Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus duapuluh sembilan


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.


******************************


-


-


"Jangan pergi." Pinta Raina sambil menggenggam lembut tangan nya, dan memasang wajah sedih nya.


Gadis itu mengerjap kan mata polos nya berulang dengan menatap Raina dan Bang Rafa.


"Ayo ikut Kakak duduk di sana, kami janji ngga bakal jahat sama kamu, mari kita lakukan janji kelingking." Ajak Raina dengan menunjuk kan jari kelingking nya kepada gadis mungil itu.


Sang gadis tampak ragu, dengan malu-malu dia mengangguk dan menaut kan jari kelingking nya.


Bang Rafa kemudian menggendong gadis itu dan membawa nya duduk di bangku di bawah pohon tempat nya tadi.


Raina berbisik di telinga Bang Rafa "Beli in jajanan gih, jangan ciki pilih yang wafer atau apalah, asal jangan ciki." Begitulah permintaan calon ibu ini.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Bang Rafa yang mendapat bisik kan seperti itu mengangguk kan kepala meng iya kan nya.


Dia pergi dari sana dan melangkah menuju mini marlet yang ada di dekat taman ini.


Di bangku taman ini, Raina dan gadis kecil ini diam tak berbicara, si gadis sibuk dengan boneka nya dengan pandangan nya tertuju ke arah dimana banyak anak-anak se usia nya bermain bersama orang tua nya.


Tersirat rasa sedih di hati mata gadis di sebelah Raina ini, dan Raina melihat melihat nya dengan jelas.


"Nama Adek siapa?." Lembut Raina bertanya sambil mengelus lembut kepala anak itu.


"Rain." Singkat sang gadis menjawab dengan suara lirih.


"Rain? Wah! Nama kita hampir sama yah, kamu Rain, sedang kan Kakak Raina." Pekik Raina tak menyangka.


"Adek tinggal dimana?." Lagi, Raina bertanya dengan lembut sambil mengelua surai hitam yang di biar kan terurai indah itu.


"Di sana." Tunjuk Rain pada suatu arah.


"Rain kenapa tadi ngga ikut main sama lain nya?." Tanya Raina.


'Berasa kaya manggil diri sendiri, hehehe... kenapa juga bisa sama nama nya.' Batin Raina sambil terkekeh.


Rain tak menjawab, dia hanya diam saja, bersamaan itu Bang Rafa datang dengan menenteng 1 bungkus plastik sedang yang sangat banyak makanan ringan dan juga minuman yang biasa di sukai anak-anak.


Suami Raina itu memberi kan bungkusan itu pada Rain si gadis kecil.


"Gadis manis, ini buat kamu." Kata Bang Rafa lembut.


Rain hanya mengerjap kan mata nya berulang dengan memandang Raina dan Bang Rafa berganti an.


"Ayo ambil Sayang, Kakak ngga bakal ngapain-ngapain kan tadi kita udah janji kelingking." Suruh Raina lembut.


Dengan malu-malu Rain menerima bungkusan itu dan mengucap kan "Terima kasih."


"Sama-sama." Balas Bang Rafa Raina bersamaan.


Tak terasa Qiroah dzuhur berkumandang, semua anak-anak yang bermain pada pulang dengan orang tua nya dan hanya tersisa mereka bertiga di taman ini.


"Ayo pulang Yang, sekalian anter si manis ini." Ajak Bang Rafa.


"Tungg dulu!." Pinta Raina.


Bang Rafa menatap sang istri heran.


Terlihat oleh kedua manik mata Bang Rafa Raina sang istri melepas kalung emas putih nya.


Tanpa banyak ba bi bu, Raina memberi kan kalung itu pada hadis kecil ini.


"Karena nama kita sama, Kakak kasih kamu ini yah, di jaga baik-baik siapa tau kalo suatu hari nanti kita ketemu Kakak bisa tau kamu lewat kalung ini." Panjang lebar Raina menjelas kan, Bang Rafa yang melihat itu tersenyum bahagia.


Kalung itu adalah kalung yang Raina beli dengan tabungan nya saat semasa kerja dulu, kalung emas putih itu ada ukiran nama 'Rain' di sana, sengaja tak menggunakan nama 'Raina' karena kepanjangan.


"Mau di pasang kan kalung nya?." Tawar Raina yang di jawab gelengan kepala oleh gadis manis itu.


"Ayo kami antar pulang, pasti Ibu mu risau mencari mu kemana-mana." Ajak Bang Rafa dengan mengangkat Rain dalam gendongan nya.


"Rumah kamu dimana Sayang?." Tanya Bang Rafa lembut.


"Di sana." Tangan mungil nya menunjuk ke arah kiri taman ini.


"Udah Yang, ikutin aja, nanti kita juga bakal tau." Kata Raina.


Mereka bertiga pun keluar taman dan berjalan menuju arah yang di tunjuk Rain.


"Nama Kakak siapa?." Tiba-tiba suara lembut dan kecil memecah keheningan mereka di jalan, siapa lagi kalo bukan suara Rain yang bertanya pada Bang Rafa.


"Panggil aja Kak Rafa, dan Kakak perempuan ini istri Kak Rafa nama nya Raina, ouh ya kata nya nama kamu sama seperti nya, memang nama kamu siapa?." Tanya Bang Rafa.


"Rain." Singkat Rain menjawab.


"Tinggal nambahin 'A' di akhir jadi deh 'Raina' hehehe... ." Kekeh Bang Rafa yang di ikuti Raina, sedang kan Rain hanya menyengir lebar menunjuk kan deratan gigi susu nya yang rapi dan putih.


7 menit mereka berjalan, Rain meminta berhenti.


"Kak berhenti!." Pinta nya.


"Yang mana satu rumah kamu Rain?." Tanya Bang Rafa sambil celinguk kan mencari.


"Eh? Ini Panti Asuhan kah?." Pertanyaan Raina membuat Bang Rafa ikut menoleh kan kepala nya ke arah Raina.


"Liat papan itu." Tunjuk Raina.


'Rumah Cahaya Harapan.' Beo Bang Rafa dan Raina bersamaan.


"Raina tinggal di sini Kak." Ucap gadis kecil itu yang membuat 2 orang dewasa ini terkejut kemudian menetral kan keterkejutan nya dengan cepat.


"Kak tolong turunin Rain." Pinta gadis itu.


Bang Rafa pun berjongkok dan menurun kan Rain.


"Em... Sayang? Kenapa sepi banget gini?." Tanya Raina.


"Temen-temen Rain pasti lagi bersiap untuk sholat dzuhur, Rain juga harus bersiap, Rain pamit Kak Rafa, Kak Raina, terima kasih untuk jajanan nya, dan untuk kalung ini." Tangan mungil itu mengangkat kalung pemberian Raina tadi.


"Rain ngga mau nerima, pasti itu berharga banget buat Kakak." Lanjut nya sembari ingin memberi kan nya kembali pada Raina.


Mata Raina berkaca-kaca dan menggeleng kan kepala nya.


"Kakak ngga mau nerima, Kakak mau Rain simpen itu kalung, siapa tau suatu saat kita ketemu, Kakak bisa tau dari kalung kamu itu, Kakak mohon terima kalung itu, atau Kakak bakal nangis kalo ngga di terima." Ancam Raina dengan air mata siap menetes.


Diam, lama Rain berpikir.


"Usia Rain berapa?." Tanya Bang Rafa tiba-tiba.


"4 tahun kata Ibu." Jawab Raina dengan suara manis nya.


"Ouhmmm... udah, Rain terima aja kalung itu, liat tuh Kakak nya mulai nangis, Rain jaga dan simpen baik-baik." Ucap Bang Rafa lembut.


Rain mendekat ke arah Raina dan menghapus air nata nya, lalu... .


'Grep!.' Rain menghambur ke pelukan Raina, istri Bang Rafa ini tengah berlutut mensejajar kan tubuh nya dengan Rain.


"Baiklah, Rain terima kalung ini, Rain akan berjanji untuk menjaga nya dan menyimpan nya." Ucap Rain sambil masih memeluk Raina.


"Makasih sayang, Kakak seneng deh denger nya." Balas Raina dengan mengerat kan pelukan nya.


"Udah adzan dzuhur tuh, gih Rain masuk." Suruh Bang Rafa.


Rain melepas pelukan, mencium punggung tangan 2 orang dewasa ini dan kemudian berlari ke arah rumah.


Jarak antara rumah dengan posisi Bang Rafa Raina lumayan jauh, sebelum Rain benar-benar masuk ke dalam rumah, dia melambai kan tangan dengan senyuman nya yang mengembang bahagi.

__ADS_1


Bang Rafa dan Raina membalas dengan antusias pula.


Rain pun masuk dan pintu pun tertutup.


"Hiks... hiks... ." Suara tangis Raina pecah.


Bang Rafa yang takut suara tangisan sang istri di dengar orang, menarik Raina dalam pelukan nya dan membenam kan wajah nya pada dada bidang nya.


"Huts! Udah Yang, jangan nangis ah, nanti ada yang denger ngga enak, entar aku lagi yang di tuduh ngapa-ngapain kamu, udah yah sayang ku, huts... huts... ." Bang Rafa kelabakan menenang kan Raina.


"Ayo kita ke mobil kamu nangis di sana aja." Kata Bang Rafa lagi.


Setelah mengatakan itu, Raina berhenti menangis dan menatap Bang Rafa.


"Ayo pulang." Ajak istri Bang Rafa ini.


2 sejoli ini pergi ke parkiran taman tadi dan meluncur pulang ke rumah.


Di perjalanan.


Raina melamun menatap arah depan dengan pandangan kosong.


"Yang?." Panggil lembut Bang Rafa pada Raina, tangan besar nya mengusap kepala Raina dengan sayang.


Sesekali Bang Rafa menoleh kan pandangan nya pada Raina untuk melihat apa kah dia kembali menangis, ternyata sudah tidak.


"Aku pikir saat aku kecil hidup aku udah paling susah, ternyata masih ada aja yang lebih-lebih dari aku." Ucap Raina.


Bang Rafa diam hanya mendengar kan tak menyahut.


"Aku paham kenapa tadi Rain ngga main sama anak-anak lain nya, pasti dia di kucil kan sama sekitar nya." Sambung Raina berkata.


"Hmmm... mungkin aja." Sahut Bang Rafa berargumen.


"Ayo kita jadi donatur panti itu." Seru Raina berbinar senang.


"Kamu ngga perlu minta itu Yang, aku, sama Papa dan lain nya udah jadi donatur tetap di sana sejak 2 tahun yang lalu, alhamdulillah anak-anak panti di sana ngga ada yang kekurangan, Ibu panti di sana baik banget, sayang sama anak-anak." Bang Rafa mencerita kan segala nya tentang panti itu.


"Hmmm... kira-kira orang tua Rain dimana yah? Kenapa tega kasih Rain ke panti?." Tanya-tanya Raina.


"Entah lah, aku juga ngga tau." Jawab jujur Bang Rafa.


2 pasang suami istri ini mengisi perjalanan pulang dengan obrolan seputar tentang Rain.


Pertemuan singkat hari ini, tak ada yang tau bagaimana akhir nya, tapi Raina dalam hati kecil nya berharap bahwa suatu hari di masa depan, dia bisa bertemu kembali dengan Rain, gadis kecil yang polos dengan warna kulit putih dan tatapan mata yang menggemas kan.


Kita kembali pada 7 serangkai.


Mereka sudah pulang beberapa menit lalu, sekarang nereka tengah duduk di ranjang kamar rumah masing-masing.


Di kamar Rafka Zarine.


"Kamu ngerasa ada yang aneh ngga sih Yang sama Tika?." Tanya Zarine pada sang suami.


"Hmmm... aku baru aja mau tanya itu ke kamu, aku ngerasa dia aneh hari ini, senyum sendiri, terus tiba-tiba ngelus perut, eksprise wajah nya mancarin bahagia yang asli kentel bantel banget." Dua adik ipar Tika menggosipi Kakak ipar nya.


"Apa dia... hamil? Terus ngga bilang ke kita buat surprise gitu buat kita semua." Tebak Zarine.


"Mungkin." Singkat Rafka membalas.


"Udah yuk mandi, kita sholat habis itu makan, kita tunggu aja kabar dari mereka, semoga aja hipotesa kita bener Tika hamil dan semoga Kak Rain juga nyusul." Doa Rafka.


"Aamiin." Balas Zarine.


"Eh Yang? Kira-kira kalo kita hamil nya barengan gini lahiran nya ikut barengan kah? Massal dong hahaha... ." Tawa Zarine pecah.


"Ya engga lah Yang, jarak nya kan jauh." Kata Rafka.


Zarine masih terkekeh dan dia berjalan ke arah kamar mandi sambil bersenandung.


Saat akan masuk kamar mandi Rafka juga mau ikut masuk, secepat kilat juga Zarine mendorong Rafka dengan pelan.


"Kamu mau ngapain ih?." Tanya Zarine.


"Mandi lah." Jawaban Rafka dengan wajah polos nya.


"Mandi di kamar lain." Suruh Zarine.


"Mempersingkat waktu Yang, janji ngga bakal ngapa-ngapin, kalo aku ngapa-ngapain kamu aku bakal tidur di sofa deh nanti malam." Rafka melayangkan perjanjian.


Zarine memicing kan mata nya tak percaya.


"Ya udah ayo, cuma mandi! Ngga ada aneh-aneh." Tegas Zarine.


Angguk kan cepat Rafka persembah kan untuk Zarine, dan segera mereka masuk kamar mandi lalu mandi bersama.


Sesuai janji, Rafka tak berbuat apa pun pada sang istri hanya diam memandangi tubuh molek nya dengan meneguk saliva susah.


Bukan Rafka yang memggoda, tapi malah Zarine yang menantang Rafka.


"Yang? Jangan pancing." Suara serak Rafka terdengar berat, menahan sesuatu itu emang susah yah, apa lagi kalo nahan 'itu' hahaha😂.


Zarine terkekeh pelan mendengar Rafka berusaha menahan hasrat.


15 menit kemudian, Zarine keluar kamatmr terlebih dahulu, sedang kan Rafka dia menuntas kan sesuatu di kamar mandi sehingga memakan waktu yang lama.


"Zarineeee?!!." Rafka mengerang hingga suara nya terdnegar keluar kamar mandi.


"Apa sayang?!." Sahut Zarine makin menggoda.


Kamar kedap suara jadi bebas berteriak😂.


"Awas kamu?!!." Ancam Rafka dengan suara berat nya.


"Uhhh takut nyaaaa." Ejek Zarine dan kemudian tawa nya terdengar menggelegar.


Tak ada suara lagi dari arah kamar mandi.


"Hehehe... emang kamu doang yang bisa jahilin aku, aku juga bisa kali, bahkan lebih parah." Monolog Zarine dengan tangan sibuk memakai kan pakaian pada tubuh nya.


"Daddy lagi sibuk Baby di kamar mandi, kota sholat sendiri aja yah." Zarine berbicara pada Baby dalam perut nya yang sudah sedikit terlihat.


Kemudian memggelar sajadah dan sholat sendiri, kalo menunggu Rafka, entah sampai kapan selesai nya


Beberapa menit berlalu, tepat saat Zarine melepas mukenah karena sholat nya sudah selesai, Rafka keluar dari kamar mandi dengan rambut basah nya dan wajah nya yang sedikit terlihat memerah.


"Huuffffhhh." Helaan nafas lelah terdengar oleh Zarine dari suami nya yang baru saja selesai menuntas kan sesuatu itu.


"Gih sholat, habis itu kita makan siang." Suruh Zarine sambil berjalan ke arah ruang ganti dan mengambil kan baju untuk di pakai Rafka.


"Keterlaluan kamu Yang." Keluh Rafka lirih yang masih bisa di dengar oleh Zarine.


"Hehehe... maaf, ok aku minta maaf yah suami ku tercinta karena udah bikin kamu tersiksa batin." Ucap Zarine dengan memeluk Rafka yang sedang duduk di tepi ranjang.


Rafka membalas peluk kan itu sambil mengusap lembut perut Zarine.


"Mommy kamu jahil sayang sama Daddy." Adu Rafka pada Baby nya.


"Maka nya Daddy juga jangan jahilin Mommy." Sahut Zarine dengan suara khas anak kecil.


"Hmmm... jahil sama istri sendiri kan ngga papa." Bela Rafka dengan kepala mendongak menatap mata Zarine.


"Berarti aku juga ngga salah dong kalo jahil sama suami sendiri." Skak mat😂.


Rafka bungkam tak dapat membalas.


"Udah ah kamu sholat sana, jangan lupa wudhu." Peringat Zarine, dia melepas peluk kan nya dengan Rafka dan memilih duduk di sofa yang ada di kamar ini.


Sembari menunggu Rafka selesai, Zarine bermain handphone.


Dia melihat grup chat yang ramai.


ROOM CHAT GRUP.


'Akifa : Tika? Lo tadi kenapa di sekolah senyum-senyum sendiri?.'


'Alfi : Sorry kita ngga tanya saat masih di sekolah tadi.'


^^^'Zarine : Iya Tika, kamu kenapa? Sehat kan?.'^^^


'Tika : Aku sehat alhamdulillah, sorry girl's Gua ngga bisa ngga bisa kasih tau sekarang, tapi tenang beberapa hari lagi pasti bakal tau kok.'


'Kak Raina : Kalian gimana ujian nya? Lancar kan?.'


'Akifa : Adoyy Kak Raina jangan bahas ujian dulu lah, ini kota penasaran sama sikap si 'Ketiak' masa di sekolah di senyum sendiri, terus dikit-dikit ngelus perut, apa jangan-jangan... .'


'Alfi : Lo hamil yah Tik?.'


'Bang Idan : Apa nih anak kecil bahas hamil segala?.'


'Bang Rafa : Udah lah Bang Idan, kita ungkap aja.'

__ADS_1


^^^'Zarine : Kalian lagi rahasia in apa sama kita semua?.'^^^


'Bang Rafa : Yang kasih tunjuk aja, sebelum kita di teror sama anak-anak.'


'Bang Idan : Iya gih Yang, kasih tunjuk.'


'Bang Idan : Tapi kalian jangan ember loh yah, jangan sampai para orang tua tau dulu, kita sendiri nanti yang bakal kasih tau sama mereka semua.'


'Akifa : Asyiap deh.'


'Alfi : Siiap dah beres.'


^^^'Zarine : Iya Kak laksana kan.'^^^


Tika dan kak Raina mengirim gambar hasil test pack yang positif dan Kak Raina menambah kan dengan foto hasil USG nya tadi.


'Abdiel : Tuh kan hipotesa Gua ama ayang Beb bener.'


'Abhi : Selamat buat kalian.'


'Rafka : Selamat calon ayah.'


^^^'Zarine : Wah! 2 garis merah, selamat Tika Kak Raina!.'^^^


'Akifa : Kita hamil barengan gini lahiran nya massal ngga yah.'


'Bang Idan : Dasar Mak Ipah konyol, ya kagak bakal lah, jarak nya kan beda-beda.'


^^^'Zarine : Itu usia nya berapa minggu Bang Rafa?.'^^^


'Bang Rafa : 2 minggu kata dokter Lexa.'


'Alfi : Bang Idan sama Tika? Kalian kapan periksa?.'


'Tika : Habis ujian Al.'


'Bang Idan : Sebener nya niat nya tadi, tapi kan Tika nya sekolah, ujian akhir lagi, ya udah kita putusin habis ujian aja.'


'Akifa : Anak kita bakal se umuran nih!.'


'Rafka : Hem... dan kalo bisa jangan ada yang mencar antara kita semua, biar anak-anak kita tumbuh berang dan bersahabat kaya kita gini.'


'Semua anggota Grup : In syaa allah.'


ROOM CHAT END.


Hari terus berganti, tak terasa ujian anak kelas 12 sekarang sudah mencapai puncak.


Kamis 14 April pukul 10.00.


Bel tanda ujian selesai menggemah seantero sekolah.


Seluruh ruangan tempat anak kelas 12 ujian ramai dengan seruan mereka berteriak.


'Yuhuuuuuu kita Babasss!!!!.' Begitu lah kurang lebih teriak kan nya.


7 serangkai di ruangan masing-masing hanya duduk diam sambil tersenyum manis.


"Diam dulu semua nya!!." Seru pengawas mengintrupsi.


Sesuai perintah mereka diam menatap sang peangwas ujian.


"Besok kalian tetap masuk sekolah, akan ada pengumuman dari kepala sekolah besok, di mohon masuk semua, kalo tidak maka kalian tidak akan mengetahui info penting dari beliau." Panjang sang pengawas menjelas kan.


"Baik Pak." Sahut satu ruangan kompak.


Setelah mengatakan itu pengawas mempersilah kan mereka keluar.


7 serangkai bertemu di kantin.


Suasana di sana sangat ramai hari ini, mungkin mereka merayakan hari ke bebasan di kantin, tapi tak sedikit juga siswa siswi ini merayakan hari terakhir mereka ujian di luar.


Contoh nya 7 serangkai ini, mereka duduk di tempat meja favorite, yaitu bangku pojok, dengan di temani semangkuk bakso dan teh manis hangat.


"Kalian cewek ber 4 ngga usah masuk sekolaha aja besok." Kata Rafka.


"Bener tuh, biar kita para cowok yang masuk, kalian duduk diam aja di rumah, ouh iya Tik sekalian Lu besok ajak Bang Idan ke dokter Lexa, besok hari jumat soal nya, pasti cuma setengah hari masuk nya dokter Lexa." Kata Abdiel panjang lebar.


"Terus kita di rumah ngapain kaloa ngga sekolah?." Tanya Alfi.


"Duduk diam di rumah temenin Bunda." Singkat Abhi menjawab.


"Kita nge drakor aja, ajak sekali an Bunda." Rencana Akifa.


"Hmmm... dah apa pun rencana kalian, besok ngga usah sekolah, paling besok cuma penguman libur sama acara kita yang di gelar setelah junior ujian." Duga Rafka.


"Kapan emang para junior kita ujian?." Tanya Alfi setelah menelan kunyahan bakso nya.


"Entah lah aku juga ngga tau kapan, eh ngomong-ngomong ujian, kita juga sebener nya belum selesai loh guys." Kata Tika.


"Ouh iya kita ujian praktik nya kan belum." Sambung Akifa yang di angguki lain nya.


"Kira-kira apa aja yah yang akan di praktik kan nanti?." Abdiel bertanya-tanya.


"Kita tunggu aja jadwal nya turun, bulan Mei besok bulan ramadhan kan? Tanggal berapa puasa nya?." Tanya Abhi.


"Aku liat di angka kecil bawah nya tanggal 1 ramadhan jatuh di tanggal... 13 Mei." Sebut Zarine.


"Udah lah kuy kita pulang, udah masuk waktu siang nih." Ajak Abhi.


7 serangkai pun melincur pulang ke rumah masing-masing.


...----------------...


#Hehehe... hari ini aku up nya cepet dong... mau nugas soal nya besok cekulah😂.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


TANPA KALIAN AKU BUKAN APA-APA, TERIMA KASIH YANG UDAH MAU SETIA😢.


AKU AKAN BERUSAHA BIKIN CERITA YANG LEBIH SERU LAGI😊.


SUKSES JUGA BUAT KALIAN PARA READERS YANG LAGI BERJUANG ENTAH DI DUNIA HALU MAUPUN DUNIA NYATA.


AKU PADA KALIAN❤😍.



Bersambung dulu ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2