Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Fifty-six


__ADS_3

Malam ini di rumah Akifa Abdiel tepatnya ruang santai, suasana di sana sangat tenang.


Akifa sedang menonton Drama Korea.


Abdiel di sampingnya menatap jengah ke arah televisi di depannya.


"Yang, ganti lah jangan nonton ini." Pinta Abdiel.


Akifa yang bersandar di dada bidang sang suami mendongak dengan tatapan tajamnya.


"Engga!, bentar lagi juga mau habis kok." Kata Akifa.


"Iya deh iya." Pasrah Abdiel.


Sesaat suasana kembali terdiam kembali.


Akifa sibuk dengan Dramanya sedangkan Abdiel sibuk dengan rambut sang istri.


10 menit terdiam.


Abdiel ingin pergi ke kamar mandi.


"Yang?, kamu tolong berdiri bentar, aku kebelet ke kamar mandi nih." Pinta Abdiel.


Akifa mengangkat kepalanya dari dada bidang Abdiel dan membiarkan Abdiel ke kamar mandi.


Setelah kepergian Abdiel.


Akifa kembali fokus pada layar di depannya.


1 menit kepergian Abdiel, tiba-tiba ponsel Abdiel berbunyi pendek pertanda bahwa ada pesan yang masuk.


Akifa menoleh pada ponsel sang suami yang ada di atas meja kecil.


Dia penasaran lalu mengambil ponsel Abdiel dan membukanya.


Hal pertama saat membuka ponsel sang suami, Akifa melihat ada foto dirinya dan Abdiel dengan menggunakan seragam sekolah.


Akifa membuka aplikasi berwarna hijau pada ponsel.


Sesaat Akifa terdiam membeku di tempat.


"Yang?, bungkus kac... ." Perkataan Abdiel tak di teruskan karena melihat Akifa yang memegang ponselnya dengan ekspresi tak terbaca.


"Yang?." Panggil Abdiel dengan menghampiri Akifa di sofa.


"Apa ini?, siapa ini?." Tanya Akifa beruntun.


"Ayo kita ke kamar, kita bicarain di kamar." Ajak Abdiel tenang.


Akifa menurut.


Dia mematikan televisi dan beranjak ke kamar di ikuti Abdiel.


Sampai di kamar.


Abdiel menutup pintu kamar tak lupa menguncinya.


Kemudian Abdiel menyusul Akifa duduk di tepi ranjang.


"Siapa dia?." Tanya Akifa to the point.


"Aku ngga tau dia siapa, aku ngga pernah balas di setiap dia chat." Jawab Abdiel lembut.


"Kenapa ngga bales?." Tanya Akifa.


"Buat apa?, ngga penting." Kata Abdiel singkat.


Suasana hening.


Akifa menunduk meneteskan air matanya.


Abdiel yang melihat itu kemudian menarik Akifa ke dalam pelukannya.


"Jangan nangis ok, aku ngga bakal nglakuin apa-apa di belakang kamu Yang, serius deh." Kata Abdiel lembut dengan mengelus kepala Akifa.


"Aku... aku... hiks.. aku ngga bisa... ." Akifa tak dapat bicara lancar karena tangisannya yang pecah dan sesenggukan.


"Sssttttt, tenang, kamu mikirnya jangan kejauhan, aku aja ngga pernah balas chat dari dia, kamu liat sendiri kan tadi." Jelas Abdiel makin mengeratkan dekapannya.


"Jangan... tinggalin aku Diel... hiks, aku ngga tau gimana hariku tanpa kamu, aku udah mulai bergantung sama kamu." Pinta Akifa dengan sesenggukan.


"Aku ngga akan tinggalin kamu kecuali Allah sendiri yang pisahin kita, udah ok tenang." Ucap Abdiel menenangkan.


Lama Akifa menangis.


Baju bagian dada Abdiel sudah basah kuyup karena air mata Akifa.


Akifa sudah mulai tenang meski sesenggukan masih sangat terdengar di telinga Abdiel.


Abdiel mengusap sisa-sisa air mata di pipi Akifa dengan ibu jarinya lembut.


Kemudian dia tersenyum sembari mengecup kedua mata Akifa.


"Udah ok, jangan nangis lagi." Ucap Abdiel.


Akifa mengangguk kan kepala pertanda paham.


"Gini aja, dari pada ada salah paham yanh berlanjut, aku bakal blok nome-." Perkataan Abdiel terpotong karena Akifa menyelanya.


"Jangan di blok dulu, tanya dulu dia siapa, dan apa niatnya nge chat kamu." Cegah Akifa.


"Ogah ah, kamu aja yang chat, aku penonton aja." Jawab Abdiel dengan menyerahkan ponsel miliknya ke tangan Akifa.


Akifa menimbang perkataan sang suami.


Setelah lama berpikir.


Diaa pun menerimanya dan membuka ponsel Abdiel.


Abdiel beralih duduk di sebalah Akifa untuk melihat aksi istrinya.


Akifa membaca isi chat dari awal tanggal 2 januari hari Minggu kemarin.


Room Chat.


+62 818-6734-xxxx : "Hai Kak."


Abdiel : "Read."


Pesan di kirim kemarin.


"Liat kan, aku ngga balas chat dia." Kata Abdiel pada Akifa.


"Iya aku percaya kok, aku cuma takut aja." Sahut Akifa dengan mencium pipi kiri Abdiel.

__ADS_1


"Yang kamu pikirin itu terlalu jauh." Celutuk Abdiel.


Akifa kembali membaca chat.


+62 818-6734-xxxx : "Kak Abdiel lagi apa?."


Abdiel : "Read."


Pesan tersampaikan hari ini.


'Khemmmm, huuufffffh.' Akifa menarik nafas kemudian mulai mengetik di keyboard layar ponsel.


Abdiel (Akifa) : "Ini siapa?."


Akifa menoleh ke arah Abdiel yang sedang tersenyum ke arahnya.


'Tring.'


"Wah cepet banget balasnya." Gumam Akifa.


Abdiel mencium kepala Akifa lembut.


+62 818-6734-xxxx : "Akhirnya Kak Abdiel balas chatku, kenalin Kak, Aku Varah adik kelas Kakak di sekolah."


"Namanya Varah, adek kelas kita." Beri tahu Akifa.


"Terus?." Tanya Abdiel.


"Ya aku cuman kasih tau ke kamu, biar kamu tau namanya." Jawab Akifa.


"Kalo aku udah tau namanya buat apa?." Gemas Abdiel dengan mengunyel pipi cubby Akifa.


"Nyari dia buat ketemu langsung mungkin." Balas Akifa.


"Nggalah Yang, ngapain aku ketemu sama dia?, ada untungnya kah?, engga kan?." Jelas Abdiel.


"Siapa tau dia-."


'Cup.' Ucapan Akifa terpotong karena Abdiel menabrak kan bibirnya ke bibir Akifa.


"Ab-."


'Cup.' Sekali lagi Abdiel melakukan hal yang sama.


"Jangam tanya pertanyaan yang ngga ada gunanya itu ok, mending kita tidur dari pada debat." Ajak Abdiel.


"Tapi aku masih penasaran, ijin lanjut chat lagi ya." Pinta Akifa.


'Huufffh.'


Helaan nafas pasrah terdengar karena permintaan Akifa berserta jurus andalan yang membuat Abdiel akan selalu berkata 'iya.'


"Iya, tapi percepat." Tegas Abdiel.


Akifa mengangguk kan kepala dengan senyumannnya yang terbit di bibir.


Abdiel (Akifa) : "Ada apa Lo chat Gua Var?, dan dapet dari mana Lo nomer Gua?."


"Yang geli jangan endus-endus, kaya kucing aja." Jengkel Akifa.


Pasalnya sekarang Abdiel sedang mengendus-endus lehernya yang tak tertutupi oleh rambut, karena rambutnya ia ikat tinggi-tinggi.


"Kulit kamu wanginya seger tau, bikin kecanduan." Beri tahu Abdiel dengan masih melakukan kegiatannya.


'Tring.'


Dia segera membuka isinya.


+62 818-6734-xxxx : "Aku chat cuma iseng aja sih pengen kenalan, dan untuk nomer aku dapat dari temen sekelas Kakak yang namanya Kak Alex."


"Alex?." Beo Akifa.


"Ada apa?." Tanya Abdiel.


"Dia tau nomer kamu dari Alex, apa dia adeknya Alex?." Kepo Akifa.


Abdiel yang sudah jengah melihat sang istri chating dengan si Varah itu, dia mengambil alih ponselnya dan mengetik pesan pada si Varah.


"Eh?!, aku belum selesai tanya nya Yang." Protes Akifa.


Abdiel tak menggubris protesnya Akifa.


Setelah 2 menit ponsel ada di tangan Abdiel.


Akifa merebut ponsel itu dan melihat isi pesan yang di kirim sang suami.


Abdiel : "Berenti chat Gua, Gua udah punya ISTRI."


Begitu pesannya.


Dan nomer Varah juga di blokir oleh Abdiel.


"Jahat banget sih." Gerutu Akifa.


"Jahat?, emang aku ngapain?." Tanya Abdiel dengan terkekeh.


"Jangan di blokir, di hapus aja kan bisa nomernya." Kata Akifa.


"Kalo di hapus doang, dia bakal chat lagi Yang, dan aku ngga mau kamu takut lagi gara-gara chat dari dia, aku juga janji sama kamu, kalo aku dapet chat dari nomer baru yang ngga aku kenal, aku langsung blok." Ucap Abdiel.


Akifa tersenyum kemudian mengangguk kan kepala.


"Aku mohon sama kamu, lupain ini semua, dan jangan pernah takut apalagi punya pikiran macem-macem lagi." Pinta Abdiel dengan merapatkan keningnya ke kening Akifa.


"Iya, aku percaya sama kamu Abdiel." Jawab Akifa.


Abdiel kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya.


'Cup.' Abdiel mengecupnya lembut.


Abdiel mendorong tubuh Akifa perlahan untuk berbaring di tengah ranjang.


Dia mulai mengecup bibir ranum milik Akifa.


Makin lama kecupan itu berubah menjadi ******* yang bergairah.


"Yang?." Panggil Abdiel.


Matanya seperti meminta persetujuan kepada Akifa untuk melanjutkan kegiatannya.


Akifa menatap tepat manik hitam Abdiel.


Dia lalu mengangguk kan kepala pertanda mengijinkan Abdiel mengambil haknya.


Di malam yang sunyi serta dingin ini.

__ADS_1


2 pasangan menyatukan diri untuk pertama kalinya dengan penuh semangat dan gairah.


Cuaca yang katanya dingin, tapi bagi mereka berdua sangat panas dan berkeringat.


Hingga sampai tengah malam, kegiatan mereka belum juga usai.


Baru tepat pukul setengah satu dini hari keduanya selesai.


Akifa terengah dan tertidur pulas karena kelelahan.


Sedangkan Abdiel, dia mengecup kening Akifa lembut kemudian membawanya ke dalam pelukannya.


"Good night my Wife, terima kasih, dan aku mencintaimu." Bisik Abdiel pada telinga Akifa.


Lalu dia ikut tidur dengan perasaan bahagia.


Ke esokan paginya pukul 4 pagi Akifa terbangun karena kehausan.


Dia ingin bangkit dari tidurnya tapi terhalang oleh lengan kekar milik Abdiel.


Akifa memindahkan dengan perlahan lenga itu.


Lalu setelah berpindah, Akifa berusaha untuk bangun.


"Allahu Akbar, perih banget." Keluh Akifa.


Abdiel yang merasakan pergerakan pada bagian ranjang di sebelahnya, dia pun ikut terbangun.


"Yang?, kamu mau kemana?." Tanya Abdiel dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Aku haus pengen minum, sekalian mandi, badanku udah gerah." Jawab Akifa.


Abdiel ikut bangun lalu melihat jam di atas nakas.


"Ayo aku bantu ke kamar mandinya." Kata Abdiel.


"Ngga usah deh Yang, aku bisa kok." Tolak Akifa.


Abdiel tak menghiraukan penolakan istrinya itu.


Dia berjalan ke arah ranjang Akifa lalu memberikannya air putih yang ada di nakas sebelah ranjang Akifa.


Akifa melilitkan selimut tebalnya pada tubuh polosnya itu.


Setelah minum, Akifa bersiap ingin ke kamar mandi.


Tapi terlambat.


Abdiel membawa Akifa dalam gendongannya.


Ia membantu sang istri untuk mencapai kamar mandi dengan aman dan selamat.


"Aku tau kalo 'sensitive' kamu lagi sakit sama perih, jadi ngga bakal mampu kao jalan." Ungkap Abdiel.


"Makasih." Ucap Akifa tulus dengan tersenyum manis.


Sampai di kamar mandi.


Abdiel menduduk kan Akifa di closet, ia lalu mengisi bathtub dengan air hangat dan memberinya wewangian khas milik Akifa.


"Yang?, kamu bener mau mandi jam segini?." Tanya Abdiel.


"Kenapa engga?." Ucap Akifa.


"Kebiasaan kalo di tanya malah nanya balik." Gemas Abdiel dengan mencubit pipi Akifa pelan.


"Hehehe, iya Yang, aku it's ok kok kalo mandi jam segini, lagian aku mandi juga pake air anget." Jawab Akifa.


"Ya udah kalo gitu, ayo aku bantu masuk ke bathtub." Kata Abdiel.


"Engga!, aku bisa sendiri, udah sana kamu mandi di kamar mandi lain." Usir Akifa.


"Yahhhh, kenapa harus mandi di tempat lain kalo di sini ada Yang?." Goda Abdiel.


"Ngga boleh, udah sana keluar!." Usir lagi Akifa.


"Kenapa?, kamu malu?, malu apa?, aku kan udah-." Perkataan Abdiel terhenti karena Akifa membekap mulut Abdiel yang tak berhenti berbivcara.


"Ngga usah ingetin." Celutuk Akifa dengan muka memerah bak kepiting rebus.


Abdiel melepas bekapan tangan Akifa lalu terkekeh pelan.


"Ok ok kalo gitu aku bakal mandi di kamar lain, tapi kamu kalo udah selesai panggil aku, biar kamu ke kasurnya aku gendong aja." Pesan Abdiel.


"Iya nanti aku panggil kalo udah selesai." Jawab cepat Akifa.


Abdiel pun pergi dari kamar mandi membiarkan Akifa mandi.


Di dalam kamar, Abdiel menatap ranjang tempat dirinya dan Akifa bercinta beberapa jam lalu.


Kemudian dia tersenyum mengingat kejadian itu.


Setelah lama termenung, Abdiel merapikan kamar mengganti sprei dengan yang baru, sedangkan yang kotor dia menaruhnya ke keranjang baju kotor.


25 menit waktu Abdiel merapikan ranjang.


Akifa yang ada di kamar mandi sudah keluar dengan keadaan lebih segar.


"Mandi sana." Suruh Akifa.


"Kenapa ngga manggil aku kalo udah?." Tanya Abdiel.


"Karena aku masih mampu buat jalan, udah sana mandi." Suruh Akifa dengan mendorong-dorong tubuh Abdiel.


Abdiel menurut, dia pergi ke kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya yang juga gerah.


Sementara Abdiel mandi, Akifa menyiapkan baju ganti Abdiel.


Setelah mandi mereka berdua tidak tidur lagi dan memilih menunggu subuh dengan berbincang-bincang di atas ranjang.


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2