Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Twelve


__ADS_3

Qiroah subuh terdengar begitu indah ditelinga.


Semua yang mendengar bergegesan bangun dan bersiap untuk sholat.


Tak terkecuali dengan Rafka dan Zarine.


Didalam kamar Zarine sedang membantu sang suami bersiap.


"Dah, berangkat gih." Kata Zarine dengan tersenyum.


"Ok, aku berangkat assallammu'allaikum." Pamit Rafka.


Zarine mencium punggung tangan Rafka.


"Wa'allaikum sallam, yuk aku anter ke-."


"Udah ngga usah, kamu siap-siap gih sholat." Kata Rafka.


Setelah itu Rafka keluar kamar dan berjalan menuju pintu apart kemudian dilanjut menuju Masjid.


Zarine dikamar segera masuk kekamar mandi untuk berwudhu.


 


Pukul 05.45 sarapan telah siap dimeja makan.


Zarine melayani Rafka sang suami terlebih dahulu kemudian baru dirinya sendiri.


 


Pukul 06.26 Rafka Zarine sudah sampai disekolah tepatnya dikelas.


"Good morning guys." Suara heboh Abdiel.


"Diel?! Bisa dikecilin ngga suara Lo? Ini kelas bukan hutan, dasar Tarzan." Sungut Akifa dengan mengatai Abdiel.


"Tarzan? Genteng-genteng gini dibilang Tarzan, mana ada Tarzan tinggal dikota?." Tanya Abdiel.


"Guys?! Ini masih pagi, ngga usah ribut." Lerai Alfi.


'Kring ring ring ring ring.'


"Buset, kok udah masuk aja sih?." Gumam Abdiel dengan melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Udah duduk sini! Lo tuh tumben datengnya mepet?." Tanya Akifa sambil menarik Abdiel dan mendudukkannya dibangku tepat sebelahnya.


 


Jam istirahat.


Kantin.


"Mau makan apa?." Tanya Rafka pada Zarine.


Saat ini Rafka, Zarine, dan lainnya duduk dibangku pojok kantin saling bersebelahan.


"Emmmm, boleh siomay?." Tanya Zarine dengan mata berbinar.


"Ok, kalian?." Tanya Rafka lagi.


"Samain ajalah Raf." Putus Abhi yang diangguki lainnya.


"Minumnya kaya biasanya." Timpal Alfi.


Setelah beberapa menit, tampaklah Rafka dengan nampan penuh makanan pesanan Zarine dan lainnya.


"Wihhh, makasih sayangku." Kata Zarine dengan mata berbinar.


"Sama-sama." Balas Rafka dengan tersenyum manis dan duduk dibangku sebelah Zarine.


Mereka ber 6 memakan siomaynya masing-masing dengan canda tawa.


Apalagi dibarengi menonton Abdiel dan Akifa berebut siomay sampai saling dorong.


Sungguh pertemanan mereka membuat semua murid yang menyaksikannya merasa iri.

__ADS_1


Disebelah kiri pojok kantin jarak 5 meja dari meja Rafka.


Seorang Cewek dengan muka merahnya menahan amarah, sedang menghubungi seseorang.


"Gua mau Lo secepatnya nyusun rencana!." Kata Cewek itu.


"Kita bahas nanti, Lo dateng aja ke Cafe Pelangi deket sekolah Lo." Balas orang diseberang telfon.


"Ok." Jawab singkat Cewek itu.


"Sari? Apa yang akan Lo rencana in?." Tanya Tika yang menghampiri Sari yang selesai telfon tadi.


"Berhenti berbuat ulah Sar! Sebelum Lo menyesal!!." Peringat Tika pada Sari.


"Lo tuh temen Gua bukan sih?! Kenapa Lo selalu ngalangin semua rencana Gua?!." Sungut Sari kesal.


"Gua itu-."


"Alah udah deh!! Males Gua ngomong sama Lo!." Sari memotong perkataan Tika cepat.


Mereka berdebat dengan nada cukup lirih, sehingga tak ada yang mendengar omongan mereka.


Setelah mengatakan itu, Sari pergi dari kantin dan berjalan menuju kelas.


'Gua takut Lo salah jalan Sar, Gua pengen Lo berhenti terobsesi ama Rafka.' Batin Tika sedih dengan memandang punggung temannya yang hilang dibelokan koridor.


 


Pukul 15.30 Rafka, Abdiel, dan Abhi berkumpul dilapangan basket membicarakan masalah Sari yang dilaporkan oleh Abdiel tadi malam.


"Gua liat dia jalan sama Roy semalam di Mall." Terang Abdiel.


"Udah bebas aja dia." Sinis Abhi.


"Ada beberapa faktor yang Gua denger, dia bebas karena memang masa hukumannya selesai, juga ada yang bilang dia taubat disel." Terang Abdiel.


"Taubat?! Kalo taubat, kenapa malah sekarang ama Cewek Ular itu?." Sungut Abhi.


"Gua ngga akan lepasin dia, kalo emang niat dia jahat." Kata Rafka dengan memandang nyalang kearah Zarine yang sedang mendribell bola basket dengan riang.


"Kita bakal saling jaga, Gua ngga akan biarin satu diantara kita terluka, terutama mereka bertiga." Kata Abhi tegas.


Disudut bangku Cafe Pelangi.


2 orang sedang duduk saling berhadapan dengan menikmati secangkir minuman favorit masing-masing.


"Gua ngga mau ikut campur sama urusan Lo Sar, Gua nyesel pernah bikin mereka celeka, terutama Rafka." Kata Cowok dihadapan Sari.


"Yang Lo urus tuh hanya ceweknya, bukan Rafkanya Roy." Gertak Sari pada Roy, cowok yang ada didepannya.


"Tetep aja, Gua ngga mau berurusan lagi sama Rafka." Tolak Roy.


"Kemana Roy yang dulu? Roy yang akan nerima apapun yang Gua minta." Kata Sari sinis.


"Hehehe, Gua udah berubah semenjak ada disel, sorry Sar, Gua ngga bisa bantu." Kata Roy.


"Dasar pengecut Lo Roy." Umpat Sari.


'Huuufffh.' Helaan nafas kasar terdengar dari hidung Roy setelah Sari pergi dari hadapannya.


"Gua emang akan melakukan semua apa yang Lo inginkan Sar, tapi itu dulu, kalo sekarang, Gua udah ngga punya perasaan apapun sama Lo." Kata Roy berbicara sendiri.


Setelah itu Roy bangkit dari bangku Cafe lalu menuju kasir, kemudian berjalan keparkiran untuk pulang kerumah.


Pukul 19.05 Zarine dan Rafka sedang makan malam.


Tiba-tiba bel pintu berbunyi.


'Ting tong ting tong.'


"Tunggu sini, biar aku aja yang buka." Kata Rafka dengan mengusap kepala Zarine yang tertutup kerudung.


Rafka berjalan kearah pintu lalu membukannya.


'Ceklek.'

__ADS_1


Sesaat Rafka mematung ditempat melihat siapa tamu yang tak diundang itu.


"Hai, lama ngga ketemu, apa kabar Lo?" Tanya tamu itu.


"Ada apa Lo kemari... Roy?." Tanya balik Rafka dengan menekan nama tamu itu.


"Selow aja lah Raf, Gua kesini ngga mau bikin onar." Balas Roy dengan tersenyum.


"Masuk." Kafa Rafka datar dan melebarkan pintu rumahnya.


Roy masuk dan diperkenankan duduk disofa ruang tamu.


Rafka masuk untuk mengambil minum dan menyuruh Zarine agar jika setelah makan, membersihkan meja makan, juga mencuci piring langsung masuk saja kekamar.


Tak berapa lama Rafka muncul dengan gelas berisi jus semangka lalu meletakkannya dihadapan Roy.


"Minum." Kata Rafka.


"Ok, thanks Raf." Balas Roy dengan meminumnya sedikit.


"Ada apa Lo kemari?." Tanya Rafka to the point.


"Gua kesini ngga mau bikin onar, tapi Gua disini mau minta maaf." Kata Roy dengan memandang mata Rafka lekat.


Rafka melihat binar ketulusan dan keseriusan disana.


"Gua minta maaf sama Lo Raf atas semua hal yang Gua lakuin dimasa lalu, Gua sadar itu salah sejak ada disel, tolong maafin Gua Raf, Gua pengen memulai hidup baru tanpa ada dibayangi masa lalu." Kata Roy panjang lebar.


Rafka diam memandang Roy yang menunduk.


"Gua udah maafin Lo sejak dulu." Kata Rafka yang membuat Roy mendongakkan kepala terkejut.


"Gua ngga ada dendam apapun sama Lo Roy, tapi 3 tahun yang lalu, cara Lo buat menang ngga keren banget." Sambung Rafka.


"Makasih banyak Raf, Lo emang orang baik walau minim ekspresi, hehehe." Kata Roy yang diakhiri kekehan.


"Emm, ada yang harus Lo tau lagi Raf." Kata Roy serius.


"Dia berencana berulah lagi, Lo harus hati-hati." Peringat Roy.


"Lo ngga ikut?." Kata Rafka sinis.


"Gila aja! Gua udah ngga mau bikin onar apalagi nyelakain orang, emang sih sempet diajak, tapi Gua ngga mau, Gua juga udah ngga ada rasa lagi sama dia." Terang Roy.


Didinding ruang tamu Rafka, Roy melihat foto Rafka dan Zarine dengan memakai baju khas pengantin.


"Itu... Lo bukan Raf?." Tanyanya.


"Menurut Lo?" Tanya balik Rafka.


"Lo udah nikah?! Tapi kok katanya Lo itu cuma pacaran ama dia?." Tanya Roy lagi.


"Lo tau ama cewek Gua?." Tanya Rafka dengan mata memicing.


"Sari yang nunjukkin." Balas Roy.


"Target dia cewek Lo Raf, namanya Za... Za... Zarine kalo ngga salah, bener kan? Jadi dia istri Lo? Bukan Pacar Lo? Untung Gua ngga mau ikut campur." Cerocos Roy panjang kek kereta api, sampai Rafka yang mendengarnya jengah.


"Gua bakal selesai in cewek ular itu, tapi Gua ngga mau Lo ikut campur Roy, kalo Lo sampai ikut, Gua ngga jamin Lo bakal selamat dari tangan Gua." Kata Rafka tegas.


"Tenang aja, Gua bakal menjauh sejauh-jauhnya dari masalah dia." Yakin Roy.


"Ya udah deh Raf, Gua pamit deh, salam sama istri Lo." Kata Roy dengan senyum jailnya dan dibalas picingan mata tajam oleh Rafka.


"Pulang sana, ngga usah pake salam-salaman." Usir Rafka.


"Jiaaa, possesive bat Lo, ahahaha." Tawa Roy pelan karena melihat raut muka Rafka yang jengkel.


Roy pun pulang dan Rafka naik kekamar, diatas ranjang dia melihat Zarine yang sudah tertidur meringkuk dibawah selimut seperti bayi.


Rafka naik keranjang berbaring disisi Zarine.


Menghadap kearah Zarine lalu menarik tubuh istrinya untuk mendekat dan didekapnya dengan erat.


'Selamat malam istriku.' Batin Rafka dan dia pun ikut jatuh kealam mimpi setelah membaca doa.

__ADS_1



__ADS_2