
"Jangan benci orang terlalu dalam Ma, ngga baik tau." Tutur Papa memberi tahu.
"Ya Mama tau itu, lagi an Mama ngga benci, cuma ngga suka aja sama cara-cara Sari dalam kompetisi mendapat kan cinta." Berbicara masih dengan nada ketus tak bersahabat.
"Tapi kalo mereka dateng ke hadapan Mama untuk mints maaf apa Mama akan memaaf kan nya kan?." Tanya Tika.
"Iya Mama maafin walau ada sedikit rasa tak terima." Jawab Mama.
"Maklum kalo itu, kalo mau berusaha buat hilang rasa itu in syaa allah akan hilang." Bunda Zarine menimbrung obrolan.
"Kalo lain nya? Bakal maafin kan?." Tanya Zarine melihat wajah orang yang ada di ruang santai rumah nya ini.
"Bunda dan pasti juga Ayah udah maafin." Jelas Bunda.
"Kita maafin." Jawab Mama Papa Akifa, Abdiel, Abhi, Papa Rafka, Bang Rafa, Bang Idan.
"Yaaa kami juga maafin." Timpal Mami Papi Alfi.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Yaa... baik nya seperti ini, saling memaaf kan." Kata Mama Abdiel
"Kita dendam ngga ada guna nya, malah dapet dosa." Timpal Papa Abdiel.
"Huufffh, ok ok bakal di maaf in, ngga akan nyimpen dendam, atau lain nya deh." Mama Rafka pun melunak.
Semua orang tersenyum senang mendengar nya.
"Kabar Roy Sari udah jelas, sekarang kabar nya Shita, Rendra, Andi dan Panji gimana ya?." Bunda bertanya-tanya.
"Kak Raina telponin mereka ber 4 dong." Pinta Zarine pada Raina.
"Boleh tuh, aku juga lagi kangen sama orang yang hobi halu yang satu itu." Kata Raina.
Dia mengeluar kan ponsel nya dari dalam kantong rok nya.
Zarine, Akifa, dan Alfi buru-buru mendekat ke arah Kak Raina.
Kak Raina berseluncur dengan whatsapp nya, dia mengetik di pencari an dengan nama *"Ratu Halu"*.
"Lucu banget nama nya." Kata Zarine sambil terkikik geli.
"Hehehe... dia kan hobi nge halu, jadi Ratu Halu adalah julukan yang pas." Jelas Raina.
Kak Raina mulai menelfon Shita.
'Tut... tut... tut... .'
Memanggil... .
10 detik menunggu.
Berdering... .
"Lama banget, lagi tidur kah dia?." Gumam Kak Raina.
Lalu... .
"Hmmm? Halo? Siapa sih? Ganggu aja, ngga tau orang lagi tidur yak?!." Sungut Shita di sebarang sana.
Dia tidak sadar siapa yang sedang menelfon nya.
"Hihihi... marah dia nya." Zarine terkikik geli.
"Ayo kerjain." Sifat jail Akifa keluar.
"Kerjain apa? Gimana? Apa topik nya?." Tanya Alfi beruntun.
"Biar aku aja yang jailin." Kata Akifa dengan menyeringai jahat.
"Halo?! Woy?! Kurang kerjaan banget kalian?!." Orang di seberang sudah berteriak kesal.
"Et dah buset udah kaya di hutan aja di teriak." Celutuk Bang Rafa.
"Hehehe maaf semua nya maaf banget atas ketidak sopanan Shita." Ucap Raina tak enak hati.
"Iya ngga papa, wajar aja kalo dia marah lagi tidur di ganggu, hehehe." Kekeh Bunda.
Sedari tadi saat telepon menunjuk kan 'Berdering...' Kak Raina sudah men speaker suara Shita agar satu ruangan mendengar.
"Oy?! Halo?! Halo?!." Seru Shita.
"Ehem." Akifa berdehem.
"Halo? Dengan Mbak Shita?." Sebut Akifa dengan suara khas laki-laki.
"Siapa nih?." Tanya Shita.
"Mbak Shita, selamat anda menang lotre uang tunai sebesar 500 milyar rupiah." Kata Akifa sambil menahan tawa.
"Hah?!." Di tempat Shita, tepat nya dalam kamar, dia terkejut.
Mata nya langsung mengerjap terang dengan mulut menganga.
"Be... beneran Mbak? Eh Mas? Ini Mas apa Mbak?." Tanya Shita.
"Iya Mbak benar, untuk mendapat kan uang tunai 500 milyar itu, anda harus pergi mandi dan melihat nama kontak ini." Jelas Akifa.
Di ruang santai rumah Rafka semua orang sudah cekiki kan menahan tawa.
"Ba-, tunggu dulu? Mandi? Liat nomer kontak ini?." Shita melihat nomer kontak yang menelfon nya ini.
Tertera nama *"Kak Hujan".*
"Allahu Akbar!." Seru Shita dari seberang.
Dapat di dengar bahwa dia terkejut.
Sontak saja orang yang sedang ada di ruang santai rumah Rafka Zarine suara tawa nya pecah.
'Aduh mati Gua, mana bentak-bentak lagi tadi, di sana kaya nya lagi ngumpul semua deh.' Batin Shita tak enak.
"Halo semua? Assallammu'allaikum." Salam sapa Shita.
"Wa'allaikum sallam, apa kabar Ta?." Semua orang menjawab dan bertanya kompak.
"Alhamdulillah baik, kalian sendiri di sana gimana?." Tanya Shita.
"Kita semua sehal wal'afiat." Jawab Kak Raina.
"Emm... mohon maap ya tadi bentak-bentak, soal nya ngga liat dulu tadi siapa yang telefon, jadi langsung nge gas, maap semua nya." Ucap Shita dengan perasaan masih tak enak hati.
"Ngga papa Ta, kita maklum, kamu di sana lagi tidur, seharus nya kita yang minta maaf karena ganggu, maaf ya." Kata Bunda lembut.
"Ngga ganggu sama sekali kok Te, Shita malah seneng kalo di telefon gini." Kata Shita.
"Kamu tidur jam berapa kemarin malam Ta? Baru bangun kamu kan? Pasti belum makan, paling bangun cuma mandi terus sholat, iya kan?." Tebak Raina.
"Tidur hampir subuh tadi, aku di kejar deadline, dan kemarin banyak pesenan kue juga, jadi lembur deh." Jelas Shita.
"Rendra, Andi, ama Panji ngga bantu in?." Tanya Alfi.
"Boro-boro bantu in, mereka ber tiga ngacau yang ada, masa di suruh taburin kue pake gula malah di tabur pake tepung." Keluh Shita.
"Buahahaha." Tawa yang muda-muda pecah mendengar suara curhatan Shita.
"Terus pelaku nya gimana?." Tanya Mama Rafka.
"Ya gitu... cuma nyengir kek kuda, dengan wajah tanpa dosa, jengkel aku nya, pengen rasa nya muka nya aku tabur gula pasir se kilo aja jangan banyak-banyak." Geram Shita.
"Sabar itu kan calon kamu." Kata Mama Abdiel.
"Hehehehe iya Te." Balas Mama Abdiel.
"Emmm... Om? Tante? Om Adib mana? Kok dari tadi ngga denger suara nya?." Tanya Shita.
Semua orang yang mendengar pertanyaan Shita, diam bungkam di tempat lalu saling pandang.
"Halo? Kalian masih ada di sana kan?." Tanya Shita.
'Kenapa mereka diam? Kenapa pertanyaan ku mereka jawab dengan kebungkaman? Ada apa ini? Pasti terjadi sesuatu.' Batin Shita berucap.
__ADS_1
"Apa semua nya baik-baik saja di sana?." Tanya Shita.
"Ya semua nya baik Ta." Jawab Mama Rafka.
"Kamu tadi tanya Om Adib ya? Beliau udah ngga ada Ta, udah pulang ke sisi-Nya." Beri tahu Bunda kepada Shita.
"Astaghfirullah hal adzim, innalillahi wa inna illahi rojiun, maaf Te Shita ngga tau maaf banget." Sekali lagi Shita berbicra dengan tak enak hati.
"Ngga papa Ta, kamu kan posisi emang ngga tau karena kita ngga ada yang ngasih tau." Jawab Mami Alfi.
"Kami di sini, turut berbela sungkawa ya Te, semoga almarhum di tempat kan di tempat yang layak di sisi Allah, dan semoga amal ibadah nya di terima di sisi-Nya." Doa Shita tulus terucap.
"Aamiin, makasih Ta." Ucap semua orang kompak.
"Ta? Rendra, Andi, Panji ikut tidur di rumah kah?." Tanya Kak Rain.
"Iya, ada tuh mereka di kursi teras depan." Kata Shita.
"Mereka tidur di teras rumah?, hahahaha." Tanya tak percaya Abdiel sambil di iringi tawa.
"Kalo tidur di dalam rumah, bisa di grebek warga satu desa kita ber 4." Celutuk Shita.
"Bukan hanya di grebek kalian, tapi juga mungkin langsung di nikah kan paksa, hahaha." Seru Mama Abdiel.
"Kalo Rendra ama Shita doang yang nikah sih enak Te malah alhamdulillah, tapi kalo 2 jomblo karatan itu ikut nikah gimana? Mereka pacar aja ngga punya, mau nikah sama siapa? Masa sama pohon pisang? Hahaha." Shita menertawa kan ke jomblo an Andi dan Panji.
"Mungkin, hahaha." Kelakar orang di seberang nya lagi.
"Mereka sekarang udah pulang kah Ta?." Tanya Mama Tika.
"Udah dari subuh tadi Te, itu pun Shita yang bangunin." Jawab Shita.
"Berapa gayung?." Tanya Raina yang tak di pahami maksud nya oleh orang-orang di sebelah nya.
"Apa nya yang berapa gayung Yang?." Bingung Bang Rafa.
"Shita itu kalo bangunin orang lagi tidur ngga bisa lembut, biasa guyur pakek air, kalo se gayung sih mending, tapi biasa nya dia kalo guyur 1 ember sedang." Panjang lebar Raina.
"Hahahaha, beneran itu Ta?." Tanya Zarine.
"Hehehe iya, percuma juga di bangunin lembut, halus, suara mendayu-dayu, orang tidur nya Rendra sama dua temen nya kek mayat, mau teriak pake toa di telinga nya juga mereka ngga bakal bangun, ya jadi cara ampuh adalah guyur pakek air kalo perlu se sumur-sumur nya di tumpahin ke mereka, hahaha." Shita tertawa jahat.
"Uyyy sadis nyaa." Canda Alfi.
"Hahaha." Tawa penelfon dan penerima telfon meledak.
Lalu di tempat Shita, terdengar orang mengetuk pintu.
"Ta buka gih, kaya nya ada yang dateng tuh, pintu rumah ada yang ngetuk Dek." Suruh Rain.
"Iya bentar Kak." Jawab Shita.
Shita berjalan ke arah pintu rumah.
"Siapa sih yang bertamu? Ngga tau Gua mager apa?." Gerutu Shita yang masih bisa di dengar penelfon.
"Udah jan ngedumel, siapa tau itu Rendra dan kawan-kawan." Kata Rain menyahuti dumelan Shita.
"Iya Kak Rain OTW ini." Kata Shita.
"Siapa di sana?." Sebelum membuka pintu Shita menanyai sang pengtuk pintu.
"Ini Gua Yang!." Suara Rendra.
"Yang Yang pala Lu peyang!." Dengus Shita.
"Cieeee Shita... ." Orang di seberang sudah mulai memggoda.
"Kamu telepon sama siapa?." Tanya Rendra dengan berjalan masuk ke dalam di ikuti Andi dan Panji.
Suara Rendra terdengar di tempat Raina.
"Dra? Assallammu'allaikum?." Sapa Raina pada calon Adik Ipar nya.
"Wa'allaikum salam, eh Elu Rain? Apa kabar Lo di sana?." Antuasias Rendr menjawab.
"Alhamdulillah baik sehat wal'afiat." Jawab Raina.
"Kabar Om Tante, sama yang muda-muda gimana?." Tanya Rendra, dia tak tau kalau mereka semua sedang berkumpul, pertanyaan itu dia tujukan untuk Rain.
"Alhandulillah kita sehat Dra." Jawab Mama Rafka mewakili semua.
"Wah lagi ngumpul yak ini?." Tebak Rendra.
"Iya Dra, Panji sama Andi mana?." Tanya Bang Rafa.
"Selebritis, seleb gatal-gatal kali." Kata Raina.
"Itu bukan seleb, tapi salep." Ralat Andi.
"Apa pun itu intinya sama-sama akhiran 'Lep' kan, hahaha." Tawa Raina.
"Iya dah biar cepet." Pasrah Rendra, Andi, dan Panji bersamaan.
"Ouh iya, Zarine, Akifa, Alfi, Kak Rain, Tika gimana?." Pertanyaan Shita yang tak jelas arah pembicaraan nya.
Shita, Rendra, Andi dan Panji sedang duduk di ruang santai saat ini.
"Apa nya yang gimana Ta?." Tanya Kak Rain lagi.
"Udah pada isi belum?." Perjelas Shita.
"Ouh... perkara itu, kamu pengan jawaban apa?." Goda Raina.
"Jawaban apa pun deh, kalo bisa yang bikin bshagia." Jawab Shita cepat.
"Zarine, Alfi, sama Akifa lagi isi sekarang." Jawab Bunda bahagia.
"Alhamdulillah." Ucap Shita, Rendra, Andi, Panji.
"Buat Kak Rain sama Tika, sabar dulu yak, kalian baru nikah saty bulan yabg lalu, mungkin bentar lagi nyusul perut nya ikit ada baby nya." Hibur Shita.
"Iya kita selalu sabar, dan akan lebih giat bikin nanti." Jawab Bang Idan.
"Hahaha." Tawa pecah menggemah.
Sedangkan Tika dan Kak Raina pipi mereka sudah memerah bak tomat karena malu.
Jika Shita mengetahui, pasti lebih gencar dia menggoda Tika dab Kak Rain.
"Kalisn berdua kapan nikah nya? Kok kita belum di kasih kabar?." Tanya Kak Raina mengalih kan penbicaraan.
"Kita mau menyesuai kan dulu sama liburan srkolah, paling bulan Maret atau ngga bulan April." Jelas Rendra.
"Kita mau nya kalian senua juga ikut meraya kan di sini." Kata Shita.
"Kaya nya ngga bisa deh Ta, di sini juga mau ngadain resepsi, apa lagi dengan kondisi Zarine, Akifa, Alfi yang lagi hamil muda, ngga boleh terlalu capek." Penuh sesal Raina mengatakan nya.
"Ya kalo memang ngga bisa ngga papa, kita juga ngerti, dari kalian kita minta doa nya aka deh biar acara nya lancar." Pinta Shita.
"Pasti Ta, pasti kita doa in yang terbaik, kalo udah nikah atau udah lahiran deh, kalian yang ke sini, atau bisa juga kita yang ke sana." Mama Rafka mengusul kan pendapat nya.
"Ide Tante boleh tuh, kita liat nanti deh." Kata Rendra.
"Oy Andi?." Panggil Raina.
"Hah? Apa an Lu panggil-panggil?." Sahut Andi di seberang, dia sedang nyemil kacang sambil liat TV di ruang santai rumah Shita.
"Lo ngga mau ikut nikah juga kah?." Tanya Raina.
"Si Andi lagi nunggu Dini Kak!." Seru Shita.
"Oh cewek yang kita temuin pas jalan-jalan, yang waktu kita ke Puncak itu kan?." Tebak Bang Rafa.
"Iya Kak cewek itu." Jawab Shita.
"Mau kita bantu buat nyari in dia Andi?." Tawar Mama Rafka.
"Aku ngga lagi nunggu siapa-siapa, lagian si Dini tuh masih bocil, masa Gua sama bocil sih?." Kata Andi.
Dia menggeleng kan kepala pelan.
"Kalo Allah bilang itu jodoh Lo, se jauh apa pun Lo lari tetep aja bakal balik Ndi." Nasihat bijak Rafka.
"Adohhh males bahas jodoh Gua, ujung-ujung nya malah ngarah ke Dini." Putus Andi.
"Hahahahaha." Mereka semua kompak menertawa kan Andi.
"Andi udah di tanya, sekarang Panji, Lo gimana Ji? Kapan nikah?." Tanya Bang Rafa.
"Panji ngga ada, dia udah pulang." Kata Panji dengan suara di buat berbeda.
"Jan ngelak Lu anak unta, jawab." Seru Kak Raina.
"Ck! Tau aja Lo Kak." Decak malas Panji.
"Ayo jawab Ji, kapan Lo nikah?." Tanya Raina.
__ADS_1
"Nanti umur 50 tahun." Jawab ngawur Panji.
"Mau jadi perjaka tua Lo?! Keburu end hidup Lu Ji." Celutuk Abhi.
"Nikah lah Bhi, janda juga kagak papa lah, asal janda jangan punya anak, pilih janda kembang, cari di desa sebalah atau di sekitaran sana deh pokok nya." Suruh Raina.
"Kenapa kamu nyuruh nya cari janda?." Tanya Bang Rafa heran.
"Karena yang janda udah pasti janda, sedang kan kalo perawan belum tentu perawan." Jelas Panji.
"Nah... bener!." Celutuk Raina.
"Tapi kan ngga semua nya kaya gitu juga." Cetus Akifa berbicara.
"Yaaaa memang sih, udah lah... jan bahas jodoh, ganti topik." Pinta Panji.
"Lo di sana tenang aja Kak Rain, kita semua bakal nikah, nanti di saat yang tepat." Timpal Andi menjawab.
"Jodoh, maut, rejeki Allah yang atur Kak, kalo nanti udah waktu yang tepat juga bakal di kasih." Kata Shita bijak.
"Hmmm enggeh Bu Nyai (hmmm, iya Bu Nyai)." Singkat Kak Rain.
"Makasih loh udah di panggil Bu Nyai, besok-besok ganti panggil Bu Hajah yak." Kelakar Shita.
"Iya in deh biar cepet." Pasrah Rain.
"Hahahahaha... ." Pecah tawa se ruangan.
Dari tempat Shita, adzan asyar telah berkumdang.
"Kak Rain, semua nya? Telefon nya Shita tutup dulu, adzan asyar udah berkumdang, nanti kita lanjut ya?." Pamit Shita pada Kak Raina dan lain nya.
"Iya Ta." Balas Raina.
"Assallammu'allaikum!." Salam Shita, Rendra, Panji, Andi.
"Wa'allaikum sallam!." Jawab Raina dan lain nya kompak.
'Tut... .'
Sambungan telefon terputus.
Di rumah Shita.
"Nih Lo makan dulu, Ibu masak ke banyak kan, jadi beliau nyuruh buat di kasih ke Elu." Kata Rendra.
"Nanti ntar piring nya biar Gua balikin sendiru deh." Kata Shita.
"Ta? Lo tadi lama ngga telefonan sama mereka?." Tanya Andi.
"Lumayan lah, kenapa emang nya?." Tanya balik Shita pada Andi.
"Gua... tadi... kok ngga denger suara Om Adib Ayah nya Zarine sih, beliau kemana?." Tanya Andi lagi.
"Eh... iya loh Gua baru sadar kalo suara beliau ngga ngeliarin suara." Sadar Rendra.
'Khemmmm... huuufffhhhh.' Shita menarik nafas lalu menghembus kan nya perlahan.
"Gua baru tau, kalo beliau udah ada di sisi Allah." Jawab Shita.
"Innalillahi wa inna illahi rajiun... kapan meninggal nya? Karena apa penyebab meninggal nya?." Tanya Panji.
"Gua ngga tanya itu sama mereka, setelah Gua tau kalo Om Adib ngga ada, Gua langsung bahas topik lain nya, ngga mau bikin orang sedih Gua." Jawab Shita pada 3 pria di depan nya ini dengan jujur.
"Ya udah kaya nya kita aja yang ke sana nanti kalo udah sah nikah, janga mereka yang ke sini, kasihan 3 bumil nya kecapek an nanti, apa lagi hamil di usia muda harus banyak istirahat." Rencana Rendra.
"Kalo resepsi mereka? Kita ngga dateng nih?." Shita bertanya.
"Mereka nanti bakal ada 5 kali ngada in resepsi, yang pertama Rafka Zarine dulu, Abdiel Akifa, Abhi Alfi, Kak Zaidan Tika, terakhir, Kak Rafa Kak Raina, kita dateng pas acara nya Kak Rafa Kak Raina aja." Ujar Rendra.
"Boleh deh, kalo satu bulan sekali ke sana, buat dateng ke resepsi mereka, bisa tua di jalan kita, hahaha." Tawa Shita terdengar.
Setelah pembicaraan tentang rencana ke Jakarta, Rendra, Andi, dan panji pamit pulang.
Sedangkan Shita mandi dan sholat ashar.
Di tempat Rafka Zarine.
Mereka semua yang ada di ruang santai masuk ke kamar masing-masing untuk melaksana kan sholat ashar.
Selesai sholat, mereka diam ada di dalam kamar tidak berniat keluar.
Rafka Zarine berbaring di atas ranjang dengan tangan ke dua nya mengelus perut Zarine.
"Kita pindah besok ke kamar tamu di bawah." Beri tahu Rafka.
"Ngga mau." Tolak Zarine manja sambil mengerucut kan bibir nya.
"Ngga usah di maju-maju in gitu bibir nya, minta di cium ya? Hm?." Kata Rafka gemas.
Tangan nya mengunyel pipi dan bibir Zarine gemas.
"Perkataan ku tadi perintah bukan penawaran." Tegas Rafka.
Makin maju bibir Zarine cemberut.
"Uh... lucu banget istri aku kalo lagi cemberut, denger ya Ibu negara ku... kita pindah ke kamar lantai bawah itu demi kesehatan kamu dan Baby twins." Jelas Rafka lembut agar sang istri mengerti.
"Tapi kan bisa nunggu 7 atau 8 atau 9 bulan nanti." Cetus Zarine berusaha menolak.
"Lebih cepat lebih baik, denger... aku ngga doa in yah, tapi aku takut terjadi sesuatu kalo kamu naik turun tangga, apa lagi aku ngga selalu ada di samping kamu, please ya Sayang ku, Ibu negara ku, cinta ku, turuti mau ku." Rayu Rafka pada Zarine.
Zarine terkekeh mendengar rayu an maut Rafka sang suami tamvan nya.
"Kamu belajar dari mana ngerayu kaya gitu?." Tanya Zarine masih dengan kekehan nya.
"Ngga belajar dari mana-mana, cuma belajar dari insting aku sendiri." Polos Rafka menjawab.
"Hehehe ok deh, aku mau pindah kamar." Setuju Zarine.
"Alhamdulillah! Gitu kek dari tadi, lagian ngga akan lama Yang, sampe kamu Baby twins lahir setelah itu kita kembali lagi ke kamar ini." Kata Rafka.
"Yang?." Panggil Zarine.
"Hm?." Sahut Rafka.
"Kalo kuliah nanti jangan ngelirik cewek lain loh, inget Baby twins sama istri di rumah." Pesan Zarine.
"Hahaha... istri aku lagi cemburu ya... tenang aja Yang, is syaa allah kamu satu selama nya, di hati aku di pikiran aku, dan di dalam hidup aku, cuma kamu sama baby twins." Yakin Rafka.
"Aku harap gitu, soal nya kan di kampus pasti banyak cewek cantik sexy nya." Gumam Zarine pelan.
"Hei? Kamu percaya sama aku kan Yang?." Tanya Rafka sambil menegak kan tubuh Zarine dan menghadap kan wajah nya ke Rafka.
Mata mereka bertemu dan saling mengunci.
Jantung ke dua nya berdetak cepat, pipir Zarine sudah memerah malu, kemudian dia menunduk kan kepala nya memutus kan kontak mata dengan sang suami.
'Aduh jantung... please deh." Gerutu Zarine
'Jantung ku mau loncat, lihat Zarine sudah hampir dua tahun, jantung aku masih berdegug kencang jika kontak mata sama kamu, aku ngga bakal cari ganti kamu, bahkan sampai Allah pisahin kita.' Batin Rafka bersuara.
"Kamu percaya kan sama aku?." Tanga Rafka lagi sambil menaik kan dagu Zarine.
"Iya, aku percaya sama kamu." Jawab tegas Zarine.
Rafka merengkuk tubuh mungil Zarine ke dalam pelukan nya.
"Terus lah percaya padaku."
-
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalo garing😢🙏
Maaf typo di mana-mana🙏😢
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran😢.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1