
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA๐๐.
******************************
-
-
"Aku ndak papa, harus nya yang tanya kan Agnez, Mas Angkasa kenapa? Ndak papa to?." Tanya Agnez khawatir.
Angkasa tak menjawab, tapi Angkasa tersenyum senang karena di khawatir kan oleh Agnez.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Aneh memang, saat Agnez khawatir, malah Angkasa senang karena di khawatir kan, hadehhh... dasar Angkasa.
"Mas Angkasa kenapa to? Ada apa apa kah tadi wakti kami pulang?." Tanya Agnez masih di landa perasaan penasaran yang memuncak.
"Aku ngga papa, aku baik-baik aja, boleh ngga kalau aku minta janji sama kamu?." Pinta Angkasa dengan wajah memelas nya.
"Janji apa dulu nih? Agnez ndak mau bikin janji se enak nya." Cetus Agnez bertanya-tanya.
"Aku mau kamu janji mulai besok dan seterus nya kalo di sekolah maupun di mana pun kalo kita bareng, jangan pernah lepas pandangan dari aku, jangan pernah lepas gandengan tangan kita, dan jangan pernah jauh dari aku, janji?." Tanya Angkasa dengan pandangan mata tegas nya meminta.
Agnez membulat kan mata tak paham maksud dari Angkasa membuat janji itu, dan dengan pertimbangan hati, Agnez mengangguk kan kepala patuh.
Angkasa tersenyum bahagia, dia mengulur kan jari kelingking nya dan dengan keyakinan penuh Agnez menyambut jari Angkasa.
"Terima kasih little girl." Ucap Angkasa tulus dan penuh dengan kelembutan.
"Sama-sama." Balas Agnez tak kalah tulus.
Mereka berdua kembali berpeluk kan dengan erat.
Jika Angkasa meminta janji pada Agnez, beda lagi dengan Albhi ke Wulan.
2 pemuda dan pemudi itu masih berpeluk kan erat bak tak terpisah kan.
'Sehelai rambut Lanlan saja jika Haris menyentuh nya, aku akan mematah kan tangan nya, aku tak kan peduli lagi apa pun alasan nya, Lanlan hanya milik ku, dia akan tetap jadi milik ku, kecuali dia sendiri yang ingin pergi dari ku, maka aku dengan suka rela melepas kan nya, dan pria yang memiliki nya juga harus sepadan dengan diri ku cinta nya, aku tak kan memberi kan mu pada sembarang orang Lanlan, tapi aku berdoa pada Allah semoga hati mu tercipta untuk ku, hanya pada ku, aamiin.' Batin Albhi berbicara panjang, sampai tanpa sadar Albhi memeluk Wulan sangat erat.
"Banh Bhi... bhi? Wulan se... sak... na... fas... nya... lepas du... lu peluk nya... ." Pinta Wulan dengan nada bicara terbata-bata.
"Ouh maaf Lanlan, maafin aku, maaf yah." Ucap Albhi merasa bersalah.
"Iya ngga papa." Balas Wulan sambil tersenyum manis, Wulan masih dalam kondisi menetral kan nafas nya yang tak teratur.
"Udah berenti peluk-peluk kan nya, ayo bersiap buat sholat jamaah dzuhur." Ajak Mama Tika pada semua orang.
Semua orang mengangguk meng iya kan lalu berdiri dari duduk dan melangkah menuju kamar masing-masing.
Pukul 12.30 siang setelah sholat dzuhur semua orang makan siang bersama di ruang makan, ya iya lah makan di ruang makan, masa makan di kamar mandi๐ yang bener aja dong Thor!๐.
Back to topic.
Di tengah suasana makan, suara Angkasa terdengar dengan begitu tegas nya.
"Om Cakra, Tante Dewi, Agnez, sama Kak Rain sebaik nya sampai hari pindahan tiba lebih baik di sini aja dulu, biar rumah kalian kita yang urus." Kontan saja, semua orang memandang Angkasa dengan pandangan tak paham.
"Tapi kenapa?." Tanya Agnez polos.
"Little girl di sini aja, nurut apa kata aku, jangan nolak, jangan bantah, jangan sampai ngga mau di sini, little girl harus di sini sama kita semua." Kata Angkasa sangat lembut memberi pengetian pada gadis manis nya itu.
Pandangan Agnez mangarah pada Ayah dan Ibu nya.
Angkasa yang paham dengan tatapan itu mengusap kepala gadis nya secara lembut.
"Ayah sama Ibu ikut nginep di sini, Agnez ngga akan jauh dari mereka." Kata Angkasa penuh kasih sayang.
"Kak Rain juga nginep sini aja lagi sampai hari rabu." Ujar Pamungkas sambil menatap mata Kak Rain lekat-lekat.
"Tapi-." Saat hendak menanya kan apa alasan nya, Albhi menyela terlebih dahulu.
"Kita bahas detail nya nanti, sekarang kita makan dulu." Suara Albhi sangat datar dan dingin saat mengucap kan kalimat nya itu.
Semua orang mengangguk kan kepala tanda meng iya kan.
Selepas makan siang, para gadis duduk di taman belakang dengan memegang buku di tangan kanan nya, pensil terselip di daun telinga mereka dan tentu saja mata mereka fokus kepada buku yang tengah mereka pegang.
Di sini hanya Kak Rain saja yang diam memperhati kan para gadis yang tengah belajar.
Di kumpulan para tetuah mereka mengobrol serius tentang Haris yang tadi tiba-tiba muncul di perumahan dan komplek ini.
Sebelum pembicaraan lebih lanjut Pamungkas memanggil Kak Rain.
Dengan senang hati Kak Rain berdiri dari duduk nya dan bergabung di para tetuah.
Bukan nya berbicara semua orang malah diam saja.
"Kita tadi nyuruh semua nya pulang karena di sana tadi kita kedatangan tamu tak di undang." Albhi membuka suara.
"Sasaran dia ngga lagi satu, tapi dua, Wulan dan Agnez." Timpal Angkasa menjelas kan.
"Terus?!." Pekik Ayah Cakra ingin tahu.
__ADS_1
"Om Cakra, Tante Dewi, Agnez, dan Pamungkas nginep sini lagi sampai hari rabu pindahan besok." Celutuk Angkasa memberi pengarahan.
"Ini demi semua nya!." Papar Albhi serius.
"Kami bukan ngga percaya kalo Om sama Tante ngga bisa jaga in Agnez dan diri sendiri, tapi... Angkasa akan lebih senang dan tenang kalau Agnez, Om, dan Tante di sini." Kata Angkasa dengan nada memohon nya.
"Buat Kak Rain, please! Diem di sini aja, kami semua juga khawatir sama kamu sayang, kamu sendiri soal nya di rumah, pasti dengan muda Haris ganggu." Bunda Raina memberi pengertian pada calon menantu nya.
3 orang ini diam memikir kan jawaban yang tepat. Menimbang-nimbang semua omongan dari Angkasa dan Bunda Raina.
Dan setelah 5 menit berpikir, 3 orang ini pun membuat keputusan yang membuat semua orang bahagia, senyum semua orang terbit dengan indah.
Apa lagi Angkasa dan Pamungkas, dua pemuda itu seperti orang yang tengah memenang kan lotre.
"Ya sudah, karena ini demi keselematan bersama, kami berdua setuju." Kata Ayah Agnez dengan mengangguk kan kepala mantab.
"Alhamdulillah." Ucap syukur semua orang terutama Angkasa.
"Ya, Rain juga setuju Bunda." Timpal Kak Rain penuh keyakinan.
"Alhamdulillah banyak-banyak." Ucap semua orang lalu tertawa geli dengan ucapan nya sendiri.
Tiba-tiba... .
"Hallooo... kenapa tuh pada ketawa? Kita ngga di ajak nih?." Tanya Wulan dengan wajah cemberut nya.
Para pria berdiri dari duduk nya dan menghampiri gadis masing-masing dan duduk di samping nya.
Kemudian mereka memeluk gadis-gadis itu dan saling menempel kan pipi.
"Agnez bakal nginep di sini lagi bareng sama Ayah sama Ibu." Beri tahu Angkasa yang membuat Agnez juga lain nya senang.
Agnez menatap ke dua orang tua nya dengan pandangan terkejut dan binaran mata bahagia.
Ke dua orang tua Agnez mengangguk kan kepala sambil tersenyum tanda meng iya kan.
"Yeahhh... Agnez sama Mbak Wulan dan Mbak Kristal lagi...!." Pekik Agnez senang.
"Kok cuma Wulan Kristal? Aku engga?." Tanya Angkasa dengan menunjuk kan wajah lesu nya, meski tak di tunjuk kan semua, Albhi Wulan dan lain nya tau kalau Angkasa sedih.
"Hehehe... iya lah, sama Mas Angkasa juga pasti nya." Kata Agnez sambil mengerat kan peluk kan nya pada leher Angkasa.
Bibir Angkasa terangkat ke atas dengan samar, dia tersenyum kecil karena senang dengan ucapan manis Agnez.
"Kak Rain gimana? Nginep juga kan?." Tanya Wulan antusias.
"Tentu aja dong nginep, kenapa engga?." Bukan Kak Rain sendiri yang menjawab, tapi Pamungkas yang menjawab dengan tangan nya melingkar di perut rata Kak Rain.
Posisi Kak Rain dan Pamungkas tengah berdiri saat ini, itu memudah kan Pamungkas memeluk pinggang ramping Kak Rain dan menempel kan pipi nya ke pipi Kak Rain.
Kak Rain yang di peluk oleh tangan besar Pamungkas menegang di tempat, dia terpaku dengan mata terbelalak lebar, jantung nya berdebar kencang dua kali lipat dari biasa nya, dan itu membuat Kak Rain takut suata detak jantung nya di dengar oleh Pamungkas.
'Allah! Netral kan jantung ku ya Rabb, jangan sampai Pamungkas dengar, lagian nih berondong hobi banget bikin jantung ngga sehat! Allah!!.' Pekik Kak Rain dalam hati menggerutu.
Kalau Pamungkas? Jangan tanya kan bagai mana ke adaan jantung nya saat ini, dia juga sama seperti Kak Rain, jantung nya berdebar tak normal.
'Jantung?! Kerja sama dong sama Gua! Lu tuh punya Gua atau punya siapa? Kenapa detak nya ngga normal gini? Kalo Kak Rain denger kan bisa malu Gua!.' Berondong tampan itu ikut-ikutan menggerutu pada jantung nya sendiri.
"Ahhh mari sini semua kita peluk kan." Ajak Kristal dengan merentang kan ke dua tangan nya.
Tapi... .
"Ngga ada! Kamu peluk aku aja!." Seru Damar dengan mengarah kan rentangan tangan Kristal ke arah Damar, dan Damar langsung menarik Kristal ke dalam dekapan nya.
"Huh!." Dengus Kristal terdengar jelas di telinga Damar, tapi meski begitu Kristal membalas peluk kan hangat Damar.
Jika di keluarga Mommy Za Daddy Rafka, juga lain nya bahagia, lain lagi dengan Haris.
Pria muda itu tengah duduk sendiri di ruang kerja nya.
Pria tampan itu duduk bersandar di kursi kebesaran nya dan menatap jendela yang menampak kan pemandangan taman belakang rumah nya yang di tanami banyak bunga oleh almarhumah sang Ibunda.
Kalau bertanya soal Dimas, asisten Haris itu tengah di perintah Haris ke kantor mengambil berkas-berkas yang hendak di tanda tangani Haris.
Tiba-tiba di ruangan yang penuh dengan ke sunyian itu Haris terkekeh pelan mengingat kejadian sebelun dzuhur waktu dia berkunjung di perumahan yang di tempati Angkasa dan lain nya.
"Angkasa tadi marah nya parah banget, hahaha... lucu kalo inget ekspresi nya dengan alis menyatu kaya angry bird, Gua bakal sering-sering liat mereka marah nih, gimana engga! Orang Gua sekolah di tempat yang sama kaya mereka, SMA Merdeka." Ucap Haris berbicara sendiri sambil tertawa juga tersenyum sendiri.
"Kalo sampai Gua bikin para pria itu marah-marah setiap hari, Gua yakin mereka akan cepat tua, banyak keriput nya, hahaha... ." Kini bukan tawa kecil, tapi tawa renyah yang di hadir kan dari bibir Haris.
"Wulan dan Agnez, dua gadis berbeda sifat dan sikap, Wulan si gadis dewasa yang kadang-kadang juga ke kanak-kanak kan, dan punya sifat ceroboh, kalau Agnez? Heheh... gadis hiper aktif punya Angkasa seorang, baru deket beberapa hari sih, tapi cinta nya Angkasa ke Agnez gede banget, Gua bisa ngerasa in itu sih, Agnez yang baru berusia 16 tahun, gadis mungil juga imut, manis, dan jangan lupa dia juga cantik, ahhhh!! Kenapa wajah Agnez yang melambai kan tangan terbayang di kepala ku?! Kalau sampai ketahuan oleh Angkasa, kagak jamin Gua kalo selamat, apa lagi Albhi, si pria tempramen akut itu, haduhhh... balas dendam ngga ada akhir nya kalo berurusan sama mereka." Gerutu Haris jengkel, dia sampai mengacak rambut nya frustasi.
Tiba-tiba... .
'Tok... tok... tok... .' Suara pintu ruang kerja Haris di ketuk oleh seseorang.
"Masuk!!." Teriak Haris mempersilah kan tamu yang tak tahu siapa itu.
'Ceklek!.' Pintu terbuka, di daun pintu menampak kan pria dewasa berusia sekitar 24 tahunan berdiri di sana sambil membawa tumpuk kan berkas di tangan nya.
"Ke sini in biar aku tanda tangani, aku ingin cepat selesai, ouh ya Dim, tolong bilang pada pelayan, aku mau jus jeruk, tolong yah." Pinta Haris pada Dimas sang asisten dengan sopan.
Yah pria berusia 24 tahun itu adalah Dimas.
Tanpa banyak kata, Dimas mengangguk kan kepala mematuhi perintah Haris sang majikan.
Haris tinggal di rumah ini berdua dengan Dimas, ouh ya dia juga tinggal dengan 5 pelayan pria dan 1 pelayan wanita paruh baya.
Kalau mempertanya kan Andre, Ayah dari Haris, beliau tak tinggal serumah dengan Haris, beliau tinggal di luar kota Jakarta.
Beberapa menit kemudian Dimas kembali dengan membawa nampan berisi jus jeruk.
"Ini Tuan Muda jus jeruk nya." Kata Dimas sopan.
"Hmm... taruh situ." Suruh Haris tanpa melihat Dimas sang asisten.
Suasana ruang kerja Haris senyap.
Sampai... .
"Dimas?." Panggil Haris masih tanpa melihat sang asisten.
__ADS_1
"Iya Tuan? Saya di sini ada yang bisa saya bantu?." Tanya Dimas sopan sambil menunduk kan kepala nya.
"Bagai mana pendapat mu tentang Agnez?." Tanya Haris, senyum kecil terbit di bibir Haris.
"... ." Dimas diam tak bersuara, dia menatap sang majikan dengan tatapan sulit di arti kan.
Karena tak mendapat jawaban dari sang asisten atas pertanyaan nya, Haris menatap Dimas.
Pandangan mereka bertemu, Haris dengan pandangan heran nya, Dimas denga pandangan yang sulit di arti kan.
"Dimas?! Jawab pertanyaan ku!." Pekik Haris yang tak suka di abai kan.
"Tuan yakin ingin membalas dendam dengan masalah yang tidak jelas? Tuan Besar bisa juga memanfaat kan anda dengan situasi ini." Kata Dimas yang akhir nya berani bicara, dia sudah memendam semua nya selama mereka di utus untuk membalas dendam tak masuk akal ini.
"Aku tak mau membahas itu Dimas! Jawab saja pertanyaan ku!." Tegas Haris yang tak mau memberi kan jawaban pada beberapa pertanyaan yang di layang kan sang asisten.
"Tuan Muda? Tuan Angkasa, Tuan Pamungkas, Tuan Damar, apa lagi Tuan Albhi adalah lawan yang tak bisa di remeh kan, di lihat dari cara mereka menjunjung tinggi gadis nya masing-masing, sudah terlihat jelas di mata mereka, bahwa orang-orang tersayang mereka bukan lah kelemahan tapi mereka adalah kekuatan, saat kita menggertak mereka tadi, tak ada di raut cemas atau khawatir yang mencolok di wajah mereka." Kata-kata Dimas sangat panjang kali ini.
Haris yang mendengar ceramahan asisten nya itu mengangguk-angguk kan kepala nya paham.
"Dengar Dimas! Aku juga tak mau melakukan hal salah, tanpa kau komando atau kau beri tau, aku sudah bergerak menyelidiki semu nya, tapi hasil nya masih tertutup rapat dengan kain tebal, semua nya masih belum jelas semua bukti se akan di tutupi oleh seseorang, dan aku curiga Ayah yang menutupi itu semua, tapi selama aku memcari bukti, aku mau bermain dulu sama 4 pria bucin itu." Ucap Haris dengan mengulum senyum nya menahan tawa nya yang hendak meledak.
"Apa perlu saya turun tangan membantu anda dalam tugas penyelidi kan yang tengah anda kerja kan sekarang?." Tawar Dimas tulus.
"Tidak! Kalau banyak yang membantu tua bangka itu akan curiga, repot nanti nya kalau dia sampai tau, dia pria tua yang nekat, kalau aku ketahuan tak menjalan kan tugas nya maka dia akan bergerak sendiri bahkan sampai membunuh, seperti Kakek Wulan dulu, jujur aku kalau ketemu dengan Damar apa lagi Wulan, rasa bersalah masih bersemayam di dada ku ini." Haris mengata kan itu dengan tertunduk lesu.
"Itu bukan salah anda Tuan Muda, sudah jangan di pikir kan lagi." Tegur Dimas menenang kan Tuan Muda nya.
"Aku tau rasa nya kehilangan Dim, itu sakit, sangat sakit, dada sesak ngga bisa nafas, kehilangan itu menyakit kan Dim." Cetus Haris lirih.
Dia menenggelam kan kepala nya di lipatan tangan nya.
Dimas menghela nafas lelah kalau suasana hati Haris sudah kacau balau begini, yah... sementara ini hanya Dimas seorang yang tau sisi rapuh dari Haris.
Pasal nya Dimas sudah bersama dengan Haris sejak usia Haris 8 tahun.
Ibu haris tiada baru 1 tahun yang lalu, tepat satu bulan setelah ulang tahun Haris, kini genap sudah 2 tahun Ibu Haris tiada.
Usia Haris juga sudah menyentuh 17 tahun.
Tak bisa di sangkal oleh Haris bahwa dia sesak nafas saat di di cerita kan kematian Kakek dari Wulan.
Senyap.
Ruang kerja Haris hanya terdengar suara dentingan jam yang menempel tepat di tembok sebelah Haris duduk.
"Dimas? Tolong tinggal kan aku sendiri!." Pinta Haris dengan suara lirih.
"Baik Tuan Muda, saya ada di kamar lantai dasar, kalau ada sesuatu yang di butuh kan telpon saja, saya permisi." Pamit Dimas pada atasan nya ini.
Tanpa mendengar jawaban karena memang Haris tak kan menjawab. Dimas meninggal kan ruang kerja dan menutup pintu pelan, sangat amat pelan.
'Huuffhhhh... .' Helaan nafas lelah terdengar jelas di seluruh penjuru ruangan yang hanya tersisa Haris sendiri ini.
"Ini semua gara-gara si tua bangka itu! Kalau aja dia ngga gila ngga akan kaya gini jadi nya, Gua ngga akan di landa rasa bersalah sama hal yang ngga Gua lakuin tapi Gua yang mendapat imbas nya, ahhh!!!!." Teriak Haris menggemah di seluruh penjuru ruangan sampai keluar ruangan.
Pekerjaan Haris yang tadi nya berjalan lancar malah tak ada hasil nya.
Haris malah di landa perasaan tak menentu akibat mengingat hal yang tak ada hubungan nya dengan diri nya.
Di tengah perasaan bersalah pada Wulan itu, diam-diam dia berdoa untuk sang Ayah.
'Beri Ayah ku hidayah ya Rabb agar bisa kembali ke jalan-Mu yang benar dan tak melanggar perintah dan larangan-Mu.' Doa Haris sangat tulus dari hati yang paling dalam.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk๐.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung๐ข๐.
Maaf kalo garing๐ข๐.
Maaf typo di mana-mana๐๐ข.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan๐ข.
Maaf gantung cerita nya๐.
Di lanjut besok ya readers๐.
Jangan marah karena di gantung yak guys๐.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah๐๐.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa๐.
__ADS_1