Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 231


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


Ia akan menyelidiki kebenaran nya.


Dia meng iya kan saat di minta balas dendam karena dia menghormati sang Ayah.


Haris tak kan berperilaku bodoh, dia hanya akan bermain-main saja dengan 8 serangkai itu untuk meyakin kan sang Ayah.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Bahwa dia memang benar-benar sedang balas dendam untuk sang Ayah.


'Jika Ayah Andre yang salah, aku tak kan mengampuni nya meski pun aku tau beliau adalah Ayah ku, orang yang membuat aku ada di dunia, tapi yang nama nya penjahat tetap lah penjahat bukan? Tak boleh di tutupi, di sembunyi kan, dan tak boleh di lindungi.' Batin Haris lagi dengan ekspresi wajah menunjuk kan wajah marah, dengan gigi mengetat, dan mata memancar kan aura emosi.


Oho perkenalan tokoh pelengkap nih, nama nya Haris Andrean Candra, usia 17 tahun, anak dari Andre orang yang membuat Ayah Adib tewas dalam kecelakaan tunggal dulu.


Beliau bebas dari perjara setelah asisten Ayah Adib menjeblos kan nya belasan tahun yang lalu.


Harapan asisten Ayah Adib adalah untuk menjera kan Andre, tapi sayang nya harapan tinggal lah harapan, beliau tak berubah dan malah menuruh anak nya yang membalas kan dendam nya.


Dasar orang tua sableng, sudah tau kalau keluarga dari Mommy Za dan Daddy Rafka juga lain nya kuat, malah mencebur kan anak nya sendiri ke lubang ka hancuran.


Untung saja Haris otak nya pintar, tak sia-sia dia sekolah sampai negri China, dia pintar karena tak terbodohi oleh Ayah nya sendiri.


Di depan panggung.


7 serangkai masih duduk di bangku nya dan menatap Kak Rain yang tengah menyanyi membawa kan lagu Fatin yang berjudul *Salah Kah Bila Diri Ku Terlalu Mencintai Mu*.


🎶Kutatap dua bola matamu


Tersirat apa yang 'kan terjadi


Kau ingin pergi dariku


Meninggalkan semua kenangan


Menutup lembaran cerita


Oh sayangku, aku tak mau


Kutahu semua akan berakhir


Tapi 'ku tak rela lepaskanmu


Kau tanya mengapa aku


Tak ingin pergi darimu


Dan mulutku diam membisu


Salahkah bila diriku


Terlalu mencintaimu


Jangan tanyakan mengapa


Karena aku tak tahu


Aku pun tak ingin bila


Kau pergi tinggalkan aku


Masihkah ada hasratmu


'Tuk mencintaiku lagi


Apakah yang harus aku lakukan


'Tuk menarik perhatianmu lagi


Walaupun harus mengiba


Agar kau tetap di sini


Lihat aku duhai sayangku


Salahkah bila diriku


Terlalu mencintaimu


Jangan tanyakan mengapa


Karena aku tak tahu


Aku pun tak ingin bila


Kau pergi tinggalkan aku


Masihkah ada hasratmu


'Tuk mencintaiku lagi


Salahkah bila diriku


Terlalu mencintaimu


Jangan tanyakan mengapa


Karena aku tak tahu


Aku pun tak ingin bila


Kau pergi tinggalkan aku


Masihkah ada hasratmu


'Tuk mencintaiku lagi🎶.


"Ahhh kenapa Kak Rain bawa in lagu ini sih? Kenapa bawa in lagi melow-melow gini?." Kata Wulan baper sampai menetes kan air mata.


"Mana Agnez juga suka lagu ini lagi, bawa in lagu yang happy-happy aja napa sih Mbak." Cetus Agnez ikut-ikutan mewek.


"Jangan nangis little girl, aku ngga mau liat air mata kamu." Ucap Angkasa serius sambil mengusap air mata di pipi Agnez.


Albhi pun sama, dia mengusap air mata Wulan yang menetes.


Kalo kalian bertanya apa kah Kristal menangis? Jawaban adalah tidak, dia hanya berkaca-kaca saja mata nya.


Saat di akhri lagu tadi, Kak Rain mengajak pengunjung Cafe bernyanyi bersama sambil bertepuk tangan pelan.

__ADS_1


Semua orang ikut bernyanyi, bahkan hampir semua para muda-muda yang gadis menitih kan air mata nya baper.


Bukan hanya karena lagu nya, tapi suara merdu dan lembut Kak Rain juga berpengaruh, bahkan sangat berpengaruh.


Pukul 9 malam 8 serangkai memutus kan untuk pulang ke rumah, Kak Rain jadi menginap di rumah Daddy Rafka dan Mommy Za.


Di dalam mobil perjalanan pulang.


"Mata kalian sembab gitu berapa jam emang sih nangis nya?." Tanya Kak Rain menggoda Wulan, Kristal, dan Agnez.


"Mbak Rain ini loh jahat banget, aku denger lagu nya tadi ya Allahhh... nyesek buanget jeh, nyut-nyut an hati ku Mbak, ini bukan lebay atau pun alay yah, tapi emang itu yang Agnez rasa in." Panjang lebar Agnez mengutara kan perasaan nya.


"Hehehe... maaf-maaf, tadi soal nya pas aku masuk ke dalam Cafe aku liat sebagian besar pengunjung malam ini raut wajah nya galau-galau gitu loh, mereka kaya punya masalah gitu, jadi Kakak dengerin lagu melow deh." Cerita Kak Rain detail.


"Kalau mau hibur orang mbok yah pake cara yang nyenengin gitu loh Mbak, nyanyi in lagu happy, jangan yang melow-melow." Celutuk Agnez lagi.


"Hihi... iya-iya maaf, jangan ngambek lagi udah, aku minta maaf sama kalian bertiga." Ucap Kak Rain tulus.


"Iya Mbak Agnez udah maafin." Balas Agnez pelan.


"Iya Kak, Wulan sama Kristal juga udah maafin." Balas 2 gadis lain nya.


"Sebener nya ini bukan salah penyanyi nya atau lagu nya, tapi emang mereka ber tiga aja yang lebay dan alay." Celutuk Damar pelan.


"Bang Damar emang ngga punya perasaan, mati rasa! Maklum aja kalo denger lagu melow ngga pernah nangis dan ngga bakal nangis kek nya, emang yah para pria tu-." Belum selesai Wulan berucap Para pria sudah melanjut kan omongan para gadis.


"Para pria tuh kaya pohon pisang, punya jantung tapi ngga punya hati." Lanjut para pria hafal.


"Dih!." Dengus Wulan jengkel.


"Udah hafal kita Lanlan sama slogan kamu itu, ganti dong cari lain." Ujar Albhi dengan perasaan tak bersalah sama sekali.


Dengan mudah nya pria tampan itu berucap menggoda Wulan yang tengah jengkel pada Abang nya yang tercinta ini.


Sampai di rumah.


'Assallammu'allaikum!.' Suara 8 serangkai menggemah ke seluruh rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.


"Wa'allaikum sallam." Balas para tetuah kompak.


Para tetuah di ruang santai langsung menatap ke pintu masuk ruang santai melihat mereka masuk dengan di iringi tawa bahagia dari ke 8 nya.


'Kami semua berdoa agar kalian tetap tersenyum seperti ini untuk selama nya dalam ke adaan apa pun, baik dalam ke adaan senang dan susah sekali pun senyum kalian tak pudar, Allah? Engkau maha tau isi hati kami para umat-Mu, tolong kabul kan doa kami semua.' Ucap para tetuah sama dalam hati yang paling dalam meski tak terucap di bibir mereka semua.


"Halo semua?." Sapa 8 serangkai pada para tetuah.


"Halo sayang." Sapa para tetuah itu balik.


"Gimana manggung nya?." Tanya Mami Alfi menatap Kak Rain dengan tersenyum manis.


"Lancar alhamdulillah Te, banyak pengunjung nya tadi Cafe nya, ya maklum sih malam minggu, jadi sedikit membludak, hehe... ." Cerita Kak Rain detail.


"Loh? Itu... kenapa mata Wulan, Agnez, dan Kristal bengkak? Kalian habis nangis yah? Siapa yang berani bikin kalian nangis? Ini para pria nya gimana sih?! Kenapa ngga bisa jaga?!." Pekik Daddy Rafka dengan alis nya berkerut marah bak angry bird.


Kini suasana di ruang santai menjadi sedikit mencekam dari awal mula nya yang santai, aman, damai, dan tentram.


"Ayo beri kami jawaban para pria muda-muda ini!." Seru Papa Abdiel yang biasa nya suka bercanda malah ikut-ikutan serius.


"Pa? Dadd, dan lain nya, ini kami nangis bukan karena orang la-." Belum selesai Wulan hendak menjelas kan Daddy Rafka menatap Wulan lembut tapi ada sedikit tekanan di pandangan itu.


Dan secara otomatis Wulan diam, Kristal, Agnez, dan Kak Rain yang ingin membantu Wulan menjelas kan ikut kicep seketika.


4 gadis itu terdiam gusar sendiri sambil menunduk kan kepala nya takut.


"Mereka nangis bukan karena orang lain Daddy, Papa Abdiel, dan semua nya, mereka menangis karena perasaan baper dengan lagu dan suara Kak Rain yang membawa kan lagu *Salah Kah Bila Diri Ku Terlalu Mrncintai Mu* jadi yah gini deh hasil nya." Ungkap Damar secara detail.


"Bener itu Wulan? Kristal? Agnez? Kak Rain?." Tanya Daddy Rafka dengan suara tegas nya bertanya.


"Iya itu benar." Jawab ke 4 gadis itu sambil di iringi cengiran nya bak orang tanpa dosa.


"Hadehhh... dasar para perempuan, baperan banget." Celutuk Papa Abdiel.


"Tapi emang bagud loh Pa suara Kak Rain, pas gitu kalau bawa in lagu itu, kita nya juga meresapi arti dari lagu itu sendiri, jadi maklum aja kalau baper." Kristal memberi pembelaan untuk diri nya dan para wanita lain nya di dalam ruang santai ini.


"Hadeh iya deh terserah kalian." Balas Papa Abdiel pasrah.


Kemudian para wanita di sana berbicara dan bercanda bersama.


Di ruangan itu Ayah Rafa menatap Daddy Rafka para Ayah lain nya.


Para tetuah pria di ruangan ini tak ikut bercanda dengan para wanita, karena di pikiran mereka hanya memikir kan cara membujuk Kak Rain untuk mau pindah rumah di perumahan dan komplek yang sama dengan mereka.


"Sekarang saja kita bicara kan itu di ruang baca bersama dengan para Ibu-ibu." Bisik Ayah Rafa di dekat telinga Daddy Rafka.


"Pake alasan apa bawa Kak Rain ke ruang baca?." Tanya Daddy Rafka ikutan berbisik agar tak terdengar oleh siapa pun.


"Kita serahin sama para wanita aja deh, sekarang kita ke ruang baca aja dulu." Cetus Papa Abdiel ikut nimbrung berbisik.


Tanpa para tetuah pria sadari para pria muda-muda menatap mereka dengan pandangan curiga meski tak terlihat jelas.


'Apa yang para tetuah bisik kan?.' Tanya Damar, Albhi, Angkasa, dan Pamungkas dalam hati secara bersamaan.


Kemudian 4 pria muda itu saling pandang.


Damar memberi isyarat dengan lirik kan mata nya ke arah para tetuah seperti bertanya 'Apa yang mereka omongin yah sampai bisik-bisik gitu?.'


Angkasa yang bersedia menjawab, malah hanya mengedik kan bahu nya tanda bahwa dia tak tahu.


Tiba-tiba para tetuah pris berdiri dari duduk nya dan bersiap meninggal kan ruang santai.


"Mau ke mana Daddy?." Tanya Wulan.


"Daddy sama yang lain mau ke ruang baca dulu ya sayang, ada yang ingin di bicara kan di sana." Ujar Daddy Rafka jujur.


Semua mengangguk kan kepala tanda paham.


Para tetuah pria pun naik ke lantai dua.


Sampai di anak tangga sedikit jauh, Ayah Rafa memberi kode pada sang istri untuk membawa Kak Rain ke atas ke ruang baca juga.


Bunda Raina yang tanggap langsung mengangguk kan kepala paham.


Aktivitas memberi kode itu tak luput dari pandangan para pria muda terutama Pamungkas.


Alis cowok tampan itu menyatu bak angry bird, dia cemas, curiga, dan gelisah.


Dalam benak nya terus terlintas berbagai banyak pertanyaan, salah satu nya ialah 'Apa yang akan Ayah lakukan pada Kak Rain? Kenapa Ayah memanggil Kak Rain? Kenapa Ayah ngga ngomong dulu sama Pamungkas?." Itu lah rentetan pertanyaan di kepala Pamungkas, Kenapa? Kenapa? Dan kenapa? Dan jawaban nya Pamungkas tak tau.


Jarak beberapa menit Bunda Raina mengajak Kak Rain ke suatu tempat, kata nya Bunda ingin mengata kan sesuatu.


Di belakang Bunda Raina dan Kak Rain ada Ibu-ibu ikut.


Saat Kak Rain dan Bunda Raina menaiki anak tangga yang ke lima, Pamungkas menghenti kan langkah dua wanita berharga dalan hidup dan hati nya itu.


"Bun? Pamungkas ikut boleh ngga? Boleh yah? Please." Mohon cowok tampan itu dengan pandangan mata memohon.


Semua orang di sana terkekeh pelan melihat ekspresi memelas dari Pamungkas.


"Kak Rain nya ngga akan di apa-apa in kok Pamungkas, cuma memang kami ada yang ingin di sampai kan, kita hanya ngobrol, bukan perang, nanti kita balikin kok Kak Rain nya." Celutuk Mama Akifa panjang.


Para pria muda dan wanita paruh baya yang hendak naik ke lantai dua ini tau bahwa Pamungkas khawatir akan ke adaan Kak Rain.


Karena tak ada pembicaraan lagi para wanita paruh baya kembali menjalan kan niat nya untuk naik ke lantai dua.


"Ya Allah lindungi Kak Rain." Doa Pamungkas tulus.


"Bang Pamungkas harus tenang, beliau semua ngga akan nyakitin Kak Rain kok Wulan yakin itu." Ucap Wulan menghibur sang sepupu kesayangan dengan tangan nya merangkul leher cowok tampan yang tengah gelisah itu.


"Bener banget tuh Pamungkas, Bunda Raina sayang banget sama Kak Rain, in syaa Allah ngga akan nyakitin." Timpal Kristal, tangan nya juga merangkul leher Pamungkas.


"Mas Pamungkas ndak boleh berburuk sangka dulu, ndak baik, Mas Pamungkas harus yakin kalau Kak Rain bakal baik-baik aja, mungkin apa yang akan di sampai kan para tetuah wanita akan menguntung kan Mas Pamungkas? Kan ndak ada yang tau to?." Agnez ikut-ikutan memberi hiburan pada Pamungkas.


Anak dari Bunda Raina itu senang karena mendapat hiburan dari 3 gadis cantik, 2 di antara mereka memeluk nya lagi.

__ADS_1


Tak terasa Pamungkas ikut tersenyum sembari memeluk 2 gadis di kanan kiri nya.


Di samping Pamungkas suka di karena mendapat peluk kan dan dapat memeluk 2 gadis sekaligus.


Pria yang jarak nya agak jauh dari Pamungkas mengetat kan rahang nya jengkel.


"Dasar modus!." Umpat Damar.


"Bang Sat Lu Pamungkas!." Pekik Albhi lirih.


"Huhh... untung si Agnez kagak di peluk juga." Ucap Angkasa lega.


Tapi... .


"Sini Nez ikut peluk kan." Ajak Pamungkas.


Baru saja hendak menjawab teriak kan dari Angkasa, Damar, dan Albhi menggemah di seluruh ruang santai ini.


"Pamungkas?! Jangan lepasin mereka!." Teriak 3 pria itu.


Kontan Pamungkas dan 3 gadis yang di tegur itu menoleh ke belakang dengan senyuman tanpa dosa nya.


"Kami beri ijin kalau cuma menghibur, tidak untuk saling berpeluk kan gini! Kaya teletubbies aja! Lepas!." Seru Damar melepas peluk kan Pamungkas pada Wulan dan Kristal.


"Ck! Dasar possesive kalian semua! Ngga asik ah ngga seru!." Ujar Pamungkas sambil cemberut.


"Biarin meski ngga asik, meski ngga seru, kita emang ngga mau dan ngga ikhlas 3 gadis ini kamu peluk!." Seru Albhi sambil merangkul pinggang Wulan possesive.


"Kita kan cuma menghibur doang, peluk kan itu juga peluk kan bonus biar dia tenang ngga mikir hal aneh-aneh." Cetus Kristal membela diri nya sendiri, Wulan, dan Agnez.


Jika di lantai dasar tepat di ruang santai 7 orang tengah berdebat dari yang inti masalah ke luar masalah lalu di akhiri tawa ke 7 nya dengan sangat nyaring menggelegar ke seluruh ruangan.


Beda lagi dengan yang ada di ruang baca.


5 pasang paruh baya laki-laki dan perempuan juga di tambah 1 gadis muda berusia 22 tahun tengah duduk diam tak ada perbincangan.


Para tetuah saling pandang kemudian menatap gadis muda itu yang ia adalah Kak Rain.


Sedang kan Kak Rain sendiri, dia gugup, dia juga ber ancang-ancang menyiap kan mental dan jawaban dari bibir nya jika di hina atau di maki atau di perlakukan dengan buruk oleh semua orang.


Pikiran Kak Rain sudah tercemas oleh novel dan sinetron, jadi yah gitu deh, kalau ada perbincangan pribadi gini dia takut.


Sudah sejak Kak Rain baru masuk ke dalam ruang baca semua orang hanya diam, sampai... .


"Kak Rain? Kami memanggil kamu ke sini bukan untuk di introgasi atau apa lah yang ada di imajinasi kamu, tapi kita di sini ingin membicara kan suatu hanya yang penting." Panjang Ayah Rafa membuka pembicaraan.


Kak Rain menatap para tetuah satu persatu.


"Silah kan bicara kan saja Yah." Ucap Kak Rain sopan.


Dia dalam hati nya Kak Rain sedikit lega karena imajinasi nya tak nyata.


"Kak Rain? Kami minta dan memohon agar kamu mau di pindah kan ke perumahan ini dan di komplek ini, menetap di sini, berdekatan dengan kami." Pinta Ayah Rafa tegas tapi lembut.


"Tinggal dan menetap di perumahan dan komplek ini?." Beo Kak Rain sambil melebar kan mata nya.


Para tetuah mengangguk kan kepala meng iya kan.


"Tapi? Apa alasan nya Yah? Dan lagi, Kak Rain ngga ada uang buat pindah ke sini, di rumah yang sekarang Kak Rain tinggal tidak terjadi apa-apa semua nya baik-baik saja." Kak Rain bertanya dan mengungkap kejujuran daerah rumah nya.


Semua orang diam, lalu saling pandang.


Kemudian Ayah Rafa menatap Bunda Raina menyuruh beliau agar menjelas kan titik permasalahan nya.


"Gini Kak, ini demi keselamatan Kak Rain sendiri, kami takut kalau suatu hari nanti ada seseorang yang akan menganggu Kak Rain, jika Kak Rain terluka, kami semua juga ikut terluka, apa lagi... si berondong Pamungkas itu, Kak Rain sudah dewasa dan pasti tau kan bahwa Pamungkas memiliki perasaan sama Kak Rain, iya kan?." Tanya Bunda Raina.


Kak Rain yang mendapat pertanyaan itu mengangguk malu-malu dengan mengulum senyum jika memgingat berondong satu itu.


"Ok singkat nya gini Kak, kita semua punya satu musuh yang dari beberapa tahun terakhir selalu menganggu kami, dulu hanya kami semua yang di ganggu, tapi kini kita ke datangan Kak Rain sama Agnez, Agnez dan keluarga nya kami beri tahu besok lusa mereka pasti mau pindah ke sini, tapi kalau Kak Rain? Mau ngga? Soal rumah Kak Rain ngga perlu rumit mikirin, nanti Ayah bantu jual rumah Kak Rain yang lama, tapi Kak Rain harus setuju dulu mau pindah ke perum ini." Kata Ayah Rafa panjang lebar.


Kak Rain diam mendengar kan.


Dia sudah paham inti dari pembicaraan yang panjang ini.


Dia memandang para tetuah satu persatu.


"Kenapa Yah? Bun?." Tanya Kak Rain yang tak jelas.


"Kenapa apa nya sayang?." Tanya Bunda lembut.


"Kenapa Ayah dan Bunda cerita in segala nya ke Rain? Apa Ayah dan Bunda juga lain nya ngga takut kalau Rain mata-mata dari musuh?." Tanya Kak Rain heran.


Semua para tetuah itu tersenyum bahkan tertawa kecil mendengar penuturan Kak Rain.


Kak Rain semakin di buat heran dengan melihat para tetuah senyum dan tertawa kecil.


"Kami semua sudah memeriksa semua latar belakang kamu, masa lalu kamu, bahkan semua tentang kamu kami punya data nya, se kecil dan se besar apa pun rahasia yang kamu sembunyi kan pun kami tau, kami percaya pada mu sayang, kamu kan calon nya Pamungkas, jadi kita harus telusuri dong." Kata Bunda Raina panjang.


Pipi Kak Rain memerah lagi di sebut calon nya Pamungkas.


"Jadi Kak Rain? Mau kan?." Tanya Ayah Rafa kembali.


"Kalau demi keselamatan Rain sendiri, Rain mau Yah, Rain ikut arahan Ayah Bunda juga lain nya aja." Setuju Kak Rain yang membuat semua orang tersenyum senang dan lega.


"Alhamdulillah ya Allah." Ucap syukur semua para tetuah.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2