Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus delapanpuluh enam


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Bang Idan juga minta maaf sama kalian ngga bisa ke sana, mungkin juga pas Akifa, Alfi lahiran kami ngga bisa ke sana." Ucao Bang Idan tak enak hati.


"Udah kalian fokus dulu aja sama perusahaan yang kalian diri kan, jangan bingung sama kita di sini." Zarine menghibur para Abang-abang yang kini tengah jauh dari mereka di Jakarta Indonesia ini.


"Ya tapi kan seharus nya kita bareng-bareng." Ucap Bang Rafa raut muka nya sedih.


"Bang? Kita emang jauh, tapi jangan berenti soal saling mendoa kan dan jaga kesehatan di rantauan sana." Papar Zarine menenang kan kesedihan Abang-abangnya itu.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Hari demi hari telah berlalu.


Tak terasa sudah 3 hari Zarine di RS dan besok dia akan kembali ke rumah.


Malam ini adalah malam terakhir untuk mereka di ruang VVIP ini. Hari ini Abhi Alfi, Akifa Abdiel tak menemani di karena kan lembur kerjaan kantor.


Ouh iya ada yang terlupa, Rafka, Abdiel, dan Abhi sudah mulai kuliah sejak bulan lalu, jadi sekarang mereka tak se lenggang bulan-bulan kemarin nya, mereka sibuk dengan tugas dan kerjaan kantor.


Hanya saja Rafka kemarin meminta ijin pada Dosen menemani sang istri yang tengah malahir kan.


Malam hari di ruang Zarine pukul 20.00.


"Yang?." Panggil Zarine pada sang suami yang sibuk memandang wajah cantik dan juga wajah tampan milik Baby twins.


"Hm? Ada apa Yang?." Sahut Rafka tanpa menoleh kan wajah nya pada Zarine.


Zarine menggeleng kan kepala sambil terkekeh pelan saat melihat tingkah Rafka.


"Yang? Kamu udah berapa hari ngga ngampus?." Tanya Zarine lembut.


Kontan saja, saat Zarine mengingat kan soal kampus kepala Rafka mendongak menatap mata Zarine dengan raut muka lesu.


Daddy twins itu kemudian melangkah kan kaki nya menuju ke kursi dekat ranjang pesakitan Zarine, lalu menduduk kan bokong nya di sana dan menenggelam kan kepala nya ke ranjang Zarine.


Zarine mengelus kepala Rafka lembut, ia juga menyisir rambut Rafka mengguna kan jari-jari lentik nya.


"Aku rasa nya males kuliah, ngga tega mau ninggalin kamu sama twins sendiri an." Alasan yang membuat Zarine tertawa pelan.


"Hey?! Kalo buat alasan tuh yang bisa di terima akal gitu loh." Kata Zarine di sela-sela tawa nya.


"Beneran, aku ngga nyari-nyari alasan kok." Kilah Rafka cepat dengan menampil kan wajah polos nya.


"Kamu bukan ngga tega ninggalin aku sama Baby, tapi kamu nya aja yang ngga mau jauh dari Baby." Zarine menjabar kan maksud hati Rafka yang sebenar nya.


Dan benar aja, Rafka nyengir kuda membenar kan ucapan Zarine sang istri tercinta ini.


"Yang? Kamu harus berangkat kuliah, walau pun sebener nya tanpa kuliah sekali pun kamu mampu besarin nama perusahaan Papa sama Ayah, tapi kan tetep aja, kalo kuliah ilmu kamu dalam bisnis makin luas, jangan males buat belajar, di luaran sana banyak orang-orang yang pengen kaya kamu tapi ngga bisa, jadi kamu harus semangat." Nasihat Zarine mengalir dengan indahdi pikiran dan di hati Rafka.


Rafka merenung mencerna perkataan sang istri. Kemudian dia manggut-manggut tanda memahami perkataan panjang itu.


"Lagi pula nih yah, ilmu nya kamu ambil sendiri, bukan buat siapa-siapa." Tambah Zarine lagi yang di benar kan lagi oleh hati Rafka.


"Iya, aku bakal berangkat kuliah tapi hari senin aja deh hehehe... ." Kekeh Rafka pelan.


"Ya udah terserah, tapi tetep kamu harus kuliah, aku di rumah ngga sendiri, ART di rumah aja ada banyak aku ngga akan kuwalahan kalo ngurus twins." Kata Zarine yang kembali di jawab angguk kan paham dari Rafka.


"Apa mau aku cari kan Baby sitter?." Tawar Rafka pada sang istri.


"Ngga usah, aku mampu kok buat ngurus twins." Tolak Zarine lembut di sertai senyuman manis nya.


Setelah perbincangan yang agak panjang itu, Rafka Zarine pun memutus kan untuk tidur.


Ke esok kan hari nya. Pukul 09.00 pagi.


"Yang? Udah siap belum?." Tanya Rafka yang menunggu Zarine di ambang pintu ruangan VVIP yang akan mereka tinggal kan ini, di gendongan Rafka sudah ada Baby Wulan, dan di pundak kanan Rafka terdapat tas perlengkapan Baby twins.


"Iya ini udah, ayo jalan." Ajak Zarine pada sang suami.


Hari ini mereka sudah di perboleh kan meninggal kan RS, dokter Lexa sudah memeriksa kondisi Zarine sebelum pulang tadi, dan alhamdulillah Ibu muda itu sehat-sehat saja tak ada keluhan apa pun.


Di rumah keluarga Fathan.


Alfi dan Akifa sibuk menyiap kan penyambutan kepulangan Zarine juga Baby twins.


Para tetangga juga sudah berdatangan, semua nya yang datang adalah para Ibu-ibu dekat rumah, tak luput juga Bu RT dan Bu RW pun juga di undang oleh Alfi Akifa.


"Alfi? Akifa? Jangan banyak mondar-mandir, mending sini kamu duduk sama kami." Panggil Bu RT dengan tangan nya menepuk tempat kosong di samping nya.


Syukuran di ada kan di ruang tamu rumah keluarga Fathan.


Akifa Alfi yang mendengar panggilan itu segera menghampiri dan duduk di sebelah Bu RT juga Bu RW.


Beberapa manit menunggu Rafka Zarine, yang di tunggu pun telah tiba.


Saat masuk ke dalam rumah, Rafka Zarine terkejut mendapati banyak tetangga ada di rumah nya.


"Kejutan." Teriak mereka bersamaan. Zarine yang di sabut seperti ini tentu saja merasa senang.


Akifa mengambil Baby Wulan dalam gendongan nya dan mengajak Zarine duduk berkumpul bersama para Ibu-ibu. Tak banyak Ibu-ibu yang hadir, hanya berkisar 15 orang saja.


Rafka yang merasa di kucil kan tak di anggap memelih menggabung kan diri dengan Abdiel, dan Abhi.


"Maksud bini kalian kejutan ini?." Tanya Rafka pada para sahabat nya ini.


"Ya gitu deh." Balas Abdiel membenar kan. Rafka hanya manggut-manggut meng iya kan sambil mulut nya membulat membentuk huruf O tanpa suara.


"Hmm... minggu besok bantu in Gua ngurus aqiqah twins yah guys." Pinta Rafka yang di angguki Abdiel dan Abhi kompak.


"Aqiqah itu kan seharus nya 7 hari Raf." Kata Abdiel bingung, pasal nya usia Baby Twins masih 4 hari lama nya.


"Gua mau ngurusin nya lebih cepat, tau sendiri kan kita pada sibuk, nanti anterin Gua cari kambing, terus biar di masakin sama orang, entar kita tinggal nunggu jadi nya." Rafka menyusun Rencana di kepala nya.


"Ya deh, kita ngikut mau Lu aja." Pasrah Abhi cuek.


"Raf? Gimana rasa nya jadi Bapak?." Tanya Abdiel dengan raut muka serius.


"Tentu aja jawaban nya seneng." Balas Rafka dnegan senyum bahagia.


"Lu ngikut masuk kah ke ruang persalinan?." Tanya Abhi ikut nimbrung ke obrolan.


"Iya Gua ikut masuk, dan di sana Gua liat perjuangan seorang Ibu yang sangat-sangat buat Gua takut dan merinding." Celutuk Rafka sambil pandangan kosong menatap ke arah Zarine yang tengah tertawa terbahak bersama para Ibu-ibu.


Keheningan terjadi di antara para pria-pria itu.

__ADS_1


Dan... .


"Tapi untuk para Ibu-ibu aneh yah, mereka emang kesakitan, tapi kalo pas liat bayi mereka, sakit nya berubah jadi tersenyum penuh keharuan." Cetus Abdiel yang di angguki Rafka.


"Raf?." Panggil Abhi.


"Hm?." Sahut Rafka sambil memusat kan pandangan nya di mata Abhi.


"Aqiqah nya di jadi in satu aja sama anak Gua juga Abdiel, biar sekalian gitu, gimana?." Tawar Abhi pada suami Zarine itu.


"Iya boleh juga Raf, di gabungin aja." Abdiel ikut berbicara.


"Hmmm... boleh deh, ok kita gabungin aja aqiqah nya." Setuju Rafka pada usulan Abhi tadi.


Setelah hari penyambutan kelahiran Baby Twins kini hari-hari persalinan Alfi dan Akifa sudah semakin dekat.


Perkiraan dokter Lexa, Alfi dan Akifa bisa lahir dalam waktu yang bersamaan. tapi semua itu hanya Allah yang tau kapan waktu tepat nya.


Usia Baby twins sekarang sudah menginjak 4 minggu, dan minggu-minggu ini adalah detik-detik Alfi di prediksi akan melahir kan.


Pagi pukul 8 di rumah kediaman Fathan. Zarine, Akifa, Alfi berkumpul di kamar baby twins bermain bersama dua malaikat itu.


Rafka, Abdiel, dan Abhi sedang kuliah pagi hari ini.


Sedang asik bermain dengan twins.


"Girl's?." Panggil Alfi dengan meringis menahan sakit.


"Eh? Kamu kenapa Fi? Sakit yah perut nya?." Tanya Zarine cemas.


Alfi tak banyak bicara, dia menjawab pertanyaan Zarine hanya dengan angguk kan kepala saja.


"Duh! Gimana nih Za? Kita harus apa? Harus bertindak gimana?." Heboh Akifa kalang kabut melihat Alfi kesakitan.


"Tenang dulu Fa, jangan bikin tambah panik ok, kamu tenang dulu, sekarang kamu tenang, ambil handphone kamu di sana, dan cepat hubungi Abhi buat kabarin keadaan Alfi." Titah Zarine yang di angguki Akifa patuh.


Di kampus tepat nya kantin kampus.


Abhi duduk di sebelah Rafka dengan pandangan kosong ke depan.


"Woy?! Lu ngapa?!." Tegur Abdiel pada sahabat nya yang satu ini.


"Perasaan Gua kok ngga nyaman gini yah? Apa ada sesuatu sama Alfi?." Ungkap Abhi jujur.


"Lo kalo penasaran hubungi aja dia, atau kalo engga Lo pulang aja sana." Saran Rafka yang di angguki Abhi.


"Tapi kalo Gua pulang pelajaran selanjut nya gimana? Ngga absen dong Gua?." Abhi yang tumben-tumben nya LoLa alias Loading Lama.


"Ck! Otak Lu tumben lemot sih Bhi? Lo kan bisa ijin sama Dosen, duh emang yah cemas bikin orang pikiran nya ngga karuan." Celutuk Abdiel panjang.


Tiba-tiba... .


'Tring... ring... ring... .' Ponsel Abdiel berbunyi.


"Akifa? Tumben telepon?, kangen kali yah, hahaha... ." Monolog Abdiel yang mendapat dengusan kompak dari Rafka dan Abhi.


Abdiel menerima panggilan dari istri nya itu dengan menspeaker agar Rafka dan abgi mendengar, niat Abdiel hanya pamer kemesraan.


"Assallammu'allaikum Yang?." Salam sapa Abdiel untuk Akifa, mata nya melirik Rafka dan Abhi sambil tersenyum jahil.


"Wa'allaikum sallam, Yang? Kamu sama Abhi ngga?." Tanya Akifa dengan suara cemas nya.


"Iya nih anak nya ada di depan aku." Jawab Abdiel yang ikutan serius medengar suara cemas Akifa.


"Bilangin sama Abhi, Alfi perut nya sakit, suruh cepat pulang." Kata Akifa.


"Gua OTW Fa, titip Alfi bentar." Keras Abhi menjawab Akifa.


Sedetik kemudian Abhi langsung berlari terbirit-birit ke arah parkir kampus untuk mengambil mobil nya.


Di kantin. Panggilan Akifa masih tersambung pada Abdiel.


"Ngga usah Diel, Raf, lanjutin aja kuliah kalian, Gua untuk saat ini cuma butuh Abhi, kalian bisa nyusulin Gua ke RS nanti habis pulang kuliah." Alfi manyahuti obrolan Abdiel dengan suara menahan sakit.


"Tapi-." Belum tuntas Rafka berbicara Zarine memotong.


"Kalian kuliah aja dulu, biar tau materi nya apa, biar kalian bisa ngasih tau Abhi nanti." Sahut Zarine cepat menghenti kan ucapannya yang belum selesai.


Setalah itu panggilan pun berakhir dengan Akifa yang memati kan nya duluan.


"Duh kok Gua ikut cemas yah kalo denger Alfi lahiran?." Kata Abdiel.


"Berdoa aja semoga lahir nya ngga barengan, nikah nya tanggal nya bareng, masa lahiran nya juga bareng sih, hahahaha... kan lucu." Tawa Rafka pelan terdengar.


"Iya yah, tanggal nikah kita ber empat dulu sama, asa ulang tahun anak juga sama." Celutuk Abdiel sambil terkekeh.


Sesudah berbincang sebentar di kantin Rafka dan Abdiel menuju kelas untuk mengikuti mata kuliah hari ini.


Sedang kan di rumah Rafka Zarine.


"Assallammu'allaikum." Seru Abhi sambil berlari memasuki rumah.


"Wa'allaikum sallam, di atas Bhi!." Teriak Akifa kencang.


Abhi langsung berlari menaiki lantai dua.


Di kamar Baby twins.


"Yang? Ayo kita ke rumah sakit." Kata Abhi dengan raut muka kental akan kecemasan. Di tangan kanan nya ada tas perlengkapan yang akan di bawa ke RS.


"Tenang dulu Bhi, jangan panik tenang dulu." Zarine menenang kan sang sahabat yang masih berdiri di ambang pintu itu.


Setelah Abhi tenang, baru Alfi di bawa oleh nya ke RS.


Di teras rumah.


"Kalian ke RS nya nunggu Rafka sama Abdiel aja, jangan pergi sendiri." Nasihat Abhi yang di angguki oleh Zarine dan juga Akifa kompak.


Tentang Abhi Alfi.


Di dalam mobil perjalanan ke rumah sakit.


"Yang? Masih kuat kan?." Tanya Abhi pada sang istri yang tengah mengatur nafas dan meringis menahan sakit.


"In syaa allah kuat, tolong usaha in buat cepet Yang." Pinta Alfi yang dahi nya mengalir keringat sebesar biji jagung.


Abhi mengangguk kan kepala meng iya kan permintaan sang istri.


Beberapa menit perjalanan, mobil Abhi pun sampai di pintu masuk RS tempat Dokter Lexa bekerja yaitu Rumah Sakit Cinta Bunda.


Segera Abhi memanggil para perawat untuk membantu Alfi ke ruang bersalin.


Dokter Lexa dari jauh berlari sedikit terburu-buru untuk mengejar Abhi Alfi.


Tak membutuh kan waktu lama untuk Alfi ke pembukaan 10, hanya dengan beberapa waktu Alfi sudah siap untuk mengejan melahir kan Baby ke dunia yang penuh dengan drama ini.


Dan... .


"Aaaakkhhh!!!! Mami!!! Papi!!!!." Teriak Alfi di tengah jeritan nya yang memenuhi ruangan persalinan.


'Oek... oek... oek... .' Tangis bayi laki-laki menggemah di seleruh ruangan ini.


"Alhamdulillah, selamat yah Baby nya laku-laki." Ucap Dokter Lexa bahagia.


Segera dokter Lexa memberi kan Baby laki-laki itu pada perawat untuk di bersih kan dari darah.


Beberapa menit kemudian Baby mungil itu sudah ada di dekapan Abhi.


Perasaan Abhi amat sangat bahagia melihat Baby mungil itu dalam peluk kan hangat nya, jantung nya berdesir hangat saat melihat wajah yang sangat mirip dengan diri nya ini.

__ADS_1


Segera Abhi mendekat kan bibir nya ke telinga Baby Boy itu, mengumandang kan adzan dan iqomah di sana.


"Bhi? Baby Boy nya di ambil dulu yah, dia butuh ASI nih dari Ibu nya." Ujar dokter Lexa meminta Baby Boy dalam dekapan Abhi.


Suami Alfi itu cengengesan sambil menyerah kan sang buah hati kepada dokter Lexa.


Dengan perlahan, dokter Lexa mengajar kan cara memggendong dan posisi menyusui yang nyaman dan tepat.


"Ya sudah kalo gitu saya tinggal dulu ya Alfi, Abhi, di sini sudah ada perawat bisa minta tolong nanti sama mereka yah, ouh iya setelah ini Alfi akan di pindah kan ke ruang rawat inap." Kata dokter Lexa memberi tahu.


Sepeninggalan dokter Lexa Abhi meminta para perawat juga meninggal kan mereka berdua, nanti kalau Alfi membutuh kan mereka, baru Abhi akan memanggil mereka.


Di kegiatan Alfi menyusui Baby Boy.


Senyuman Abhi Alfi terbit melihat Baby Boy mereka lahap saat menysusu.


"Yang? Baby Boy kita mau di kasih nama siapa nih?." Tanya Alfi tanpa menatap sang suami tercinta yang tengah duduk di sebelah nya.


"Apa yah bagus nya." Balas Abhi bingung.


"Gimana kalo Albhi?." Tanya Alfi semangat, kini pandangan mata ke dua sejoli ini bertemu.


'Cup!.' Bibir lembut Abhi bertemu dengan kening Alfi.


"Thanks buat semua nya." Ucap Abhi tulus dari hati nya.


"Sama-sama, aku juga ngucapin banyak terima kasih sama kamu udah ngasih pelita tampan ini ke aku." Balas Alfi sambil tersenyum begitu bahagia nya.


"Ouh iya ngomong-ngomong Albhi apa an?." Tanya Abhi bingung.


"Albhi singkatan dari Alfi Abhi." Jawab Alfi bahagia.


"Boleh juga tuh, terus? Nama tengah nya?." Tanya Abhi lagi.


"Albhi Asady Agam." Jawab Alfi yang mendapat jawaban hanya angguk kan kepala dari Abhi.


"Cocok juga, aku setuju." Kata suami Alfi ini senang. Segera bibir Abhi mendekat ke telinga Baby Boy itu dan membisik kan nama itu dengan lirih.


Seperti paham yang di kata kan oleh sang Ayah, Baby Boy itu sedikit tersenyum dalam tidur nya.


Hari ini tepat nya tanggal 19 Oktober hari Rabu, Baby Boy bernama Albhi Asady Agam lahir ke dunia, kebahagiaan Alfi Abhi makin kental setelah Baby mungil itu lahir.


"Yang? Kalo di liat-liat... Baby Albhi kenapa cuma mirip kamu doang sih?." Tanya Alfi di sertai wajah nya yang merungut kesal.


"Kata orang, kalo Baby nya lebih mirip Papi nya berarti pas bikin Papi nya yang lebih aktif gerak, Mami nya cuma diem aja." Kata Abhi di akhiri dengan kekehan kecil nya.


"Ish! Ada aja! Udah diem! Tolong panggil kan perawat sana, kaya nya Baby Albhi dah kenyang nih." Suruh Alfi dengan nada ketus nya.


"Ck! Jangan ketus-ketus sayang, ngga baik tau sayang sama suami ketus gitu." Rayu Abhi sambil mencolek dagu Alfi.


"Jangan colak-colek ih, aku bukan sabun colek." Seru Alfi sewot sambil mendelik kan mata nya tajam kepada Abhi.


Waktu terus bergulir begitu cepat.


Alfi sudah di pindah kan ke ruang rawat inap VVIP RS.


Pukul 12.30 ba'da dzuhur, Abdiel Akifa, dan Rafka Zarine datang berkunjung ke RS untuk menemui Alfi, tak lupa di gendongan Rafka Zarine ada 2 malaikat kecil penuh dengan kepolosan nya.


Sampai di ruangan Alfi.


"Assallammu'allaikum." Salam Rafka Zarine, dan Abdiel Akifa kompak.


"Wa'allaikum sallam." Balas Abhi Alfi bahagia.


"Waduh waduh bahagia nya Mami Papi balu." Goda Akifa ikut senang.


"Bentar lagi Lo juga nyusul kali Fa." Balas Alfi menggoda Akifa.


Istri Abdiel itu hanya menanggapi omongan Alfi dengan mengelus perut buncit nya dengan lembut dan dengan senyuman merekah nya.


"Nama nya siapa nih Bhi?." Tanya Zarine sambil melihat Baby Boy di gendongan Alfi itu dari arah kiri karena yang kanan sudah ada Akifa, Abhi sudah di hempas menjauh dari samping Alfi.


"Hai Aunty Za, kenalin nama ku Albhi." Kata Alfi sambil meniru kan bahasa anak kecil.


"Hai Baby Albhi selamat datang di dunia yang penuh tipu-tipu ini." Ucap Akifa di akhiri tawa pelan nya.


"Dunia penuh tipu-tipu atau Elu nya yang sering ciptain tipu an?." Tanya Alfi malas.


"Hahaha... iya iya maaf, cuma bercanda Fi." Ujar Akifa di sertai tawa nya itu.


"Kalian ngga ngajak Sari tadi ke mari?." Tanya Abhi yang kini tengah duduk di sofa bersama Rafka, Abdiel, dan Baby Damar di peluk kan Rafka.


"Kita udah hubungi Roy, dan ternyata dia sama Sari ada di Semarang sekarang, mereka lagi perjalanan bisnis." Jawab Rafka menjelas kan dengan detail.


"Hahaha... mereka udah kek kertas ama lem aja, ke mana-mana berdua, nempel mulu, udah kek dunia milik berdua lain nya ngontrak." Celutuk Akifa menimpali pembicaraan.


Ruang VVIP Alfi ini ramai dengan tangisan Baby dan candaan 6 serangkai. Tapi walau pun mereka tertawa lebar, tetap di hati kecil mereka mengingin kan keluarga yang lengkap yang terdiri dari para tetuah dan para abang-abang tersayang.


End.


Ngga beneran tamat, cuma ganti season 2 aja.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Beraambung.


Lanjut besok ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2