Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus delapanpuluh dua


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU


MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Kita di sini sampai 7 hari di hitung dari hari ini, nanti setelah hari ke tujuh para tetuah, kita akan pulang, maaf ngga bisa lama, perusahaan ku masih amburadul di sana." Jelas Bang Rafa, nada bicara nya penuh dengan peenyesalan.


"Ngga papa lagi Bang, yang penting Bang Rafa sama Kak Rain pulang." Zarine berbicara sambil menampil kan senyum terbaik nya.


"Kalo Bang Idan? Pulang kapan?." Tanya Rafka.


"Sama kaya Bang Rafa, sory banget Gua ngga bisa lama-lama." Jawab Bang Idan sambil mengucap kan maaf.


"Ngga papa meski ngga lama, yang penting di hari duka kaya gini kita ngumpul, ngga mencar-mencar." Kata Akifa dengan memasang senyum manis nya.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Terawih kali ini 5 keluarga junior tak melaksanakan nya, setelah acara tahlilan para tetuah tadi mereka masuk kamar masing-masing, dan melakukan sholat isya' di dalam kamar.


Di dalam kamar Rafka Zarine.


Zarine duduk di balkon dengan pandangan lurus ke depan, tangan nya bergerak memutar mengelua perut buncit nya.


'Ngalamun lagi, haduh.' Batin Rafka yang berdiri dari belakang Zarine.


Rafka melangkah mendekat ke arah Zarine, berdiri tepat di belakang tubuh sang istri dan... .


'Hap!.' Rafka menutup ke dua mata Zarine dengan ke dua tangan nya.


"Yang?." Panggil Zarine pelan.


Rafka melepas tangan nya dari mata Zarine dan duduk di kursi sebelah Zarine.


"Ada apa?." Tanya Zarine.


"Please jangan melamun, perhati kan kodisi kamu sama Baby." Peringat Rafka yang ke sekian kali nya.


Zarine mendengar nasihat Rafka terkekeh pelan.


"Kenapa?." Tanya Rafka heran.


"Kamu dari kemarin bilang itu muluk perasaan, kata-kata lain nya dong." Cetus Zarine pada sang suami.


"Ngga dapet, dapet nya cuma itu." Jawab Rafka dengan tersenyum manis bak gula jawa (eak, canda gula jawa, awokawok #AuthorGesrek).


"Dah ayo tidur jan ngelamun ngga guna soal nya." Kata Rafka lagi pada Zarine.


Tanpa menunggu perintah 2 kali, Zarine menuruti sang suami untuk tidur mnegistirahat kan tubuh nya yang lelah.


Hari ke hari di lalui dengan berat oleh 5 keluarga junior dalam 7 hari sepeninggalan para tetuah.


Sekarang sudah tanggal 5 Juni, kemarin malam adalah peringatan tahlil hari ke 7 para tetuah.


Pagi ini Bang Idan Tika dan Bang Rafa Kak Raina bersiap kembali ke rantauan menyelesai kan pekerjaan di sana.


"Kalian ngga bisa kalo tinggal aja?." Tanya Abhi.


"Kalian tau sendiri, perusahaan kita lagi mau ancur, ngga akan lama kita di rantau an in syaa allah." Ujar Bang Rafa menjelas kan.


"Ya udah kalo gitu kita bakal tunggu ke datangan kalian di sini." Kata Abdiel mengerti.


"Sekarang cus kita ke bandara, pesawat Gua berangkat nih." Bang Idan mengajak.


"Gua ikut anter kalian, entar dari bandara Gua langsung berangkat ke Surabaya." Cetus Bang Rafa.


"Ayo kalo gitu." Imbuh Rafka.


5 keluarga junior pun pergi ke bandara menaiki dua mobil.


Di perjalanan dalam mobil.


"Kaya baru kemarin rasa nya kita ngumpul, eh sekarang mau pisah lagi." Akifa berucap sangat sedih.


"Sekarang semua nya sudah canggih, ada handphone yang bisa kita guna in kalo lagi kangen kan." Tika meng hibur sahabat nya ini.


"Iya sih." Akifa membenar kan ucapan Tika dengan wajah di tekuk cemberut.


"Udah ah jangan cemberut." Kata Tika sambil tangan nya merangkul bahu Akifa memeluk nya dari samping.


Beberapa menit perjalanan sampai lah mereka di bandara internasional Jakarta.


5 keluarga itu masuk ke bandara mengantar kan Bang Idan Tika check in pesawat.


"Bang? Tika? Banyak-banyak sholawat dan dzikir di dalam pesawat yah." Pesan Zarine yang sedari tadi tak berbicara.


"Iya, makasih nasihat nya Za." Ucap Tika tulus.


Setelah melewati drama perpisahan, Bang Idan Tika pun pergi.


"Sekarang Gua yang harus pamit sama kalian." Ujar Bang Rafa pada 6 serangkai.


"Hati-hati ya Bang jangan ngebut-ngebut." Pesan Zarine sembari memeluk sang Abang erat.


"Iya ngga akan ngebut." Balas Bang Rafa dengan mengecup pucuk kepala sang adik tulus.


"Dah jangan lama-lama peluk nya!." Seru Rafka memisah kan Abang dan adik ini.


"Ck! Dasar possesive!." Cetus Bang Rafa berucap.


"Biarin." Sahut Rafka sewot dengan tangan nya melingkar di pinggang Zarine erat.


"Ya udaah kita berangkat, assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa dan Kak Raina.


"Wa'allaikum sallam, hati-hati." Pesan 6 serangkai kompak.


Bang Rafa dan Kak Raina pun pergi.


"Ayo pulang, ini kenapa kita masih ada di bandara, nunggu apa an coba." Kata Abhi dengan langkah kaki menuju mobil nya.


Di dalam perjalanan pulang ke rumah suasana dalam mobil hening tak ada suara, hanya suara mesin mobil yang terdengar.


Sampai di rumah Rafka Zarine. Di ruang santai.


"Guys? Kalo kita di sini rumah Mama Papa siapa yang jaga in?." Tanya Akifa pada 5 sahabat nya di depan nya ini.


"Kan ada ART di sana Yang." Kata Abdiel memberi tahu.

__ADS_1


"Iya sih, tapi kita kan ngga bisa percaya gitu aja sama mereka." Cetus Akifa yang di angguki benar oleh lain nya.


"Gini aja deh, aku punya ide, gimana kalo kita pulang ke rumah para tetuah dan tinggal di sana, rumah ini biar oara ART yang urus, rumah ini bisa kita beri kan pada anak-anak kita nanti kalo udah nikah." Ujar Abhi mengutara kan pendapat nya.


"Setuju." Ujar Alfi cepat.


"Ya Gua juga ngikut, bener yang di omongin sama Abhi dari pada rumah para tetuah terbengkalai mending kita tempatin, biar yang di sini di urus ART." Kata Abdiel panjang lebar.


"Hmmm kita juga setuju." Rafka ikut menyetujui saran Abhi.


"Kapan kita pulang ke sana kalo gitu?." Tanya Zarine.


"Secepat nya, kalo bisa sekarang aja." Sahut Akifa menjawab pertanyaan Zarine.


"Hmmm... ba'da dzuhur nanti aja kita ke sana." Saran Rafka yang di iya kan oleh 5 sahabat nya.


Menit demi menit terus berlalu, tak terasa kini sudah sampai pada waktu ba'da dzuhur.


Para wanita duduk di ruang santai sambil menunggu para pria.


"Yang?-." Ucapan Rafka terhenti saat melihat para wanita seperti tak bersemangat pergi ke rumah para tetuah.


"Apa kita tundu aja ke sana nya?." Bisik Abhi di telinga Rafka.


"Mereka pasti sedih kalo ke sana Raf, apa lagi Lu tau kan di sana banyak kenangan, terutama rumah Lo." Kata Abhi menimpali ucapan Abdiel.


"Terus gimana nih mau nya?." Tanya Rafka.


"Kita ke Puncak aja sekarang." Ajak Abdiel.


"Iya, kita kan udah janji an waktu itu, buat nenangin mereka-mereka ini." Cetus Abhi yang di angguki Rafka.


"Ya udah kalo gitu kita siapin segala nya, ayo kita beres-beres koper." Seru Rafka.


Abhi dan Abdiel mengangguk kan kepala lalu kemudian mereka pergi pulang ke rumah.


20 menit beres-beres mereka pun kembali berkumpul di rumah Rafka dengan membawa koper berukuran sedang.


"Ayo ajak para bumil itu ke mobil." Kata Rafka.


Setelah 6 serangkai masuk dalam mobil, Abdiel menghidup kan mobil dan meluncur meninggal kan garasi serta pekarangan rumah Rafka Zarine.


Di jalan.


"Kita mau kemana?." Tanya Akifa yang sadar bahwa ini bukan jalan menuju rumah para tetuah.


"Kita perjalanan ke Puncak, mending kalian para bumil tidur aja." Saran Rafka yang duduk di sebelah Abdiel yang tengah memegang kemudi saat ini.


"Hmmm... ." Singkat para wanita menjawab.


Walau pun sudah mendapat perintah tidur, 3 bumil muda itu tak tidur, jangan tidur memejam kan mata saja tidak, mereka memilih memandang jalanan dari balik kaca mobil yang mereka tumpangi ini.


"Jam berapa nenti kita sampe nya?." Tanya Alfi.


"Paling jam setengah 4 an, kenapa?." Tanya balik Abhi setelah mnejawab pertanyaan istri nya ini.


"Ngga papa cuma tanya aja." Jawab Alfi ringan.


Suasana hening.


"Andai aja kita bisa cegah para tetuah hari itu, pasti mereka masih ada sama kita." Kata Zarine tiba-tiba dengan pandangan mata kosong ke jalanan.


'Huufffhhh." Helaan nafas lelas terdengar dari Rafka, Abhi dan Abdiel.


"Yang? Kematian itu ngga bisa di cegah, itu sudah takdir dari Allah, kalo ngga sekarang lain hari juga para tetuah bakal meinggal, bukan cuma mereka, tapi kita juga seperti itu, akan tiada jika sudah waktu nya." Rafka menjelas kan dengan sedikit menekan kata-kata nya.


"Udah girl's! Jangan nyalahin diri sendiri, ini udah jalan dari Allah, ngga bisa kita ubah, sekarang yang kita lakuin harus ikhlas dan lapang dada, mendoa kan mereka di sana semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya, jangan di tangisin atau langkahe mereka di sana akan berat." Abhi ikut menasihati para wanita yang terlihat dari kaca spion tengah mereka sudah menees kan air mata nya tanpa suara.


"Ngga cuma kalian doang kok yang sedih, kita juga sedih, terpukul, dan terkejut tentu saja, tapi kita harus kuat." Imbuh Abhi.


"Dah berenti ingat yang sudah berlalu, hidup masih panjang, kita ngga akan menetap ti keterpuruk kan, kita harus bangkit." Kata Rafka memberi semangat.


Tangan para wanita menunduk kan wajah nya menatap perut mereka, tangan mereka berputar mengelus sang jabang Baby di dalam sana.


"Kalian tau ngga? Masih banyak tau orang yang ada di bawah kita, kita masih untung di temeni para tetuah sampai umur kita 19 tahun, di luaran sama bahkan ada anak yang ngga tau siapa orang tua nya." Abhi mengingat kan para wanita lagi.


"Jangan jauh-jauh buat contoh, orang tua kuta sendiri aja deh contoh nya, para tetuah ini asal nya dari mana?." Tanya Abdiel bertanya pada para wanita.


"Panti asuhan." Jawab Zarine lirih.


"Nah! Paham kan maksud ku?." Tanya Abdiel yang di angguki oleh 3 wanita ini.


"Kita tuh cuma syock aja loh, kaya ngga percaya gitu kalo mereka semua udah ngga ada, kaya deg... gitu rasa nya, jantung kaya berenti berdetak saking ngga percaya nya." Ungkap Alfi pada para pria.


"Hmmm... rasa nya kaya baru kemarin kita ngobrol bercanda bareng, eh tau-tau sekarang udah ngga ada aja, kita cuma terkejut aja." Jelas Zarine mencerita kan isi hati nya.


"Kita paham dan tau banget kok kalo manusia di dunia ini ngga ada yang abadi, semua makhluk akan kembali pada Sang Maha Kuasa, hal itu ngga bisa kita tawar lagi, kita bersyukur banget bisa di temenin para tetuah selama 19 tahun lama nya, waktu bersama beliau semua sungguh indah, dan itu yang membuat kita agak ngga ikhlas melepas kan." Jujur Akifa sepenuh hati.


Hening. Ke adaan di dalam mobil senyap tak ada suara setelah pembicaraan panjang yang mereka ucap kan tadi.


Lama berdiam diri, Abdiel kembali berbicara.


"Aku penah denger seseorang pernah berkata 'Hidup tuh kaya roda berputar, yang di atas ngga selama nya di sana, begitu pun yang susah ngga selama nya menetap di kehidupan itu'." Kata Abdiel bijak.


"Dah jangan sedih-sedih lagi, para tetuah pasti ngga akan tega kalo liat kita sedih, langkah mereka akan berat nanti." Cetus Rafka menghibur.


Pembicaraan pun berganti menjadi topik yang menyenang kan menghapus kesedihan yang terukir karena ketiadaan para tetauh.


Para wanita sadar apa yang di sampai kan suami mereka benar, tak ada makhluk hidup yang abadi. Semua nya akan kembali ke sisi-Nya, hanya tinggal menunggu waktu yang Dia (Allah) beri kan.


Kematin tak dapat di tebak atau di cegah, bahkan malaikat maut datang mengunjungi kita sampai 70 kali sehari.


Waktu telah menunjuk kan ashar.


6 serangkai berhenti di salah satu masjid terdekat untuk menunai kan sholat ashar, setelah selesai mereka melanjut kan perjalanan.


"Kalo ke Puncak aku jadi ingat Dini sama Panji." Cetus Zarine tiba-tiba sambil terkekeh pelan.


"Hahaha... iya yah gimana kabar mereka sekarang di sana? Aku penasaran apa Shita sudah isi apa belum?." Akifa bertanya-tanya pada diri nya sendiri.


"Kita doa kan saja Shita yang terbaik." Kata Zarine lembut berucap.


"Hmmm... aku berdoa semoga Shita juga lagi hamil, aamiin." Ucap Alfi.


"Aamiin." Balas 5 sahabat lain nya yang ada dalam mobil ini.


45 menit perjalanan mobil Rafka yang di setir oleh Abdiel itu sampai di Villa yang biasa mereka dan para tetuah tempati.


Mereka turun dari mobil dan memperhati kan bangunan di depan dengan seksama.


"Kalo ke sini jadi inget pas kita nikah dulu, Rafka yang tiba-tiba nikah sama Zarine, lalu nyusul kita ber 4 dan akhir nya di susul Bang Rafa dan Bang Idan." Kata Akufa dengan menampil kan senyuman manis di bibir nya.


"Di sini juga ngga cuma ada seneng nya aja, sedih nya juga ada, bahkan menegang kan pun ada." Tutur Abdiel mengingat kan seluruh kisah yang ada di Villa ini.


"Ya, apa lagi yang waktu aku di teror Sari dulu, aku inget sampe sekarang, tapi ngga inget isi teror nya apa." Zarine mengingat kan kejadian itu.


"Itu dulu nikahan nya siapa yah?." Tanya Akifa yang lupa-lupa ingat.


"Kalo ngga salah sih nikahan nya kalian ber 4." Ujar Rafka mengingat-ingat.


"Aduh udah ah jangan bahas telor." Putus Akifa.


"Bukan telor Yang, teror." Abdiel meralat ucapan sang istri yang salah.


"Hahaha... iya iya maaf aku salah, ayo masuk aku mau mandi badan ku lengket semua." Kata Akifa dengan langkah kaki nya menuju Villa itu.


"Yang? Mandi bareng dong!." Seru Abdiel mengajak.


"Njer! Lo kalo ngomong jangan di depan umum gini dong, dasar! Urat malu Lo di mana si Diel? Dah putus kah?!." Seru Alfi jengkel.

__ADS_1


Dia malu sendiri mendengar ajak kan Abdiel pada Akifa.


"Tau nih si Abdiel." Cetus Zarine juga, pipi nya bahkan sudah memerah malu.


"Mulut Lo emang lemes Diel, jengkel ndiri Gua." Ujar Rafka sambil berlari kecil dan memiting kepala Abdiel.


Abdiel yang mendapat perlakuan tidak mengenak kan dari Rafka hanya bisa terbahak juga kesakitan.


"Udah Raf! Kasian suami Gua tuh." Cetus Akifa melerai.


"Kalo ngomong di jaga, Lu kan tau di sini banyak anak di bawah umur." Nasihat Abhi datar.


"Anak di bawah umur?." Beo Alfi yang masih ngga ngeh.


"Siapa?." Tanya Rafka.


"Nih Trio Ubur-ubur nih." Tunjuk Abhi pada Zarine, Akifa, Alfi.


"Setan! Lu anggep kita bocil?! Kalo bocil kita ngga akan bisa di ajak bikin anak." Ketus Alfi bersuara.


"Bener tuh kata Alfi." Akifa ikut nemipali.


"Dan kalo kita bocil, kalian nikah ama bocil dong." Kata Zarine.


"Aih iya juga yah." Gumam Abhi.


"Dah berenti bahas bocil, ayo masuk." Ajak Alfi dengan suara datar nya.


6 serangkai pun masuk ke dalam Villa.


"Assallammu'allaikum!." Salam mereka kompak.


"Wa'allaikum sallam, eh? Nona? Tuan? Kapan sampe nya?." Sambut perempuan paruh baya yang baru muncul dari dapur.


"Baru saja Bu, Ibu apa kabar?." Tanya Akifa sambil mencium punggung tangan wanita peruh baya itu di ikuti oleh 5 sahabat lain nya.


"Alhamdulillah saya sehat Nona, kata Bapak Nona sama Tuan datang nya baru besok?." Tanya Ibu itu.


"Hehehe... kami mempercepat nya Bu." Jawab Abdiel dengan cengengesan bak orang tanpa dosa.


"Hmmm... ouh iya Ibu sama Bapak turut berduka cita soal meninggal nya orang tua Nona dan Tuan yah." Ucap Ibu tulus dari hati.


"Iya Bu makasih." Balas 6 serangkai bersamaan.


Kabar kematian para tetauh cepat menyebar memang, semua nya terkejut dan tak percaya akan berita itu, banyak yang sedih dan tak sedikit pula yang bahagia karena kematian para tetuah, yang bahagia itu adalah rival dalam bisnis para tetuah. Mereka beranggapan ke tiadaan para tetuah memudah kan mereka untuk menjatuh kan perusahaan raksasa para tetuah.


Tapi mereka melupa kan 5 keluarga junior, selama 7 hari ini banyak rival atau musuh yang hendak melumpuh kan perusahaan yang di dirikan dengan kerja keras milik para tetuah itu.


Dengan bantuan para Asisten 6 serangkai bisa menyelesai kan kendala itu. Dan perusahaan sudah normal kembali sekarang, tapi tetap saja tenang bukan berarti telah selesai, siapa tau ketenangan itu awal dari badai, tak ada yang tau masa depan, 6 serangkai hanya bisa berjaga-jaga dan bersiap sedia.


Ok kembali ke Villa 6 serangkai.


Setelah berbincang basa basi dengan pengurus Villa yang di tempati 6 serangkai ini, mereka masuk ke kamae masing-masing hendak istirahat.


Di kamar Rafka Zarine.


'Bruk!.' Zarine menjatuh kan tubuh nya di atas ranjang yang empuk dan nyaman itu.


"Uh enak nya, alhamdulillah punggung ku bisa ketemu sama kasur, pegel duduk ama berdiri mulu." Keluh Zarine panjang.


"Sayang? Mending mandi dulu, jangan langsung rebah gitu, ayo mandi." Ajak Rafka sambil menarik-narik pelan tangan Zarine.


"Kamu dulu aja sama yang mandi." Suruh Zarine pada sang suami.


"Ya udah, aku mandi dulu, aku keluar kamar mandi jangan tidur loh, awas aja kalo tidur!." Ancam Rafka pada sang istri tercinta.


"In syaa allah ngga tidur." Jawab Zarine dengan menunjuk kan senyum 5 jari nya.


"Ck! Senyum mu itu loh, jangan lebar-lebar." Cetus Rafka dengan ketus.


"Kenapa ngga boleh lebar-lebar?." Zarine heran.


"Kalo lebar-lebar gitu manis nya udah ngalahin gula jawa, ngga kuat aku entar dan berakhir pengen unyel-unyel tuh pipi." Jelas Rafka cuek dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Zarine menutup wajah nya dengan kedua tangan nya dan menyembunyi kan rona merah di pipi nya yang cabby itu.


"Dasar Rafka! Udah mau punya Baby masih aja goda in aku." Gerutu Zarine di iringi senyuman malu nya.


Beberapa menit kemudian Rafka keluar kamar mandi dan mendapati Zarine membawa baju ganti untuk nya.


"Wah wah rajin yah istri aku." Puji Rafka yang membuat Zarine cemberut mengerucut kan bibir nya.


'Lah? Kok cemberut? Salah ngomong kah aku?.' Batin Rafka bertanya-tanya.


"Kenapa?." Tanya Rafka pada Zarine.


"Emang selama ini aku bukan istri yang rajin yah? Sampe ngomong gitu." Kata Zarine ketus.


'Aish! Kenapa aku bisa lupa kalo bumil satu ini sensitif? Duh! Dasar Rafka oon!.' Rutuk Rafka dalam hati mengumpati diri nya sendiri.


"Hehehe... bukan gitu maksud nya Yang, udah ah jangan cemberut, bantu pake in baju nya yah?." Pinta Rafka lembut yang sebenar nya berniat mengalih kan pembicaraan yang membuat nya terancam itu. Terancam apa? Terancam tidur di luar tak memeluk Zarine.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


B E R S A M B U N G . . .


Lanjut besok ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2