
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
Gadis-gadis di taman itu menatap 4 pria remaja di belakang Wulan dan kristal dengan tatapan memuja.
'Maa syaa Allah... ciptaan mu sungguh indah ya Robb.' Ucap gadis yang tak jauh dari 4 pria itu, bisik kan mereka masih bisa di dengar dengan jelas oleh 4 cowok ini.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
'Itu dua perempuan nya yang di depan juga ngga kalah, cantik nya paripurna.' Puji kaum Adam pada Wulan dan Kristal.
4 pria remaja yang mendapat pujian itu tak suka dan juga tak merespon sama sekali. Sedang kan 2 gadis di depan mereka ini asik bercanda dan tak menghirau kan sekitar.
Yang panas saat mendengar 2 gadis ini puji tentu saja Damar dan Albhi. Alis mereka sudah seperti Angry Bird saja, menyatu dn hanya menyisa kan beberapa centi jarak.
"Pulang aja yuk." Ajak Angkasa.
"Lu mau mereka diemin kita? Gua sih ogah, kalo Lu mau pulang, balik sendiri sana." Suruh Damar cuek.
"Ck! Adohh!." Keluh Pamungkas sambil mengusap wajah nya dengan kasar.
"Banyakin doa biar ini cepat selesai." Bisik Albhi pelan.
Lelah berjalan, 2 gadis mungil ini berhenti di gerobak penjual batagor, mereka menikmati camilan sore mereka di temani 4 pria remaja di depan nya ini.
Pamungkas yang tak ikut makan, berniat berkeliling taman kota lagi, dia berdiri dari duduk nya dan pamit pada 5 orang sahabt nya ini.
"Aku... ijin mau keliling taman dulu, kalian puas-puasin dah makan batagor, Aku kenyang ngga minat makan, assallammu'allaikum." Salam Pamungkas, dia berlalu tanpa mendengar jawaban salam nya.
"Wa'allaikum sallam, eh Tarjo?! Kamu kan kagak tau daerah sini, awas loh kalo nyasar, kita tinggalin nanti." Teriak Angkasa yang tak dihiraukan Pamungkas.
Sepeninggalan Pamungkas.
"Mau ke mana tuh anak? Awas aja nanti kalo nyasar." Gerutu Angkasa sambil memasuk kan satu suap batagor ke dalam mulut nya.
"Udah lah biarin aja." Kata Damar menenang kan Angkasa.
"Kalo dia nyasar, kita bisa telepon dia tanya in lokasi dia di mana, beres kan." Kata Albhi cuek Bebek.
"Iya juga sih bener kata kamu Bhi." Timpal Angkasa.
Di tengah 5 serangkai sibuk makan batagor, Pamungkas sendiri sibuk berkeliling taman.
🎶Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukur lah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia... .🎶
Suara merdu seseorang mengusik indra pendengaran Pamungkas. Dia memejam kan mata nya menikmati suara indah itu.
Petik kan gitar dan suara nya menyatu dengan sangat merdu di gendang telinga semua orang tak terkecuali Pamungkas.
Remaja cowok itu kemudian mencari sumber suara nyanyian itu.
Dan hanya jarak 10 langkah dari tempat Pamungkas berhenti tadi, kini dia bisa melihat penyanyi yang bersuara indah itu.
"Cantik." Puji Pamungkas dengan pandangan mata nya tak lepas dari penyanyi perempuan yang beraksi dengan gitar nya itu.
"Gua kira tadi cowok, ternyata perempuan." Kata Pamungkas bermonolog.
Pamungkas tak berkedip saat melihat gadis gitar itu, jantung nya berdebar dua kali lebih cepat dari biasa nya.
"Ada apa sama jantung Gua? Apa ini yang nama nya jatuh cinta? Kata orang rasa nya seperti seseorang menderita sakit jantung." Panjang lebar Pamungkas berbicara sendiri sambil memegang dada kiri nya.
Tiba-tiba... .
"Mas?." Panggil seseorang dari belakang Pamungkas.
"Astaghfirullah!." Kaget Pamungkas sampai nafas nya tersengal.
Saking fokus nya menatap gadis gitar sampai-sampai dia tak tau bahwa ada orang di belakang nya.
"Ada apa Bu?." Tanya Pamungkas pada Ibu-ibu yang menyapa nya tadi.
"Jangan banyak ngelamun Mas, kalo Mas penasaran sama Mbak itu, Mas samperin aja, tanya nama sama nomer telepon nya, kalau perlu tanya alamat rumah nya." Suruh Ibu-ibu itu dengan di akhiri tawa pelan nya.
Alis Pamungkas naik ke atas dua-dua nya, tak paham maksud Ibu itu menyuruh nya untuk meminta alamat rumah gadis gitar.
"Buat apa saya tanya alamat nya Bu?." Tanya Pamungkas dengan wajah polos nya.
"Ya siapa tau Mas nya cocok terus ngga mau pacaran mau nya langsung nikah, hahaha... ." Tawa Ibu itu pecah, Pamungkas yang mendengar jawaban Ibu itu hanya bisa membalas nya dengan senyum kikuk nya.
"Ya sudah Mas saya permisi dulu, jangan banyak ngelamun di sini Mas, bahaya, ini kan pohon beringin, banyak hantu nya, bisa-bida Mas nya kesurupan, atau yang lebih parah lagi, Mas nya bisa kerasukan." Ibu itu memberi peringatan lengkap dengan wajah serius nya.
"Iya Bu terima kasih peringatan nya." Ucap Pamungkas tulus.
"Iya sama-sama, saya permisi, assallammu'allaikum." Salam Ibu itu.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Pamungkas sambil mengangguk kan kapal nya sopan.
Setelah kepergian Ibu-ibu usil tak di undang itu, Pamungkas kembali memperhati kan gadis gitar itu.
"Definisi sempurna kalo ini mah, pipi nya yang cubby dnegan lesung di sebelah kanan, gingsul sebelah kiri, kek nya tinggi nya cuma 167 deh, rambut sepunggung nya, mata nya yang bulat penuh binaran bahagia, dan kaya nya usia nya 5 tahun lebih tua dari aku." Pamungkas menjabar kan perawak kan gadis gitar itu.
"Duh penasarana nama nya deh, samperin ah." Kata Pamungkas, kaki nya sudah bersiap melangkah ke arah gadis gitar itu.
Tapi... .
"Mau ke mana kamu Tarjo?." Tanya Angkasa sambil menarik kerah bagian belakang baju seragam Pamungkas.
Kontan saja Pamungkas berhenti melangkah dan menolah menatap Angkasa.
"Ck! Ngga bisa liat orang bahagia ya?! Lepasin! Gua mau-." Ucapan Pamungkas tak di lanjut karena di sela oleh Angkasa.
"Aku, ah ralat maksud nya kita bukan ngga mau liat kamu bahagia, tapi emang ini udah waktu nya kita balik, udah sore nih Tarjo, ayo balik!." Ajak Angkasa, dia melangkah menenteng Pamungkas seperti induk kucing membawa anak nya.
"Udah kek kucing aja, lepas! Aku busa jalan sendiri!." Seru Pamungkas.
"Ngga ada! Entar kabur lagi kalo aku lepasin." Tolak Angkasa.
Damar Wulan, Albhi, dan Kristal melihat pertengkaran di depan nya inu hanya menggeleng kan kepala kemudian menepuk dahi masing-masing dengan pelan.
"Lah ya kok masih ada umat kaya mereka!." Celutuk Kristal dan mendapat tertawa an kompak dari rekan lain nya.
Di perjalanan pulang.
Pamungkas duduk di kursi mobil bagian belakang dengan Angkasa.
Sepanjang perjalanan dia tersenyum tak henti-henti.
"Lu napa sih Tarjo?." Tanya Angkasa sambil berbisik heran, dia sampai memegang kening Pamungkas mengecek suhu badan bocah edan satu ini.
"Gua ngga papa." Balas Pamungkas cepat ikutan berbisik sambil menyingkir kan tangan Angkasa.
"Terus kenapa Lu ketawa ketiwi sendiri? Kesambet setan taman?." Pertanyaan nyleneh meluncur dari bibir Angkasa.
Pamungkas bukan nya jawab, malah makin cengengesan menjadi-jadi.
Di tengah ketawa ketiwi nya, Wulan memanggil Pamungkas berkali-kali sampe 5 kali panggilan tapi tak kunjung mendapat respon, sampai... .
__ADS_1
"Bang Pamungkas?!." Panggil Wulan keras.
"Hmm? Iya ada apa Baby?." Tanya Pamungkas gelagapan.
"Nglamunin apa sih kamu Pamungkas? Adik aku panggil kamu berkali-kali loh." Tanya Damar ikutan jengkel.
"Dia kaya nya ke sambet hantu taman tadi." Sahut Angkasa ngaco.
"Ada apa Baby? Mau tanya apa?." Tanya Pamungkas tak menghirau kan obrolan Damar dan Angkasa.
"Bang Pamungkas tadi di taman puas ngga jalan-jalan nya?." Tanya Wulan sambil menekan di setiap kata nya.
"Kurang sebener nya, tapi ya udah lah, kapan-kapan kita ke sana lagi kan?." Tanya Pamungkas semangat.
"Jawab dulu pertanyaan ku, tadi kamu liat apa di sana sampe senyum-senyum sendiri kek orang Crazy gitu?." Tanya Angkasa serius.
Pamungkas diam dan menatap satu per satu orang dalam mobil ini.
"Ok, aku bakal cerita tapi jangan ada yang bilang sama Ayah Rafa dan Bunda Rain! Janji?." Pamungkas memberi kesepakatan pada 5 orang sahabat nya dalam mobil ini.
"Janji kita semua ngga akan cerita sama Ayah Rafa dan Bunda Rain." Ucap Damar Wulan, Albhi, Kristal, dan Angkasa kompak.
"Ayo cerita." Desak Kristal tak sabaran.
"Aku liat gadis cantik, dia nyanyi sambil main gitar bareng sama anak-anak kecil di taman itu, aku rasa nya jatuh cinta sama dia, ngga tau juga sih ini perasaan apa, tapi... kaya nya... usia nya lebih tua 5 tahun deh sama kita." Ucap panjang lebar Pamungkas.
"Gadis?." Beo Kristal dan Wulan bersamaan.
"Iya, apa kalian kenal?." Tanya Pamungkas antusias.
"Apa Kakak gadis itu pipi sebelah kanan nya berlesung?." Tanya Wulan di jawab angguk kan cepat oleh Pamungkas.
"Apa Kakak gadis itu juga bergingsul di gigi kiri nya?." Tanya Kristal.
"Nah iya iya bener, kalian kenal?." Tanya Pamungkas senang.
"Kalo ngga salah nama nya Kak Rain, dia penyanyi di Cafe depan sekolah kita, di Rainbow Caffe iyu loh." Cerita Wulan yang di angguki oleh Kristal.
"Kalian berdua tau dari mana?." Tanya Albhi sambil menatap 2 gadis ini dingin dan datar.
"Anak-anak kelas yang main ke sana selalu cerita tentang Kak Rain sambil memuji bakat Kak Rain, suara nya yang mengalun lembut dan merdu saat menyanyi lagu Laskar Pelangi selalu buat pengunjung menikmati juga menghayati makna lagu." Imbuh Wulan detail tentang Kak Rain itu.
"Jadi dia khas lagu nya Laskar Pelangi? Ngga ada lagu lain kah?." Tanya Angkasa.
"Entah lah, pas di tanya alasan dia suka sama Laskar Pelangi apa, dia jawab 'Karena lagu itu mencermin kan kehidupan' gitu sih jawaban nya." Kata Wulan.
"Ayo kita ke sana besok!." Ajak Pamungkas.
"Cinta pandang pertama itu ada emang?." Tanya Kristal tak menghirau kan ajak kan Pamungkas.
"Ada lah, ini aku contoh nya." Jawab Pamungkas cepat.
"Yakin itu cinta?." Tanya Kristal ragu.
"In syaa allah yakin!." Tegas Pamungkas berucap.
"Kita ijin dulu besok sama Para tetuah." Kata Damar secara tak langsung menyetujui ajak kan Pamungkas.
'Huufffhhh.' Helaan nafas lelah terdengar dari hidung Angkasa.
Semua orang menatap Angkasa heran.
"Napa?." Tanya Pamungkas sambil merangkul pundak Angkasa.
"Pamungkas udah nemu calon nya, aku kapan dong?." Tanya Angkasa sedih.
"Sabar sih Angkasa, jodoh itu di tangan Allah, Pamungkas juga belum tentu jodoh." Kata Albhi cuek.
"Ck! Jangan doa in gitu dong, aku kan baru mau berjuang masa di patahin gini sih." Sungut Pamungkas tak suka.
"Ulululu... sepupu ku! Bang Bhibhi cuma bercanda kali." Celutuk Wulan sambil mencubit pipi Pamungkas dan menggoyan kan nya ke kanan ke kiri dengan gerak kan sedikit kencang.
"Lanlan! Lepas tangan nya!." Dingin Albhi berucap.
Reflek Wulan langsung melepas kan nya dan tak lupa meminta maaf pada Pamungkas juga Albhi.
Setelah membutuh kan waktu perjalanan pulang, mereka pun sampai di kediaman rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.
Kristal, Albhi, Pamungkas dan Angkasa pulang ke rumah masing-masing. Begitu pun Damar Wulan, kembar tak identik itu masuk ke dalam rumah dengan senang dan semangat 45.
Sekilas tentang Rain.
Kak Rain yang di panggil gadis gitar oleh pamungkas tadi berjalan pulang ke rumah nya.
Nama lengkap nya adalah Rain Anatasya, besar di panti asuhan dan usia nya menginjak 22 tahun, dia memutus kan lepas dari panti asuhan saat usia nya 17 tahun, bekerja di sebuah Cafe sebagai penyanyi Cafe.
Saat akan keluar panti, Ibu panti sebenar nya melarang, tapi karena keteguhan hati Rain akhir nya Ibu panti mengijin kan, Rain juga berjanji setiap malam senin akan datang berkunjung.
Rain selain bekerja sebagai penyanyi dia juga bekerja sebagai pelayan resto, jadi, jika siang dia menjadi pelayan, jika malam dia akan menjelma menjadi penyanyi bersuara lembut dan merdu.
Dia melakukan dua pekerjaan itu karena menurut nya itu sangat menyenang kan.
Di tengah jalan pulang, Kak Rain berhenti karena ada 2 gadis muda meminta foto.
"Kak? Sedikit lagu Lasker Pelangi dong buat kita." Pinta mereka yang dengan senang hati di turuti oleh Rain.
Bagitu lah kehidupan Rain, dia bak artis yang tengah naik daun karena bakat menyanyi nya, di insta story anak-anak muda baik yang cowok mau pun cewek penuh dengan suara merdu nya, pengikut di sosial media nya juga tak kalah banyak dari artis.
Di minta foto dan bernyanyi jika jumpa seseorang juga tak lagi asing bagi nya, dia suka dengan ini semua, tapi dia tetap lah Rain yang dulu, Rain yang baik, tak sombong, dan rajin menabung (wkwkwkwk).
Saat sampai di kontrak kan.
"Assallammu'allaikum aku pulang!." Teriak Rain yang memenuhi seluruh penjuru rumah.
Padahal dia tinggal sendirian, jika ada orang yang melihat tingkah kekanak kan nya, mereka mungkin akan menggeleng kan kepala heran.
Baru saja Rain menutup pintu dan mendarat kan bokong nya di sofa ruang tamu, ponsel nya berdering tanda ada panggilan masuk.
"Siapa nih? Bukan nya hari ini aku libur yah?." Tanya Rain pada diri nya sendiri.
Saat mengecek panggilan tertera nama Boss Cafe.
'Semoga libur ku ngga di tunda ya Allah.' Doa Rain dalam hati.
"Asaallammu'allaikum Boss?." Salam Rain hati-hati.
"Wa'allaikum sallam, di mana?." Tanya Boss Rain di seberang sana.
"Di rumah Boss, ada apa yah?." Tanya Rain, jantung nya sudah berdebar kencang was-was akan perkataan Boss nya ini.
"Besok jadwal nya di maju in yah Rain, kamu bagian siang, bisa kan?." Kata sang Boss.
"Iya bisa Boss." Semangat Rain menjawab.
"Resto tempat kamu kerja ngga sibuk emang?." Tanya Boss.
"Hehehe... resto hari ini dan besok libur Boss, ada masalah sedikit." Jawab Rain di iringi kekehan pelan nya.
"Wah kebetulan kalo gitu, dateng jam setengah 3 ya Rain." Pesan sang Boss.
"Iya Boss siap." Balas Rain.
"Saya akhiri dulu, assallammu'allaikum." Pamit sang Boss.
"Wa'allaikum sallam." Balas Rain dan panggilan pun berakhir.
Helaan nafas lega terdengar dari hidung dan mulut Rian.
"Alhamdulillah, aku pikir mau batalin libur ku ternyata cuma mau maju in jadwal, si Boss bikin kaget aja, hahaha... ." Tawa Rain pecah.
Waktu terus berlalu dan kini dudah menunjuk kan angka 19.10 malam.
Di kediaman Rafka Zarine tepat nya ruang santai di sofa depan TV.
"Gimana sekolah nya kalian?." Tanya Radka pada 2 anak kembar nya ini.
"Ya gitu deh Dad, berjalan lancar dan ngga ada masalah alhamdulillah." Balas Wulan dengan pandangan mata menuju ke arah TV yang menayang kan film kartun seorang bocah yang mempunyai kekuatan dan bisa berpecah menjadi tiga (Pecinta kartun pasti tau, wkwkwkwk).
"Main ke mana aja tadi sore?." Tanya Mommy pada anak bujang yang kepala nya ada di pangkuan nya saat ini.
"Cuma main ke taman kota aja Momm ngga ke mana-mana, tanya aja adek." Kata Damar dengan memejam kan mata nya menikmati sentuhan lembut dari tangan Mommy Za.
"Bener Dek cuma main ke taman kota?." Tanya Mommy Za.
"Iya Mommy, kita cuma main ke taman kota doang, keliling-keliling sama kulineran." Jawab Wulan menjelas kan detail kegiatan nya tadi sore.
__ADS_1
"Ya udah kalo cuma ke sana, Mommy percaya." Ujar Mommy Za lembut.
"Mommy? Dulu waktu masih sekolah, Mommy juga kaya kita gini kah?." Tanya Wulan kepo.
"Kaya gini gimana maksud nya?." Tanya balik Mommy Za yang tak paham maksud sang putri tercinta nya ini.
"Ya kaya kita gini, main pas pulang sekolah tanpa mengganti baju seragam." Ujar Wulan menjelas kan maksud pertanyaan nya tadi.
"Ya, Mommy Daddy, sama lain nya dulu juga sama kaya kalian, suka nya main tanpa mengganti baju seragam." Jawab Mommy jelas.
Damar Wulan menggut-manggut paham dengan penjelasan panjang Zarine sang Mommy.
"Em... Mommy? Daddy,?." Panggil Wulan ragu-ragu.
"Hm? Why Baby?." Tanya Mommy dan Daddy bersamaan.
"Boleh Wulan tanya?." Ijin Wulan takut.
"Apa? Tanya aja." Kata Daddy lembut ssmbari mengelus kepala Wulan yang terbalut hijab dengan lembut.
"Jangan marah, dan mohon maaf kalo pertanyaan Wulan menyinggung Momm dan Dad." Ucap Wulan serius.
"Iya sayang tanya kan aja, ada apa sih? Kamu sampe tegang gitu loh, santai aja ok." Mommy Za menenang kan sang putri tercinta.
Damar dan Daddy Rafka jadi ketar-ketir dengan pertanyaan yang akan di layang kan Wulan.
"Mommy kenapa mau nikah muda? Apa Mommy... ." Pertanyaan Wulan menggantung takut kena marah oleh ke dua orang tau nya.
"Hamil di luar nikah?." Tebak Za yang di angguki Wulan takut, dia kini menunduk kan kepala nya.
"Mommy sama Daddy nikah muda karena perjodohan, bukan perjodohan bisnis atau hutang piutang, apa lagi hamil di luar nikah, Mommy di jodoh kan memang keinginan para nenek dan kakek kalian, Mommy juga Daddy saling mencintai sejak masih duduk di bangku SMP, walau pun SMP nya Mommy ngga di Jakarta, tapi komunikasi tetap berjalan dengan baik." Panjang Zarine bercerita.
"Mommy hamil kita saat usia pernikahan ke berapa?." Tanya Damar yang ikut penasaran.
"Em... berapa yah?." Zarine berpikir sampai memejam kan mata nya.
"2 tahunan deh kalo ngga, iya kan Dad?." Tanya Zarine pada sang suami.
"Ya kurang lebih segitu lah." Jawab Rafka menimpali omongan Zarine.
"Usia Mommy sama Dad berapa kala itu?." Tanya Wulan lagi yang semakin kepo.
"Saat nikah, Mommy sama Dad usia nya 17 tahun, terus pas hamil kamu, Momm sama Dad dah usia 19 tahunan." Terang Za blak-blak kan.
"Mommy kan ngga kuliah nih, ngga nyesel? Cita-cita Mommy apa?." Tanya Damar.
"Resiko menikah muda Mommy tau, bahkan hafal di luar kepala, yang nama nya menyesal pasti ada walau cuma setitik, tapi Mommy ngga pernah nyesel punya kalian dalam hidup Mommy, kalo Mommy ngga bisa kuliah, kalian kan bisa, untuk cita-cita, Mommy dulu pengen jadi psikolog." Jawab panjang leba Zarine.
"Wulan ngga mau kuliah, habis SMA Wulan mau diem di rumah aja." Kata Wulan dengan senyuman indah nya.
"Kenapa ngga mau? Enak loh bisa ketemu Kakak Senior yang guanteng nya maa syaa allah." Cetus Zarine sambil menambah-nambah kan setiap ucapan nya itu.
"Kalo bagi Adek tuh ngga ada yang guanteng selain Bang Bhibhi nya Momm." Cetus Damar sambil melirik sang adik dengan senyum penuh arti nya.
Wulan yang mendengar celoteh nya Bang Damar menunduk kan kepala nya malu, pipi nya sudsh memerah bak tomat.
"Laki-laki yang istimewa di hati Wulan tuh Daddy sama Abang kok." Sanggah Wulan cepat.
"Iya, Daddy, Abang, terus Bang Bhibhi, iya kan?." Goda Mommy Za dengan mengedip kan mata nya.
"Huuu Mommy, Daddy sama Abang apa an sih." Wulan menenggelam kan wajah nya di bantal sofa yang ada dalam dekapan nya ini.
"Uhuy yang malu-malu." Goda Daddy Rafka gencar pada anak perempuan nya ini.
"Udah ah, males!." Wulan merajuk.
"Hahaha... adududu... udah dong sayang, kami hanya bercanda." Ucap Mommy Za menghibur putri tercinta nya.
Lalu Wulan tiba-tiba naik ke atas sofa dan tidur di pangkuan sang Daddy tercinta.
"Daddy? Mommy? Bentar lagi Wulan sama Abang mau Ulang Tahun yang ke 17, boleh ngga kalo Wulan minta sesuatu?." Ijin Wulan sambil menunjuk kan cengiran khas nya.
Sebenar nya niat Wulan bukan hanya itu, tapi dia juga berniat mengalih kan topik pembicaraan tentang Bang Bhibhi nya.
Damar, Mommy dan Daddy hanya mengulum senyum masing-masing.
"Minta hadiah apa emang?." Tanya Daddy lembut.
"Minta hadiah di nikah kan saja Dad dengan Albhi." Timpal Bang Damar di akhiri tawa nyaring nya.
"Uh Abang apa an sih?! Abang aja tuh yang minta di nikah kan sama Kristal!." Sewot Wulan manja dan tangan nya dengan mulus mendarat di tangan Damar.
"Dah! Jangan ribut, mau minta apa anak Daddy yang cantik ini? Kalo minta nikah, nanti dulu ya sayang, tunggu Bang Bhibhi genap 17 tahun juga." Kata Daddy serius.
"Wulan ngga minta itu Daddy... Wulan mau... kita pergi ke Lumajang berkunjung ke rumah nya Aunty Raina." Antusias Wulan menjabar kan ke inginan nya.
"Hmmm boleh tuh, kita lihat dulu jadwal kalian, jangan tiba-tiba berangkat, soal nya kan pertama masuk kelas 11 biasa nya jadwal nya padat." Kata Mommy Za menyetujui ajak kan sang anak.
"Abang? Ngga mau minta apa-apa kah?." Tanya Daddy Rafka.
Bang Damar bukan nya menjawab dia malah melamun, dan bergumam dalam hati.
'Abang mau Daddy lamarin Kristal.' Batin Damar dan tiba-tiba dia tersenyum-senyum sendiri.
Tangan Wulan yang lembut menyentuh kening Damar.
"Apa Dek?." Tanya Damar heran.
"Abang kenapa senyum-senyum sendiri?." Tanya balik Wulan.
Bang Damar bukan nya menjawab pertanyaan sang adik, malah cengengesan tak jelas sambil menggaruk tengkuk leher nya yang tak gatal.
"Tadi sore Bang Pamungkas yang ngga jelas, sekarang Bang Damar, ada apa sih kalian nih?." Tanya Wulan lalu dia menepuk kening nya pelan.
"Pasti Bang Damar mau Daddy lamarin Kristal buat Abang yah? Kalo itu Daddy siap 45 Bang, tapi sebaik nya nunggu Kristal genap 17 tahun, kasian kalo nikah usia nya masih 16, nanti malah ngga dapet buku nikah." Saran Daddy pada anak bujang nya.
"Duh Daddy apa an sih, nikah-nikah belum saat nya Dad." Kata Damar sok bijak.
"Hahaha... Bang Damar ngeles aja nih." Tawa Mommy Za pelan.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.