
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Cieee... ." Cindi masih saja menggoda Haris meskipun didalam mulutnya penuh makanan.
"Makan yang bener Baby, kita belum sholat ashar nih, jangan banyak ngomong, ngga baik makan sama ngomong entar keselek!." Nasihat panjang yang keluar dari bibir manis Haris.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Setelah makan sore, kini 2 insan itu kembali ke dalam kamar dan mandi secara berganti an.
Sehabis mandi, mereka sholat ashar berjamaah di dalam kamar, sengaja tak keluar kamar lagi, malas.
Pukul 15.30 sore Haris, Cindi, Papa nya Haris dan asisten Dimas berkumpul di ruang santai di rumah milik Haris ini.
Mereka berkumpul di temani oleh se teko teh manis hangat dan banyak camilan yang di letak kan di dalam toples.
Sampai tiba-tiba pelayan datang memberi tahu suatu hal yang di tunggu oleh Papa nya Haris.
"Permisi Tuan-tuan dan Nona, di depan ada asisten Riyadi yang baru saja tiba dari Pasuruan." Beri tahu pelayan itu sambil menunduk kan kepala nya sopan.
"Suruh saja Riyadi masuk dan datang ke sini." Jawab Papa nya Haris menanggapi laporan sang pelayan.
Tak menunggu di perintah dua kali, pelayan itu pergi dari ruang santai menghampiri asisten Riyadi.
Tak berapa lama kemudian asisten Riyadi muncul dari pintu masuk ruang santai.
"Assallammu'allaikum Tuan-tuan dan Nona." Sapa asisten Riyadi sambil menunduk kan kepala nya hormat.
"Wa'allaikum sallam, selamat datang asisten Riyadi, mari silah kan duduk." Ucap Cindi membalas sapa an dari asisten Riyadi itu dengan ramah.
"Dari pada duduk di sini, suruh saja dia mandi dan ganti baju saja Cindi, sekalian sholat ashar kalo belum." Saran Papa nya Haris yang tentu saja di angguki setuju oleh Cindi.
"Hah bener tuh kata Papa Andre, asisten Riyadi mending mandi dan ganti baju aja lah sekalian kalo belum sholat gih sholat." Ucap Cindi yang di angguki oleh Riyadi.
"Tolong kasih tunjuk kamar nya asisten Riyadi yah Bi." Tambah Cindi meminta tolong pada pelayan yang masih ada di antara mereka di ruang santai ini.
"Baik Nona, mari asisten Riyadi, kami akan menunjuk kan tempat istirahat yang akan anda tempati selama di sini." Ujar pelayan itu sambil mempersilah kan Asisten Riyadi berjalan terlebih dahulu di depan.
Sepeninggalan asisten Riyadi dan pelayan itu.
"Haris? Besok kau yang akan meng hadiri rapat kan?." Tanya Papa Haris pada anak semata wayang nya ini.
"Ha a, kenapa?." Tanya Haris acuh tak acuh.
"Ya Papa cuma tanya aja, jam berapa rapat di sana?." Tanya Papa Haris.
"Kalau tidak salah pukul 9 pagi, tapi ngga tau juga deh kalau ada perubahan." Ujar Haris menjawab singkat.
"Sudah siap untuk menghadiri rapat itu?." Tanya Papa nya Haris tanpa menatap wajah anak nya.
Haris mengernyit kan kening nya dalam-dalam dan menatap Papa nya dengan intens.
"Apa yang Papa rencana kan?." Tanya Haris dingin dan datar.
Cindi dan Dimas yang melihat Ayah dan anak ini mulai terlibat dengah hal-hal serius memilih mengabai kan mereka berdua, mereka akan ikut campur jika di antara mereka sudah bersitegang atau mulai bermain fisik dengan saling membogem.
"Hanya bermain-main sedikit dengan Damar dan Albhi, pemuda tempramen itu... aku mau lihat reaksi nya jika aku kerjai dengan cara ku." Licik Papa Haris berucap.
"Jangan macam-macam Tuan Besar Andrean Candra, jangan membuat onar, ingat! Satu perbuatan onar yang anda cipta kan, saya akan kembali kan anda ke Pasuruan." Tegas Haris berucap yang membuat Cindi memandang Haris terkejut.
'Dengan Papa nya saja Bang Haris bisa seperti ini, apa lagi jika aku yang berbuat hal yang tidak dia sukai, bisa-bisa di gantung mungkin leher kecil aku ini, aku akan hati-hati sekarang dengan sikap tingkah laku ku dan sifat ku.' Batin Cindi memandang Haris dengan tatapan yang dalam.
"Kau diam saja Haris, tugas mu hanya menonton." Ucap acuh Papa Haris.
"Sebaik nya pikir kan perkataan ku tadi siang se waktu ada di rumah anda! Jangan sampai anda masuk ke dalam penjara yang ke tiga kali nya, saya malas melihat anda ada di sana." Ketus Haris memperingat kan Ayah nya.
"Huh! Kau malas atau tidak tega melihat ku ada di sana?!." Ejek Papa Haris sambil menunjuk kan senyum miring nya.
"Itu peringatan untuk anda Tuan Besar Andrean Candra, itu bukan candaan, saya malas berurusan dengan polisi, sudah muak!." Seru Haris kesal karena Papa nya menganggap nya sedang bercanda dan main-main.
Setelah mengatakan semua isi kepala nya, Haris beranjak dari duduk nya dan sambil tangan nya menyeret Cindi yang tengah duduk di samping nya.
"Ayo ikut aku Baby girl!." Ajak Haris dengan nada dingin dan datar nya.
Cindi spontan berdiri, sebelum pergi gadis itu mengangguk kan kepala nya tanda berpamitan pada Papa nya Haris dan asisten Dimas.
Sepeninggalan Haris dan Cindi, di ruang santai ini tinggal asisten Dimas dan Papa Haris di sana.
Cukup lama 2 orang pria berbeda usia ini berdiam diri hanya duduk sambil bernafas teratur dengan telingan nya mendengar kan suara detak kan jam yang bergerak.
"Tuan Besar? Saran saya lebih baik dengar kan apa kata Tuan Muda, ini semua untuk ke baik kan kita semua, perkataan Tuan Muda tadi siang yang panjang lebar itu benar Tuan, dendam hanya akan membuat hati anda tak tenang dan hanya membuat anda sakit sendiri, berdamai lah Tuan Besar dengan masa lalu, agar Tuan Muda Haris juga tak mendapat cap jelek di mata para pemuda dari keluarga Tuan Rafka juga lain nya." Ucap Dimas memberi pengertian pada Tuan Besar di samping nya ini. Dimas mengata kan hal panjang lebar begitu tanpa menatap orang yang ia ajak bicara.
"Di cap jelek?." Beo Papa Haris sambil menatap nyalang ke depan.
"Dan pasti ke datangan anda ke Jakarta ini sudah di ketahui oleh Tuan Rafka juga lain nya." Kata Dimas.
Kemudian Dimas memutus kan untuk pergi ke ruang kerja nya dari pada duduk di sebelah Tuan Besar nya ini.
__ADS_1
"Saya permisi hendak ke ruang kerja Tuan Muda Haris dulu Tuan Besar, selamat sore." Pamit Dimas yang ternyata dia masih punya sopan santun pada Ayah dari Tuan Muda nya ini.
Sepeninggalan Dimas, Papa dari Haris ini diam termenung di ruang santai sendirian, memikir kan semua hal yang di ucap kan oleh anak nya dan asisten anak nya tadi.
"Apa memang sudah saat nya aku melupa kan semua nya? Seharus nya memang seperti itu, Haris sudah dewasa, aku tambah tua, sudah dekat dengan ajal, seharus nya aku bertaubat, bukan malah bikin ulah dan membuat anak ku di pandang oleh mereka dengan cap sebagai anak pembunuh, koruptor, atau lain nya." Gumam Papa Haris sambil mata nya menatap lampu gantung di atas nya.
Di satu sisi dari rumah besar ini, Haris dan Cindi sedang berbaring di atas ranjang.
Cindi tak ikut berbaring, dia berbaring di paha Cindi sebagai bantal nya.
Tangan Cindi mengusap kepala Haris pelan penuh kasih dan sayang yang tulus.
"Emang orang jahat tuh ngga bisa insaf yah Baby? Susah banget yah buat insaf? Di nasihatin pake hati dan pikiran dingin kagak bisa yah? Apa sih susah nya?." Tanya Haris panjang lebar, dia sampai frustasi sendiri memikir kan sang Ayah yang susah sekali di ajak berdamai malah memilih hal-hal yang membuat diri nya susah sendiri.
"Sebener nya orang insaf itu ngga susah Bang, tapi yah gitu... insaf nya harus dari hati nya sendiri, atas kemauan nya sendiri, kalau kita yang nyuruh atau cuma di nasihatin jarang-jarang ada yang pintu hati nya ke buka, jarang sadar kalo cuma di nasihatin." Ucap Cindi panjang lebar.
"Huuuuffffhhh... ." Haris menghembus kan nafas lelah nya, dia memilih memejam kan mata nya menikmati setiap elusan tangan lembut dari Cindi, big Baby nya.
Keheningan menyapa 2 orang insan ini, sampia kemudian, Cindi memberani kan diri berbicara memecah kesunyiaan yang melanda mereka.
"Bang?." Panggil Cindi terlebih dahulu.
"Hmmm... why Baby?." Sahut Haris sambil membuka mata nya menatap Cindi dari bawah.
"Aku... kangen sama Papa." Cicit Cindi tanpa menatap Haris yang memperhati kan wajah nya dari pangkuan nya.
"... ." Mendengar perkataan Cindi bahwa dia merindu kan pria paruh baya yang suka bermain kasar pada nya, yang sayang nya beliau adalah Papa dari Cindi, pria yang membuat Cindi ada di dunia ini.
"Terus my big Baby nih mau nya apa? Pulang? No! Aku ngga ngijinin, aku udah bilang dan mempertegas, bahwa kamu aku perboleh kan, aku pulang kan, jika Papa kamu sendiri yang meminta mu pada ku dengan semua rasa penyesalan nya yang sangat-sangat mendalam, serta berjanji tidak akan pernah menekan kamu lagi, apa lagi sampai bermain fisik saat mendidik kamu, setelah syarat-syarat serta ketentuan yang aku tentu kan sudah beliau penuhi, baru kamu boleh pulang!." Tegas Haris berucap.
"Nah sama seperti itu, Papa aku dan Papa kamu sama, tapi beda kasus, yah seperti serupa tapi tak sama, begitu kan peribahasa nya?." Cindi mengalih kan pembicaraan, dia tau membujuk Haris pria nya yang tengah berbaring berbantal kan paha nya ini tak kan bisa, hanya akan membuang waktu saja, dari pada membuang waktu lebih baik mengalih kan topik pembicaraan kan?.
"Tapi aku yakin Papa kamu akan insaf, beliau akan berubah, beliau pasti tak ingin kehilangan anak semata wayang nya, beliau sudah kehilangan Ibu dari anak nya, pasti dia tak ingin kehilangan anak yang di lahir kan oleh istri nya dengan segenap penuh perjuangan." Panjang Haris berucap yang di angguki oleh Cindi.
"Semoga saja Papa sadar ya Allah... aamiin." Doa Cindi yang ia aamiin kan di ikuti oleh Haris.
Mereka sambil mengusap kan kedua tangan mereka ke wajah masing-masing.
Setelah pembicaraan itu kamar Haris dan Cindi di penuhintawa serta pembicaraan hal-hal yang seru, lucu, juga heboh.
Kita beralih ke rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.
Di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka tepat nya di ruang santai, semua para tetuah berkumpul, sedang kan para muda-muda memilih duduk di teras sambil bermain segala hal yang bisa di main kan.
"Andrean Candra kembali ke Jakarta, apa yang harus kita lakukan?." Tanya Papa Zaidan serius pada Daddy Rafka, Papa Abdiel, dan Papi Abhi di seberang telepon.
Daddy Rafka, Papa Abdiel, dan Papi Abhi sudah sampai di Jepang tepat nya sudah berada di dalam hotel di kamar hotel Daddy Rafka.
Sekarang para tetuah itu melakukan panggilan via video agar lebih memudah kan satu sama lain nya berbicara.
"Jangan lakukan apa-apa dulu, kita harus pantau beliau dulu, siapa tau dia ke sini membawa perdamaian? Kita tidak boleh asal bertindak, inti nya kita semua harus ekstra lebih berhati-hati lagi sekarang, itu Damar, Angkasa, Albhi, Pamungkas peringat juga, mereka banyak ada di luar rumah, suruh jaga para gadis masing-masing, Andrean Candra dan anak nya si Haria itu bisa saja bergerak kapan saja dan di mana pun, apa lagi di rapat besok, suruh Damar dan Albhi berhati-hati, suruh waspada selalu." Panjang lebar Papa Abdiel berucap.
Kali ini kata-kata nya mengandung ketegasan dan keseriusan. Pria paruh baya satu ini jarang-jarang bersikap serius, biasa nya tingkah nya selengekan, tidak benar.
"Tumben pikiran mu serius Diel?." Ejek Papa Zaidan.
"Wajib! Ini lagi situasi genting, ngga mungkin sifat selengekan ku muncul, ngga tepat waktu dong itu nama nya." Cetus Abdiel ringan.
"Anak-anak mana? Kok sepi?." Tanya Daddy Rafka.
"Mereka ada di teras, entah lagi ngapain, inti nya kita lagi video call ini mereka ngga tau." Ucap Mommy Za menjawab pertanyaan suami nya itu.
"Tolong video in kegiatan mereka dong, kangen nih aku sama Kristal." Pinta Papa Andiel yang tentu saja langsung di angguki setuju oleh Mama Akifa juga lain nya.
Mama Akifa mengarah kan kamera ponsel nya menjadi kamera belakang, kemudian beliau berjalan ke luar rumah di ikuti oleh para tetuah lain nya.
Sampai di teras terlihat lah 8 serangkai bermain di teras.
"Mereka sedang bermain apa itu?." Tanya Papa Abhi.
"Bendan." Jawab Mami Alfi singkat (bendan itu permainan yang loncat-lancat di dalam gambar bentuk kotak yang di gambar di tanah itu lohhh, di desa Author nyebut nya bendan, kalau di daerah kalian apa?).
"Hahaha... jarang-jarang loh anak-anak jaman sekarang main gituan, biasa nya ngga pernah lepas dari ponsel, di mana pun, kapan pun, dan bagai mana pun selalu ponsel yang di main kan." Ucap Mama Abdiel tergelak melihat anak-anak nya bermain bendan.
"Ouh iya yang rencana Kak Rain buat di jadi in manager di Cafe jadi? Dia setuju kah? Gimana pendapat nya?." Tanya Daddy Rafka bertanya bertubi-tubi.
"Alhamdulillah sepulang nya dari bandara mengantar kan kalian berangkat, Kak Rain kami desak memberi jawaban dan jawaban nya sangat membuat kami senang dan berucap syukur." Ungkap Mommy Za yang dapat di pasti kan bahwa Kak Rain menerima tawaran yang lebih kepada paksaan itu untuk menjadi manager.
"Di terima gitu maksud nya?." Tanya Papa Abdiel mempertegas.
"Iya alhamdulillah tawaran kita di terima, ini para muda-muda belum tau, mungkin nanti pas makan malam kita umumin." Timpal Bunda Raina ikut bicara.
"Ya udah deh, kita pamit dulu, di sini udah mau masuk waktu maghrib nih, titip salam ke anak-anak yah, jaga kesehatan semua nya, tunggu kita pulang, assallammu'allaikum." Pamit Papa Abdiel.
"Wa'allaikum sallam." Jawab para tetuah kompak dan panggilan pun terputus.
Mari kita lihat permainan yang di main kan oleh 8 serangkai.
"Kak Rain nginjek garis!!." Pekik Wulan dan Kristal bersamaan.
"Hahaha... kalian liat aja sih." Ucap Kak Rain sambil tertawa terbahak.
"Kak Rain mau curang yah." Ucap Agnez sambil tertawa pelan.
"Iya lah, aku katagihan main ini, dah lama soal nya ngga main." Ucap Kak Rain.
"Udah sekarang giliran Agnez yang main." Ucap Agnez sambil bersiap sedia melompati sususan kotak-kotak di depan nya.
"Bismillah dulu little girl, biar ngga jatuh." Peringat Angkasa yang berdiri tepat di samping Agnez.
"Bismillah, jangan jatohin Agnez ya Allah." Doa Agnez sambil memejam kan mata nya erat.
Main bendan udah kek orang mau perang aja, Allah!!.
8 serangkai bermain dengan damai dan rukun tanpa ada pertengkaran alhamdulillah, kalau perdebatan-perdebatan kecil wajar lah.
Para tetuah melihat anak-anak nya yang bermain terkekeh pelan.
"Dulu kita main nya ke mall, atau kalau engga ke pantai, mereka lompat-lompat di teras rumah tawa nya pecah gini, bahagia tuh memang sederhana kalau bagi mereka, asal kan bareng-bareng kaya gini mereka bakal bahagia." Ujar Mommy Za melihat ke arah para muda-muda sambil tersenyum tulus.
Tiba-tiba... .
__ADS_1
'Ctarrrrr!!!.'
"Akkkhhhhhhh!!!!!." Teriak para gadis menggemah di seluruh teras rumah.
Hujan tiba-tiba datang mengguyur semua nya yang ada di teras rumah.
8 serangkai berlari ke teras rumah dengan tergopoh-gopoh.
Sesampai nya di teras rumah.
"Huh! Petir tuh kalo dateng kenapa ngga calling dulu sih?! Bikin kaget aja, kalo aku punya penyakit jantung dah pingsan mungkin, atau paling parah mengalami henti jantung." Ucap Kristal ngawur.
"Kristal?! Tarik balik kata-kata mu!." Seru Damar tak suka pada perkataan yang keluar dari bibir Kristal.
"Iya iya maaf." Ucap Kristal menunjuk kan raut menyesal nya karena telah mengata kan hal yang tak patut di ucap kan.
"I... i... ini bulan apa? Ke... ke... kenapa hujan?." Tanya Wulan gagap dan dengan kaki gemeteran, dia sampai luruh ke lantai sambil berusaha mengatur nafas nya yang ngos-ngosan.
"Eh?! Lanlan?." Seru Albhi sambil membantu gadis nya berusaha berdiri.
Tapi karena Wulan masih tak mampu berdiri, jadi nya Wulan masih duduk di lantai di temani oleh Albhi.
"Ini bulan Juli Dek, tapi musim nya yah ngga nentu gini, seharus nya ini musim kemarau." Ucap Damar memberi tahu, tangan nya menadah air hujan kemudian di lempar kan ke muka Kristal, Damar terkekeh pelan saat melihat Kristal yang mengerjap-ngerjap kan mata nya karena ada sedikit air yang masuk ke dalam mata nya.
"Damar?! Jahil banget sih tangan nya!." Pekik Kristal jengkel.
"Canda Kris." Ucap Damar masih dengan terkekeh pelan.
"Dah ayo masuk, ayo salah satu dari Damar dan Albhi gendong Wulan sana, kasian tuh dia sampe lemes denger petir." Perintah Mommy Za pada Damar dan Albhi.
Dengan kecepatan secepat kilat, Albhi memposisi kan tangan nya berada di leher dan di antara lipatan kaki Wulan.
"Huh! Gercep juga." Sungut Damar sambil mendengus kesal.
"Ya iya lah!." Balas Albhi bangga diri.
Dia kemudian langsung membawa Wulan masuk ke dalam rumah di ikuti oleh lain nya.
"Little girl? Kamu ngga mau aku gendong juga?." Tanya Angkasa dengan muka sok polos nya.
"Endak! Dalam mimpi Mas Angkasa aja kalo mau gendong aku!." Seru Agnez sewot.
Dia berkata sewot begitu karena dia di landa malu, Angkasa ngomong nya blak-blak kan tanpa saringan, mana masang wajah sok polos lagi, ya tentu saja Agnez malu.
Dia langsung melengos pergi meninggal kan Angkasa di tempat nya sendiri an.
Dari arah belakang, Pamungkas dan Damar datang merangkul pundak Angkasa bersamaan di sisi kanan dan kiri nya sambil berbicara secara berbisik-bisik lirih.
"Kesempatan dalam kesempitan ya Wak." Ucap Damar.
"Ngga jadi Dam, kan gagal, cewek nya kagak mau." Balas Pamungkas.
"Uhuy! Gagal mesra-mesra an deh, yang ada cuma nelen ke kecewaan." Ejek Bang Damar lagi.
"Diem kalian berdua! Udah jangan banyak omong! Ngga bilang sabar, atau apa gitu kata-kata buat nenangin temen yang lagi kecewa, eh ini malah ngolok-ngolok." Ucap Angkasa kesal pada 2 pria di samping kanan kiri nya ini.
-
-
------
Eh? BTW? Ada yang kangen ama Shita Rendra ama yang ada di Lumajang lain nya ngga sih? Jujur yah, sebener nya Author males bahas mereka, soal nya Author udah ogah, udah ngga respect sama yang nama nya Rendra😂, maka nya Author ilangin peran mereka di season 1 ngga lanjut di season 2, mualessss bangetttttt jangan tanya soal Rendra Shita deh yah😂😂😂.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1