia melamun menatap lurus ke depan sambil memain kan pulpen yang dia genggam.
Rafka juga memutar-mutar kursi yang dia duduki.
"Raf, kerjaan Lo di kan-." Ucapan Abdiel terhenti karena menyadari Rafka melamun.
"Nih bocah ngapa yak?." Tanya Abdiel heran.
"Ada apa sih?." Tanya Abhi.
"Liatin deh, Rafka tumben-tumbenan ngelamun kek gitu, kaya bukan dia banget." Celutuk Abdiel.
Bang Rafa, Bang Idan, Abhi, dan Abdiel saling melempar pandang.
Lalu Abdiel yang iseng nya lagi on, langsung saja melempar Rafka dengan pulpen di meja depan dia duduk.
'Tuk!.'
"Aduh." Kaget Rafka.
"Jangan nyalahin Gua, salahin diri Lo sendiri, kenapa melamun? Apa yang lagi Lo pikirin sampe ngelamun gitu?." Tanya Abdiel beruntun.
Rafka diam memandangi para laki-laki yang duduk di hadapan nya ini.
"Gua masih penasaran sama perubahan Zarine." Jujur Rafka.
"Raf? Kalo boleh tau, Zarine ada mual atau muntah di pagi hari ngga?." Tanya Bang Rafa.
"Ngga ada tuh, dia sehat wal'afiat." Jawab Rafka.
Semua nya diam.
"Emang kenapa Bang Rafa tanya gitu?." Tanya Rafka.
"Lo pernah dengar ngga kalo orang lagi hamil itu nafsu makan nya ada yang naik sampe 2 kali lipat?." Tanya Bang Rafa tak menghiraukan pertanyaan Rafka.
"Ada sih, Gua pernah denger kaya gitu, atau ada juga wanita hamil yang malah ngga nafsu makan, Gua pernah dengan semua itu." Jelas Rafka.
Rafka diam mencerna setiap kalimat nya.
"Tunggu dulu... apa mungkin... Zarine... ." Ucapan Rafka tak ia teruskan dan memandang 4 laki-laki di depan nya dengan wajah senang dan bahagia.
"Gua akan jadi Daddy! Alhamdulillah ya Allah, doa ku Engkau kabul kan juga." Seru Rafka senang.
"Tunggu dulu Raf, pasti in dulu, kita kan ngga tau itu pasti atau engga, perisa kan dulu, atau lebih gampang nya beli alat yang bentuk nya panjang itu loh... lupa nama nya Gua." Kata Bang Rafa.
"Test pack Bang nama nya." Jelas Bang Idan, Abdiel, Abhi, dan Rafka.
"Hahaha iya deh pokok nya itu." Tawa Bang Rafa.
"Ayo ke apotik sekarang." Ajak Rafka.
"Lo sendiri aja sana." Tolak Bang Idan.
"Kalian ngga mau coba in alat itu juga ke istri-istri kalian semua?." Tanya Rafka.
4 laki-laki tersebut loading, mereka saling pandang.
Rafka yang jengah, dia memutar bola mata nya malas, lelah menunggu dia pun memutuskan untuk pergi dari ruang kerja nya.
"Kelamaan, kalian semua pada LoLa (Loading Lama)." Rafka pergi dengan membanting pintu lumayan keras dan itu membuat 4 orang di dalam nya terkejut.
"Allahu Akbar." Ucap ke 4 nya kompak.
"Bener juga kata Rafka, Gua ngikut beli lah." Kata Abdiel.
Dia ikut keluar, lalu Bang Rafa, Bang Idan, juga Abhi keluar ruangan juga menyusul Rafka untuk pergi bersama ke apotik beli alat itu.
"Raf kita ngikut!." Seru Bang Rafa.
"Kuy cepetan." Kata Rafka.
Mereka menurni tangga dan saat sampai di lantai dasar, tepat nya ruang santai, Rafka tiba-tiba saja berhenti mendadak dan orang yang ada di belakang nya menubruk punggu orang yang berhenti di depan nya.
"Duh kena-." Belum selesai mereka protes Rafka menyela.
"Hutsssss!!." Seru Rafka dengan menoleh dan meletak kan jari telunjuk nya di bibir.
"Jangan berisik!." Peringat Rafka degan berbisik.
Bang Rafa dan lain nya menatap ke arah sofa di mana 5 perempuan terbaring lelap dengan TV menyala.
5 laki-laki itu menatap meja di depan mereka.
"Mereka habis semua itu camilan nya?." Tanya Bang Idan tak percaya.
"Lo tau kan gimana bini-bini kita kalo lagi nge drakor? Lo kasih mereka camilan satu lemari juga bakal habis." Kata Bang Rafa.
"Kita beli alat itu nya jangan sampe mereka tau." Rafka berbicara.
"Ok." Jawab singkat lain nya kompak.
"Kuy jalan, pakek satu mobil aja, mobil Gua." Ajak Rafka yang di angguki lain nya.
Sebelum pergi, mereka mematikan TV dan mengecup kening istri masing-masing.
Sudah akan melangkah, baru angkat kaki seseorang menepuk pundak Abdiel.
Sontak saja sang empu pundak menoleh kaget.
"Kira in siapa?." Lega Abdiel.
Ternyata yang menepuk adalah Bunda.
"Kalian mau kemana?." Tanya Bunda.
"Kita mau ke keluar bentar Bun." Jawab Rafka.
__ADS_1
"Bunda ikut boleh ya? Bunda mau ke apotik." Pinta Bunda.
"Bunda sakit kah?." Tanya Bang Rafa khawatir, dia sudah mengecek dahi sang Bunda dengan punggung tangan nya.
"Sehat kok alhamdulillah." Jawab Bunda.
"Terus mau beli apa di apotik?." Tanya Abhi.
"Bunda mau beli in Zarine alat tes kehamilan." Jujur beliau akhirnya.
"Ouhhh... Bunda ngga usah repot-repot ke sana sendiri, sebenernya kita ber 5 mau ke apotik beli alat itu juga." Ungkap Rafka.
"Wah ya sudah kalian aja yang pergi Bunda tunggu di rumah nemenin cewek-cewek cantik ini." Kata Bunda.
5 laki-laki itu lalu pamit dan segera pergi ke apotik.
Di dalam mobil perjalanan apotik.
"Menurut kalian, apa mereka ber 5 bisa hamil barengan?." Tanya Bang Rafa yang duduk disebelah Rafka yang mengemudikan mobil nya.
"Kenapa engga? Bisa aja kalo Allah yang ngerencana in." Jawab Rafka.
"Bener tuh si Rafka." Sahut Abdiel.
"Gua udah bayangin momen-momen manis bareng anak-anak Gua ama Tika nanti." Celutuk Bang Idan dengan otak yang sudah menjalar kemana-mana.
"Gempur aja Tika tiap malam, jangan kasih ampun dan istirahat, biar si Tika cepet isi." Abhi menyahuti bayangan Bang Idan.
"Yeee Gua ngga sekejam itu juga kali Bhi, bini Gua masih sekolah kasian nanti kagak bisa jalan lagi." Kata Bang Idan.
"Bentar lagi kita lulus, cuma butuh waktu 2 bulan lagi." Beri tahu Abdiel.
Beberapa menit memgemudi, mereka sampai di salah satu parkiran apotik.
Penumpang mobil pun turun.
"Ini... kita semua yang mau beli?." Tanya Abhi.
"Iya udah lah ngga masalah ayo masuk." Ajak Abdiel.
Mereka masuk ke dalam apotik.
Di dalam, 5 laki-laki yang sufah beristri ini di tatap penuh kagum oleh pengunjung apotik.
"Allahu akbar... jelmaan makhluk tuhan paling sexy." Bisik karyawan apotik ini.
"Hutsss!! Udah jan gosip!." Putus teman sebelah nya.
Rafka dan lain nya sudah biasa mendengar pujian seperti itu.
Mereka menanggapinya dengan ekspresi khas masing-masing.
Rafka dengan muka datar, dingin, bin cuek nya.
Abhi bodo amat, Abdiel senyum sekilas, Bang Rafa yang ramah, dan Bang Idan yang mengangguk kan kepala nya.
"Emmm permisi Mbak, apa ada alat uji kehamilan?." Tanya Bang Rafa ramah.
Yang di tanya hanya menatap Bang Rafa tak berkedip.
"Ehem! Mbak?!." Panggil Rafka sedikit berteriak.
"Oh iya ada yang bisa saya bantu?." Tanya sang penjaga apotik itu.
"Kami tanya test pack, apa ada?." Tanya Rafka to the point.
"Ouh test pack, ada Mas, mau yang-." Belum selesai bertanya Abhi menyela.
"Kasih semua yang ada." Kata Abhi datar.
"Ba... baik." Gagap sang karyawan.
Mendengar test pack yang di cari oleh 5 laki-laki itu, di sekitaran mereka banyak pembiacaraan yang tak enak di dengar.
"Kaya nya yang 3 itu masih sekolah SMA deh." Tunjuk salah satu pengunjung sambil menunjuk Rafka, Abhi, dan Abdiel.
"Dasar anak jaman sekarang, pasti pacar nya yang lagi hamil, ck... ck... ck... ." Kata orang di sebelah nya lagi.
'Dasar netizen, pedes banget tuh mulut, untung tua, kalo masih muda udah Gua polototin tuh orang.' Batin 5 laki-laki tanpa bekerja sama.
Mereka menulikan telinga dan berusaha tak menghirau kan.
10 menit menunggu, barang yang di minta Rafka dan lain nya pun telah ada di tangan.
Bang Rafa yang kali ini kebagian membayar untuk membeli alat itu.
Setelah itu, mereka keluar dari apotik dan meluncur pulang.
"Alat ini di pake nya pas apa?." Tanya Bang Rafa sambil membolak balik kan test pack di tangan nya.
"Kalo ngga salah pagi hari habis bangun tidur." Jawab Rafka.
"Lo tau dari mana?." Tanya heran Bang Idan.
"Gua pernah denger aja." Singkat Rafka menjawab.
"Mampir beli jajanan kuy, tiba-tiba pengen gado-gado nih." Ajak Abdiel.
"Gado-gado?." Abhi, Bang Rafa, Bang Idan, dan Rafka kompak membeo.
"Iya, kenapa? Salah?." Tanya heran Abdiel.
"Lo sadar kan Diel, ngga lagi ngigo kan?." Tanya Bang Rafa.
Dia menempelkan punggung tangan nya ke kening Abdiel lalu ke kening nya sendiri.
"Sama kok suhu nya." Kata Bang Rafa.
"Udah ayo Raf Gua pengen gado-gado." Pinta Abdiel.
Rafka dan lain nya tetap masih belum percaya.
Pasal nya gado-gadi adalah makanan yang paling ngga di sukai Abdiel, dan tiba-tiba aja dia minta makan itu, sungguh aneh tapi nyata.
Dan di sini lah mereka sekarang, di warung gado-gado pinggir jalan yang sangat di gemari banyak orang.
Sembari menunggu Abdiel yang siap dengan pesanan nya, 4 cowok ini bergosip ria.
"Kok aneh banget Yak, baru kali ini Gua liat si Abdiel makan gado-gado." Kata Abhi.
"Udah lah, asal kan dia ngga minta makan batu aja Gua no problem." Ujar Rafka.
"Waduh mau nge jelma jadi apa dia sampe makan batu, hahaha." Tawa Bang Rafa menggelegar.
12 menit menunggu Abdiel pun telah kembali dengan menentang kantung kresek kecil yang berisi 1 bungkus gado-gado.
"Loh kok cuma satu bungkus? Kita ngga di beli in?." Tanya Bang Rafa.
"Loh? Kalian mau? Kok ngga bilang dari tadi sih?." Sungut Abdiel, di sudah ingin keluar lagi dan membeli gado-gado lagi.
"Hahaha, udah ngga usah Gua cuma bercanda lagi Diel." Cegah Bang Rafa dengan tertawa.
'Hehf.' Abdiel mendengus jengkel.
Mobil kembali melaju.
Lalu sampai lah mereka di kediaman Rafka Zarine.
Mereka masuk melalui pintu samping yang tembus ke dapur.
Bang Rafa mengecek ke ruang santai.
"Mereka masih tidur." Info Bang Rafa.
"Untung deh." Lega Rafka.
5 laki-laki itu duduk di kursi meja makan dan berniat membagi alat uji kehamilan itu.
Rafka serta 3 orang lain nya sedang sibuk dengan paper bag dan satu orang sibuk dengan gado-gado nya, Abdiel sampai tak menoleh sedikit pun pada Rafka juga lain nya.
"Lo laper lagi kah Diel?." Tanya Abhi.
Orang yang di tanyai hanya menggelangkan kepala.
"Udah semerdeka nya dia aja lah, biarin." Kata Bang Idan.
"Hehehe dia kaya orang ngga pernah makan 1 minggu aja๐." Ujar Bang Rafa dengan terkekeh pelan.
-
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung๐ข๐
Maaf kalo garing๐ข๐
Maaf typo di mana-mana๐๐ข
Maaf banget kalo makin hari ceritaku ngga menarik.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran๐ข.
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa๐.