
SELAMAT MENUNAI KAN IBADAH PUASA BAGI YANG MENJALAN KAN🙏.
-
-
Hari terus terlewati dengan sangat baik setiap jam nya.
Dan hari ini adalah hari ke tiga sekolah di mulai, yaitu hari rabu, dan hari ini pelajaran akan di laksana kan seperti biasa nya.
Yang kemarin berangkat sekolah nya cuma 4 orang kini sudah bertambah menjadi 6 orang yang isi nya 4 cowok dan 2 cewek.
Pukul 05.55. rumah Mommy Zarine dan Daddy Rafka.
Suasana di meja makan kediaman mereka ramai dengan suara Damar Wulan, 2 kembar tak identik anak-anak Mommy Za dan Daddy Rafka.
Raut muka mereka perpaduan dari Mommy Za dan Daddy Rafka, jadi walau pun tak identik, muka mereka sama persis.
Ok kembali ke meja makan.
"Hari ini kalian sekolah udah mulai aktif yah?." Tanya Mommy Za pada anak-anak manis nya ini.
"Iya Momm, dan itu makin buat Wulan males berangkat." Balas Wulan dengan wajah malas nya.
"Loh loh? Kok males? Kenapa?." Tanya Daddy Rafka lembut pada anak perempuan nya ini.
"Males aja, masa pelajaran pertama di isi Matematika? Kan ngga enak." Rajuk Wulan dengan wajah cemberut nya.
"Emang Wulan ngga bisa kah dalam pelajaran itu?." Tanya Mommy Za.
"Bukan itu masalah nya Momm, Wulan males aja di suruh jawab soal di papan, selalu aja Wulan, Bang Damar yang juga bisa ngga pernah tuh di suruh." Protes Wulan sambil melirih Abang nya tersayang.
Mommy Za yang setia mendengar aduan Wulan hanya bisa terkekeh pelan.
"Ya udah nanti kalo di suruh maju biar Abang aja yang jalan, kamu duduk diam di kursi kamu aja." Kata Damar menjawab aduan sang adik.
"Ouh iya ngomong-ngomong soal kursi nih, kalian duduk bareng kah?." Tanya Mommy Za.
"Engga Momm, Adek duduk sama Albhi, Abang duduk sama Kristal." Jelas Dama singkat.
Mommy Za menanggapi omongan Damar dengan angguk kan kepala.
Dari arah masuk meja makan, terlihat 4 remaja 3 pria dan 1 gadis datang.
"Assallammu'allaikum semua nya? Kristal yang imut-imut dateng nih." Salam Kristal mengheboh kan satu ruang makan rumah Rafka Zarine.
"Persis kaya Mama nya." Bisik Rafka pada telinga Zarine sang istri.
"Dan bentar lagi pasti jadi mantu kita." Balas Zarine ikut berbisik, dan kemudian 2 sejoli yang tak muda lagi ini terkekeh pelan.
"Wa'allaikum sallam, duh Kristal! Jangan teriak-teriak!." Peringat Wulan pada sahabat nya ini.
Yang di nasihati malah menampak kan cengiran nya.
"Wah wah Bang Pamungkas sama Bang Angkasa ganteng banget kalo pake seragam kek gitu." Puji Mommy Za yang membuat 2 remaja bujang itu tersipu malu.
"Bang Pamungkas? Bang Angkasa? Wulan doa kan betah yah di SMA Merdeka, aamiin." Ucap Wulan sambil mengusap kan ke dua tangan nya ke wajah.
"Dah, sekarang kalian berangkat gih, udah siang ini, entar telat lagi." Suruh Daddy Rafka yang mendapat angguk kan dari 6 serangkai.
Di dalam perjalanan, 6 orang ini mengobrol.
"Bang Angkasa? Gimana kehidupan London? Nyenengin ngga?." Tanya Wulan antusias.
"Kenapa tanya gitu?." Tanya Albhi tak suka.
"Ngga papa cuma mau tau aja, aku cuma penasaran." Polos Wulan menjawab.
"Kehidupan di luar negeri agak beda sama sini Wulan, di sana agak bebas, siang malam ngga ada beda nya." Jelas Angkasa panjang.
"Bang Angkasa pernah punya pacar di sana?." Tanya Wulan semangat.
"Engga." Singkat Angkasa menjawab.
"Loh kenapa? Kamu ngga laku di sana? Hahaha... ." Tawa Kristal pecah.
"Ngaco kalo ngomong! Aku laku keras di sana, temen SMA ku aja banyak yang lemparin diri nya ke arah ku dengan suka rela, tapi aku yang mau, wanita sana sedikit liar." Jelas Angkasa dengan sedikit menggeleng kan kepala nya.
Wulan dan Kristal bukan lagi anak kecil yang tak paham maksud Angkasa, mereka malah menunjuk kan wajah sedih mendengar cerita Angkasa mengenai para gadis SMA di sana.
"Aku kadang heran sama mereka, yang sekolah di tempat aku dulu tuh semua nya anak orang berkecukupan berlebih, tapi malah kelakuan nya minus." Cerita Angkasa mengalir.
"Harta tak menjamin kebahagiaan Bang." Bijak Wulan berucap.
"Siapa tau mereka melakukan hal tak baik itu untuk mendapat kesenangan dan kabahagiaan mereka sendiri, tapi cara nya yang salah." Imbuh Kristal pada kalimat Wulan.
"Ada benar nya juga sih kata-kata kalian." Celutuk Pamungkas.
"Kalo di Surabaya? Gimana Bang?." Tanya Wulan.
"Ya kaya gitu deh, hampir sama kaya yang di ceritain Angkasa." Jawab Pamungkas padat.
"Kalian berdua ngga sampe ikut masuk ke dunia haram itu kan?." Tanya Kristal curiga.
"Ya enggak lah Kris! Ngaco banget sih pertanyaan kamu!." Kompak Angkasa dan Pamungkas menjawab pertanyaan Kristal.
"Santai Boy's ngga usah ngegas." Peringat Damar datar sambil pandangan masih lurus ke jalan.
"Iya iya maaf." Ucap Angkasa sambil cengengesan.
"Ok berhenti bahas kita, sekarang bahas kalian ber empat aja, gimana Jakarta?." Tanya Pamungkas pada Damar, Albhi, Wulan, dan Kristal.
"Ya ngga gimana-gimana, tetep aja kaya gini, cume Presiden nya aja yang ganti tiap 5 tahun sekali." Jawab Kristal lempeng.
"Ck! Bukan gitu maksud ku Kris!." Seru Pamungkas gemas.
"Dah berenti bahas hal ngga penting, kita udah sampe sekolah nih, ayo turun dan ke kelas." Damar menghenti kan perbincangan para sahabat nya ini dan mengajak untuk masuk kelas.
"Bang Angkasa sama Bang Pamungkas udah tau di mana kelas nya?." Tanya Wulan.
"Udah, kata nya 11 IPS 3." Jawab Bang Angkasa.
"Wah satu kelas kita." Semangat Kristal antusias.
"Kenapa seneng banget?." Tanya Damar tak suka melihat ke antusiasan Kristal.
"Ya kan biar kita sama-sama terus ngga pisah gitu." Jawab Kristal jujur dengan nada takut nya pada Damar.
"Bang Damar kebiasaan ih, nakutin Kristal, di ambil orang baru tau rasa." Ketus Wulan yang membuat Damar kecip seketika.
Lalu Wulan menyeret Kristal pergi dari kumpulan para pria itu.
"Mau kemana?." Tanya Pamungkas.
"Mau cari gebetan!." Jawab Wulan keras.
"Jangan macem-macem! Wulan Kristal! Balik sini!." Panggil Albhi dan Damar kompak. Tapi Wulan dan Kristal tak mengubris panggilan itu dan malah terus berjalan lalu menhilang di belok kan.
"Buahahahaha... tadi aja kalian sok cuek, eh pas tau mereka mau cari yang lain kalang kabut." Tawa Pamungkas dan Angkasa pecah, posisi mereka masih ada di temoat parkir dan kini mereka tengah menjadi pusat perhatian karena tawa Angkasa dan Pamungkas.
"Ayo susul mereka, jangan-jangan beneran lagi mereka cari lain kagak ikhlas Gua." Kata Albhi sambil tangan nya menyeret lengan Damar.
Saat di koridor sekolah.
"Hai Pagi Damar." Sapa seorang gadis cantik dengan rok sepaha dan baju ketat nya. Gadia itu bergelayut manja pada lengan kekar Damar.
Pamungkas dan Angkasa yang melihat itu melepar pandang kemudian menatap aneh pada gadis yang bergelayut manja pada Damar.
"Gua kira cewek ganjen tuh ngga ada, ternyata banyak yah." Celutuk Angkasa menyindir gadis itu.
__ADS_1
Gadis yang di sindir Angkasa tak peduli. Teman gadis itu mendekat ke arah Albhi dan berbicara dengan nada manja pada Albhi.
"Albhi? Aku bawa in sarapan nih buat kamu, aku sendiri loh yang masak." Kata gadis di sebelah Albhi itu.
"Makan aja sendiri, Gua udah sarapan!." Ketus Albhi dan berlalu pergi dengan menyeret Damar dari sana.
"Khoirun Nissa." Sebut Angkasa membaca name tag gadis yang di abaikan Damar tadi.
"Amelia Dwi Septiana." Eja Pamungkas pada name tag gadis yang mengganggu Albhi tadi.
"Ck ck ck! Nama sama wajah doang yang cantik, kelakuan minus." Cetus Pamungkas jujur. (Dasar mulut pedes! Siapa sih yang ngajarin?! #AuthorGesrek_-).
"Kalian murid baru yah?." Tanya Amel tak merespon omongan pedas Pamungkas.
"Cabut Huruf!." Seru Pamungkas berlari menjauh dari para gadis dan meninggal kan Angkasa yang di panggil Huruf oleh Pamungkas.
"Woy Tarjo?! Tunggu in Gua!." Teriak Angkasa pada Pamungkas yang udan jauh. Angkasa pun berlari menyusul Pamungkas meninggal kan tanda tanya besar pada dua gadis ini.
"Mereka kenapa sih?." Tanya Amel heran.
"Tau tuh, ngga kuat liat Bidadari cantik kali." Acuh Nissa dan ia pun berlalu pergi.
Perkenalan pengganggu hubungan Albhi Wulan, dan Damar Kristal nih.
Khoirun Nissa anak pengusaha sukses terkenal di sekolah nya karena kemolek kan tubuh dan wajah nya yang serba oplas. Dia selalu menjadi yang ke dua setelah Wulan. Dia menyukai Damar sejak kelas 10 awal.
Amelia Dwi Septiana, dia juga anak orang berada, terkenal karena kecentilan nya dalam mendekati Albhi, selalu menjadi yang ke dua dari Kristal, dia juga menyukai Albhi sejak kelas 10 Awal.
Wulan dan Kristal sama-sama nomer satu, baik di bidang akademik maupun non akademik, kesukaan atau hobi mereka di sekolah sama satu sekolah kadang mengira bahwa mereka kembar padahal tidak.
Kembali pada kelas 11 IPS 3.
"Sialan Lu berdua! Kenapa ninggalin kita ama mereka?!." Seru Angkasa pada Albhi dan Damar.
Sedang kan Albhi dan Damar tak menghirau kan omongan Angkasa, mata mereka menatap Wulan dan Kristal yang tengah duduk sambil membaca novel di tangan mereka.
"Alhamdulillah, ternyata ucapan mereka cuma main-main." Ucap syukur Damar pada Albhi.
"Ck! Mereka ngga akan berani mendua dari kalian, cinta mereka ke kalian tuh se luas samudra dan se dalam laut juga se tinggi langit." Pamungkas menjabar kan cinta Wulan dan Kristal dengan lebay.
"Tau dari mana Lu kalo cinta mereka kaya gitymu?." Tanya Angkasa pada Pamungkas.
"Gini ya Ruf-." Ucapan Pamungkas terhenti karena di sela Angkasa.
"Lu tuh se enak jidat ae ganti nama orang!." Seru Angkasa jengkel.
"Ck! Sensi amat Lu ah, nama Lu kan Angka nga enak Gua manggil nya, ya udah Gua panggil Lu Huruf aja, hahaha... ." Tawa Pamungkas pecah.
'Tring... ring... ring... .' Bel masuk berbunyi, segera semua siswa siswi se antero SMA Merdeka masuk kelas masing-masing dan duduk di tempat nya masing-masing pula.
Bagitu pun kelas 11 IPS 3, tapi Pamungkas dan Damar belum duduk dan masih berdiri di tengah kelas.
Saat guru masuk, beliau menyuruh 2 remaja itu untuk memperkenal kan diri dan kemuian menyuruh duduk di belakang Kristal dan Damar.
Setelah melaksana kan doa sebelum belajar pelajaran pun di mulai.
Waktu berputar begitu lambat menurut Wulan dan Kristal murid lain nya yang tak menyukai pelajaran Matematika.
Sebenar nya Kristal dan Wulan suka pelajaran angka itu, tapi karena mereka selalu di minta maju mengerjakan tugas di papan, mereka malah tak menyukai nya dan menganggap Matematika itu musuh mereka.
'Ring... ring... ring... .' Bel istirahat berbunyi nyaring dan itu membuat kelas 11 IPS 3 bahagia.
Semua siswa siswi meninggal kan kelas. Tersisa 6 serangkai saja dalam kelas.
"Kantin yuk, energi ku terkuras habis nih gara-gara Matematika tadi." Ajak Angkasa pada 5 sahabat yang ada di depan nya ini.
"Ayo." Sahut Damar, dia sudah berdiri di ikuti Albhi dan Pamungkas.
"Kalian pergi aja deh, kita mau di sini aja." Suruh Kristal yang di angguki oleh Wulan dengan lesu.
"Why Baby? Are you okay?." Tanya Albhi cemas.
"Ngga mood aja buat ke kantin, kita mau ke lapangan basket aja." Kata Kristal.
Kemudian dia dan Wulan beranjak dari duduk nya lalu berjalan keluar kelas.
"Aish! Kagak paham maksud nya cewek Gua, kalian berdua susulin Wulan ama Kristal ke lapangan basket, nanti kita juga ikutan ke sana." Suruh Bang Damar pada Pamungkas dan Angkasa.
"Kalian mau ke mana?." Tanya Pamungkas sambil menaik kan salah satu alis nya.
"Ke kantin beli camilan, ngga mungkin kita di sana cuma duduk doang." Jawab Albhi yang memang ada benar nya.
Di lapangan basket.
"Heh Wulan?! Kristal?!." Panggil Nissa keras.
Dengan berat hati 2 gadis ini berhenti dan menghadap kan tubuh nya ke pada Nissa dan Amel.
"Ada apa?." Malas Kristal menjawab.
"Albhi sama Damar mana?." Tanya dua gadis itu sambil celinguk kan mencari 2 orang pria yang mereka sebut tadi.
"Ngga tau!." Ketus Wulan berucap, lalu Wulan menyeret lengan Kristal mengajak nya menjauh dari 2 gadis jelmaan iblis itu.
"Heh?! Dasar ngga sopan! Dengerin Kakak Ipar ngomomg dong!." Protes Nissa pada Wulan.
"Huh! Pe-de banget kamu mau jadi Kakak Ipar ku? Mommy aku juga belum tentu ngerestuin kamu sama Bang Damar, apa lagi Daddy, beliau pasti bakal tolak kamu mentah-mantah!." Ujar Wulan pedas bak boncabe.
"Tunggu aja kalo udah jadi Kakak Ipar kamu, aku akan minta Daddy Rafka kirim kamu ke Antartika pelihara Pinguin di sana!." Seru Nissa dengan percaya diri yang menggunung.
"Ya deh iya... ngga ada yang ngelarang kamu bermimpi kok, bahkan pepatah mengata kan 'Bermimpi lah setinggi langit'." Balas Wulan acuh tak acuh.
"Denger yah Niss, yang nama nya nikah itu di laku kan jika ke dua beleh pihak mau atau saling menyukai, kalo kamu mau Papa kamu, tapi Daddy Rafka ama Bang Damar ngga mau, otomatis pernikahan ngga akan pernah terjadi, TIDAK AKAN!." Lanjut Wulan sambil menekan kata Tidak Akan dengan keras hingga menggemah di seluruh lapangan Basket ini.
"Ouh dah yah, jangan ngarep Albhi terlalu tinggi, kalo jatuh sakit!." Peringat Kristal pada Amel.
"Ck! Kalian-." Ucapan Amel terhenti karena kedatangan Angkasa dan Pamungkas.
"Why Baby?." Tanya Pamungkas pada Wulan.
"Tarjo! Lu kebiasaan banget ninggalin Gua sih!." Sungut Angkasa jengkel.
"Lebay Lu Ruf!." Timpal Pamungkas.
"Eh? Kalian Mak-mak ngapain di sini?." Tanya Angkasa. Pamungkas, Wulan, dan Kristal menahan tawa mendengar panggilan Angkasa pada 2 gadis pengganggu di depan nya ini.
Nissa dan Amel melotot kan mata nya tak percaya di panggil Mak-mak.
"Heh?! Mata nya buta ya Mas?! Cantik gini di panggil Mak-mak." Marah Amel sewot.
"Huh! Cantik? Mata Gua masih belum rabun, pipi Lu, hidung Lu, dagu Lu, bibi Lu tuh juga pasti oplas kan?! Dan satu lagi, dandanan Lu yang serba ketat gini persis kaya Tante-tante girang tau ngga!." Seru Angkasa mencecar Nissa habis-habisan.
"Dah Bang Angkasa, Abang udah keterlaluan." Peringat Wulan menyudahi cercaan Bang Angkasa.
Nissa yang merasa kalah memilih pergi sambil menarik tangan Amel sang sahabat dengan kasar dan kuat.
"Huuuu... malu kan Lo! Maka nya berhenti ganggu 2 Baby Girl kita!." Seru Pamungkas keras.
Sepeninggalan Nissa dan Amel.
"Kalian ngga di apa-apa in kan sama mereka berdua?." Tanya Pamungkas heboh.
"Ck! Kita bisa jaga diri kok Bang, tenang aja." Kata Wulan menjawab dengan nada malas.
"Tarjo?! Mood mereka makin anjlok tuh kek nya." Bisik Angkasa pada Pamungkas.
"Telepon Damar ama Albhi, suruh beli es krim buat 2 Baby Girl." Suruh Pamungkas pada Angkasa.
"Kenapa Gua? Kenapa ngga Lu aja?." Tanya Angkasa.
__ADS_1
"HP Gua di kelas Huruf, paham kek!." Sungut Pamungkas jengkel.
"Ya sabar." Balas Angkasa dan dia pun nulai menghubungi Damar.
Di telepon.
"Why?." Singkat Damar.
"Di mana?." Tanya Angkasa.
"OTW lapangan basket." Jawab Damar.
"Mending balik lagi ke kantin, beli es krim, mood Duo Baby Girl anjlok gara-gara cewek yang tadi pagi ganggu kalian." Panjang Angkasa berucap.
"Hmm... tunggu aja di sana." Jawab Samar singkat dan panggilan pun terputus.
Angkasa memasuk kan ponsel nya ke dalam saku celana nya.
"Udah?." Tanya Pamungkas.
"Dah beres!." Jawab Angkasa.
Di tengah lapangan.
'Duk duk duk!.' Suara pantulan bola basket dengan lantai beradu sangat kuat karena ulah Wulan.
Perhatian Pamungkas, Angkasa, juga Albhi dan Danar yang baru sampai di lapangan basket langsung terarah pada gadis mungil itu.
"Akhhh!!! Nissa kalo mimpi ketinggian!!." Teriak Wulan sambil melempar bola agar masuk ke dalam ring.
Dan... .
'Hap!.' Bola masuk dengan sempurna.
Di dekat jalan masuk lapangan.
"Wuih, bukan nya dia ngga bisa main basket yah?." Tanya Pamungkas heran melihat tingkah Wulan yang bar-bar.
"Dia bad mood nya parah nih pasti." Balas Albhi cemas.
"Ck! Iya deh yang tau segala nya tentang Lanlan." Cetus Damar tak suka.
Damar dan Albhi saling menatap tajam, mata dari ke dua cowok tampan itu bak menampak kan leser penmusnah musuh.
"Duh! Udah jangan berantem, kalian tuh kalo nyangkut Wulan aja possesive nya minta ampun!." Kata Angkasa mengakhiri tingkah calon Kakak Ipar dan adik ipar ini.
"Ouh iya! Berenti panggil Wulan dengan panggilan Lanlan, cuma Gua yang boleh panggil kek gitu ke dia." Kata Albhi tegas.
"Kita boleh panggil Lu Bang Bhibhi ngga?." Tanya Angkasa menggoda Albhi, tangan Angkasa hendak menoel dagu Albhi tapi segera di tepis kasar oleh sang empu dagu.
"Ck! Jangan toel-toel! Gua bukan cowok murahan!." Ketus Albhi, dia kemudian berjalan meninggal kan sahabat-sahabat nya ini.
Setelah Albhi sampai di sebalah Wulan.
"Lanlan?." Panggil lembut Albhi.
Reflek Wulan menolah dengan tatapan polos nya.
"Dah berenti marah-marah ngga jelas, ayo duduk, aku bawa es krim coklat buat kamu." Albhi memberi tahu dengan senyuman nya yang tulus.
"Es krim coklat?." Pekik Wulan senang, dia berlari ke arah tribun dan duduk manis di sana.
Damar, Pamungkas, dan Angkasa ikutan duduk di dekat 2 orang itu, Damar duduk di sebelah Kristal dan memberi kan bungkusan plastik sedang kepada gadis tersebut.
Beberapa menit berlalu mood dua gadis itu seperti nya sudah membaik.
"Tadi Nissa ngapain kamu? Sampe bad mood gini." Tanya Albhi lembut.
"Dia mimpi mau nikahin Bang Damar, dan aku ngga suka sama mimpi nya itu." Jelas Wulan judes.
"Abang juga ngga mau Dek sama dia, sekali pun di dunia ini cewek tinggal dia, Abang ngga akan mau nikah, biarin deh bujang seumur hidup! Aush!." Tiba-tiba Damar memekik kesakitan.
"Kenapa di cubit sih Kris?!." Tanya Damar sambil meringis kesakitan.
"Kalo ngomong tuh jangan yang engga-engga, kalo kamu ngga nikah siapa yang bakal ngerawat kalo dah tua?." Cetus Kristal tak suka atas omongan ngawur Damar.
"Itu kan cuma perumpaan Kristal... ya kali aku bujang sampe tua! Nikah kan enak, aku mau ngerasa in malam pertama juga." Omongan Damar meleber ke mana-mana yang isi nya makin ngawur.
'Pletak!.' 3 tangan keras mendarat di kepala Damar dengan mulus.
"Adoy!." Pekik Damar tak kalah keras.
"Apa an sih kalian?!." Sungut Damar kesal.
"Pikiran Lu malam pertama, nikah dulu baru malam pertama, kebanyak kan nonton botol kecap yak Lu?!." Seru Pamungkas menuduh Damar.
"Ish! Botol kecap dari mana? Sumpah demi apa pun Gua kagak pernah nonton gitu an!." Sanggah Damar keras.
Di tengah para pria sibuk membahas botol kecap, 2 gadis di sana tak paham maksud dari pria.
"Tunggu Boy's!." Seru Kristal menghenti kan obrolan para cowok.
"Botol kecap bisa di lihat? Di liat apa nya? Isi nya pasti juga sama kan kecap." Polos Wulan berucap, angguk kan Kristal juga mengikuti perkataan Wulan yang tak paham ucapan para pria.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.