Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus empatpuluh tujuh


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU


MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Kalo Ijazah kira-kira kapan yah kita terima nya?." Cetus Akifa bertanya.


"Secepat nya pasti lah." Jawab Abdiel yakin.


"Semoga." Balas Akifa pada suami tercinta nya ini.


'Tring... ring... ring... .' Bel tanda masuk berbunyi menggemah di seluruh penjuru SMA Merdeka.


'Di mohon untuk anak-anak berkumpul di lapangan bola basket membentuh barisan menurut kelas masing-masing.' Suara penguman menggemah memerintah kan murid kelas 12 berkumpul.


"Alhamdulillah deh ngga jauh-jauh ngumpul nya." Ucap syukur Zarine.


"Kalian ciwi-ciwi duduk diem sini aja, biar nanti kita yang ambilin kertas lulusan kalian." Ujar Abdiel mengintruksi.


"Emang ngga papa Yang? Yakin?." Tanya Akifa pada sang suami.


"Udah ngga papa biar kita nanti yang ngomong ke wali kelas." Kata Rafka menyahut.


"Ya udah deh sana kalian pergi berbaris." Usir Alfi.


"Buset dah ngusir nih cerita nya?." Tanya Abdiel.


"Bukan ngusir, cuma nyuruh pergi aja." Kata Alfi membela.


"Sama aja itu nama nya Yang." Ujar Abhi sambil mecubit pelan hidung Alfi yang lumayan mancung.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Udah ngga usah tarik-tarik hidung, cepetan sana baris!." Perintah Alfi sambil mendelik kan mata nya pada sang suami.


"Jangan galak-galak lah Yang, nanti baby kita ikutan kaya kamu lagi." Ujar Abhi sambil berjalan menjauh dari Alfi.

__ADS_1


"Bagus kalo baby kita galak, biar dia ngga terlalu lembut ama orang." Ketus Alfi berbicara.


"Fi? Buah kan jatuh ngga jauh dari pohon nya, jadi kamu tenang aja." Cetus Akifa.


Para pria sudah berjalan ke barisan kelas 12 IPS 1. Hanya Zarine, Akifa, Alfi, Tika yang tersisa di tribun basket.


"Maksud kamu apa Fah?." Tanya Alfi yang tak paham.


"Maksud aku... sikap dan sifat orang tua itu biasa nya nurun ke anak nya, kamu kan orang nya judes tuh, Abhi apa lagi... dingin nya udah kek kutub utara, pasti lah anak kalian besok bakal kek gitu." Beber Akifa panjang lebar.


Alfi diam mencerna ucapan sahabat nya ini.


"Kalo di pikir-pikir bener kata Akifa." Cetus Zarine tiba-tiba yang di angguki Tika.


"Hmmm... kamu bener Fah, jadi aku ngga perlu ngajarin baby aku lagi gimana bersikap dan bersifat sama cowok, ya kan?." Kata Alfi yang spontan di angguki oleh Zarine, Akifa, Tika kompak.


"Udah! Stop bahas sifat dan sikap baby kita nanti nya, mendin kita dengerin cuap-cuap nya Pak Kepala Sekolah aja dulu." Ujar Tika dengan pandangan tertuju pada kepala sekolah diatas podium.


"Tuh podium kapan ada di sana?." Tanya Zarine heran.


"Hahaha... udah dari tadi kali, kalian aja yang sibuk ngerumpi sampe ngga sadar Pak Toha sama Pak Billy dan 2 satpam angkat tuh podium ke tengah lapangan." Jelas Akifa menjelas kan.


'Test! Satu dua tiga di coba.' Kepala sekolah SMA Merdeka mengetest mic yang hendak ia guna kan.


"Duh Allahu Rabbi... jantung ku... dag dig dug ngga karuan nih." Pekik Tika sambil mencubiti lengan Akifa ganas.


"Adoyyy! Dasar Ketiak! Deg-deg an ya deg-deg an ngga pake cubit lengan aku juga kali! Sakit tau." Sewot Akufa sambil mendelik kan mata nya tajam.


"Maaf-maaf, jangan marah dong, hehehe... Mak Ipah kan cuantik banget, kalo marah entar cantik nya ilang loh." Goda Tika sambil menoel dagu Akifa lembut dan reflek sang empu dagu menepis kasar.


"Geli ih! Ngga usah toel-toel!." Jengkel Akifa sambil mengibasi dagu nya yang tadi di toel Tika.


'Assallammu'allaikum warahmatullahi wabarakatuh selamat pagi semua nya!.' Suara salam Kepala sekolah menggemah di seluruh lapangan basket ini, Tika yang ingin menjawab perkataan Akifa saja tidak jadi dan memilih fokus menatap Kepala sekolah.


"Pertama-tama saya ucap kan puji syukur kepada Allah SWT karena telah mempertemukan kita dalam ke adaan sehat wal'afiat di sini, lalu... yang saya hormati para dewan guru dan staf TU dan petugas lain nya yang ada di sekolah ini, serta yang saya sayangi anak murid ku kelas 12 tercinta." Pidato Pak Kepala sekolah di mulai.


"Balal lama banget nih." Bisik Tika pada Akifa dan Alfi.


"Huts!!." Seru Zarine sambil menempel kan telunjuk nya di depan bibir nya.


"Tak terasa sudah 3 tahun kalian di sini dan hari ini adalah hari kelulusan kalian dari sekolah SMA Merdeka." Ucap Pak Kepala sekolah sambil tersenyum.


"Di hari yang cerah ini, kalian akan menerima surat kelulusan beserta nilai-nilai nya di surat ini." Pak Kepala sekolah menunjuk kan sebuah amplop coklat di tangan nya.


"Saya ucap kan selamat untuk kalian yang mendapat nilai terbaik di sekolah." Ujar Pak Kepala sekolah yang tak menyebut kan nama nya.


'Pak?! Sebutin nama dong, siapa murid yang mendapat nilai terbaik!.' Pinta salah satu siswa.


'Iya Pak sebut Pak!.' Pinta siswa lain nya, dan di soraki oleh seantero lapangan.


"Diam!." Seru Pak kepala sekolah keras.


Sontak saja siswa-siswi diam tak bersuara.


"Saya sengaja tak mengatakan siapa siswa-siswi itu, kalian lihat saja sendiri nanti di mading sekolah." Jelas Pak Kepala sekolah.


Siswa-siswi mengangguk kan kepala sambil berbisik ria siapa kira-kira murid bernilai terbaik itu.


"Ya sudah tanpa banyak menbuang waktu, silah kan wali kelas masing-masing, membagi kan surat kelulusan itu." Perintah Pak Kepala sekolah.

__ADS_1


Wali kelas 12 IPS dan IPA 1-7 berkeliling membagi surat kelulusan itu.


"Ini Zarine, Akifa, Alfi mana?." Tanya Wali kelas 12 IPS 1.


"Ini juga Tika mana?." Tanya Bu Lulu wali kelas 12 IPS 5.


"Anu Bu mereka ber 4 duduk di atas tribun noh, lagi kurang enak badan soal nya, hehehe... ." Abdiel memberi tahu sambil cengngesan.


"Adoyyy.... ya deh kalo gitu." Jawab Bu Lulu yang langsung oergi memghampiri 4 wanita di tribun itu.


Setelah pembagian, Wali kelas itu kembali ke tempat berdiri tadi.


"Ouh iya sebelum membuka surat kelulusan itu... saya ucap kan selamat untuk siswa-siswi yang di terima di universitas dengan beasiswa atau tanpa tes atau ujian, saya harap kalian makin giat belajar dan bisa menjadi generasi penurus bangsa yang hebat." Doa Pak kepala sekolah untuk anak murid nya.


"Aamiin." Kompak para murid menjawab.


"Ok tanpa basa basi lagi, sekarang, buka amplop itu!!!." Seru Pak kepala sekolah keras memerintah.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung dulu ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2