
Hari ini adalah hari ke 7 idul fitri.
Siang ini Bang Idan dan Bang Rafa akan kembali kerantauannya.
Bang Idan yang mengatakan akan pulang satu bulan lagi, nyatanya harus kembali secepatnya karena perusahaan membutuhkan CEO-Nya.
Dirumah keluarga Fathan, semuanya berkumpul untuk mengantar kepergian Bang Idan dan Bang Rafa.
"Asli jatohnya kita kaya berangkat perang." Bisik Bang Idan pada Bang Rafa.
"Hehehe, udahlah biarain aja." Balas Bang Rafa.
"Ma, Pa, Tante-tante dan Om-om, gak usah dianter ke bandara ya, kita berangkat sama sopir aja." Pinta Bang Rafa.
"Lah? Kita anter aja ke bandaranya?" Kata Ayah Zarine.
"Yah, kita itu mau berangkat kerja, bukan berangkat perang, udah ya kita pisah disini ngga usah pake nganterin ke bandara segala." Kata Bang Rafa.
Saat Bang Idan dan Bang Rafa berpelukan dengan kedua orang tuanya masing-masing, tiba-tiba Abdiel bernyanyi... .
"Ku menangisssssss... ."
"Membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku." Sambung Akifa.
Sontak saja semua tertawa terbahak mendengar suara fals 2 orang yang akan menikah bulan ini
"Ini jatohnya sinetron ya." Kata Mami Akifa.
"Ya udah semuanya, kita berangkat." Pamit Bang Rafa.
"Bang? Kalian bakal dateng ke nikahan kita kan?." Tanya Abdiel dan Abhi bersamaan.
"Gua usahain deh." Jawab Bang Idan.
"Kalo Gua pasti lah Diel, Bhi, masa Gua deket ngga dateng, Jakarta-Surabaya ngga jauh-jauh amat lah." Janji Bang Rafa.
Abdiel, Abhi, Alfi, Akifa menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Ya udah kita berangkat, assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa dan Bang Idan bersamaan.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semuanya.
Semua orang melambaikan tangan sampai mobil yang ditumpangi Bang Idan dan Bang Rafa menghilang ditelan belokan.
Setelah mobil tak terlihat, mereka masuk kedalam rumah duduk diruang keluarga.
"Ouh iya, persiapan nikahnya gimana?." Tanya Papa Rafka.
4 keluarga khususnya para Ibu-ibu antusias menjawab.
"Alhamdulillah semua persiapan hampir siap." Balas Mami Alfi.
"Ngga nyangka ya kita jadi keluar besar beneran, bukan hanya sekedar keluarga bersahabat." Kata Papi Alfi.
"Iya, alhamdulillah kekerabatan kita makin kuat." Kata Ayah Zarine
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang pecah dari arah luar.
'Ctarrrr.' (Anggep aja suara pecah😂)
Semuanya berlari kearah depan.
Dan terlihat disana sebuah kotak seperti kado tergeletak didekat pecahan kaca.
"Kurang kerjaan banget yang mecahin kacanya." Kata Papa Abhi.
Zarine memungut bungkusan kado itu.
Dia membukanya tak berapa lama dia melempar kadonya itu.
__ADS_1
Zarine jatuh merosot kelantai, badannya bergetar hebat karena ketakuatan.
Nafasnya memburu lalu dia memegang, mencengkram kepalanya erat.
"Ahhhhkk, buang benda itu!!." Teriak Zarine histeris.
Zarine berteriak dengan menangis.
Rafka memeluk istrinya itu.
"Buang!!! Ahhhhk!!!." Teriak Zarine histeris.
"Tenang Yang, tenang dulu." Rafka panik semaunya juga ikut panik.
Lalu Alfi memungut kembali kado tadi dan melihat isinya.
"Alfi buang itu Al!! Ahhhhk!." Setelah berteriak Zarine kehilangan kesadarannya.
"Yang?! Astaghfirullah." Rafka makin panik saat Zarine pingsan.
Dia segera mengangkat istrinya kekamar diikuti Bunda Zarine yang juga menangis tak henti-hentinya mengkhawatirkan anaknya.
Sampai dikamar, Mama Rafka segera menelpon Dokter keluarga Fathan.
20 menit menanti dokter datang dan memeriksa kondisi Zarine.
30 menit berlalu, Dokter pun keluar.
"Phobia Nona Zarine kambuh, dan itu menyebabkan dia pingsan, mohon jauhkan dari hal yang memicu phobianya kambuh. Sebentar lagi Nona Zarine akan sadar, dan juga jangan ada yang membahas penyebab dia pingsan." Kata Dokter Hanry menjelaskan.
"Terima kasih Dok." Ucap semuanya yang mendengar penjelasan Dokter.
Dikamar Rafka Zarine.
Suasana hening, mereka berpikir, orang iseng mana yang membuat teror ini?.
"Gua pikir phobia dia udah ilang." Kata Akifa memecah keheningan.
"Siapa? Siapa yang tau kalo Zarine phobia itu?." Tanya Abhi.
"Apa isi kotak tadi?." Tanya Ayah Zarine.
"Pisau berlumur darah." Jawab Alfi.
"Allahu Akbar." Kaget semua orang.
"Ini ngga mungkin si Medusa (Sari) yang kirim." Kata Akifa.
"Kenapa ngga mungkin?." Tanya Rafka yang paham siapa 'Si Medusa' dimaksud Akifa.
"Dia baru kenal sama Zarine Raf, jelas ngga mungkin, apalagi disekolah ngga pernah ada hal yang membuat phobia dia kambuh." Jelas Alfi panjang lebar.
"Itu bener Raf, bisa jadi ini seseorang yang lumayan deket sama Zarine, selama ini kan cuma kita yang ada diruangan ini yang tau kalo dia phobia darah." Timpal Abhi.
"Siapapun itu, Gua ngga bakal tinggal diam." Kata Rafka.
Abhi dan Alfi mengepalkan tangan kuat.
"Dia bakal habis ditangan Gua." Ucap Alfi dingin dengan pandangan menggelap dan tatapan tajam.
Mami Alfi menggenggam tangan suaminya takut.
Ini sisi lain dari Alfi yang sangat ditakuti oleh Maminya.
Sisi tempramentalnya.
Sifat tempramental Alfi menurun dari Maminya.
Tapi Mami Alfi sudah tidak semenyeramkan dulu.
__ADS_1
Kalau waktu jaman sekolah dulu, Mami Alfi sama seperi Alfi bahkan lebih parah.
Dia tak segan-segan menghajar, bahkan membunuh, jika orang lain mengusik ketenangannya atau orang didekatnya.
Setelah pembicaraan itu berakhir.
Zarine mulai sadar.
"Rafka?." Panggil Zarine.
"Alhamdulillah kamu udah sadar Yang." Ucap Rafka lega.
"Minum dulu." Kata Bunda dengan membantu anaknya minum.
Semuanya bisa bernafas lega sekarang karena Zarine sudah sadar dan tenang.
Disisi lain dan waktu yang sama 2 orang perempuan dan laki-laki sedang senang.
"Gua yakin dia pasti histeris disana." Kata seorang
"Bahkan mungkin dia pingsan." Kata Laki-lakinya.
"Senang kerja bareng Lo Rendy." Kata sang perempuan dengan senyum sinisnya.
"Gua juga seneng kerja bareng Lo Sari." Kata sang laki-laki.
Ternyata benar kata Rafka.
Ngga ada yang gak mungkin didunia ini.
"Tapi tetep dendam Gua belum berakhir." Kata Rendy.
"Kita tuntasin semuanya bareng-bareng." Ucap Sari.
Rendy Rizki Maulana.
Pemuda berusia 22 tahun.
Rendy berasal dari asli Surabaya, dia tinggal didekat rumah Zarine dulu sebelum pindah.
Dia dulu adalah orang yang sangat mencintai Zarine walau perbedaan usia yang lumayan jauh.
Sudah sejak usia Zarine 10 tahun Rendy mencintai Zarine.
Tapi Zarine menolak ungkapan cinta Rendy karena sudah menganggap Rendy sebagai kakak, tidak lebih.
Karena penolakan itulah, cinta Rendy berubah menjadi benci dan dendam.
'Lo udah nolak Gua Za, maka Lo harus bersiap Gua bikin sakit, bukan sakit hati, melainkan sakit fisik.' Ucap batin Rendy.
Sari dan Rendy bertemu di bar langganan Sari.
Saat itu keadaan Rendy kacau karena tidak menemukan keberadaan Zarine.
Dan disana jugalah mereka merencanakan kerja sama untuk mencapai tujuan mereka masing-masing.
Sifat Sari dan Rendy banyak persamaan.
Salah satunya, apapun yang mereka inginkan harus didapatkan.
Jika tidak, maka mereka akan menyakiti atau bahkan tak mrmbiarkan menjadi milik orang lain.
Benar-benar jelmaan iblis.
......Bersambung.........
...Like & Komennya ditunggu ya..😍...
...Ouh ya, jangan lupa mampir dinovel baruku......
__ADS_1
...Klik profilku aja😚...
...Salam sayang dari ViCa😋...