Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus delapanpuluh


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU


MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Dih, Om ngga nyambung, ngapain nyampe-nyampe netizen plus enam dua? Ngga ada kaitan nya." Cetus Abhi sambil menggeleng kan kepala pelan.


"Dah! Berhenti berdebat ayo masuk masjid, mau iqomah tuh." Seru Rafka menghenti kan Abdiel, Abhi, dan Papa Tika berdebat.


Beberapa menit sholat terlaksana, akhir nya selesai di akhiri dengan khotbah dari uztadz Ariz yang sangat panjang.


Pukul 05.10 menit.


"Ceramah uztadz Ariz luamaaaa buanget." Lebay Abdiel berucap.


"Meski luama tapi bermanfaat loh." Timpal Papa Abdiel yang di benar kan lain nya.


"Iya sih, tapi mataku ama badan ku pengen ketemu kasur." Ujar Abdiel sambil meregangkan otot nya.


"Huuu... ngga baik tidur pagi hari." Peringat Rafka.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Tau nih Abdiel, molor mulu kamu." Timpal Papa Rafka.


"Ya udah ngga tidur, pejamin mata sambil mimpi aja deh nanti." Kata Abdiel sambil terkekeh pelan.


"Sama aja dodol." Sergah Abhi sembari memiting kepala Abdiel dan menjitak nya pelan.


"Hahaha... ." Bukan nya ke sakitan Abdiel malah tertawa terbahak.


Sampai di rumah.


"Assallammu'allaikum." Salam para lelaki saat masuk rumah.


"Wa'allaikum sallam." Jawab para wanita kompak yang tengah menonton TV di ruang santai.


"Lama banget?." Tanya Mama Akifa pada suami nya.


"Dengerin ceramah uztadz Ariz dulu." Jawab Papa Akifa jujur.


"Uztadz Ariz? Ah uztadz itu, sebener nya nyenengin kalo uztadz Ariz ceramah, tapi luama nya itu loh, bikin mata ngantuk dan akhir nya jatuh tidur." Cetus Akifa ikut nimbrung di pembicaraan.


"Bener tuh aku setuju." Imbuh Abdiel yang kini telah membaring kan kepala nya di paha Akifa dan sang istri kontan saja langsung mengelus kepala Abdiel dengan lembut.


"Jangan tidur lagi." Cetus Abhi.


"Bentaran doang, 30 menit." Kata Abdiel sambil sudah memejam kan mata nya.


Waktu berlalu. Sekarang sudah pukul 07.25 pagi.


"Bawa berapa mobil nih buat nganter?." Tanya Abhi pada Rafka.


"Jangan banyak-banyak, bawa 2 aja, biar sebagian nanti ikut di mobil kita." Ujar Rafka pada sahabat nya ini.


Abhi mengangguk kan kepala paham.


Tiba-tiba... .


'Ring... ring... ring... .' Ponsel Rafka berdering.


"Siapa nih pagi-pagi nelpon?." Tanya Rafka oada diri nya sendiri.


Dia mengambil benda pipih di dalam saku celana nya dan mwngecek panggilan dari siapa kah itu.


Tertera nama Bang Idan dan Bang Rafa di sana. Bukan telepon lebih tepat nya video call.


"Siapa Raf?." Tanya Abhi.


"Bang Idan sama Bang Rafa." Jawab Rafka singkat.


"Bang Idan? Gila aja, sekarang kan di sana jam 1 dini hari." Seru Abhi pada Rafka.


"Niat bangun jam segitu sambil sahur kali." Positif thinking Abdiel yang tiba-tiba dateng entah dari mana.


"Kaya Jaelangkung aja Lu, datang tak di jemput pulang tak di antar." Cetus Rafka yang ssbener nya dia sedikit terkejut dengan ke datangan Abdiel.


Suami Akifa hanya cengengesan di katai jaelangkung oleh sahabat nya ini.


"Dah! Cepet angkat telepon nya!." Suruh Abdiel pada Rafka.


Rafka mengangguk lalu menggeser ikon biru ke atas tanda menerima video call itu.


"Assallammu'allaikum saudara se iman ku." Ucap Bang Idan semangat.


"Wa'allaikum sallam, dih! Sok ngustadz Lo!." Seru Abdiel sambil terkekeh pelan.


"Hahahaha... apa kabar kalian semua?." Tanya Bang Rafa di seberang.


"Alhamdulillah sehat, kalian semua di sana gimana? Sehat-sehat juga kan?." Tanya Abdiel.


"Alhamdulillah kita sehat." Jawab Bang Rafa dan Bang Idan kompak.


"Abang-abang berdua lanjut ngobrol sama Abdiel dan lain nya dulu aja yah, Gua sama Abhi mau nyiapin mobil buat nganter para tetuah ke bandara." Kata Rafka yang di iya kan oleh Bang Rafa dan Bang Idan.


Di dalam perjalanan berangkat ke bandara. Semua orang mengobrol dengan Bang Rafa Kak Raina, dan Bang Idan Tika.


Bang Rafa dan Bang Idan bercerita tentang perusahaan mereka yang hampir gulung tikar, mereka juga bercerita tentang sibuk nya hari-hari mereka di Surabaya dan di London tempat Bang Idan sana.


"Itu orang yang nipu perusahaan Bang Rafa udah ketemu?." Tanya Papa Rafka.


"Belum Om, polisi bilang seperti nya dia di lindungi oleh seseorang yang lumayan kuat, tapi polisi bilang mereka masih sanggup mencari nya karena memang penipu itu telah menjadi buronan di kota lain juga." Jelas Bang Rafa.


"Maka nya Bang, lain kali kalo jalin keeja sama di liat dulu itu latar belakang nya gimana, biar ngga kaya gini, biar kamu ngga pusing mikirin cara buat solusi ini." Nasihat Papa Abdiel pada Bang Rafa.


"Ya nama nya juga manusia Om, ngga ada yang sempurna, keteledoran, dan tidak teliti pasti ada di dalam diri kita." Kata-kata bijak keluar dari mulut Bang Rafa.


"Ya Bang Rafa bener, ngga ada yang sempurna di dunia ini." Timpal Bang Idan yang di angguki oleh lain nya.


"Udah dong jangan bahas perusahaan muluk, bosen! Kita ngga ada yang paham soal nya!." Cetus Tika protes.


"Hahaha... iya deh, silah kan ngomong para wanita." Papa Abdiel memepersilah kan.


Semua orang berbincang dengan sangat gembira walau berbeda mobil.


Sampai di bandara video call masih berlanjut.


"Ouh ya sebelum pergi, kami para tetuah mau berpesan sama kalian, jangan berantem, harus saling jaga satu sama lain, saling sayang juga, kewajiban sama Allah jangan sampai di tinggal baik sengaja mau pun ngga sengaja, kalo punya masalah satu sama lain selesai kan dengan kepala dingin." Nasihat para tetuah panjang.


Zarine, Akifa, Alfi, Tika, dan Kak Raina berkaca-kaca saat mendapat nasihat para tetuah, kontan saja mereka menghambur ke dalam peluk kan para Ibu dan Ayah itu.


10 menit berlalu, para tetuah harus segera check in karena pesawat akan segera berangkat.

__ADS_1


Dari jauh para tetuah melambai kan tangan, dan dengan semangat 45 Zarine dan ibu hamil lain nya membalas nya sambil bercucuran air mata.


"Dah, jangan nangis, mereka cuma 1 minggu di sana, mereka akan pulang, tunggu satu minggu lagi yah, ayo sekarang kita pulang." Ajak Abhi pada para bumil.


"Ya udah video call nya kita tutup dulu yah, Gua mau ke kantor nih." Pamit Bang Rafa.


"Sama, Gua mati in dah video call nya, Gua ama Tika mau makan sahur dulu, kalian langsung pulang, jangan keluyuran." Pamit Bang Idan dengan memeberi kan nasihat nya.


"Siap Abang-abang semua, semangat yah kerja di sana, assallammu'allaikum." Salam 6 serangkai kompak.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Bang Idan Tika dan Bang Rafa Kak Raina di seberang sana.


'Tut.' Video call berakhir.


6 serangkai pun meluncur kembali pulang ke kediaman Rafka Zarine.


Di perjalanan hanya ada lamunan baik di mobil yang di kendari Rafka mau pun di mobil yang di kendarai Abhi.


Zarine, Akifa, Alfi tepat nya yang melamun. Raga mereka di dalam mobil tapi pikiran mereka tertuju pada para tetuah yang sedang berangkat ke Jerman.


'Lindungi para tetuah kami ya Allah.' Doa itu selalu melantun merdu di dalam hati 3 wanita hamil ini.


Sampai di rumah, para bumil ini duduk di depan TV yang menyala dengan pandangan kosong.


"Kalo terus berlanjut seperti ini, kasian Baby nya ikut sedih." Cetus Abdiel khawatir pada istri dan anak nya yang ada dalam rahim Akifa.


"Kita ajak mereka ke kamar buat nenangin diri, mode SG kita harus aktif." Kata Abhi yang kemudian di tatap aneh oleh Rafka dan Abdiel.


"Apa?." Tanya Abhi dengan menunjuk kan wajah datar nya.


"Mode SG apa an?." Tanya Abdiel tak paham.


"Mode SG arti nya, Mode Suami Siaga." Jelas Abhi pada sahabat-sahabat nya.


"Ada-ada aja Lu, dapet dari mana coba singkatan kaya gitu?." Tanya Abhi yang di balas hanya dengan angkatan bahu acuh dari Abhi.


Saran Abhi ada benar nya, para pria itu kemudian membawa istri-istri mereka ke kamar masing-masing, mengunci pintu kamar dan menidur kan para istri di ranjang, memposisi kan nya pada tempat yang nyaman.


Di kamar Rafka Zarine.


"Yang?." Panggil Rafka lembut.


Zarine tak menjawab tapi menoleh kan wajah nya langsung pada Rafka sang suami.


"Jangan melamun terus, kalo kamu sedih Baby ikut sedih tau." Beri tahu Rafka sambil mengusap perut buncit Zarine.


"Air mata nya aja yang nakal ngga mau berenti, pikiran aku juga nakal, dia mikirin yang enggak-enggak." Cetus Zarine dengan menatap nanar Rafka.


Sedetik kemudian Zarine pun menangis, dan segera secepat kilat Rafka menarik sang istri ke dalam peluk kan nya untuk menenang kan.


"Udah, ngga usah sedih, mereka ke Jerman mau kerja sama liburan, in syaa allah ngga akan terjadi apa-apa, kamu doa in aja biar para tetuah selamat sampai tujuan dan bisa kembali berkumpul bersama kita di sini, cuma seminggu kok Yang, habis itu udah, kita bakal kumpul kaya dulu lagi, dah jangan nangis." Rafka memberi pengertian pada istrinya tercinta.


Setelah mendapat kan kata-kata penenang dari Rafka Zarine sudah sedikit tenang.


Tapi tiba-tiba dia bertanya hal yang sedikit mengejut kan Rafka.


"Jika Bunda, Mama Papa dan lain nya ngga kembali aku harus gimana Raf?." Tanya Zarine lirih. Mata nya menatap Rafka dengan lekat.


"... ." Rafka belum mengeluar kan suara tuk menjawab, dia punenatap Zarine sang istri tak kalah intens.


2 menit kemudian.


"Yang? Kok ngelamun sih? Ayo jawab! Aku harus gimana?." Tanya Zarine mengejut kan Rafka.


"Ya kita harus ikhlas, tapi semoga apa yang kamu pikir kan dan ucap kan ini ngga terjadi." Doa Rafka yang kembali dia memeluk Zarine erat.


"Aamiin." Jawab Zarine.


'Kenapa perasaan aku ngga enak gini? Semoga ngga ada apa-apa ya allah, tolong lindungi para tetuah kita ya allah, hamba mohon.' Doa Rafka panjat kan pada Allah.


Lelah menangis, Zarine terlelap dalam dekapan nyaman Rafka.


Suami Zarine ini kemudian membaring kan nya dalam posisi yang nyaman, setelah itu Rafka ikut berbaring di samping Zarine dan memeluk nya kembali.


Rafka terus memikir kan pertanyaan yang Zarine lontar kan.


"Udah lah, kenapa aku jadi ikutan over thinking gini? Kaya cewek aja." Cetus Rafka berbicara pada diri sendiri.


Hari semakin beranjak siang.


Para wanita sedang duduk di teras depan dengan menatap taman indah yang banyak bunga mawar hitam.


Sekali lagi, mereka ber tiga menatap kosong taman itu, raga dan pikiran mereka tak sinkron, raga di rumah pikiran tertinggal jauh entah di mana.


"Ck! Males Gua kalo mereka melamun lagi kek gini, mikirin apa si?! Mereka bertiga pasti over thinking nih soal para tetuah." Ujar Abdiel jengkel pada Akifa, Alfi, Zarine.


"Udah jan emosi, kita tegur baik-baik jan marah-marah." Kata Abhi dengan suara penuh kesabaran.


"Inti nya jangan bentak mereka, Lo tau kan Diel apa resiko nya." Cetus Rafka menimpali.


'Khemmm... huuffhh.' Abdiel menarik nafas panjang dan menghembus kan nya dengan pelan.


"Ok Gua udah ngga marah." Kata Abdiel dengan menunjuk kan senyum sejuta watt nya.


Setelah itu 3 pria bergelar suami itu menghampiri wanita mereka masing-masing dan memeluk nya dari samping.


"Ngga baik ngelamun terus, jangan over thinking, ingat di perut kalian ada Baby, kalo kalin stres itu berpengaruh pada Baby nya." Panjang Rafka memberi petuah.


"Mending kita masuk yuk ke dalam rumah, kita liat K-Drama dari DVD." Ajak Abdiel dengan eskpresi senang.


Para wanita meng iya kan walau hati dan pikiran mereka tengah kacau tapi tetap mereka menuruti permintaan para suami karena memang benar kata Rafka tadi jika mereka stres Baby mereka juga ikut stres dan berakibat buruk.


Waktu ke waktu perasaan Zarine, Akifa, Alfi makin tak menentu, apa lagi saat hendak berbuka puasa, mereka malah sering melamun dan semakin membuat para pria menghela nafas lelah menasihati agar tak terus melamun.


Adzan maghrib pun berkumdang, 6 serangkai membatal kan puasa, sebelum makan mereka sholat dulu.


Setelah selsai mereka kembali ke meja makan dan makan, tiba-tiba... .


'Pyar!.'


"Allahu akbar!!." Pekik 6 serangkai terkejut.


"Apa itu yang pecah?." Tanya Zarine.


"Ayo cek." Ajak Alfi.


Mereka berjalan ceoat menuju ruang santai untuk melihat benda apa itu yang terjatuh dan pecah.


Sampai di ruang santai.


"Astaghfiullah." Zarine, Akifa, Alfi beristighfar terkejut. Mereka mendekat ke arah barang yang pecah itu.


"Ada apa ini? Jantungku semakin berdetak kencang dari biasa nya seperti hendak menerima sesuatu yang besar, dan kenapa yang jatuh foto para tetuah? Padahal ngga ada angin." Panjang Zarine berucap dengan suara bergetar dan air mata berjatuhan.


Sebagai suami, Rafka, Abdiel, Abhi langsung membawa 3 wanita itu dalam peluk kan mereka. Mata mereka menatap figura foto para tetuah yang pecah itu.


"Udah ok, udah jangan nangis, ayo tenangin diri dulu." Ajak Rafka pada mereka para wanita, lalu mereka duduk di sofa, para pria meninggal kan mereka sebentar untuk mengambil makanan di meja makan.


2 menit kemudian.


"Ayo sambil makan, jangan nangis terus, kasian Baby nya." Nasihat Rafka.


Walau pun sebenar nya nafsu makan para wanita sudah hilang, tapi mereka tetap makan, sesekali para wanita menyuapi suami mereka, karena tau pasti mereka juga belum makan.


"Penerbangan dari sini ke Jerman berapa jam?." Tanya Akifa.


"Kurang lebih 15 jam an." Jawab Abdiel sambil menyuap kan nasi dan lauk ke mulut Akifa.


Tak ada tanggapan setelah Abdiel menjawab pertanyaan nya, Akifa malah diam dan memandang jauh ke depan.


"Ayo nasi terakhir." Ujar Abdiel.


"Kamu aja yang makan, aku kenyang." Jawab Akifa.


"Aku juga udah kenyang." Zarine ikut-ikutan.

__ADS_1


"Hmm... aku juga." Kata Alfi sambil mendorong piring yang di pegang Abhi.


"Ok." Balas para suami kompak.


Setelah berbuka puasa 6 serangkai memilih duduk di mushollah dengan mengaji sambil menunggu adzan isya' mereka memutus kan untuk tak mengikuti terawih di masjid.


Pukul 19.10 menit, 6 serangkai kembali ke kamar dan tidur, para pria menemani mereka sambil memeluk mereka erat.


"Jangan kemana-mana, di sini aja." Ujar Zarine pada Rafka dengan manja.


"Iya aku ngga kemana-mana, wah manja banget nih istri aku, makin sayang deh." Ujar Rafka dengan mengerat kan peluk kan nya pada Zarine sang istri.


Mereka pun tidur dengan nyanyak.


Di suatu tempat yang indah, penuh dengan bunga-bunga berwarna warni yang mekar nan indah, Zarine menoleh kan kepala nya ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu atau seseorang.


"Zarine?." Panggil seseorang yang jarak nya lumayan jauh dari tempat berdiri.


Zarine menoleh ke arah sumber suara dan... .


"Bunda?." Panggil Zarine antusias. Dia kemudian berjalan cepat ke arah Bunda nya dan hendak memeluk tapi... .


"Loh?." Zarine terkejut karena tak dapat menyentuh Bunda nya.


Bunda tersenyum melihat tingkah putri nya.


"Sayang?." Panggil Ayah Zarine yang muncul dari belakang Bunda nya.


"Ayah?!." Seru Zarine semangat.


"Kabar kamu gimana sayang?." Tanya Ayah lembut.


"Sehat Yah, sekarang Zah lagi hamil, twins Yah." Antusias Zarine bercerita.


"Sayang? Zarine jaga diri baik-baik yah, sehat-sehat sama Baby dan Rafka." Pesan Bunda Zarine.


"Bunda?." Panggil Zarine bingung.


"Bunda ngga bisa kembali ada di samping kamu sayang, Bunda harus pergi sama Ayah karena sudah waktu nya, maafin Bunda dan Ayah yah udah banyak salah sama Zarine." Ucap Bunda sembari menampil kan senyum lembut ala seorang Ibu.


"Seharus nya Za yang bilang gitu, Zah minta maaf dari kecil sering repotin dan nyusahin Ayah Bunda, bahkan pas udsh nikah pun masih nyusahin, maafin Zarine Yah Bun." Ucap Zarine dengan mata dan pipi yang sudah basah oleh air mata.


"Kami sudah maaf kan segala kesalahan kamu sayang, dan sekarang... Bunda ama Ayah harus pergi karena sudah waktu nya, jaga diri baik-baik, jangan tangisi kami atau langkah kami akan berat menuju ke alam selanjut nya." Pesan Ayah pada anak perempuan nya ini.


Zarine menjawab lewat gelengan kepala nya, di depan mata nya dia melihat Ayah dan Bunda nya sedikit demi sedikit menghilang di telan cahaya putih dari langit.


"Ayah?! Bunda?! Jangan tinggal kan Zarine!! Ayah?!! Bunda?!!!." Teriak Zarine sekeras keras nya dengan mata berurai air mata.


Dan tiba-tiba... .


"Bunda?! Ayah?!." Teriak Zarine dan dia bangun dari tidur nya dengan nafas memburu juga pipi nya yang basah karena air mata.


Rafka segera memeluk Zarine, menenggelam kan kepala serta isak kan Zarine di dada bidang nya.


"Hutsss ada apa?." Tanya Rafka lembut.


"Rafka aku mimpi Ayah sama Bunda, mereka bilang maaf karena ngga bisa kembali, terus Bunda Ayah hilang di hisap cahaya putih." Cerita Zarine dengan sesengguk kan.


"Tenang dulu, tenang, minum dulu." Kata Rafka memberi kan sang istri air putih dan menghapur sisa air mata nya.


Zarine sudah mulai tenang.


"Jam berapa sekarang?." Tanya Zarine pada sang suami.


"Jam 02.00 pagi." Sebut Rafka sambil mata nya menatap jam dinding di kamar nya ini.


Zarine kemudian tergesa-gesa ke kamar mandi, 5 menit kemudian dia keluar kamar dengan berlari cepat dan langsung berhenti di depan TV lalu segera menyala kan TV tersebut.


2 menit setelah menyala kan TV, Alfi Abhi, dan Akifa Abdiel menyusul Zarine Rafka yang sudab stay di depan TV.


"Ada berita apa-apa ngga??." Tanya Akifa, raut muka nya tampak cemas.


"Belum tau, masih iklan." Ujar Zarine.


10 menit menunggu iklan, berita pertama yanga di dapat 6 serangkai ialah... .


'Pesawat xxx Jakarta-Jerman/Berlin mengalami kerusakkan teknis dan kecelakaan di lokasi xxx, seluruh awak pesawat dan dan penumpang tewas, tak ada yang selamat di kecelakaan itu.' Kata reporter pada permirsa di rumah.


"Itu pesawat para tetuah." Lirih Alfi berucap.


Tatapan para wanita hamil kosong ke depan dengan dengan air mata luruh banjir.


Para pria juga tak menyangka ini semua akan terjadi, mata mereka memerah menahan tangis, wajah mereka penuh kesedihan.


Segera para pria menarik para bumil itu dalam dekapan masing-masing. Dan sedetik kemudian tangis mereka pecah.


Di Surabaya dan di London mereka juga di landa kesedihan mendalam.


Kontan saja mereka langsung memeasan tiket pulang ke Indo dan yang dari Surabaya langsung meluncur ke Jakarta.


Di rumah Rafka Zarine para wanita masih menangis sampai pingsan.


Kontan saja para suami kalang kabut kelimpungan, mereka segera membawa para istri-istri mereka ke RS.


Musibah di tengah ramadhan seperti ini tak ada di agenda 6 serangkai.


Setelah sampai rumah sakit langsung saja mereka membawa para istri ke UGD untuk di periksa.


NB: Meski pun ngga nangis, aku ikutan nyesek.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


B E R S A M B U N G . . .


Lanjut besok ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2