
Hari pernikahan Abdiel Akifa dan Alfi Abhi sudah tiba.
Pagi ini, hari Senin tanggal 14 Juni, acara terlaksana.
"Saya terima nikah dan kawinnya Akifa Naila Shadeeq binti Nibras Zubair Shadeeq dengan Mas Kawin tersebut tunai!."
"Saya terima nikah dan kawinnya Alfi Inayati Asady binti Nawwar Antarun Asady dengan Mas Kawin tersebut tunai!."
Lantang Abhi dan Abdiel dengan sekali tarikan nafas dan tegas.
"Bagaimana para saksi sah?." Tanya Pak Penghulu.
"Sahhh!!!." Seru semua orang didalam masjid dengan lantang dan rasa gembira.
Ijab dan Qobul terlaksana pukul 06.30 dimasjid dekat Villa.
"Alhamdulillah." Pak Penghulu membacakan doa pada 2 pasangan pengantin yang baru sah itu.
Lalu pengurus surat-surat nikah mempersilahkan mereka ber 4 tanda tangan surat nikah dan buku nikah masing-masing.
Acara berlanjut ke tahap pemasangan cincin nikah dan sungkem terhadap kedua orang tua.
Acara inilah yang membuat para orang tua khususnya para Ibu akan menangis terharu.
Dimana dulu mereka mengingat baru kemarin beliau menimang-nimang anaknya, dan sekarang anak-anaknya sudah menjadi seorang suami/istri.
Sungkem telah berlalu dan sekarang resepsi digelar.
"Berjaga-jagalah disetiap sudut villa ini!." Perintah Papa Rafka tegas pada Bodyguard terpercayanya.
Papa Rafka dan bodyguard berbicara disudut ruangan resepsi agar tidak ada yang mendengar.
"Siap Pak!." Jawab Bodyguard tak kalah tegas.
Sesi demi sesi acara terlaksana.
4 keluarga memang tidak memgundang banyak tamu.
Hanya keluarga inti yang hadir disana, dan rekan-rekan bisnis tertentu yang diundang.
Kini semuanya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing di lantai 2 mengistirahatkan tubuh untuk perjalanan pulang nanti sore.
Sedangkan di lantai dasar petugas kebersihan sibuk membersihkan ruangan yang dipakai resepsi tadi.
6 kelurga kemarin berangkat sehari sebelum hari H.
Abhi Alfi dan Akifa Abdiel menikah di Villa puncak tempat pernikahan Rafka Zarine beberapa bulan lalu.
Saat ini waktu sudah menunjukkan siang hari.
6 keluarga duduk dimeja makan sedang makan siang.
"Kita pulang jam berapa nanti?." Tanya Mama Rafka.
"Sekitar pukul 4 sore an, emang kenapa?." Tanya Papa Abhi yang melihat ekspresi Mama Rafka dengan heran.
Pasalnya Mama Rafka seperti orang yang gelisah dan khawatir.
Begitupun Bunda Zarine, beliau juga tak kalah gelisah dari Mama Rafka.
Ekspresi Mama Rafka dan Bunda Zarine itu tak luput dari perhatian semua orang di meja makan.
"Bunda sama Mama kenapa? Kok geli-." Pertanyaan Zarine terpotong.
'Ctarrr.' Suara kaca pecah.
"Berhenti ditempat!!." Suara bodyguard terdengar lantang memerintah.
"Ada ribut apa didepan?." Tanya Papa Akifa.
Seluruh orang meja makan berlari kearah pintu masuk Villa.
Sampai ditempat, kaca berserakan dan tiba-tiba... .
"Ahhhhhhk!!!!." Teriak histeris Zarine.
Semuanya menoleh pada Zarine.
Lebih tepatnya melihat apa yang membuat Zarine berteriak.
'Ternyata ini perasaan gelisah dan khawatir itu.' Batin Mama Rafka dan Bunda Zarine sama tanpa kerja sama.
"An**ng!." Umpat Alfi.
Mereka bergegas menutup gorden untuk menutupi pandangan Zarine.
"Turunin dia dari tali itu!!." Teriak Zarine lagi.
"Yang? Yang? Sadar yang? Itu cuma boneka, itu bukan orang, kamu tenang."
"Tolong lepasin dia dulu Raf, kasian dia kesakitan, hiks... lepasin dia!!!." Histeris Zarine dengan sesenggukan.
"Tatap aku, liat aku! Tenanglah, tenang." Kata Rafka menenangkan.
Zarine menatap Rafka dalam lalu pandangan dia meredup tenang dan kemudian tak sadarkan diri.
Rafka menggendong Zarine ke kamar dan merebahkannya diatas ranjang kamar Rafka Zarine.
Dokter datang lalu memeriksa keadaannya.
6 keluarga berada diluar agar tidak mengganggu pemeriksaan dokter.
Semuanya memang sudah terencana oleh 6 keluarga jadi in syaa allah mereka akan bisa menangkap pelakunya.
__ADS_1
"Memang apa yang dilihat Zarine tadi?." Tanya Abdiel.
Dia tidak melihat dengan jelas tadi karena keburu gordennya ditutup oleh Alfi dan Akifa.
"Boneka digantung dengan kondisi kepala hampir putus juga banyak sayatan dan berlumur darah." Jawab Ayah Zarine.
"Gila emang mereka berdua." Emosi Bang Rafa marah yang tau kelakuan siapa ini semua.
"Dasar biangkerok!." Timpal Bang Idan.
'Kring... ring... ring... ring... .' Ponsel Papa Rafka berbunyi.
"Halo?." Sapa Papa Rafka pada orang diseberang telepon.
"...."
"Tunggu kita datang kesana."
"...."
"Hmmm."
Telepon selesai.
"Kita pulang hari kamis aja, dan habis ini para laki-laki kecuali pengantin baru ikut aku kepenyekapan tersangka." Beritahu Papa Rafka.
"Kita tetep ikut Om." Seru Abhi dan Abdiel tegas.
"Tapi-."
"Udah lah Suf biarin aja." Papa Abdiel memotong perkataan Papa Rafka.
"Ya sudah kalo begitu." Pasrah Papa Rafka.
Dokter keluar dari kamar.
"Dok gimana?." Tanya Rafka.
"Kondisi mentalnya terguncang cukup hebat tadi, tapi in syaa allah nona Zarine baik-baik saja, saya menyuntikkam obat penenang tadi, jadi mungkin saja sadarnya membutuhkan waktu agak lama." Jelas Dokter.
'Huffh.' Hela nafas semua orang sedikit lega.
"Ya udah kamu temuin dulu istri kamu Raf." Suruh Papa Rafka.
"Biar Bang Idan yang anter Dokter keluar sekalian siapin mobil." Kata Bang Idan yang diangguki Papanya.
"Idan Gua ikut!." Seru Bang Rafa.
"Ayo kita ikut kebawah juga." Ajak Papa Rafka.
"Om tunggu?!." Panggil Alfi.
"Kenapa?." Tanya Papa Rafka.
"Ngga!." Tegas Abhi menolak.
"Aku ngga minta persetujuan, aku cuma memberitau." Jawab Alfi dingin dan datar.
"Honey, kamu ngga perlu capek-capek buat ngurusin Medusa itu, biar aku dan lainnya yang beresin." Kata Abhi lembut dengan memeluk dan mengecup pucuk kepala Alfi yang baru beberapa jam lalu menjadi istrinya.
"Buset, oy ini genting! Masih sempet aja mesra." Seru Abdiel.
"Sadar diri egob!." Sungut Abhi balik.
Abdiel yang sadar dengan posisinya hanya nyengir kuda.
Karena memang saat ini Abdiel sedang memeluk pinggang Akifa possesive.
"Udah! Ayo cepat." Lerai Papa Rafka.
Para laki-laki pun bergegas turun.
Di dalam kamar.
"Yang? Aku pamit pergi ya, ada yang harus aku urus, cepet sadar ya." Pamit Rafka dengan mengecup kening Zarine lalu beralih ke punggung tangan istrinya itu.
Kemudian Rafka keluar kamar dan berpamitan pada para perempuan yang berdiri diluar pintu.
"Titip Zarine, aku berangkat dulu, assallammu'allaikum." Salam Rafka.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semuanya.
6 kepala keluarga senior (Papa Abdiel, Akifa, Abhi, Rafka, Papi Alfi juga Ayah Zarine) dengan 3 kepala keluarga junior (Rafka, Abhi, Abdiel) serta 2 bujang lapuk (Bang Rafa dan Bang Idan)😂 meluncur ke tempat penyekapan.
30 menit perjalanan mereka semua telah sampai disebuah gudang tua tempat penyekapan tersangka.
Didepan gudang tua itu ada penjagaan para pihak berwajib.
Itu dilakukan karena Papa Rafka tidak mau ada kesalah pahaman penangkapan jika terjadi razia.
Bukan pelaku yang sebenarnya ditangkap malah Papa Rafka dan lainnya nanti ditangkap karena kasus penculikan.
Papa Rafka tidak mau hal konyol itu terjadi.
Kembali ke gudang tua.
"Sempurna sih kalo buat penyekapan." Kagum Abdiel
"Ouh iya dong, kan Papa yang nyari." Sombong Papa Abdiel.
"Udah! Ngga bapak ngga anak, sama aja, sama-sama sableng, ayo masuk." Lerai Papi Alfi.
"Kejam amat." Celutuk Papa Abdiel pelan yang mendapat gelengan kepala heran kepada Ayah dan anak ini.
__ADS_1
Karena mereka bisa dikatakan tidak tau kondisi jika bergurau.
Kepala keluarga senior mendahului memasuki gudang dan berdiri dihadapan pelaku.
"Pa." Cegah Rafka.
Papa Rafka mengangguk mengiyakan maksud Rafka untuk menyerahkan pelaku ketangannya.
Penutup mata serta mulut dibuka oleh bodyguard.
Pelaku mengejapkan mata menormalkan pandangannya.
"Rafka? Kamu ngapai disini? Kamu mau-." Pertanyaan pelaku senang karena kedatangan Rafka.
"Diam Medusa!!." Bentak Rafka.
Sontak saja, yang mendapat bentakan langsung diam.
"Mau Lo apa hah?!!." Seru Abhi emosi dan hampir mencekik leher Pelaku jika saja tak dihentikan Papi Alfi.
"Sari? Apa mau kamu?." Tanya Ayah Zarine dingin.
"Kenapa kamu berbuat itu?." Tanya Papa Rafka tak kalah dingin.
"Om saya mencintai Rafka, tolong satukan kami Om." Kata Sari tak tau malu.
"Urat malu Lo udah putus?." Sinis Bang Rafa.
"Murah banget Lo jadi cewek, tinggi in dikit kek tuh harga diri." Sindir Bang Idan.
"Diam!!." Seru Sari.
"Lo yang diam An**ng!!!." Seru Rafka dengan nada tinggi.
"Rafka? Kamu bentak aku?." Tanya Sari dengan mata berkaca-kaca.
Semua introgasi yang dilakukan para laki-laki itu tidak membuahkan hasil.
Apalagi Rafka selalu tersulut emosi jika berbicara pada Sari.
Tapi mereka memgetahui bahwa Sari ke Villa ini dengan rencana matang.
Dia menjalankan rencana ini dengan mulus juga dengan baik.
Dan tentu saja ini semua dibantu oleh Rendy.
Rendy yang mencari tau dimana keberadaan Zarine dan menyusun rencana meneror Zarine lebih berat dari pada teror-teror lainnya.
Semua pengakuan itu terucap langsung dari bibir Sari dengan lancar.
"Kita pulang aja, aku capek." Ajak Rafka.
"Iya deh kuylah pulang." Timpal Abdiel.
Mereka semua keluar gudang.
"Pak? Tolong hubungi orang tuanya dan jangan lepaskan dulu pelaku didalam." Pinta Papa Rafka yang diangguki pihak berwajib itu.
Mereka pulang ke Villa.
Sesampainya disana, para perempuan yang menjaga Zarine mengatakan bahwa Zarine belum sadar.
Waktu terua berputar.
Hingga malam tiba, Zarine masih belum juga membuka matanya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
......Bersambung.........
...Maaf ngga nyambung...
...Like & komennya ditunggu...
...Terus jaga kesehatan readers sayang😍....
__ADS_1