Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus enam


__ADS_3

"Ak... a... aku ngga akan ninggalin Kakak, aku mencintai Ka... Kakak dan aku ngga mau kehilangan Kakak." Sesengguk kan Tika berbicara.


Bang Idan makin mengerat kan pelukan nya.


10 menit kemudian tangisan Tika sudah berhenti dan Bang Idan melepas kan pelukan nya.


Menyatu kan kening kedua nya dan saling memejam kan mata nya pelan.


Bang Idan menuntun sang istri untuk berjalan ke arah ranjang dan merebah kan nya secara perlahan.


Laki-laki berusia belum genap 23 tahun itu mengungkung Tika di bawah nya.


Mendekat kan bibir nya ke bibir Tika, awal nya hanya menempel kan bibir saja, tapi Tika yang memejam kan mata nya membuat Bang Idan tak hanya menempel kan tapi ******* nya dengan lembut.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Tika membalas nya dengan tak kalah lembut nya, mere**s rambut hitam sedikit cepak milik suami nya.


Mereka bercumbu sedikit lama.


Hingga Tika memukul dada bidang Bang Idan pelan karena tak dapat bernafas, baru suami tercinta nya itu melepas kan cumbu an nya.


'Hahhh... hahhh... .' Nafas Tika tersengal.


"Bisa ngga sih... kalo kiss ingat sama nafas ku." Kata Tika masih dengan nafas tersendat.


"Hehehehe... iya iya maaf Yang, ngga bisa di kontrol tadi tuh." Ucap Bang Idan sambil terkekeh pelan.


Posisi mereka masih sama, yaitu Bang Idan mengungkung Tika di bawah nya.


Bang Idan menatap Tika penuh dengan kabut gairah di mata nya.


Tika melihat nya dan buru-buru berusaha untuk keluar dari kungkungan suami nya.


Tapi dengan secepat kilat, Bang Idan menindih nya.


Tidak benar-benar menindih nya sih, karena kedua lengan Bang Idan menyangga berat badan nya.


"Yang?." Panggil Tika lembut.


"Aku pengen." Kata Bang Idan manja di lengkapi dengam suara serak nya.


"Pengen apa?." Goda Tika pura-pura tak tau.


Dia mengusap rambut Bang Idan pelan sambil sedikit terkikik geli di balik punggung suami nya.


"Jangan pura-pura ngga tau dan jangan pura-pura polos." Jengah Bang Idan berbicara.


"Hahahaha... baik-baik, sekarang kamu bangun dulu dari atas badan ku, takut tau aku kalo posisi nya gini." Pinta Tika.


"Takut aku kelepasan tiba-tiba kelepasan nindih kamu yah." Tebak Bang Idan sambil terkekeh.


"Iya lah, bandingin aja, kamu yang tinggi besar nimpa badan mungil kecil kaya aku gini, bisa-bisa mayi sesak nafas aku." Ketus Tika.


Masih sempat-sempat nya mereka berdebat saat suasana sudah panas akan gairah.


Bang Idan menuruti permintaan Tika, dia sedikit menjauh kan tubuh nya dari Tika.


Setelah bisa menghirup udara banyak-banyak, Tika mulai menggoda Bang Idan.


Dari mulai menyentuh wajah mulus nya, rahang tegas nya, bibir tebal nya yang berwarna merah muda lalu turun ke dada bidang yang masih berbalut kemeja yang terlihat pas di tubuh nya.


"Jangan mancing Yang." Suara serak Bang Idan terdengar, dia sudah tidak kuat menahan hasrat yang sudah sampai di ubun-ubun nya.


Tika malah tersenyum menggoda dan terus bermain di area sana, melepas satu per satu kancing baju dengan gaya nakal.


"Udah mulai nakal yah, jangan salah kan aku kalo sampe kamu kecapek an besok pagi, karena kamu yang minta, maka dengan senang hati aku meladeni nya Sayang!." Kata Bang Idan dengan tersenyum penuh gairah.


Malam ini Bang Idan dan Tika menari bersama dalam indah nya irama yang senada, tak ada paksaan dalam meraka melakukan kegiatan ini, semua di lakukan dengan dasar sama-sama mencintai.


Hingga beberapa ronde mereka melakukan kegiatan panas itu.


Sampai Tika mengeluh lelah, baru Bang Idan berhenti dan memilih memeluk nya erat dan secara bersamaan mereka bermuara di alam mimpi yang seperti nya mimpu yang membahagia kan.


Telihat dari ekspresi mereka tidur yang sambil tersenyum bahagia itu.


-**-


Qiroah subuh menyambut bangun tidur penghuni kediaman Rafka Zarine.


Semua orang bersiap-siap untuk menunai kan kewajiban meraka kepada sang pemilik semesta dan juga menjalan kan kegiatan seperti hari-hari yang biasa di lalui.


Pukul 05.45 pagi semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi.


Mereka sarapan sambil di selingi canda tawa serta obrolan ringan lain nya.


"Ini para orang tua pulang pagi ini kah?." Tanya Akifa sambil melihat Mama Papa nya dan lain nya.


"Ya iya dong... kalo nginep terus di rumah ngga ada penghuni nya, para Bibi kan ada di belakang." Jawab Mama Akifa.


Akifa manggut-manggut paham lalu meja makan hening setelah pembicaraan itu.


Lalu pukul 06.10 para orang tua yang berkerja dan 7 serangkai yang hendak sekolah, semua nya berangkat secara bersamaan dengan mobil yang berbeda tentu nya.


Hanya 7 serangkai yang menaiki 1 mobil, kali ini mobil Abdiel yang di pakai, dan tentu aja sang supir adalah Abdiel.


20 menit perjanan mereka telah sampai di sekolah.


Semua turun dari mobil secara bergantian lalu melangkah menuju kelas.


"Guys? Kita nongkrong dulu kuy." Ajak Tika.


"Nongkrong di mana?." Tanya Akifa.


"Kantin aja, sekalian mau beli kopi Gua." Kata Tika.


Semua menurut dan pergi ke kantin.


Seperti biasa mereka duduk berkumpul di kursi meja pojok kantin, setelah tadi memesan minuman pada penjual di kantin.


Beberapa menit kemudian pesanan mereka dateng.


Akifa, Alfi, dan Zarine sedari tadi menatp wajah Tika.


Tampak guratan lelah di sana, dan 3 wanita itu sadar saat masih ada di rumah tadi.


"Tika Lo sakit kah?." Tanya Alfi khawatir sambil menempel kan telapak tangan nya di kening Tika.


"Engga kok, cuma capek aja, kalian tau lah pasti nya karena apa Gua kek gini." Kata Tika.


Para perempuan mengangguk paham sambil tersenyum.


Sedang kan para laki-laki masih sedikit berpikir.


"Capek? Ouhhhh... paham-paham Gua, hahahahaha... Bang Idan gempur Lo terlalu semangat tuh, sabar aja yak." Kata Abdiel dengan tak tau malu nya, untung dia berbicara tak terlalu kencang, bisa di bilang masih paham dengan yang nama nya pribasi.

__ADS_1


"Bisa ngga sih Yang kalo ngomong di filter dulu?." Bisik Akifa pelan.


"Tau nih, kalo ada yang denger kan berabe." Cetus Alfi.


"Hahahaha... aku kan ngomomg nya pelan." Kata Abdiel masih dengan tertawa.


Tiba-tiba di tengah pembicaraan mereka, seorang gadis datang memghampiri meja 7 serangkai.


"Hai Kakak-Kakak semua." Sapa gadis itu ramah.


"Hai juga, kamu... siapa?." Tanya Zarine, 7 serangkai melihat name tag di baju gadi itu, ada tulisan Tasya Dwi S, yang berarti itu nama nya.


"Emmm... aku Tasya Kak, junior kelas 10." Jawab Tasya di sertai senyuman manis nya.


"Ada apa Tas?." Tanya Alfi ramah.


"Ada titipan dari Kakak aku buat Kak Akifa." Kata Tasya sambil menyerah kan kotak kado berbungkus kertas kado berwarna pink dan banyak gambar love nya.


"Cowok atau cewek?." Tanya Abdiel dengan nada dingin datar nya.


'Siapa yang berani banget ngasih tuh kado? Kurang kerjaan banget tuh orang, ngga tau apa kalo Akifa bini Gua?!.' Batin Abdiel bersuara, kening Abdiel sudah berkerut dalam dan alis nya hampir menyatu.


"Kakak aku cowok Kak." Jawab Tasya dengan sedikit takut karena Abdiel memandang nya tak bersahabat.


"Kelas berapa Kakak mu itu?." Tanya nya lagi, Abdiel berusaha untuk menanyai Tasya dengan nada se santai mungkin, dua berusaha agar rasa kesal nya tak di lempar ke Tasya.


"Sama kaya aku kelas 10 dia kembaran aku, awal nya dia mau ngasih sendiri kado nya, karena dia harus piket kelas jadi dia minta tolong aku yang anterin." Jelas Tasya panjang.


"Ini apa isi nya?." Tanya Akifa ramah.


"Kurang tau juga aku nya Kak, Kakak buka sendiri aja deh." Kata Tasya.


"Emmm... ok deh makasih yak." Ucap Akifa sambil tersenyum cerah.


"Sama-sama Kak, kalo gitu... aku pamit dulu, bye Kak maaf ganggu waktu nya." Tasya hendak pergi, tapi pertanyaan Abdiel menghenti kan langkah nya.


"Tunggu! Dalam rangka apa Kokak mu masih ini? Apa dia suka sama Akifa? Apa dia mau jadi pebinor?." Tanya Abdiel beruntun.


Beruntung suasana kantin sedikit sepi, jarak antara meja yang di duduki 7 serangkai dengan letak berdiri Tasya masih cukup dekat, sekitar 3 langkah.


Tasya membalik kan badan nya dan menghadap kembali ke meja kantin.


Tasya tak bisa menjawab pertanyaan beruntun Abdiel, dia sedikit bingung dengan kata 'Pebinor' yang diucap kan Kakak senior nya ini.


'Emang nya Kak Akifa udah nikah ya sama Kak Abdiel? Atau mereka pacaran? Aku juga ngga tau dalam rangka apa Kakak nyuruh aku ngasih kado itu.' Batin Tasya bertanya-tanya.


Merasa Abdiel tak akan mendapat jawaban dari Tasya karena Tasya menampil kan wajah bingung.


Abdiel melanjut kan bicara nya.


"Bilangin sama Kakak mu, berhenti ganggu Akifa karena dia cuma milik aku, Akifa cuma milik Abdiel Jutin Gilbert." Dia menekan nada bicara nya di setiap kata nya agar Tasya paham.


Tasya tertegun mendengar perkataan Abdiel, dia reflek mengangguk kan kepala, lalu berjalan menjauh dari kantin untuk kembali ke kelas Kakak nya menyampai kan perkataan Abdiel sang senior nya.


Walau pun terkenal dan seluruh sekolah tau kejadian pas bermain basket kemarin, tapi masih saja ada orang-orang yang tidak mnegetahui nya, entah mereka tidak peduli, atau memang tidak tau, 7 serangkai tak mengerti.


Di kursi meja pojok kantin, suasana tampak makin panas.


Rafka Zarine dan lain nya yang paham situasi, mereka memutus kan untuk pergi.


"Bentar lagi masuk." Peringat Rafka pada 2 orang yang sedang dalam situasi panas akan amarah.


Hening beberapa saat.


"Coba buka kado nya itu apa isi nya." Suruh Abdiel tapi sudah tidak dengan nada dingin, tapi masih sedikit ada nada datar nya.


Akifa membuka nya dan tampak lah bungkusan coklat di sana.


"Yang?." Panggil Akifa lembut.


"... ." Abdiel tak menjawab.


"Aku minta maaf." Lirih Akifa bersuara.


Abdiel yang semula duduk di seberang Akifa, kini pindah di sebelah istri tercinta nya ini.


Dia memeluk Akifa erat membenam kan wajah nya ke dada bidang nya sambil mengecupi pucuk kepala nya.


"Huts... ok aku minta maaf, ngga seharus nya aku marah, aku minta maaf." Ucap Abdiel meminta.


10 menit kemudian Akifa sudah selesai menangis dan dia juga sudah menghapus air mata nya.


Abdiel melepas pelukan dan menegak kan badan Akifa, dia mencium kedua mata Akifa lama.


"Dah ayo masuk, untung kantin sepi, hanya ada beberapa orang, kalo rame kita malu bakal malu nanti." Kata Abdiel sambil terkekeh pelan.


"Aku mau ke kamar mandi dulu." Manja Akifa meminta.


"Iya deh, sana aku tunggu di sini." Ujar Abdiel.


Akifa pun pergi ke kamar mandi dan melakukan kepentinfan nya.


Setelah itu Dia dan Abdiel kembali ke kelas.


Di kelas 10 IPA 3 seorang gadis yang di mintai tolong oleh Kakak nya mengantar kado, duduk di bangku nya dengan masih tertegun mencerna ucapan Abdiel.


Dia adalah Tasya.


Lalu ada seorang cowok tampan tiba-tiba ikut duduk di sebelah Tasya.


"Gimana? Udah di terima belum? Kamu kasih ke siapa? Langsung ke orang nya atau lewat temen nya?." Tanya beruntun Cowok itu.


Di name tag nya tertera nama Tobi Eka S.


Tasya tersadar dari rasa tertegun nya dan beralih menatap sang Kakak kembaran nya ini, yaaa... Tobi cowok tinggi tampan yang tengah duduk di sebelah nya ini adalah Kakak kembaran nya.


"Jangan pernah berharap sama Kak Akifa." Singkat Tasya menjelas kan.


"Maksud nya? Kamu nyuruh Kakak mundur gitu?." Tanya tak percaya Tobi pada adik nya.


Tasya hanya menanggapi Kakak nya dengan angguk kan sekali.


"Kenapa Kakak harus mundur? Apa Kak Ifah udah punya pacar? Emamg ada kejadian apa tadi pas kamu nganter kado itu?." Tanya Tobi panjang dan banyak.


"Tadi yang nerima kado nya emang Kak Ifah, tapi ada laki-laki yang duduk di depan nya memasang wajah tak bersahabat saat aku mengatakan kalo kado itu dari Kakak." Jelas Tasya.


"Cowok itu ngomong apa?." Tanya Tobi penasaran.


"Di bilang 'bilangin sama Kakak mu, jangan ganggu Akifa lagi, karena Akifa cuma milik Abdiel Justin Gilbert' gitu." Kata Tasya sambil meniru kan cara bicara Abdiel tadi.


"Ada hubungan apa kira-kira dua orang itu?." Tobi bertanya-tanya.


"Kak Abdiel tadi ngomong 'Pebinor' apa maksud nya ya tadi? Apa Kak Abdiel menikah sama Kak Ifah?." Tanya Tasya.


"Pe... pebinor?!." Seru Tobi tertegun.


"He em, kaya nya emang hubungan mereka udah jauh deh, dan lagi pas tadi aku nyerahin kado Kakak, aku liat di jari manis Kak Ifah ada kaya cincin pernikahan gitu, dan cincin itu sama kaya yang di pake sama Kak Abdiel." Jelas Tasya detail.


"Huuufffh, kaya nya emang udah ngga ada harapan deh." Cetus Tobi sambil menghela nafas lelah.


"Hahahaha... kamu kok bisa kecantol sama pacar orang sih Kak?." Tanya Tasya meledek.


"Kalo aku tau Kak Ifah udah punya Kak Abdiel mana mau aku ngejar, ya pasti udah aku singkirin lah perasaan suka ku ke dia." Kata Tobi sambil memasang wajah kecut bin cemberut nya.


"Kasian bat Kakak ku, hahahaha... ." Tawa Tasya masih menggema.


"Ok lah, jadi in ini pengalaman, nanti kalo aku jatuh cinta lagi aku akan cari tau dulu, apa dia udah punya, atau belum." Semangat Tobi menggebu.


"Ya bener banget tuh, kalo bisa jangan jatuh cinta dulu lah, perjalanan kita masih jauh juga, kamu mau Mama Papa marah? Beliau berdua kan ngga memperboleh kan kita pacaran." Peringat Tasya.


Tobi hanya mengangguk kan kepala paham dan dia memeluk Tasya.

__ADS_1


"Kira-kira kado Kakak tadi di makan ngga yah?." Tanya Tobi ingin tau.


"Emang apa isi nya sih?." Tanya Tasya.


"Coklat." Pendek Tobi menjawab.


"Aku tebak coklat nya di kasih ke orang setelah di buka sama Kak Ifah." Kata Tasya.


"Kalo emang bener gitu ya aku ngga masalah deh, asal ngga di buang aja aku udah seneng banget." Balas Tobi sambil tersenyum senang.


Tebakan Tasya tadi benar, di kelas 12 IPS 1 Akifa memberikan coklat kepada Aurel, dan yang di kasih tentu aja sangat senang, siapa coba yang ngga suka sama coklat? Ya kan?.


Hari ini semua terlewati begitu cepat.


Pukul 15.30 ba'da Ashar semua siswa siswi SMA Merdeka pulang ke rumah masing-masing.


7 serangkai berjalan menuju ke arah parkir mobil, di depan lapangan basket, Anika menyapa.


"Hai kalian semua?." Sapa Anika.


"Hai juga Anika." Balas 7 serangkai.


"Eh? Gua tanya dong, kalian dapet undangan dari Sari juga kah?." Tanya Anika antusias.


"Iya, kita semua dapet." Singkat Zarine menjawab mewakili lain nya.


"Emmmm... apa Sari nikah nya ngga terlalu dini yah?." Tanya Anika lagi.


"Itu kan udah keputusan dia, jadi yaaa... kita tinggal dukung aja, lagi pula umur Sari udah 19 tahun itu nama nya nikah muda, bukan pernikahan dini, kalo pernikahan dini tuh umur 16 ke bawah." Jelas Akifa.


"Kita ber 7 juga nikah muda, malah Rafka Zarine menikah saat usia nya menginjak 17 tahun, baru dapet KTP langsung nikah." Ungkap Alfi.


"Iya juga sih." Kata Anika membenar kan, Anika memang tau kalo 7 serangkai ini udah menikah.


"Lo dateng ama siapa An?." Tanya Alfi.


"Hehehe... ada deh, ini seseorang yang amat sangat spesial, nanti kalo udah hari H nya bakal Gua kenalin." Bahagia Anika berbicara.


Pandangan Anika tak sengaja bertemu dengan seseorang di gerbang depan sekolah.


Dia seorang pria, dia melambai kan tangan.


Anika mengangguk kan kepala nya dan tersenyum bahagia.


"Gua dulu an yak semua nya, Bebeb Gua udah jemput hehehe... assallammu'allaikum." Pamit Anika, dia kemudian berlari mendekat ke arah gerbang dan masuk ke mobil bersama pria itu, dan kegiatan Anika itu tak lepas dari pandangan 7 serangkai.


"Habis Roy dan Sari nikah nanti, pasti Anika juga nyusul bentar lagi." Cetus Zarine berbicara.


"Kita liat aja deh gimana kedepan nya entar." Kata Rafka.


"Ayo balik, ngga sabar ketemu kasur Gua." Ajak Akifa.


"Jangan balik dulu lah, aku lagi pengen es buah nih, beli kuy." Kata Alfi.


"Wah enak tuh kaya nya, ayo aku juga mau."Timpal Zarine.


Ke dua wanita itu memancar kan binar mata bahagia membayang kan es buah yang ada berbagai macam buah.


Rafka dan Abhi saling pandang lalu menyungging kan senyum mendengar permintaan istri mereka.


"Ayo kalo gitu kita beli es campur, seger juga kaya nya." Antusias Abdiel.


Dan terjadi lah hal yang semesti nya terjadi, 7 serangkai pergi ke taman kota membeli es campur di sana.


Minuman penuh dengan buah beraneka ragam dan juga ada rasa susu kental manis nya, membuat mereka ingin nambah lagi dan lagi, tapi mereka tak melakukan itu, karena minum es banyak-banyak tak bail untuk kesehatan apa lagi buat bumil (Author ngiler nih, pengen es campur juga😂 #AuthorGesrek).


Pukul 16.15 merek memutus kan pulang ke rumah karena hari sudah menginjak makin petang.


Bunda bisa khawatir kalo mereka pulang nya kemaleman, walau pun tadi sempat ijin, nama nya orang tua, pasti bakal khawatir kan kalo anak-anak nya main sampai tak tau waktu.


Walau pun orang tua bilang 'mereka udah gede, udah tau bahkan hafal jalan pulang ke rumah nya sendiri' tapi tetap saja rasa khawatir, risau, dan cemas menghampiri hati mereka.


7 serangaki pulang ke rumah masing-masing.


"Assallammu'allaikuk Bunda?." Salam Zarine menggema ke seluruh ruangan.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Bunda dari arah dapur, Rafka Zarine memghampiri beliau, mencium punggung tangan nya bergantian.


"Dah sana cepat mandi." Perintah Bunda.


"Iya Bun, ouh iya! Ini Bun, tadi Za Rafka sama lain nya ke taman kota beli minum es campur di sana, dan ini buat Bunda sama ART lain nya, tolong bagi in ya Bun." Kata Zarine sambil memberi kan bungkusan plastik.


"Iya deh, makasih ya Za Rafka." Ucap Bunda tulus.


"Sama-sama Bunda, kaya sama siapa aja si Bun." Balas Rafka berbicara.


Rafka Zarine naik ke lantai dua tempat kamar mereka, dan Bunda kembali ke dapur untuk membagi bungkusan itu.


Waktu makan malam tiba, ba'da maghrib setelah sholat maghrib, kediaman Rafka Zarine tepat nya meja makan, hanya di isi oleh 3 orang, Rafka, Zarine, dan Bunda.


Mereka makan dalam keheningan, hanya suara sendok garpu yang berbenturan dengan piring yang mendominasi acara makan itu.


"Bunda?." Panggil Zarine.


"Iya sayang ada apa?." Tanya Bunda.


"Seharian di rumah Bunda ngapiin aja? Ngga bisen kah ada di rumah terus?." Tanya Zarine pada Bunda nya.


"Kalo ngga ada Kak Rain pasti Bunda dah bosen dan suntuk, tapi ini kan ada Kak Rain, jadi Bunda ngga kesepian." Jelas Bunda.


"Bunda kalo mau liburan bilang aja sama Rafka, nanti Rafka urusin segala nya." kata Rafka pada Ibu mertua nya.


"Bunda udah tua, jiwa traveling nya udah agak-agak luntur Raf, jadi buat Bunda di rumah aja udah cukup." Panjang Bunda menjelas kan pada Rafka.


Makan malam telah selesai, Bunda, Rafka Zarine masuk ke kamar masing-masing untuk tidur.


Bunda di kamar duduk di kursi goyang yang menghadap ke jendela besar di sudut kamar.


Memejam kan mata sambil menggoyang kursinya.


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2