Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Thirty-four


__ADS_3

10 hari sudah Rafka Zarine ada dirumah sakit.


Hari ini, tanggal 30 Juli hari Jum'at, Rafka Zarine sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Alhamdulillah, kalian sudah boleh pulang dan alhamdulillah juga orang-orang yang iri dengan kalian semuanya sudah tidak ada." Ucap Bunda Zarine.


"Iya alhamdulillah." Timpal semua orang yang menjemput Rafka Zarine kembali kerumah.


Bang Idan dan Bang Rafa juga ikut dalam penjemputan.


"Bang Rafa? Bang Idan? Zarine kira udah balik kerantauan, solanya udah 5 hari ngga ketemu." Girang Zarine karena melihat Bang Rafa dan Bang Idan.


"Kita udah putusin buat netap di Indo Za." Kata Bang Idan yang diangguki Bang Rafa.


"Kok Za ngga tau?." Tanya Zarine mentap Bunda Ayah serta lainnya yang ada diruangan.


"Surprise!!!." Teriak semua orang heboh.


"Hutsss!! Ingat! ini masih dirumah sakit." Seru Rafka mengingatkan.


"Hehehe." Semua hanya nyengir kuda mendengar seruan Rafka.


"Ya udah, ayo pulang." Ajak Papa Abdiel.


Rafka Zarine serta lainnya keluar RS dan pulang kerumah Papa Rafka.


Sesampainya dirumah Papa Rafka, semuanya turun dari dari mobil dan masuk kerumah.


"Alhamdulillah... akhirnya Za bisa pulang." Ucap syukur Zarine.


6 keluarga senior dan 3 keluarga junior serta 2 orang jomblo😂, duduk diruang santai.


"Ma Pa, sekarang kan udah ngga ada penganggangu, kapan kita boleh tempatin rumah baru?." Tanya Abdiel pada Mama Papanya.


"Gimana kalo sampai kalian punya baby umur 2 tahun?." Saran Mama Abdiel.


"Lah? Masih lama dong Ma?." Lesu Akifa menimpali ucapan Mama mertuanya.


"Sejujurnya kami tidak mau kalo kalian pindah rumah." Kata Mami Alfi dengan nada sedih.


"Ma? Kita ber 6 udah nikah, udah dewasa, udah punya tanggung jawab, jadi kita mau hidup mandiri, ngga nyusahin orang tua lagi." Jelas Alfi panjang lebar.


'Huuffffh.' Para orang tua menghela nafas pasrah.


"Ya udah, kalian maunya kapan?." Tanya Papa Abdiel.


"Minggu ini mungkin?." Jawab Abdiel.


'Huufffh.' Helaan nafas terdengar lagi.


"Ya sudah kita setuju." Putus Papa Rafka.


"Alhamdulillah." Syukur 3 keluarga junior.


-


-


-


Hari minggu telah tiba.


Pagi ini, pukul 08.00, 6 keluarga senior dan 3 junior serta Bang Idan dan Bang Rafa sudah ada dirumah baru Rafka Zarine, Alfi Abhi, dan Abdiel Akifa.


"Gila ini sih." Kagum Bang Rafa.


"Gede bat ini!!." Timpal Bang Idan.


"Iya, ini kok gede banget sih Ma Pa?." Tanya Akifa pada orang tuanya dan mertuanya.


"Yaaaa, ini untuk kenyamanan kalian sendiri." Jawab Papa Abdiel.


"Anak-anak, kalian bakal punya baby, ya jadi harus ada kamar buat mereka dong." Jelas Mama Akifa.


"Ya udah deh iya in aja." Balas Abdiel.


Pukul setengah sembilan pagi.


Para orang tua 3 keluarga junior mengadakan syukuran untuk memasuki rumah baru.


Semua tetangga telah datang dan duduk ditikar yang sudah disediakan.


Hampir satu jam, acara syukuran pun akhirnya selesai.


Tetangga sudah pulang kerumah masing-masing.


Diruang santai rumah Rafka Zarine.


6 keluarga senior dan 3 keluarga junior serta Bang Idan, Bang Rafa mengobrol.


"Kalo kalian ber 6 gak betah dirumah pulang kerumah Mama Papa juga ngga papa." Kata Mama Rafka.


"Lah? Kalo itu sih maunya Mama Papa." Jawab Rafka yang.


"Mama baru aja punya temen dirumah, masa harus sendiri lagi." Keluh Mama Rafka yang diangguki orang tua perempuan lainnya.


"Lah? Ma? Idan Mama anggep apa selama dirumah? Hantu?." Sungut Bang Idan kesal.


'Ahahaha.' Tawa semua orang pecah.


"Yaaaa, Mama kan maunya temen cewek, kalo sesama perempuan mau curhat apa aja didengerin, curhat sama laki-laki pasti ngga didengerin, cuma dianggap angin lalu." Sindir Mama Rafka dengan melirik sang suami.


Para perempuan terkekeh mendengar ocehan Mama Rafka.


"Kita juga tetap bisa ketemu tiap hari Ma, kan satu perumahan, satu komplek juga, cuma beda nomer rumah aja." Kata Zarine.


"Iya sih." Lesu Mama Rafka.

__ADS_1


Waktu terus berganti.


Hari sudah beranjak petang.


6 keluarga beserta Bang Rafa dan Bang Idan pulang kerumah masing-masing.


3 keluarga junior juga pulang kerumah masing-masing.


Rafka Zarine masuk kekamar bermaksud untuk siap-siap sholat maghrib.


Selesai sholat maghrib.


Mereka makan malam dimeja makan.


"Yang? Kamu suka sama rumahnya kan?." Tanya Rafka pada Zarine.


"Kenapa tanya gitu tiba-tiba?." Tanya balik Zarine.


"Yaaaa, takut kamu ngga nyaman aja, kalo ngga nyaman kita balik aja ke apartemen atau rumah Mama." Kata Rafka.


"Dimanapun aku, kalo ada kamu in syaa allah aku nyaman." Jawab Zarine tulus.


Rafka tersenyum simpul mendengar penuturan sang istri.


Adzan isya' berkumandang.


Rafka Zarine sholao jamaah berdua dikamar.


Setelah itu mereka mengecek kebutuhan besok ke sekolah.


Esok pagi adalah kembalinya Rafka Zarine ke sekolah setelah kurang lebih 9 hari mereka libur karena insiden kecelakaan itu.


Setengah 9 malam mereka tidur dengan nyenyak dan saling memeluk.


-


-


-


Pagi telah indah menyapa.


Zarine sibuk mempersiapkan seragam sekolah Rafka dan memasak.


Pukul 06.00 Rafka Zarine sarapan.


"Yang? Aku nanti mau minta tolong Mama buat nyari in ART, biar kamu ngga terlalu capek ngurusin rumah segede ini." Kata Rafka.


"Aku nurut apa kata kamu aja deh, tapi aku minta, soal dapur aku aja yang urus, boleh kan?." Pinta Zarine.


"Iya, boleh." Jawab Rafka.


06.15 mereka berdua berangkat ke sekolah.


Sesampainya di parkiran, mereka berdua turun dari mobil.


"Udah dari tadi kalian?." Tanya Zarine.


"Baru 5 menit yang lalu sih." Jawan Akifa.


"Ayolah kita ke kelas, bentar lagi bel Upacara bunyi." Ajak Alfi.


Mereka ber 6 pun naik ke lantai 3 menuju kelas.


"Kangen juga rasanya sama kelas ini, udah 9 hari kalo ngga salah kita ngga masuk, iya kan Yang?." Tanya Zarine.


"Hmmm, kamu bener." Jawab singkat Rafka.


"Nih yaaa, kalian berdua walaupun ngga usah sekolah sekali pun tetep aja good dalam pelajaran?." Puji Akifa.


"Bener kata Akifa." Celutuk Abdiel.


Rafka Zarine hanya tersenyum menggapi Akifa dan Abdiel.


'Ring... ring... ring... ." Bel berbunyi.


"Asli! Gua males bat mau Upacara." Keluh Alfi.


"Lagi pula kalo kita ngga ikut alasannya apa?." Tanya Akifa.


"Sakit?." Saran Alfi.


"Huts, ngga boleh bohong, omongan itu doa, kalo tiba-tiba kalian sakit beneran gimana?." Nasihat Zarine.


"Iya Bu Nyai, ayolah kita kelapangan." Ajak Akifa.


Setelah perdebatan kecil itu selesai.


6 serangkai turun kelapangan Upacara.


40 menit berlalu, Upacara selesai.


Semua siswa siswi masuk kekelas masing-masing dan mulai pelajaran.


Di kelas 12 IPS 1 pelajaran Sejarah sedang berlangsung.


Pelajaran yang baik sebagian siswa siswi sangat membosankan.


Dibangku sebelah selatan, Rafka, Abhi, dan Abdiel menumpuk kedua tanganya dan tidur.


Sedangkan Akifa dan Alfi menyangga kepala dengan sebelah tangan.


Kalo Zarine? Cewek berhijab putih itu sedang serius mentapa papan tulis dan mencatat poin-poin yang penting.


Saat Bu Silvi menatap kearah para murid, beliau terkejut.


"Astaughfirullah!!!, kalian semua!!, bangun!!." Seru Bu Silvi.

__ADS_1


Sontak seluruh kelas terjaga karena terkejut.


"Ngga tahun yang lalu, ngga yang sekarang, sama aja hobinya molor!, sekarang buka buku paket kalian halaman 203, kerjakan semua soalnya, Ibu beri waktu sampe nanti jam pulang sekolah, kalo telat ngumpulin, siap-siap keliling lapangan 3 kali." Seru beliau dengan keluar dari kelas.


"Buset?!, beneran ini?." Kejut Abdiel.


"Kenapa?." Tanya Zarine.


"100 soal." Beritau Abdiel.


"Hehehe, udah kita kerjain aja, itu juga salah kita yang udah ngga perhati in pelajaran beliau." Kata Zarine.


"Abisnya ya, pelajarannya Bu Silvi bikin ngantuk, ceritanya masalah masa lalu, siapa coba yang ngga ngantuk dengerin?." Celutuk Akifa.


"Ya udahlah, kuy dikerjain aja biar cepet selesai, Guru Bahasa Indonesia cuti melahirkan." Beri tahu Alfi.


"Tau dari mana Lo kalo Bu Riris cuti?." Tanya Abdiel.


"Dari wali kelas." Jawab Alfi.


6 serangkai mengerjakan 100 soal hingga jam istirahat.


'Ring... ring... ring... .'


"Alhamdulillah." Ucap 6 serangkai lega.


"Akhirnya ya Allah!." Seru Abdiel.


"Ya udah kita kekantin sambil ngasih ini ke Bu Silvi langsung kuy." Ajak Akifa.


"Iya deh, perutku juga butuh asupan, hehe." Kekeh Zarine.


Mereka keluar kelas dan kemudian menuju keruang Bu Silvi.


"Assallammu'allaikum?." Salam 6 serangkai kompak.


"Wa'allaikum sallam, masuk." Suruh Bu Silvi.


Zarine dan Rafka masuk dulu, didalam Bu Silvi sedang fokus pada laptobnya.


"Ehem, Bu? Kita mau ngumpulin tugas." Dehem Zarine.


Bu Silvi mendongak kan kepala untuk melihat siswa yang menghadapnya sekarang.


"Ouh kalian ber 6? Letak ka disitu saja bukunya, hey kalian berlima." Tunjuk Bu Silvi pada Rafka, Abhi, Abdiel, Akifa, dan Alfi.


"Iya Bu?." Jawab Akifa.


"Jangan tidur di pelajaran saya lagi." Peringat Bu Silvi.


"Susah Bu." Cekutuk Abdiel.


"Apanya yang susah? Tinggal fokus hadap kedepan dan dengerin semua penjelasan saya." Kata Bu Silvi.


"Bu Silvi, pelajaran Bu Silvi itu kaya dongeng ditelinga kami, jadi refleks gitu Bu, mata kami merem." Alasan Akifa.


"Alasan saja!, ya sudah sana keluar, pokoknya saya tidak mau kalo sampe kalian ulangi lagi perbuatan tidur dikelas, saya bikin nilai Sejarah kamu kebakaran!." Ancam Bu Silvi.


"Buset! Sadis amat dah." Gumam Abdiel pelan yang sayangnya masih didengar Bu Silvi.


"Saya bisa lebih jahat dari ini Abdiel." Tajam Bu Silvi.


"Iya Bu, laksanakan... in syaa allah." Kata Abdiel yang sukses membuat mata Bu Silvi membulatkan sempurna.


"Abdiel?!!." Seru Bu Silvi.


Abdiel yang mendapat teriakan itu segera lari dari ruangan beliau.


"Maaf Bu! Assallammu'allaikum!!." Teriak Abdiel.


"Bu, saya minta maaf atas kekurang ajaran Abdiel tadi ya." Mohon Akifa.


"Huhhh!!, ok ngga papa kok Akifa." Jawab Bu Silvi dengan tersenyum manis.


"Kalau begitu, kami semua permisi dulu Bu, assallammu'allaikum." Salam Zarine.


"Iya, wa'allaikum sallam." Jawab Bu Silvi.


Mereka berjalan kekantin dan duduk ditempat biasa.


Disana juga sudah ada Abdiel.


"Keterlaluan kamu tadi Yang." Sungut Akifa.


"Ya maap, aku emang ngga bisa janji kalo ngga tidur disaat pelajaran beliau, dengerin penjelasan dari Bu Silvi kaya dengerin dongeng dari Mama." Jelas Abdiel panjang lebar.


"Udah!, jan bahas dongeng, ayo makan Gua asli laper banget, capek bergelut ama 100 soal." Kata Alfi.


Rafka, Zarine, Alfi, Abhi, Abdiel, dan Alfi memesan makanan lalu kemudian mereka memakannya pesanannya dengan lahap.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Lika & Komennya ditunggu...


Maaf ngga nyambung🙏😢


Jaga kesahatan readers

__ADS_1


Salam Sayang dari ViCa😍.


__ADS_2