Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus tujuh


__ADS_3

"Bunda?." Panggil Zarine.


"Iya sayang ada apa?." Tanya Bunda.


"Seharian di rumah Bunda ngapiin aja? Ngga bisen kah ada di rumah terus?." Tanya Zarine pada Bunda nya.


"Kalo ngga ada Kak Rain pasti Bunda dah bosen dan suntuk, tapi ini kan ada Kak Rain, jadi Bunda ngga kesepian." Jelas Bunda.


"Bunda kalo mau liburan bilang aja sama Rafka, nanti Rafka urusin segala nya." kata Rafka pada Ibu mertua nya.


"Bunda udah tua, jiwa traveling nya udah agak-agak luntur Raf, jadi buat Bunda di rumah aja udah cukup." Panjang Bunda menjelas kan pada Rafka.


Makan malam telah selesai, Bunda, Rafka Zarine masuk ke kamar masing-masing untuk tidur.


Bunda di kamar duduk di kursi goyang yang menghadap ke jendela besar di sudut kamar.


Memejam kan mata sambil menggoyang kan kursinya pelan.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Pikiran Bunda kerkelana kemana-mana.


'Yah? Kamu baik-baik aja di sana kan?.' Batin Bunda berbicara.


Begini lah Bunda saat setelah makan malam dan bersantai di kamar.


Beliau merenung berbicara pada hati nya sendiri se akan-akan berbicada pada Ayah Adib suami tercinta nya.


'Bunda kangen sama Ayah.' Batin Bunda lagi.


Bunda memang sudah ikhlas Ayah pergi, tapi yang nama nya suami, orang yang bersama nya saat susah dan senang pasti bayang-bayang nya masih terlintas walau hanya sepintas.


'Kita bentar lagi mau punya cucu Yah, kembar sekaligus, Ayah di sana baik-baik deh, Bunda di sini juga alhamdulillah bahagia, anak-anak jagain Bunda dan sayang sama Bunda.' Ujar Bunda sambil menampil kan senyum tipis nya.


Lelah duduk di kursi goyang, Bunda beralih naik ke atas ranjang merebah kan badan nya dan tidur karena jam sudah menunjuk kan waktu 20.45 malam.


Kita ke kamar Rafka Zarine.


Dua sejoli itu duduk di atas ranjang, dengan Zarine ber sandar pada dada bidang Rafka sambil melamun.


"Yang? Gimana kalo kita ngga usah ikut aja ke acara nikahan nya Roy Sari? Aku takut kamu kecapek an." Rafka berbivara panjang sambil mengelus kepala Zarine lembut.


Tak ada jawaban dari bibir Zarine, hanya kebungkaman yang terjadi.


"Yang?." Panggil Rafka karena tak mendapat jawaban.


Dia melihat ke arah Zarine, istri tercinta nya itu sedang melamun dan menatap ke arah depan dengan pandangan kosong, seperti banyak pikiran.


"Yang?!." Seru Rafka sambil menepuk pundak Zarine sedikit keras.


Zarine terjingkat kaget, lalu menatap menoleh ke arah Rafka.


"Iya? Ada apa Raf? Kamu bicara apa tadi?." Tanya Zarine beruntun.


"Kamu lagi mikirin apa sih Yang? Kok fokus banget sampe aku ajak bicara, aku panggil kamu ngga nyaut." Tanya balik Rafka pada Zarine.


"Maaf aku melamun tadi." Ucap Zarine menyesal.


"Ngelamunin apa? Apa ada masalah? Kamu baik-baik aja kan?." Tanya Rafka lagi sambil memutar tubuh Zarine menghadap ke arah nya.


"... ." Zarine tak menjawab pertanyaan Rafka.


"Yang? Jangan pernah sembunyi in apa pun dari aku, baik itu masalah kecil apa lagi masalah besar, aku wajib tau!." Tegas Rafka pada Zarine.


'Huuufffffh.' Helaan nafas terdengar pelan dari hidung Zarine.


"Ayo bicara, cerita sama aku, ada apa?." Desak Rafka.


"Aku... huuuhhh... aku kepikiran Bunda." Jujur Zarine.


"Bunda? Kenapa sama beliau?." Tanya Rafka menjadi khawatir.


Pasal nya Ibu mertua nya itu tampak baik-baik saja dan tak terluka apa lagi sakit.


"Bunda ngga papa, beliau sehat, yang aku khawatir kan adalah isi hati Bunda atau lebih tepat nya batin Bunda." Jelas Zarine.


Rafka diam tak memotong pembicaraan Zarine, dia menjelma menjadi pendengar sekarang.


"Setelah ke tiadaan Ayah beberapa minggu yang lalu, aku takut Bunda masih belum ikhlas." Ujar Zarine sambil menunduk sedih.


Rafka masih tak bergeming.


"Mulut bisa mengatakan ikhlas, tapi hati? Aku takut Bunda tak bisa menerima kenyataan, aku kadang berpikiran bahwa di depan kita Bunda bergaya seperti biasa saja, tapi di kamar beliau sering menangis, aku takut Bunda depresi." Terang Zarine.


"Apa alasan kamu bicara seperti itu?." Tanya Rafka akhir nya.


"Aku... pernah sesekali liat Bunda melamun menatap ke arah depan dengan tatapan kosong." Jawab Zarine.


"Kamu percaya kan kalo Bunda wanita kuat?." Tanya Rafka lembut sambil membawa Zarine ke dalam peluk kan hangat nya.


"Ya aku percaya." Kata Zarine seperti bergumam tapi masih bisa di dengar jelas oleh Rafka.


"Kalo kamu percaya sama Bunda, kamu harus berpikiran positif tentang Bunda, kenangan antara Ayah dan Bunda pasti sesekali akan muncul di pikiran dan hati Bunda, mungkin aja Bunda lagi mengingat kenangan manis itu sampai-sampai Bunda melamun." Cetus Rafka panjang lebar.


"Kita ngga pernah biarin Bunda sendiri an kan, meski kita sibuk sama dunia kita masing-masing, tapi kita selalu menyempat kan diri untuk mengobrol dengan Bunda, Kak Rain juga sering temenin Bunda, beliau perempuan kuat dari dulu sampai sekarang, kamu harus percaya." Sambung Rafka menjelas kan.


"Hiksss... hikss... iya aku percaya sama Bunda dan akan selalu percaya." Kata Zarine, dia sudah berhenti menetes kan air mata nya dan hanya tertinggal suara sesengguk kan saja.


"Dah sekarang kita tidur, Ibu Hamil ngga baik tau tidur larut malem." Nasihat Rafka lembut.


Rafka merebah kan tubuh Zarine perlahan di bantal dan ikut tidur di samping Zarine.


Dia menina bobo kan Zarine sampai istri tercinta nya itu benar-benar terlelap, setelah mendengar dengkuran halus dari Zarine, Rafka memutus kan ikut tidur, sebelum itu dia mengecup kening, ke dua mata, hidung, ke dua pipi, dagu serta yang terakhir bibir kecil Zarine lalu Rafka pun tidur memeluk Zarine erat dalan dekapan hangat nya.


Hari ke hari terlewati dengan seperti biasa.


Tak terasa sudah hari Minggu, hari di mana Sari dan Roy akan mengada kan acara pernikahan di rumah Sari.


Ijab Qobul ter laksana pukul 07.30 pagi, 7 serangkai serta para orang tua di minta oleh orang tua Sari untuk berangkat pagi pukul 06.30 pagi.


Jam di rumah Rafka Zarine sudah menunjuk angka 05.30 pagi.


Para orang tua menginap kemarin malam di rumah Rafka Zarine, mereka semua mengingin kan untuk berangkat bersama di acara Sari dan Roy.


Di kamar Rafka Zarine.


Rafka sedang berbaring malas di ranjang, di sudah mandi dan tinggal memakai pakaian saja.

__ADS_1


Tapi calon Ayah 2 anak ini sepeti malas untuk bersiap.


"Rafka?!." Panggil Zarine sedikit berteriak.


"Apa?!." Sahut Rafka meniru kan bicara Zarine sang istri.


"Ayo ber siap lah, bentar lagi kita sarapan habis itu berangkat, jangan males-males dong Yang." Keluh Zarine frustasi.


"Uhhh... males aku nya Yang." Kata Rafka lesu.


"Apa yang bikin kamu males sih Yang? Udah jangan banyak alesan, ayo cepat bangun, pame baju kamu, dan kita turun buat sarapan." Titah Zarine sambil manarik-narik tangan kekar Rafka agar tegak duduk di ranjang.


Tapi memang dasar kekuatan Zarine yang kalah besar dari Rafka, jadi Zarine jatuh terjerembab ke dalam dada bidang Rafka.


"Kyaaa!! Rafka?!." Kaget Zarine.


Rafka tak peduli dan malah memeluk Zarine tak membiar kan Zarine lepas dari dekapan nya walau sang istri telah meronta sekuat tenaga.


"Kita kaya gini aja di rumah, ngga usah ke nikahan Sari, duduk diem aja di kamar sambil aku peluk, aku ngga pake baju deh biar kamu puas cium bau tubuh aku yang wangi ini." Kata Rafka sambil memejam kan mata nya dan masih memeluk Zarine.


"Ngga mau! Rafka?! Lepas ih! Aku sesaaak... ." Keluh Zarine menggerak-gerak kan tubuh nya ke sana kemari.


Mendengar keluhan bahwa sang istri sesak, Rafka buru-buru melepas dekapan nya dan ikut duduk menegak kan tubuh nya.


"Ngga usah kemana-mana deh kita, duduk diem aja di ranjang, ok? Ngga usah oergi yah?." Rafka memaksa tak mau pergi ke pesta Sari.


"Kenapa ngga mau pergi?." Tanya Zarine lirih sambil menunduk.


'Khemmmm... Huuuffffh.' Rafka menatik nafas dan menghembus kan nya perlahan secara teratur.


"Di sana banyak orang." Kata Rafka singkat.


"Apa hubungan nya sama aku? Toh mereka itu kan tamu Sari sama Roy dan keluarga yang mempunyai hajat." Jawab Zarine sambil memasang wajah memelas.


"Aku takut kamu kecapek an kalo ikut ke sana, kamu kalo seneng atau lagi bahagia biasa lepas kontrol." Terang-terangan Rafka menjelas kan.


"Kan ada kamu, aku bakal terus ada di samping kamu, dan bakal nurut sama semua yang kamu perintah kan, terutama buat duduk diam nanti di acara." Sahut Zarine cepat.


"Huuuuuuhhhh... ." Helaan nafas pasrah keras terdengar di telinga Zarine.


"Ayo aku bantu bersiap." Antusias Zarine senang.


Dia menyambar kaos putih polos di sisi tempat Rafka ber baring tadi, lalu dia memakai kan nya di tubuh Rafka.


Tampak melekat pas di tubuh suami nya itu, kemudian dia memakai kan kemeja batik yang warna nya senada dengan gamis yang di pakai oleh Zarine.


Yaaa... 2 sejoli ini sepakat memakai baju couple.


"Dan sekarang pake sendiri celananya." Suruh Zarine sambil menyampir kan celana di pundak Rafka.


"Ngga sekalian di pake in Yang? Biar total gitu nolong nya." Iseng Rafka menggoda istri nya itu.


Pipi Zarine sudah memerah menahan malu lalu kembali berbicara.


"Uhhhh... itu mah mau nya kamu, udah sana kita di tunggu in tau di bawah." Cetus Zarine dengan nada kesal bin jengkel.


"Hahaha... ok ok tunggu sini, aku mau ke ruang ganti dulu." Pamit Rafka yang di angguki Zarine.


"Jangan ngintip loh yah." Pesan Rafka jail.


"Ih kapan memang sih aku pernah ngintipin kamu ganti baju." Sungut Zarine, pipi nya kembali merona dan Rafka tertawa oleh tingkah menggemas kan Zarine.


"Istri aku lucu banget sih!." Seru nya dari dalam ruang ganti.


"Jangan bicara terus Rafka! Cepetan ah!." Seru Zarine.


Hanya menunggu waktu 5 menit Rafka sudah siap, dia sudah tapi dengan setelan baju batik nya.


"Uhhhh... suami aku ganteng banget!!." Jerit Zarine lebay.


"Ih di bilang ganteng kok malah gitu ekspresi nya." Cemberut Zarine.


"Kamu kaya baru sadar aja kalo aku ganteng, dari dulu juga aku udah ganteng pake banget lagi." Percaya diri Rafka yang berlebihan kambuh.


"Idih percaya diri banget kamu, nyesel aku muji-muji kamu." Kata Zarine jail.


"Huuuuhh... orang bener kok aku ganteng." Masih dengan percaya diri yang menggunung.


"Udah ayo turun, kita di tunggu in di meja makan." Ajak Zarine samnbil menarik tangan Rafka.


Yang di tarik masih tak bergeming, Rafka masih diam di tempat.


"Ada apa lagi sih Yang?." Gemas Zarine dengan nada manja nya.


"Hehehe... sebelum turun, sarapan, dan berangkat ke lokasi, kamu harus janji sama aku dulu kalo akan nurutin semua yang aku omongin di sana nanti, kalo aku bilang duduk kamu harus-." Ucapan Rafka terpotong oleh Zarine.


"Aku harus duduk dan ngga boleh ngebantah, iya kan?." Tebak Zarine tepat sasaran.


Rafka mengangguk sambil tersenyum, dia mengelus pucuk kepala Zarine penuh sayang dan cinta.


"Perintah kamu kewajiban bagi aku, aku tau kok kalo cerewet nya kamu demi kabaikan aku juga." Kata Zarine memahami ke khawatiran sang suami tercinta nya ini.


"Bagus deh kalo kamu paham, jadi aku ngga susah-susah jelasi." Cengir Rafka menyahut.


"Iya dong... aku kan istri pengertian, in syaa allah." Ujar Zarine dengan menyeret tangan Rafka untuk keluar kamar.


Sampai di meja makan.


"Aduhhhh kalian lama benget sih?! Habis ngapain?." Tanya Alfi bersungut-sungut.


"Bujuk bayi besar." Celutuk Zarine pelan yang masih dapat di dengar orang-orang yang duduk di kursi meja makan ini.


"Bayi besar nya ngambek ya Zah?." Ledek Bang Rafa.


"Hahaha... engga juga sih, cuma ngga pengen pergi ke nikahan Sari." Jawab Zarine sambil tertawa.


"Aku kan ngga mau kamu capek aja, pasti di sana banyak orang, dan lagi Za kalo lagi bahagia lupa segala nya, bisa aja kan dia tiba-tiba terlalu bahagia terus celaka in diri sendiri sama Baby Twins." Panjang lebar Rafka berbicara.


"Aku ngga mungkin gitu Yang, percaya deh sama aku, Alfi sama Akifa aja ngga ada debat kaya gini loh." Kata Zarine sambil menunjuk 2 sahabat nya yang tengah mangandung juga.


"Kata siapa?." Tanya kompak Abhi dan Abdiel.


"Nah loh!." Seru Rafka.


"Kita juga debat cukup panjang di kamar Za, bahkan habis sholat subuh belum lepas mukena." Jelas Akifa juga Alfi bersamaan.


"Tapi akhir nya luluh juga kan?." Kata Zarine sambil menaik turun kan alis nya.


"Yaaaa gitu deh, dengan banyak rayuan, gombalan, bujuk kan, serta perjanjian tentu nya." Kata Alfi.


"Senasib kita." Gumam Zarine pelan yang di dengar Akifa, Alfi karena jarak mereka duduk bersebelahan.


2 wanita itu tertawa cekikan mendengar gumama sahabat nya ini.


"Gini aja deh, nanti para Bumil biar kita deh yang jaga in, kalian bertiga Rafka, Abhi, ama Abdiel bisa serahin sama kita aja." Cetus Kak Rain sambil menunjuk Tika yang di angguk Tika semangat.


"Bener tuh, nanti kita para tua-tua juga bakal ikut bantu jaga." Sahut Bunda cepat.


"Eh? Siapa yang kamu maksud tua Ezzah?." Tanya Mama Rafka kepada sang besan.


"Masih ngga terima aja di bilang tua." Gumam Papa Rafka lirih.


"Ya ngga terima lah, Mama kan masih muda, masih kuat kalo di suruh lari 3 putaran di are komplek." Sungut Mama menyambar ucapan sang suami.

__ADS_1


'Eh? Mama denger toh? Haduhhh peka banget telinga nya.' Bisik hati Papa Rafka.


"Aduhhhh udah jangan bahas tua muda, ayo makan sarapan kalian, habis kan, untuk para ibu hamil jangan lupa minum susu nya, setelah itu ayo kita berangkat ke acara." Tegas Bunda melerai perdebatan.


Semua orang diam tak ada yang menyahut omongan Bunda lagi.


Mereka makan dalam diam hanya dentingan sendok garpu dan piring yang terdengar di meja makan.


Setelah 10 kemudian semua orang telah selesai menyantap makanan nya.


Semua bersiap untuk berangkat ke lokasi pernikahan Sari.


Rafka, Abhi, dan Abdiel tampak malas hendak berangkat, berbeda jauh dengan istri-istri mereka, Zarine, Akifa, juga Alfi duduk antusias di kursi depan teras menunggu mobil.


"Loh? Kalian kok ngga ngambil mobil di grasi sih? Malah berdiri di sini, ayo ambil." Kata Akifa pada 3 pria itu.


"Mending kita rebahan aja deh Yang di ranjang, janji aku ngga ngapa-ngapain deh, cuma diem dong." Abdiel masih menawar.


"Bener tuh Yang, kita duduk aja di rumah." Timpal Abhi.


"Aku setuju." Singkat Rafka ikut berbicara.


Zarine, Akifa, Alfi menatap datar ke arah 3 laki-laki itu.


Para perempuan lain nya yang menatap interaksi 3 pasangan muda itu hanya menggeleng kan kepala.


Tika dan Kak Rain menangkap sinyal jengkel dari 3 ibu hamil itu, dari belakang tubuh Zarine agak jauh sedikit, Kak Raina mengode untuk menyuruh mengambil mobil.


'Mereka lagi mode jengkel, jangan buat mereka makin jengke, udah sana ambil mobil, nanti waktu di acara biar aku, Tika sama lain nya yang jaga.' Panjang Raina mengode yang dapat di mengerti Rafka, Abdiel, Abhi.


"Ok ok kita bakal ambil mobil." Pasrah Abdiel sambil berjalan gontai di ikuti Rafka, Abhi.


"Kita tadi juga udah janji ngga bakal nglakuin hal aneh-aneh yang bisa bahaya in Baby, percaya lah!." Kompak 3 wanita itu kompak.


"Iya iya deh kita percaya!." Seru Rafka sedikit berteriak karena jarak mereka cukup jauh.


Mobil sudah siap, kali ini semua orang memakai mobil masing-masing dengan pasangan nya masing-masing juga.


Di perjalanan tah henti-henti nya Zarine tersenyum sambil melihat jalan yang padat akan kendaraan tapi tidak sampai menimbul kan kemacetan.


"Yang? Yang mau nikah Roy sama Sari loh, bukan kita berdua, kamu antusias banget." Celutuk Rafka heran melihat sang istri tersenyum terus menerus di sepanjang jalan yang meraka lalui.


"Meski bukan kita yang nikah, tapi tetep aja aku seneng, apa lagi yang nikah Sari yang notabe nya orang yang ngga suka sama aku." Jelas Zarine senang.


"Aku juga sejujur nya seneng sih dia bisa nikah dan melupa kan obsesi juga ambisi nya." Timpal Rafka sembari ikut tersenyum tapi masih fokus sama jalan di depan nya.


"Seandai nya aku ngga ada di hati kamu, kamu bakal jatuh cinta ngga sama Sari?." Tanya Zarine dengan menatap ke arah sang suami.


'Waduh!! Pertanyaan yang menjebak nih, jawab iya nanti ngambek, jawab engga nanti gak percaya, lagi an Za ada-ada aja, mana mungkin aku jatuh cinta sama Sari, sekali pun Za ngga ada di hati aku, hati aku memang bukan buat Sari.' Batin Rafka berkecamuk.


'Ibu hamil kan sensitif sama yang berbau gini an, duh! Jawab apa yang ada di otak aja deh.' Putus Rafka.


"Kalo kamu ngga ada di hati aku, ya aku bakal tetep cari kamu." Jawab Rafka yakin.


"Masa? Ngga bohong tuh? Sari cantik kok orang nya." Panjang Zarine.


'Tuh kan ngga percaya, bisa panjang nih kalo di lanjut.' Suara hati Rafka lagi.


"Lan itu se andai nya Yang, kita kan lagi bareng sekarang, ngga baik tau andai-andai kaya gitu, lagian kamu mikir nya jauh banget sih, udah jangan banyak pikiran ngga sehat untuk kamu sama Baby twins kita." Rafka memutus pembicaraan andai-andai itu.


"Ya aku kan cuma penasaran, apa salah nya aku bertanya." Cetus Zarine pelan.


Hening.


Suasana mobil tak ada suara lagi di dalam.


Di mobil Akifa Abdiel, mereka berdua juga sedang membicara kan Sari dan Roy.


"Aku masih ngga percaya Sari bakal nikah." Kata Akifa.


"Yaaa alhamdulillah dia udah sadar, kita doa kan aja dia ngga bakal kembali ke masa lalu nya dan turunan nya ngga akan seperti dia, aamiin." Doa Abdiel.


"Aamiin ya allah." Sahut Akifa.


"Kamu pernah suka ngga Yang sama dia?." Tanya Akifa tiba-tiba.


'Duar!!.' Bak di hantam batu besar, Abdiel terjebak dalam pertanyaan tidak masuk akal istri nya itu.


"Ngaco ah kamu ngomong nya!." Seru Abdiel cepat.


"Ya siapa tau aja pernah." Tanpa rasa bersalah Akifa berbicara sambil mengedik kan bahu nya acuh.


'Aku jailin ngga papa kan?.' Batin Abdiel menyusun rencana jail.


Saat hendak membuka mulut nya ingin berbicara Abdiel mengurung kan nya.


'Hati ibu hamil sangat sensitif, salah ngomong walau pun cuma satu kata aja, bisa-bisa habis di makan Akifa mentah-mentah Gua, kagak jadi jailin dah, Gua masih sayang nyawa.' Batin Abdiel lebay.


"Ngga ada Yang aku kaya gitu, aku cinta sama kamu sejak kita sama-sama masih kecil." Jelas Abdiel me yakin kan Akifa.


"Masa?." Tak percaya Akifa.


"Yeeee di bilangin juga, ngga ada guna nya aku boongin kamu." Perkataan Abdiel membuat Akifa sadar.


"Iya juga sih, aku aja mikir nya terlalu jauh, sampe yang ngga penting aku pikirin juga." Kata Akifa sambil tersenyum ke arah Abdiel.


Yang di beri senyum membalas sambil menoleh sebentar lalu fokus pada kemudi lagi.


Beberapa menit perjalanan, 11 mobil telah sampai di halaman rumah Sari yang sudah cukup padat oleh mobil dan motor-motor yang terparkir rapi di sana.


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2